TRADISI RISET DI PERGURUAN TINGGI

TRADISI riset di perguruan tinggi merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi dosen, yaitu: pendidikan-pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (tri dharma PT). Seharusnya pendidikan-pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi berbasis riset. Karena dari riset itulah akan melahirkan temuan-temuan yang objektif dan empirik.

Modal yang harus dimiliki seorang peneliti adalah membaca, baik membaca teks (konsep) maupun konteks (realitas). Atau dari deduktif menuju induktif, atau sebaliknya. Inilah paradigma berpikir ilmiah (scientific paradigm). Dari rasionalisme menuju empirisme atau sebaliknya.

Malah dalam tradisi Islam, kita mengenal atau dikenalkan dengan pengetahuan ilham (intuisi). Kita juga mengenal term ilm al-laduni, ilm al-kassyaf, ilm al-hudhuri, dan ilm al-irfani, pengetahuan yang diperoleh melalui pengembangan spiritual (olah batin).

Sebetulnya dalam konteks penelitian sumber (verifikasi, validasi dan pembuktian ilmiah) kita sudah dikenalkan dengan ilm al-jarh wa al-ta’dil, yaitu ilmu tentang penilaian subjek yang dijadikan sumber informasi (informan), misalnya untuk memverifikasi data penelitian, kita dikenalkan dengan tingkatan atau derajad subjek. Subjek yang valid dan yang invalid. Ada kriteria sumber informasi yang tertolak informasinya, misalnya orang yang suka bohong (al-kadzib), orang yang diduga bohong (muttahamun bi al-kadzbi) dan orang yang suka mengada-ada (bid’ah) dalam memberitakan sesuatu (hoax, fake news).  

Dalam Islam dikenal tiga basis sumber metodologi, yaitu: teks suci (al-Qur’an dan al-Hadis), dan ijtihad ahli (ulama’). Kita juga diajarkan oleh al-Qur’an cara berpikir ilmiah yang koherens, tentang pemahaman makna ayat secara komprehensif, misalnya hubungan antar-surat dan antar-ayat, antar pembuka dan penutup surat dalam al-Qur’an, dan antara ayat dengan nama surah yang menjadi tema sentralnya, yang dalam tradisi studi al-Qur’an disebut dengan munasabah,

Oleh sebab itu, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti, yaitu:

Pertama, seorang peneliti harus cermat dalam memilih topik atau judul. Dan setiap bab dan sub bab yang ditulis harus saling terkait, sambung menyambung, tidak boleh putus. Oleh sebab itu key word-nya harus ditangkap. Demikian juga setiap kata yang ditulis itu mengandung makna dan implikasi. Bahkan, sampai pada motto pun harus relevan. Sebagaimana al-Quran, setiap surat dan ayatnya berkaitan satu sama lain (munasabah).

Kedua, seorang peneliti harus menghubungkan teori dengan realitas empiriknya (jika penelitian kuantitatif adalah menguji teori dan jika penelitian kualitatif menemukan teori. (Hanya, untuk penelitian kualitatif bukan menemukan teori substantif). Oleh sebab itu, rumusan masalahnya atau fokus masalahnya harus ditulis dengan tepat sejalan  dengan topik yang dipilih (key word atau kata kunci tadi).

Ketiga, kesimpulan harus berdasarkan pada fokus masalah atau rumusan masalah yang berbentuk kalimat tanya (introgatif) yang sudah dikemukakan, dan kesimpulannya harus berbasis  teori dan data di lapangan. Oleh sebab itu sesungguhnya, peneliti atau ilmuwan itu seperti orang “kurang pekerjaan”. Bagaimana tidak? Bertanya-tanya sendiri dan dijawab-jawab sendiri. Maka A.J. Bahm dalambukunya Axiology: The Science of Values mengatakanNo Problem No Science (tidak ada masalah, maka tidak ada ilmu). Bahwa ilmu pengetahuan terkait dengan masalah.

Masalah adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Jika tidak ada masalah, maka tidak akan muncul ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiah adalah hasil dari pemecahan masalah ilmiah. Jika tidak ada masalah, maka tidak ada pemecahan masalah, dus dengan demikian tidak ada pengetahuan ilmiah. Untuk menjadi ilmiah, maka seseorang harus memiliki kemauan untuk mencoba memecahkan masalah, Ini artinya, bahwa ilmuwan/peneliti itu seorang problem solver.*** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *