ETOS DAN PRODUKTIVITAS KERJA

Dalam manajemen modern kita mengenal langkah-langkah menuju tercapainya suatu pekerjaan yaitu: planning, organizing, actuating, dan controlling yang sering disingkat dengan POAC. Maka jika kita telusuri lebih dalam konsep Islam lebih dari sekadar POAC, namun meliputi: niat, ikhtiyar dan doa, muhasabah, tawakkul, syukur dan Nashab.

Niat merupakan konsepsi ajaran agama, yaitu dalam setiap melakukan aktivitas hendaknya dimulai dengan niat karena Allah Swt. Apapun aktivitas atau pekerjaan itu. Bahkan pekerjaan yang seakan-akan bersifat duniawi, tetapi karena dimulai dengan niat yang baik (lillahi Ta’ala), maka akan bernilai ukhrawi, alias mendapatkan ridha dan pahala dari Allah Swt. Sebaliknya, perbuatan yang nyata-nyata ukhrawi (ibadah mahdhah misalnya) jika tidak diniatkan dengan baik (lillahi Ta’ala), maka ia akan bernilai duniawi. Inilah pentingnya niat (intension dalam bahasa psikologi modernnya). Termasuk dalam niat ini adalah perencanaan (planning) untuk mempersiapkan semua pekerjaan. Dalam ajaran Islam, setiap melakukan suatu pekerjaan juga harus dimulai dengan menyebut asma Tuhan (basmalah), karena jika tidak, akan sia-sia dan tidak mendapat perlindungan Allah Swt., alias tidak berkah (kullu amrin zi balin la yubdau bi bismillahi fahua aqtha’ dan Innama al-a’malu bi al-niyyat wa innama likulli imriin ma nawa.

Sementara itu ikhtiyar adalah usaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pekerjaan secara maksimal. Selama berusaha sesorang tidak boleh putus asa, berbagai langkah dan cara (tentu cara yang diridhai oleh Allah Swt, alias halal) mesti ditempuh untuk memperoleh kesuksesan dalam usaha dimaksud. Dalam konteks ini manusia tidak boleh gampang menyerah. Di tengah-tengah berikhtiyar manusia juga harus berdoa untuk mendapatkan kemudahan jalan yang diberikan oleh Allah Swt. dan terkabulnya doa tersebut.

Muhasabah (evaluasi) adalah hal yang penting, karena untuk mengukur ketercapaian kinerja. Jika rencana atau program dan target yang telah dicanangkan belum mencapai 100 persen maka perlu dievaluasi. Kenapa, apa yang kurang dan salah dari usaha tersebut? Sehingga semua kesalahan selalu dikembalikan kepada pelaku usaha. Banyak faktor yang menyebabkan usaha seseorang kurang berhasil atau bahkan “gagal” adalah karena kesalahannya sendiri. Dengan evaluasi diri ini maka diharapkan akan jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Seseorang tidak ingin berbuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.

Tawakkul atau tawakkal dalam bahasa galibnya, adalah bentuk penyerahan diri hanya kepada Allah Swt. Sebab tidak ada yang berkuasa dan mampu memutuskan segala perkara di jagat raya ini selain Allah Zat Yang Maha Kuasa dan Bijaksana. Tawakkul ini adalah sikap yang amat penting bagi seseorang untuk menghindari dari segala bentuk kemurkaan, kegundahan dan bahkan keputusasaan dan stress. Jika semua persoalan sudah dikembalikan kepada Sang Penguasa jagat raya ini (Allah Rabbul ‘Alamin), maka manusia akan tetap menerima dan bersyukur terhadap semua keputusan-Nya. Inilah konsep tawakkul yang tidak ada dalam manajemen modern. Karena paradigma Islam selalu berangkat dari tauhid dan berakhir juga pada tauhid. Sehingga semua usaha selalu bernilai pahala dan balasan yang baik dari Allah Swt. Jika dalam manajemen modern ada planning, doing, evaluating, maka dalam manajemen Islam ada praying dan surrendering atau resignation.

Tasyakkur atau syukur merupakan realisasi dari rasa berterima kasih kepada Allah Swt yang telah memberikan kemudahan dan kenikmatan yang telah Ia berikan. Syukur juga bagian dari obat penyakit hati, kebalikan dari syukur adalah keluh kesah, yang merupakan sifat asli manusia. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam QS Al-Ma’arij: 19-27). Syukur inilah wujud terima kasih manusia kepada Allah Swt. Tanpa pertolongan-Nya manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang tidak pernah bersyukur kepada pemberian Allah, maka tidak akan tenang hatinya, selalu diliputi rasa resah dan gundah gulana, rasa iri dan dengki kepada orang lain, su’dhan dst. Terus berbuat dan berbuat setelah usai mengerjakan satu pekerjaan, maka mengerjakan lainnya tidak pernah berhenti. Bersamaan dengan itu berharap kepada Allah Swt. Hanya kepada Allah jualah manusia berharap dan menggantungkan semua urusannya (QS. Al-Ikhlash).

Nashab atau an-Nashabu adalah terus berbuat dan berbuat setelah usai mengerjakan satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, dan tidak pernah berhenti (QS. al-Insyirah). Bersamaan dengan itu berharap kepada Allah Swt. Hanya kepada Allah jualah manusia berharap dan menggantungkan semua urusan kita. Inilah konsep Islam, yang selalu berorientasi pada tauhid. Dari Allah ke Allah (min Allah ila Allah), dari  basmalah menuju hamdalah, termasuk  konsep bekerja ini.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *