IMAN, ILMU DAN AMAL

Pesan Penting Isra-Mi’raj

Sesungguhnya peristiwa spektakuler isra mi’raj ini merupakan serangkaian peristiwa yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Nabi dalam menegakkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin.

Sebelum isra mi’raj, beliau sudah diuji terlebih dahulu oleh Allah Swt. Di tengah beliau berjuang keras menegakkan kalimah tauhid itu, beliau mendapatkan ujian/ musibah yang berat sekali, berupa meninggalnya dua orang kesayangannya, yaitu: pamannya Abu Tholib dan Istrinya sayyidah Khadijah ra. Dua orang inilah yang menjadi tulang punggung perjuangannya, lahir dan batin.

Abu Thalib adalah sosok yang disegani di kalangan para penggede kafir Quraisy dan mem-back up full perjuangan beliau. Sementara sayyidah Aisyah adalah sosok yang selalu mendampinginya dan memberikan support moral maupun material. Kepergian dua orang dekat beliau inilah yang disebut dalam sejarah sebagai tahun kesedihan (‘am al-huzn).

Tidak hanya itu, pasca wafatnya mereka berdua ini juga terjadi pemboikotan secara sosial dan ekonomi pada diri Nabi dan para pengikutnya. Nabi dan para pengikutnya dikucilkan dari kehidupan masyarakat luas. Namun, karena Nabi tetap tabah dan sabar, maka Allah Swt mengangkatnya ke derajat yang luhur dan diberikan reward berupa isra mi’raj tersebut. Kemudian, oleh-olehnya (cindera matanya) berupa shalat lima waktu. Jadi isra mi’raj ini sesungguhnya merupakan hadiah besar untuk beliau dan juga dampaknya kepada umatnya, kita semua ini.

Isra dan mi’raj adalah perjalanan satu malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dan dilanjutkan ke Sidrat al-Muntaha atau langit ke tujuh yang disertai oleh Malaikat Jibril.

Selama dalam perjalanan isra mi’raj itu Nabi ditunjukkan oleh Allah berbagai peristiwa atau prilaku manusia yang shalih dan thalih. Diantaranya Nabi diperlihatkan orang yang mencabik-cabik muka dan memotong lidahnya, orang yang memikul beban berat sampai ia terbungkuk lemas, dan juga orang yang menanam pohon langsung berbuah dst. Di situ Nabi juga diperlihatkan surga dan neraka.

Di langit kesatu hingga tujuh itu Nabi dipertemukan dengan para Nabi Allah yang lain. Di langit pertama Nabi berjumpa dengan Nabi Adam. Di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat berjumpa dengan Nabi Idris. Di langit kelima berjumpa dengan Nabi Harun. Di langit keenam berjumpa dengan Nabi Musa dan di langit ke tujuh berjumpa dengan Nabi Ibrahim. Di situ pula Nabi mendapatkan perintah shalat yang lima waktu.

Kita umat Islam mesti berterima kasih kepada Nabi Musa yang berjasa memberi saran kepada Nabi Muhammad untuk meminta discount kepada Allah Swt. Dari yang semula 50 menjadi 30 turun menjadi 10 dan akhirnya menjadi 5 (waktu) seperti yang kita lakukan ini.

Respon Kafir Quraisy dan Ilmuwan Abad-19

Orang-orang kafir Quraisy saat mendengar berita bahwa Nabi telah melakukan

 isra’-mi’raj mereka sangat riang-gembira. Kenapa? Karena dengan berita yang dialami Nabi itu mereka mendapat bahan untuk melecehkannya ke masyarakat luas, bahwa Nabi memang seorang pembohong. Sebagian mereka mencoba mengkonfirmasikan berita itu kepada Abu Bakar, dengan harapan ia tidak bisa membenarkan berita ini. Namun apa yang terjadi? Justru sebaliknya, Abu Bakar membenarkan berita tersebut (itulah sebabnya Abu Bakar mendapat julukan as-Shiddiq).

Ilmuwan Barat modern abad 19 (dari kelompok rasionalis dan empiris) juga tidak bisa memebenarkan peristiwa ini. Dengan tiga pertanyaan yang mereka ajukan: Bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui Muhammad tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang membakar tubuhnya? Bagaimana mungkin ia dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi (gravitasi)? Menurut paham empiris dan rasionalis hal ini tidak mungkin terjadi. Ada juga yang mengatakan, bahwa peristiwa tersebut hanya dialami melalui mimpi atau ruhnya saja.

Namun akhirnya ilmuwan abad 20 menyadari dan menyatakan, bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya meski yang disebut materi sekalipun. Teori Black Holes menyatakan, bahwa pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3 persen saja, sedangkan 97 persennya di luar kemampuan manusia. Itulah sebabnya seorang Kierkegaard tokoh eksistensialisme menyatakan, “seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, melainkan karena ia tidak tahu“. Lalu Imanual Kant juga menegaskan, “saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya“.

Ya, bisa dimaklumi jika kaum empiris dan rasionalis mempertanyakan peristiwa yang spektakuler itu. Sebab mereka memandang segala sesuatunya berdasarkan realita empiris dan yang rasional saja. Sebagaiman konsep keilmuan Barat, bahwa sesuatu disebut ilmiah (secara ontologis) jika lingkup penelaahannya berada pada daerah jelajah atau jangkuan akal pikiran manusia. Dan sesuatu dianggap benar jika didasarkan pada tiga hal: koherensi, korespondensi dan pragmatisme.

Dalam konsep keilmuan Barat, ilmu berhubungan dengan masalah empiri-sensual (induktif), empiri-logik (deduktif) atau logico-hipotetico-verificatif, artinya baru disebut sebagai ilmu jika telah dibuktikan kebenarannya secara empiris. Jelaslah dari sini, jika peristiwa Mi’raj dilihat dari perspektif keilmuan Barat, maka ia tidak dipandang sebagai sesuatu yang ilmiah melainkan hanya bersifat dogma dan sistem kepercayaan (credo).

Namun, jika dilihat dari prespektif keilmuan Islam, maka persoalannya menjadi lain, ia tetap ilmiah dan benar sebab dalam konsep Islam, ilmu di samping memiliki paradigma deduktif-induktif juga mengakui paradigma transenden, yaitu pengakuan adanya kebenaran yang datang dari Tuhan. Pengakuan terhadap hal-hal yang bersifat metafisik (misalnya adanya Tuhan, malaikat, hari kebangkitan, surga, neraka dan seterusnya) merupakan kebenaran agama yang tak perlu adanya bukti empiris, melainkan persolan-persoalan metafisik tersebut benar adanya (realistis). Sesuatu yang tidak atau belum terjangkau oleh akal pikiran manusia tidaklah selalu menjadi dalih akan tidak-benaran sesuatu itu sendiri, sebab Al-Qur’an menyebutkan: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali” (QS.al-Isra: 85). “Katakan ya Muhammad Seandainya laut… (al-Kahfi: 109), “Di atas orang alim masih ada Zat yang Maha Alm (Yusuf: 76).

Apa yang ditegaskan Al-Qur’an tentang keterbatasan pengetahuan manusia tersebut juga diakui oleh para ilmuwan abad 20. Schwart misalnya –seorang pakar matematika kenamaan Perancis—menyatakan, bahwa fisikawan abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak sekalipun.

Pesan Shalat Lima Waktu

Pesan terpenting isra dan miraj adalah shalat lima waktu. Dalam pengertian lebih luas, shalat memiliki arti zikir dan senantiasa mengingat Allah di dalam segala   tindakannya, sehingga dengan menegakkan shalat ini diharapkan manusia tidak  pernah memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan dan segala macam tindakan keji lainnya, sebagaimana penegasan Allah SWT melalui firman-Nya, “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS. Al-‘Ankabut:35).

Pertanyaanya kemudian, shalat yang bagaimanakah yang mampu mencegah perilaku keji dan munkar itu?  Kenapa sudah banyak orang yang melaksanakan shalat tetapi justru kejahatan makin menjadi-jadi? Pertanyaan inilah yang sering terdengar di  telinga kita. Jauh sebelum zaman kita sekarang ini Nabi sudah memperingatkan kepada umatnya, bahwa  suatu saat nanti akan datang kepada umat manusia, dimana banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi (hakikatnya) mereka tidak shalat. Inilah fenomena zaman yang barangkali tengah kita alami sekarang ini, yang sering dipertanyakan orang mengenai relevansi shalat dengan fenomenan maraknya kejahatan dan tindak kezaliman lainnya. Apa artinya ini semua?

Tengara Nabi itu terbukti, yaitu telah tiba saatnya dimana banyak tempat peribadatan dibangun, tetapi aktivitas dan isinya minim. Tibalah saatnya generasi penerus (generasi yang miskin) yang menyia-nyiakan shalat dan mereka terbawa oleh  nafsunya, inilah saatnya mereka akan menemui kesulitan dan krisis multi dimensi. Demikianlah kondisi yang digambarkan oleh Nabi, yang dialami oleh orang-orang    munafik. Ini pula yang dimaksud Al-Qur’an surat Al-Ma’un, yaitu banyak orang yang melakukan shalat, tetapi yang diperoleh hanyalah kesengsaraan (digambarkan dengan siksa neraka Wel), karena mereka melalaikan shalat dan hanya ingin dilihat dan dipuji orang.

Ada tiga kategori manusia yang digolongkan sebagai “manusia yang melalaikan shalat” itu: Pertama, lalai waktu. Mereka ini suka mengolor-olor waktu shalat, sudah waktunya shalat, tetapi masih ditunda-tunda untuk melaksakannya, alias mereka tidak disiplin dan tidak tepat waktu. Itulah sebabnya ketika Nabi ditanya salah seorang sahabatnya mengenai amal yang afdhal, beliau menjawab “shalat yang tepat waktu”.  Kedua, lalai tidak mengingat Allah dalam shalatnya, artinya selama dalam shalat, mereka lisannya mengucapkan bacaan-bacaan shalat, tetapi hatinya keluar dari kontesks shalat, pikirannya tertuju pada urusan duniawi, bahkan mereka tidak menghayati gerakan yang ada dalam shalat itu. (tidak thuma’ninah). Ketiga, orang yang shalat, tetapi di luar shalat mereka tidak shalat, artinya mereka shalat, mungkin thuma’ninah dan tepat waktu, tetapi di luar tindakan shalat formal itu mereka tetap melakukan kejahatan. Contoh simpelnya, seusai shalat berjamaah di masjid misalnya, mereka masih mau menukar sandal atau sepatunya dengan sepatu orang lain. Jika pada contoh yang lebih luas, mereka masih mau korupsi, manipulasi dan eksploitasi. Jadi mereka memisahkan antara shalat sebagai ibadah dengan urusan kehidupan dunia sehari-hari, inilah sesungguhnya yang disebut dengan “orang sekuler” atau sahun dalam bahasa Qur’an-nya.

Jika kita mampu mengeliminir (mendesekularisasi) sikap-sikap di atas, maka

berarti kita termasuk kategori manusia yang disebut oleh Allah SWT sebagai aflah al-mu’minun, yaitu orang-orang mukmin yang paling beruntung, orang-orang yang khusyu’ dalam melaksanakn shalatnya (lihat QS. Al-Mu’minun:1-2).  Itulah maka, Allah SWT memberikan predikat kepada dua kategori manusia yang berbeda, yaitu manusia munafik yang sahun dan manusia mukmin yang khasyi’un. Dalam mengungkapkan kalimatnya pun Allah menggunakan ungkapan yang berbeda diantara dua golongan manusia ini. Ketika ungkapan itu ditujukan kepada orang-orang mukmin  maka Allah menggunakan ungkapan fi (Qad aflah al-mu’minun allazinahum fi shalatihim khasyiun…). Tetapi ketika ungkapan itu ditujukan kepada orang-orang munafik digunakan huruf ‘an (Fawailun li-‘l-mushallin allazinahum an shalatihim sahun….). Dalam konteks ini Allah memberikan batasan yang tegas antara karakteristik orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Pembedaan yang digunakan Allah pada diri manusia bukan diukur dengan fisik, etnis, jenis kelamin dan seterusnya, melainkan ada pada sifat dan karakteristiknya. Di sinilah Allah SWT memberikan pendidikan kepada kita tentang wawasan egaliter, dan substansial (lihat QS. Al-Hujurat: 13).

Shalat memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan orang mukmin. Sehingga (dalam  suatu riwayat disebutkan) Nabi pernah menyatakan “shalat itu sama dengan mi’raj-nya orang-orang mukmin”. Seperti halnya bagi orang yang tidak mampu pergi haji ke Makkah, maka shalat jum’ah bagi mereka dianggap sama nilainya dengan pergi haji ke Makkah. Itulah kemurahan Allah SWT yang diberikan kepada kita. Wallahu A’lam bi-‘l-Shawab.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *