BERKORBAN UNTUK BANGSA DAN NEGARA
Oleh: Prof. Dr. HM. Zainuddin, MA.
(Rektor UIN Maliki Malang)
Email: aldin_uin@yahoo.com

PADA hari raya korban (ied al-Adha) umat Islam dianjurkan untuk mengumandangkan takbir dan tahmid, termasuk membaca talbiyah bagi jamaah haji di Makkah. Takbir dan tahmid artinya, umat Islam mengakui dan menegaskan bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah yang patut dipuji dan disanjung. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan yang wajib dan berhak disembah dan diagung-agungkan selain Allah Swt. Inilah tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan para Rasul Allah Saw. kepada umatnya. Tauhid adalah penegasian terhadap seluruh tuhan-tuhan yang ada di dunia ini, baik itu tuhan materi, tuhan kekuasaan, tuhan pangkat dan kedudukan maupun tuhan-tuhan yang lain. Semua tuhan-tuhan itu harus disingkirkan dari benak pikiran orang beriman.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara boleh saja seseorang kehilangan pangkat dan kedudukan, jabatan dan kekuasaan, tetapi tidak keyakinan dan keimanan terhadap Allah Swt. Jangan sampai karena jabatan dan kedudukan tadi kemudian orang mukmin menyembah, memuji dan mengagungkan kekuasaan dan penguasa, mengorbankan orang lain dan keimanannya. Bisa saja dalam hidup ini seseorang kehilangan kekayaan, merugi dalam berbisnis, tetapi jangan sampai merugi di hadapan Tuhan.
Nabi Ibrahim adalah contoh dan teladan figur manusia yang berjiwa tauhid, yang bersedia berkorban untuk mencapai derajat takwa. Ibadah korban merupakan manifestasi ajaran tauhid yang tidak terlepas dari semangat kemanusiaan dan solidaritas sosial. Dalam surat al-Hajj ayat 27-28 ditegaskan, bahwa memberi makan kepada orang-orang yang tertindas lagi fakir (al-bais al-faqir) adalah perbuatan yang amat terpuji dan merupakan bagian dari doktrin teologis yang tidak bisa dipisahkan dari nilai sosial dan humanisme. Di samping itu semua tugas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi setiap orang beriman merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan, baik secara individual maupun secara kolektif.
Pesan Sosial Korban
Jika digali lebih cermat, sesungguhnya ibadah korban itu lebih dari sekadar menyembelih binatang ternak, tetapi ia sarat dengan nilai-nilai substansial dan fundamental. Umat Islam diperintahkan untuk mentaati semua perintah Tuhan dan memiliki kekuatan iman meski tampak berat sekalipun. Menyembelih anak kandungnya dendiri dalam kasus Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpi merupakan ujian yang sangat luar biasa dahsyatnya dan tidak akan terjadi jika tidak memiliki kekuatan iman. Umat Islam tidak hanya diperintahkan berkorban dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir-miskin, begitu setiap tahun dilakukan ramai-ramai, tetapi pada saat yang sama mereka juga mengorbankan fakir-miskin untuk kepentingan pribadinya, ambisi politiknya dan segala macam bentuk mengorbankan orang lainnya.
Yang diperintahkan oleh Allah Swt. adalah berkorban untuk melahirkan nilai-nilai takwa, bukan membuat orang lain jadi korban, atau terkorbankan, seperti yang terjadi selama ini dan dalam beberapa praktik pembangunan di negara-negara sekuler, seperti yang dilukiskan oleh Peter L. Berger dalam karya Piramida Korban Manusia-nya. Itulah maka Allah menegaskan dalam firman-Nya: “Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, melainkan takwamu”. (QS. Al-Hajj:37).
Jika diperhatikan secara cermat, bahwa semua amal ibadah dalam Islam hakikatnya merupakan doktrin sosial yang erat kaitannya dengan relasi kemanusiaan dan peningkatan kesejahteraan sosial, mulai dari salat, puasa, zakat, haji dan syariat korban tersebut. Misalnya ibadah puasa mengandung hikmah menumbuhkan rasa kasih sayang kepada kaum dhuafa’, zakat, infaq dan shadaqah memiliki hikmah memberantas sifat kikir dan membela kaum mustadh’afin dan mengentas kemiskinan. Demikian juga ibadah haji memupuk jiwa ketundukan kepada Tuhan dan memahami makna egalitarianisme dalam masyarakat. Dengan demikian semua ajaran dan ibadah dalam Islam selalu berkelindan dengan relasi vertikal dan horizontal, teologis dan sosiologis, bahkan kosmologis (hablun min Allah wa hablun min al-nas wa al-’alam).
Orang Islam tidak dibenarkan hidup egois dan melepaskan diri dari tanggung jawab sosialnya. Masing-masing pribadi muslim diperintahkan untuk peka dan ikut bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam hal ini Rasulullah Saw. sangat benci terhadap orang Islam yang bersikap acuh terhadap kepentingan masyarakat dan mengabaikan perjuangan agamanya, sebagaimana sabda beliau: “Barang siapa yang tidak mau mementingkan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka”.
Kesediaan orang mukmin meyembelih ternak korban, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim merupakan wujud pengamalan iman untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt. dengan rasa taat dan ikhlas karena Allah semata. Kemudian, daging korban yang dibagi-bagikan kepada fakir-miskin secara kongkret telah menunjukkan kepedulian orang-orang beriman untuk turut serta melaksanakan ajaran keadilan sosial dan rasa kesetiakawanan yang diajarakan oleh Islam. Perintah berkorban juga merupakan manifestasi kongkret seberapa jauh Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa memiliki sikap dan jiwa filantropi kepada sesamanya. Di samping itu semua tugas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi setiap muslim merupakan tanggung jawab yang harus ditunaikan, baik secara individual maupun secara kolektif, terutama bagi para pemimpinnya.
Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin tidak dibenarkan hidup egois dan melepaskan diri dari tanggung jawab sosialnya. Masing-masing pribadi muslim diperintahkan untuk peka dan ikut bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Mereka dituntut untuk berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan lahir dan batin, pembangunan manusia seutuhnya, bukan dalam slogan-slogan tetapi mesti diwujudkan secara kongkret dalam masyarakat.
Ibadah korban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim secara substansial sejatinya juga merupakan ibadah memerangi egoisme dan menyerahkan jalan hidup ini hanya kepada Tuhan semata. Tidak akan pernah terjadi seorang ayah yang karena perintah Allah Swt. bersedia menyembelih anak kesayangannya untuk dijadikan korban sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Demikian pula Ismail, puteranya yang dengan ikhlas dan lapang dada menerima perintah tersebut untuk dikorbankan. Ini adalah peristiwa yang amat berat dan luar biasa yang harus ditanggung oleh keluarga. Itulah profil pemimpin yang mampu memerangi sikap egoisme. Dari deegoisme inilah kemudian melahirkan sikap toleran dan peduli sosial dari figur seorang pemimpin.
Jika saja pemimpin kita mau mengambil hikmah dari peristiwa korban dalam ajaran Islam, maka tidak pernah terjadi krisis sosial di sekitar kita. Umat Islam perlu belajar dari peristiwa korban seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim tersebut, seorang figur pemimpin yang jauh dari sikap egois, dan bebas dari godaan dan rayuan materi. Nabi Ibrahim saat itu sempat tergoda oleh rayuan dan bujukan setan, agar membatalkan niatnya untuk berkorban. Namun karena kekuatan imannya itulah kemudian Nabi mampu mengatasi segala macam godaan dan cobaan tersebut dan berhasil melepaskan kepentingan pribadi dan egoismenya untuk tujuan yang lebih mulia, yaitu syariat Islam.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *