Category Archives: Kependidikan

SUFISME DI ERA GLOBAL

Salah satu fenomena yang sering diramalkan akan menjadi trend di abad XXI ini adalah munculnya gerakan spiritualitas baru. Terhadap gerakan ini, Rederic dan Maryann Brussat (lihat Ruslani ed., 2000: vi-vii), mengistilahkannya dengan “kemelekan spiritual” atau kebangkitan spiritual. Ekspresi gerakan ini sering tampil dengan wajahnya yang sangat beragam, mulai dari Cult, Sect, New Thought, New Relegious Movement, Human Potential Movement, hingga gerakan New Age. Namun demikian dari semua gerakan tersebut, jika ditarik garis horizontalnya, hampir memiliki kesamaan misi, yakni memenuhi hasrat spiritual yang mendamaikan hati.

Tuntutan untuk melakukan gerakan ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, antara lain, pertama: kebutuhan untuk melakukan responsi terhadap paradigma modernisme yang telah mengalami kegagalan dalam beberapa aspeknya; kedua, sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat akibat dari dampak hegemoni Barat yang mengesampingkan nilai-nilai spiritualitas dan lepas dari tuntutan ajaran keagamaan. Sebagai konsekuensinya, gerakan tersebut banyak yang berpaling dari agama Barat Untuk kemudian  berpihak ke agama-agama Timur, seperti Hinduisme, Budhisme, Zen dan Taoisme; ketiga, tidak menutup kemungkinan gerakan tersebut muncul karena  perubahan budaya yang amat cepat dalam kehidupan keseharian akibat dari kesalahan disain kita sendiri.

Gerakan New Age pada hakikatnya juga merupakan reaksi atas dosa-dosa sains modern yang hampa terhadap perasaan (dehumanisasi), dosa-dosa kapitalisme dan imperialisme yang belum bisa lepas dari watak eksploitasinya. Untuk menghadapi ini, gerakan New Age mencoba berpaling dari eksploitasi, selanjutnya berpihak pada upaya-upaya perdamaian, toleransi, kesadaran dan keseimbangan alam. Dengan demikian gerakan ini bisa diartikan sebagai sebuah proses pencarian jati diri manusia, setelah sekian lama manusia ditimpa oleh krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda. Sementara itu agama formal yang mestinya dijadikan tempat kembali mereka, kini dianggap telah kehilangan pesan-pesan universalitasnya. Sehingga wajar jika kemudian pendukung dari gerakan ini sering menggunakan jargon Spirituality Yes, Organized Religions No.

Sufisme, yang sering juga disebut dengan istilah mistik (tetapi bukan mistik Jawa) yang terkait dengan urusan batin (tetapi bukan kebatinan), pengertiannya adalah suatu upaya pendekatan kepada Sang Khaliq yang bergerak dalam lingkup rasa, esoteris, (zauq) dan hati (qalb).

Upaya pendekatan yang bergerak dalam ranah hati ini membutuhkan kejernihan dan ketulusan. Oleh karena itu kejernihan batin atau hati inilah yang sering diidentikkan dengan istilah tasawuf (tashawwuf, Arab) yang orangnya disebut sufi (al-mutashawwif). Apakah tasawuf atau hidup bertasawuf itu melepaskan hasrat dan interes keduniaan? Demikianlah citra umum yang ada pada masyarakat selama ini.

Sebenarnya sejarah munculnya sufisme itu jika dilacak akar historisnya adalah muncul bersamaan dengan lahirnya Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. yang diutus untuk menyempaikan risalahnya. Sejak awal (sebelum menjadi rasul) beliau sudah senang ber-khalwat, ber-tahannus untuk menjauhkan diri dari distruksi sosial masyarakat jahiliyah saat itu. Ketika masih muda beliau dipersepsikan sebagai  pemuda yang jujur, pencari spiritual yang kritis. Meditasi atau ber-khalwat di goa Hiro’ yang dilakukan nabi itu bukan berarti beliau meninggalkan dunia tanpa memperhatikan masa depan Islam, melainkan untuk memohon diri kepada Yang Maha Kuasa agar memperoleh petunjuk-Nya. Di sebuah bukit, tempat dimana ia mengasingkan diri itulah selanjutnya  beliau memperoleh pengalaman spiritual yang tinggi. Akhirnya melalui pengalaman tersebut Muhammad saw. memperoleh apa yang dinamakan “wahyu” (surat al-‘Alaq sebanyak  lima ayat). Dari hasil khalwat itu beliau bisa meneruskan dakwah Islam yang dimulai dari para sanak keluarganya sampai kepada masyarakat luas: wa anzir ‘asyirataka ‘l-aqrabin (lihat QS: As-Syu’ara: 214); …fashda’ bima tumaru wa a’ridh an ‘l-musyrikin (Al-Hhijr: 94).  Jadi goa Hiro’ merupakan  lepas landas (take of) nabi ke masyarakat luas.

Islam sendiri sebenarnya sangat perhatian terhadap tradisi spiritualitas dan moralitas. Dalam kenyataannya Islam memiliki tradisi spiritualitas yang kaya dan amat berharga yang sudah berjalan selama rentang waktu lebih dari 14 abad. Ajaran yang terkandung dalam wahyu tersebut, di satu sisi membuat beberapa orang tertarik,  di sisi lain membuat orang-orang takut, utamnya adalah kelompok Quraisy. Ketakutan seperti ini bukan semata-mata karena ajaran tauhidnya, tetapi karena ajaran sosial yang dibawa Muhammad saw. sebagai ajaran yang concern terhadap penegaan keadilan ekonomi dan persamaan sosial. Itulah yang akan selalu mengancam kemapanan monopoli perdagangan para kafilah Quraisy yang merupakan kunci untuk memperkaya diri mereka. Dengan demikian tradisi spiritualitas dalam Islam adalah spiritualitas yang sarat dengan pesan-pesan sosialnya.

Belum lagi tradisi spiritualitas lain yang lebih penting dalam Islam. Tradisi spiritual dimaksud adalah shalat sehari semalam. Tradisi ini dianggap  sebagai jantung spiritualitas Islam, karena shalat diawali dengan penataan niat yang dalam untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan diakhiri dengan ucapan salam perdamaian terhadap sesama manusia. Inilah yang kemudian di dalam Islam disebut sebagai ibadah mahdlah, ibadah yang dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan Tuhannya  dan diakhiri dengan sikap kritis terhadap kualitas moral dan spiritualitas dalam suatu tindakan sosial.

Selanjutnya pengalaman spiritual yang dicontohkan nabi itu yang terpenting adalah keteladanan sikap dan akhlak beliau yang harus kita tiru. Bukan persoalan harus tinggal di goa bertapa meninggalkan keramaian dunia, bukan. Nabi selepas menjalankan pengalaman spiritualnya di Hiro’ tidak berhenti di situ saja, tetapi beliau tetap berkhalwat dan zuhud di dalam kesehariannya, dalam pengertian menjauhkan dari ketamakan dunia: hub al-dunya, hub al-jah. Jadi bukan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang selama ini, bahwa bertasawuf adalah identik dengan nyepi, mengasingkan diri dari pergaulan manusia (‘uzlah) untuk selamanya. Berkhalwat bisa berarti berkonsentrasi, mengkhususkan perhatian akan Khaliq-nya. Dari hasil khalwat itu  diimplementasikan dalam bentuk amal saleh untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Nabi sendiri dan juga Allah SWT tidak menghendaki adanya kepincangan hidup. Hal ini bisa dilihat dalam firman-Nya –yang kemudian dikenal dalam masyarakat muslim sebagai doa sapu jagat— Rabbana atina fi ’l-dunya hasanah wafi ’l-akhirati hasanah waqina azaba ‘l-nar. Lihat juga  QS. Al-Qashash: 77. Bahkan jika kita cermati QS.Al-Qashash:77 tersebut kita dapatkan tiga persoalan besar, yatu: teologis, sosiologis dan kosmologis. Secara teologis manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT untuk memperoleh keuntungan akhirat, tetapi di sisi lain tetap diperintahkan untuk bekerja, mencari rizki di dunia, tidak boleh salah satu diabaikan.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sendiri –yang dianggap oleh kebanyakan orang Islam sebagai sulthan al-auliya’— tidak pernah mempunyai sikap hidup yang mengasingkan diri, dalam arti membenci dunia, tidak kawin dan bersikap seperti pendeta (rahbaniah), tetapi ia menolak untuk menikmati keinginan-keinginan dunia yang menimbulkan tenggelamnya hati, sehingga mengakibatkan lupa terhadap penciptanya (Allah SWT). Ia sangat memegangi sabda Nabi, yang artinya : “Sesungguhnya dunia itu diciptakan untukmu (manusia), sedangkan kamu sekalian diciptakkan untuk akhirat.” Dengan kata lain ia tidak melarang seseorang memiliki atau menguasai dunia, tetapi ia melarang seseorang dikuasai dunia dan diperbudaknya.

Bagi para sufi, sebetulnya sufisme dan syari’ah tidak dipandang sebagai dua dimensi yang bertentangan tetapi saling melengkapi satu sama lain dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Meskipun demikian, dalam sejarah dan perkembangan masyarakat memang terjadi pertentangan dan konflik antara kedua penganut dimensi Islam tersebut.

Sebagai satu ajaran, sufisme merupakan dimensi batin atau esoteris yang seringkali dibedakan dengan syari’ah (eksoteris). Sebagai gerakan, dalam sejarah dan perkembngnnya, para sufi dapat dikategorikan dalam  dua kelompok, yaitu: pertama, sufi individualis yang terpanggil untuk mempraktekkan kehidupan asketis dan mistis yang menghasilkan karya-karya sufisme dan dikenal lewat karya tersebut oleh para sufi belakangan. Acapkali para sufi dibesarkan oleh sejumlah pengikut yang menganggapnya sebagai special figure yang dapat mengikat mereka pada suatu aliran tertentu (misalnya sosok Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, yang kemudian melahirkan nama tarekat Qadiriyah, Syeikh Yusuf Taj al-Khalwati dengan munculnya tarekat Al-Khalwatiyah dst.);  kedua, para sufi yang diikat oleh suatu aliran tertentu dan merupakan suatu persaudaraan (brotherhood) yang sering disebut dengan tarekat. Kadang-kadang suatu tarekat merupakan institusi semi formal yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan bahkan politik (Gilsenan, 1973: 1).

Dalam sejarah perkembangan masyarakat, sufisme merupakan dimensi Islam yang tak kalah kontroversial. Hakikat dan eksistensinya seringkali disalahpahami dan diremehkan. Secara teologis ajaran-ajaran tasawuf oleh beberapa kalangan –terutama golongan yang berorientasi modernis– dipandang sebagai ajaran yang tidak berasal dari ajaran Islam sehingga penganutnya dapat menjadi musyrik. Ia dianggap sebagai ajaran  yang mengndung TBC (tahayul, bid’ah dan churafat). Secara sosial, tasawuf yang mengajarkan kehidupan asketis menjadi penghambat pembangunan dan kemajuan zaman sehingga tidak mengherankan kalau Al-Ghazali dipandang bertanggung jawab terhadap ketertinggalan  dan kemunduran umat Islam.

Tuduhan dan kritik terhadap tasawuf tersebut memang seringkali tidak beralasan. Tuduhan dan kritik tersebut biasanya datang dari golongan yang tidak memahami tasawuf secara komprehensif dan tidak melihatnya dari perspektif sufi itu sendiri. Secara teologis, sesunguhnya tasawuf memiliki dasar doktrin yang kuat di dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah dan menurut Nurcholish Madjid (1985), tasawuf memiliki akar yang lebih kuat di dalam Al-Qur’an dibanding dengan syari’ah. Sufisme yang dianggap sebagai simbol kejumudan dan kepasifan juga merupakan kesimpulan yang over-generalisation,  karena dalam banyak kasus di dunia muslim para sufi dan pengikut tarekat berperan aktif dalam berjuang melawan kaum kolonial. Di Indonesia, beberapa tarekat merupakan kelompok masyarakat yang ditakuti pemerintah kolonial Belanda karena gerakan-gerakan “pemberontakan” yang mereka lakukan (Kartodirdjo, 1966).

Perlu diketahui –dan ini merupakan fakta sejarah– bahwa di Afrika Utara, Sudan pada tahun 1943  muncul gerakan  sufi terkenal, yaitu sekte Ashiqqa dan Marabaouts (al-Murabbithun), yang mempunyai peranan besar dalam percaturan politik melawan penjajahan. Kaum sufi pun bisa bertingkah laku berang dan berperan sebagai reformis dan top leader (lihat: Donald E. Smith, Religion and Political Development: 135, 137). Pada masa dinasti Saljuk sufisme juga berfungsi sebagai gerakan protes terhadap tirani kekuasaan. Mereka  mengecam  ulama yang terikat intim dengan penguasa (yang oleh al-Ghazali disebut sebagai ulamasu’). Sufisme juga menolak pandangan aristokratis (lihat Kamaluddin Hilmi, 1975:202).

Ini merupakan kenyataan, bahwa praktik sufi tidak hanya bisa diasumsikan sebagai ibadah zuhud dan zikir dalam pengertian ritual ansich. Dalam kondisi modern dan era teknologi kini, praktik sufi pun masih relevan dan bahkan sangat diperlukan, dengan catatan bahwa pengertiannya tidak sesempit yang dipahami sementara orang (mengasingkan diri dari komunikasi massa). Tetapi ia harus dijabarkan dalam arti yang kontekstual. Dan kita bisa melihat gejala sosiologis, bahwa di Pesantren Suryalaya Jawa Barat (yang terkenal dengan Pesantren Tareqat), telah dilakukan gerakan kultural yang wujudnya berupa masalah pertanian, koperasi, lingkungan hidup. Bahkan Pesantren tersebut banyak mendapat perhatian para ilmuwan dan juga pemerintah sendiri. Pengobatan non medis bagi cacat jiwa (narkoba dsb.) dengan menggunakan formula yang dikenal dengan formula zikrullah adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi Abah Anom (julukan Kiai dan pengasuh pesantrennya). Bukankah bentuk dan realita seperti ini lalu dapat mengubah gambaran kita tentang dunia sufi?

Dalam  kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi  ke hampir seluruh kawasan dunia. Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”, tidak akrab lagi antara satu dengan yang lain. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena ini membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan dan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetap tegar dalam kepribadian.

Dalam hidup ini, yang dibutuhkan oleh manusia tak ada lain adalah  ketenangan, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin. Dan itu semua  tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar, seperti ekonomi, status sosial dan seterusnya, melainkan lebih tergantung kepada sikap hidup dan kedekatan kita kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah (isti’anah dan istighatsah), tetap relevan dan satu keharusan agar  memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang luhur dan hati yang tenang. Di sinilah makna sufisme itu: mengedapankan nilai ajaran agama, spiritualitas dan aspek esoteris yang menjadi benteng kepribadian, supaya terhindar dari hiruk pikuk materialisme dan hedonisme, terutama dalam kehidupan global yang penuh tantangan ini.***

REORIENTASI PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH MENUJU PENDIDIKAN INKLUSIF

Pada 18-09-2015 yang lalu mhs S2 UIN Maliki Malang studi banding di UIN Suka Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, kepada saya diminta untuk menjadi presenter dalam diskusi panel bersama Direktur PPs UIN Suka Yogyakarta, Prof. Noer Haidi, Ph.D dengan tema Pendidikn Inklusi.  Berikut makalah yang saya sampaikan pada forum itu:

Pendahuluan

Hingga saat ini kita masih dihadapkan pada persoalan yang meililit bangsa. Berbagai persoalan, baik sosial, ekonomi, politik maupun budaya begitu menumpuk. Praktik korupsi, dan segala macam tindak kekerasan telah mengakar sedemikian rupa seakan menjadi bagian dari budaya bangsa itu sendiri. Ketegangan dan kerusuhan yang bernuansa agama di beberapa daerah di Indonesia juga belum reda. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan (gap) antara idealitas agama (das sollen) sebagai ajaran dan pesan-pesan suci Tuhan dengan realitas empirik yang terjadi dalam masyarakat (das sein). Padahal secara historis, bangsa Indonesia telah memiliki modal nasionalitas yang amat berharga, seperti: kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa (agama), keutuhan wilayah negara, bahasa kesatuan, konstitusi dan falsafah negara, sistem pemerintahan yang meliputi seluruh tanah air, jajaran militer sebagai tulang punggung ketertiban dan keamanan nasional.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai umat beragama? Bagaimana pendidikan agama kita? Bagaimana peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Persoalan ini mesti segera dicarikan jalan keluarnya, sehingga doktrin-doktrin agama menjadi semakin bermakna bagi terciptanya kehidupan yang harmonis antar maupun internumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimaksud.

Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusi atau inklusif adalah pendidikan yang menyertakan semua lapisan masyarakat dan tidak membatasi golongan tertentu (education for all). Atau pelayanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama anak-anak normal. Mengakomodasi semua anak baik secara fisik maupun mental (psikis) (lihat Permendiknas 70/2009 pasal 1).

Landasan Pendidikan Inklusi meliputi landasan filosofis dan yuridis. Landasan filsofis pendidikan inklusi adalah Bhineka Tunggal Ika dan landasan yuridisnya adalah:

  • Declaration of Human Right (1948)
  • Convention of Human Right of the Child (1989)
  • Kebijakan global Education for All oleh UNESCO (1990)
  • Kesepakatan UNESCO di Salamanca tentang Inclusive Education (1994).
  • Undang-Undang Dasar 1945.[1]
  • Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.[2]

Sementara itu pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya memperhatikan nilai-nilai kemanusian universal dan melarang melakukan diskriminasi dan eksploitasi kepada yang lain. Banyak teks-teks al-Qur’an maupun al-Hadis yang menyebutkan issu-issu kemanusiaan tersebut, misalnya

penegasan Islam sebagai agama rahmah, pengakuan terhadap keragaman (al-Hujurat: 13, Hud: 118; al-Maidah:48), penghargaan terhadap perbedaan dan penghormatan terhadap hak individu dan sosial, mengedepankan toleransi, kesejajaran, kesatuan dan persatuan (al-’Ankabut: 46), penegakan keadilan dan kemakmuran di muka bumi, keselamatan, kedamaian, dan keamanan (al-Qashash: 77) dst.

Perdebatan di Seputar Peran Pendidikan Agama

Pendidikan agama, baik dalam konteks nasional Indonesia maupun sebagai bagian dari dunia secara umum, kini tengah menghadapi tantangan yang lebih berat. Agenda besar yang dihadapi bangsa Indonesia kini adalah, bagaimana menciptakan negara yang aman, adil dan makmur dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, yang didukung oleh warga negara yang berpengetahuan, beriman dan bertakwa. Dengan begitu maka pendidikan agama dituntut untuk berperanserta mewujudkan tatanan Indonesia baru dimaksud, dengan merumuskan langkah-langkah pengembangannya.     Pertanyaan lebih spesifik, apakah pendidikan yang dikembangkan oleh umat Islam sudah memenuhi fungsi dan sasarannya?

Menurut Kuntowijoyo (l991:350), bahwa pendidikan agama (baca: Islam) saat ini –sebagaimana pendidikan lainnya– secara empirik belum mempunyai kekuatan yang berarti karena pengaruhnya masih kalah dengan kekuatan-kekuatan bisnis maupun politik. Disinyalir, bahwa pusat-pusat kebudayaan sekarang ini bukan berada di dunia akademis, melainkan di dunia bisnis dan politik. Dalam setting seperti ini lembaga pendidikan Islam terancam oleh subordinasi.

Mayoritas umat Islam juga kurang menghargai nilai-nilai Islam itu sendiri, misalnya menepati waktu, janji, kedisiplinan dan ketertiban, dan hal-hal lain yang mestinya harus diperhatikan oleh umat Islam itu sendiri. Kemudian, kenapa terjadi keterputusan antara nilai dan praktik dalam masyarakat muslim? Dan peran apa yang bisa diberikan oleh pendidikan dalam konteks ini? Permasalahan yang dihadapi masyarakat Islam saat ini tidak lepas dari faktor modernisasi dan globalisasi yang berdampak pada semua aspek kehidupan: ekonomi, sosial, politik, dan juga pendidikan. Pengaruh modernisasi telah memiliki andil besar dalam merubah gaya dan pola hidup pada hampir semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat Islam.

Perdebatan soal pendidikan agama di sekolah terkait dengan maraknya distruksi sosial memang tidaklah baru. Tetapi yang menarik, analisis kebanyakan pengamat dan pakar selalu menuding kegagalan itu pada sistem pendidikan yang dianggap masih normatif, verbalistik dan simbolistik.

Haidar Bagir misalnya menegaskan (Kompas 28/03/2003), bahwa pendidikan agama di Indonesia telah gagal. Menurutnya, ada dua hal yang menjadi sebab utama kegagalan tersebt, pertama, karena pengajaran agama selama ini dilakukan secara simbolik-ritualistik. Agama diperlakukan sebagai kumpulan simbol-simbol yang harus diajarkan kepada anak didik dan diulang-ulang tanpa memikirkan korelasi antara simbol-simbol tersebut dengan kenyataan dan aktivitas sosial di sekeliling mereka, agama hanya dipahami sebagai norma-norma legalistik yang kehilangan ruh moralitasnya; kedua, karena tidak adanya keseimbangan tiga ranah nilai: kognitif, afektif dan psikomotorik. Karena kuatnya tekanan terhadap aspek kognitif itulah, sehingga anak didik menjadi tidak tawadhu’.

Hasil observasi yang dilakukan oleh PPIM (Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN), telah mengungkap hal yang sama. Bahwa perilaku keberagamaan dari sejumlah kota-kota besar yang ada di Indonesia mayoritas masih menekankan pada dimensi kesalehan individual. Bersamaan dengan itu pula, fenomena KKN, intoleransi, dan eksploitasi juga marak di mana-mana. Padahal fenomena secam ini akan mudah dilerai melalui pendekatan pendidikan agama yang perhatian pada wawasan individul dan sosial secara bersamaan (Kompas, 15/3/2003).

Menurut hemat penulis, kita semua bertanggung jawab atas perlunya segera melakukan upaya kongkret ke arah perbaikan itu, yaitu reorientasi pendidikan agama di sekolah. Reorientasi pendidikan agama dimaksud tidak cukup hanya menyangkut hal-hal luar seperti ritual-seremonial, persoalan halal-haram, dan sederet kesalehan ritual-formalistik lainnya, melainkan lebih dari itu adalah inti dan makna yang terdalam dalam pendidikan agama itu sendiri.

Dengan demikian, konsep tentang pentingnya pendidikan bagi terciptanya kesadaran sosial yang humanis, toleran dan inklusif sangat urgen. Dari kajian ini pula kita dapat melihat di mana letak kelebihan dan kekurangan model pendidikan agama yang diberlakukan oleh Kementerian Agama selama ini. Di sinilah perlu ada penelitian lanjut terhadap pesan-pesan materi yang tertuang dalam buku ajar yang merumuskan persoalan tersebut. Persoalan ini mesti segera dicarikan jalan keluarnya, sehingga doktrin-doktrin agama menjadi semakin bermakna bagi terciptanya kehidupan yang harmonis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memang ada kesan, bahwa materi yang tertuang dalam buku ajar selama ini masih parsial dan baru menyentuh pada aspek formalnya, sementara spirit atau ruh-nya belum banyak disentuh. Dengan kata lain, pendidikan agama selama ini masih terjebak pada upaya membuat orang sekadar beragama dan mengerti ajaran, tetapi belum sepenuhnya mendorong untuk beramal saleh dan menciptakan ketertiban dan keamanan. Padahal  religiusitas adalah sikap dasar yang membuat orang beramal baik, penuh cinta kasih, lembut hati sekaligus memiliki solidaritas kemanuisaan universal (baca: ihsan). Inilah persoalan yang sangat inti dalam beragama yang seharusnya menjadi potret pendidikan agama di sekolah atau madrasah.

Jika pendidikan agama bukanlah sekadar memberikan pelajaran agama secara rutin oleh guru di sekolah –melainkan penanaman jiwa agama yang dimulai dari pendidikan keluarga sejak kecil, dengan jalan membiasakan anak untuk berbuat  baik –maka seperti apakah pemaknaan pendidikan agama di sekolah itu?

Reorientasi Pendidikan Agama di Sekolah

Perbincangan soal upaya perbaikan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan agama terasa sangat dilematis. Di satu sisi guru masih dilihat sebagai satu-satunya elemen terpenting, sehingga kualitas pendidikan apapun harus dimulai dari guru. Sementara itu Gorton (dalam Bafadal, 2002) telah menempatkan muatan buku ajar sebagai elemen yang secara bersamaan juga harus diperhatikan. Padahal selama ini perhatian serius di seputar materi buku ajar yang ada di sekolah –sebagaimana yang disinyalir Gorton– belum banyak dilakukan.

Pesan-pesan materi pendidikan agama hendaknya mencerminkan sifat toleran, inklusif, dan humanis. Karena pendidikan agama adalah upaya menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agamanya melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran secara berkesinambungan, maka antara guru dan buku ajar sebagai elemen proses pembelajaran secara bersamaan harus diperhatikan.

Jika agama yang dipentingkan bukan sekadar simbol, namun lebih dari itu adalah ruh, semangat dari agama itu sendiri, yaitu iman dan amal saleh, maka pendidikan agama mesti memusatkan perhatian pada pembentukan anak didik yang memiliki kepribadian ideal, yaitu jiwa solidaritas yang tinggi, jujur, adil, jauh dari kekerasan dan teror yang meresahkan bangsa. Orientasi pendidikan semacam ini juga akan terasa sangat bermanfaat ketika dihadapkan pada kompleksitas dan pluralitas agama. Di sini pula pluralitas agama harus menjadi kekuatan konstruktif-transformatif dalam mengembangkan potensi dan model pendidikan agama, sementara itu kekuatan konstruktif-transformatif akan berkembang jika masing-masing komunitas agama memahami dan menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan melalui keteladanan seorang guru (uswah hasanah).

Reorientasi pendidikan agama di atas sudah saatnya dimulai dari TK hingga perguruan tinggi dengan me-review kurikulum kita yang selama ini dianggap kurang memenuhi syarat sebagai kurikulum yang berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan dan agama damai (harmoni). Agama damai adalah agama yang dapat membimbing umatnya penuh kedamaian, ketenangan dan ketenteraman. Ayat-ayat damai (salam) adalah ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan pada kebutuhan tidak saja toleransi antarumat beragama, melainkan untuk bekerja sama secara moral yang berusaha menegakkan kebajikan di muka bumi. Dalam ayat-ayat salam, al-Qur’an menandaskan bahwa dalam berhubungan dengan kelompok musuh, umat Islam seharusnya mencoba mengingatkan mereka akan kewajiban moral mereka kepada Tuhan, tetapi jika musuh itu dengan angkuh menolak kebenaran, umat Islam boleh meninggalkan mereka tetapi tetap memberikan salam kepada mereka (lihat QS. al-Furqon: 63).

Dalam dinamika ini, umat Islam seyogyanya menunjukkan sikap yang dapat meyakinkan musuh mereka bahwa perbedaan pendapat di antara mereka tidaklah bersifat personal, dan bahwa umat Islam tidak menampakkan dendam atau kebencian terhadap musuh mereka. Sampai-sampai ketika musuh menolak ajaran dan berpaling, al-Qur’an memandu umat Islam bahwa satu-satunya respons yang tepat terhadap penolakan ini adalah mendoakan agar musuh mereka mendapat anugerah kedamaian. Indonesia bukan daerah perang (dar alharb), oleh sebab itu tidak ada alasan yuridis Islam (hujjah fiqhiyyah) untuk menabuh genderang perang melawan agama lain, bahkan perang melawan intern umat beragama.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai umat beragama? Bagaimana peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Persoalan ini mesti segera dicarikan jalan keluarnya, sehingga doktrin-doktrin agama menjadi semakin bermakna bagi terciptanya kehidupan yang harmonis antarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dimaksud.

Peran Agama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Secara umum, peran agama dalam kehidupan manusia dapat dilihat dari dua aspek. Pertama adalah aspek konatif (conative aspects). Aspek ini berkaitan dengan kemampuan agama dalam menyediakan sarana kepada masyarakat dan anggota-anggotanya untuk membantu mereka menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Kedua, aspek yang bersifat kognitif (cognitive aspects). Aspek ini terkait dengan peranan agama dalam menetapkan kerangka makna yang dipakai oleh manusia dalam menafsirkan secara moral berbagai kesukaran dan keberhasilan pribadi mereka; juga sejarah masyarakat mereka di masa yang silam dan keadaannya di masa kini, (E.K. Nottingham, 1985:107-108).

Pemahaman terhadap peran agama semacam itu dapat ditemukan batu pijakannya dalam berbagai sumber suci agama-agama semit. Dalam Islam misalnya, al-Quran tidak hanya mewajibkan kepada umatnya untuk melakukan ibadah-ibadah ritual-seremonial yang bisa memberikan kelegaan emosional dan spiritual, tetapi juga membuka ruang penafsiran intelektual guna membantu manusia dalam mendapatkan makna dari seluruh pengalaman hidupnya (baca: kontekstualisasi dan reaktualisasi). Peran Islam seperti ini tampak dengan jelas dalam hampir setiap ibadah ritualnya selalu terkandung apa yang biasa disebut dengan pesan moral. Bahkan begitu pentingnya pesan moral ini, “harga” suatu ibadah dalam Islam dinilai dari sejauh mana pesan moralnya bisa dijalankan oleh manusianya. Apabila suatu ibadah tidak bisa meningkatkan moral seseorang, maka ibadahnya dianggap tidak ada maknanya. Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan hal-hal yang terlarang secara fiqh dalam suatu ibadah, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral itu sendiri. Misalnya, pada bulan puasa, sepasang suami istri berhubungan intim pada siang hari, maka kifarat (dendanya) ialah memberi makan enam puluh (60) orang miskin, karena salah satu pesan moral puasa ialah memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitarnya.

Aspek kognitif peran agama semacam ini juga bisa dijumpai dalam agama Kristen. Narasi tentang Ayub dalam Bibel misalnya, –atau Nabi Ayyub dalam al-Quran)– merupakan simbol persoalan kemanusiaan yang mengandung ajaran moral sangat dalam. Kesungguhan Ayub dalam menjalankan kewajiban sosial dan keagamaan memang tidak serta merta menjadikannya bahagia, sebaliknya menyebabkannya memperoleh cobaan dan penderitaan. Tetapi kesungguhan Ayub dalam menghayati niali-nilai sakral yang terdapat dalam perintah-perintah Tuhan bukan hanya menyebabkan dia bertahan atas penderitaan tersebut, namun juga membantu dia menemukan makna dari seluruh pengalaman hidupnya. Sehingga, ketika Ayub minta keterangan kepada Tuhan tentang apa yang terjadi, bukan keadaan dirinya yang diutamakan tetapi justru nasib buruk yang menimpa seluruh umatnya yang dikedepankan. (E. K. Nottingham, 1985:108-109).

Pesan agama yang terpantul dari kisah tentang Ayub itu adalah, bahwa ketidaksamaan nasib untung dan malang manusia tidak dapat dijelaskan begitu saja menurut ukuran baik buruk manusiawi. Tetapi harus dilihat pula dari segi adanya penilaian-penilaian Tuhan di dalamnya. Di situlah terletak (salah satu) fungsi agama yang penting, yaitu “memberikan makna moral dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan”. Makna moral di sini paralel dengan apa yang dikatakan oleh Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (dalam M. Zainuddin, 2007: 42), bahwa semua agama besar menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan seperti ini sangat penting bagi keteraturan perilaku masyarakat manusia, dan agama membantu manusia untuk memandang serius kebajikan seperti itu.

Persoalan makna agama sebagaimana tergambar pada ajaran Islam dan Kristen di atas merupakan persoalan makna agama dalam pengalaman individual. Secara esensial, persoalan yang sama juga bisa ditemukan pada level masyarakat secara keseluruhan. Persoalan-persoalan seperti ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi, serta persoalan kekuasaan merupakan rahasia umum dalam kehidupan masyarakat manusia. Jik suatu masyarakat mampu memahami peran agama dalam membantu menafsirkan secara moral pengalaman hidupnya, maka agama akan hadir sebagaimana fungsinya. Sebaliknya, jika mereka salah dalam melakukan interpretasi-interpretasi tersebut maka agama bisa menjadi lahan subur bagi perkembangan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Oleh sebab itu menurut Shahab (dalam Dian Interfidei,1995), jika setiap penganut agama mempertahankan kebenaran sejati setiap agama, bukan simbol, maka tidak akan terjadi konflik. Sebab bila realitas Tertinggi pada hakikatnya adalah Satu, maka secara otomatis prinsip-prinsip filosofis yang digunakan semua agama juga satu. Oleh sebab itu menurut Shahab, dalam masalah perbandingan agama hendaknya yang dijadikan patokan adalah perspektif filosofis, bukan sosiologis, tanpa terjebak oleh simbol-simbol agama. Ketika ‘allamah Thabathaba’i berbicara tentang agama pada level filosofis, ia tidak pernah bersikap permissif, tetapi ketika kajiannya mulai menyentuh  dataran sosiologis ia sangat toleran, begitu pula muridnya, Muthahhari.

Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remarking of World Order (1996) mengatakan, bahwa benturan yang terjadi antar peradaban sangatlah besar pengaruhnya terhadap perdamaian dunia. Dalam konteks dunia internasional peradaban merupakan pengaman terpenting dalam mencegah terjadinya perang dunia. Padahal yang disebut sejarah peradaban ialah sejarah manusia itu sendiri. Sementara agama adalah karakteristik utama yang mencirikan sebuah peradaban. Lebih dari itu Christopler Dowson mengatakan bahwa agama-agama besar adalah bangunan dasar bagi peradaban-peradaban besar.

Pluralitas agama di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan konstruktif-transformatif, bukan sebaliknya menjadi kekuatan destruktif. Potensi pertama, yaitu kekuatan konstruktif-transformatif akan berkembang jika masing-masing komunitas agama memahami dan menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan. Sebaliknya potensi destruktif akan dominan jika masing-masing komunitas agama tidak memiliki sikap toleran, bahkan  memandang inferior agama lain.

Oleh sebab itu salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan harmonisme umat beragama di Indonesia adalah: pertama, pendidikan agama harus mampu membentuk watak siswa, bahwa agama merupakan kebutuhan ruhani bagi penciptaan kerukunan dan kedamaian, pemupuk persaudaraan dan ketenteraman sesuai dengan missinya. Atau dengan kata lain, perlu ada reorientasi pendidikan agama yang berwawasan kemanusiaan universal dan keramahan (rahmatan lil ‘alamain). Kedua, upaya peningkatan kualitas pendidikan pada masing-masing umat. Pendidikan dimaksud adalah pendidikan humanis yang melahirkan akhlak karimah dengan indikator: adanya sikap jujur, toleran, dan cinta-kasih antarsesama. Bukan pendidikan eksklusif yang melahirkan manusia-manusia keras dan absolut.

Berikut beberapa kesalahpahaman umum tentang pendidikan dan sekaligus pandangan alternatifnya (Tauhidi, 2003: 3-13):

Komponen Seharusnya Senyatanya
Visi Pendidikan dipandang secara holistik, menyeluruh dan berparadigma rekonstruktif. Pendidikan dianggap sebagai disiplin yang terpisah; partikularistik, masih memakai paradigma mekanistik (model perusahaan).
Tujuan Beyond schooling, bagaimana belajar (how to learn), pembelajaran seumur hidup (life long education), pengembangan manusia seutuhnya (khaira ummah). Perolehan informasi ansich, pengetahuan dan keterampilan hanya untuk perolehan pekerjaan (promise of job).
Isi Pembelajaran bersifat kontekstual, transformatif, realistik, kurikulum berbasis kehidupan nyata. Pembelajaran bersifat konvensional, sekadar informatif, tidak relevan dengan kehidupan riil siswa, hanya terfokus pada instruksi/pengajaran textbook.
Struktur Gagasan bersifat powerful (powerful ideas), mampu memberi inspirasi dan transformasi, mampu membangun kepribadian dan jati diri anak. Struktur tidak koheren atau disusun oleh disiplin akademik yang rigid.
Metode Discovery learning, terpusat pada siswa, pengajaran bervariasi, dialogis, interaktif, guru sebagai penunjuk (guide), modellling dan mentoring, model pembelajaran terpadu/integrated learning model (ILM) Didaktik (ceramah, monolog); guru sebagai pusat, satu model untuk semua siswa, tidak inspiratif.
Program Life mastery, terpusat pada hal-hal kekinian, belajar menjadi Muslim”, Islam sebagai gaya hidup; Islam untuk pemahaman atau penguasaan hidup/ Islam for Life Mastery (ILM). Terfokus pada masa lampau, belajar tentang Islam dan kepemilikan Islam, ritual-seremonial.
Penilaian Authentic assessment, berhubungan dengan dunia riil, penilaian bersifat multi intelligensi. Tes formal bersifat textbook, benar- salah, lulus atau tidak lulus, tes standar.

Para sarjana Muslim saat ini dituntut mampu menemukan solusi real terhadap permasalahan-permasalahan dan tantangan-tantangan yang dihadapi komunitas muslim –termasuk “bagaimana” dan “apa” yang harus diajarkan pada anak-anak kita. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pembaruan visi pendidikan sangat mendesak dilakukan, salah satunya adalah mencetak generasi yang mempunyai tingkat pemahaman, komitmen, dan tanggung jawab sosial yang mampu mengabdikan diri pada kemanusiaan dan sosial secara efektif. Adapun visi pendidikan di sini bukanlah visi yang baru, tetapi lebih merupakan visi pendidikan yang diperbarui (renewd).

Kurikulum sebetulnya juga tidak saja yang verbal, yang tertulis mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, tetapi lebih dari itu ada kurikulum non-verbal (hidden curriculum) yang berupa uswah dan qudwah para pendidik, guru (termasuk pemimpin bangsa). Maka hakikat guru, pendidik dan pemimpin itu seharusnya semua ucapan, perbuatan dan ketetapannya menjadi panutan orang lain (murid, siswa dan yang dipimpinnya).

Sudah saatnya umat beragama mengkaji ajaran agamanya secara benar dan kritis, tidak terjebak pada persoalan-persoalan yang formalistik dan bersifat simbol belaka, dan sudah saatnya melakukan reorientasi pada substansi ajarannya yang penuh perhatian terhadap persoalan kemanusiaan seperti keadilan, kejujuran dan kedermawanan. Dengan demikian, reorientasi pendidikan agama harus dimulai dari TK hingga sekolah dengan me-review kurikulum kita selama ini dan mengimplementasikan religious culture dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, rumah tangga dan masyarakat, karena pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama: pemerintah (sekolah), orang tua dan masyarakat, semoga.***

[1] UUD 1945 pasal 31 (1) berbunyi: bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan.

[2] UU Sisdiknas pada pasal 4 (1) dinyatakan bahwa: pendidikan di negeri ini diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Pasal 5 (2) menyatakan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Dalam penjelasan pasal 15 dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan khusus tersebut dilakukan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus. Pasal 11 menyatakan bahwa; pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

 

TAHLILAN DALAM PERSPEKTIF (Historis, Sosiologis, Psikologis, Antropologis)

Tahlilan, atau tahlil –sama saja artinya– karena ini dari kata Arab (hallala-yuhallilu-tahlilan) yang berarti membaca kalimat La ilaha illa Allah. Tahlilan kemudian menjadi tradisi yang mengakar di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya bagi masyarakat nahdhiyyin, NU. Tahlilan menjadi aktivitas rutin setiap malam Jum’at, dan pada momen-momen khusus, misalnya kirim doa untuk keluarga yang sudah wafat, dikemas secara berjama’ah dalam suatu majlis. Apa manfaat dan hikmah tahlilan bagi umat Islam? Diantara manfaat dan hikmah tahlilan itu adalah: 

            Pertama, melatih dan membiasakan kita untuk membaca kalimah ţayyibah, seperti: lailaha Illallah, Subhanallah, astaghfirullah dll. Bahkan jika sampai akhir hayat, (meninggal dunia)  kita bisa membaca kalimah tahlil, maka akan dijamin oleh Allah masuk surga. Sebagaimana sabda Nabi: Man qala lailaha illa Allah fi akhiri kalamihi dakhala al-jannah. Kita sangat khawatir, jika pada hari akhir hayat kita tidak mampu mengucapkan kalimah ţayyibah, baik dalam hati maupun lisan, maka celakalah kita.

Tidak mudah memang untuk dapat mengucapkan kalimah tayyibah menjelang kematian seseorang, karena pada saat itu godaan syetan luar biasa dengan menjelma menjadi sosok yang menjadi kesenangan kita saat kita masih hidup sehat (na’uzu billah min zalik). Maka talqin (menuntun atau membimbing bacaan kalimah tayyibah) ini amat penting bagi umat Islam. Siapa pun akan takut dengan kondisi sakarat al-maut ini. Dan inilah detik-detik yang paling menentukan, apakah kita husnul khatimah atau tidak. Jangan sampai kita menjelang wafat mengucapkan kalimah sayyi’ah. (Ya Rabbi amitni ala din al-Islam wa akhtim li bi husn al-khatimah…).

Kedua, memelihara dan menjalin hubungan silaturrahim, menyambung hubungan kekerabatan dan persaudaraan antarumat Islam (ukhuwwah Islamiyyah). Silatuirrahim ini perlu, sebab sebagaimana Nabi kita menegaskan: Barang siapa beriman kepada Allah, hendaknya orang itu menjalin hubungan silaturrahim. Bahkan dikatakan oleh Nabi: Barang siapa yang menjalin hubungan baik (silaturrahim), maka Allah akan memanjangkan umurnya, dan melapangkan rizkinya. (Man ahabba an yubsaţa lahu fi rizkihi wa an yunsaa lahu fi atharihi fa al-yaşil rahimahu). Satu contoh kecil, orang yang sakit berkepanjangan dan tidak sembuh-sembuh, kemudian berkat silaturrahim ia menemukan obatnya, melalui saran dan petunjuk dari saudara atau temannnya tadi. Dalam tradisi tahlil kita berjama’ah mengundang tetangga kerabat dan teman sejawat. Inilah berkat berjama’ah dan silaturrahim.

Ketiga, berbakti kepada orang tua, kerabat kita dan berbuat baik kepada sesama saudara. Karena dalam  tahlil kita mendoakan kepada orang tua kita, keluarga kita dan saudara-saudara kita, baik yang sudah meninggal maupun yang belum. Seperti doa-doa yang sering kita baca selama ini. Sebagai anak kita wajib berbakti kepada orang tua, dan berbakti itu tidak saja sewaktu masih hidup tetapi juga ketika sudah meninggal. Tahlil atau tahlilan (jangan salah paham, keduanya bahasa Arab berbentuk masdar) merupakan salah satu bukti bakti kita kepada orang tua sepanjang masa. Itulah maka, ditegaskan oleh Rasulullah Saw., bahwa semua manusia yang sudah mati akan terputus semua amalnya kecuali tiga hal: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya (doa anaknya). Bagaimana dengan doa saudara, handaitolan , kerabat, tetangga dan orang lain? Apakah doanya kesampaian? Memang di luar anak salih ini ada ikhtilaf. Tetapi lepas dari soal nyampai atau tidaknya doa itu, tahlil atau kirim doa ini besar manfaatnya. Jika toh tidak nyampai, maka akan kembali kepada diri orang itu sendiri (diterima doa itu tetapi tidak untuk si mayit, misalnya). Kemudian, tahlil ini juga bagian dari pembiasaan diri untuk mengucapkan kalimah tayyibah, doa, zikir, salawat dan qira’at al-Qur’an.

Keempat, bersedekah. Di samping bertahlil kita juga menjamu hidangan (sesuai kemampuan) kepada para jama’ah. Seperti kita tahu, bahwa sedekah (şadaqah) itu dapat menolak balak atau bencana dan dicintai orang lain. Dan harta yang kita sedekahkan kepada orang lain dan ke jalan Allah itu tidak akan habis, namun justru menjadi investasi di akhirat kelak.

            Kelima, beribadah  dan mencari ridha Allah SWT. Karena tahlil atau tahlilan ini niat kita untuk beribadah, mencari ilmu dan mencari rida Allah SWT. Bukan karena orang lain atau siapa-siapa, melainkan hanya semata karena Allah SWT.

Scientific Perspectives: (Historis, Sosiologis, Psikologis, Antropologis)

Jika dilihat dalam perspektif historis, sebetulnya tradisi tahlilan itu bernuansa “islamisasi” yang dilakukan oleh para ulama’ atau para kiai dulu. Pada awal-walnya, atau bagi masyarakat sinkretis, jika ada salah satu dari keluarganya yang meninggal, maka pada malam-malam tertentu 1-7 hari, 40, 100, 1000 hari, mereka kumpul-kumpul, dan malah ada yang main domino segala. Bahkan, konon, praktik munkarat seperti itu sampai sekarang masih ada pada sebagian masyarakat kita. Di sinilah kemudian, mereka diajak untuk berdoa dan membaca kalimah-kalimah tayyibah, meluruskan tradisi munkarat ke tradisi hasanat, dan begitulah seterusnya hingga kemudian ada gagasan para ulama’ untuk membuat panduan atau buku saku yang berisi bacaan yasin, tahlil, talqin, doa-doa dan al-aurad (wirid) yang banyak beredar di masyarakat sekarang ini. Nah, masalahnya memang, apakah kita harus terikat dengan hitungan hari-hari di atas, yang sinkretis itu? Jawabnya tegas, tidak! Kita tidak harus mengikuti ketentuan hari-hari itu, boleh 8, 9, 39, 41, dst., jika kita tidak ingin dianggap terpengaruh oleh hitungan mereka.

Jika ditinjau dari aspek sosiologis, tahlilan itu merupakan relasi kemanusiaan yang tidak pernah pudar, karena tahlilan itu bagian dari media sosial atau medan budaya yang mengikat hubungan antarmanusia. Pada konteks ini, manusia menjadikan forum ini sebagai media komunikasi dan sosialisasi.

Jika dilihat dalam perspektif psikologis, sebetulnya tradisi tahlilan pada hari-hari selama berkabung itu sangat membantu bagi şahib al-muşibah, sebab pada hari-hari itu, 1-7 hari, bahkan 40 dan 100 hari keluarga yang ditinggal mati itu biasanya masih dirundung duka. Pada saat seperti itulah jika selama 1-7 hari diadakan tahlilan, maka mereka akan terhibur atau merasa banyak saudara. Di sinilah makna ta’ziyah itu, yang berarti menghibur (keluarga yang ditinggal mati).

Jika ditinjau dari segi antropologis, sebetulnya manusia memiliki kecenderungan spiritual dan ritual, maka apa pun agama atau keprcayaan yang mereka anut, pasti memiliki keterikatan dengan sesuatu yang dianggap berkuasa di jagat raya ini, baca: Tuhan. August Comte dengan teori positivisme-nya mengatakan, bahwa manusia memiliki tahap berpikir, yaitu: teologis, mitis, dan positif. Pada tahap teologis, manusia mempercayai adanya Tuhan penguasa jagat raya ini, Dialah yang mendatangkan malapetaka dan rizki, Dia bisa marah dan menyayangi hamba-Nya, dst. Supaya Tuhan  tidak marah dan mendatangkan malapetaka, maka Tuhan perlu diberi sesaji. Dalam kepercayaan agama ardhi (non wahyu) biasanya mereka menyajikan kepala kerbau atau nasi kuning yang menurut mereka dapat menolak malapetaka. Sesuai dengan perkembangan berpikir manusia, maka orang  modern semakin realistik dan positivistik sehingga ritual, mitis dan teologis ini semakin ditinggalkan.

Dalam konteks ini, manusia beragama (apapun agamanya) kecenderungan spiritual dan ritualistik ini pasti ada, dan ini bagian dari doktrin ajarannya. Maka dalam konteks tahlil, sebetulnya juga merupakan bagian dari ritualistik yang mendatangkan pahala dan kasih-sayang Tuhan. Karena dalam tradisi tahlilan itu sendiri kalimat-kalimat yang dibaca adalah kalimah thayyibah.

Memang, masih ada sebagian besar masyarakat muslim yang terpengaruh dengan hitungan hari itu. Boleh saja mengikuti hitungan itu, tetapi ini sebagai tradisi saja, bukan ketetntuan syara’. Dan juga, ini harus jangan berlebihan sehingga membelenggu (sampai kemudian ada yang memaksakan diri hutang-hutang hanya untuk menjamu jamaa’h). Tetapi sebetulnya tanpa hutang pun kalau mau sederhana, bisa saja. Karena tradisi di masyarakat kita, siapa saja yang ditinggal mati salah satu keluarganya (sahib al-musibah) banyak tetangga dan handaitolan, sanak, kerabat, kollega yang bersedekah, membawa sembako (untuk persediaan tahlilan itu). Jadi sebenarnya tidak memaksa jika dilihat dari tradisi ini. Dan yang jauh lebih penting dari ini semua adalah, bahwa sebelum meninggal, keluarga kita memang harus diberi bekal untuk dididik agama dan taat beragama. Jangan setelah meninggal baru dikirim doa dan menganggap urusan akhirat selesai, sementara waktu masih hidup mengabaikan perintah agama (Allahumma sallimna wa ahlana fi al-dunya wa al-akhirah, amin…..) ***

 

PEREMPUAN DALAM HEGEMONI IDEOLOGI

 

Dari dulu hingga sekarang perempuan selalu memiliki nasib yang serupa, dipasung dan terperdaya. Sampai-sampai sudah menjadi Tuhan pun (Dewi, dalam mitologi Yunani) perempuan masih menjadi pesuruh Tuhan laki-laki (Dewa). Dalam kepercayaan bangsa Yunani kuno, Dewi adalah pesuruh Dewa.

Sekarang, kalaupun ada pembelaan terhadap nasib perempuan, sejauh ini masih sebatas pada tingkat wacana, atau kalau menurut Ita F Nadia (Komisi Nasional Antikekerasan Perempuan) masih bersifat parsial. Gerakan feminisme, pusat-pusat studi wanita atau gender masih pada tingkat mencari rumus dan konsep tentang “posisi perempuan”, baik dalam kajian normatif maupun sosial-budaya, sementara pada saat yang sama kekerasan dan segala bentuk eksploitasi lainnya terhadap kaum perempuan ini terus berlangsung, baik di tingkat komunitas modern-kota maupun tradisional-pedesaan. Eksploitasi kaum perempuan ini lebih terlihat pada para pekerja buruh di perusahaan-perusahaan. Ironisnya, persoalan yang sangat krusial ini masih belum dilihat sebagai persoalan mendasar yang seharusnya menjadi batu pijak bagi perjuangan perempuan saat ini.

Lantas, apa penyebab kekerasan terhadap perempuan itu? Bagaimana negara menyikapi persoalan kekerasan di masyarakat, khususnya kekerasan terhadap perempuan? Bagaimana peran agama?

Peran Negara dan Agama

Sejalan dengan pemikir feminis, Silvia Federici dan Joke Schrijvers, Ita F. Nadia menengarai, bahwa seluruh tindak kekerasan dalam masyarakat khususnya perempuan tak lepas dari berbagai kebijakan negara-negara yang secara simbolis (melalui utang dan ketergantungan bentuan dari lembaga multilateral) telah menggadaikan kedaulatannya (Kompas, 26/11/2001).

Di sinilah justru negara memiliki peran eksploitatif dan hegemonik terhadap posisi perempuan yang tidak menguntungkan itu. Tapi pada saat yang sama sebenarnya negara juga memiliki peran melakukan transformasi sosial perempuan dengan mengubah sikap dan pandangan ideologisnya, sehingga perempuan menjadi bagian dari komunitas sosial yang penting di tengah-tengah percaturan global-dunia. Pemimpin negara tidak hanya sekadar mampu melakukan transformasi sosial-perempuan, melainkan wajib melakukan itu sebagai bentuk komitmennya terhadap warga-bangsa dan penegakan nilai-nilai keadilan serta demokratisasi.

Problem perempuan dan tercampaknya posisi mereka kedalam jurang ketidakadilan adalah dipertajam dengan kemajuan iptek dan derasnya arus modernisasi, sehingga peran-peran mereka dalam sektor publik semakin terjauhkan dan marjinal. Dalam konteks inilah Ita F Nadia melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan Indonesia semakin tertindas: pertama, dimulai dari Revolusi Hijau. Dengan alat-alat mekanis pertanian, pupuk kimia dan bibit padi baru yang harus dibeli, disamping telah menghilangkan tradisi bawon dan maro masyarakat desa, juga telah melemparkan perempuan dari sektor pertanian; kedua, proses industrialisasi di Asia telah melahirkan negara-negara industri baru (NICs), seperti: Korea, Taiwan dan Singapura yang sangat ekspansif dan pragmatis; ketiga, ideologi negara melalui Panca Dharma Wanita yang mendefinisikan perempuan hanya sebagai istri dan ibu rumah tangga dan sebagai fungsi kompelementer laki-laki dalam bekerja (sekadar menambah penghasilan suami), telah merasuk dalam masyarakat; keempat, pengaruh ideologi global.

Dalam hal ini mazhab PBB tentang peran perempuan dalam sektor publik dalam Women in Development (WID) yang hanya memberikan privilise kepada sekelompok kecil orang membuat kesenjangan antara si kaya dan si miskin, termasuk kesenjangan bagi laki-laki-perempuan; kelima, sistem kawasan berikat (Export Procesing Zone, EPZ), membuat pelanggaran HAM buruh semakin merajalela, terutama eksploitasi besar-besaran di pihak perempuan. Hal ini telah terjadi pada perempuan-perempuan buruh Filipina yang ditawari hadiah oleh perusahaan internasional jika bersedia disterilisasi demi mengejar target ekspor.

Masih ada lagi faktor lain yang menyebabkan ketidaberdayaan perempuan selama ini, yaitu dalam konteks ideologi agama. Perempuan seringkali ragu untuk melawan ketidakadilan, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun suaminya sendiri karena doktrin dan pemikiran agama yang dianggap sakral dan tidak boleh dilawan. Keraguan itu muncul akibat banyaknya doktrin yang sebenarnya bersifat spikulatif, namun cukup banyak membuat perempuan tunduk dan pasrah.

Dalam seminar internasional tentang Islam, Feminism and Women’s Right di Leiden awal Nopember 2001, Lies Marcoes-Natsir melaporkan, bahwa di beberapa belahan dunia, perempuan muslimah juga mengalami perlakuan yang sama (tertindas) yang disebabkan oleh cara pandang agama yang bias gender (Kompas, 26/11/2001).

Di Indonesia misalnya, tak sedikit kitab klasik/kuning yang berisi ajaran serupa ini. Salah satunya yang terkenal adalah kitab Uqud al-Lujain yang ditulis oleh Imam Nawawi, seorang ulama’ Banten pada abd 19. Kitab ini sampai sekarang masih menjadi kitab utama sejumlah pesantren, bahkan sangat disakralkan. Padahal kitab tersebut banyak memuat hadis-hadis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya (dhaif).

Persoalan lain yang lebih mendasar terletak pada pemilahan secara dikotomis antara peran laki-laki dan perempuan yang secara kokoh dikontraskan pada peran publik dan privat. Baik dalam al-Qur’an maupun dalam hadis dan ajaran para ulama’ pemilahan peran dan lokus secara dikotomis ini berlaku sangat ketat. Perubahan peran perempuan masuk ke sektor publik seperti menjadi pemimpin negara atau pencari nafkah seringkali dianggap sebagai “penyimpangan” atau masuk dalam kategori “darurat”.

Jalan Keluar

Paling tidak ada dua masalah dasar yang perlu segera kita benahi dalam rangka menekan bentuk eksploitasi perempuan ini. Pertama adalah menyangkut ideologi negara, yaitu bagaimana negara yang memiliki peran melindungi warganya mampu dan mau melakukan kepemihakannya; kedua; rekonstruksi pemahaman agama secara tepat dan berkeadilan, melalui interpretasi teks sejalan dengan kemaslahatan umat (baca: kontekstualisasi ajaran).

Bagaimana negara memposisikan perempuan dan memberikan peluang yang sama (tidak dibedakan dengan kaum laki-laki), misalnya dalam ruang publik/politik. Sampai saat ini masih ada image dari sebagian besar komunitas laki-laki kita, bahwa perempuan masih berperan di balik laki-laki (subordinate). Kita juga mafhum, bahwa terangkatnya Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI sekarang ini lebih sarat dengan pertimbangan politisnya, ketimbang capabilitas-nya. Ini memang tantangan bagi perempuan, artinya, perempuan memang perlu membuktikan kemampuannya jika diberi peluang untuk itu.

Dalam konteks Indonesia sekarang, Megawati sebagai representasi perempuan Indonesia tidak hanya dituntut untuk memberikan kesempatan dan membuka ruang gerak mereka agar mampu berperan dalam publik, tetapi dalam setiap kebijakannya (termasuk kebijakan ekonomi luar negerinya) harus memperhatikan aspek keadilan perempuan secara khusus. Ini penting, karena selama ini aspek keadilan perempuan menjadi masalah, termasuk kebijakan tenaga kerja wanita (TKW) yang berdampak pada perlakuan yang tidak manusiawi terhadap perempuan, baik dari pihak kita sendiri maupun pihak luar. Selain itu, dominasi kultur patriarkhi yang juga menghambat kiprah perempuan secara lebih luas, juga perlu segera ditinggalkan melalui pendidikan dan berbagai penyuluhan pada tingkat SD sampai pada perguruan tinggi. Karena melalui pendidikan, seseorang akan mudah dan cepat memperoleh mobilitas sosialnya. Negara memang memiliki peran besar sekaligus tanggung jawab dalam melakukan “pemberdayaan” perempuan, bukan sebaliknya “pemperdayaan” (baca: eksploitasi). Karena terhadap masalah ini negara memiliki peran ganda: memperdaya atau memberdaya. Di sini maka perlu ada good will dan sekaligus political will negara dalam rekayasa sosialnya.

Dalam konteks ideologi agama, perlu ada gerakan pemaknaan ulang (redevine) terhadap teks. Pemaknaan ulang ini penting, sebab persoalan aktualisasi perempuan yang mengganggu selama ini adalah persoalan doktrin pemikiran agama (yurisprudensi Islam, fiqh) dan tafsir al-Qur’an yang dianggap baku. Padahal segala jenis pemikiran agama yang diformulasikan oleh para ulama’ terdahulu tak imun kritik (konstruktif) dan perubahan. Di sinilah maka meminjam istilah Arkoun, perlu ada desakralisasi pemikiran agama (al-lataqdis al-fikr al-diny). Anggapan yang berkembang dalam masyarakat kita adalah, “bahwa perempuan itu makhluk yang sempit nalar, mudah emosi, gampang menangis dan mudah tergoda, sehingga tempat layaknya hanya di rumah, merawat anak-anak dan melayani suami”. Karena itu perempuan tak sah menjadi saksi untuk kasus-kasus pidana, dan menjadi pemimpin.

Begitulah kondisi pemahaman masyarakat kita selama ini yang juga berangkat dari dan atas nama “agama”. Tapi setidaknya kita masih bisa “melunakkan” keyakinan itu yang juga berangkat atas nama “agama”, yaitu pemahaman teks dari perspktif setting sosial-budaya dan asbab nuzul-nya. Setidaknya persoalan yurisprudensi Islam yang mereka anut selama ini tidak dianggap memiliki kebenaran mutlak, yang tidak selamanya benar, dan pada saat yang sama mereka mau menerima pemikiran hukum Islam yang mempertimbangkan aspek-aspek lain, yaitu kemaslahan umat. Wallahu a’lam bis-shawab.

 

ISLAM AGAMA DAMAI

Hidup ini mesti mengikuti ritme sunnatullah (natural law), jika kita ingin selamat dunia dan akhirat. Karena semua yang terjadi di alam ini mengikuti hukum sebab-akibat yang sudah dititahkan oleh Sang Pencipta ( Allah, Huwa al-Haq). Hukum alam Tuhan ini berbunyi: “Kematian itu pasti terjadi, setiap yang bernyawa pasti akan mati, setiap makhluk ini pasti mengalami fana’ dan akan berakhir pada saat tertentu”. Semua ini ada sebab dan akibatnya.

Kematian terjadi karena habis masa kehidupan. Tetapi ada kematian yang lebih cepat karena tidak ada upaya pemeliharaan dan perawatan dari manusia, misalnya kematian pada manusia dan kematian pada binatang dan tanaman (ini yang disebut dengan takdir mu’allaq). Artinya, umur panjang itu bisa diminta dan diupayakan sebagaimana doa yang sering kita panjatkan, Allahumma thawwil a‘marana wa hassin a’malana.

Sebab kematian manusia adalah sakit, sebab sakit karena ada sesuatu yang mengganggu organ tubuh manusia, baik yang bersifat organik maupun unorganik. Satiap penyakit pasti ada obatnya. Jika penyakit tersebut diobati maka akan sembuh, dengan demikian, maka manusia mesti mencari obat tersebut. Untuk menjauhkan dari penyakit dan marabahaya, maka manusia mesti melakukan ikhtiar untuk menjaga dan memelihara badan dan jiwanya sebaik mungkin. Usaha preventif mesti dilakukan, ini jauh lebih baik dari pada mencari dan mengobati setelah sakit, sebab kadangkala manusia belum tahu (karena keterbatasan pengetahuannya) obat dari penyakit yang dideritanya itu. Maka jika penyakit terus diderita sementara obat tidak atau belum diketemukan, maka ini yang akan mengakibatkan kematian, karena penyakit terus menggerogoti organ tubuh dan pada saatnya tidak berjalan fungsi organ tubuh tersebut sebagaimana mestinya. Inilah akhir dari sebuah kehidupan, yaitu, jika fungsi organ tubuh manusia (makhluk hidup) sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan demikian, kita mesti melakukan usaha-usaha perawatan dan pemeliharaan badan dan jiwa kita supaya kita tetap sehat baik secara fisik maupun psikis, supaya kita tetap panjang umur dan terpuji semua perbuatan kita, baik di sisi Allah Sang Pencipta jagat raya ini maupun di sisi manusia dan makhluk semsesta (hablun min Allah wa hablun min al-nas wa hablun min al-‘alam). Jadi manusia hidup ini harus mengikuti ritme sunnatullah, jika kita hidup mengikuti ritme sunnatullah berarti kita selamat (dunia maupun akhirat), begitu sebaliknya, siapa saja yang menentang sunnatullah pasti akan binasa, dan tidak ada seorang pun yang mampu merubah sunnatullah kecuali Allah itu sendiri, Wa lan tajida li sunnatillahi tahwila, tabdila

Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah dan sunnatullah. Disebut Islam, karena agama ini mengajarkan tata cara hidup yang sesuai dengan fitrah dan ritme sunnatullah, untuk memperoleh kehidupan yang damai dunia maupun akhirat. Ber-islam artinya menjadi orang yang selalu mencintai kestenteraman dan kedamaian, hidupnya selalu dipenuhi ketenteraman, aman dan damai. Masyarakat islami dengan demikian adalah, masyarakat yang mencintai kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan baik secara individu maupun kolektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebalikan orang Islam adalah orang kafir. Orang kafir adalah orang yang melawan sunnatullah dan fitrah kemanusiaan, tidak mencintai kedamaian dan ketenteraman, melawan kebenaran dan melawan para utusan Allah. Dan orang yang melwan sunnatullah pasti binasa. Ini terbukti secara empirik dalam sejarah kemanusiaan, misalnya yang dialami oleh kaum Nabi Nuh as. Pada masa itu seluruh penduduk bumi ditenggelamkan oleh banjir sampai ketinggian airnya mencapai puncak gunung. Pada waktu itu tidak ada yang selamat kecuali para pengikut Nabi Nuh yang turut menumpang kapal. Kisah ini direkam dalam Al-Qur’an surat Al-Firqan: 37. Dalam kisah kaum Nabi Hud, yaitu kaum ‘Ad, mereka diterpa oleh badai yang amat  dahsyat selama tujuh hari, mereka bergelimpangan bak pohon kurma yang lapuk bertumbangan. Ternak, sawah-ladang dan seluruh pemukiman hancur lantak dibinasakan oleh badai tersebut. Sebagaimana yang direkam dalam al-Qur’an surat Hud: 59. Demikian juga pada kisah kaum Tsamud, pada zaman Nabi Shalih as. Mereka disambar petir dan guntur hingga menyebabkan mereka mati di tempat pemukiman mereka. Diceritakan dalam Al-Qur’an surat As-Syams: 11. Demikian juga kaum Nabi Luth dihujani batu, dengan sebab yang sama yaitu, mereka mendustakan para Rasul Allah, disebutkan dalam surat As-Syuara’:160-161. Dan masih banyak lagi kisah kehancuran yang dialami oleh kaum-kaum zaman dulu yang memusuhi utusan-utusan Allah, yang melawan kebenaran yang datang dari Allah SWT. seperti kaumnya Nabi  Syu’eb dan Nabi Musa. Mereka diazab oleh Allah karena mereka berbuat zalim, mengingkari dan melawan kebenaran, melawan ajaran Islam. Allahumma anta al-salam wa minka al-salam wa ilaika ya’ud al-salam fa hayyina Rabbana bi al-salam wa adkhilna al-jannata dar al-salam…***


 

PELAJARAN BER-QURBAN BAGI PEMIMPIN BANGSA

 

Pada hari raya kurban (‘Id al-Adha) umat Islam disunnahkan untuk mengumandangkan takbir dan tahmid termasuk membaca talbiyah bagi jamaah haji di Makkah. Takbir dan tahmid artinya mengakui dan menegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah Yang yang patut dipuji dan disanjung. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Tiada Tuhan yang wajib dan berhak disembah dan diagung-agungkan selain Allah SWT itu jua. Inilah tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan para Nabi dan Rasul Allah Saw. Tauhid adalah penegasian terhadap seluruh tuhan-tuhan yang ada di dunia ini, baik itu tuhan materi, tuhan kekuasaan, tuhan pangkat dan kedudukan maupun tuhan-tuhan yang lain. Semua tuhan-tuhan itu harus kita singkirkan dari benak pikiran kita.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, boleh saja seseorang kehilangan pangkat dan kedudukan, jabatan dan kekuasaan, tetapi yang tidak boleh hilang adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT. Jangan sampai karena jabatan dan kedudukan tadi kemudian umat Islam menyembah, memuji dan mengagungkan kekuasaan dan penguasa, mengorbankan orang lain dan keimanannya. Bisa saja dalam hidup ini seseorang kehilangan kekayaan, merugi dalam berdagang, tetapi tidak boleh merugi di hadapan Allah SWT.
Nabi Ibrahim As. adalah figur manusia yang berjiwa tauhid, yang bersedia berkorban untuk mencapai derajat takwa. Ibadah korban merupakan manifestasi ajaran tauhid yang tidak terlepas dari semangat pemupukan jiwa solidaritas sosial di sekitar kita. Dalam surat al-Hajj ayat 27-28, Allah berfirman:
Dan berserulah kepada manusia untuk melaksanakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta (yang lurus) yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut asma Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah berikan kepada mereka, berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
Kepedulian sosial (Ith’am al bais al-faqir) adalah merupakan satu kesatuan ayat yang tidak bisa dipisahkan dari inti ajaran tauhid dan iman. Di samping itu semua tugas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi setiap muslim merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan, baik secara individual maupun secara kolektif.
Jika kita gali lebih dalam, sesungguhnya ibadah korban itu lebih dari sekadar ibadah simbolik dengan menyembelih binatang ternak, tetapi ia sarat dengan nilai-nilai substansial dan fundamental. Umat Islam diperintahkan untuk memiliki kekokohan iman dan mentaati semua perintah Tuhan, meski tampak berat sekalipun. Perintah menyembelih anak dalam kasus Ibrahim merupakan ujian yang sangat luar biasa bagi seorang Bapak. Umat Islam diperintahkan untuk meyakini sepenuhnya, bahwa apa yang datang dari Allah SWT adalah benar, tidak boleh diragukan. Maka makna perintah berkorban dalam konteks ini bukan sekadar menyembelih ternak dan kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir-miskin, begitu setiap tahun dilakukan ramai-ramai, dan pada saat yang sama mereka juga mengorbankan fakir-miskin tersebut untuk kepentingan pribadinya, ambisi politiknya dan segala macam bentuk mengorbankan orang lainnya. Yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah berkorban untuk melahirkan nilai-nilai takwa, bukan membuat orang lain jadi korban, atau terkorbankan, seperti yang terjadi selama ini dan beberapa praktik pembangunan yang dilakukan oleh sejumlah elit pemilik modal di negara-negara sekuler, seperti yang dilukiskan oleh Peter L. Berger dalam Piramida Korban Manusia-nya. Demikian juga yang dilakukan oleh beberapa elit penguasa dan pengusaha kita di negeri ini. Itulah maka Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, melainkan takwamu”. (QS. Al-Hajj:37).
Jika kita perhatiakn secara cermat, bahwa semua amal ibadah dalam ajaran Islam hakikatnya merupakan penjabaran dari pelaksanaan tanggung jawab sosial, yang erat kaitannya dengan masalah kepedulian sosial, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji dan syariat korban. Misalnya ibadah puasa mengandung hikmah menumbuhkan rasa kasih sayang kepada kaum dhuafa’. Zakat, infaq dan shadaqah memiliki hikmah memberantas sifat kikir dan membantu kaum mustadh’afin dan mengentas kemiskinan. Demikian juga ibadah haji memupuk jiwa ketundukan kepada Tuhan dan memahami makna egalitarianisme dalam masyarakat. Dengan demikian semua ajaran dan ibadah dalam Islam selalu terkait dengan relasi vertikal dan horizontal, hablun minallah wa hablun minannas.
Orang Islam tidak dibenarkan hidup egois dan melepaskan diri dari tanggung jawab sosialnya. Masing-masing pribadi muslim diperintahkan untuk peka dan ikut bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam hal ini Rasulullah saw. sangat benci terhadap orang Islam yang bersikap acuh terhadap kepentingan masyarakat dan mengabaikan perjuangan agamanya, sebagaimana sabda beliau: “Barang siapa yang tidak mau mementingkan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka”.
Kesediaan orang mukmin meyembelih ternak korban, sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim as. merupakan wujud pengamalan iman untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. dengan rasa taat dan ikhlas karena Allah semata. Kemudian, daging korban yang dibagi-bagikan kepada fakir-miskin itu secara kongkret telah menunjukkan kepedulian orang-orang beriman untuk turut melaksanakan ajaran keadilan sosial dan rasa kesetiakawanan yang diajarakan oleh Islam. Sebab, ibadah korban jelas merupakan pengamalan ajaran Islam yang melambangkan rasa solidaritas dan kasih sayang antarsesama manusia. Perintah korban juga merupakan manifestasi kongkret seberapa jauh Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa memiliki perhatian sosial di sekelilingnya. Di samping itu semua tugas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi setiap muslim merupakan tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan, baik secara individual maupun secara kolektif, terutama bagi para pemimpinnya.
Dalam perspektif Islam, seorang pemimpin tidak dibenarkan hidup egois dan melepaskan diri dari tanggung jawab sosialnya. Masing-masing pribadi muslim diperintahkan untuk peka dan ikut bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Mereka dituntut untuk berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan lahir dan batin, pembangunan manusia seutuhnya, bukan dalam slogan-slogan, tetapi diwujudkan secara kongkret dalam masyarakat.
Ibadah korban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim juga sejatinya lebih dari sekadar menyembelih ternak korban untuk dibagi-bagikan kepada fakir dan msikin, tetapi secara substansial ia merupakan ibadah memerangi egoisme dan menyerahkan jalan hidup ini hanya kepada Tuhan semata. Tidak akan pernah terjadi seorang ayah yang karena perintah Allah SWT. bersedia menyembelih anak kesayangannya untuk dijadikan korban sebagaimana Nabi Ibrahim. Demikian pula Ismail, yang dengan ikhlas dan lapang dada menerima perintah tersebut untuk dikorbankan. Ini adalah peristiwa yang amat berat dan luar biasa yang harus ditanggung oleh keluarga. Itulah profil pemimpin yang mampu memerangi sikap egoisme. Dari deegoisme inilah kemudian melahirkan sikap toleran dan peduli sosial dari figur seorang pemimpin.
Seharusnya kita belajar dari peristiwa korban seperti yang dialami oleh Nabi kita Ibrahim As. seorang figur pemimpin yang jauh dari sikap egois, dan bebas dari godaan dan rayuan materi. Nabi Ibrahim saat itu sempat tergoda oleh rayuan dan bujukan syetan, supaya membatalkan niat berkorban. Tetapi karena kekokohan iman itulah beliau mampu mengatasi segala macam godaan dan cobaan tersebut dan berhasil melepaskan kepentingan pribadinya untuk tujuan yang lebih mulia, nilai-nilai kemanusiaan. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

BERPIKIR DEDUKTIF-INDUKTIF DALAM FILSAFAT

 

            Filsafat sebagai pengetahuan tertua, bahkan disebut sebagai induk segala ilmu (mother of sciences) terus bergerak maju untuk menyelediki hakikat yang ada (Being). Sebagai pengetahuan, filsafat berupaya memperoleh hakikat kebenaran melalui pemikiran rasional, mendalam sampai ke akar-akarnya (baca: radikal).

            Berbeda dengan ilmu (science), yang terbatas wilayah kajiannya pada aspek manusia dan alam, maka filsafat meyelidiki ruang jelajah yang lebih luas, mencakup: Tuhan, alam dan manusia. Jika ilmu hanya menyelidiki hal-hal yang bersifat fisik-empirik, maka filsafat menyelidiki hal-hal yang bersifat metafisik-transenden.

            Sebagai makhluk yang dianugerahi potensi akal oleh Tuhan, manusia tidak pernah berhenti untuk berpikir, dan akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh sebab itu hakikat keberadaan (wujud) manusia adalah karena pemanfaatan akal tersebut. Itulah maka Descartes menegaskan, bahwa “aku ada karena aku berpikir” (cogito argo sum), atau dengan ungkapan lain you are what you think.

            Dalam pandangan Islam, perintah untuk mendayagunakan potensi akal banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Al-Qardhawi (1989:1-2) menyebutkan, bahwa kata ‘aql dan yang berkaitan dengannya disebtutkan  dalam al-Qur’an mencapai 800 kali (Bandingkan denagn Fuad Abdul Baqi, tt:469-481).

            Manusia sebagai makhluk yang berakal tidak selalu  puas dengan persoalan-persoalan yang berada di sekelilingnya, bahkan apa yang ada di balik yang nampak pun selalu ingin diketahui dan dipertanyakannya (curriosity).  Sikap selalu ingin tahu dan keinginan tahu inilah yang kemudian melahirkan pemikiran dan rumusan-rumusan teori pengetahuan. Manusia tidak hanya sekadar ingin tahu persoalan alam sekelilingnya dan hakikat manusia itu sendiri, tetapi lebih dari itu ia ingin tahu siapakah Tuhan pencipta alam  dan manusia itu.

            Sejak berabad-abad yang lalu manusia sudah mempertanyakan hakikat yang ada (bieng=wujud): Apakah hakikat yang ada itu? Thales misalnya, seorang filosuf Yunani yang pertama kali mempertanyakan dasar dari alam dan segala isinya. Dia mengatakan, bahwa asal segala sesuatu adalah air. Sementara menurut Anaximandros, bahwa asal segala sesuatu adalah apeiron (yang tak terbatas) yang disebabkan oleh penceraiana (ekrisis).

            Teks-teks keagamaan yang berfungsi sebagai dasar kepercayaan jarang sekali menguraikan masalah ketuhanan, baik secara filosufis, apalagi ilmiah, tak terkecuali Islam. Secara tegas al-Qur’an memang menjelaskan sifat-sifat Tuhan, namun keterangan tentang Tuhan tersebut sering menimbulkan berbagai penafisran yang berbeda-beda.

            Meski al-Qur’an tidak memberikan banyak penjelasan tentang Tuhan, akan tetapi masalah ketuhanan dalam hubungannya dengan zat dan sifat-Nya telah menjadi pokok pembahasan yang ekstensif di kalangan para filosuf dan para ahli kalam (mutakallimin). Bahkan, persoalan-persoalan yang susah dipikirkan oleh manusia, seperti persoalan zat Tuhan, ruh dan soal metafisik lainnya justru menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan.

            Penjelasan nabi yang berbunyi: تفكروا فى خلق الله ولاتفكروا فى ذات الله (Berpkirlah tentang penciptaan  Allah dan jangan berpikir tentang zat-Nya),  dan firman Tuhan: يسىلوونك عن الروح قل الروح من امر ربي (Mereka bertanya tentang ruh, katakan (wahai Muhammad): Ruh adalah urusan Tuhanku), tak menjadi penghalang bagi para filosuf  maupun para mutakallimin untuk membicarakannya. Karena memang, perintah hadis ini bersifat tidak mengikat, artinya menyangkut soal metode, yaitu supaya manusia dalam mengenal Tuhan melalui fenomena alam dan ciptaan-Nya (induktif, fenomenologis), tidak langsung melalui zat-Nya, tetapi juga tidak menjadi soal, jika manusia sudah mampu memikirkan zat Tuhannya untuk mengagungkan Tuhan itu sendiri (deduktif), seperti para filosuf atau mereka yang terpelajar. Hal ini juga seperti firman Tuhan:

 واذا سالك عبادي عني فاني قريب Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka aku dekat…”

            Jika manusia telah sanggup membicarakan tentang Tuhan sebagai Sang Pencipta, maka tentu manusia lebih sanggup lagi untuk  membicarakan ciptaan-Nya, yaitu manusia dan alam. Kenapa Tuhan menciptakan alam? Persoalan Tuhan, manusia dan alam adalah menjadi bahan kajian filsafat.

            Menurut Mukti Ali (dalam Taufik Abdullah dan Rusli Karim, 1989:42), Tuhan (teologi), alam (kosmologi) dan manusia (antropologi), merupakan elemen pokok yang harus diketahui dalam Islam dan juga agama-agama lain. Tiga persoalan tersebut merupakan spikulasi metafisik. Relasi antara Tuhan dan manusia adalah sangat penting bagi hidup dan kehidupan (lihat juga Musa Asy’arie dalam Irma Fatimah, ed., 1992:16).

            Demikian juga relasi antara Tuhan dan alam  sangat penting  untuk dipahami karena salah satu sifat Tuhan adalah rab al-’alamin. Alam diciptakan Tuhan secara teleologis dirancang untuk tumbuh dan berkembang ke arah kesempurnaan, sebagaimana firman-Nya: “Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya untuk bermain-main. Kami ciptakan keduanya untuk tujuan tertentu, tetapi (sayang) sebagian besar mereka tidak memahaminya”. Maksud “tertentu” dalam ayat ini adalah tumbuh menuju kondisi yang lebih baik dan menunju kesempurnaan (lihat Ashgar Ali, 1993:36).

            Sebagaimana keterangan Al-Kindi, ketika para filosuf membahas tentang Tuhan, sebetulnya mereka ingin menjelaskan tentang keesaan mutlak-Nya . Tuhan adalah unik, tidak mengandung makna juz’i (particular) dan tidak pula mengandung makna kulli (universal). Tuhan semata-mata satu dan selain-Nya mengandung makna banyak (Harun Nasution, 1979:21).

            Bagi para filosuf Muslim, Tuhan adalah Wujud Murni, sedangkan transendensi rantai wujud dan tatanan eksistensi kosmik dan dunia adalah tergantung (kontingen) (Hoessein Nasr, 1996:40). Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Bekker (1984), bahwa terdapat perbedaan persepsi antara para filosuf muslim (dalam hal ini Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd) mengenai konsep Tuhan alam dan manusia.

            Demikianlah, bahwa soal memikirkan Zat Allah dan Khalq Allah itu persoalan paradigma, antara deduktif dan induktif. Seperti halnya kita membaca ayat Allah, mau berangkat dari al-Qur’an atau dari fenomena alam sah-sah saja, asal ujungnya pensucian asma-Nya (tanzih). Inilah yang disebut dengan berpikir deduktif-induktif. Hanya bagi orang awam memang belum waktunya untuk berpikir tentang Zat Allah. Sementara itu para filosuf banyak berbincang dan menulis secara ekstensif tentang Zat Allah, karena mereka pasca memikirkan khalq Allah itu sendiri.***

Skip to toolbar