Category Archives: Fil-Ilmu

Filsafat Ilmu

I. Deskripsi :

Filsafat Ilmu (Perspektif Pemikiran Islam) ini merupakan mata kuliah yang memberikan pengembangan wawasan berpikir logis sistematis dan metodologis. Dalam perspektif keilmuan, posisi filsafat adalah sebagai landasan adanya integrasi berbagai disiplin dan pendekatan yang makin beragam, karena dalam konstruks epistemologi, filsafat dengan metodenya dapat menjadi dasarnya. Sebagai contoh, fiqh pada hakikatnya adalah pemahaman yang dasarnya adalah filsafat (Islam), yang kemudian juga dikembangkan dalam ushul fiqh. Tanpa filsafat, fiqh akan kehilangan semangat inovasi, dinamisasi bahkan perubahan. Oleh karena itu jika terjadi pertentangan antara fiqh dan filsafat seperti yang pernah terjadi dalam sejarah pemikiran Islam, hal ini lebih disebabkan karena terjadinya kesalahpahaman dalam memahami risalah kenabian. Filsafat bukan anak haram Islam, melainkan anak kandung yang sah dari risalah kenabian tersebut.

SEKILAS TENTANG FILSAFAT ILMU

 

I.       Tradisi Keilmuan di Barat

Zaman Yunani kuno berlangsung kira-kira dari abad ke 6 S.M. hingga awal abad pertengahan, atau antara + 600 tahun S.M. hingga tahun 200 SM. Zaman ini dianggap sebagai cikal bakal filsafat yang ada sekarang. Pada zaman ini mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat digantikan dengan logos (baca: rasio) setelah mitos-mitos tersebut tidak dapat lagi menjawab dan memecahkan problema-problema kosmologis.

Pada tahap ini bangsa Yunani mulai berpikir sedalam-dalamnya tentang berbagai fenomena alam yang begitu beragam, meninggalkan mitos-mitos untuk kemudian terus meneliti berdasarkan reasoning power.

RELASI ANTARA FILSAFAT, ILMU DAN AGAMA

NO           ASPEK          FILSAFAT         ILMU     AGAMA KETERANGAN 
01 Tujuan Mencari  kebenaran Mencari  kebenaran Menacri kebahagiaan hidup (dunia-akhirat). Agama adalah kebenaran

PARADIGMA KEILMUAN ISLAM

Wahyu (al-Qur’an dan al-sunnah al-mutawatirah) merupakan kebenaran mutlak, absolut dan tak terbantahkan. Ini harus diyakini oleh setiap muslim. Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah-tadwiniyyah yang bersifat deduktif memberikan informasi ilahiyah kepada manusia tentang fenomena alam semesta yang bersifat induktif (ayat-ayat kauniyah). Sementara itu, filsafat dan ilmu sebagai produk akal manusia harus mengungkap kebenaran wahyu tersebut secara terus menerus, sehingga kebenarannya terus terkuak dan disebarluaskan ke masyarakat.

ONTOLOGI

1.   Ontologi           Tiap-tiap pengetahuan memiliki tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen tersebut adalah: ontologi, epistemologi dan aksiologi (Jujun, 1986 : 2).           Ontologi menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk apa. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Sejak dini dalam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan ontologis, sebagaimana Thales ketika ia merenungkan dan mencari apa sesungguhnya hakikat ”yang ada” (being) itu, yang pada akhirnya ia berkesimpulan, bahwa asal usul dari segala sesuatu (yang ada) itu adalah air.

KRITIK TERHADAP ILMU PENGETAHUAN

Di antara persoalan manusia yang paling tua adalah persoalan pencarian kebenara. Persoalan kebenaran tersebut berkembang semakin komplek sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, lebih-lebih ketika pemikiran itu terkait dengan  keragaman dan kesatuan serta klaim manusia atas suatu kebenaran (truth claim).

Usaha manusia untuk menyusun kategori dan batasan mengenai kebenaran melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan berbagai konsep pendidikan. Setelah usaha demikian berlangsung dalam puluhan abad ternyata manusia tidak juga menemukan rumusan mengenai kebenaran secara benar, tuntas dan representatif. Daya dorong dari rumusan kebenaran tersebut menjadikan sebagian manusia bersikap bijak, sementara sebagian lain bersikap putus asa dan selebihnya bersikap masa bodoh dengan hanya memusatkan perhatian kepada segi praktis dan kemanfaatannya semata-mata (Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, 178).

Perkembangan pemikiran manusia yang cenderung bersifat ilmiah teknologis dan fungsional menempatkan kebenaran rasional sebagai pedoman dalam kehidupan. Sementara di luar kebenaran tersebut  dipandang  tidak berarti dan kurang bermakna. Dalam kondisi seperti ini hidup manusia menjadi tidak utuh akibat bias manusia terhadap apa yang disebut ilmiah, di luar itu  diabaikan sementara dalam praktiknya manusia tidak mungkin mengabaikan atau bahkan meninggalkan yang non ilmiah.

Wekskopf, seorang ahli nuklir memperingatkan, bahwa sains telah berhasil mempertajam pengetahuan kita mengenai peristiwa-peristiwa tertentu. Tetapi justru sains cenderung membuat pengetahuan kita mengenai yang lain semakin gelap. Sehingga kita harus bergerak meraba-raba dalam kegelapan sains. Sains sama sekali tidak memperjelas makna pengalaman-pengalaman manusiawi yang justru merupakan dasar dari eksistensi kita di alam ini  (Nataatmadja , Krisis Global Ilmu Pengetahuan.  hal.3).

Suatu pengetahuan dikatakan ilmiah ditentukan oleh prasyarat akademis, yaitu cara memperoleh pengetahuan dan isi dari pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang telah dikatakana oleh Prof.Dr. Baiquni, ilmu pengetahuan atau sains adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses  pengkajian yang dapat diterima rasio atau dapat dinalar. Dengan kata lain ilmu pengetahuan adalah himpunan rasionalitas kolektif insani (Pelita, 26-6-1994).  Dalam hal ini Dawam Raharjo mengatakan bahwa  dalam ilmu pengetahuan terkandung etik, metodologi. Ilmu pengetahuan yang tidak mengandung suatu etik adalah contradictio interminis (Dawam Raharjo, Intelektual, Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa, Bandung Mizanm 1990).

Banyak kemudian orang yang terjebak dalam pasungan dan kungkungan pengetahuan ilmiah. Tetapi juga banyak yang terpasung oleh kesalahfahaman terhadap kebenaran ilahiyah yang bersumber pada wahyu. Kondisi seperti itu akibat terjadinya pengertian ilmiah dan ilahiyah tersebut. Kebenaran wahyu difahami manusia sebagai suatu konsep kebenaran yang begitu saja hadir dalam struktur pribadi dan pengetahuan pemeluk yang meyakininya.

Hai ini penting untuk dibahas, jika secara tidak disengaja atau bahkan tak sadar, kreteria pengetahuan ilmiah dan konsekuensinya dihadapkan pada problem religi. Ternyata kreteria ilmiah tidak dapat secara tuntas menjelaskan seluruh fakta dan kenyataan yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan berada dalam lingkup religi ataupun yang non ilmiah lainnya.

Gejala tersebut kemudian menimbulkan bias pemahaman terhadap berbagai aspek ajaran agama yang harus ditolak karena tidak ilmiah. Sebaliknya banyak karya kreatif manusia yang serta merta ditolak karena tidak diketemukan rujukan dalam kebenaran ilahiyah. Persoalan kebenaran ilmiah dan persoalan kebenaran ilahiyah yang bersumber wahyu menjadi persoalan unik dan telah menyita seluruh perhatian manusia.

Rasionalitas digunakan sebagai landasan berfikir oleh para ilmuwan dalam dunia ilmiah dan dijadikan kesadaran tertinggi yang bisa membimbing manusia memilih alternatif jalan kehidupannya menuju kesempurnaan. Itulah penipuan yang begitu banyak menelan korban. Sebenarnya intelegensi bukan dalam kesadaran rasional, bahwa kesadaran rasional hanyalah alat, manifestasi kemampuan komputasi, yang justru kalau dibiarkan menguasai kesadaran manusiawi akan membawa seseorang berfikir secara foto cofis dan komputeris.

Kita menyadari bahwa kesadaran rasional adalah hasil pengolahan fikiran yang diperoleh dari pengalaman empiris, pengalaman itulah sumber dari kesadaran rasional. Banyak orang menyangka bahwa rasio merupakan pedoman seperti kompas yang dapat menunjukkan arah. Padahal tidaklah begitu, rasio tidak bisa dijadikan pedoman hidup, yang bisa dijadikan pedoman hidup adalah kesadaran spritual. Bukan kesadaran spritual dalam ungkapan rasional melainkan spritual yang berakar dalam dunia pengalaman rasa.

Kemampuan rasional adalah sifat yang inheren dengan struktur objektif otak, otak sebagai alat penerima dan pengelola segala macam informasi dari dunia objektif alat yang diciptakan oleh Allah agar manusia dapat berhubungan dengan dunia objektif. Kita tidak bisa menggunakan jalur pendekatan rasional untuk mengenal ilmu subyektif. Karena kalbu mencerminkan mekanisme spritual yang menghubungkan ruh dengan Al-Khaliq dan mustahil hubungan itu berlangsung melalui jalur komunikasi rasional. Justru mekanisme kalbu akan lebih nyata kalau aktifitas otak bisa ditekan mendekati zero (nol) (Krisis Global Ilmu Pengetahuan. Hal. 27).

Rasionalitas tidak akan mampu menyentuh hakekat kebenaran, karena itu rasionalitas cenderung membawa fikiran manusia pada permukaan pengalaman yang paling dangkal, pengalaman praktis tanpa menghiraukan landasan kebenaran di kedalaman agamawi pengalaman spritual. Dengan sikap yang terungkap dalam pernyataan tersebut manusia justru terperangkap dalam relativisme dunia empiri. Tidak mampu menyelam mengalami hakekat yang ada.

Dengan uraian tersebut tidak heran jika Hediki Yukawa menghimbau agar manusia modern kembali ke pemikiran intuitif dan mengurangi pemikiran digital yang menurut Yukawa menghambat kreativitas. Tidak heran pula Einstin mengatakan bahwa lokus/ sumber kreativitas adalah titik pusat grafitasi kesadaran emosional, yang menurut orang Islam disebut qalbu. Einstin dan Yukawa melihat bahwa otak bukan lokus/ sumber intelegensi (Krisis Global Ilmu Pengetahuan. Hal. 27).

Senada dengan itu dalam Muqaddimah Kitab Sirr al- A’dham disebutkan:

“Janganlah kamu katakan bahwa ilmu itu berada di langit, siapa yang akan menurunkannya, atau di perut bumi siapa yang akan menaikkannya, atau di seberang laut siapa yang akan menyeberangkannya. Ilmu itu tercipta dalam hatimu, datanglah ke hadirat-Ku dengan sopan santun, niscaya Ku-lahirkan ilmu itu dalam hatimu, sehingga ia meliputi dan memenuhi dirimu.

Imam Ghazali membedakan tingkat kesadaran manusia menjadi tiga tingkatan yaitu: kesadaran Indrawi, kesadaran rasional dan kesadaran agamawi (spritual). Dengan berkembangnya kesadaran akal, manusia bisa menjangkau wilayah yang tidak bisa dijangkau dengan alat indra. Dengan akal manusia bisa mengenal atom dan menciptakan kapal terbang yang tidak ada sebelumnya. Dengan akal manusia bisa mengetahui pula bagaimana indra bisa menipu, sehingga hanya dengan akal manusia bisa membenarkan informasi yang diperoleh melalui indra.

Selanjutnya Imam Ghazali mengungkapkan wilayah kesadaran yang tidak terjangkau oleh akal. Akal tidak bisa mengerti mengapa mencuri itu dosa. Kalau mencuri itu dipergunakan untuk mencapai maksud yang baik misalnya membeli buku, akal bisa membenarkan pencurian itu. Dengan proses rasionalisai seperti itulah akal bisa menipu manusia. Dengan akal manusia bisa membenarkan prilakunya. Pernahkan kita mendengar pencuri yang menyalahkan perbuatannya sendiri? Atau koruptor yang merasa bersalah? Itulah perbuatan-perbuatan yang direstui oleh akal. Karena dalam hal itu akal bisa berdusta.

Dalam hal seperti itulah manusia memerlukan bimbingan dari kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran spritual. Kesadaran spritual langsung merasakan bahwa mencuri itu berdosa, kesalahan yang sifatnya mutlak. Kesadaran spritual tidak bisa menipu dan kesadaran spritual itulah yang mampu menyalahkan kesimpulan yang diambil oleh akal.

Perlu diketahui bahwa akal tidak mengenal nilai, kemutlakan dosa, ilmu pengetahuan sekarang benar-benar merupakan manifestasi materialis-rasionalisme yang hampir murni, sehingga ilmu pengetahuan tidak pernah mengakui kebenaran kesadaran spritual (=sekuler).

Kita juga melihat kesadaran agama cenderung diangkat ketingkat kesadaran rasional terlepas dari dunia rasa dan pengalaman. Bahkan dalam hal kesadaran agamawi proses rasionalisasi seperti berjalan hampir sempurna artinya benar-benar tanpa landasan kesadaran agama dalam dunia rasa dan pengalaman yang menjadi dasarnya. Karena itulah dengan alat ilmu pengetahuan manusia cenderung terasing dari hakekat rasa dan pengalaman spritual, agama hanya tergambar dalam kesadaran rasional, yang mengambang dalam relatifitas dunia empiris.sebagai mana disinyalir oleh Ibnu Athaillah yaitu lupa dalam berdzikir. Karena dzikirnya berhenti hanya sampai otak tidak menembus pada hati. Meski hal ini sudah baik dari pada yang tidak berdzikir sama sekali. (Ibnu Athaillah, Al-Hikam).

Begitu pula kebenaran empiris yang digunakan sebagai landasan berfikir (paradigma) dalam dunia ilmiah juga tidak akan sanggup mencapai hakekat kebenaran yang sifatnya mutlak dan empiris. Untuk menyingkap hakikat obyek empiris saja, atau mendapatkan sari yang berupa pengetahuan mengenai objek tersebut, metode-metode keilmuan mempunyai kekurangan dan kelemahan yang mendasar, ia hanya mampu mendekati salah satu demensi saja dari suatu objek alam yang pada dasarnya multi dimensional.

Hal ini karena ilmu pengetahuan kita yang paling ilmiahpun yang dihasilkan melalui metode-metode keilmuan-keilmuan yang teruji adalah produk dari olah jiwa, olah pikir dan olah indra serta daya penalaran yang kemampuannya terbatas dan tidak sempurna. “Sains adalah ciptaan manusia dengan alatnya yang paling canggih, yaitu rasio, atau logika, karena sains adalah ciptaan manusia. Dapatkah dengan ciptaannya itu manusia mengerti dirinya? Mungkinkah dengan rasio manusia bisa manjangkau segala kedalaman mengenai dirinya? Apakah yang rasional itu selalu benar, atau lebih benar dari yang non rasional? Apakah batu itu rasional? Apakah yang rasional itu empiris atau yang empiris itu rasional? Apakah karena Tuhan tidak empiris, maka batu lebih benar dari Tuhan, karena batu itu empiris? Bagaimana dengan rukun iman seandainya kita hanya percaya pada yang empiris melulu. Apakah ilmu pengetahuan itu empiris? Bisakah kita mencari ilmu pengetahuan seperti kita mencari batu?

Kebenaran adalah suatu yang multi demensi dengan berbagai manifestasinya. Karena itulah berkembang berbagai ilmu dimana tiap disiplin ilmu akan mendekati hanya terhadap wajah kebenaran. Di balik wajah kebenaran itulah terdapat inti hakekat kebenaran yang bersifat mutlak dan bersifat non empiris (ghaib). Dia-lah yang tersirat dari semua suratan wajah kebenaran. (Muhammad Thahir,  Kedudukan Ilmu dalam Islam: 18).

Karenanya jelas bahwa pengetahuan kebenaran yang dihasilkan melalui metode keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Kita harus mencari dan menerima metode lain dan jalan lain yang bisa melengkapi serta bisa memberikan bimbingan yang utuh pada hakekat kebenaran. Kebenaran bukanlah monopoli perseorangan ataupun kelompok. Metode lain atau jalan lain itu haruslah bersumber hanya dari sang pemilik kebenaran, dan tidak bisa menggunakan pendekatan rasionalitas, tapi hanya dengan hati yang didalamnya bersemayam ruh sebagai penghubung.

Dalam kitab AlRisalah al-Qusyairiyah disebutkan, ada tiga unsur dalam tubuh manusia yang dipergunakan orang sufi dalam hubungan mereka dengan Tuhan, yaitu hati untuk mengenal sifat-sifat Tuhan, Ruh untuk mencintai Tuhan, dan sir untuk melihat Tuhan.

Sir lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari hati. Qalb tidak sama dengan jantung, karena qalb selain dari alat untuk merasa adalah juga untuk berfikir. Perbedaan qalb dengan akal ialah bahwa akal tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan sedang qalb bisa mengetahui hakekat dari segala yang ada dan jika Tuhan melimpahkan cahaya kepada qalb ia bisa mengetahui segala apa yang diketahui Allah.

Disinilah diperlukan kejujuran manusia untuk mengakui kenyataan keterbatasan dirinya. Diperlukan kebeningan pikiran agar kompleksitas gejala alam kehidupan tertangkap dengan jelas dan proposional hingga menimbulkan kesadaran universal kesadaran universal adalah kesadaran manusia akan posisi dirinya di alam universal seutuhnya bukan sepotong-potong (parsial). Sadar akan kekuatan dan kelemahannya, sadar akan hak dan kewajibannya, sadar akan kemandirian dan ketergantungannya, sadar akan eksistensinya dan kenisbiannya, sadar akan fisik dan spritualnya, sadar akan kenyataan dan keghaibannya, sadar akan kehidupan dan terminalnya sadar  akan dari mana mau kemana.

Dari uraian di  atas kita melihat bahwa di satu sisi manusia dibatasi oleh kelemahan dan kekuranganya bahkan terhadap dirinya sendiri. Memang sudah banyak hal ihwal manusia yang tersingkap untuk manusia. Akan tetapi masih banyak lagi misteri-misteri microkosmos manusia yang tertutup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau manusia akan menjangkau macrokosmos angkasa luar. Semua itu masih misteri bagi ilmu pengetahuan manusia. Berapakah umur manusia yang tersedia dalam upaya untuk menyingkap misteri-misteri micro dan macro cosmos itu ?.

Misteri-misteri micro dan macro itupun masih dalam batasan sub sistem alam empiris. Bagaimana pula dengan misteri alam non empiris? Dengan cara bagaimana manusia hendak menyingkapnya? Mampukah dalil-dalil aqli serta metode-metode keilmuan sendiri menjawabnya? Dengan memiliki kesadaran universal yang mempunyai dua kutub yakni kekuatan dan kelemahannya, kemampuan akal dan keterbatasannya, kemandirian dan ketergantungannya, maka senang atau tidak senang manusia harus berpaling mencari metoda lain, manusia harus bersedia  selalu berdialog dengan dunia supyektifnya yang dianggapnya tidak memiliki potensi ilmiah dan sekaligus menangkap dan mengembangkan kebenaran. Manusia perlu selalu berdialog dengan Tuhan melalui firmannya, jika ia tidak ingin mengalami kegagalan dalam hidupnya@

 

 

PENDAHULUAN

A.J. Bahm dalam  Axiology: The Science of Values mengatakan, ilmu pengetahuan terkait dengan masalah. Masalah adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Jika tidak ada masalah, maka tidak akan muncul ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiah adalah hasil dari pemecahan masalah ilmiah. Jika tidak ada masalah, maka tidak ada pemecahan masalah, dus dengan demikian tidak ada pengetahuan ilmiah. Untuk menjadi ilmiah, maka seseorang harus memiliki kemauan untuk mencoba memecahkan masalah.

Menurut Bahm, ilmu pengetahuan setidaknya melibatkan enam  komponen penting: 1) masalah (problems);  2) sikap (attitude);  3) metode (method);  4) aktivitas (activity);  5) kesimpulan (conclusion); 6) pengaruh (effects).

 

1. Masalah (Problems)

Masalah mana yang dianggap mengandung sifat ilmiah? Menurut Bahm, suatu masalah bisa dianggap ilmiah, sedikitnya memiliki tiga ciri: 1) terkait dengan komunikasi; 2) sikap ilmiah dan 3) metode ilmiah. Tidak ada masalah yang disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa dikomunikasikan kepada orang lain. Jika belum atau tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain atau masyarakat maka belum dianggap ilmiah. Tidak ada masalah yang pantas disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa dihadapkan  pada sikap ilmiah. Demikian pula tidak ada masalah yang pantas disebut ilmiah kecuali harus terkait dengan metode ilmiah.

 

2. Sikap (attitude)

Sikap ilmiah (scientific attitude) menurut Bahm setidaknya harus memiliki enam ciri pokok, yaitu: 1) keingintahuan (curiosity); 2) spikulasi (speculativeness); 3) kemauan untuk berlaku objektif (willingness to be objective); 4) terbuka (open-maindedness); 5) kemauan untuk menangguhkan penilaian (willingness to suspend judgment) dan 6) bersifat sementara (tentativity).

1). Keingintahuan (curiosity). Keingintahuan harus dimiliki oleh seorang ilmuwan, seperti keinginan untuk menyelidiki, investigasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.

2). Spikulasi (spiculativeness). Hal ini penting dalam rangka menguji hipotesis. Spikulasi juga merupakan ciri penting dalam sikap ilmiah.

3). Kesadaran untuk berlaku objektif (willingness to be objective). Sikap ini  penting, sebab objektivitas merupakan  ciri ilmiah. Sikap demikian harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Menurut Bahm sikap objektif harus memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

  1. Memiliki sifat rasa ingin tahu terhadap apa yang diselidiki untuk memperoleh pemahaman sebaik mungkin;
  2. Melangkah dengan berdasarkan pada pengalaman dan alasan, artinya, pengalaman dan alasan saling mendukung, karena alasan yang logis dituntut oleh pengalaman;
  3. Dapat menerima data sebagaimana adanya (tidak ditambah dan dikurangi). Hal ini terkait dengan sikap objkektif seorang ilmuwan;
  4. Bisa menerima perubahan (fleksibel, terbuka), artinya jika objeknya berubah, maka seorang ilmuwan mau menerima perubahan tersebut;
  5. Berani menanggung resiko kekeliruan. Oleh sebab itu trial and error merupakan karakteristik dari seorang ilmuwan;
  6. Tidak mengenal putus asa, artinya gigih dalam mencari objek atau masalah, hingga mencapai pemahaman secara maksimal.

4). Terbuka (open mindedness), artinya selalu bersedia menerima kritik dan saran ilmuwan lain secara lapang dada.

5). Menangguhkan keputusan/penilaian (willingness to suspend judgment), artinya bersedia menangguhkan keputusan sampai semua bukti penting terkumpul.

6). Bersifat sementara, artinya harus menerima bahwa kesimpulan ilmiah bersifat sementara.

3. Metode (Method)

Menurut Bahm, bahwa esensi dari sebuah pengetahuan adalah metode. Setiap pengetahuan memiliki metodenya sendiri sesuai dengan permasalahannya. Meski diantara para ilmuwan terjadi perbedaan tentang metode ilmiah, tetapi mereka sepakat bahwa masalah tanpa observasi tidak akan menjadi ilmiah, sebaliknya observasi tanpa masalah juga tidak akan menjadi ilmiah. Menurutnya, bahwa ilmu pengetahuan adalah aktivitas menyelesaikan masalah dan melihat metode ilmiah sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik yang esensial bagi penyelesaian masalah. Ada lima langkah esensial dan ideal –menurut Bahm– dalam menerapkan metode ilmiah yang harus dipahami oleh seorang peneliti (ilmuwan), yaitu 1) memahami masalah; 2) menguji masalah; 3) menyiapkan solusi; 4) menguji hipotesis  dan 5) memecahkan masalah.

4. Aktivitas (Activity)

Aktivitas dimaksud adalah penelitian ilmiah, yang memiliki dua aspek: individual dan sosial. Aktivitas penelitian ilmiah meliputi:  1) observasi; 2) membuat hiopotesis, 3) menguji observasi dan hipotesis dengan cermat dan terkontrol.

5. Kesimpulan (Conclusion)

Kesimpulan merupakan penilaian akhir dari suatu sikap, metode dan aktivitas.  Kesimpulan ilmiah tidak pasti, tetapi bersifat sementara dan tidak dogmatis. Bahkan  jika kesimpulan dianggap dogmatis, maka akan mengurangi sifat dasar dari ilmu pengetahuan tersebut. Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu bersifat tidak stabil, setiap generasi berhak untuk menginterpretasikan kembali tradisi ilmu pengetahuan itu.

6. Pengaruh (Effects)

            Ilmu pengetahuan memiliki dua pengaruh, yaitu: 1) pengaruh terhadap teknologi dan industri; 2) pengaruh pada peradaban manusia. Industrialisasi yang berkembang dengan pesat merupakan produk dari ilmu pengetahuan yang mempunyai dampak besar terhadap perkembangan ilmu, sehingga nampak seperti yang terjadi dalam perubahan sifat ilmu itu sendiri. Proses industrialisasi tidak akan dapat diputarulang yang akhirnya ilmu pengetahuan itu sendiri mengalami proses terindustrialisasi. Ilmu pengetahuan yang terindustrialisasi ini menjadi bagian utama dari penggerak ilmu pengetahuan dan  menjadi sebuah sumber bidang penelitian yang memiliki prestise tinggi.

Ilmu pengetahuan (dengan produk teknologinya), juga memiliki dampak negatif, misalnya dipergunakannya senjata nuklir sebagai alat pemusnah massal di Hiroshima pada perang Dunia II (termasuk pengeboman Iraq oleh Amerika dan Sekutunya sekarang ini). Berbagai reaksi timbul dari dampak negatif ini. Maka lahirlah perkumpulan-perkumpulan ilmuwan yang peduli terhadap masalah dampak negatif teknologi, seperti Federasi ilmuwan Atom, Badan Penelitian Teknologi US, Masyarakat Internasional untuk Penelitian Teknologi, Kongres Internasional.

Menurut Bahm, bahwa seseorang yang memiliki perhatian pada permasalahan ilmiah bisa disebut sebagai ilmuwan, kerena sikap ilmiah merupakan bagian dari seorang ilmuwan.  Seseorang yang berhasil mengungkap permasalahan dengan menggunakan metode  tertentu —meski tidak paham banyak mengenai  sifat ilmu—  bisa disebut sebagai ilmuwan. Demikian pula seseorang yang mengamati kesimpulan dari seorang ilmuwan dan memiliki concern dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan juga bisa dikatakan telah memiliki aspek ilmiah dalam dirinya.

Komponen Ilmu Pengetahuan Menurut A.J. Bahm:

Masalah Sikap Metode Aktivitas Kesimpulan Pengaruh
       (1)        (2)        (3)       (4)        (5)      (6)
  1. Komunikasi
  2. Sikap ilmiah:
  3. Metode ilmiah
1.keingintahuan

2. spikulatif

3. objektif  

4.terbuka  5.menangguh   kan penilaian  6.bersifat  sementara

 

  1. memahami masalah
  2. menguji masalah
  3. menyiapkan solusi
  4. menguji hipotesis
  5. memecahkan masalah.

 

  1. Observasi
  2. Membuat hiopotesis
  3. menguji observasi dan hipotesis

 

Bersifat sementara dan tidak pasti 1.pengaruh terhadap teknologi dan industri

2.pengaruh terhadap peradaban manusia

Menurut Peter R. Senn (dalam Jujun, 1991:111), bahwa ilmu pengetahuan memiliki empat komponen utama, yaitu: 1) perumusan masalah; 2) pengamatan dan deskripsi; 3) penjelasan; 4) ramalan dan kontrol. Seperti juga Bahm,  Senn berpendapat, bahwa penelitian keilmuan dimulai dengan masalah, misalnya dengan mempertanyakan sesuatu yang terkait dengan fenomena yang ada: Bagaimana kita harus mendidik anak-anak kita? Apakah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perang dunia III? Apakah penyebab pelacuran? dst.

Cara yang biasa dilakukan dalam menemukan masalah menurut Senn adalah melalui persepsi. Salah satu syarat utama dalam konteks hubungan antara ilmuwan dengan masalah adalah soal perhatian terhadap masalah tersebut. Kemudian Senn (lihat hal. 112-115) mesyaratkan empat ciri ideal dari masalah dalam ilmu, yaitu: 1) penting dan menarik: 2) dapat dijawab dengan jelas dan kongkret: 3) jawaban dapat diuji oleh orang lain; 4) dapat dirumuskan secara tepat.

Sementara menurut Jujun (1990: 142), ilmu pengetahuan memiliki tiga fungsi, yaitu: menjelaskan, meramalkan dan mengontrol. Mengutip Ernest Nagel, Jujun berpendapat, bahwa terdapat empat jenis penjelasan, yaitu: probabilistik, fungsional, teleologis dan genetik.

 

Skip to toolbar