Category Archives: Teori Pendidikan

HAKEKAT MANUSIA DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses “memanusiakan manusia”, Abdurrahman Shalih (t.th;47) mengatakan “man is the core of the educational process”, bahwa manusia adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan. Sebab itu sejauh mana pendidikan itu diformulasikan dan diimplementasikan harus selalu disandarkan pada konsepsi tentang hakekat manusia. Merumuskan dan mengembangkan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan seterusnya harus selalu dikonsultasikan pada filsafat dan pemahaman tentang hakekat manusia itu sendiri.

Pembahasan ini berusaha memahami hakekat manusia sebagai sebuah kajian ontologi Pendidikan Islam. Ada beberapa hal yang dikaji dalam tulisan ini yaitu; pemahaman tentang hakekat manusia; poses kejadian manusia; potensi-potensi dasar manusia; tugas dan fungsi penciptaan manusia; serta implikasinya dalam pendidikan.

B.     Pemahaman tentang hakekat manusia

Para ahli mempunyai pemahaman yang beragam dalam memahami hakekat tentang manusia, hal ini dapat kita lihat dari berbagai pendapat berikut;

  1. Charles Robert darwin (1809-1882) menetapkan manusia sejajar dengan binatang, karena terjadinya manusia dari sebab-sebab mekanis, yaitu lewat teori descendensi (ilmu turunan) dan teori natural selection (teori pilihan alam)
  2. Ernest Haeckel (1834-1919) menyatakan manusia dalam segala hal menyerupai binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui
  3. Aristoteles (384-322) memeberikan devinisi manusia sebagai binatang yang berakal sehat yang mampu mengeluarkan pendapatnya, dan berbicara berdasarkan pikirannya (the animal than reasons). Disamping itu manusia juga binatang yang berpolitik (zoon politicon) dan binatang yang bersosial (social animal)
  4. Harold H. Titus menempatkan manusia sebagai organisme hewani yang mampu mempelajari dirinya sendiri dan mampu menginterpretasi terhadap bentuk-bentuk hidup serta dapat menyelidiki makna eksistensi insani (Endang Saifudin, dalam Muhaimin, 1993;31)
  5. Ahli mantiq mendevinisikan manusia sebagai “al-insan hayawanun nathiq” (manusia adalah hewan yang berbahasa)

Dalam Islam manusia dipandang sebagai manusia, bukan sebagai binatang, karena manusia memiliki derajat yang tinggi, bertanggung jawab atas segala yang diperbuat, serta makhluk pemikul amanah yang berat. Berikut pemahaman para pemikir Islam tentang manusia;

  1. Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwa hakekat manusia itu terdiri dari dua komponen penting, yaitu;

a)      Komponen jasad. Menurut Farabi, komponen ini berasal dari alam ciptaan yang mempunyai bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad dan terdiri atas organ. Al-Ghazali memberikan sifat jasad manusia yang ada dalam bumi ini yaiu, dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan ini tidak berbeda dengan benda-benda lain, sedangkan Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi. (Ahmad Daudy, 1989:58-59)

b)      Komponen jiwa. Menurut farabi, komponen jiwa berasal dari alam perintah (alam kholiq) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad manusia. Hal ini karena jiwa merupakan roh dari perintah Tuhan walaupun tidak menyamai Dzat-Nya. Menurut al-Ghazali, jiwa ini dapat berfikir, mengingat, mengetahui, dan sebagainya, sedangkan unsur jiwa merupakan unsur rohani sebagai penggerak jasad untuk melakukan kerjanya yang termasuk alam ghaib. Bagi Ibnu Rusyd jiwa adalah sebagai kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik (Ahmad Daudy, 1989; 59)

  1. Ibnu Miskawih, menambahkan satu unsur lagi disamping unsur jasad dan jiwa, yaiu unsur hayah (unsur hidup). Hal ini karena pada diri manusia ketika dalam bentuk embrio (perpaduan antara ovum dan sperma) sudah terdapat kehidupan walaupun roh belum ditiupkan, sedangkan hayah sendiri terdapat pada sperma dan ovum yang membuat embrio hidup dan berkembang. Jadi hayah bukan komponen jasmanai yang berasal dari tanah dan bukan pula komponen jiwa atau rohani yang ditiupkan oleh Allah.(Syahminan Zaini, 1984:23)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tiga kategori, yaitu;

  1. Manusia sebagai makhluk biologis (al-Basyar) pada hakekatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lainnya walaupun struktur organnya berbeda, karena struktur organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.
  2. Manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah, qolb, ‘aqal. Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya, yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tersebut tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina.
  3. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta, ini disebabkan karena manusia tidak hanya sebagai Abdullah tetapi juga sebagai khalifatullah untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akherat.

 

C.     Proses kejadian manusia dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang berbicara tentang proses kejadian manusia, ada yang menerangkan secara global, seperti pada ayat; Qs.al-Insan ayat 2, Qs. As-Sajdah ayat 8-9, Qs. An-Najm ayat 32, dan seterusnya. Kemudian ada yang menerangkan secara rinci seperti Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14, dan Qs. Al-Hajj ayat ;5.

Diantara ayat-ayat tersebut banyak yang memakai redaksi  “khalaqa” dari pada “ja’ala”, hal ini mengandung makna tersendiri dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia. Kata “khalaqa” mengandung pengertian “ibda’ al-syai’ min ghairi ashl, wa la ihtida” (penciptaan sesuatu tanpa asal/pangkal dan tanpa contoh terlebih dahulu), sedangkan kata “ja’ala” yang biasa diartikan menjadikan, merupakan lafadz yang bersifat umum yang berkaitan dengan semua aktivitas dan perbuatan. M.Quraish Syihab, mengatakan lafadz “khalaqa” memberikan aksentuasi tentang kehebatan dan kebesaran atau keagungan Allah dalam ciptaan-Nya, sedangkan “ja’ala” mengandung aksentuasi terhadap manfaat yang harus atau dapat diperoleh dari sesuatu yang dijadikan itu. Seperti pada Qs. Ar-rum;21 dan Ali Imran ; 190-191.

Secara umum manusia berasal dari tanah (thin, turab atau al-ardl), ini dapat dipahami bahwa ternyata dalam tubuh manusia itu terdapat unsur kimiawi yang ada dalam tanah. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia dibentuk dari komponen-komponen yang dikandung dalam tanah, yaitu komponen atom yang membentuk molekul yang terdapat dalam tanah dan jasat manusia. Kata thin dan turab, memiliki makna yaitu tanah yang mengandung air, dari sinilah tumbuh segala tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan. Intisari makanan tersebut sebagiannya akan membentuk spermatozoa, yakni sel mani (ma’in mahin/ air yang hina) yang apabila masuk ke dalam sel telor bisa menimbulkan pembuahan, inilah barangkali yang ditunjukkan oleh ayat “min sulalah min thin”.

Selanjutnya proses penciptaan manusia, seperti yang ditunjukkan dalam Qs.al-Mu’minun, dilakukan dalam dua fase, fase pertama, yaitu fase fisik/materi, melalui tahapan; (1)nuthfah; (2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting; (4)’idham (tulang); dan (5)lahm (daging). Dan fase kedua yaitu fase non-materi/immateri, seperti yang ditunjuk oleh ayat “tsumma ansya’nahu khalqan akhar”. Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;

Pertama, tahap nuthfah. Tahap atau periode ini biasa dinamakan “periode ovum” dimana pertemuan antara sel kelamin bapak (sperma) dan sel kelamin ibu (ovum) bersatu kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu (fii qaraarin makiin). Pertemuan antara kedua sel tersebut dalam al-Qur’an disebut “nuthfah amsaj”, yakni percampuran air mani laki-laki dan sel telor perempuan, melalui suatu proses sehingga memunculkan “ma’in da-fiq” atau air yang terpancar ketika berkumpul (bersenggama).

Kedua, tahap ‘alaqah. Para mufassir menerjemahkan ‘alaqah dengan segumpal darah atau darah yang membeku, seperti al-Lusi, al-Maraghi, Ath-Thabathaba’I  HAMKA, dan sebagainya. Tetapi sementara ahli kedokteran, antara lain Mauricce Bucaille menyatakan bahwa terjemahan yang tepat untuk ‘alaqah adalah “sesuatu yang melekat”, dan ini sesuai dengan penemuan sains moderen, bahwa setelah proses nuthfah atau periode ovum terjadilah zat baru yang kemudian membelah menjadi dua, empat, delapan dan seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat, berdempet serta masuk ke dinding rahim, inilah yang kemudian disebut ‘alaqah.

Ketiga, tahap mudlghah. Ibnu Katsir mengatakan mudlghah sebagai “qit’ah ka al-bidl’ah min al-lahm la syaki fiha wala takhthith”, yakni sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran, mudlghah inilah yang kemudian membentuk organ-organ penting dalam perkembangan selanjutnya. Proses selanjutnya, keempat, yaitu ‘idham (tulang) yang dibentuk dari elemen-elemen atau bahan-bahan yang terdapat dalam mudlghah, dan Kelima adalah lahm (daging) yang juga dibentuk dari elemen mudlghah.

Setelah itu Allah menjadikannya makhluk yang berbntuk lain (…tsumma ansya’naahu khalqan akhar”), yakni bukan sekedar fisik/materi/jasad, tetapi juga non-fisik/immateri. “al—insya’” disini mengandung arti “I-jad al-syai’ wa tarbiyatuh” (mewujudkan/mengadakan sesuatu dan memeliharanya). Redaksi ayat tersebut tidak memakai kata “al-khalq” yang berarti juga menciptakan, hal ini menurut ath-Thabathaba’I, karena pemakaian kata “al-insya’” menunjukkkan terjadinya sesuatu hal yang baru yang tidak dicakup dan tidak diiringi oleh materi sebelumnya. Pada tahap inilah, menurut Sayyid Qutub, merupakan tahap yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lainnya, pada tahap tersebut manusia memiliki ciri-ciri istimewa.

Dari uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan sebagai berikut;

  1. Bahwa salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an dalam menghantarkan manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah ialah dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya, dan seterusnya. Di sisi lain juga ditegaskan bahwa mengenal manusia merupakan media untuk mengenal Tuhan-Nya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”).
  2. Bahwa proses kejadian manusia menurut al-Qur’an pada dasarnya melalui dua proses dengan enam tahap, yaitu proses fisik/jasad dan prodses non-fisik/immateri. Secara fisik manusia berproses dari nuthfah, kemudian ‘alaqah, mudlghah, ‘idham dan lahm yang membungkus ‘idham atau mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia. Sedangkan secara non-fisik, yaitu merupakan tahap penghembusan/peniupan roh pada diri manusia sehingga ia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada saat ini menusia memiliki berbagai potensi, fitrah dan hikmah yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin. Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan pada pengembangan jasmani dan rohani manusia secara harmonis, serta pengembangan fitrah manusia secara terpadu.
  3. Bahwa proses kejadian manusia yang tertuang dalam al-Qur’an tersebut ternyata semakin diperkuat oleh penemuan-penemuan ilmiah, sehingga lebih memperkuat keyakinan manusia akan kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Pendidikan dalam Islam antara lain juga diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayat-Nya

 

D.    Potensi-potensi dasar manusia

Dalam diri manusia terdapat alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar yang harus diperhatikan dalam pendidikan, Abdul fatah Jalal  (1977;103), mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan Allah kepada manusia sebagai berikut;

  1. Al-lams dan al-syum (alat peraba dab alat pembau), seperti dalam Qs. Al-An’am;7, dan Qs.Yusuf; 94
  2. Al-Sam’u (alat pendengaran), seperti; Qs. Al-Isra’;36, al-Mu,minun; 78
  3. Al-Abshar (penglihatan) seperti; Qs.al-A’raf; 185, Yunus; 101 dan As-Sajdah; 27)
  4. Al-Aql (akal atau daya fikir), seperti; Ali Imran; 191, al-An’am; 50, Ar-Ra’d; 19, dan Thaha; 53-54.
  5. Al-Qalb (kalbu), seperti Qs. Al-Hajj; 46, Qs.Muhammad; 24, Asy-Syu’ara; 192-194.

Dalam diskursus para filosof Islam, manusia mempunyai bermacam-macam alat potensial yang mempunyai kemampuan yang sangat unik, menurut mereka terdapat tiga macam jiwa dalam diri manusia yang didalamnya terdapat beberapa potensi/daya yaitu;

a)      Jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), mempunyai tiga daya yaitu; daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak.

b)      Jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), mempunyai dua daya, yaitu; daya penggerak (al-muharrikah) berbentuk nafsu (al-syahwah), amarah (al-ghadlab) dab berbentuk gerak tempat (al-harkah al-makaniyah), dan daya mencerap (al-mudrikah), berbentuk indera indera lahir (penglihatan, pendengaran, penciuman, dst.) dan indera bathin (indera penggambar, indera pengreka, indera pengingat, dst.)

c)      Jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah), yang hanya mempunyai daya pikir yang disebut dengan akal. Akal terbagi menjadi dua; akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi yang sifatnya particulars, dan akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, roh, malaikat, dst. Akal ini bersifat metafisis yang mencurahkan perhatian pada dunia immateri dan menangkap keumuman.

Selanjutnya, dalam diri manusia juga terdapat potensi-potensi dasar antara lain berupa fitrah. Fitrah mempunyai beberapa pengertian, dan para ahli di kalangan Islam pun telah memberikan berbagai macam formulasinya tentang fitrah, sehingga dapat disimpulkan bahwa fitrah adalah merupakan potensi-potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian untuk menerima rangsangan (pengaruh) dari luar menuju pada kesempurnaan dan kebenaran.

Disamping fitrah, terdapat juga potensi lainnya, yaitu nafsu yang mempunyai kecenderungan pada keburukan dan kejahatan (qs. 12:53), untuk itu fitrah harus tetap dikembangkan dan dilestarikan. Fitrah dapat tumbuh dan berkembang apabila disuplay oleh wahyu, sebab itu diperlukan pemahaman al-Islam secara kaffah (universal). Semakin tinggi tingkat interaksi seseorang kepada al-Islam, semakin baik pula perkembangan fitrahnya.

Dengan demikian komponen-komponen fitrah yang merupakan potensi-potensi dasar manusia adalah meliputi hal-hal sebagai berikut;

a)      Bakat dan kecerdasan, kemampuan pembawaan yang potensial mengacu pada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah), dan keahlian (profesional) dalam berbagai kehidupan

b)      Instink atau ghorizah, suatu kemampuan berbuat tanpa melalui proses belajar-mengajar, misalnya instink melarikan diri karena perasaan takut, ingin tahu (curiosity), merendahkan diri karena perasaan mengabdi, dst.

c)      Nafsu dan dorongan-dorongan (drives), misalnya nafsu lawwamah yang mendorong pada perbuatan tercela, nafsu amarah yang mendorong pada perbuatan merusak, membunuh, nafsu birahi (eros) mendorong pada pemuasan seksual, dan nafsu muthmainnah (religios) yang mendorong ke arah ketaatan pada Yang Maha Kuasa.

d)     Karakter atau tabiat, merupakan kemampuan psikologis manusia yang terbawa sejak lahir, yang berkaitan dengan tingkah laku moral, sosial serta etis seseorang, berhubungan dengan personalitas (kepribadian) seseorang.

e)      Heriditas atau keturunan, merupakan faktor menerima kemampuan dasar yang diwariskan oleh orang tua

f)       Intuisi, kemampuan psikologi manusia untuk menerima ilham Tuhan, biasanya hanya dirasakan oleh orang yang bersih atau ahli sufi.

Selanjutnya komponen-komponen dasar fitrah tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut;

 

 

 

 

 

 

Bakat dan kecerdasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar tersebut mempunyai arti bahwa fitrah adalah kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar untuk berkembang secara menyeluruh dan menggerakkan seluruh aspek yang secara mekanistis saling mempengaruhi, dan masing-masing komponen tersebut bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk lingkungan pendidikan. Sebab itulah untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi-potensi tersebut perlu dilakukan melalui proses pendidikan.

Semua potensi-potensi manusia baik potensi fisik, psikis maupun potensi rohani, pada akhirnya harus difungsikan untuk menjalankan fungsi-fungsi sebagai “abdullah”  (Qs.Adz-Dzariyat; 56, al-A’raf; 172) dan “khalifatullah fi al-ard” (Qs. Al-Fathir; 39, al-An’am; 165, al-Fathir; 39, ).

E. Implikasi Terhadap Pendidikan

Alat-alat ptensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi dasar tersebut. Namun dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, atau hukum-hukum yang biasa disebut dengan taqdir (keharusan universal atau kepastian umum sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia).

Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor heriditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio-cultural, sejarah dan faktor-faktor temporal. Sebab itu pendidikan yang dilakukan harus juga melihat faktor millieu (lingkungan) disamping faktor-faktor yang lain; faktor tujuan, pendidik, peserta didik, dan alat pendidikan. Semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor lainnya.

Dalam kaitannya dengan tugas dan tujuan penciptaan manusia, yakni sebagai ‘abdullah (Qs.Adz-Dzariyat; 56), dan juga sebagai khalifatullah (al-fathir; 39, al-An’am; 165), maka pendidikan dalam Islam antara lain adalah untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanat dari Allah yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya sebagai ‘abdullah (hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan kehendak-Nya serta mengabdi hanya kepada-Nya) dan juga sebagai khalifatullah.(berupa tugas terhadap diri sendiri, keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam dengan “mengkulturkan natur dan menaturkan kultur”), Wa Allah ‘A’lam.

 

JIKA SEKOLAH SUDAH TAK POPULIS LAGI

Lazimnya orang kampung yang bercirikan tradisional, dalam bertetangga kita masih biasa saling kunjung, atau bahasa apik-nya, slitaurrahim ke rumah tetangga untuk sekadar ngobrol, ngomong di sana-sini, mulai soal kesehatan, ekonomi (ma’isyah), sawah ladang, rojo koyo, pendidikan anak-anak, kadang juga politik, pemerintahan, dan nasib bangsa ini. Sambil merokok dan minum kopi kadangkala obrolan kita sampai larut dan berkepanjangan. Pak Jumadi, yang tiba-tiba mengeluh dan seakan mengadu jika ia sebenarnya sangat mengidam-idamkan anaknya melanjutkan ke sekolah unggulan SLTP, mengingat prestasinya di sekolah cukup baik. Menurut pengakuannya, sebetulnya anaknya tidak kalah prestasi jika dibandingkan dengan teman-temannya se kelas. ”Nanging despundi nggih Pak, kulo mboten gadah biaya, nopo melih ten sekolah ’savorit’ Islam, malah mboten kiat melih, wong ten sekolah ’savorit’ Islam niku biayanipun jut-jutan he” (Tetapi bagaimana ya Pak, saya tidak ada biaya, apalagi di sekolah unggulan (favorit) Islam, malah tidak mampu lagi, wong di sekolah unggulan Islam itu biayanya jut-jutan he). Itulah gambaran sekolah kita, sekaligus problem yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat bawah yang tidak diketahui atau diabaikan oleh elit pengambil kebijakan di atas

Setiap tahun kita juga menyaksikan para orang tua sibuk mengantarkan  putrera-puterinya memasuki sekolah, terutama sekolah yang berstatus negeri dan yang  favorit, mulai dari  taman kanak-kanak  hingga perguruan tinggi. Meski dengan biaya  yang amat mahal tak jadi soal. Para orang tua mendambakan kelak putera-puterinya menjadi orang yang terpelajar dan berpendidikan. Bahkan setiap tahunnya terjadi peningkatan arus masuk sekolah. Besarnya arus masuk sekolah tersebut mengindikasikan adanya persaingan berebut bangku, jatah dan daya tampung, sekolah dan perguruan tinggi kemudian menjadi elitis. Hal ini juga menjadi kekhawatiran kita tentang mutu, sebab hasil temuan penelitian C.E. Beeby (1981) –yang membenarkan teori Philip H. Coombs—menyebutkan, bahwa membanjirnya  jumlah peserta didik akan berdampak pada kemungkinan menurunnya mutu pendidikan (lihat laporan The World Educational Crisis: A System Analysis, 1986).

Di sisi lain kita juga menyaksikan para orang tua yang pasrah dengan nasib pendidikan putera-puterinya. Entah di mana mereka harus bersekolah dan sampai pada jenjang apa mereka mampu melanjutkan, karena persoalan biaya yang tak memungkinkan, seperti fenomena Pak Jumadi di atas, dan masih banyak fenomena Pak Jumadi lain yang lebih susah lagi.

Ada dua pemandangan yang kontras pada kondisi pendidikan kita. Di satu sisi masyarakat ingin berlomba mencari pendidikan yang bermutu, pada sisi lain mereka frustrasi karena soal mahalnya biaya pendidikan dimaksud. Akhirnya ada sebagian masyarakat yang harus pasrah menerima kenyataan seperti itu. Dalam konteks ini, maka ada gep antara konsep ideal pendidikan kita dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Padahal jika kita memperhatikan rumusan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) ditegaskan, bahwa warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan  yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar. Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakn dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan (lihat Bab III pasal 5, 6 dan 7 UUSPN).

Pertanyaannya kemudian, sudah meratakah pendidikan kita? Bagaimana dengan anak-anak miskin dan terlantar? Bagaimana dengan beaya sekolah yang semakin membumbung tinggi, sehingga tidak memberikan peluang bagi keluarga miskin, sementara anak-anak mereka memiliki kemauan keras dan mampu secara kualitas untuk bersaing, bahkan lebih cemerlang dari anak-anak orang kaya. Lantas masih perlukah pendidikan seperti sekolah? Bagaimana menghilangkan image, bahwa sekolah masih milik sekelompok tertentu dan jauh dari masyarakat bawah?

Di satu sisi kita ingin ada kompetisi dan seleksi masuk ke sekolah untuk mencari bibit-bibit unggul, di sisi lain bibit yang unggul tidak memiliki cukup dana untuk membayar biaya sekolah tersebut. Terpaksa mereka harus masuk sekolah yang di bawah standar. Bisa dibayangkan, bagaimana sekolah yang kondisinya tidak memenuhi syarat mampu mengangkat prestasi anak? Bisa dibayangkan, di negeri ini anak-anak berprestasi identik dengan anak-anak orang kaya, yang miskin tetap bodoh karena tidak ada peluang untuk ikut berkompetisi di sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas cukup (baca: unggulan). Penulis –sewaktu bekerjasama dengan Learning Assistant Program for Islamic School (LAPIS)– pernah melakukan mapping di sejumlah sekolah swasta di kabupaten Malang, ternyata masih ada beberapa guru yang digaji hanya pas-pasan, alias tidak layak. ”Jika saja bukan karena perjuangan Pak, kami sudah keluar sejak dulu.” Alhamdulillah, sambil ngelus dodo, penulis berkata dalam hati, ”betapa besarnya pengaruh perjuangan (jihad) dalam sebuah tindakan dan pendidikan bangsa kita ini. Andai saja tidak ada semangat jihad, lillahi Ta’ala, sudah habislah generasi kita ini. Kenapa seorang Tukul Arwana dengan Empat Mata-nya konon bisa mendapatkan honor hingga 30 juta dalam sekali tayang? Kenapa biaya iklan dari perusahaan-perusahaan itu tidak bisa diberikan juga ke sekolah? Tentu tanpa menghilangkan misi sponsornya pula.

Sejumlah persoalan di seputar pendidikkan kita akan selalu muncul dalam masyarakat, sepanjang pendidikan atau sekolah tersebut masih belum berpihak kepada masyarakat bawah (the lower class). Bahkan “penindasan” yang dilakukan oleh institusi yang bernama sekolah ini  mendorong Paulo Freire untuk mengusulkan perlunya perubahan yang fundamental bagi terwujudnya pemihakan (commitment) rakyat miskin. Sementara Ivan Illih dan Everett Reimer  dalam Deschooling Society lebih radikal lagi mengusulkan dihapuskannya segala bentuk lembaga sekolah. Meski Illih dan Reimer tersebut tidak realistis, tetapi setidaknya mampu menggugah para pengelola pendidikan untuk mengevaluasi konsep pendidikan yang berlangsung selama ini.

Berbeda dengan Illih maupun Reimer, Johanes Muller masih menganggap bahwa sekolah masih menjadi alternatif yang terbaik. Hanya menurutnya, masalah yang harus segera diselesaikan adalah, bagaimana membentuk suatu sistem pendidikan yang secara institusional bisa merata dan mampu “memberantas” kemiskinan? Untuk itu menurut Muller perlu reformasi sistem pendidikan yang menyangkut: pertama, perlunya diupayakan pemerataan pendidikan secara luas dan dalam jumlah yang memadai. Pemerataan dimaksud adalah memberi kesempatan kepada masayarakat lapis bawah, bahkan mereka harus mendapatkan preferensi  supaya tidak terjadi diskriminasi; kedua, seluruh proses belajar-mengajar baik isi maupun penyampaian dan evaluasinya harus berorientasi kepada pemihakan rakyat miskin.

Memang reformasi yang ditawarkan Muller ini masih terkesan teoretis, bgagaimana praksisnya, perlu ada rumusan kongkret menyangkut soal ini. Karena pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama: pemerintah, masyarakat dan keluarga (tri pusat pendidikan), maka dalam hal ini masyarakat  memiliki tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan pendidikan yang populis dan berpihak kepada rakyat miskin.

Ada kesan kuat dalam masyarakat, bawa sekolah unggulan dan bermutu adalah sekolah orang kaya karena  mahalnya biaya. Dus dengan demikian yang memiliki sekolah tersebut adalah mereka yang mampu membayar mahal (orang kaya), karena yang miskin tidak cukup beralasan untuk menempati sekolah unggulan tersebut. Kondisi demikian ini mengancam eksistensi pendidikan kita. Ada budaya diskriminasi di berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari diskriminasi sosial-ekonomi sampai pada diskriminasi pendidikan. Sebetulnya tidak mengherankan kita jika sekolah mahal itu maju dan unggul, baru mengherankan jika ada sekolah murah (tetapi bukan murahan) namun maju dan unggul. Sekolah seperti ini dapat menampung anak-anak yang secara ekonomis tidak mampu (baca: miskin), namun secara akademis mereka berprestasi. Bagaimana caranya? Dengan menerapkan subsidi silang. Sehingga, anak-anak dari keluarga mampu (kaya) membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu (miskin). Di sinilah keluarga orang kaya dapat bersekolah sambil beramal dan berinfak, terpujilah mereka. Zakat pun sebetulnya bisa disalurkan melalui sekolah atau pendidikan semacam ini.

Sejak berkembangnya sistem sekolah sebagai lembaga yang dipercaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih berkualitas, fungsi pokok sekolah mulai bergeser arah. Semula sekolah didirikan sebagai lembaga yang membantu orang tua dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan mendidik anak sesuai dengan harapan bersama. Namun seiring dengan perkembangan sistem sekolah tersebut kemudian ada jarak antara sekolah dengan orang tua (masyarakat).

Di pihak orang tua,  karena semakin kompleksnya tuntutan hidup yang dihadapi, lantas mereka cenderung mempercayakan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Sementara di pihak sekolah juga semakin sibuk dengan upaya memenuhi tuntutan sistem pendidikan yang semakin kompleks, yang menguras tenaga dan pikiran para pendidik untuk melaksanakan tuntutan kurikulum yang berlaku. Dari sini kemudian berdampak pada hubungan orang tua dengan sekolah yang semula bersifat fungsional berubah menjadi formal, pragmatis bahkan transaksional. Orang tua tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sekolah, yang penting  anaknya bisa lulus dan dengan ijazah/ STTB bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau bisa melamar pekerjaan.

Lantas bagaimana memecahkan problema diskriminasi pendidikan yang ada selama ini? Di sinilah diperlukan sekolah yang berwawasan populis. Di sini pula perlunya pengembangan pendidikan dalam upaya mendekatkan sekolah sebagai pusat pengembangan masyarakat (Center for Community Development). Karena pendidikan dan nasib generasi bangsa ini tanggung jawab kita bersama (pemerintah, masyarakat dan keluarga), maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: pertama, pemerintah hendaknya memiliki good will dan komitmen yang tinggi terhadap pemberdayaan kaum miskin melalui prioritas program pendidikan. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menambah subsidi bagi penyelenggaraan pendidikan; kedua, masyarakat melalui para pengusaha dan LSM hendaknya turut serta menyediakan sarana pendidikan yang bermutu dan lapangan kerja bagi kaum miskin. Dana sosial baik yang ada dalam pemerintah maupun perusahaan hendaknya diprioritaskan pada pengembangan pendidikan; ketiga, orientasi mata pelajaran dan kurikulum hendaknya ditekankan pada pendidikan yang berwawasan kemanusiaan (humanistik), penciptaan demokratisasi, egalitarianisme dan pluralisme. Sudah saatnya semua komponen (pemerintah, orang tua dan masyarakat dari berbagai lapisan) melibatkan diri untuk mewujudkan pendidikan yang terbaik bagi generasi bangsa ini. Semoga…

 

_____________

 

 

 

          * Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah UIN Malang

Landasan Filosofis pendidikan

Pendidikan   :      (Man is the core of educational process ; M.Rahim shaleh Abdullah; Educational Theory a Qur’qnic Outlook, t.th; 47)

– …Sebuah usaha mendewasakan manusia (Kamus Besar Bhs.Indonesia)

– …Terbentuknya kepribadian yang utama bagi siterdidik (Ahmad D.Marimba)

– …Sebuah upaya memanusiakan manusia dan membudayakan manusia. Dst.

Aliran aliran pendidikan :

 

Empirisme  :      Dipelopori John Locke (1632-1704)

(tabularasa)        –      anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih, bagaikan kertas kososng.

–         perilaku/perkembangan anak dipengaruhi/ditentukan oleh orang tua, sekolah,masyarakat (lingkungan, pengalaman, dst.)

–         tugas pendidikan adalah menciptakan manusia baru atau membentuk generasi baru

–         kegiatan pendidikan lebih terpusat pada pendidik (teacher center)

 

Nativisme  : Dipelopori oleh Arthur Schopenhaur (1768-1860)

(teori bakat)                 –      anak dilahirkan lengkap dengan pembawaan bakatnya

–         pendidikan hanya berperan membantu anak diidik untuk menjadi apa yang akan terjadi sesuai dengan potensi pembawaan yang dikandungnya

–         anak akan belajar rajin apabila mereka dalam keadaan gembira dan tertarik mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakat dan kecenderungannya.

–         Kegiatan pendidikan terpusat pada anak didik (child center)

Konvergensi       :         Dipelopori William Stern (1871-1939)

(realisme)    –      bahwa kepribadian anak dibentuk oleh faktor endogen (nativis) dan eksogen

(empiris) atau oleh faktor dasar dan ajar.

–         faktor dasar (pembawaan) tidak berarti apa-apa tanpa uapaya dari luar yaitu usaha pendidikan, sebaliknya faktor ajar (pendidikan) juga tidak cukup dan akan sia-sia tanpa memperhatikan faktor dasar.

–         Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama; pendidik, siterdidik, orang tua dan masyarakat dalam membentuk hasil pendidikan yang sesuai dengan tantangan zaman.

 

Mana diantara aliran tersebut yang lebih baik/benar, bagaimana dengan konsepsi Islam ?

 

Pendidikan Islam :       anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya.

–         Fitrah tidak sama dengan pengertian tabularasa John Locke, fitrah berarti asli, bersih, dan cusi, bukan kosong tetapi berisi daya-daya yang wujud dan perkembangannya  tergantung pada usaha manusia itu sendiri.

–         Jadi pendidikan dilakukan dengan mendayagunakan potensi-potensi tersebut dan mengembangkannya menuju Ma’rifatullah, dan bertaqwa kepada-Nya, menghayati sunnatullah, dan kemudian berserah diri kepadanya.

–         Perbedaan dan persamaan dengan empirisme: keduanya sepakat bahwa anak yg baru lahir bersih dan suci, tetapi empirisme memandang bagaikan kertas kosong, sementara Islam memandangnya berisi daya-daya perbuatan.

–         Perbedaan dan persamaan dengan Nativisme: keduanya mengakui pentingnya faktor pembawaan atau dasar dalam pembentukan dan pengembangan pendidikan anak didik sehingga pendidik hanya sebagai fasilitator saja. Tetapi karena adanya nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak, maka pendidik dalam pendidikan Islam bukan hanya sebagai pembantu saja tetapi ia bertanggung jawab akan terbentuknya kepribadian muslim pada anak didik.

–         Perbedaan dan persamaan dengan konvergensi: keduanya mengakui pentingnya faktor endogen dan eksogen dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian anak didik, namun dalam Islam pendidikan didasarkan pada filsafat teocentris sehingga kepribadian anak itu dikembangkan pada Ma’rifatullah dengan memahami ayat-ayat qauliyah dan kauniyah-Nya (sunnatullah), sementara Konvergensi mendasarkan pada filsafat antropocentris untuk mencapai kedewasaan dan kesejahteraan duniawi.

 

 

HAKEKAT MANUSIA DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses “memanusiakan manusia”, Abdurrahman Shalih (t.th;47) mengatakan “man is the core of the educational process”, bahwa manusia adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan. Sebab itu sejauh mana pendidikan itu diformulasikan dan diimplementasikan harus selalu disandarkan pada konsepsi tentang hakekat manusia. Merumuskan dan mengembangkan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan seterusnya harus selalu dikonsultasikan pada filsafat dan pemahaman tentang hakekat manusia itu sendiri.

Pembahasan ini berusaha memahami hakekat manusia sebagai sebuah kajian ontologi Pendidikan Islam. Ada beberapa hal yang dikaji dalam tulisan ini yaitu; pemahaman tentang hakekat manusia; poses kejadian manusia; potensi-potensi dasar manusia; tugas dan fungsi penciptaan manusia; serta implikasinya dalam pendidikan.

B.     Pemahaman tentang hakekat manusia

Para ahli mempunyai pemahaman yang beragam dalam memahami hakekat tentang manusia, hal ini dapat kita lihat dari berbagai pendapat berikut;

  1. Charles Robert Darwin (1809-1882) menetapkan manusia sejajar dengan binatang, karena terjadinya manusia dari sebab-sebab mekanis, yaitu lewat teori descendensi (ilmu turunan) dan teori natural selection (teori pilihan alam)
  2. Ernest Haeckel (1834-1919) menyatakan manusia dalam segala hal menyerupai binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui
  3. Aristoteles (384-322) memeberikan devinisi manusia sebagai binatang yang berakal sehat yang mampu mengeluarkan pendapatnya, dan berbicara berdasarkan pikirannya (the animal than reasons). Disamping itu manusia juga binatang yang berpolitik (zoon politicon) dan binatang yang bersosial (social animal)
  4. Harold H. Titus menempatkan manusia sebagai organisme hewani yang mampu mempelajari dirinya sendiri dan mampu menginterpretasi terhadap bentuk-bentuk hidup serta dapat menyelidiki makna eksistensi insani (Endang Saifudin, dalam Muhaimin, 1993;31)
  5. Ahli mantiq mendevinisikan manusia sebagai “al-insan hayawanun nathiq” (manusia adalah hewan yang berbahasa)

Dalam Islam manusia dipandang sebagai manusia, bukan sebagai binatang, karena manusia memiliki derajat yang tinggi, bertanggung jawab atas segala yang diperbuat, serta makhluk pemikul amanah yang berat. Berikut pemahaman para pemikir Islam tentang manusia;

  1. Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwa hakekat manusia itu terdiri dari dua komponen penting, yaitu;

a)      Komponen jasad. Menurut Farabi, komponen ini berasal dari alam ciptaan yang mempunyai bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad dan terdiri atas organ. Al-Ghazali memberikan sifat jasad manusia yang ada dalam bumi ini yaiu, dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan ini tidak berbeda dengan benda-benda lain, sedangkan Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi. (Ahmad Daudy, 1989:58-59)

b)      Komponen jiwa. Menurut farabi, komponen jiwa berasal dari alam perintah (alam kholiq) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad manusia. Hal ini karena jiwa merupakan roh dari perintah Tuhan walaupun tidak menyamai Dzat-Nya. Menurut al-Ghazali, jiwa ini dapat berfikir, mengingat, mengetahui, dan sebagainya, sedangkan unsur jiwa merupakan unsur rohani sebagai penggerak jasad untuk melakukan kerjanya yang termasuk alam ghaib. Bagi Ibnu Rusyd jiwa adalah sebagai kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik (Ahmad Daudy, 1989; 59)

  1. Ibnu Miskawih, menambahkan satu unsur lagi disamping unsur jasad dan jiwa, yaiu unsur hayah (unsur hidup). Hal ini karena pada diri manusia ketika dalam bentuk embrio (perpaduan antara ovum dan sperma) sudah terdapat kehidupan walaupun roh belum ditiupkan, sedangkan hayah sendiri terdapat pada sperma dan ovum yang membuat embrio hidup dan berkembang. Jadi hayah bukan komponen jasmanai yang berasal dari tanah dan bukan pula komponen jiwa atau rohani yang ditiupkan oleh Allah.(Syahminan Zaini, 1984:23)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tiga kategori, yaitu;

  1. Manusia sebagai makhluk biologis (al-Basyar) pada hakekatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lainnya walaupun struktur organnya berbeda, karena struktur organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.
  2. Manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah, qolb, ‘aqal. Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya, yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tersebut tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina.
  3. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta, ini disebabkan karena manusia tidak hanya sebagai Abdullah tetapi juga sebagai khalifatullah untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akherat.

 

C.     Proses kejadian manusia dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang berbicara tentang proses kejadian manusia, ada yang menerangkan secara global, seperti pada ayat; Qs.al-Insan ayat 2, Qs. As-Sajdah ayat 8-9, Qs. An-Najm ayat 32, dan seterusnya. Kemudian ada yang menerangkan secara rinci seperti Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14, dan Qs. Al-Hajj ayat ;5.

Diantara ayat-ayat tersebut banyak yang memakai redaksi  “khalaqa” dari pada “ja’ala”, hal ini mengandung makna tersendiri dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia. Kata “khalaqa” mengandung pengertian “ibda’ al-syai’ min ghairi ashl, wa la ihtida” (penciptaan sesuatu tanpa asal/pangkal dan tanpa contoh terlebih dahulu), sedangkan kata “ja’ala” yang biasa diartikan menjadikan, merupakan lafadz yang bersifat umum yang berkaitan dengan semua aktivitas dan perbuatan. M.Quraish Syihab, mengatakan lafadz “khalaqa” memberikan aksentuasi tentang kehebatan dan kebesaran atau keagungan Allah dalam ciptaan-Nya, sedangkan “ja’ala” mengandung aksentuasi terhadap manfaat yang harus atau dapat diperoleh dari sesuatu yang dijadikan itu. Seperti pada Qs. Ar-rum;21 dan Ali Imran ; 190-191.

Secara umum manusia berasal dari tanah (thin, turab atau al-ardl), ini dapat dipahami bahwa ternyata dalam tubuh manusia itu terdapat unsur kimiawi yang ada dalam tanah. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia dibentuk dari komponen-komponen yang dikandung dalam tanah, yaitu komponen atom yang membentuk molekul yang terdapat dalam tanah dan jasat manusia. Kata thin dan turab, memiliki makna yaitu tanah yang mengandung air, dari sinilah tumbuh segala tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan. Intisari makanan tersebut sebagiannya akan membentuk spermatozoa, yakni sel mani (ma’in mahin/ air yang hina) yang apabila masuk ke dalam sel telor bisa menimbulkan pembuahan, inilah barangkali yang ditunjukkan oleh ayat “min sulalah min thin”.

Selanjutnya proses penciptaan manusia, seperti yang ditunjukkan dalam Qs.al-Mu’minun, dilakukan dalam dua fase, fase pertama, yaitu fase fisik/materi, melalui tahapan; (1)nuthfah; (2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting; (4)’idham (tulang); dan (5)lahm (daging). Dan fase kedua yaitu fase non-materi/immateri, seperti yang ditunjuk oleh ayat “tsumma ansya’nahu khalqan akhar”. Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;

Pertama, tahap nuthfah. Tahap atau periode ini biasa dinamakan “periode ovum” dimana pertemuan antara sel kelamin bapak (sperma) dan sel kelamin ibu (ovum) bersatu kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu (fii qaraarin makiin). Pertemuan antara kedua sel tersebut dalam al-Qur’an disebut “nuthfah amsaj”, yakni percampuran air mani laki-laki dan sel telor perempuan, melalui suatu proses sehingga memunculkan “ma’in da-fiq” atau air yang terpancar ketika berkumpul (bersenggama).

Kedua, tahap ‘alaqah. Para mufassir menerjemahkan ‘alaqah dengan segumpal darah atau darah yang membeku, seperti al-Lusi, al-Maraghi, Ath-Thabathaba’I  HAMKA, dan sebagainya. Tetapi sementara ahli kedokteran, antara lain Mauricce Bucaille menyatakan bahwa terjemahan yang tepat untuk ‘alaqah adalah “sesuatu yang melekat”, dan ini sesuai dengan penemuan sains moderen, bahwa setelah proses nuthfah atau periode ovum terjadilah zat baru yang kemudian membelah menjadi dua, empat, delapan dan seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat, berdempet serta masuk ke dinding rahim, inilah yang kemudian disebut ‘alaqah.

Ketiga, tahap mudlghah. Ibnu Katsir mengatakan mudlghah sebagai “qit’ah ka al-bidl’ah min al-lahm la syaki fiha wala takhthith”, yakni sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran, mudlghah inilah yang kemudian membentuk organ-organ penting dalam perkembangan selanjutnya. Proses selanjutnya, keempat, yaitu ‘idham (tulang) yang dibentuk dari elemen-elemen atau bahan-bahan yang terdapat dalam mudlghah, dan Kelima adalah lahm (daging) yang juga dibentuk dari elemen mudlghah.

Setelah itu Allah menjadikannya makhluk yang berbntuk lain (…tsumma ansya’naahu khalqan akhar”), yakni bukan sekedar fisik/materi/jasad, tetapi juga non-fisik/immateri. “al—insya’” disini mengandung arti “I-jad al-syai’ wa tarbiyatuh” (mewujudkan/mengadakan sesuatu dan memeliharanya). Redaksi ayat tersebut tidak memakai kata “al-khalq” yang berarti juga menciptakan, hal ini menurut ath-Thabathaba’I, karena pemakaian kata “al-insya’” menunjukkkan terjadinya sesuatu hal yang baru yang tidak dicakup dan tidak diiringi oleh materi sebelumnya. Pada tahap inilah, menurut Sayyid Qutub, merupakan tahap yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lainnya, pada tahap tersebut manusia memiliki ciri-ciri istimewa.

Dari uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan sebagai berikut;

  1. Bahwa salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an dalam menghantarkan manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah ialah dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya, dan seterusnya. Di sisi lain juga ditegaskan bahwa mengenal manusia merupakan media untuk mengenal Tuhan-Nya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”).
  2. Bahwa proses kejadian manusia menurut al-Qur’an pada dasarnya melalui dua proses dengan enam tahap, yaitu proses fisik/jasad dan prodses non-fisik/immateri. Secara fisik manusia berproses dari nuthfah, kemudian ‘alaqah, mudlghah, ‘idham dan lahm yang membungkus ‘idham atau mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia. Sedangkan secara non-fisik, yaitu merupakan tahap penghembusan/peniupan roh pada diri manusia sehingga ia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada saat ini menusia memiliki berbagai potensi, fitrah dan hikmah yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin. Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan pada pengembangan jasmani dan rohani manusia secara harmonis, serta pengembangan fitrah manusia secara terpadu.
  3. Bahwa proses kejadian manusia yang tertuang dalam al-Qur’an tersebut ternyata semakin diperkuat oleh penemuan-penemuan ilmiah, sehingga lebih memperkuat keyakinan manusia akan kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Pendidikan dalam Islam antara lain juga diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayat-Nya

 

D.    Potensi-potensi dasar manusia

Dalam diri manusia terdapat alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar yang harus diperhatikan dalam pendidikan, Abdul fatah Jalal  (1977;103), mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan Allah kepada manusia sebagai berikut;

  1. Al-lams dan al-syum (alat peraba dab alat pembau), seperti dalam Qs. Al-An’am;7, dan Qs.Yusuf; 94
  2. Al-Sam’u (alat pendengaran), seperti; Qs. Al-Isra’;36, al-Mu,minun; 78
  3. Al-Abshar (penglihatan) seperti; Qs.al-A’raf; 185, Yunus; 101 dan As-Sajdah; 27)
  4. Al-Aql (akal atau daya fikir), seperti; Ali Imran; 191, al-An’am; 50, Ar-Ra’d; 19, dan Thaha; 53-54.
  5. Al-Qalb (kalbu), seperti Qs. Al-Hajj; 46, Qs.Muhammad; 24, Asy-Syu’ara; 192-194.

Dalam diskursus para filosof Islam, manusia mempunyai bermacam-macam alat potensial yang mempunyai kemampuan yang sangat unik, menurut mereka terdapat tiga macam jiwa dalam diri manusia yang didalamnya terdapat beberapa potensi/daya yaitu;

a)      Jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), mempunyai tiga daya yaitu; daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak.

b)      Jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), mempunyai dua daya, yaitu; daya penggerak (al-muharrikah) berbentuk nafsu (al-syahwah), amarah (al-ghadlab) dab berbentuk gerak tempat (al-harkah al-makaniyah), dan daya mencerap (al-mudrikah), berbentuk indera indera lahir (penglihatan, pendengaran, penciuman, dst.) dan indera bathin (indera penggambar, indera pengreka, indera pengingat, dst.)

c)      Jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah), yang hanya mempunyai daya pikir yang disebut dengan akal. Akal terbagi menjadi dua; akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi yang sifatnya particulars, dan akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, roh, malaikat, dst. Akal ini bersifat metafisis yang mencurahkan perhatian pada dunia immateri dan menangkap keumuman.

Selanjutnya, dalam diri manusia juga terdapat potensi-potensi dasar antara lain berupa fitrah. Fitrah mempunyai beberapa pengertian, dan para ahli di kalangan Islam pun telah memberikan berbagai macam formulasinya tentang fitrah, sehingga dapat disimpulkan bahwa fitrah adalah merupakan potensi-potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian untuk menerima rangsangan (pengaruh) dari luar menuju pada kesempurnaan dan kebenaran.

Disamping fitrah, terdapat juga potensi lainnya, yaitu nafsu yang mempunyai kecenderungan pada keburukan dan kejahatan (qs. 12:53), untuk itu fitrah harus tetap dikembangkan dan dilestarikan. Fitrah dapat tumbuh dan berkembang apabila disuplay oleh wahyu, sebab itu diperlukan pemahaman al-Islam secara kaffah (universal). Semakin tinggi tingkat interaksi seseorang kepada al-Islam, semakin baik pula perkembangan fitrahnya.

Dengan demikian komponen-komponen fitrah yang merupakan potensi-potensi dasar manusia adalah meliputi hal-hal sebagai berikut;

a)      Bakat dan kecerdasan, kemampuan pembawaan yang potensial mengacu pada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah), dan keahlian (profesional) dalam berbagai kehidupan

b)      Instink atau ghorizah, suatu kemampuan berbuat tanpa melalui proses belajar-mengajar, misalnya instink melarikan diri karena perasaan takut, ingin tahu (curiosity), merendahkan diri karena perasaan mengabdi, dst.

c)      Nafsu dan dorongan-dorongan (drives), misalnya nafsu lawwamah yang mendorong pada perbuatan tercela, nafsu amarah yang mendorong pada perbuatan merusak, membunuh, nafsu birahi (eros) mendorong pada pemuasan seksual, dan nafsu muthmainnah (religios) yang mendorong ke arah ketaatan pada Yang Maha Kuasa.

d)     Karakter atau tabiat, merupakan kemampuan psikologis manusia yang terbawa sejak lahir, yang berkaitan dengan tingkah laku moral, sosial serta etis seseorang, berhubungan dengan personalitas (kepribadian) seseorang.

e)      Heriditas atau keturunan, merupakan faktor menerima kemampuan dasar yang diwariskan oleh orang tua

f)       Intuisi, kemampuan psikologi manusia untuk menerima ilham Tuhan, biasanya hanya dirasakan oleh orang yang bersih atau ahli sufi.

Selanjutnya komponen-komponen dasar fitrah tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut;

 

 

 

 

 

 

Bakat dan kecerdasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar tersebut mempunyai arti bahwa fitrah adalah kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar untuk berkembang secara menyeluruh dan menggerakkan seluruh aspek yang secara mekanistis saling mempengaruhi, dan masing-masing komponen tersebut bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk lingkungan pendidikan. Sebab itulah untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi-potensi tersebut perlu dilakukan melalui proses pendidikan.

Semua potensi-potensi manusia baik potensi fisik, psikis maupun potensi rohani, pada akhirnya harus difungsikan untuk menjalankan fungsi-fungsi sebagai “abdullah”  (Qs.Adz-Dzariyat; 56, al-A’raf; 172) dan “khalifatullah fi al-ard” (Qs. Al-Fathir; 39, al-An’am; 165, al-Fathir; 39, ).

E. Implikasi Terhadap Pendidikan

Alat-alat ptensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi dasar tersebut. Namun dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, atau hukum-hukum yang biasa disebut dengan taqdir (keharusan universal atau kepastian umum sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia).

Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor heriditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio-cultural, sejarah dan faktor-faktor temporal. Sebab itu pendidikan yang dilakukan harus juga melihat faktor millieu (lingkungan) disamping faktor-faktor yang lain; faktor tujuan, pendidik, peserta didik, dan alat pendidikan. Semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor lainnya.

Dalam kaitannya dengan tugas dan tujuan penciptaan manusia, yakni sebagai ‘abdullah (Qs.Adz-Dzariyat; 56), dan juga sebagai khalifatullah (al-fathir; 39, al-An’am; 165), maka pendidikan dalam Islam antara lain adalah untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanat dari Allah yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya sebagai ‘abdullah (hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan kehendak-Nya serta mengabdi hanya kepada-Nya) dan juga sebagai khalifatullah.(berupa tugas terhadap diri sendiri, keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam dengan “mengkulturkan natur dan menaturkan kultur”), Wa Allah ‘A’lam.

 

Skip to toolbar