Category Archives: Teori Bljr

KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM

Abstrak

Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu  banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim. Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.

Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugerah Tuhan untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (lihat : Qs. Al- Mujadilah : 11).

Apalagi dalam konsep Islam  terdapat keyakinan yang menegaskan, bahwa belajar  merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga  mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat serta mengharapkan “janji luhur” Tuhan  sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-Nya.

Bagaimanakah belajar menurut tuntutan Islam?  Bagaimana konsep dan landasannya? Bagaimana aspek nilainya.  Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kemudian untuk memulai pembahasannya, di tampilkan beberapa konsep dan teori-teori belajar menurut konsep barat.

1. Pengertian Belajar 

Dalam konteks pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya.

Bahwa setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Sumadi Suryabrata (1983:5) menjelaskan pengertian belajar dengan

mengidentifikasikan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu:

 “Belajar adalah aktivitas yang dihasilkan perubahan pada diri individu yang belajar ( dalam arti behavioral changes) baik aktual maupun potensial; perubahan itu pada pokoknya adalah diperolehnya kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama; perubahan itu terjadi karena usaha”.

Menurut Begge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi khusus.

Bertolak dari pemahaman di atas dapatlah ditegaskan, bahwa belajar senantiasa  merupakan perbuatan tingkah laku dan penampilah dengan serangkaian aktivitas misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian, belajar juga bisa dilihat secara makro dan mikro, luas dan khusus. Dalam arti makro, luas, belajar dapat diartikan sebagai aktivitas ruhani-jasmani menuju perkembangan pribadi yang utuh.

Seperti yang dijelaskan oleh Bloom (1979), bahwa belajar itu mencakup tiga ruang lingkup, yaitu cognitive domain yang berkaitan dengan pengetahuan hapalan dan pengembangan intelektual, affective domain, yang berkaitan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan apresiasi dan penyesuaian, psychomotor domain, yang berkaitan dengan prilaku yang menuntut koordinasi syaraf.

II. Teori-teori Belajar

Banyak para pakar membuat teori atau paradigma mengenai belajar ataupun pendidikan, dan mereka saling berbeda di dalam merumuskan teori atau konsep-konsep itu. Diversifikasi pemahaman itu dapat kita pahami jika kita lihat dari perspektif filosofisnya. Dan memang  patut diketahui bahwa filsafat merupakan teori umum dan landasan bagi pendidikan itu sendiri, oleh sebab itu hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan (condisio sin quanon).

Sebagaimana aliran essensialisme (yang dibentuk dari idealisme dan realisme), adalah memperhatikan pendidikan dari sisi nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut diderivasi dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman renaisance, sebagai pangkal timbulnya (Barnadib, 1988: 38).

Menurut idealisme, bila seorang belajar, pada tahap awal adalah berarti ia memahami “aku”–nya sendiri, lantas bergerak keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikro kosmos menuju makro-kosmos. Ini seperti juga yang dijelaskan oleh Kant (1942-1804), bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia lewat indera memerlukan unsur apriori yang tidak diketahui oleh pengalaman terlebih dahulu.

Bila seseorang berhadapan dengan benda-benda, tidaklah berarti bahwa mereka mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu, tetapi ruang dan waktu itu sudah budi manusia sebelum ada pengalaman dan pengamatan. Jadi, apriori yang terarah itu bukanlah budi kepada benda, melainkan benda-benda itulah yang terarah kepada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan berpikir diatas, belajar dapat didifinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri (Pudjawijatno, 1964: 120-121).

Pandangan realisme mengenai belajar tercermin dalam pandangan atau aliran psikologi behaviorisme, asosiasionisme atau koneksionisme. A.L. Thorndike, pendukung koneksionisme misalnya menyatakan, bahwa belajar adalah berbagai kombinasi. Suatu bagian mental adalah menerima atau merasa, sedangkan bagian fisik adalah suatu stimulus atau respon. Secara khusus Thorndike melihat bahwa belajar adalah suatu proses hubungan mental dan fisik dan mental dengan mental atau fisik dengan fisik. Teori Thorndike ini juga dikenal dengan teori S – R bond  ( lihat Bigge, 1982:52-53).

Seorang filsuf dan sosiolog, L. Finney menjelaskan, bahwa mental adalah kondisi rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang ditentukan oleh peraturan alam (determinsm). Ini berarti bahwa pendidikan adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, belajar adalah menerima dengan sesungguhnya nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan oleh angkatan berikutnya. Pandangan realisme ini menceriminkan adanya dua jenis determinisme, yaitu determinisme mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada. Sedangkan dengan determinisme terbatas adalah memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.

Tuntutan tertinggi  dalam belajar menurut perenialisme adalah latihan dan disiplin mental. Maka teori dan praktek pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut. Sebagai makhluk, manusia memiliki kelebihan ketimbang yang lainnya karena anugerah “rasio”-nya. Rasionalitas ini merupakan sifat umum manusia dan merupakan evidensi diri. Konsep dasar tentang kebebasan manusia juga lahir dari sifat rasional manusia. Dengan demikian manusia dapat menghilangkan belenggu penindasan terhadap dirinya dan mampu menjadi merdeka. Kemerdekaan menjadi tujuan dan dilaksanakan di dalam pendidikan dan belajar itu. Oleh sebab itu, belajar hakekatnya adalah belajar berpikir dan menggunakan rasio tersebut.

Menurut perenialisme, belajar adalah bertujuan agar anak didik mengalami perkembangan kepribadian yang utuh, integral dan seimbang sesuai dengan pandangannya, bahwa manusia adalah bersifat psiko-somatik (Barnadib, 1988: 77).

Menurut perenialisme, belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu belajar karena pengajaran dan belajar karena penemuan. Belajar karena pengajaran adalah dengan cara guru/ pendidik memberkan pengetahuan dan pencerahan kepada subyek didik, dengan menunjukkan dan menafsirkan implikasi dari ilmu pengetahuan yang diberikan. Sedangkan belajar karena penemuan adalah subyek didik diharapkan dapat belajar atas kemampuannya sendiri (belajar mandiri ).

Pandangan di atas memang bersifat humanistik, yang memusatkan perhatian pada interes dan nilai-nilai kepada manusia. Teori humanisme klasik beranggapan, bahwa pikiran manusia adalah perantara aktif di dalam hubungan antara manusia dan lingkungannya, dan secara moral pikiran manusia mempunyai sifat dasar netral sejak lahir (Bigge, 1982: 26). Sifat netral tersebut maksudnya, bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat tidak jelek dan juga tidak baik, tetapi ia potensial untuk menjadi buruk atau baik (tidak ada hubunganya dengan pembawaan lahirnya) (Bigge, 1982: 16). Pandangan di atas didasari oleh konsep moral manusia, yaitu, bahwa substansi (pikir manusia adalah netral-aktif, yang harus dikembangkan lewat latihan dan disiplin mental. Dalam hal ini sebagai aspek yang mendasar adalah reason  yang menjadi manusia mampu mencapai pengertian tentang kebutuhan-kebutuhan dan mampu menyelaraskan antara tindakan, pengertian serta mampu mengkomunikasikan pengertian-pengertian tersebut kepada setiap anggota di dalam kelompoknya. Oleh sebab itu pula, maka pikiran manusia dengan sifat dasarnya yang demikian itu (netral- active) jika dilatih secara tepat, maka pontensi pembawa lahir akan mencuat keluar (Bigge, 1982: 26).

Oleh humanisme klasik, belajar dipandang sebagai proses disiplin diri yang tegas, terdiri dari perkembangan yang harmonis antara semua kekuatan di dalam diri manusia, Hingga tidak satu bagian pun yang berkembang melebihi yang lain. Dengan demikian, fungsi seorang guru adalah untuk membantu para siswa mengenali kembali apa yang telah ada dalam pikir mereka. Metode ini juga sekedar hanya menarik informasi dari para siswa dengan mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dengan ketrampilan penuh. Metode ini didasarkan pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan adalah pembawaan, yang tak akan muncul tanpa bantuan tenaga ahli (Bigge, 1982: 28).

Learning through unfoldment atau disebut juga naturalisme-romantic  mengatakan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan aktif (good-active). Melalui alam anak akan berkembang secara wajar. Biarkan anak berkembang sendiri sesuai dengan kodrat alam. Anak harus dijauhkan dari paksaan. Belajar sendiri sesuai dengan minatnya, ia  bebas menentukan perbuatannya dan sekaligus bertanggung jawab atas tindakannya. Teori ini dikembangkan oleh J.J. Rousseu, kemudian disusul oleh pembaharu pendidikan dari Swiss, Pestlozzi dan Froebel seorang filosof dari Jerman (Bigge, 1982: 33-34).

Rousseu berpendapat, bahwa secara heriditi manusia adalah baik dan mempunyai kemampuan yang perlu dikembangkan secara alamiah. Dia beranggapan bahwa lingkungan yang jelek mampu membuat orang menjadi jelek pula, sebab lingkungan sosial bukanlah alamiah. Rousseu memberi saran, agar guru memberikan kebebasan pada siswa untuk mandiri, sehingga memungkinkan mereka berkembang secara wajar dan alamiah, baik perasaan, naluri maupun kesadaran mereka.

Disamping  naturalisme-romantic, terdapat pula pandangan appersepsi, yang merupakan asosianisme mental dinamis yang didasarkan pada pemikiran, bahwa tidak ada ide-ide pembawaan lain. Segala sesuatu yang diketahui orang datangnya dari luar dirinya. Asosionisme merupakan teori psikologi umum yang di klasifikasikan menjadi dua bagian : pertama, Asosiasionisme mentalistik awal, yaitu appersepsi yang berfokus pada ide-ide dalam pikiran; kedua, asosiasinosme stimulus-respon fisikalistik yang lebih modern (Bigge, 1982: 36).

Perkembangana appersepsi didasari oleh pemikiran Aristoteles pada abad ke-empat S.S. Kemudian pada abad ke 17 ditentang oleh John Locke dengan mengatakan, bahwa pikiran tidak hanya dipegang oleh seseorang pasti pertama-tama diperoleh dari indera-inderanya. Teori John Locke ini sangat populer dengan teori Tabolarasa. Konsep moral appersionisme  adalah, bahwa sifat asli manusia adalah tidak baik dan tidak pula jelek dipandang dari sisi moral dan tidak pula aktif dipandang dari sisi aksi. Dibaliknya sifat asli manusia dipandang sebagai netral dari aspek moral dan pasif dari aspek aksi. Dengan demikian, pikiran merupakan produk dari pengalaman-pengalaman kehidupan (Bigge, 1982: 37).

III. Prinsip-prinsip Belajar Menurut Islam

1. Al Qur’an tentang Posisi Manusia

Kita ketahui bersama, bahwa Al-Qur’an adalah kalam suci Tuhan yang berfungsi sebagai: tanda, petunjuk, rahmat dan shafaat bagi manusia, berdasarkan penegasan Al Qur’an, (QS. Al–Isra’: 29 : Ar-Rum : 72). Syafi’i Ma’arif, seperti dikutip dari Ismail R. Faruqi, menjelaskan, bahwa manusia adalah karya Tuhan yang terbesar dan terindah dengan struktur mental yang sophisticated dan spektakuler (QS. At-Tin : 4). Oleh sebab itu, tidak heran pula kalau ada yang berpendapat, bahwa manusia adalah pencipta kedua setelah Tuhan. Ini bisa kita saksikan, betapa manusia dianugrahi rasio oleh Tuhan itu bisa menciptakan kreasi yang canggih berupa sains dan teknologi itu. Sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu melakukan kompetisi intelektual dengan makhluk manusia yang diciptakan dengan tanah liat kering itu (QS. Al-Isra’: 28-30; Shad : 71-73) di dalam memahami dunia ciptaan-Nya secara konseptual (lihat: Syafi’i Ma’arif, 1987: 92).

Kelebihan intelektual inilah yang membuat manusia lebih unggul dari makhluk lainnya. Tetapi ia pun juga bisa menjadi dekaden, bahkan lebih hina dari binatang, jika ia berbuat destruktif, melepaskan imannya (lihat : Qs. At-Tin : 5-6 dan QS. Al-A’raf : 179). Oleh sebab itu, sebagai makhluk lainnya maka ia dituntut agar dengan sadar bersedia memikul tanggung jawab moral bagi tegaknya suatu tatanan sosial politik yang adil dan beradab. Tuntutan itu tercermin dalam beberapa ayat Al-Qura’an surat An-Nahl : 90 ; Ali-Imron : 104, 114 ; Al-Hajj : 41 ; Al-Ahzab : 72.

Tatanan kehidupan yang bermoral ini hanyalah mungkin apabila iman sebagai prasyarat mutlaknya diterima dengan kritis dan sadar. Dalam sistem kepercayaan Islam, iman memberikan fondasi moral yang kokoh, dan di atas fondasi inilah manusia bisa menciptakan hidup secara imbang (Ma’arif. 1997: 93).

Dalam Islam, strategi pengembangan ilmu juga harus didasarkan pada perbaikan dan kelangsungan hidup manusia untuk menjadi khalifah di bumi (khalifah fil-ard) dengan tetap memegang amanah besar dari Allah SWT. Oleh sebab itu ilmu harus selalu berada dalam kontrol iman. Ilmu dan iman menjadi bagian integral dalam diri seseorang, sehingga dengan demikian yang terjadi adalah ilmu amaliah yang berada dalam jiwa yang imaniah. Dengan begitu, teknologi, yang lahir dari ilmu, akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Dan inilah yang mesti menjadi tanggung jawab umat Islam.

Banyak sekali Al-Qur’an menjelaskan mengenai hubungan ilmu, amal dan iman ini (lihat misalnya QS. Al-Baqarah : 82, 227 ; Ali-Imran : 57 ; An-Nisa’ : 57, 122 dan seterusnya). Dari banyak ayat Al-Qur’an ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa antara ilmu, amal dan iman menjadi sangat penting bagi umat manusia yang hendak menjadi khalifah di bumi ini. Dan amal baru bisa dinilai baik, saleh jika dipancarkan dari iman. Iman memberi dasar moral, amal saleh diwujudkan dalam bentuk konkret. Jadi terdapat hubungan yang organik antara iman dan amal salih.

2. Dasar Belajar dalam Islam

Sebagaimana pandangan hidup yang dipegang-teguhi oleh Umat Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul , maka sebagai dasar maupun filosofi bagi belajar adalah juga diderivasi dari dua sumber tersebut, yang merupakan dasar dan sumber bagi landasan berpijak yang amat fondamental.

Tentang dua sumber ajaran yang fundamental ini, Allah SWT, telah memberikan jaminan-Nya, yaitu jika benar-benar dipegang teguh, maka dijamin tidak akan pernah sesat dan kesasar, sebagaimana Nabi pernah bersabda :

“Susungguhnya telah aku tinggalkan untukmu dua perkara, jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tak akan sesat selamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Hadis tersebut juga dikukuhkan oleh banyak Al-Qur’an, antara lain surat Al-Ahzab: 71,  Allah berfirman :

“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia akan mencapai kebahagiaan yang tinggi”.

Ayat tersebut dengan tegas menandaskan, bahwa apabila manusia menata seluruh aktivitas kehidupannya dengan berpegang teguh kepada prinsip Al- Qur’an dan As-Sunnah, maka jaminan Allah adalah jalan yang lurus dan tidak akan kesasar, tetapi sebaliknya, jika manusia tidak menata seluruh kehidupannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul-Nya, maka kesempitan akan meliputi dirinya, sebagaimana firman-Nya :

“Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit”. (Qs. Thaha : 124).

Al-Qur’an dan Al-Hadis penuh dengan konsep dan tuntutan hidup manusia, begitu juga mengenai petunjuk ilmu pengetahuan. Jika manusia mau menggal kandungan isi Al-Qur’an, maka banyak diketemukan mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan ilmu (baik ilmu pengetahuan sosial maupun ilmu pengetahuan alam), Misalnya perhatikan surat Ali Imran : 190-191. Disini dipaparkan tentang kreasi penciptaan alam oleh Allah SWT. Yang harus direnungkan, demikian pula tentang kisah dan sejarah umat-umat di masa lampau.

            Sebagaimana dikatakan oleh Munawar Anis (1991), bahwa kata ilmu disebutkan dalam Al-Qur’an mencapai 800 kali, yang berarti hanya berada di bawah konsep tauhid tingkatan urgensinya. Belum lagi yang disebutkan dalam Al- Qur’an atau Sunnah Rasul.

2. Tujuan Belajar dalam Islam

Untuk membahas mengenai aspek-aspek moral dalam belajar, maka kita harus memulai dari pertanyaan: Apa tujuan belajar itu?  Untuk apa belajar itu? karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan filosofis yang menyangkut segi nilai atau aksiologis.

Dalam Islam, bahwa belajar itu memiliki dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika horizontal dan ketundukan vertikal. Dalam dimensi dialektika horizontal, belajar dalam Islam tak berbeda dengan belajar pada umumnya,  yang tak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi (menggali, memahami dan mengembangkan ayat-ayat Allah). Pengembangan dan pendekatan-Nya secara lebih dalam dan dekat, sebagai rab al-alamin. Dalam kaitan inilah, lalu pendidikan hati (qalb) sangat dituntut agar membawa manfaat yang besar bagi umat manusia dan juga lingkungannya, bukan kerusakan dan kezaliman, dan ini merupakan perwujudan dari ketundukan vertikal tadi.

Jadi, belajar di dalam perspektif Islam juga mencakup lingkup kognitif (domain cognitive), lingkup efektif (domain affective) dan lingkup psikomotor (domain motor-skill). Tiga ranah atau lingkup tersebut sering diungkapkan dengan istilah : Ilmu amaliah, amal ilmiah dalam jiwa imaniah.  Dengan demikian, untuk apa belajar Belajar adalah untuk memperoleh ilmu. Untuk apa ilmu? Untuk dikembangkan dan diamalkan. Untuk apa? Demi kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang aman sejahtera. Berdasarkan apa? Pertanggungjawaban moral.

3. Mengembangkan Ilmu

Kenyataan memang tidak dapat dipungkiri, bahwa ilmu selalu berkembang hingga sekarang. Dari tahapan pemikiran yang paling mitis hingga yang serupa rasional. Atau kalau meminjam terminologi Peursen, dari yang Mitis, ontologis, hingga fimgsional, sedang menurut Comte, dari yang mitis, metafisik  hingga positif.

Perkembangan industri di abad ke-18 yang telah menimbulkan berbagai implikasi sosial dan politik telah melahirkan cabang Ilmu yang disebut sosiologi. Penggunaan senjata nuklir sebagaimana pada abad 20, telah melahirkan ilmu baru yang disebut dengan polemogi, dan seterusnya entah apa lagi nanti namanya. Sofestikasi dari sains dan teknologi di era modern ini sesungguhnya juga merupakan elaborasi dari ilmu itu sendiri. Itulah sebabnya menurut Koento Wibisono, (1988: 8) begitu sulitnya mendifikasikan ilmu sekarang ini. Para penganut metodologi akan menyatakan, bahwa ilmu adalah sistem peryataan-peryataan yang dapat diuji kebenaran dan kesalahannya, sementara penganut heuristik akan menyatakan, bahwa ilmu adalah perkembangan lebih lanjut bakat manusia untuk menentukan orientasi terhadap lingkungannya dan menentukan sikap terhadapnya.

Dalam pada itu, ilmu juga sering dipahami dari dimensi fenomenal dan strukturalnya. Dari dimensi fenomenalnya ia merupakan masyarakat atau proses dan juga produk. Ilmu sebagai masyarakat menggambarkan adanya suatu kelompok elit yang di dalam kehidupannya sangat mematuhi kaidah-kaidah: universalisme, komunilisme, desintestedness dan skepsisme  yang teratur. Ilmu sebagai proses, menggambarkan aktivitas masyarakat ilmiah sebagai produk adalah merupakan hasil yang dicapai oleh kegiatan tadi yang berupa : dalil, teori, ajaran, karya-karya ilmiah beserta penerapanya yang berupa teknologi ( Koento Wibisono, 1988: 9) Dari dimensi strukturalnya, apa yang disebut sebagai ilmu adalah sesuatu yang menunjukkan adanya komponen-komponen: objek sasaran yang ingin diketahui yang terus menerus diteliti dan dipertanyakan tanpa mengenal henti.

Kini kita harus berfikir terus dan berupaya untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu, lebih-lebih ilmu sebagai proses. Bagaimana formulasi-formulasi yang telah ditunjukan oleh para para pendahulu kita itu diaktualisasikan untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut.

Dalam konteks Islam, ketertinggalan kita di bidang sains dan teknologi adalah persoalan yang sudah terbuka mata. Padahal, seperti yang dikatakan oleh Ahmad Anees (19-91), bahwa salah satu gagasan yang paling canggih, komperehensif dan mendalam yang dapat ditemukan dalam Al- Qur’an adalah konsep’ilm, yang tingkat urgensinya hanya di bawah konsep tauhid. Pentingnya konsep ilmu tersebut terungkap didalam kenyataan, bahwa Al-Qur’an menyebut kata akar dan kata keturunannya sekitar 800 kali. Konsep ilmu ini juga membedakan pandangan-dunia (world-view) Islam dari pandang ideologi lainnya: tidak ada pandangan dunia lain yang membuat pencarian ilmu sebagai kewajiban individual dan sosial serta memberikan arti moral dan religius serta ibadah. Karena itu ilmu berfungsi sebagai tonggak kebudayaan dan peradaban muslim yang ampuh. Tidak ada peradaban lain dalam sejarah yang memiliki konsep “pengetahuan” dengan etos (ruh) yang paling tinggi sebagaimana Islam. Ilmu memang mengandung unsur dari apa yang selama ini kita pahami sekarang sebagai pengetahuan, tetapi ia juga mengandung komponen-komponen dari apa yang secara tradisional dideskripsikan sebagai hikmah. Disamping itu, ilmu dalam Islam juga memiliki aspek ibadah, yaitu bahwa menuntut ilmu merupakan bentuk ibadah. Dari sisi lain, ia juga memiliki tujuan untuk menjadi kholifah fil-ard, manusia yang diserahi amanah Tuhan untuk mengelola dan memelihara alam, oleh sebab itu ia pun memiliki tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Konsep Al-Qur’an tentang akhirat membatasi ilmu agar selalu menjamin relevansi, kegayutan moral sosialnya. Dimensi-dimensi ilmu tersebut dari sekian banyak dimensi lainnya melukiskan sifat kecanggihan dan komplesitas dari Islam tentang ilmu itu sendiri (lihat, Anwar Anees, 1991:93).

Dengan demikian, strategi pengembangan ilmu harus mengintensifkan dan mengekstensifkan belajar atau pendidikan itu sendiri, dengan berbagai sarana dan presaranannya. Sebab dalam Islam, pendidikan dan belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda dan dilakukan sepanjang masa). Sebagai sabda Nabi : “Mencari ilmu itu waji bagi setiap muslim”.

Sebagaimana disinggung di depan, bahwa belajar dalam Islam adalah untuk memperoleh ilmu, mengembangkan dan mengamalkan demi kepentingan kesejahteraan umat manusia. Atau kalau dirumuskan secara simpel, tujuan belajar adalah : Untuk mengabdikan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :

“Dan tidak aku jadikan manusia kecuali  hanya untuk menyembah kepada-Ku”. (QS. Az-Zariyat : 56).

Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4. Aspek Moral dalam Belajar

Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya juga harus diderivasi dari norma-norma Islam tersebut, atau wahyu.

Seperti yang dijelaskan oleh Sayid Abul A’la Al-Maududi (lihat,  M. Arifin, 1991:142), bahwa sistem moral Islam ini memiliki ciri-ciri yang komprehensif, yang berbeda dengan sistem moral lainnya. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Keridaan Allah merupakan tujuan hidup Muslim. Dan keridaan Allah itu menjadi jalan bagi evolusi moral kemanusiaan. Sikap mencari rida Allah memberikan sanksi moral untuk mencintai dan takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar, Dengan dilandasi dengan iman kepada Allah dan hari kiamat, manusia terdorong untuk mengikuti bimbingan moral secara sungguh-sungguh dan jujur, seraya berserah diri secara iklas kepada Allah SWT ;
  2. Semua lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan diatas moral Islami sehingga moral Islam tersebut berkuasa penuh atas semua urusan kehidupan manusia, sedang hawa nafsu dan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan menguasai kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseimbangan dalam semua aspek kehidupan manusia: indivudual maupun sosial.

Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdasarkan norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang ma’ruf dan menjauhi perbuatan munkar, bahkan memberantas kejahatan dalam segala bentuknya. Beberapa hal di atas di dasarkan atas dalil Al-Qur’an antara lain surat Ali- Imran : 110 :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah….” dan juga QS. Al-Hajj : 41).

Dengan demikian, sistem moral dalam Islam berpusat kepada sikap mencari rida Allah, mengendalikan nafsu negatif dan kemampuan berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan keji dan jahat dan pribadi yang berkhlaq mulia.

Dalam pandangan Islam, kecenderungan teosentris adalah merupakan sesuatu yang harus ada, yaitu bahwa Allah adalah Zat Yang Wujud, Yang Maha Mengetahui dan segala sumber dari ilmu pengetahuan. Ini sangat berbeda dengan konsep barat yang sekuler. Karena sumber pengetahuan dalam Islam adalah kesadaran Yang Kudus pula (Seyyed Hossein Nasr, 1970: 22 dan lihat pula C.A Qadir, 1989: 5).

Seperti yang dijelaskan di depan, bahwa menurut teori kependidikan yang berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Waston abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behavviorsme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.

Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam (naturo-centris): jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini, bahwa kenyataan/ realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafikan nilai-nilai manusia.

Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial.

Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).

Nilai-nilai pendidikan menurut kaum idealisme adalah pencetusan dari sususan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekwensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?

Jadi, dalam kosepsi Islam, belajar itu diajarkan mengenai masalah pahala, dosa; sorga dan neraka. Oleh sebab itu setiap perbuatan haruslah dapat dipertanggung jawabkan di sisi Tuhan, sebagaimana firman-Nya :

“…. Ia mendapat pahala ( dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa   (dari kejahatan) yang diperbuatnya pula ……..”   (QS. Al- Baqarah : 286).

Daya pancar dari sistem nilai yang menerangi moralitas manusia menurut pandangan Islam adalah bersumber dari Allah yang digambarkan dalam surat Al-Maidah : 115-116:

“….Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah kitab yang menerangi”. Dengan kitab itulah Allah menjuluki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya kejalan keselamatan, dan, (dengan kitab-kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.

 “Dan barang siapa beriman kepada Allah, Allah akan menunjuki hatinya”. (QS. At-Taghabun : 11)

Beberapa keterangan di atas semakin menunjukkan kejelasan kepada kita, bahwa konsep kependidikan dan kejelasan kepada kita, bahwa konsep kependidikan dan belajar dalam Islam sangat berbeda dengan konsep pendidikan dan belajar menurut teori-teori Barat yang sekuler lebih bersifat profan dan antroposentrik. Sementara konsep Islam sangat integral, disamping profan  juga transendental dan teosentrik yang menempatkan posisi manusia pada porsi yang balance, Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabannar,

Penutup dan Kesimpulan

Belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut: pemahaman, pendengaran dan peniruan untuk memperoleh suatu pengalaman atau ilmu baru. Lingkup belajar mencakup : kognisi, afeksi dan psikomotor.

Dalam Islam, belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut tiga ranah di atas (kognisi, afeksi dan psikomotor) berdasarkan Al-Qur’an  dan As-Sunnah. Dalam Islam, belajar merupakan kewajiban setiap muslim ( baik laki-laki maupun perempuan). Dan hasil dari belajar (ilmu), harus diamalkan baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Pengalaman ilmu harus dilandasi dengan iman dan nilai-nilai moral. Oleh sebab itu, dalam konsep Islam, belajar memiliki dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika horizontal maupun ketundukan vertikal.

Dalam dimensi dialektika horizontal, belajar dalam Islam tak berbeda dengan belajar pada umumnya, yang tidak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi (menggali, memahami dan mengembangkan) intelektual ke arah pengenalan dan pendekatan diri pada Tuhan Yang Maha Agung (divine-unity). Ini juga berarti, bahwa belajar dalam Islam bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya dengan motivasi ibadah (lihat, QS. Az-Zariayat : 56). Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggungjawabkan secara moral kepada Allah SWT.      ( Lihat,  QS Al-Baqarah : 286).

Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya pun harus di bangun dan bersumber dari norma-norma Islam tersebut (wahyu).

Filsafat pendidikan Islam berbeda dengan filsafat pendidikan Barat yang sekuralistik, yang meletakkan sanksi moral terletak pada susunan dunia moral itu sendiri, sementara dalam Islam sanksi moral terletak pada siksa Tuhan di kelak kemudian, demikian pula balasan kebaikannya. Dengan demikian konsep pendidikan dan belajar dalam Islam bercorak transendental dan teosentris  yang menempatkan manusia pada posisi yang seimbang dan serasi.

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Al-Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr.tt.

Bigge. Morris, L, Learning Theories For Teacher, New York Harper&Row, 1982.

Blom, Benjamin S, et. al, Taxonomy of Education Obyektive The Classification           of Education Goal, New York, David McKey, 1974.

C.A. Qadir, Filsafat pendidikan  : Sistem Dan Metode,  Yogyakarta, Andi ofset, 1988.

Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Depag RI, 1990.

Hamad Syafi’i  Maarif, “Posisi Umat Islam Terhadap Perkembangan Teknologi Modern”, dalam Ahmad  Busyairi dan Azharuddin Sahil (peny.), Tantangan Pendidkan Islam Yogyakarta, LPM UII, 1987.

Imam Barnadib, Filsafat pendidkan: Sistem Dan Metode, Yogyakarta, Andi ofset, 1988

Koentowibisono, Beberapa Hal Tentang Filsafat Ilmu, Sebuah Sketsa Umum Sebagai Pengantar Untuk Memahami Hakekat Ilmu dan Kemungkinan Pengembangannya, Yogyakarta, IKIP PGRI,1988.

M. Arifin, Filsafat Pendiddikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara 1991.

Munawar Ahmad Anees, “Menghidupkan Kembali Ilmu” dalam AL-HIKMAH, jurnal studi-studi Islam, Juli Oktober 1991.

Pujowijatno, Pembimbing Kearah Filsafat, Jakarta, PT. Pembangunan, 1963.

Salim Bahreisy, Terjemah Riyadh al-Shalihin, al-Maarif Bandung, 1978,

Seyyed Hoesen Nasr, Scinence and Civilization in Islam The New American Library, 1970.

Sumadi Suryabrata, Proses Belajar mengajar Di Perguruan Tinggi, Yogyakarta, Andi Ofset, 1983.

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Pengertian Belajar 

Dalam konteks pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya.

Bahwa setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Sumadi Suryabrata (1983:5) menjelaskan pengertian belajar dengan

mengidentifikasikan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu:

 “Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar (dalam arti behavioral changes) baik aktual maupun potensial; perubahan itu pada pokoknya adalah diperolehnya kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama; perubahan itu terjadi karena usaha”.

Menurut Bigge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengalaman dalam situasi khusus.

Bertolak dari pemahaman di atas dapatlah ditegaskan, bahwa belajar merupakan perbuatan tingkah laku dan penampilah dengan serangkaian aktivitas misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian, belajar juga bisa dilihat secara makro dan mikro, luas dan khusus. Dalam arti makro, belajar dapat diartikan sebagai aktivitas ruhani-jasmani menuju perkembangan pribadi yang utuh.

Seperti yang dijelaskan oleh Bloom (1979), bahwa belajar mencakup tiga ruang lingkup, yaitu cognitive domain yang berkaitan dengan pengetahuan hapalan dan pengembangan intelektual, affective domain, yang berkaitan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan apresiasi dan penyesuaian, psychomotor domain, yang berkaitan dengan prilaku yang menuntut koordinasi syaraf.

II. Teori-teori Belajar

Banyak para pakar membuat teori atau paradigma mengenai belajar ataupun pendidikan, dan mereka saling berbeda dalam merumuskan teori atau konsep-konsep tersebut. Diversifikasi pemahaman itu dapat kita pahami jika kita lihat dari perspektif filosofisnya. Dan memang  patut diketahui bahwa filsafat merupakan teori umum dan landasan bagi pendidikan itu sendiri, oleh sebab itu hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan (condisio sin quanon).

Sebagaimana aliran essensialisme (yang dibentuk dari idealisme dan realisme), memperhatikan pendidikan dari sisi nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut diderivasi dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman renaisance, sebagai pangkal timbulnya (Barnadib, 1988: 38).

Menurut idealisme, bila seorang belajar, pada tahap awal adalah berarti ia memahami “aku”–nya sendiri, lantas bergerak keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikro kosmos menuju makro-kosmos. Ini seperti juga yang dijelaskan oleh Kant (1942-1804), bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia lewat indera memerlukan unsur apriori yang tidak diketahui oleh pengalaman terlebih dahulu.

Bila seseorang berhadapan dengan benda-benda, tidaklah berarti bahwa mereka mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu, tetapi ruang dan waktu itu sudah ada dalam ide atau budi manusia (innate ideas) sebelum ada pengalaman dan pengamatan. Jadi, apriori yang terarah itu bukanlah budi pada benda, melainkan benda-benda itulah yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan berpikir di atas, belajar dapat didifinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri (Pudjawijatno, 1964: 120-121).

Pandangan realisme mengenai belajar tercermin dalam pandangan atau aliran psikologi behaviorisme, asosiasionisme atau koneksionisme. A.L. Thorndike, pendukung koneksionisme misalnya menyatakan, bahwa belajar adalah berbagai kombinasi. Suatu bagian mental adalah menerima atau merasa, sedangkan bagian fisik adalah stimulus atau respon. Secara khusus Thorndike melihat bahwa belajar adalah suatu proses hubungan mental dengan fisik dan mental dengan mental atau fisik dengan fisik. Teori Thorndike ini juga dikenal dengan teori S – R bond  ( lihat Bigge, 1982:52-53).

Seorang filsuf dan sosiolog, L. Finney menjelaskan, bahwa mental adalah kondisi rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang ditentukan oleh peraturan alam (determinsm). Ini berarti bahwa pendidikan adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, belajar adalah menerima dengan sesungguhnya nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan oleh angkatan berikutnya. Pandangan realisme ini menceriminkan adanya dua jenis determinisme, yaitu determinisme mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada. Sedangkan dengan determinisme terbatas adalah memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.

Tuntutan tertinggi  dalam belajar menurut perenialisme adalah latihan dan disiplin mental. Maka teori dan praktek pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut. Sebagai makhluk, manusia memiliki kelebihan ketimbang yang lainnya karena anugerah “rasio”-nya. Rasionalitas ini merupakan sifat umum manusia dan merupakan evidensi diri. Konsep dasar tentang kebebasan manusia juga lahir dari sifat rasional manusia. Dengan demikian manusia dapat menghilangkan belenggu penindasan terhadap dirinya dan mampu menjadi merdeka. Kemerdekaan menjadi tujuan dan dilaksanakan di dalam pendidikan dan belajar. Oleh sebab itu, belajar hakikatnya adalah belajar berpikir dan menggunakan rasio tersebut.

Menurut perenialisme, belajar adalah bertujuan agar anak didik mengalami perkembangan kepribadian yang utuh, integral dan seimbang sesuai dengan pandangannya, bahwa manusia adalah bersifat psiko-somatik (Barnadib, 1988: 77).

Menurut perenialisme, belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu belajar karena pengajaran dan belajar karena penemuan. Belajar karena pengajaran adalah dengan cara guru/ pendidik memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada subyek didik, dengan menunjukkan dan menafsirkan implikasi dari ilmu pengetahuan yang diberikan. Sedangkan belajar karena penemuan adalah subyek didik diharapkan dapat belajar atas kemampuannya sendiri (belajar mandiri).

Pandangan di atas memang bersifat humanistik, yang memusatkan perhatian pada interes dan nilai-nilai pada manusia. Teori humanisme klasik beranggapan, bahwa pikiran manusia adalah perantara aktif di dalam hubungan antara manusia dan lingkungannya, dan secara moral pikiran manusia mempunyai sifat dasar netral sejak lahir (Bigge, 1982: 26). Sifat netral tersebut maksudnya, bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat tidak jelek dan juga tidak baik, tetapi ia potensial untuk menjadi buruk atau baik (tidak ada hubunganya dengan pembawaan lahirnya) (Bigge, 1982: 16).

Pandangan di atas didasari oleh konsep moral manusia, yaitu, bahwa substansi (pikir manusia adalah netral-aktif, yang harus dikembangkan lewat latihan dan disiplin mental. Dalam hal ini sebagai aspek yang mendasar adalah reason  yang menjadi manusia mampu mencapai pengertian tentang kebutuhan-kebutuhan dan mampu menyelaraskan antara tindakan, pengertian serta mampu mengkomunikasikan pengertian-pengertian tersebut kepada setiap anggota di dalam kelompoknya. Oleh sebab itu pula, maka pikiran manusia dengan sifat dasarnya yang demikian itu (netral-active) jika dilatih secara tepat, maka pontensi pembawa lahir akan mencuat keluar (Bigge, 1982: 26).

Oleh humanisme klasik, belajar dipandang sebagai proses disiplin diri yang tegas, terdiri dari perkembangan yang harmonis antara semua kekuatan di dalam diri manusia, Hingga tidak satu bagian pun yang berkembang melebihi yang lain. Dengan demikian, fungsi seorang guru adalah untuk membantu para siswa mengenali kembali apa yang telah ada dalam pikir mereka. Metode ini juga sekedar hanya menarik informasi dari para siswa dengan mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dengan ketrampilan penuh. Metode ini didasarkan pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan adalah pembawaan, yang tak akan muncul tanpa bantuan tenaga ahli (Bigge, 1982: 28).

Learning through unfoldment atau disebut juga naturalisme-romantic  mengatakan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan aktif (good-active). Melalui alam anak akan berkembang secara wajar. Biarkan anak berkembang sendiri sesuai dengan kodrat alam. Anak harus dijauhkan dari paksaan. Belajar sendiri sesuai dengan minatnya, ia  bebas menentukan perbuatannya dan sekaligus bertanggung jawab atas tindakannya. Teori ini dikembangkan oleh J.J. Rousseu, kemudian disusul oleh pembaharu pendidikan dari Swiss, Pestlozzi dan Froebel seorang filosof dari Jerman (Bigge, 1982: 33-34).

Rousseu berpendapat, bahwa secara heriditi manusia adalah baik dan mempunyai kemampuan yang perlu dikembangkan secara alamiah. Dia beranggapan bahwa lingkungan yang jelek mampu membuat orang menjadi jelek pula, sebab lingkungan sosial bukanlah alamiah. Rousseu memberi saran, agar guru memberikan kebebasan pada siswa untuk mandiri, sehingga memungkinkan mereka berkembang secara wajar dan alamiah, baik perasaan, naluri maupun kesadaran mereka.

Disamping  naturalisme-romantic, terdapat pula pandangan appersepsi, yang merupakan asosianisme mental dinamis yang didasarkan pada pemikiran, bahwa tidak ada ide-ide pembawaan lain. Segala sesuatu yang diketahui orang datangnya dari luar dirinya. Asosionisme merupakan teori psikologi umum yang di klasifikasikan menjadi dua bagian : pertama, Asosiasionisme mentalistik awal, yaitu appersepsi yang berfokus pada ide-ide dalam pikiran; kedua, asosiasinosme stimulus-respon fisikalistik yang lebih modern (Bigge, 1982: 36).

Perkembangana appersepsi didasari oleh pemikiran Aristoteles pada abad ke-empat S.S. Kemudian pada abad ke 17 ditentang oleh John Locke dengan mengatakan bahwa pikiran seseorang pasti pertama-tama diperoleh dari indera-inderanya. Teori John Locke ini sangat populer dengan teori Tabolarasa. Konsep moral appersionisme  adalah, bahwa sifat asli manusia adalah tidak baik dan tidak pula jelek dipandang dari sisi moral dan tidak pula aktif dipandang dari sisi aksi. Dibaliknya sifat asli manusia dipandang sebagai netral dari aspek moral dan pasif dari aspek aksi. Dengan demikian, pikiran merupakan produk dari pengalaman-pengalaman kehidupan (Bigge, 1982: 37).

III. Prinsip-prinsip Belajar

Seperti yang dijelaskan di depan, bahwa menurut teori kependidikan yang berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Watson abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behavviorsme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.

Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam (naturo-centris): jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini mengatakan, bahwa kenyataan/ realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafikan nilai-nilai manusia.

Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial.

Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).

Nilai-nilai pendidikan menurut kaum idealisme adalah pencetusan dari sususan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekwensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?

Belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut: pemahaman, pendengaran dan peniruan untuk memperoleh suatu pengalaman atau ilmu baru. Lingkup belajar mencakup : kognisi, afeksi dan psikomotor.

Disamping itu terdapat sejumlah teori belajar yang sudah dikenal dalam Pendidikan, yaitu:
  1. Teori Ilmu Jiwa Daya
  2. Teori Tanggapan
  3. Teori Asosiasi Thorndike
  4. Teori Trial and Error
  5. Teori Medan Lewin
  6. Teori Gestalt
  7. Teori Behaviorisme
  8. Teori J. Bruner
  9. Teori Piaget
  10. Teori Gagne

DAFTAR  PUSTAKA

Bigge. Morris, L, Learning Theories For Teachers, New York Harper&Row, 1982.

Bloom, Benjamin S, et. al, Taxonomy of Education Obyektive The Classification           of Education Goal, New York, David McKey, 1974.

Imam Barnadib, Filsafat pendidkan: Sistem Dan Metode, Yogyakarta, Andi ofset, 1988

Koentowibisono, Beberapa Hal Tentang Filsafat Ilmu, Sebuah Sketsa Umum Sebagai Pengantar Untuk Memahami Hakekat Ilmu dan Kemungkinan Pengembangannya, Yogyakarta, IKIP PGRI,1988.

Pujowijatno, Pembimbing Kearah Filsafat, Jakarta, PT. Pembangunan, 1963.

Sumadi Suryabrata, Proses Belajar mengajar Di Perguruan Tinggi, Yogyakarta, Andi Ofset, 1983.

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Pengertian Belajar 

Dalam konteks pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya.

Bahwa setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Sumadi Suryabrata (1983:5) menjelaskan pengertian belajar dengan

mengidentifikasikan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu:

“Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar (dalam arti behavioral changes) baik aktual maupun potensial; perubahan itu pada pokoknya adalah diperolehnya kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama; perubahan itu terjadi karena usaha”.

 

Menurut Begge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi khusus.

Bertolak dari pemahaman di atas dapatlah ditegaskan, bahwa belajar senantiasa  merupakan perbuatan tingkah laku dan penampilah dengan serangkaian aktivitas misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian, belajar juga bisa dilihat secara makro dan mikro, luas dan khusus. Dalam arti makro, luas, belajar dapat diartikan sebagai aktivitas ruhani-jasmani menuju perkembangan pribadi yang utuh.

Seperti yang dijelaskan oleh Bloom (1979), bahwa belajar itu mencakup tiga ruang lingkup, yaitu cognitive domain yang berkaitan dengan pengetahuan hapalan dan pengembangan intelektual, affective domain, yang berkaitan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan apresiasi dan penyesuaian, psychomotor domain, yang berkaitan dengan prilaku yang menuntut koordinasi syaraf.

 

II. Teori-teori Belajar

Banyak para pakar membuat teori atau paradigma mengenai belajar ataupun pendidikan, dan mereka saling berbeda di dalam merumuskan teori atau konsep-konsep itu. Diversifikasi pemahaman itu dapat kita pahami jika kita lihat dari perspektif filosofisnya. Dan memang  patut diketahui bahwa filsafat merupakan teori umum dan landasan bagi pendidikan itu sendiri, oleh sebab itu hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan (condisio sin quanon).

Sebagaimana aliran essensialisme (yang dibentuk dari idealisme dan realisme), memperhatikan pendidikan dari sisi nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut diderivasi dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman renaisance, sebagai pangkal timbulnya (Barnadib, 1988: 38).

Menurut idealisme, bila seorang belajar, pada tahap awal adalah berarti ia memahami “aku”–nya sendiri, lantas bergerak keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikro kosmos menuju makro-kosmos. Ini seperti juga yang dijelaskan oleh Kant (1942-1804), bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia lewat indera memerlukan unsur apriori yang tidak diketahui oleh pengalaman terlebih dahulu.

Bila seseorang berhadapan dengan benda-benda, tidaklah berarti bahwa mereka mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu, tetapi ruang dan waktu itu sudah ada dalam ide atau budi manusia (innate ideas) sebelum ada pengalaman dan pengamatan. Jadi, apriori yang terarah itu bukanlah budi kepada benda, melainkan benda-benda itulah yang terarah kepada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan berpikir diatas, belajar dapat didifinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri (Pudjawijatno, 1964: 120-121).

Pandangan realisme mengenai belajar tercermin dalam pandangan atau aliran psikologi behaviorisme, asosiasionisme atau koneksionisme. A.L. Thorndike, pendukung koneksionisme misalnya menyatakan, bahwa belajar adalah berbagai kombinasi. Suatu bagian mental adalah menerima atau merasa, sedangkan bagian fisik adalah suatu stimulus atau respon. Secara khusus Thorndike melihat bahwa belajar adalah suatu proses hubungan mental dan fisik dan mental dengan mental atau fisik dengan fisik. Teori Thorndike ini juga dikenal dengan teori S – R bond  ( lihat Bigge, 1982:52-53).

Seorang filsuf dan sosiolog, L. Finney menjelaskan, bahwa mental adalah kondisi rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang ditentukan oleh peraturan alam (determinsm). Ini berarti bahwa pendidikan adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, belajar adalah menerima dengan sesungguhnya nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan oleh angkatan berikutnya. Pandangan realisme ini menceriminkan adanya dua jenis determinisme, yaitu determinisme mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada. Sedangkan dengan determinisme terbatas adalah memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.

Tuntutan tertinggi  dalam belajar menurut perenialisme adalah latihan dan disiplin mental. Maka teori dan praktek pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut. Sebagai makhluk, manusia memiliki kelebihan ketimbang yang lainnya karena anugerah “rasio”-nya. Rasionalitas ini merupakan sifat umum manusia dan merupakan evidensi diri. Konsep dasar tentang kebebasan manusia juga lahir dari sifat rasional manusia. Dengan demikian manusia dapat menghilangkan belenggu penindasan terhadap dirinya dan mampu menjadi merdeka. Kemerdekaan menjadi tujuan dan dilaksanakan di dalam pendidikan dan belajar itu. Oleh sebab itu, belajar hakekatnya adalah belajar berpikir dan menggunakan rasio tersebut.

Menurut perenialisme, belajar adalah bertujuan agar anak didik mengalami perkembangan kepribadian yang utuh, integral dan seimbang sesuai dengan pandangannya, bahwa manusia adalah bersifat psiko-somatik (Barnadib, 1988: 77).

Menurut perenialisme, belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu belajar karena pengajaran dan belajar karena penemuan. Belajar karena pengajaran adalah dengan cara guru/ pendidik memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada subyek didik, dengan menunjukkan dan menafsirkan implikasi dari ilmu pengetahuan yang diberikan. Sedangkan belajar karena penemuan adalah subyek didik diharapkan dapat belajar atas kemampuannya sendiri (belajar mandiri ).

Pandangan di atas memang bersifat humanistik, yang memusatkan perhatian pada interes dan nilai-nilai kepada manusia. Teori humanisme klasik beranggapan, bahwa pikiran manusia adalah perantara aktif di dalam hubungan antara manusia dan lingkungannya, dan secara moral pikiran manusia mempunyai sifat dasar netral sejak lahir (Bigge, 1982: 26). Sifat netral tersebut maksudnya, bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat tidak jelek dan juga tidak baik, tetapi ia potensial untuk menjadi buruk atau baik (tidak ada hubunganya dengan pembawaan lahirnya) (Bigge, 1982: 16). Pandangan di atas didasari oleh konsep moral manusia, yaitu, bahwa substansi (pikir manusia adalah netral-aktif, yang harus dikembangkan lewat latihan dan disiplin mental. Dalam hal ini sebagai aspek yang mendasar adalah reason  yang menjadi manusia mampu mencapai pengertian tentang kebutuhan-kebutuhan dan mampu menyelaraskan antara tindakan, pengertian serta mampu mengkomunikasikan pengertian-pengertian tersebut kepada setiap anggota di dalam kelompoknya. Oleh sebab itu pula, maka pikiran manusia dengan sifat dasarnya yang demikian itu (netral- active) jika dilatih secara tepat, maka pontensi pembawa lahir akan mencuat keluar (Bigge, 1982: 26).

Oleh humanisme klasik, belajar dipandang sebagai proses disiplin diri yang tegas, terdiri dari perkembangan yang harmonis antara semua kekuatan di dalam diri manusia, Hingga tidak satu bagian pun yang berkembang melebihi yang lain. Dengan demikian, fungsi seorang guru adalah untuk membantu para siswa mengenali kembali apa yang telah ada dalam pikir mereka. Metode ini juga sekedar hanya menarik informasi dari para siswa dengan mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dengan ketrampilan penuh. Metode ini didasarkan pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan adalah pembawaan, yang tak akan muncul tanpa bantuan tenaga ahli (Bigge, 1982: 28).

Learning through unfoldment atau disebut juga naturalisme-romantic  mengatakan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan aktif (good-active). Melalui alam anak akan berkembang secara wajar. Biarkan anak berkembang sendiri sesuai dengan kodrat alam. Anak harus dijauhkan dari paksaan. Belajar sendiri sesuai dengan minatnya, ia  bebas menentukan perbuatannya dan sekaligus bertanggung jawab atas tindakannya. Teori ini dikembangkan oleh J.J. Rousseu, kemudian disusul oleh pembaharu pendidikan dari Swiss, Pestlozzi dan Froebel seorang filosof dari Jerman (Bigge, 1982: 33-34).

Rousseu berpendapat, bahwa secara heriditi manusia adalah baik dan mempunyai kemampuan yang perlu dikembangkan secara alamiah. Dia beranggapan bahwa lingkungan yang jelek mampu membuat orang menjadi jelek pula, sebab lingkungan sosial bukanlah alamiah. Rousseu memberi saran, agar guru memberikan kebebasan pada siswa untuk mandiri, sehingga memungkinkan mereka berkembang secara wajar dan alamiah, baik perasaan, naluri maupun kesadaran mereka.

Disamping  naturalisme-romantic, terdapat pula pandangan appersepsi, yang merupakan asosianisme mental dinamis yang didasarkan pada pemikiran, bahwa tidak ada ide-ide pembawaan lain. Segala sesuatu yang diketahui orang datangnya dari luar dirinya. Asosionisme merupakan teori psikologi umum yang di klasifikasikan menjadi dua bagian : pertama, Asosiasionisme mentalistik awal, yaitu appersepsi yang berfokus pada ide-ide dalam pikiran; kedua, asosiasinosme stimulus-respon fisikalistik yang lebih modern (Bigge, 1982: 36).

Perkembangana appersepsi didasari oleh pemikiran Aristoteles pada abad ke-empat S.S. Kemudian pada abad ke 17 ditentang oleh John Locke dengan mengatakan, bahwa pikiran tidak hanya dipegang oleh seseorang pasti pertama-tama diperoleh dari indera-inderanya. Teori John Locke ini sangat populer dengan teori Tabolarasa. Konsep moral appersionisme  adalah, bahwa sifat asli manusia adalah tidak baik dan tidak pula jelek dipandang dari sisi moral dan tidak pula aktif dipandang dari sisi aksi. Dibaliknya sifat asli manusia dipandang sebagai netral dari aspek moral dan pasif dari aspek aksi. Dengan demikian, pikiran merupakan produk dari pengalaman-pengalaman kehidupan (Bigge, 1982: 37).

 

III. Prinsip-prinsip Belajar

Seperti yang dijelaskan di depan, bahwa menurut teori kependidikan yang berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Waston abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behavviorsme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.

Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam (naturo-centris): jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini, bahwa kenyataan/ realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafikan nilai-nilai manusia.

Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial.

Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).

Nilai-nilai pendidikan menurut kaum idealisme adalah pencetusan dari sususan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekwensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?

Belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut: pemahaman, pendengaran dan peniruan untuk memperoleh suatu pengalaman atau ilmu baru. Lingkup belajar mencakup : kognisi, afeksi dan psikomotor.

 

 

Agama Islam-SD

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

 

BAB I .           Pendahuluan

A.        Rasional                                                                                                                1

 

B.        Pengertian                                                                                                 2

 

C.        Fungsi dan Tujuan                                                                                    2

 

D.        Ruang Lingkup                                                                                                     2

 

E.         Standar Kompetensi Lintas Kurikulum                                                                3

 

F.         Standar Kompetensi Rumpun Pelajaran                                                               3

 

G.        Standar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran                                                          4

Rambu-rambu                                                                                           5

 

Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan Informasi                                             6

 

 

BAB II.   STANDAR KOMPETENSI KELAS                                                                       8               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

Dengan munculnya berbagai perubahan yang sangat cepat pada hampir semua aspek dan berkembangan paradigma baru dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, di awal milenium ketiga ini telah dikembangkan kurikulum Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar (SD) secara nasional, yaitu kurikulum yang ditandai dengan ciri-ciri, antara lain:

Lebih menitikberatkan pencapaian target kompetensi (attainment targets) dari pada penguasaan  materi;

Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;

Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

 

Walaupun kurikulum nasional ini lebih global dibanding kurikulum 1994, model ini diharapkan lebih membantu guru, karena dilengkapi dengan pencapaian target yang jelas, materi standar, standar hasil belajar siswa, dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. Meskipun demikian, keadaan sumber daya pendidikan di Indonesia sangat memungkinkan munculnya keragaman pemahaman terhadap standar nasioanl, yang dampaknya akan mempengaruhi pencapaian standar nasional kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Untuk itu perlu adanya penjabaran tentang kurikulum yang berbasis pada kompetensi dasar yang  diharapkan dapat lebih menjamin tercapaianya kompetensi dasar nasional mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

 

 

A.   RASIONAL

 

Kehidupan dan peradaban manusia di awal milenium ketiga ini mengalami banyak perubahan. Dalam merespon fenomena itu, manusia berpacu mengembangkan pendidikan baik di bidang ilmu-ilmu sosial, ilmu alam, ilmu pasti maupun ilmu-ilmu terapan. Namun bersamaan dengan itu  muncul sejumlah krisis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya krisis politik, ekonomi, sosial, hukum, etnis, agama, golongan dan ras. Akibatnya, peranan serta efektivitas pendidikan agama di sekolah sebagai pemberi nilai spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan asumsi jika pendidikan agama dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakatpun akan lebih baik.

 

Kenyataannya, seolah-olah pendidikan agama dianggap kurang memberikan kontribusi ke arah itu. Setelah ditelusuri, pendidikan agama menghadapi beberapa kendala, antara lain; waktu yang disediakan hanya dua jam pelajaran dengan muatan materi yang begitu padat dan memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan keperibadian yang berbeda jauh dengan tuntutan terhadap mata pelajaran lainnya.

 

Memang tidak adil menimpakan tanggung jawab atas munculnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu kepada pendidikan agama di sekolah, sebab pendidikan agama di sekolah bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian siswa. Apalagi dalam pelaksanaan pendidikan agama tersebut masih terdapat kelemahan-kelemahan yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terus menerus. Kelemahan lain, materi pendidikan agama Islam,  termasuk bahan ajar akhlak, lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Kendala lain adalah kurangnya keikutsertaan  guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai pendidikan agama dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua siswa.

 

Dalam kurikulum 1975, 1984, dan 1994, target yang harus dicapai (attainment target) dicantumkan dalam tujuan pembelajaran umum. Hal ini kurang memberi kejelasan tentang kemampuan yang harus dikembangkan. Atas dasar teori dan prinsip-prinsip   pengembangan   kurikulum   yang   dipraktekkan   di   berbagai   negara  seperti Singapura, Australia, Inggris,

dan Amerika; juga didorong oleh visi, misi, dan paradigma baru Pendidikan Agama Islam, maka penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Islam kini perlu dilakukan dengan berbasis kompetensi dasar (basic competency).

 

Kurikulum pendidikan agama tahun 1994 juga lebih menekankan materi pokok dan lebih bersifat memaksakan target bahan ajar sehingga tingkat kemampuan peserta didik terabaikan. Hal ini kurang sesuai dengan prinsip pendidikan yang menekankan pengembangan peserta didik lewat fenomena bakat, minat serta dukungan sumber daya lingkungan.

 

Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif. Kurang mengakomodasikan keragaman kebutuhan daerah. Meski secara nasional kebutuhan keberagamaan siswa SD pada dasarnya tidak berbeda. Dengan pertimbangan ini, maka disusun kurikulum nasional Pendidikan Agama Islam SD yang berbasis pada kompetensi  dasar ( basic competency) yang mencerminkan kebutuhan keberagamaan siswa SD secara nasional. Standar ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum pendidikan agama Islam SD sesuai dengan kebutuhan daerah/sekolah.

 

B.  PENGERTIAN

 

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,  memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar ummat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

 

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu keseluruhannya terliput dalam lingkup: Al Qur an dan Hadits, Keimanan, Akhlak, dan Fiqh/Ibadah. Sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun minannas).

 

C.  FUNGSI DAN TUJUAN

 

a.  Fungsi

Pendidikan Agama Islam di SD berfungsi untuk : (a) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; (b) Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga; (c) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui pendidikan agama Islam; (d) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari; (e) Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif budaya asing yang akan di hadapinya sehari-hari; (f) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum ( alam nyata dan non nyata ), sistem dan fungsionalnya; (g) Penyaluran siswa untuk mendalami  pendidikan agama ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.

 

b.  Tujuan

Pendidikan Agama Islam di SD bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan  pada jenjang pendidikan  yang lebih tinggi.

 

D.  RUANG LINGKUP

 

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:

Hubungan manusia dengan Allah SWT.

Hubungan manusia sesama manusia, dan

Hubungan manusia dengan alam (makhluk selain manusia) dan lingkungan.

Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar  terfokus pada aspek:

Keimanan

Al Quran/Al Hadits

Akhlak

Fiqh/Ibadah

 

E.  STANDAR KOMPETENSI LINTAS KURIKULUM

 

Kompetensi Lintas Kurikulum merupakan kecakapan untuk belajar sepanjang hayat sebagai akumulasi kemampuan setelah seseorang mempelajari berbagai kompetensi dasar yang dirumuskan setiap mata pelajaran.

 

Kompetensi Lintas Kurikulum tersebut dirumuskan menjadi sembilan kompetensi sehingga siswa mampu:

1.  Memiliki keyakinan, mempunyai hak, menjalankan kewajiban dan berperilaku sesuai dengan agama yang dianutnya, serta menyadari bahwa setiap orang perlu saling menghargai dan merasa aman.

2.  Menggunakan  bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.

3.  Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep dan teknik-teknik numerik dan spasial, serta mampu mencari dan menyusun pola, struktur, dan hubungan.

4.  Memilih, mencari, dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber serta menilai kebermanfaatannya.

5.  Memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup, dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.

6.  Memahami konteks budaya, geografi, dan sejarah, serta memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan, serta berinteraksi dan berkontribusi dalam masyarakat dan budaya global.

7.  Berpartisipasi dalam kegiatan kreatif di lingkungan untuk saling menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.

8.  Menunjukkan kemampuan berpikir konsekuen, berpikir lateral, berpikir kritis, memperhitungkan peluang dan potensi, serta siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

9.  Menunjukkan motivasi dan percaya diri dalam belajar, mampu bekerja mandiri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

 

F. STANDAR KOMPETENSI RUMPUN PELAJARAN

 

1.   Standar Kompetensi Bahan Kajian Pendidikan Agama

 

Siswa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT.), berakhlak mulia (berbudi pekerti luhur) yang tercermin dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agamanya, serta mampu menghormati agama lain dalam kerangka kerukunan antar umat beragama.

 

2.   Standar Kompetensi Bahan Kajian Pendidikan Agama Islam

 

Dengan landasan Al Qur an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW; siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.; berakhlaq mulia (berbudi pekerti luhur) yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar; mampu membaca dan memahami Al Qur an; mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik dan benar; serta mampu menjaga kerukunan intern dan antar umat beragama.

 

G. STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN

 

Kompetensi dasar mata pelajaran berisi sekumpulan kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa selama menempuh pendidikan di SD.  Kemampuan ini berorientasi pada perilaku afektif dan psikomotorik dengan dukungan pengetahuan kognitif dalam rangka memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam komponen Kemampuan Dasar ini merupakan penjabaran dari kemampuan dasar umum yang harus dicapai di SD yaitu :

 

a. Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui fungsi  serta terefleksi dalam sikap,      perilaku, dan akhlak peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal;

b. Dapat membaca Al Qur an surat-surat pilihan  dengan benar, menyalin dan mengartikannya.

c. Mampu beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan syari’at Islam terutanama  ibadah mahdhah;

d. Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian RasulullahSAW serta Khulafaur Rasyidin;

 

Seperti tergambar dalam kompetensi dasar umum di atas, kompetensi  dasar tersebut kemudian dirinci menjadi kompetensi kelas dan dikelompokkan berdasarkan aspek:  Al Qur an, Keimanan;  Akhlak; dan Fiqih/Ibadah, sebagaimana  tergambar  pada tabel berikut ini::

 

Kelas Al Qur’an Keimanan Akhlak Ibadah
 

I

Hafal  surat-surat pendek pilihan (Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Kautsar) Beriman dan mengenal enam rukun iman

Beriman dan mengenal dua kalimat syahadat

Berprilaku hidup bersih jujur dan kasih sayang Ber-

prilaku dermawan dan rajin Bertata-            krama dalam ke-hidupan sehari-hari

 

Mengerti tata cara thaharah/ber-suci

 

II Hafal surat Al Ashr

Hafal surat An Nasr dan An Nas

Beriman kepada Allah dan mengenal Asmaul Husna Terbiasa berperilaku rendah hati dan sederhana

Terbiasa berperilaku dengan sifat-sifat terpuji

Berwudhu dengan benar

Hafal bacaan dan melakukan gerakan shalat

Melakukan shalat dengan benar

 

III Membaca dan menulis Al Quran permulaan

Hafal surat-surat pendek (lanjutan)

 

______ Berperilaku  dan bersikap percaya diri, tekun dan tidak boros Mampu melaksanakan shalat fardhu

dengan benar

IV Membaca, menulis Al Quran dan hafal surat Al Kafirun serta Allahab

(lanjutan)

Beriman kepada Allah dan mengenal sifat-sifatNya

Beriman kepadaMalaikat dan mengenal nama-namanya serta tugas-tugasnya

Meneladani ketaatan nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail

Bertatakrama terhadap orang tua, guru dan tetangga

Melakukan shalat dengan sempurna, mengerti syarat syah, dan yang membatalkannya

Melakukan azan dan iqamah sebelum shalat dengan benar

 

 

 

 

Kelas Al Qur’an Keimanan Akhlak Ibadah
V Membaca dan hafal suratAl Maun, Alfil dan Al Quraesy Beriman kepada kitab suci dan mengenal nama-namanya Beriman kepada Rasul-rasul Allah SWT

 

 Meneladani ketabahan Nabi Ayub AS

Berperilaku  disiplin dan tolong menolong

Melakukan puasa

 

VI Membaca   dan hafal dengan fasih dan memahami surat Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Ashr Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada Qadha dan Qadar

Berperilaku tanggung jawab dan meneladani Nabi Musa AS

Meneladani sikap menolong Nabi Isa AS dan senang melakukan silaturahim

 

Mampu melaksanakan zakat fitrah

Mampu melaksanakan zikir dan do’a setelah shalat

 

H.  RAMBU-RAMBU

 

1.   Pendekatan  Pembelajaran dan Penilaian.

 

a.   Pendekatan.

 

Pendekatan Terpadu dalam Pendidikan Agama Islam meliputi: (a) Keimanan, memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makhluk sejagat ini; (b) Pengamalan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperaktekkan dan merasakan hasil-hasil pengamalan ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan; (c) Pembiasaan, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan prilaku baik yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan; (d) Rasional, usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta kaitannya dengan prilaku yang baik dengan prilaku yang buruk dalam kehidupan duniawi;   (e) Emosional, upaya menggugah prasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa; dan (f) Fungsional, menyajikan bentuk semua standar materi (Al Qur an, Keimanan, Akhlak, Fiqih/Ibadah danTarikh), dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas; (g)  Keteladanan, yaitu menjadikan figur guru agama dan non – agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik, sebagai cermin manusia berkepribadian agama.

 

b.    Penilaian.

 

Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Disamping mengukur hasil belajar siswa sesuaidengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran dimasing-masing kelas dalam kurikulum nasional, penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam 8 level kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

 

Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu : pengetahuan ( koknitif ) sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,  dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa  serta bobot   setiap  aspek dari setiap kompetensi dan materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh materi pembelajaran ( Al Qur an, Keimanan, Akhlak, dan Ibadah). Aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak. Aspek psikomotorik dan pengamalan sangat dominan pada materi pembelajaran ibadah dan membaca Al Qur an.

Hal ini yang perlu diperhatikan dalam penilaian pendidikan agama Islam adalah prinsip kontinyunitas, yaitu guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan dan perubahan siswa. Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga :

Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap

Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain.

 

Dari berbagai pengamatan itu ada yang perlu dicatat secara tertulis terutama tentang perilaku yang ekstrim/menonjol atau kelainan pertumbuhan yang kemudian harus diikuti dengan langkah bimbingan. Penilaian terhadap pengamatan dapat digunakan observasi, wawancara, angket, quesioner, sekala sikap dan catatan anekdot.

 

2.   Pengorganisasian Materi

 

Pengorganisasian Materi pada hakekatnya adalah kegiatan mensiasati proses pembelajaran dengan perancangan/rekayasa terhadap unsur-unsur instrumental melalui upaya pengorganisasian yang rasaional dan menyeluruh. Kronologi  pengorganisasian materi itu mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Perencanaan terdiri dari perencanaan per satuan waktu dan perencanaan per satuan bahan ajar. Perencanaan per satuan waktu terdiri dari program tahunan dan program  semester/catur wulan. Perencanaan per satuan bahan ajar dibuat berdasarkan satu kebulatan bahan ajar yang dapat disampaikan dalam satu atau beberapa kali pertemuan. Pelaksanaan terdiri dari langkah-langkah pembelajaran di dalam atau di luar kelas, mulai dari pendahuluan, penyajian, dan penutup. Penilaian merupakan proses yang dilakukan terus menerus sejak perencanaan, pelaksanaan, dan setelah pelaksanaan pembelajaran per pertemuan, satuan bahan ajar, maupun satuan waktu.

 

Dalam proses perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya diikuti langkah-langkah strategis sesuai dengan prinsip didaktik, antara lain:

Dari mudah ke sulit;

Dari sederhana ke komplek;

Dari kongkrit ke abstrak.

 

I. Pemanfaatan Tehnologi Komunikasi dan Informasi.

 

Tehnologi dan Komunikasi diperlukan dalam mewujudkan kreatifitas dan keterampilan agar hasil pembelajaran siswa dapat diketahui oleh siswa lain atau orang lain dan pemanfaatan Tehnologi Informasi dan Komunikasi adalah untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru dalam rangka mencarai gagasan untuk perancangan dan pembuatan benda-benda keterampilan sebagai wujud dari kreativitas siswa.

Adapun pemanfaatan tehnologi komunikasi dan informasi yang digunakan adalah:

Melihat hasil teman sekelas dan kelas lain.

Melihat pameran keterampilan

Memamerkan hasil keterampilan dimajalah dinding.

Memamerkan hasil keterampilan ketika pembagian rapot semester, akhir tahun dan awal tahun

Memasang gambar dan informasi hasil keterampilan di WEB sekolah, WEB klub keterampilan.

Mempublikasikan pada brosur sekolah, brosur khusus keterampilan.

Melihat model-model keterampilan yang bermuatan tehnologi melalui internet.

Melihat tayanganmedia cetak (koran, majalah, leaflet, dsb) dan elektronik (CD, VCD, Vidio, TV, dan Film).

 

Membaca Al Qur an.

Membaca Al Qur an atau hafalan-hafalan tertentu  di awal setiap pelajaran selama 5 sampai 10 menit dengan tujuan untuk mengoptimalkan ketercapaian kemampuan membaca/menghafal Al Qur an secara baik dan benar.

 

Nilai-nilai.

Setiap materi yang diajarkan kepada peserta didik mengandung nilai-nilai yang terkait dengan perilaku kehidupan sehari-hari, misalnya mengajarkan materi ibadah yaitu “Wudhu”, selain keharusan menyampaikan air pada semua anggota wudhu di dalamnya juga terkandung nilai-nilai bersih. Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkan kepada peserta didik dalam pendidikan agama (afektif).

 

Aspek Sikap.

Untuk aspek akhlak misalnya, selain dikaji masalah yang bersangkutan dengan aspek pengetahuan, aspek fungsionalnya diutamakan pada aspek sikap, sehingga kelak siswa mampu bersikap sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia. Dan untuk mencapai tujuan tersebut unsur akhlak juga didukung oleh cerita-cerita Rasul yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanannya (uswatun hasanah).

 

Ekstrakurikuler.

Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dapat mendukung kegiatan intrakurikuler, misalnya melaui kegiatan pesantren kilat, infaq Ramadhan, peringatan hari-hari besar Islam, bakti sosial, shalat Jum’at, tahun baru Islam, lomba baca tulis Al Qur an (BTA), dan lain-lain.

 

Keterpaduan.

Pola pembinaan Pendidikan Agama Islam dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan, yaitu : lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Untuk itu guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) perlu mendorong dan memantau kegiatan pendidikan agama Islam yang dialamai oleh siswanya di dua lingkungan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesesuaian sikap serta perilaku tindak dalam pembinaannya.

 

 

 

 

BAB II

STANDAR KOMPETENSI KELAS

 

Kelas               : 1

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilaksanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi: –

Mengenal enam rukun iman dan syahadatain

Terbiasa berperilaku sifat-sifat terpuji dan bertatakrama

Mengenal lima rukun Islam dan mengerti tatacara bersuci

Aspek Al Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Hafal surat Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al-Kautsar

 

 

Hafal surat Al Fatihah

Hafal surat Al Ikhlas

Hafal surat Al Kautsar

 

Siswa dapat:

Melafalkan surat Al Fatihah Al Ikhlas dan Al-Kautsar

Menunjukkan Hafal surat Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al-Kautsar

Mendemonstrasikan surat Al Fatihah Al Ikhlas dan Al-Kautsar

 

Surat Al-Fatihah

Surat Al Ikhalas

Surat Al Kautsar

 

 

Aspek Keimanan

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Beriman dan mengenal enam rukun iman serta dua kalimat syahadat (syahadat tauhidan dan syahadat rasul)

 

 

Siswa beriman, dan menyebutkan serta hafal enam rukun iman

Melafalkan syahadat tauhid dan syahadat rasul

 

Siswa dapat:

Menyebutkan enam rukun iman

Menunjukkan Hafal  enam rukun iman

Melafalkan dua kalimat syahadat (syahadat tauhid dan rasul)

Mengartikan dua kalimat syahadat

Menunjukkan hafal dua kalimat syahadat

 

Hafal enam rukun iman

Dua kalimat syahadat

 

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Berperilaku hidup bersih, jujur, kasih sayang, dermawan dan rajin

 

 

Siswa  membiasakan diri hidup:

Bersih

Jujur

Kasih sayang

Dermawan, dan

Rajin

 

Siswa dapat:

Membersihan  badan, pakaian,  tempat shalat, tempat tidur dan tempat belajar

Membedakan yang bersih dengan yang kotor

Menyebutkan keuntungan orang yang jujur

Menunjukkan sikap  jujur

Memperlihatkan sifat kasih sayang

Menyebutkan contoh-contoh kasih sayang kepada Bapak, Ibu, Kakak, Adik dan makhluk hidup lainnya

Menyebutkan keuntungan orang yang berprilaku dermawan

Menunjukkan berprilaku dermawan

Menyebutkan keuntungan orang yang berprilaku rajin

Menunjukkan berprilaku rajin

 

Hidup bersih, jujur, kasih sayang, dermawan dan rajin

 

 

 

Terbiasa bertatakrama  ketika belajar, makan-minum, dan sebelum dan sesudah tidur

 

Siswa melakukan

Adab belajar di rumah

 

 

 

Adab makan dan minum

 

 

 

 

 

 

 

 

Adab sebelum dan sesudah tidur

 

Siswa dapat:

Berdo’a sebelum dan sesudah belajar

Mengulang pelajaran

Mengerjakan tugas dari sekolah

Membaca basmalah maupun do’a sebelum dan sesudah makan dan minum

Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Menggunakan tangan kanan saat makan dan minum,

Tidak tergesa-gesa, dan tidak berlebihan ketika makan dan minum

Membersihkan pakaian dan tempat tidur

Berdo’a sebelum dan sesudah tidur

Adab belajar di rumah

Adab makan dan minum

Adab sebelum dan sesudah tidur

 

 

 

Aspek  Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Mengenal rukun Islam, dan mampu melakukan tata cara thaharah/bersuci

 

Siswa mampu menyebutkan dan hafal rukun Islam

 

Mampu melakukan cara-cara bersuci/thaharah

 

 

 

Mampu berwudhu

 

Siswa dapat:

Menyebutkan rukun Islam

Hafal rukun Islam

Menyebutkan macam-macam alat bersuci

Mensucikan kubul dan dubur setelah buang air kecil dan besar

Melafalkan niat berwudhu

Menyebutkan urutan berwudhu dengan tertib

Melafalkan doa wudhu

Latihan cara berwudhu

 

Bersuci/thaharah

Berwudhu

Hafalan rukun Islam

 

Kelas               : 2

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilakasanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi::  –  Hafal Al Quran surat-surat pendek pilihan

Beriman kepada Allah dan mengenal Asmaul Husna

Terbiasa berperilaku  sifat-sifat terpuji, menghindari sifat tercela, dan bertatakrama dalam kehidupan sehari-hari

Mampu berwudu, hafal bacaan dan melakukan gerakan shalat

 

Aspek Al Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Hafal surat pendek pilihan Al-‘Ashr, An Nashr, dan An Naas

 

 

Siswa hafal

Surat Al-‘Ashr

Surat An Nashr

Surat An Naas

Siswa dapat:

Melafalkan surat Al ‘Ashr, An Nashr dan An Naas

Menunjukkan Hafal surat Al ‘Ashr, An Nashr dan An Naas

Mendemonstrasikan hafalan surat Al ‘Ashr, An Nashr dan An Naas

 

Surat Al-‘Ashr

Surat An Nashr

Surat An Naas

 

Aspek Keimanan

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
 

Mengenal dan hafal lima Asmaul Husna

 

 

Siswa mengenal

Lima Asmaul Husna dan artinya

Hafal lima Asmaul Husna

Siswa dapat:

Menunjukkan hafal lima diantara Asmaul Husna

Menyebutkan arti :

–           Ar Rahman

–           Ar Rahim

–           Al Ahad

–           Al Malik

–           As Shamad

 

Lima Asmaul Husna

Arti Asmaul Husna

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Terbiasa berperilaku rendah hati, sederhana dan hormat terhadap orang tua Siswa mampu bersikap dan berperilaku

Rendah hati

 

 

 

 

 

 

 

 

Sederhana

 

 

 

 

Hormat kepada orangtua

 

 

Siswa dapat:

Menunjukkan sikap rendah hati

Menyebutkan keuntungan orang yang mempunyai sifat rendah hati

Mencontohkan keuntungan orang yang mempunyai sifat sederhana

Menunjukkan sikap sederhana

Mencontohkan keuntungan orang yang mempunyai sifat sederhana

Menunjukkan sikap sederhana

Menunjukkan rasa hormat terhadap orang tua

Menunjukkan kesabaran ketika   merawat orang tua diwaktu sakit

Mendo’akan kedua orang tua

Berperilaku rendah hati

Berperilaku sederhana

Hormat kepada orang tua

 

Tertib ketika mandi dan buang air

 

Siswa mampu

Melakulan tertib (adab) mandi

 

 

 

 

 

 

 

 

Tertib buang air

Siswa dapat

Menunjukkan beberapa cara yang baik ketika mandi, misalnya meratakan air keseluruh badan, menggosok-gosok badan, hemat menggunakan air.

Menggosok gigi sebelum mandi

Mengeringkan badan selesai mandi

Tidak berbicara ketika buang air

Mencuci dengan sempurna

Berdo’a ketika masuk dan keluar W.C

 

Adab mandi dan buang air
Terbiasa berperilaku dengan sifat-sifat terpuji Siswa mampu

Meneladani Nabi Adam AS.

 

 

Meneladani Nabi Muhammad SAW.

Siswa dapat

Menceritakan kisah Nabi Adam AS. Sebagai nabi pertama

 

Menceritakan masa kelahiran Nabi Muhammad SAW. dan kebiasaan masyarakat Jahiliyah

Menceritakan Nabi Muhammad SAW. pada masa kanak-kanak hingga masa kerasulannya

Menceritakan Nabi Muhammmad SAW. sebagai uswatun hasanah

Melatih diri dengan mencontoh sifat Rasul: siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah

 

 

Kisah Nabi Adam AS. Dan Nabi Muhammad SAW.

 

Aspek Fiqih/Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Berwudhu dengan benar Siswa mampu

Hafal niat dan do’a sesudah wudhu

Berwudhu dengan benar

Siswa dapat:

Melafalkan niat wudhu

Mengenal tata cara berwudhu

Mempraktekkan cara berwudhu

Berdo’a sesudah  wudhu

Menghafal do’a sesudah wudhu

 

Hal-hal yang berkaitan dengan wudhu
Hafal bacaan dan melakukan gerakan shalat Siswa mampu

Melafalkan bacaan-bacaan shalat wajib

Melakukan gerakan-gerakan shalat

 

Siswa dapat

Melafalkan niat shalat

Hafal  bacaan shalat: takbiratul Ihram, do’a iiftitah, surat al Fatihah, bacaan surat pendek pilihan, ruku.  I’tidal.  sujud, duduk antara dua sujud, tasyahud awal, tasyahud akhir, dan salam

Bediri bagi yang mampu

Memperaktekkan gerakan Takbiratul Ihram, Ruku, I’tidal.

 

Bacaan shalat wajib

Gerakan-gerakan shalat

 

Melakukan shalat  fardu dengan benar

 

Siswa mampu me-nunjukkan

Hafal  bacaan shalat fardu

Melakukan shalat fardhu (keserasian gerakan dan bacaannya) dengan benar

Siswa dapat:

Menghafal bacaan sujud, duduk diantara dua sujud, Tasyahud awal, Tasyahud akhir dan salam

Mempraktekkan gerakan sujud, duduk diantara dua sujud, Tasyahud awal, Tasyahud akhir dan salam.

Mempraktekkan keserasian bacaan dan gerakan shalat

 

Gerakan dan bacaan shalat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelas               : 3

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilakasanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi : –   Membaca, menulis Al Quran permulaan dan hafal surat-surat pendek pilihan

–   Terbiasa berperilaku sifat terpuji, menghindari sifat tercela, dan bertatakrama

Mampu shalat dengan menserasikan bacaan dan gerakannya

 

Aspek Al-Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Membaca dan menulis Al-Quran permulaan .

(Membaca Al Quran permulaan tuntas)

 

Siswa mampu

Membaca Al Quran per,ulaan

Menulis Al Quran per,ulaan

 

Siswa dapat:

Melafalkan huruf, kata dan kalimat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang melafalkan huruf, kata dan kalimat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Menyalin  huruf, kata dan kalimat Al Qur’an

 

Membaca dan menulis Al Quran
Hafal surat Al Falaq Siswa mampu

Melafalkan surat Al Falaq dengan benar

Hafal surat Al Falaq

 

Siswa dapat

Melafalkan surat Al Falaq

Menunjukkan hafal surat Al Falaq

Mengulang-ulang hafalan surat Al Falaq

Surat Al Falaq

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Berperilaku dan bersikap percaya diri, tekun dan tidak boros

 

 

Siswa mampu bersikap dan berperilaku

Percaya diri

Tekun, dan

hemat

Siswa dapat:

Menunjukkan sikap percaya diri

Menyebutkan keuntungan orang yang percaya diri.

Menunjukkan sikap tekun dalam belajar

Menyebutkan keuntungan orang yang bersikap tekun

Membaca doa sebelum dan sesudah belajar

Menyebutkan keuntungan orang yang hemat

Menunjukkan kerugian orang yang boros

 

Sikap percaya diri, tekun dan hemat

 

 

 

 

Aspek Fiqih/Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
 

Mampu melaksanakan shalat fardhu

(Pemantapan)

 

Siswa mampu

Melakukan gerakan shalat dengan benar

Hafal bacaan shalat dengan benar dan lancar

Mealakukan shalat fardhu

Siswa dapat:

Melakukan gerakan shalat yang benar

Menampilkan bacaan shalat yang benar

Menserasikan gerakan dan bacaan shalat dengan benar

Mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat fardhu

Mengamalkan shalat  Zhuhur, Ashar, dan Isya dengan sempurna

Mempraktekkan  shalat  Zhuhur, Ashar, dan Isya dengan sempurna

 

Gerakan, bacaan, dan keserasian shalat yang sempurna.

 

 


Kelas               : 4

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilakasanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi: –  Membaca, menulis Al Quran permulaan, dan hafal surat-surat pendek pilihan

Beriman kepada Allah dengan mengenal sifat-sifatNya serta meneladani ketaatan   para Nabi.

Melakukan shalat dan mengerti syarat sah dan membatalkannya

 

Aspek Al-Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Membaca dan menulis Al-Quran permulaan

:

Siswa mampu

Membaca  Al-Quran ayat-ayat pilihan

Menulis Al Quran permulaan

 

Siswa dapat:

Melafalkan ayat-ayat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang melafalkan  ayat-ayat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Menulis ayat-ayat Al Quran permulaan

 

Surat pilihan antara lain  surat Al Falaq

 

Menulis permulaan surat Al Falaq

 

  Siswa mampu melafalkan  dan hafal surat Al Kafirun

 

Melafalkan surat Al Kafirun

Menunjukkan hafal surat Al Kafirun

Mendemonstrasikan hafalan surat Al Kafirun

 

Hafalan surat Al Kafirun

 

Membaca dan menulis Al-Quran dengan benar (lanjutan)

 

Siswa mampu

Membaca Al-Quran dengan harakat dan mahraj yang benar

Menlulis Al-Quran dengan kaedah huruf arab yang benar

 

Melafalkan ayat-ayat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang melafalkan  ayat-ayat  Al Qur’an dengan harakat dan mahraj yang benar

Menulis surat Al Qur’an dengan benar

 

Surat  pilihan antara lain  surat Al Humazah
Membaca dan hafal surat Al Lahab

 

Siswa mampu

Membaca  surat Al Lahab

Hafal surat Al Lahab

 

 

Melafalkan surat Al Lahab

Menunjukkan hafal surat Al Lahab

Mengulang-ulang hafalan surat Al Lahab

 

Surat Al Lahab

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Keimanan

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Beriman kepada Allah dengan mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah

 

Siswa mampu

Menyebutkan 10 sifat-sifat wajib bagi Allah SWT

Mengartikan 10 sifat-sifat wajib bagi Allah SWT

 

Siswa dapat:

Menyebutkan 10 sifat-sifat wajib bagi Allah SWT

Menyebutkan arti 10 sifat-sifat wajib bagi Allah SWT

Menunjukkan hafal 10 sifat-sifat wajib bagi Allah SWT

Menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah SWT

 

Sepuluh sifat-sifat wajib bagi Allah SWT
Beriman kepada Malaikat dan mengenal nama-nama serta tugas-tugasnya Siswa  mampu

Menyebutkan nama-nama malaikat

Menyebutkan tugas-tugas malaikat.

Siswa dapat:

Menceritrakan tentang kejadian malai kat

Menyebutkan nama-nama malaikat

Menyebutkan tugas-tugas malaikat

 

Nama-nama malaikat serta tugas-tugasnya

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS Siswa mampu

Meneladani kisah Nabi Ibrahim AS.

 

Meneladani kisah Nabi  Ismail AS

 

Siswa dapat:

Menceritakan kisah Nabi Ibrahaim AS dan Putranya Nabi Ismail AS

Menunjukkan sikap meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT

Menunjukkan sikap dan meneladani ketaatan Nabi Ismail  AS terhadap ayahnya

 

Kisah Nabi Ibrahim AS. dan putranya Nabi Ismail AS
Terbiasa bertatakrama terhadap guru dan tetangga

 

Siswa mampu bersikap hormat dan santun kepada guru

 

Siswa dapat:

Menyebutkan contoh hormat kepada guru

Menunjukkan sikap hormat kepada guru

 

Sikap hormat dan santun kepada guru

 

  Siswa mampu bersikap hormat dan santun kepada tetangga Menyebutkan contoh hormat terhadap tetangga

Menunjukkan sikap hormat terhadap tetangga.

 

Sikap hormat dan santun kepada tetangga

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Fiqih/Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Melakukan shalat dengan sempurna dan mengerti syarat sah serta membatalkannya Siswa mampu

Melakukan shalat sesuai rukunnya

Melakukan sunat-sunat shalat

 

Siswa dapat:

Mempraktekkan rukun shalat

Mmpraktekkan sunat-sunat shalat

Membedakan rukun dan sunah shalat

 

Bacaan, gerakan, rukun, syarat sah, dan hal-hal yang membatalkan shalat
  Mengerti syarat sah dan membatalkan shalat Meneyebutkan syarat sah shalat

Menyebutkan hal-hal yang membatalkan shalat

Memberikan contoh shalat yang batal

Mempraktekan  dan mengamalkan shalat  Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya dengan sempurna

 

 
Melakukan azan dan iqamah sebelum shalat dengan benar

 

Siswa mampu

Mengumandangkan azan  sebelum shalat

Mengumandangkan iqamah sebelum shalat

 

Siswa dapat:

Melafalkan adzan dan iqamah

Menunjukkan hafal lafal adzan dan iqamah

Mempraktekkan adzan dan iqamah ketika hendak shalat

 

Lafal azan dan iqamah

 


Kelas               : 5

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilakasanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi: –  Membaca dan menulis Al Quran serta hafal surat pendek pilihan

Beriman kepada kitab suci dan Rasul Allah serta mengenal nama-namanya

Terbiasa berperilaku sifat terpuji, menghindari sifat tercela, dan bertatakrama dalam kehidupan  sehari-hari.

Memahami dan melakukan puasa Ramadhan

 

Aspek Al-Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Membaca dan hafal surat Al Ma’un dan Al Fiil

 

Siswa mampu

Membaca dan hafal dengan benar surat Al-Maun

 

Siswa dapat:

Membaca  Al Qur’an surat Al-Maun dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang membaca surat Al-Maun dengan harakat dan mahraj yang benar

Menunjukkan hafal surat Al-Maun

 

Surat Al-Maun

 

  Membaca dan hafal dengan benar surat Al Fiil

 

Membaca  Al Qur’an surat Al-Fiil dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang membaca surat Al-Fiil dengan harakat dan mahraj yang benar

Menunjukkan hafal surat Al-Fiil

 

Surat Al-Fiil

 

Membaca dan hafal surat Al Quraisy

 

Siswa mampu

Membaca Al Quran surat Al Quraisy

Hafal dengan benar surat Al-Quraisy

 

Siswa dapat:

Membaca  Al Qur’an surat Al-Quraisy dengan harakat dan mahraj yang benar

Mengulang-ulang membaca surat Al-Quraisy dengan harakat dan mahraj yang benar

Menunjukkan hafal surat Al-Quraisy

 

Surat Al-Quraisy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Keimanan

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Beriman kepada kitab suci dan   nama-nama rasul yang menerimanya Siswa mampu menyebutkan nama-nama kitab suci Allah serta nama-nama Rasul yang menerimanya

 

Menyebutkan nama-nama kitab Allah SWT

Menyebutkan nama-nama Rasul yang menerima kitab Allah SWT

Menjelaskan pengertian kitab suci Al Qur’an

Menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam

 

Nama-nama kitab suci Allah serta nama-nama Rasul yang menerimanya
Beriman kepada Rasul Allah SWT

 

Siswa beriman dan mampu menyebutkan

Nama-nama Rasul Allah SWT

Nama-nama Rasul  Ulul Azmi

Membedakan antar Nabi dan Rasul

Siswa dapat

Menyebutkan nama-nama Rasul Allah SWT

Menyebutkan nama-nama Rasul Ulul Azmi

Membedakan antara Nabi dengan Rasul

 

Nama-nama Rasul Allah SWT

Nama-nama Rasul  Ulul Azmi

Membedakan antar Nabi dan Rasul

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Meneladani ketabahan Nabi Ayub AS.

 

Siswa mampu meneladani ketabahan Nabi Ayub AS. ketika menderita sakit Siswa dapat:

Menceritakan kisah Nabi Ayub AS

Menunjukkan sikap meneladani ketabahan  Nabi Ayub AS ketika menderita sakit

 

Kisah Nabi Ayub AS. ketika menderita sakit
Berperilaku disiplin dan tolong menolong

 

Siswa mampu bersikap dan berperilaku

disiplin dan

tolong menolong

Siswa dapat:

Menyebutkan keuntungan orang yang disiplin

Menunjukkan contoh-contoh sikap orang  yang disiplin,  dalam belajar di rumah, sekolah, dan disiplin diperjalanan serta di tempat-tempat umum

Menyebutkan manfaat tolong menolong

Menunjukkan contoh-contoh sikap orang  yang suka tolong menolong seperti menyantuni orang yang tidak mampu, meminjamkan buku pelajaran pada teman, menolong orang tua di rumah

 

Sikap disiplin dan tolong enolong

 

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Menghindari sikap dan perilaku suka mengambil milik orang lain (mencuri) Siswa mampu

Menunjukkan akibat buruk perbuatan mencuri

Menunjukkan cara-cara menghindari perilaku mencuri

 

Menjelaskan pengertian mencuri

Menunjukkan contoh-contoh akibat mencuri, seperti bagi orang yang kecurian merasa kesal dan marah, bagi si pencuri merasa tidak tenteram/tenang hidupnya dan diancam hukuman di dunia maupun di akhirat

 

Menghindari perilaku mencuri
Menghindari sikap  perilaku  lalai

:

Siswa mampu menghindari sikap lalai dalam kehidupan

 

Menyebutkan ciri-ciri orang lalai

Menunjukkan sikap menghindari diri dari sifat lalai

 

Menghindari sikap lalai

 

Aspek Fiqih/Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Melakukan puasa ramadhan dan puasa sunnah Siswa mampu

Melakukan puasa Ramadhan

Mempraktekkan puasa sunnah

Siswa dapat:

Menjelaskan pengertian puasa Ramadhan dan puasa sunnah

Menyebutkan ketentuan-ketentuan puasa Ramadhan dan puasa sunnah

Mempraktekkan puasa sunnah senin-kamis dan puasa Ramadhan

 

Puasa Ramadhan dan puasa sunnah

 

 

 

Kelas               : 6

 

Membaca Al Qur’an dengan tartil (Dilakasanakan pada setiap awal pendidikan agama Islam selama 5 – 10 menit)

 

Standar Kompetensi: –  Membaca fasih, menulis, mengartikan dan hafal Al Quran surat pilihan.

Beriman kepada hari akhir, qadha dan qadar dan menyebutkan tanda-tandanya

Terbiasa berperilaku sifat terpuji dan meneladani para Nabi pilihan

Melaksanakan zakat fitrah menurut ketentuannya.

 

Aspek Al-Quran

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Membaca dengan fasih  dan mengartikan surat Al Fatihah , Al Ikhlas dan Al ‘Ashr

 

Siswa mampu

Membaca dengan fasih Al-Fatihah dan Al Ikhlas

Mengartikan  surat Al-Fatihah dan Al Ikhlas

Siswa dapat

Membaca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas dengan fasih

Mengartikan surat  Al Fatihah dan Al Ikhlas

Memahami  ayat per-ayat  surat Al Fatihah dan Al Ikhlas

Menerapkan bacaan  surat Al Fatihah dan Al Ikhlas dalam shalat

 

Mengartikan surat Al Fatihah dan Al Ikhlas

 

  Siswa mampu membaca dengan fasih surat Al-‘Ashr

Mengartikan  surat Al-‘Ashr

 

 

Siswa dapat:

Membaca surat Al-‘Ashr

Mengartikan surat  Al-‘Ashr

Memahami arti setiap ayat  surat Al-‘Ashr

Menerapkan bacaan  surat Al-‘Ashr dalam shalat

Mengartikan  surat Al-‘Ashr

 

 

Aspek Keimanan

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Beriman kepada Hari Akhir dan Qadha – Qadar

 

Siswa mampu

Menunjukkan beriman kepada hari akhir

 

Menjelaskan pengertian  Hari Akhir

Menyebutkan nama lain dari Hari Akhir

Menyebutkan tanda-tanda Hari Akhir

 

Iman kepada hari akhir
 

 

Menunjukkan beriman kepada  Qadha dan Qadar Menjelaskan pengertian  Qadha dan Qadar

Menyebutkan contoh Qadha

Menyebutkan salah satu contoh  Qadar

 

Iman kepada Qadha dan Qadar

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Akhlak

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Terbiasa berperilaku tanggung jawab dan meneladani Nabi Musa AS.

 

Siswa mampu

Bersikap tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari

Siswa dapat:

Menjelaskan pengertian tanggung jawab

Menyebutkan contoh-contoh orang yang tanggung jawab

Menunjukkan sikap bertanggung jawab, misalnya mengerjakan sesuatu harus tepat waktu, ucapan harus sesuai dengan perbuatan

 

Pengertian dan contoh-contoh sikap tanggung jawab
  Mencontoh keteladanan Nabi Musa AS Meneladani keteguhan iman Nabi Musa AS terhadap Allah SWT

Meneladani keberanian Nabi Musa AS melawan  Fir’aun

 

Kisah Nabi Musa AS
Meneladani sikap penolong Nabi Isa AS dan senang melakukan silaturrahim

 

Siswa mampu

Mencontoh keteladanan Nabi Isa AS

 

Melakukan silaturrahim

Meneladani keteguhan iman Nabi Isa AS terhadap Allah SWT

Meneladani penolong Nabi Isa AS terhadap kaumnya

Menunjukkan contoh-contoh silaturrahmi

Menyebutkan manfaat silaturrahmi, seperti menumbuhkan kasih sayang, memperbanyak persaudaraan

Menunjukkan sikap senang bersilaturrahmi

 

Kisah Nabi Isa AS

Ajaran Islam tentang silaturrahim

 

Aspek Fiqih/Ibadah

KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR INDIKATOR MATERI POKOK
Melaksanakan zakat fitrah

 

Siswa mampu

Mengidentifikasi ketentuan-ketentuan zakat fitrah

Melaksanakan zakat fitrah

Siswa dapat:

Menjelaskan pengertian zakat fitrah

Menyebutkan ketentuan-ketentuan zakat fitrah

Mempraktekkan zakat fitrah

 

Zakat fitrah

 

Melaksanakan dzikir dan do’a setelah shalat

 

Siswa mampu melakukn dzikir dan do’a setelah shalat

 

Membaca lafal-lafal dzikir dan do’a setelah shalat

Mengulang-ulang lafal dzikir dan do’a hingga hafal

Mempraktekkan dzikir dan do’a setelah shalat

 

Bacaan dzikir dan do’a setelah shalat

 

Skip to toolbar