AGAMA YANG MENYEJUKKAN

M. Zainuddin

Guru Besar Sosiologi Agama, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saat ini umat beragama dihadapkan pada problem kemanusiaan universal yang semakin kompleks seiring dengan kemajuan zaman yang terus melaju cepat. Dengan demikian maka umat beragama dituntut mampu memahami dan menjelaskan doktrin agama sekaligus mampu memberikan jawaban terhadap problem kemanusiaan secara menyeluruh seperti demokrasi, keadilan, HAM, lingkungan dan segala macam jenis pemihakan terhadap masyarakat. Karena dimensi agama tidak hanya bersifat teosentris, melainkan juga sarat dengan dimensi sosiologis dan kosmologis.

Agama diturunkan oleh Tuhan untuk manusia, sementara manusia tidak bisa lepas dari ketergantungannya kepada manusia lain atau alam makro secara keseluruhan. Di sinilah perlunya memahami tiga kesatuan relasi yaitu: relasi manusia dengan Tuhannya (hablun min Allåh), relasi manusia dengan sesama manusia (hablun min al-nās) dan relasi manusia dengan alam semesta (hablun min al-’ālam). Inilah etika universal yang lebih dari sekadar masalah sopan santun.

Konsep etika universal meliputi berbuat kebajikan kepada semua, termasuk menjaga keseimbangan alam semesta. Jika ini yang dipahami, maka materi pelajaranetika menjadi wajib di semua lembaga pendidikan (apapun jenis dan jenjangnya). Sebagaimana kata adab yang memiliki ekstensi makna pembangunan peradaban. Karena itu Nabi besar Muhammad diutus oleh Tuhan ke dunia untuk memperbaiki etika universal ini (akhlak) yang sepadan dengan Ihsān, yang merupakan inti ajaran agama dan sebagai perwujudan dari iman dan Islam.

Bahwa manusia –sebagai hamba sekaligus sebagai pemimpin– memiliki tiga relasi, yaitu pertama, relasi manusia dengan Tuhannya yang secara vertikal dilakukan melalui ibadah kepada Tuhannya; kedua, relasi manusia dengan sesama manusia yang dilakukan dengan perilaku terpuji seperti jujur, amanah, adil, tanggungjawab, toleran dan seterusnya; ketiga, relasi manusia dengan alam semesta yang dilakukan dengan merawat dan menjaga kelestarian alam dan eko sistem, termasuk merawat lingkungan darat maupun laut. Konsep di atas sejalan dengan perintah Tuhan dalam surat al-Qashash: 77 yang dapat dijelaskan makna kandungannya secara ilmiah, yaitu bahwa secara teologis, manusia diperintahkan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, dan pada saat yang sama juga harus mencari kehidupan (bekerja) di dunia. Secara sosiologis, manusia harus berbuat baik kepada sesama manusia, melintas batas sektarianisme dan primordialisme. Secara kosmologis, manusia harus menadayagunakan alam seisinya untuk kemaslahatan umat dan tidak boleh melakukan eksploitasi yang mengakibatkan rusaknya alam dan lingkungannya.

Jika manusia bersedia mentaati printah Tuhan di atas dan konsisten menegakkan tiga aspek dalam hidupnya, maka harmoni dunia akan terjaga dan akan tenteram selamanya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, maka negara akan menjadi gemah ripah loh jinawe. Untuk mencapai tujuan tersebut, makaharus dimulai dari pembangunan kampung yang baik (smart village). Indikator kampung yang baik adalah: aman, tenteram guyub-rukun, taat asas, lingkungan yang bersih, asri dan makmur warganya,dan untuk mencapai kampung yang baik tersebut, maka harus dimulai dari keluarga yang baik (smart family). Indikator dari keluarga yang baik adalah adanya rasa aman, tenteram dan sejahtera, penuh kasih sayang dan harmonis. Inilah yang disebut dengan tri pusat pendidikan kewarganegaraan, yaitu negara (baldah), kampung (qaryah) dan keluarga (zurriyah).

Sejalan dengan QS. Al-Qashas di atas, Allah juga menegaskan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan sosial berbanding lurus dengan warga bangsa atau SDM yang memiliki kekuatan ortodoksi (iman) dan ortopraksis (amal saleh) atau takwa, dan sebaliknya kerusakan alam dan lingkungan hidup karena distruksi dan dishuman yang dilakukan oleh manusia. Dalam konteks ini Allah menegaskan, bahwa kerusakan alam (baik darat maupun laut) terjadi karena ulah manusia (QS. al-Rüm: 41). Dalam al-Qur’an surah al-Qashas 59 juga ditegaskan bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu negara kecuali penduduknya berbuat aniaya (zalim). Demikian juga disebutkan dalam surah al-A’råf: 96.

Gap Ortodoksi-Ortopraksis

Dalam praktik keberagamaan sehari-sehari kita dapat menyaksikan bahwa antara ortodoksi dan ortopraksis sering tampak tidak berimbang. Dengan kata lain, penghayatan dalam nilai-nilai keimanan sering terpisahkan dari peran sosialnya. Ini disebabkan dalam merumuskan pengertian iman dalam agama tidak mengaitkan realitas empiriknya. Sementara di pihak lain, antara nilai iman (ortodoksi) dan nilai amal (ortopraksis) dalam agama terlalu banyak mengalami kontradiksi dan gap. Akibatnya, agama tidak bisa hadir dalam ruang publik dan perannya tidak dapat difungsikan secara baik. Padahal agama dikenal sebagai pembawa rahmat dan penyelamat umat, dan secara normatif agama juga dianggap sebagai kontrol sosial, pembimbing dan pemersatu umat.

Dom H. Camara, seorang aktivis dan uskup agung, menyerukan agar semua umat beragama bersatu dan membuka kembali kitab sucinya masing-masing untuk menemukan ajaran kemanusiaan universal dalam rangka melawan musuh nyata ketidakadilan. Lalu aktivis Muslim, Asghar Ali Engineer mengimbau perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menata kembali kehidupan sosial yang adil dan egaliter. Oleh sebab itu orang beriman yang sejati adalah bukan hanya mereka yang mengucapkan kalimah syahadah, melainkan mereka yang menegakkan keadilan dan memperjuangkan kelompok yang tertindas (al-mustadh’afin). Untuk menuju ke arah kedamaian dan keutuhan umat itu maka keadilan harus terus diperjuangkan.   

Jika kita perhatikan secara serius, baik secara normatif-doktriner maupun objektif-empiris dalam sejarah kerasulan (historis-profetik), sesungguhnya musuh agama adalah ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Jika masih ada ketidakadilan dan ketimpangan sosial di muka bumi ini maka menjadi tanggung jawab semua umat beragama. Karena pada dasarnya semua agama tidak menghendaki segala macam bentuk kezaliman. Di sinilah letak kebenaran universal agama itu. Semua ajaran agama menghendaki wujud kebaikan di masyarakat dan menentang semua bentuk kezaliman.

Dalam pandangan Islam, orang yang masih membiarkan ketimpangan sosial (tidak peduli kepada orang miskin, anak yatim, orang yang terlantar dan tertindas) maka disebut sebagai pendusta dan penghianat agama. Termasuk musuh agama adalah orang yang mengakumulasi kekayaan yang tidak ada kemanfaatan bagi orang lain. Oleh sebab itu bisa dipahami ketika Nabi Muhammad Saw pertama kali menyiarkan agama yang ditentang mati-matian oleh kafir Quraisy saat itu adalah karena beliau dianggap menghalang-halangi praktik akumulasi dan monopoli kekayaan para konglomerat Arab.

Agar agama tidak dijauhi oleh pemeluknya, maka para elit agama harus mampu menjawab tantangan-tantangan yang semakin kompleks seiring dengan perubahan zaman yang semakin cepat. Tantangan-tantangan itu antara lain menyangkut: pemahaman ajaran agama dan politisasi agama. Sementara pluralitas agama bisa menjadi bagian khazanah bangsa jika dipahami sebagai anugerah Tuhan dengan cara menjalin kerjasama untuk membangun persatuan dan kesatuan antarumat beragama demi terwujudnya kemakmuran dunia. Jika pluralitas agama menemukan satu wadah visi maupun misi teologisnya yang sama, maka agama akan mampu menjawab berbagai tantangan yang akan dihadapi baik sekarang maupun mendatang.   

Namun fenomena yang nampak selama ini adalah, agama lebih diorientasikan pada status quo ketimbang misi kemanusiaannya. Agama lebih cenderung diposisikan di balik kepentingan para penguasa atau pemimipin formal agama. Oleh sebab itu, pengertian agama samawi-ardhi harus didudukkan secara benar. Agama yang benar adalah agama samåwåt wa al-ardh dalam arti ideal-real, yaitu terpadunya cita-cita dan realita ibarat air yang turun dari gunung ke telaga, sejuk dan menyejukkan. Semoga.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *