PETA JALAN BARU NU

Tanggal 31 Januari 2021 merupakan hari lahir NU yang ke-95. Hampir satu abad NU telah lahir dan berkiprah dalam membimbing warga Indonesia menjadi warga bangsa yang penuh dedikasi dalam turut serta membangun negeri ini. Hingga saat ini NU terus menunjukkan perannya dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan di berbagai lembaga pendidikan pesantren maupun di sekolah dan perguruan tinggi. Lantas, bagaimana dengan perkembangan zaman yang begitu kompleks dan penuh tantangan ini? Apa yang mesti dilakukan NU?

Ada empat issu besar dalam program Millenium Development Goals (MDGs) yakni kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Dalam konteks Bonus Demografi, sebagaimana yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, jumlah anak Indonesia kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta jiwa, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Kelak pada tahun 2045, mereka yang usia 0-10 tahun akan berusia 35-45 tahun, sedangkan yang usia 10-20 tahun akan berusia 45-54. Pada usia 35-54 tahun tersebut mereka akan memegang peran penting di kancah Indonesia ke depan. Mereka juga diharapkan akan menjadi generasi emas yang cerdas, produktif, inovatif, berperadaban dan menjadi pemimpin bangsa.

Sementara itu potensi kuantitas manusia Indonesia berada pada posisi ke-4 dalam daftar negara berpopulasi tertinggi, demikian pula potensi kekayaan alamnya. Lembaga Survey Internasional Goldman Sach memprediksi, bahwa Indonesia akan berada dalam 10 besar negara dengan ekonomi termaju di tahun 2050 bersama Cina dan India serta mengungguli Jepang maupun Korea Selatan. Sementara itu Mc-Kinsey Global Institute (2012) melaporkan, bahwa tahun 2030 Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar di dunia nomor tujuh. Suatu posisi yang optimistik, yang tentu saja mungkin tercapai bila Indonesia memiliki pemimpin berkualitas dan sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar sekaligus unggul.

Menyadari akan peluang sekaligus tantangan di atas, maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin, dan bagaimana merancang program 5 tahunan ke depan (road map). Paling tidak ada empat program besar yang perlu dirumuskan, yaitu: pertama, bagaimana NU dengan bonus demografi tersebut mampu mempersiapkan generasi emas pada dasawarsa ke depan; kedua, bagaimana NU merumuskan Islam dalam wawasan kebangsaan dan kenegaraan di era global; ketiga, bagaimana NU berperan dalam  memperkokoh NKRI danmemposisikan peran politiknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; keempat, bagaimana NU memposisikan perannya dalam konteks pembangunan ekonomi keumatan.

Figur Pemimpin Ideal

Figur pemimpin ideal memiliki jiwa demokratis, yaitu seorang pemimpin yang memberikan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan persamaan hak di depan hukum. Gus Dur menyebut nilai pokok demokrasi adalah adanya kebebasan, persamaan, musyawarah dan keadilan. Kebebasan artinya kebebasan individu di hadapan kekuasaan negara dan adanya keseimbangan antara hak-hak individu warga negara dan hak kolektif dari masyarakat. Dalam konteks jam’iyyah NU, maka pemimpin demokratis harus memiliki sikap toleran terhadap jama’ah-nya, memberikan kebebasan untuk perpendapat dan bersedia bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara.

Pemimpin NU ke depan selain visioner, juga harus memiliki kompetensi sosial, etis dan komunikatif. Sosok pemimpin yang memiliki wawasan humanis dan etis mutlak diperlukan, dan NU pernah memiliki figur seperti ini, yaitu Gus Dur. Kepemimpinan di NU masih menganut pola kepemimpinan patriarchal, artinya seorang elit figur masih menjadi penentu organisasi –meski seringkali juga terjadi dinamika. Pola hubungan elit pemimpin NU dan jama’ah di tingkat bawah masih kental dengan nuansa kepatuhan dan ta’dzim, namun juga tanpa meninggalkan sikap kritisnya yang membangun. Maka dalam konteks ini, saya kira Gus Dur benar ketika menegaskan bahwa Islam menjadi besar jika mengutamakan politik sebagai moralitas, bukan politik sebagai institusi dan kepentingan pribadi. Dan itu pula sesungguhnya misi yang diemban Nabi dalam membimbing umatnya, yang tidak lepas dari urusan penegakan moral tersebut (Innama buistu liutammima husn al-akhlaq).

Perlu Road Map

Saat ini warga NU yang dibentuk dari pendidikan modern sudah semakin bertambah. Banyak para santri setelah menamatkan pendidikan di pesantren yang melanjutkan ke program Doktor baik di Barat maupun Timur Tengah. Inilah aset yang mesti dimanfaatkan secara optimal. Fenomena munculnya generasi baru intelektual NU sekarang sudah terlihat di kelas-kelas menengah kota dan beberapa perguruan tinggi. Lahirnya para generasi pemikir muda yang bergabung dalam forum-forum kajian di berbagai wilayah kota besar khususnya di Jawa, telah menandai era kebangkitan baru intelektual muda NU. Mereka harus diakomodasi dan dilibatkan dalam merancang dan sekaligus menyelesaikan masalah keumatan.

NU harus menjadi organisasi Islam Indonesia yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan Indonesia, tidak hanya dulu, melainkan kini dan yang akan datang. Sebab tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman itu sendiri. Kontribusi NU tentu menjadi harapan semua warga bangsa untuk menentukan nasib Indonesia ke depan.

Era global menuntut masyarakat memiliki wawasan yang lebih luas dan bidang garap yang lebih bersifat mondial dan humanistik. Ideologi dan bahkan agama dituntut mampu melakukan proyek atau bidang garap seperti ini. Era global menuntut relasi sosial berbasis pada pertimbangan kemanusiaan, bukan golongan dan sektarian, ini artinya bahwa ideologi dan agama dituntut mampu mengedepankan dan merumuskan konsep kemanusiaan dan sosialnya secara komprehensif dan universal melintas batas etnisitas, sekte, ideologi dan agama itu sendiri. Dalam era global, semua organisasi sosial-keagamaan tidak bisa lepas dari bidang garap yang terkait dengan kelompok-kelompok interest-group seperti petani, buruh, nelayan dan sebagainya. Nah, bagaimanakah NU menghadapi persoalan ini?

Dalam era global dan multikultral, NU sudah saatnya untuk terus melakukan evaluasi dan reorientasi dalam melakukan pembaruannya. Sebab, bagaimanapun kondisi objektif masyarakat dan konteks sosial harus dilihat secara cermat untuk melakukan dakwah ke depan. Kepekaan terhadap problem-problem sosial seperti HAM, demokratisasi, supremasi hukum, pemberantasan korupsi, kemiskinan dan segudang isu-isu sosial lainnya merupakan lahan garap yang mendesak yang mesti dilakukan dan diprioritaskan oleh organisasi sosial Islam seperti NU ini. Karena kita menyadari, bahwa selama ini secara empirik lembaga-lembaga Islam masih belum memiliki kekuatan yang seimbang jika dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan bisnis maupun politik yang ada. Kita sadar, bahwa pusat-pusat kebudayaan dan kekuatan-kekuatan yang berpengaruh sekarang ini bukan berada pada lembaga Islam, melainkan ada pada dunia bisnis dan politik. Dalam setting seperti ini lembaga sosial kemasyarakatan Islam terancam oleh subordinasi. Oleh sebab itu, dalam rangka harlah NU ke-95 ini, para elit NU harus dapat merumuskan keputusan-keputusan penting menyangkut program ke depan, yaitu empat issu besar MDGs: kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Semoga.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *