ANTARA TAKDIR DAN IKHTIAR

Oleh M. Zainuddin

Seluruh manusia di dunia saat ini di-warning oleh Tuhan untuk berpaling kepada-Nya. Ada yang cemas, takut, stress, frustrasi dan bahkan bunuh diri. Ada yang terus berdoa dan berzikir dalam duduk, berdiri dan terlentang seraya memohon keselamatan agar segera sirna wabah covid-19 ini.

Ada juga yang tegar, abai dan tak mau ambil pusing dengan semua itu. Ada yang sok religius tak gubris aturan pemerintah, tetap berjama’ah dan mengadakan majlis ta’lim seraya berkata: “Saya tidak takut corona, saya hanya takut Tuhan, saya tidak takut mati, di manapun jika Tuhan menakdirkan mati ya kita tetap akan mati” dst., dst. Dilalah (biiznillah), ketika tiba-tiba ada anjing menyalak di depannya, ia lari berbirit-birit ketakutan. Saat ditanya oleh salah seorang satpam: “ada apa?”, sambil terengah-engah jawabnya: “saya takut anjing…”

Ya, akhirnya orang ini tidak takut corona tapi takut anjing, padahal anjing itu hanya menyalak, tidak lebih berbahaya dari corona yang menjadi penyakit global. Tuhanpun juga dilupakan. Diapun tidak sadar bahwa ketika dia lari dari anjing yang menyalak di depannya itu, adalah bagian dari ikhtiar untuk menyelamatkan diri dan jiwanya (hifdzun nafs).

Sama halnya dengan usaha kita untuk tidak berkerumun dengan orang lain (social distancing), sesungguhnya ini juga bagian dari ikhtiar menyelamatkan diri dan menjauhkan dari pandemi covid-19 yang sirr itu

Mati memang takdir Tuhan, tapi kapan seseorang akan mati itu tidak ada yang tahu. Sama halnya dengan kiamat, kapan terjadi, hanya Tuhan yang maha tahu.

Oleh sebab itu berbahagialah orang yang selalu ikhtiar dan berdoa, istiqamah dan tawakkal kepada-Nya, karena mereka ini selalu dihibur oleh para Malaikat di dunianya dan disediakan surga-Nya. kelak di akhirat. Mari kita tawadhu’ , merendahkan hati supaya Tuhan tetap mencintai, amin… []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *