SELAMAT TINGGAL MITOS DAN SELAMAT DATANG LOGOS

Prof. Dr. M. Zainuddin, MA.*

Baru saja kita menyaksikan gerhana matahari cincin, Kamis, 26/12/2019 yang melintas di beberapa wilayah di Indonesia, dan puncaknya berada di sejumlah wilayah Sumatera  seperti Aceh dan Nias. Sebelumnya, tiga tahun lalu tanggal 9/3/2016 juga terjadi gerhana matahari total (GMT). Sekitar 11 provinsi di Indonesia yang dilintasi oleh gerhana matahari tersebut, yaitu Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Paling beruntung adalah kota Palu yang akan menjadi titik terbaik untuk menyaksikan fenomena tersebut. 

Pada beberapa dasawarsa lalu, gerhana dipahami sebagai sebuah mitos. Kebanyakan orang awam menyikapi gerhana ini dengan ketakutan, tidak keluar rumah, bahkan bagi ibu-ibu hamil diinstruksikan oleh para orang tua untuk bersembunyi di balik kolong ranjang, karena -–lagi-lagi secara mitis (bukan mistis)– jika ibu hamil keluar rumah berdampak pada jabang bayi yang tidak normal, karena dimakan Buto atau Betoro Kolo. Ibu-ibu di desa menyambut datangnya gerhana saat itu dengan ramai-ramai memainkan lesung dan alu —suatu tempat untuk padi yang mau ditumbuk dengan alat penumbuk (alu), berbentuk panjang, termasuk beberapa ramalan sebagian orang bahwa Indonesia akan terjadi huru-hara. Dan masih banyak lagi mitos lain yang terkait dengan peristiwa besar alam ini.

Pemerintah sendiri saat itu (zaman rezim Soeharto) telah melakukan politisasi dengan melarang kepada masyarakat untuk tidak melihat langsung GMT tersebut. Menurut sumber Kompas, (2/3/2016) larangan itu dalam rangka menguji kepatuhan rakyat terhadap rezim, dan ternyata ampuh. Bahkan Gus Dur, saat itu menilai ketakutan pada GMT itu lebih massif di tingkat pejabat dan kelompok profesional yang mendapat wewenang dari pemerintah. Ketakutan itu juga sebagai kemunculan Betara Kala di bidang politik dan hukum.

Kini, peristiwa siklus puluhan tahunan ini menjadi berbeda dengan zaman dulu itu. Pemerintah justru mengajak masyarakat untuk merayakan bersama dan menyaksikan kegelapan eksotis dan spektakuler itu. Tidak lagi bermitos ria. Bahkan kementerian agama, melalui dirjen Bimas Islam menyerukan shalat gerhana matahari (kusuf al-syams), bersedekah dan banyak istighfar. Di beberapa masjid diselenggarakan shalat Kusuf al-Syams secara berjama’ah.

Dari Mitos menuju Logos

Kenyataannya memang tak dapat dipungkiri, bahwa praktik mitos ini terjadi pada hampir seluruh lapisan masyarakat, baik lapisan elit, –apalagi lapisan bawahnya (awam). Tidak hanya di kota –apalagi di desa. Mitos ini sudah menjadi bagian dari proses kehidupan umat manusia dari zaman ke zaman. Dan begitu pun sebaliknya, ilmu selalu berkembang hingga sekarang. Dari tahapan yang paling mitis pemikiran manusia terus berkembang hingga sampai pada tahap supra rasional. Atau kalau meminjam terminologi Peursen, dari yang mitis, ontologis hingga fungsional, sedang menurut Comte, dari yang teologis, metafisik hingga positif.

Menurut Auguste Comte, tahap berpikir manusia dimulai dari kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib, yang memiliki kekuatan supra natural (teologis), segala mara bahaya, penyakit, bencana, kematian dst. datang dari kekuatan gaib (Tuhan). Maka, untuk menolak dan menjauhkan dari mara bahaya tersebut perlu mendekatkan diri pada Tuhan, dengan cara membuat sesaji dengan memanjatkan segala puja dan puji yang dipersembahkannya (metafisik). Misalnya dengan menanam kepala kerbau untuk sebuah bangunan, agar menjadi kokoh tak mudah roboh, menyajikan nasi kuning dan kepala kerbau untuk sedekah laut dan bumi agar tidak terjadi bencana dan tsunami, dst. Secara terus menerus hal itu dilakukan. Namun, seiring dengan perkembangan berpikir manusia, dan semakin tidak menjaminnya mitos itu menjadi solusi problem kemanusiaan, dan juga semakin majunya zaman (modern), maka mitos itu lambat laun ditinggalkan dan beralih pada berpikir yang positivistik dan ilmiah. Segala sesuatunya dikaitkan dengan sebab akibat dan kenyataan empirik, menggunakan diktum logico-hypotetico-verificative.

            Pada zaman Yunani kuno juga berkembang mitos, sebelum munculnya berpikir rasional-logik itu. Baru pada abad ke 6 S.M. hingga awal abad pertengahan, atau antara + 600 tahun S.M. hingga tahun 200 SM. mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat digantikan dengan logos setelah mitos-mitos tersebut tidak dapat lagi menjawab dan memecahkan problem-problem kosmologis. Pada tahap ini bangsa Yunani mulai berpikir sedalam-dalamnya tentang berbagai fenomena alam yang begitu beragam, meninggalkan mitos-mitos untuk kemudian terus meneliti berdasarkan reasoning power.

            Contoh yang paling populer dalam hal ini adalah mengenai persepsi orang-orang Yunani terhadap pelangi. Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi dianggap sebagai dewi yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain. Tetapi bagi mereka yang sudah berpikir maju, pelangi adalah awan sebagaimana yang dikatakan oleh Xenophanes, atau pantulan matahari yang ada dalam awan seperti yang dikatakan oleh Pytagoras (499-420 SM). Demikianlah apa yang menjadi perhatian para ahli pikir Miletos –sebuah kota di Yunani– pertama kali adalah alam (problema kosmologis).

            Pada masa Nabi (Muhammad Saw), mitos ini juga terjadi pada masyarakat Jahiliyyah, di mana mereka menganggap gerhana matahari karena kematian Ibrahim, putera beliau. Seketika itu juga Nabi menolak, bahwa tidak ada hubungan antara kematian puteranya dengan gerhana matahari. Bahwa matahari dan bulan merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah), tidak ada hubungan antara kematian seseorang dengan gerhana tersebut, maka barang siapa yang menjumpai gerhana itu hendaknya berdoa dan shalat sampai keadaan terang kembali (HR. Bukhari).

            Di zaman modern sekarang pun sebetulnya praktik mitos itu masih banyak terjadi di masyarakat kita, sulit untuk ditinggalkan begitu saja, karena sudah membentuk sedemikian rupa, dan tidak ada usaha untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan pencerahan. Maka, di tengah kemajuan ilmu dan teknologi yang pesat sekalipun, praktik mitos ini masih berlangsung pada sebagian masyarakat kita. Di beberapa tempat yang dianggap keramat, pohon besar, makam-makam, dan sebagainya kita dapat menyaksikan praktik mitos tersebut.

Paradigma Sains Islami

Kini kita perlu berpikir terus tentang kelangsungan perkembangan ilmu, lebih-lebih ilmu sebagai proses yang menggambarkan aktivitas manusia dan masyarakat ilmiah yang sibuk dengan kegiatan penelitian, eksperimentasi, ekspidisi dan seterusnya untuk menemukan sesuatu yang baru. Formulasi-formulasi yang telah diperkenalkan oleh para ilmuwan pendahulu kita hendaknya diaktualisasikan untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut, atau bahkan perlu improvisasi. Oleh sebab itu proses pendidikan tak boleh tidak harus digalakkan terus dalam berbagai disiplin ilmu. Proses pendidikan inilah yang oleh Islam selalu ditekankan (lihat, Q.S Ali Imran: 190), dan belajar terus menerus sepanjang hidup (life long-education) seperti yang disebut dalam  kata hikmah uthlub al-‘Ilma min al-mahdi ilå ‘l-lahdi, carilah ilmu dari buaian hingga ke liang kubur.

Bahwa ilmu memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia tidak seorang pun mengingkarinya. Bahkan hampir seluruh aktivitas manusia tidak lepas dari apa yang disebut dengan ilmu ini. Karena pentingnya ilmu itu pulalah al-Qur’an begitu sering menyinggungnya, demikian pula al-Hadis. Kata bijak bertutur: “Barang siapa mengharapkan dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan akhirat maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu”.

Ayat-ayat al-Qur’an (wahyu) adalah merupakan pernyataan normatif yang harus dianalisis untuk diterjemahkan ke dalam level objektif (baca: dibumikan). Oleh sebab itu, ia harus dirumuskan dalam bentuk teoretis. Sebagaimana kegiatan analisis data yang dapat menghasilkan konstruk-konstruk, maka demikian pula analisis terhadap konstruk-konstruk teoretis al-Qur’an tersebut juga harus dilakukan. Elaborasi terhadap konstruk-konstruk teoretis al-Qur’an inilah yang hakikatnya –menurut istilah Kuntowijoyo– merupakan kegiatan Qur’anic-theory building yang pada gilirannya akan melahirkan paradigma al-Qur’an (Qur’anic Paradigm). Fungsi paradigma al-Qur’an pada dasarnya adalah untuk membangun perspektif al-Qur’an dalam rangka memahami realitas. Ilmu merupakan dasar berpijak bagi seseorang untuk berbuat, dan lebih dari itu untuk mengembangkan dirinya sehingga kadar kualitas manusia dan pengembangan kepribadiannya akan tergantung kepada kadar keilmuannya.

Gerhana matahari di satu sisi merupakan peristiwa alamiah siklus tahunan dan pada sisi yang lain merupakan the miracle of God yang harus disyukuri. Pemahaman seperti ini mengandung konsekuensi, bahwa peristiwa alamiah perlu mendapatkan perhatian setiap muslim melalui perenungan (tadabbur), bahwa Tuhan menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan, namun melalui konsep teleologis (by designed) yang luar biasa menakjubkan. Penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang itu merupakan tanda kebesaran Allah (the miracle of God) bagi orang yang berilmu dan mau berpikir. Dalam konteks peristiwa GMT ini adalah bahwa umat Islam mesti merenung dan introspeksi bahwa Allah adalah Maha mengetahui dan Bijaksana dalam segala hal. Sehingga ujung dari perenungan dan ilmu itu adalah iman dan amal salih. Maka, jika kita menjumpai peristiwa gerhana ini disunnahkan untuk shalat kusuf al-syams. Ilmu dalam perspektif Islam berangkat dari basmalah dan berujung pada hamdalah, sebagaimana firman-Nya: Rabbanå må Khalaqta Håzå Båthilå Subhånaka fa Qinå ‘Azåb al-Når.

Dalam Islam, strategi pengembangan ilmu juga didasarkan kepada perbaikan dan kelangsungan hidup manusia untuk menjadi khalifah di bumi (khalîfah fi ‘l-ardh) dengan tetap memegang amanah besar dari Allah SWT. Oleh sebab itu ilmu harus selalu berada dalam kontrol iman. Ilmu dan iman menjadi bagian integral dalam diri seseorang. Sehingga dengan demikian yang terjadi adalah, ilmu amaliah yang berada dalam jiwa muthmainnah. Dengan begitu teknologi sebagai produk dari ilmu akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Dan inilah yang mesti menjadi tanggung jawab ilmuwan Muslim.[]

__________

*Guru Besar Sosiologi Agama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *