RETHINKING MAKNA AKHLAK

Oleh:  M. Zainuddin*

Berbicara mengenai akhlak maka tidak lepas dari pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyyah). Sementara itu membincang soal pendidikan Islam, maka harus dimulai dari cara pandang Islam (world-view) tentang manusia. Bagaimana filsafat Islam memandang manusia? Paradigma filsafat Islam adalah teo-antroposentris, artinya bahwa Islam memandang manusia bersifat utuh dan menyeluruh yang tidak terlepas dari dimensi kemanusiaan dan ketuhanan.

Manusia, dengan akal pikirannya, mampu menciptakan kreasi spektakuler berupa sains dan teknologi. Manusia juga bagian dari realitas kosmos yang menurut para ahli pikir disebut sebagai al-kain an-natiq, “makhluk yang berbicara” dan “makhluk yang memiliki nilai luhur” (Lihat Q.S At-Tin).

Al-‘Aqqad dalam Al-Insan fi al-Qur’an (1973:21) menjelaskan, bahwa manusia lebih tepat dijuluki “makhluk yang berbicara” dari pada sebagai “malaikat yang turun ke bumi” atau “binatang yang berevolusi”, sebab manusia lebih mulia ketimbang semua itu. Alasan ‘Aqqad ini tidaklah berlebihan, sebab menurutnya, “malaikat yang turun ke bumi“ tidak mempunyai kedudukan sebagai pembimbing ke jalan yang baik maupun yang buruk, demikian pula “binatang yang berevolusi”. Hanya manusialah yang mampu memikul beban dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah kepadanya. Oleh sebab itu, tidak heran pula jika ada yang mengatakan, bahwa manusia adalah “pencipta kedua” setelah Tuhan. Hal ini dapat kita pahami, betapa manusia yang dianugerahi rasio oleh Tuhan itu mampu menciptakan kreasi canggih berupa sains dan teknologi, sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu bersaing secara intelektual. Kelebihan intelektual inilah yang menjadikan manusia lebih unggul dari pada makhluk lainnya, tetapi ia pun akan menjadi dekaden, bahkan lebih rendah nilainya dari binatang jika melakukan tindakan yang destruktif, melepaskan imannya (Lihat Q.S At-Tin 5-6 dan Al-A’raf: 179).

Dalam al-Qur’an istilah manusia disebut dengan kata-kata: al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan. Manusia disebut al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang. Al-Insan juga berarti jinak diambil dari kata ins. Kata al-Insan mengandung pengertian manusia sebagai makhluk sosial dan kultural/keilmuan. Sedangkan disebut al-Basyar berarti tampak baik, indah, dan gembira. Kata al-Basyar disebut dalam al-Qur’an sebanyak 123 kali, dan pada umumnya bermakna gembira, 37 kali bermakna manusia dan 2 kali berkaitan dengan hubungan seks. Al-Basyar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi (A. Mu’in, 1994:81).

Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Dia adalah unik, tidak ada makhluk seunik dan seajaib manusia. Manusialah yang mampu menguasai alam semesta ini. Binatang sebuas apapun dengan kreativitas akalnya bisa ditaklukkan. Dialah maakhluk spektakuler di jagad raya ini. Dalam pandangan kita (baca: Islam), bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki unsur tidak saja jasmani, tetapi juga ruhani dan nafsani. Aspek terakhir inilah yang kurang menjadi concern, atau sering dilupakan oleh pengelola (designer) pendidikan. Di samping itu, manusia juga memiliki kedudukan sebagai ‘abid (makhluk yang menyembah Tuhan, Allah), juga berkedudukan sebagai khalifah(pemimpin dan manajer di muka bumi ini). Ini yang harus kita pahami. Jika kita berbicara pendidikan Islam, maka aspek ini tidak boleh dilupakan.

            Sebagaimana umumnya para filosuf beranggapan –termasuk Ibn Sina, al-Farabi dan juga al-Ghazali– bahwa jiwa itu tersusun dari tiga jenis: jiwa nabatiyah, jiwa hayawaniyah dan jiwa insaniyah. Jiwa nabatiyah adalah jiwa yang berfungsi untuk makan, tumbuh dan melahirkan, jiwa hayawaniyah adalah jiwa yang berfungsi mengetahui hal-hal kecil dan bergerak sesuai iradah dan jiwa insaniyah adalah jiwa yang melakukan perbuatan dan mengatahui hal-hal yang bersifat umum.

            Menurut Iqbal, insan kamil adalah puncak dari perkembangan ego manusia, yang memiliki kekuatan berhadapan dengan Tuhan. Dari kekuatan ego tersebut juga menyebabkan manusia terangkat menjadi khalifah Tuhan. Menurut Iqbal, insan kamil adalah manusia yang mampu menyerap kebaikan-kebaikan Tuhan dalam dirinya. Tuhan dan manusia menurut Iqbal adalah dua entitas yang berbeda.

Relasi Tuhan dengan manusia menurut Iqbal bersifat bottom up, artinya bergerak dari manusia menuju Tuhan (At-Tafkir fi Khalqil-Llahi Ilat-Tafkir fi-llah) . Ini diambil dari hadis: Tafakkaru fi Khalqi-llahi wa La Tafakkaru fi Zatihi dan Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu.

Bagaimana manusia mampu berhubungan dengan Tuhan-nya, juga mampu berhubungan dengan sesama manusia dan alam semesta? Di sini sebetulnya al-Qur’an surat al-Qashash: 77 sudah memberikan penjelasan yang gambalng. Dalam surat ini Allah berfirman:

“Carilah apa yang telah dianugerahkan kepadamu akhirat dan jangan lupa bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah (kepada sesamamu) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah membuat kerusakan di muka bumi, karena Allah tidak suka kepada orang yang membuat kerusakan“.

Di sini pula sebetulnya 14 abad yang silam Islam sudah berbicara mengenai etika, regulasi tri relasi. Inilah sebetulnya etika Islam (al-akhlaq al-karimah) itu.

Ekstensi makna Akhlaq Karimah

Konsep Al-akhlaq al-Karimah atau akhlaq karimah –bukan akhlaqul karimah— sering dipahami secara simplistik, artinya bahwa akhlak itu hanya dipahami sebatas sopan santun saja. Padahal al-akhlaq al-karimah itu mencakup berbuat kebajikan kepada semua, termasuk menjaga keseimbangan alam semesta ini (mencakup persoalan ekologi, HAM, keadilan, demokratisasi, ketimpangan sosial dsb.). Jika ini yang dipahami, maka kurikulum akhlak karimah menjadi wajib di semua lembaga pendidikan (apapun jenis dan jenjangnya). Sebagaimana kata adab, atau al-adab sering dipahami secara sederhana, tata karma atau sopan santun murid dengan guru atau anak dengan orang tua. Padahal al-adab itu memiliki ekstensi makna ta’dib yang berarti mengembangkan peradaban. Maka tidak mungkin seorang Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak, kalau akhlak ini hanya bermakna sopan santun. Apa mungkin itu? Bukankah menyederhanakan makna nubuwwah dan risalah-nya? Inilah akhlaq karimah yang sepadan dengan Ihsan, yang merupakan kelanjutan dari Islam dan Iman.

Kurikulum sebetulnya juga tidak saja yang verbal, yang tertulis mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, tetapi lebih dari itu ada kurikulum non-verbal (hidden curriculum) yang berupa uswah dan qudwah para pendidik, guru (termasuk pemimpin bangsa). Maka hakikat guru, pendidik dan pemimpin itu seharusnya semua ucapan, perbuatan dan ketetapannya menjadi panutan orang lain (murid, siswa dan yang dipimpinnya).

__________

            *Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maliki Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *