Monthly Archives: November 2015

AGAMA: ANTARA FUNDAMENTALIS DAN MODERAT

Secara general, para ahli sosiologi agama membagi kategori agama menjadi dua kutub, yaitu: fundamentalis dan moderat. Fundamentalisme merupakan gejala keagamaan yang bisa muncul dari semua agama, dimana pun dan kapan saja. Oleh karena itu dikenal istilah: fundamentalisme Islam, fundamentalisme Hindu, fundamentalisme Kristen dan seterusnya. Istilah fundamentalis di sini dimaksudkan adalah pemikiran sekelompok orang yang cenderung menentang pembaruan agama dan politik.

Fundamentalisme adalah paham  yang berjuang untuk menegakkan kembali norma-norma dan keyakinan agama tradisional untuk menghadapi sekularisme. Dalam agama Kristen, fundamentalisme muncul karena ingin membendung bahaya modernisme yang dianggap telah mengotori kesucian agama dan ingin kembali kepada teks kitab Suci (Bibel). Sementara itu dalam Islam, fundamentalisme  juga diartikan sebagai paham yang bermaksud mempertahankan ajaran dasar Islam, menjauhkan dari segala bentuk tahayyul, bid’ah dan khurafat seperti  yang dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibn Taimiyah. Tetapi perkembangan lebih lanjut kelompok fundamentalisme di atas memiliki konotasi minor dan sangat pejoratif, bahkan dianggap sebagai kelompok garis keras yang sering bertindak irrasional dan selalu dikaitkan  dengan gerakan-gerakan dan revolusi, seperti gerakan Wahabi di Saudi Arabia, Khumaini di Iran, Hasan al-Banna, Sayid Qutub di Mesir dan seterusnya. Sebagian orang juga menilai, bahwa fundamentalisme adalah kelompok yang melawan tatanan  politik yang ada. Oleh sebab itu kelompok oposisi Islam sering dianggap sebagai fundamentalis. Di lain pihak kelompok ini juga dianggap sebagai gerakan subversif (1992: 1).

Fundamentalisme Islam populer di kalangan Barat setelah terjadinya revolusi Iran tahun 1979. Menurut E. Marty (1991), ada dua prinsip fundamentalisme: pertama, memiliki prinsip perlawanan (opposition), yaitu perlawanan terhadap segala bentuk yang dianggap membahayakan eksistensi agama, apakah dalam bentuk modernisme, sekularisme maupun westernisme; kedua, adalah penolakannya terhadap heurmenetika. Kelompok fundamentalis menolak sikap kritis terhadap teks dan interpretasinya. Menurut kelompok ini, teks harus dipahami sebagaimana adanya karena nalar dianggap tak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Oleh sebab itu kelompok ini juga disebut tekstualis-skripturalis.

Senada dengan penjelasan di atas, Riaz Hassan (2006:115) juga mengemukakan, bahwa fundamentalisme Islam merujuk pada kelompok ‘puritan’ Islam, yang berusaha menegakkan kembali identitas agama dan tatanan sosial. Mereka menganggap bahwa identitas mereka berada dalam bahaya dan terkikis oleh hibriditas budaya dan agama. Mereka mempertahankan penafsiran, doktrin, keyakinan, dan praktik masa lalu yang suci.

Menurut Montgomery Watt (Ibid), bahwa fundamentalisme tercermin dalam kesadaran kaum Muslim yang menerima pandangan dunia tradisional dan terus mempertahankannya. Kondisi modernitas dan globalisasi yang menjadi ciri dunia merupakan ancaman yang serius bagi pandangan dunia tradisional. Menurut Watt, alasan utama munculnya fundamentalisme Islam adalah adanya perasaan kaum Muslim, termasuk orang yang berpendidikan tinggi, bahwa mereka berada dalam bahaya yakni hilangnya identitas Islam mereka, karena dikikis oleh sikap intelektual Barat. Kaum Muslim juga merasakan bahwa dengan kebangkitan sosial yang diakibatkan oleh pengaruh Barat, masyarakat Islam akan menjadi lebih buruk dibandingkan masyarakat lain. Fundamentalisme Islam modern merupakan respon kolektif terhadap krisis emosi dan intelektual, karena janjinya adalah kembali kepada ‘Islam yang benar’, yang dapat memecahkan semua problem.

Penjelasan Watt tentang fundamentalisme Islam tersebut terepresentasikan dalam kelompok intelektual Muslim seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutub, Sayyid Abul A’la al-Maududi serta gerakan politik Islam seperti Ikhwan al-Muslimin dan Jamaat al-Islami. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Maududi, bahwa di bawah pengaruh peradaban Barat dan orientasinya yang materialistis dan ateistis, kaum Muslim telah kehilangan ciri dan moral Islam, ide dan ideologi, ‘semangat Islam’ dan identitas mereka.

Terkait dengan teologi keselamatan (salvation) dan relasi Muslim dengan non-Muslim sebagaimana penjelasan Abou al-Fadl (2005:244-263), bahwa menurut kelompok fundamentalis –ia menyebutnya puritan– hanya orang Muslimlah yang selamat di Hari Akhir. Orang-orang puritan menegaskan, bahwa di sebuah negara Muslim, kaum non-Muslim mesti diturunkan tingkatannya sehingga statusnya lebih rendah di hadapan kaum Muslim. Misalnya, kaum non-Muslim harus mengenakan lencana khusus agar mereka mudah dikenali identitasnya. Lebih jauh lagi, kaum non-Muslim tidak diperbolehkan mendirikan bangunan gereja atau sinagog yang lebih tinggi dari pada masjid, dan mereka harus dinomorduakan dari orang Muslim dalam semua kegiatan sosial sehari-hari. Termasuk, orang Muslim dilarang untuk mengawali salam damai kepada non-Muslim.

Premis yang memotivasi orang-orang puritan adalah bahwa Islam harus menguasai dan mendominasi. Konsekuensinya, kaum non-Muslim yang hidup di wilayah Muslim harus dibuat merasa inferior agar mereka tidak tahan dengan status mereka. Kondisi ini akan menjadi titik masuk bagi mereka untuk melihat kebenaran dan beralih ke Islam. Dengan cara ini mereka bisa meninggalkan status rendah mereka.

Bersandar beberapa karya ahli hukum klasik, kalangan puritan getol memperjuangkan teologi yang dikenal dengan sebutan al-wala’ wa al-bara’ (doktrin loyalitas dan pemisahan). Doktrin ini menyatakan, bahwa kaum Muslim hanya wajib peduli, berinteraksi, dan berteman hanya dengan umat Islam. Kaum Muslim dibolehkan meminta bantuan non-Muslim hanya jika mereka lemah dan membutuhkan, tetapi selagi umat Islam mampu memperoleh kekuatannya, mereka harus merebut status superiornya. Umat Islam tidak boleh bersahabat dengan kaum non-Muslim atau membiarkan diri mereka peduli atau mencintai kaum non-Muslim (Ibid).

Sementara itu kelompok moderat berangkat dari premis-premis yang sangat berbeda. Jika kalangan puritan meyakini bahwa eksistensi kaum non-Muslim adalah situasi temporer, dan umat Islam harus berjuang keras untuk memperbaikinya, dan bahwa dunia pada akhirnya harus diislamkan, maka kalangan moderat justru menolak logika ini sebagai sesuatu yang secara fundamental bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalangan moderat berpendapat bahwa al-Qur’an tidak hanya menerima, melainkan mengharapkan realitas perbedaan dan keragaman dalam masyarakan, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat:13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulai di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Di sisi lain, al-Qur’an surah Hud: 119 juga menegaskan, bahwa keragaman adalah bagian dari kehendak dan tujuan Tuhan dalam mencipta. Sebagaimana al-Qur’an  menegaskan: “Jika Tuhanmu menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Kaum moderat berpendapat bahwa al-Qur’an tidak hanya mendukung prinsip keragaman, tetapi juga menyodorkan tantangan hebat kepada manusia, dan itu ditujukan agar mereka “saling mengenal.” Dalam kerangka al-Qur’an, keragaman bukanlah penyakit atau kejahatan. Keragaman adalah bagian dari tujuan penciptaan, dan hal ini meneguhkan kekayaan Tuhan. Tujuan yang dipancangkan Tuhan tadi, yaitu untuk saling mengenal, membebankan kewajiban bagi umat Islam untuk bekerja sama dan bekerja ke arah tujuan-tujuan khusus dengan kaum Muslim dan juga non-Muslim.

Dalam beberapa kesempatan al-Qur’an menekankan, bahwa jika Tuhan berkehendak, Dia bisa membuat manusia itu sama, dan semua manusia akan beriman juga (al-Qur’an,Yunus: 99). Dalam sejarahnya, dengan menekankan keniscayaan perbedaan, al-Qur’an menyampaikan kepada Nabi bahwa kalau saja Nabi menunjukkan bukti yang paling meyakinkan sekalipun kepada sebagian manusia, mereka tidak akan mengikutinya, dan bahwa Tuhan telah menghendaki manusia tetap dalam kondisi berbeda. Kalangan moderat mengilustrasikan penghargaan Tuhan kepada kehendak bebas manusia dan juga memerintahkan agar manusia mengakui indahnya toleransi. Dikarenakan keragaman adalah bagian dari kehendak Tuhan, maka orang-orang moderat berpendapat bahwa manusia seharusnya tidak berusaha menghilangkan apa yang telah dilakukan Tuhan dengan sepenuh kehendak-Nya (Abou al-Fadl, Selamatkan Islam …..)

Melengkapi kewajiban toleransi, al-Qur’an mewajibkan manusia untuk bekerja sama dalam meraih kebaikan. Dalam beberapa ayat, misalnya al-Qur’an surah al-Maidah: 49 menyatakan:

“Untuk tiap-tiap kamu Kami berikan aturan dan jalan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah [di Hari Akhir] kamu semua akan kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.

Dengan menekankan semangat yang sama, yakni membawa pesan rekonsiliasi yang ditujukan kepada umat Islam sendiri, al-Qur’an surah al-Ankabut: 46.menyatakan:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahlulkitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ‘Kami telah beriman kepada [kitab-kitab] yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri’.

Di lain tempat al-Qur’an surah al-Nahl: 125 menegaskan:

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan saran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik dan penuh kesabaran. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

“Hai Ahlulkitab, marilah kita capai satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah” (QS Ali Imran: 64).

Bagian pertama dari ayat tersebut mengingatkan umat Islam, Kristen, dan Yahudi bahwa mereka semua menyembah Tuhan yang sama. Bagian kedua menyatakan sebuah prinsip yang bisa diterapkan untuk hidup bersama di muka bumi ini –menerima kebenaran Tuhan berarti bahwa satu golongan tidak selayaknya berusaha mendominasi yang lainnya.

Tema serupa ditekankan dalam apa yang bisa disebut sebagai ayat-ayat salam. Salam adalah kosakata yang seakar dengan kata Islam, yang berarti kedamaian, kesentosaan, ketenangan, atau ketentraman. Ayat-ayat salam adalah ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan kebutuhan tidak saja akan toleransi antaragama, melainkan untuk bekerja sama secara moral yang berusaha menegakkan kebajikan di muka bumi. Dalam ayat-ayat salam, al-Qur’an  menandaskan bahwa dalam berhubungan dengan kelompok musuh, umat Islam seharusnya mencoba mengingatkan mereka akan kewajiban moral mereka kepada Tuhan, tetapi jika musuh itu dengan angkuh menolak kebenaran, umat Islam seharusnya meninggalkan sembari memberikan salam kepada mereka. Dalam dinamika ini, umat Islam seyogyanya menunjukkan sikap yang dapat meyakinkan musuh mereka bahwa perbedaan pendapat di antara mereka tidaklah bersifat personal, dan bahwa umat Islam tidak menampakkan dendam atau kebencian terhadap musuh mereka. Sampai-sampai ketika musuh menolak ajaran dan berpaling, al-Qur’an memandu umat Islam bahwa satu-satunya respons yang tepat terhadap penolakan ini adalah mendoakan agar musuh mereka mendapat anugerah kedamaian (Abou al-Fadl, 252).

Memang, makna yang terkandung dalam teks-teks agama sangat tergantung dan dipengaruhi oleh kecenderungan serta komitmen moral dan etis para pembaca teks tersebut. Namun, makna tersebut juga dipengaruhi oleh perangkat teknis yang dipakai orang dalam memahami teks. Dalam konteks ini, orang-orang fundamentalis dan moderat dalam membaca dan menafsirkan sumber-sumber agama selalu bertentangan. Hal ini disebabkan oleh kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan kedua kelompok tersebut secara diametrik tidak sejalan, karena perbedaan penafsiran. Bisa saja, teks yang digunakan sebagai alasan (hujjah) sama, namun metode dan pendekatan yang mereka pakai berbeda sehingga melahirkan penafsiran dan hasil kesimpulan yang berbeda pula.

 

 

 

 

MAKNA PAHLAWAN 

 

Persoalan gelar pahlawan akhir-akhir ini menjadi isu yang marak dan menarik. Banyak gagasan yang muncul terkait dengan gelar pahlawan ini. Demikian pula sebagian kelompok mengusulkan kepada salah seorang tokoh nasional untuk diberi gelar “pahlawan”, sementara kelompok lain menolaknya, karena dianggap belum memenuhi kriteria sebagai sosok pahlawan. Di negeri kita ini sudah banyak pahlwan yang berjuang untuk menegakkan kemerdekaan bangsa dan negara. Mereka memiliki jasa besar terhadap generasi penerus bangsa. Tanpa perjuangan mereka, maka negeri ini tidak ada. Jasa besar inilah yang mesti dihargai dan dihormati, termasuk para sahabat dan keluarga mereka.

Siapa Sesungguhnya Pahlawan Itu?

Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita merujuk kata pahlawan dalam KBBI, maka menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi seseorang, bahkan siapa pun yang berjuang dalam membela kebenaran bisa menempati posisi sebagai seorang pahlawan. Pahlawan adalah gelar untuk orang yang dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya (Hubb al-wathan min al-iman).

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah: limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah swt. Di sini maknanya, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu). Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan.

Dalam perspektif Islam, yang disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi: Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah: Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin. Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam al-Quran, di antaranya adalah:

“Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah (QS, 2:193) seluruhnya dan dimana saja (QS, 8:39). Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS, 4:75).

Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah mati, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan”. QS al-Baqarah: 154. Pahlawan dalam Islam adalah orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati. Oang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah Swt.

Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad memerangi orang kafir (jihad al-kuffar), jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq). Dan menurut Rasulullah, justru jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi.” Kata sebagian sahabat: “Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat”? Jawab Nabi: “Perang melawan hawa nafsu”.

Pahlawan yang tanpa tanda jasa pun juga banyak, misalnya para guru dan para generasi tua yang berjasa kepada generasi penerusnya. Ada sebuah cerita menarik terkait dengan kisah kepahlawanan ini. Alkisah, seorang raja Persia yang bernama Kisrâ Anû Syirwân melakukan turba ke rumah-rumah para penduduk. Ketika ia tiba di satu rumah, di sana ia menemukan seorang kakek yang menanam pohon di halaman rumahnya. Sang raja tertawa dan bertanya, “Wahai kakek, kenapa engkau menanam sebuah pohon yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan, sedangkan engkau mungkin tahun depan sudah mati dan tentu engkau tidak dapat menikmati buah-buahan yang telah engkau tanam itu”. Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, “Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba‘da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita” (Didaat: 2008).

Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa-masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan Sirah Nabawiyah-nya, misalnya saja Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa. Guna membangkitkan kembali ruh jihad di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw., maka Shalahuddin inilah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad Saw. (maulid al-Rasul). Melalui media peringatan itu diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad Saw.. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam, tak terkecuali di Indonesia. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan di kalangan umat Islam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris. Inilah salah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan-pahlawan Islam yang lain. Di setiap penghujung abad selalu muncul pahlawan-pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi ini.

Hanya yang perlu dipahami, bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang-orang yang tidak bersalah, maka yang demikian itu tidak dibenarkan adanya. Perjuangan Islam mesti tidak akan merugikan siapa pun. Ketika Nabi Muhammad Saw. berjuang menegakkan Islam, yang ditegakkan Nabi adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, kesamaan, toleransi dan hak-hak orang lain tetap diperhitungkan. Sikap Nabi yang toleran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah yang kemudian memposisikan Islam sebagai agama rahmat. Nabi sendiri menegaskan: Ahabb al-adyan ila Allah al-hanifiyyat al-samhah. ***

Skip to toolbar