PENYAKIT HATI (3)

 

Lalai dan Lupa

Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya antara lain adalah:

  1. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.
  2. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur.[i]
  3. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi.[ii]

Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat (rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin kemampuan ingatan seseorang, sebab secara  internal terdapat faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk  mengingat sesuatu, seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan seterusnya.[iii]

Banyaknya informasi dan kegiatan yang menumpuk sebelumnya membuat seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif lebih baik jika informasi dan kegiatan  lebih sedikit. Hal ini terbukti pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa pada masa lalu daripada orang dewasa.[iv]

Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam menggoda Adam as.[v]

Was-was

Para ulama memandang bahwa penyakit was-was merupakan akibat dari bisikan hati dan adanya angan-angan keduniaan yang didasarkan pada hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Penyakit was-was juga merupakan penyakit yang muncul akibat gangguan setan. Setan mengobarkan hawa nafsu dan membuat seseorang  meragukan agamanya. Lupa daratan, cenderung melakukan perbuatan keji.[vi]

Dalam menanggulangi penyakit di atas, nampaknya metode yang ditempuh oleh “psikologi Islam” berbeda dengan yang  ditempuh oleh psikologi modern. Islam memandang bahwa sumber utama dari penyakit was-was adalah setan. Oleh sebab itu jalan keluarnya adalah terapi berzikir kepada Allah.

As-Samarqandi, seperti yang dikutip oleh As-Syarqawi[vii] menyebutkan bahwa setan senantiasa berusaha menggoda dang memperdaya manusia. Jalan yang  ditempuhnya adalah antara lain: melalui sifat su’uzzan baik kepada Allah maupun kepada manusia, melalui  kemewahan hidup, melalui sikap menghina orang lain, hasut, dengki, bakhil, riya’, kikir, tamak, dan sebagainya. Menurut as-Samarqandi cara mengatasi penyakit ini adalah dengan cara memperkuat keyakinan (iman) kepada Allah dan berpuasa diri (qana’ah) akan karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya.

Frustrasi

Frustrasi (al-ya’s) menurut  as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini biasanya  ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.[viii]

Sebagaimana dijelaskan [ix]dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87).

Dalam mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan[x] dan bandingkan dengan Zakiat Darajat.[xi]

Rakus (Tamak)

Tamak atau rakus adalah keinginan yang berlebih-lebihan yang didasari oleh kemauan hawa nafsu yang tidak terkendali.jika  seseorang mengikuti hasa nafsunya secara belebihan, maka selama ia bersikap tamak dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang  ia terima, selama itu pulaia terperangkap oleh angan-angan dunia yang tidak pernah terwujudkan. Menurut as-Syarqawi, cara membendung sifat tamak ini ad lah dengan membiasakan diri dengan zuhud dan qana’ah sehingga dengan demikian ia akan bebas dari perbuatan hawa nafsu.[xii]

Terpedaya

Terpedaya (al-ghurur) merupakan suatu jenis penyakit mental yang diakibatkan oleh salah persepsi tentang kehiduppan duniawi dan juga lupa tentang penciptanya.menurut as-Asyarqawi keterpedayaan dan salah persepsi berkisar kepda dua hal:

  1. Tentang kehidupan duniawi

Pemahaman yang tidak benar terhdap kehidupan duniawi dimaksudkan salah, bahwa dunia dianggap segala-galanya, dunia merupakan tujuan akhir, harapan dan cita-citanya. penderita penyakit ini selalu meragukan kehidupan akhrat, akhirat dianggap ilusi, tidak kekal, sementara kehiudupan dunia dianggapnya segala-galanya.[xiii] Persepsi yang demikian ini dikenal dalam filsafat sebagai penganut hedonisme.

Menurut Islam, untuk menggulangi penyakit di atas adalah dengan terapi iman, sebab dengan iman seseorang akan menyadari bahwa kehidupan dunia sesungguhnya bersifat sementara (Ibid). Sebagaimana Allah  berfirman dalam beberapa ayat-Nya, bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau saja (lihat: Q.S. Al-An’am: 32, Al-Ankabut: 64, Al-Hadid: 20, Muhammad: 36).

  1. Tentang kepercayaan kepada Allah termasuk dalam kategori terpedaya adalah, kesalahan persepsi terhdap Allah (jika memang benar-benar ada) maka ia akan memberikan kenikmatan di akhirat, mereka menganalogikan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Persepsi di atas jelas tidak benar, sebab adanya kedudukan, kenikmatan, harta dan kedudukan yang diperoleh seseorang tidak selamanya merupakan indikasi keridaan Tuhan, melainkan sebaliknya sebagai ujian dan cobaan.[xiv]

Dari sisi lain sifat terpedaya juga sering merasuk ke dalam jiwa orang yang berkeyakinan, bahwa dengan sifat rahman rahim-Nya Allah akan mentolerir perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang sengaja melalaikan perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, penderita penyakit ini cenderung selalu mengabaikan perintah-perintah Allah dengan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia terjebak dalam persepsi yang keliru.***

[i]   As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 83.

[ii]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 29.

[iii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 84.

[iv]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 229.

[v]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 232.

[vi]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 95.

[vii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 98-102.

[viii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 103.

[x] Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Bandung, Mandar Maju, 1989, p. 50.

[xi]  Zakiah Darajat, Kesehatan  Mental,1990, p. 24.

[xii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 103.

[xiii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 111.

[xiv]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 112-113.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar