SUFISME DI ERA GLOBAL

Salah satu fenomena yang sering diramalkan akan menjadi trend di abad XXI ini adalah munculnya gerakan spiritualitas baru. Terhadap gerakan ini, Rederic dan Maryann Brussat (lihat Ruslani ed., 2000: vi-vii), mengistilahkannya dengan “kemelekan spiritual” atau kebangkitan spiritual. Ekspresi gerakan ini sering tampil dengan wajahnya yang sangat beragam, mulai dari Cult, Sect, New Thought, New Relegious Movement, Human Potential Movement, hingga gerakan New Age. Namun demikian dari semua gerakan tersebut, jika ditarik garis horizontalnya, hampir memiliki kesamaan misi, yakni memenuhi hasrat spiritual yang mendamaikan hati.

Tuntutan untuk melakukan gerakan ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, antara lain, pertama: kebutuhan untuk melakukan responsi terhadap paradigma modernisme yang telah mengalami kegagalan dalam beberapa aspeknya; kedua, sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat akibat dari dampak hegemoni Barat yang mengesampingkan nilai-nilai spiritualitas dan lepas dari tuntutan ajaran keagamaan. Sebagai konsekuensinya, gerakan tersebut banyak yang berpaling dari agama Barat Untuk kemudian  berpihak ke agama-agama Timur, seperti Hinduisme, Budhisme, Zen dan Taoisme; ketiga, tidak menutup kemungkinan gerakan tersebut muncul karena  perubahan budaya yang amat cepat dalam kehidupan keseharian akibat dari kesalahan disain kita sendiri.

Gerakan New Age pada hakikatnya juga merupakan reaksi atas dosa-dosa sains modern yang hampa terhadap perasaan (dehumanisasi), dosa-dosa kapitalisme dan imperialisme yang belum bisa lepas dari watak eksploitasinya. Untuk menghadapi ini, gerakan New Age mencoba berpaling dari eksploitasi, selanjutnya berpihak pada upaya-upaya perdamaian, toleransi, kesadaran dan keseimbangan alam. Dengan demikian gerakan ini bisa diartikan sebagai sebuah proses pencarian jati diri manusia, setelah sekian lama manusia ditimpa oleh krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda. Sementara itu agama formal yang mestinya dijadikan tempat kembali mereka, kini dianggap telah kehilangan pesan-pesan universalitasnya. Sehingga wajar jika kemudian pendukung dari gerakan ini sering menggunakan jargon Spirituality Yes, Organized Religions No.

Sufisme, yang sering juga disebut dengan istilah mistik (tetapi bukan mistik Jawa) yang terkait dengan urusan batin (tetapi bukan kebatinan), pengertiannya adalah suatu upaya pendekatan kepada Sang Khaliq yang bergerak dalam lingkup rasa, esoteris, (zauq) dan hati (qalb).

Upaya pendekatan yang bergerak dalam ranah hati ini membutuhkan kejernihan dan ketulusan. Oleh karena itu kejernihan batin atau hati inilah yang sering diidentikkan dengan istilah tasawuf (tashawwuf, Arab) yang orangnya disebut sufi (al-mutashawwif). Apakah tasawuf atau hidup bertasawuf itu melepaskan hasrat dan interes keduniaan? Demikianlah citra umum yang ada pada masyarakat selama ini.

Sebenarnya sejarah munculnya sufisme itu jika dilacak akar historisnya adalah muncul bersamaan dengan lahirnya Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. yang diutus untuk menyempaikan risalahnya. Sejak awal (sebelum menjadi rasul) beliau sudah senang ber-khalwat, ber-tahannus untuk menjauhkan diri dari distruksi sosial masyarakat jahiliyah saat itu. Ketika masih muda beliau dipersepsikan sebagai  pemuda yang jujur, pencari spiritual yang kritis. Meditasi atau ber-khalwat di goa Hiro’ yang dilakukan nabi itu bukan berarti beliau meninggalkan dunia tanpa memperhatikan masa depan Islam, melainkan untuk memohon diri kepada Yang Maha Kuasa agar memperoleh petunjuk-Nya. Di sebuah bukit, tempat dimana ia mengasingkan diri itulah selanjutnya  beliau memperoleh pengalaman spiritual yang tinggi. Akhirnya melalui pengalaman tersebut Muhammad saw. memperoleh apa yang dinamakan “wahyu” (surat al-‘Alaq sebanyak  lima ayat). Dari hasil khalwat itu beliau bisa meneruskan dakwah Islam yang dimulai dari para sanak keluarganya sampai kepada masyarakat luas: wa anzir ‘asyirataka ‘l-aqrabin (lihat QS: As-Syu’ara: 214); …fashda’ bima tumaru wa a’ridh an ‘l-musyrikin (Al-Hhijr: 94).  Jadi goa Hiro’ merupakan  lepas landas (take of) nabi ke masyarakat luas.

Islam sendiri sebenarnya sangat perhatian terhadap tradisi spiritualitas dan moralitas. Dalam kenyataannya Islam memiliki tradisi spiritualitas yang kaya dan amat berharga yang sudah berjalan selama rentang waktu lebih dari 14 abad. Ajaran yang terkandung dalam wahyu tersebut, di satu sisi membuat beberapa orang tertarik,  di sisi lain membuat orang-orang takut, utamnya adalah kelompok Quraisy. Ketakutan seperti ini bukan semata-mata karena ajaran tauhidnya, tetapi karena ajaran sosial yang dibawa Muhammad saw. sebagai ajaran yang concern terhadap penegaan keadilan ekonomi dan persamaan sosial. Itulah yang akan selalu mengancam kemapanan monopoli perdagangan para kafilah Quraisy yang merupakan kunci untuk memperkaya diri mereka. Dengan demikian tradisi spiritualitas dalam Islam adalah spiritualitas yang sarat dengan pesan-pesan sosialnya.

Belum lagi tradisi spiritualitas lain yang lebih penting dalam Islam. Tradisi spiritual dimaksud adalah shalat sehari semalam. Tradisi ini dianggap  sebagai jantung spiritualitas Islam, karena shalat diawali dengan penataan niat yang dalam untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan diakhiri dengan ucapan salam perdamaian terhadap sesama manusia. Inilah yang kemudian di dalam Islam disebut sebagai ibadah mahdlah, ibadah yang dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan Tuhannya  dan diakhiri dengan sikap kritis terhadap kualitas moral dan spiritualitas dalam suatu tindakan sosial.

Selanjutnya pengalaman spiritual yang dicontohkan nabi itu yang terpenting adalah keteladanan sikap dan akhlak beliau yang harus kita tiru. Bukan persoalan harus tinggal di goa bertapa meninggalkan keramaian dunia, bukan. Nabi selepas menjalankan pengalaman spiritualnya di Hiro’ tidak berhenti di situ saja, tetapi beliau tetap berkhalwat dan zuhud di dalam kesehariannya, dalam pengertian menjauhkan dari ketamakan dunia: hub al-dunya, hub al-jah. Jadi bukan sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan orang selama ini, bahwa bertasawuf adalah identik dengan nyepi, mengasingkan diri dari pergaulan manusia (‘uzlah) untuk selamanya. Berkhalwat bisa berarti berkonsentrasi, mengkhususkan perhatian akan Khaliq-nya. Dari hasil khalwat itu  diimplementasikan dalam bentuk amal saleh untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Nabi sendiri dan juga Allah SWT tidak menghendaki adanya kepincangan hidup. Hal ini bisa dilihat dalam firman-Nya –yang kemudian dikenal dalam masyarakat muslim sebagai doa sapu jagat— Rabbana atina fi ’l-dunya hasanah wafi ’l-akhirati hasanah waqina azaba ‘l-nar. Lihat juga  QS. Al-Qashash: 77. Bahkan jika kita cermati QS.Al-Qashash:77 tersebut kita dapatkan tiga persoalan besar, yatu: teologis, sosiologis dan kosmologis. Secara teologis manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT untuk memperoleh keuntungan akhirat, tetapi di sisi lain tetap diperintahkan untuk bekerja, mencari rizki di dunia, tidak boleh salah satu diabaikan.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sendiri –yang dianggap oleh kebanyakan orang Islam sebagai sulthan al-auliya’— tidak pernah mempunyai sikap hidup yang mengasingkan diri, dalam arti membenci dunia, tidak kawin dan bersikap seperti pendeta (rahbaniah), tetapi ia menolak untuk menikmati keinginan-keinginan dunia yang menimbulkan tenggelamnya hati, sehingga mengakibatkan lupa terhadap penciptanya (Allah SWT). Ia sangat memegangi sabda Nabi, yang artinya : “Sesungguhnya dunia itu diciptakan untukmu (manusia), sedangkan kamu sekalian diciptakkan untuk akhirat.” Dengan kata lain ia tidak melarang seseorang memiliki atau menguasai dunia, tetapi ia melarang seseorang dikuasai dunia dan diperbudaknya.

Bagi para sufi, sebetulnya sufisme dan syari’ah tidak dipandang sebagai dua dimensi yang bertentangan tetapi saling melengkapi satu sama lain dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Meskipun demikian, dalam sejarah dan perkembangan masyarakat memang terjadi pertentangan dan konflik antara kedua penganut dimensi Islam tersebut.

Sebagai satu ajaran, sufisme merupakan dimensi batin atau esoteris yang seringkali dibedakan dengan syari’ah (eksoteris). Sebagai gerakan, dalam sejarah dan perkembngnnya, para sufi dapat dikategorikan dalam  dua kelompok, yaitu: pertama, sufi individualis yang terpanggil untuk mempraktekkan kehidupan asketis dan mistis yang menghasilkan karya-karya sufisme dan dikenal lewat karya tersebut oleh para sufi belakangan. Acapkali para sufi dibesarkan oleh sejumlah pengikut yang menganggapnya sebagai special figure yang dapat mengikat mereka pada suatu aliran tertentu (misalnya sosok Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, yang kemudian melahirkan nama tarekat Qadiriyah, Syeikh Yusuf Taj al-Khalwati dengan munculnya tarekat Al-Khalwatiyah dst.);  kedua, para sufi yang diikat oleh suatu aliran tertentu dan merupakan suatu persaudaraan (brotherhood) yang sering disebut dengan tarekat. Kadang-kadang suatu tarekat merupakan institusi semi formal yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan bahkan politik (Gilsenan, 1973: 1).

Dalam sejarah perkembangan masyarakat, sufisme merupakan dimensi Islam yang tak kalah kontroversial. Hakikat dan eksistensinya seringkali disalahpahami dan diremehkan. Secara teologis ajaran-ajaran tasawuf oleh beberapa kalangan –terutama golongan yang berorientasi modernis– dipandang sebagai ajaran yang tidak berasal dari ajaran Islam sehingga penganutnya dapat menjadi musyrik. Ia dianggap sebagai ajaran  yang mengndung TBC (tahayul, bid’ah dan churafat). Secara sosial, tasawuf yang mengajarkan kehidupan asketis menjadi penghambat pembangunan dan kemajuan zaman sehingga tidak mengherankan kalau Al-Ghazali dipandang bertanggung jawab terhadap ketertinggalan  dan kemunduran umat Islam.

Tuduhan dan kritik terhadap tasawuf tersebut memang seringkali tidak beralasan. Tuduhan dan kritik tersebut biasanya datang dari golongan yang tidak memahami tasawuf secara komprehensif dan tidak melihatnya dari perspektif sufi itu sendiri. Secara teologis, sesunguhnya tasawuf memiliki dasar doktrin yang kuat di dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah dan menurut Nurcholish Madjid (1985), tasawuf memiliki akar yang lebih kuat di dalam Al-Qur’an dibanding dengan syari’ah. Sufisme yang dianggap sebagai simbol kejumudan dan kepasifan juga merupakan kesimpulan yang over-generalisation,  karena dalam banyak kasus di dunia muslim para sufi dan pengikut tarekat berperan aktif dalam berjuang melawan kaum kolonial. Di Indonesia, beberapa tarekat merupakan kelompok masyarakat yang ditakuti pemerintah kolonial Belanda karena gerakan-gerakan “pemberontakan” yang mereka lakukan (Kartodirdjo, 1966).

Perlu diketahui –dan ini merupakan fakta sejarah– bahwa di Afrika Utara, Sudan pada tahun 1943  muncul gerakan  sufi terkenal, yaitu sekte Ashiqqa dan Marabaouts (al-Murabbithun), yang mempunyai peranan besar dalam percaturan politik melawan penjajahan. Kaum sufi pun bisa bertingkah laku berang dan berperan sebagai reformis dan top leader (lihat: Donald E. Smith, Religion and Political Development: 135, 137). Pada masa dinasti Saljuk sufisme juga berfungsi sebagai gerakan protes terhadap tirani kekuasaan. Mereka  mengecam  ulama yang terikat intim dengan penguasa (yang oleh al-Ghazali disebut sebagai ulamasu’). Sufisme juga menolak pandangan aristokratis (lihat Kamaluddin Hilmi, 1975:202).

Ini merupakan kenyataan, bahwa praktik sufi tidak hanya bisa diasumsikan sebagai ibadah zuhud dan zikir dalam pengertian ritual ansich. Dalam kondisi modern dan era teknologi kini, praktik sufi pun masih relevan dan bahkan sangat diperlukan, dengan catatan bahwa pengertiannya tidak sesempit yang dipahami sementara orang (mengasingkan diri dari komunikasi massa). Tetapi ia harus dijabarkan dalam arti yang kontekstual. Dan kita bisa melihat gejala sosiologis, bahwa di Pesantren Suryalaya Jawa Barat (yang terkenal dengan Pesantren Tareqat), telah dilakukan gerakan kultural yang wujudnya berupa masalah pertanian, koperasi, lingkungan hidup. Bahkan Pesantren tersebut banyak mendapat perhatian para ilmuwan dan juga pemerintah sendiri. Pengobatan non medis bagi cacat jiwa (narkoba dsb.) dengan menggunakan formula yang dikenal dengan formula zikrullah adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi Abah Anom (julukan Kiai dan pengasuh pesantrennya). Bukankah bentuk dan realita seperti ini lalu dapat mengubah gambaran kita tentang dunia sufi?

Dalam  kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi  ke hampir seluruh kawasan dunia. Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”, tidak akrab lagi antara satu dengan yang lain. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena ini membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan dan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetap tegar dalam kepribadian.

Dalam hidup ini, yang dibutuhkan oleh manusia tak ada lain adalah  ketenangan, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin. Dan itu semua  tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar, seperti ekonomi, status sosial dan seterusnya, melainkan lebih tergantung kepada sikap hidup dan kedekatan kita kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah (isti’anah dan istighatsah), tetap relevan dan satu keharusan agar  memperoleh hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbang, pribadi yang luhur dan hati yang tenang. Di sinilah makna sufisme itu: mengedapankan nilai ajaran agama, spiritualitas dan aspek esoteris yang menjadi benteng kepribadian, supaya terhindar dari hiruk pikuk materialisme dan hedonisme, terutama dalam kehidupan global yang penuh tantangan ini.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar