TAHLILAN DALAM PERSPEKTIF (Historis, Sosiologis, Psikologis, Antropologis)

Tahlilan, atau tahlil –sama saja artinya– karena ini dari kata Arab (hallala-yuhallilu-tahlilan) yang berarti membaca kalimat La ilaha illa Allah. Tahlilan kemudian menjadi tradisi yang mengakar di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya bagi masyarakat nahdhiyyin, NU. Tahlilan menjadi aktivitas rutin setiap malam Jum’at, dan pada momen-momen khusus, misalnya kirim doa untuk keluarga yang sudah wafat, dikemas secara berjama’ah dalam suatu majlis. Apa manfaat dan hikmah tahlilan bagi umat Islam? Diantara manfaat dan hikmah tahlilan itu adalah: 

            Pertama, melatih dan membiasakan kita untuk membaca kalimah ţayyibah, seperti: lailaha Illallah, Subhanallah, astaghfirullah dll. Bahkan jika sampai akhir hayat, (meninggal dunia)  kita bisa membaca kalimah tahlil, maka akan dijamin oleh Allah masuk surga. Sebagaimana sabda Nabi: Man qala lailaha illa Allah fi akhiri kalamihi dakhala al-jannah. Kita sangat khawatir, jika pada hari akhir hayat kita tidak mampu mengucapkan kalimah ţayyibah, baik dalam hati maupun lisan, maka celakalah kita.

Tidak mudah memang untuk dapat mengucapkan kalimah tayyibah menjelang kematian seseorang, karena pada saat itu godaan syetan luar biasa dengan menjelma menjadi sosok yang menjadi kesenangan kita saat kita masih hidup sehat (na’uzu billah min zalik). Maka talqin (menuntun atau membimbing bacaan kalimah tayyibah) ini amat penting bagi umat Islam. Siapa pun akan takut dengan kondisi sakarat al-maut ini. Dan inilah detik-detik yang paling menentukan, apakah kita husnul khatimah atau tidak. Jangan sampai kita menjelang wafat mengucapkan kalimah sayyi’ah. (Ya Rabbi amitni ala din al-Islam wa akhtim li bi husn al-khatimah…).

Kedua, memelihara dan menjalin hubungan silaturrahim, menyambung hubungan kekerabatan dan persaudaraan antarumat Islam (ukhuwwah Islamiyyah). Silatuirrahim ini perlu, sebab sebagaimana Nabi kita menegaskan: Barang siapa beriman kepada Allah, hendaknya orang itu menjalin hubungan silaturrahim. Bahkan dikatakan oleh Nabi: Barang siapa yang menjalin hubungan baik (silaturrahim), maka Allah akan memanjangkan umurnya, dan melapangkan rizkinya. (Man ahabba an yubsaţa lahu fi rizkihi wa an yunsaa lahu fi atharihi fa al-yaşil rahimahu). Satu contoh kecil, orang yang sakit berkepanjangan dan tidak sembuh-sembuh, kemudian berkat silaturrahim ia menemukan obatnya, melalui saran dan petunjuk dari saudara atau temannnya tadi. Dalam tradisi tahlil kita berjama’ah mengundang tetangga kerabat dan teman sejawat. Inilah berkat berjama’ah dan silaturrahim.

Ketiga, berbakti kepada orang tua, kerabat kita dan berbuat baik kepada sesama saudara. Karena dalam  tahlil kita mendoakan kepada orang tua kita, keluarga kita dan saudara-saudara kita, baik yang sudah meninggal maupun yang belum. Seperti doa-doa yang sering kita baca selama ini. Sebagai anak kita wajib berbakti kepada orang tua, dan berbakti itu tidak saja sewaktu masih hidup tetapi juga ketika sudah meninggal. Tahlil atau tahlilan (jangan salah paham, keduanya bahasa Arab berbentuk masdar) merupakan salah satu bukti bakti kita kepada orang tua sepanjang masa. Itulah maka, ditegaskan oleh Rasulullah Saw., bahwa semua manusia yang sudah mati akan terputus semua amalnya kecuali tiga hal: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya (doa anaknya). Bagaimana dengan doa saudara, handaitolan , kerabat, tetangga dan orang lain? Apakah doanya kesampaian? Memang di luar anak salih ini ada ikhtilaf. Tetapi lepas dari soal nyampai atau tidaknya doa itu, tahlil atau kirim doa ini besar manfaatnya. Jika toh tidak nyampai, maka akan kembali kepada diri orang itu sendiri (diterima doa itu tetapi tidak untuk si mayit, misalnya). Kemudian, tahlil ini juga bagian dari pembiasaan diri untuk mengucapkan kalimah tayyibah, doa, zikir, salawat dan qira’at al-Qur’an.

Keempat, bersedekah. Di samping bertahlil kita juga menjamu hidangan (sesuai kemampuan) kepada para jama’ah. Seperti kita tahu, bahwa sedekah (şadaqah) itu dapat menolak balak atau bencana dan dicintai orang lain. Dan harta yang kita sedekahkan kepada orang lain dan ke jalan Allah itu tidak akan habis, namun justru menjadi investasi di akhirat kelak.

            Kelima, beribadah  dan mencari ridha Allah SWT. Karena tahlil atau tahlilan ini niat kita untuk beribadah, mencari ilmu dan mencari rida Allah SWT. Bukan karena orang lain atau siapa-siapa, melainkan hanya semata karena Allah SWT.

Scientific Perspectives: (Historis, Sosiologis, Psikologis, Antropologis)

Jika dilihat dalam perspektif historis, sebetulnya tradisi tahlilan itu bernuansa “islamisasi” yang dilakukan oleh para ulama’ atau para kiai dulu. Pada awal-walnya, atau bagi masyarakat sinkretis, jika ada salah satu dari keluarganya yang meninggal, maka pada malam-malam tertentu 1-7 hari, 40, 100, 1000 hari, mereka kumpul-kumpul, dan malah ada yang main domino segala. Bahkan, konon, praktik munkarat seperti itu sampai sekarang masih ada pada sebagian masyarakat kita. Di sinilah kemudian, mereka diajak untuk berdoa dan membaca kalimah-kalimah tayyibah, meluruskan tradisi munkarat ke tradisi hasanat, dan begitulah seterusnya hingga kemudian ada gagasan para ulama’ untuk membuat panduan atau buku saku yang berisi bacaan yasin, tahlil, talqin, doa-doa dan al-aurad (wirid) yang banyak beredar di masyarakat sekarang ini. Nah, masalahnya memang, apakah kita harus terikat dengan hitungan hari-hari di atas, yang sinkretis itu? Jawabnya tegas, tidak! Kita tidak harus mengikuti ketentuan hari-hari itu, boleh 8, 9, 39, 41, dst., jika kita tidak ingin dianggap terpengaruh oleh hitungan mereka.

Jika ditinjau dari aspek sosiologis, tahlilan itu merupakan relasi kemanusiaan yang tidak pernah pudar, karena tahlilan itu bagian dari media sosial atau medan budaya yang mengikat hubungan antarmanusia. Pada konteks ini, manusia menjadikan forum ini sebagai media komunikasi dan sosialisasi.

Jika dilihat dalam perspektif psikologis, sebetulnya tradisi tahlilan pada hari-hari selama berkabung itu sangat membantu bagi şahib al-muşibah, sebab pada hari-hari itu, 1-7 hari, bahkan 40 dan 100 hari keluarga yang ditinggal mati itu biasanya masih dirundung duka. Pada saat seperti itulah jika selama 1-7 hari diadakan tahlilan, maka mereka akan terhibur atau merasa banyak saudara. Di sinilah makna ta’ziyah itu, yang berarti menghibur (keluarga yang ditinggal mati).

Jika ditinjau dari segi antropologis, sebetulnya manusia memiliki kecenderungan spiritual dan ritual, maka apa pun agama atau keprcayaan yang mereka anut, pasti memiliki keterikatan dengan sesuatu yang dianggap berkuasa di jagat raya ini, baca: Tuhan. August Comte dengan teori positivisme-nya mengatakan, bahwa manusia memiliki tahap berpikir, yaitu: teologis, mitis, dan positif. Pada tahap teologis, manusia mempercayai adanya Tuhan penguasa jagat raya ini, Dialah yang mendatangkan malapetaka dan rizki, Dia bisa marah dan menyayangi hamba-Nya, dst. Supaya Tuhan  tidak marah dan mendatangkan malapetaka, maka Tuhan perlu diberi sesaji. Dalam kepercayaan agama ardhi (non wahyu) biasanya mereka menyajikan kepala kerbau atau nasi kuning yang menurut mereka dapat menolak malapetaka. Sesuai dengan perkembangan berpikir manusia, maka orang  modern semakin realistik dan positivistik sehingga ritual, mitis dan teologis ini semakin ditinggalkan.

Dalam konteks ini, manusia beragama (apapun agamanya) kecenderungan spiritual dan ritualistik ini pasti ada, dan ini bagian dari doktrin ajarannya. Maka dalam konteks tahlil, sebetulnya juga merupakan bagian dari ritualistik yang mendatangkan pahala dan kasih-sayang Tuhan. Karena dalam tradisi tahlilan itu sendiri kalimat-kalimat yang dibaca adalah kalimah thayyibah.

Memang, masih ada sebagian besar masyarakat muslim yang terpengaruh dengan hitungan hari itu. Boleh saja mengikuti hitungan itu, tetapi ini sebagai tradisi saja, bukan ketetntuan syara’. Dan juga, ini harus jangan berlebihan sehingga membelenggu (sampai kemudian ada yang memaksakan diri hutang-hutang hanya untuk menjamu jamaa’h). Tetapi sebetulnya tanpa hutang pun kalau mau sederhana, bisa saja. Karena tradisi di masyarakat kita, siapa saja yang ditinggal mati salah satu keluarganya (sahib al-musibah) banyak tetangga dan handaitolan, sanak, kerabat, kollega yang bersedekah, membawa sembako (untuk persediaan tahlilan itu). Jadi sebenarnya tidak memaksa jika dilihat dari tradisi ini. Dan yang jauh lebih penting dari ini semua adalah, bahwa sebelum meninggal, keluarga kita memang harus diberi bekal untuk dididik agama dan taat beragama. Jangan setelah meninggal baru dikirim doa dan menganggap urusan akhirat selesai, sementara waktu masih hidup mengabaikan perintah agama (Allahumma sallimna wa ahlana fi al-dunya wa al-akhirah, amin…..) ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar