BELAJAR IKHLAS KEPADA MBAH DEWI

Dukun bayi di desa-desa profesinya memijat bayi-bayi (balita) –kadangkala juga orang dewasa. Mereka tidak memasang tarif, berapa pun yang diberikan oleh pasiennya diterima. Dengan ketekunan dan ke-ikhlasan-nya, mereka terus meijat dan meijat. Pada umumnya profesi memijat ini diwariskan oleh orang tua atau mbah-mbah-nya dulu, alias turun-temurun. Saban hari memijat (kecuali hari-hari tertentu libur, biasanya hari Jum’at), dan tidak tentu berapa pasien yang mereka dapat, kadang sepi tetapi kadang ramai hingga sampai malam. Uang yang diterima pun tidak tentu –karena tidak pasang tarif. Kadang 2000, 5000 rupiah tetapi juga kadang sampai 10.000 rupiah.

Suatu saat ada orang tua kaya dan dermawan yang sedang memijatkan anak kesayangannya yang sakit-sakitan tidak sembuh-sembuh, dan sudah dibawa ke dokter umum hingga spesialis, namun tidak kunjung ada perubahan. Atas saran orang-orang kampung, anak kesayangannnya tersebut supaya dipijatkan ke Mbah Dewi yang dukun bayi itu. Karena saking pinginnya sembuh, maka saran itu dituruti (demi cinta dan syang anaknya, dukun tradisional pun didatangi, meski orang itu anti tradisi sebenarnya).

Pergilah si orang tua kaya dan modern itu ke dukun tadi. Begitu sampai di rumahnya, tanpa basa-basi, anak itu dipijat, sesekali di-sebul dan di-idoni, sambil dibacakan kalimah thayyibah yang tidak fasih. Bi ‘aunillah (dilalah kersane Allah) anak tersebut beberapa hari kemudian sembuh. Bahkan si dukun bayi itu pun tidak meminta anak itu untuk dibawa yang kedua kalinya. Tetapi karena keikhlasannya tadi, maka Allah memberikan kesembuhannya. Semula orang tua kaya itu hanya memberi 5000 rupiah layaknya orang-orang kampung pada umumnya, namun karena anaknya sembuh setelah dipijat, maka kemudian orang kaya itu pergi lagi yang ke dua kali-nya dan memberikan jasa kepada Mbah Dewi itu sebesar 500.000 rupiah plus bescuit-nya, sambil syukuran katanya. Mbah Dewi pun bersykur dan mengucapkan: alhamdulilah….. angsal rizki saking Pengeran.

Lo, Pengeran tidak lupa untuk disebut dan diingat oleh Mbah Dewi. Inilah cermin ke-iman-an dan ke-ikhlas-an seorang Mbah Dewi. Dan ini profesional betul. Maka, inilah –yang jika dilihat dari teori psikologi modern oleh Mac Clelland– disebut dengan Need of Achievement Motivation (N-Ach). Dalam doktrin Islam kita mengenal apa yang disebut dengan “niat”. Kata Nabi: “Segala pekerjaan mesti didasarkan pada niat (yang ikhlas, karena Allah)”… Soal imbalan –jika dilakukan dengan baik dan benar (professional)– maka pasti akan mendapatkan imbalan yang layak dan menyenangkan. Ternyata, Mbah Dewi –yang awam dan tradisional itu — lebih modern dari kita ya……? Tetapi kita pun saat ini khawatir, karena dukun-dukun pijat dan dukun bayi di desa-desa itu semakin punah, seiring dengan mambanjirnya akademi perawatan (AKPER) di mana-mana, sebab lulusannya pasti akan pasang tarif jika jadi bidan atau suster, alias transaksional.

Kisah Mbah Dewi ini sebenarnya jika direnung-renung juga mengandung aspek “subsidi silang” ala Tuhan, sebab yang miskin memberi jasa murah, sementara yang kaya memberi jasa mahal (kepada Mbah Dewi itu). Tetapi subsidi silang ini tidak terjadi, jika Mbah Dewi tidak ikhlas. Problemnya, kita kan sering bekerja atau beramal tidak ikhlas, sehingga kita tidak pernah mendapatkan kelebihan-kelebihan seperti itu, atau, kalau pun kita diberi, kita tidak menyadari pemberian Tuhan itu, alias kurang manyadari, dan merenungi keadilan Tuhan.

Segala pekerjaan jika dilakukan dengan ikhlas, maka pekerjaan itu tidak terasa memberatkan bagi kita, malah bisa menyenangkan. Pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Jika tidak melakukan (misalnya pada hari libur) kita justru merasa liwung, hampa. Ibarat kita shalat wajib lima waktu atau ibadah sunnah yang sudah biasa kita lakukan, tidak membebani kita sedikit pun, karena itu sudah menjadi bagian hidup kita, jika tidak kita lakukan justru menjadi ada yang kurang dari hidup kita ini. Tetapi bagi yang tidak ikhlas, dan tidak kuat imannya, tentu ini memberatkan. Dan hampir tidak ada orang mukmin yang lupa dengan shalatnya, ibarat tidak ada orang hidup yang lupa dengan kebutuhan makannya, walhasil, jika segala pekerjaan dilakukan dengan niat, ikhlas lillahi Ta’ala, maka akan nikmat rasanya. Wallaha nasalu al-rahmah wa al-hidayah.***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *