MENGISI HUT KEMERDEKAAN RI DENGAN MENINGKATKAN AMAL KEBAJIKAN

Hari-hari ini kita tengah memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Di mana-mana: tidak hanya di kota, tetapi juga di desa-desa dan kampung-kampung, perayaan kemerdekaan marak dilaksanakan. Mulai dari memasang bendera merah putih, umbul-umbul, menghias halaman rumah, gapura, pos kamling sampai pada karnaval dengan berbagai variasinya. Walhasil, warga, bangsa Indonesia memiliki semangat untuk memperingati hari kemerdekaan, hari dan peristiwa bersejarah yang amat penting untuk tidak dilupakan.

Di tengah-tengah maraknya perayaan kemerdekaan ini, kita juga dihantui oleh situasi dan kondisi negara kita yang terus dilanda oleh  berbagai persoalan dan cobaan. Kerusuhan dan teror di beberapa daerah juga masih tampak seakan tidak mengindahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ternyata kita belum sepenuhnya bertekad bulat untuk menciptakan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara dengan aman, tenteram, penuh kekeluargaan dan jauh dari intrik-intrik dan konflik kepentingan dan politik. Kitapun belum  berangkat dari hati nurani yang jernih dan tulus untuk bersama-sama  menciptakan suasana yang kondusif di negeri tercinta ini.

Makna Kemerdekaan

Apa sesungguhnya makna dan hikmah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ini? Apakah kita sudah merasa cukup hanya dengan merayakan kemerdekaan itu secara fisik atau simbolik, tanpa harus tetap menjaga dan memelihara kesadaran yang mendalam sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan kepribadian?

Mengisi kemerdekaan Indonesia yang telah dibangun oleh para pendahulu kita (syuhada’, the founding fathers) bagi generasi kemudian adalah merupakan kewajiban kita semua. Jika kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan rela berkorban, jiwa dan raga ini tidak kita teruskan dan kita pertahankan, maka ini merupakan kezaliman besar. Oleh sebab itu mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negeri ini dengan baik, juga merupakan penghargaan dan penghormatan kepada para pejuang dan pendiri negeri ini.

Memang mengisi kemerdekaan itu banyak cara yang bisa ditempuh, dan setiap kita sesungguhnya adalah pejuang, dengan kapasitas dan tingkatan masing-masing, seperti bahwa diantara kita juga adalah pemimpin. Bagi mereka yang tidak mampu berjuang secara fisik, maka cukup dengan menyampaikan secara lisan, kritik dan saran yang membangun dan menyampaikan ide-ide yang baik melalui menulis dsb, dan jika tidak juga mampu maka cukup melalui keprihatinan dan doa.

Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ini, ada hikmah yang perlu kita gali bersama:

Pertama, kita perlu bersyukur kepada Allah SWT. Karena, berkat rahmat dan inayah-Nya kita terbebas dari penjajahan dan penindasan dari bangsa yang tidak beradab. Seraya kita berterima kasih kepada para pejuang dan para syuhada’ yang telah berkorban dengan jiwa dan raganya. Semoga perjuangan mereka diterima di sisi Allah SWT, dicatat sebagai amal salih dan amal jariyah. Kedua, sebagai generasi yang datang kemudian, yang telah mewarisi negeri ini dari para pejuang dan para syuhada’ itu, kita harus mencintai negeri ini dengan menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan. Marilah kita terus berupaya untuk menegakkan keadilan dan ber-amar ma’ruf nahi munkar, supaya segala macam penjajahan dan kejahatan tidak pernah lagi muncul di bumi Indonesia tercinta ini. Karena penjajahan baru (new-imperialism) dengan bentuknya yang lain (budaya dan lain sebagainya) akan tetap ada, sepanjang kita tidak mampu membendung melalui kualitas kepribadian kita. Ketiga, hikmah yang perlu kita gali dalam peringatan HUT RI yang ke- 70 ini adalah,kita perlu membangun dan ningkatkan kualitas diri kita.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *