Monthly Archives: August 2015

BERPIKIR DEDUKTIF-INDUKTIF DALAM FILSAFAT

 

            Filsafat sebagai pengetahuan tertua, bahkan disebut sebagai induk segala ilmu (mother of sciences) terus bergerak maju untuk menyelediki hakikat yang ada (Being). Sebagai pengetahuan, filsafat berupaya memperoleh hakikat kebenaran melalui pemikiran rasional, mendalam sampai ke akar-akarnya (baca: radikal).

            Berbeda dengan ilmu (science), yang terbatas wilayah kajiannya pada aspek manusia dan alam, maka filsafat meyelidiki ruang jelajah yang lebih luas, mencakup: Tuhan, alam dan manusia. Jika ilmu hanya menyelidiki hal-hal yang bersifat fisik-empirik, maka filsafat menyelidiki hal-hal yang bersifat metafisik-transenden.

            Sebagai makhluk yang dianugerahi potensi akal oleh Tuhan, manusia tidak pernah berhenti untuk berpikir, dan akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh sebab itu hakikat keberadaan (wujud) manusia adalah karena pemanfaatan akal tersebut. Itulah maka Descartes menegaskan, bahwa “aku ada karena aku berpikir” (cogito argo sum), atau dengan ungkapan lain you are what you think.

            Dalam pandangan Islam, perintah untuk mendayagunakan potensi akal banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Al-Qardhawi (1989:1-2) menyebutkan, bahwa kata ‘aql dan yang berkaitan dengannya disebtutkan  dalam al-Qur’an mencapai 800 kali (Bandingkan denagn Fuad Abdul Baqi, tt:469-481).

            Manusia sebagai makhluk yang berakal tidak selalu  puas dengan persoalan-persoalan yang berada di sekelilingnya, bahkan apa yang ada di balik yang nampak pun selalu ingin diketahui dan dipertanyakannya (curriosity).  Sikap selalu ingin tahu dan keinginan tahu inilah yang kemudian melahirkan pemikiran dan rumusan-rumusan teori pengetahuan. Manusia tidak hanya sekadar ingin tahu persoalan alam sekelilingnya dan hakikat manusia itu sendiri, tetapi lebih dari itu ia ingin tahu siapakah Tuhan pencipta alam  dan manusia itu.

            Sejak berabad-abad yang lalu manusia sudah mempertanyakan hakikat yang ada (bieng=wujud): Apakah hakikat yang ada itu? Thales misalnya, seorang filosuf Yunani yang pertama kali mempertanyakan dasar dari alam dan segala isinya. Dia mengatakan, bahwa asal segala sesuatu adalah air. Sementara menurut Anaximandros, bahwa asal segala sesuatu adalah apeiron (yang tak terbatas) yang disebabkan oleh penceraiana (ekrisis).

            Teks-teks keagamaan yang berfungsi sebagai dasar kepercayaan jarang sekali menguraikan masalah ketuhanan, baik secara filosufis, apalagi ilmiah, tak terkecuali Islam. Secara tegas al-Qur’an memang menjelaskan sifat-sifat Tuhan, namun keterangan tentang Tuhan tersebut sering menimbulkan berbagai penafisran yang berbeda-beda.

            Meski al-Qur’an tidak memberikan banyak penjelasan tentang Tuhan, akan tetapi masalah ketuhanan dalam hubungannya dengan zat dan sifat-Nya telah menjadi pokok pembahasan yang ekstensif di kalangan para filosuf dan para ahli kalam (mutakallimin). Bahkan, persoalan-persoalan yang susah dipikirkan oleh manusia, seperti persoalan zat Tuhan, ruh dan soal metafisik lainnya justru menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan.

            Penjelasan nabi yang berbunyi: تفكروا فى خلق الله ولاتفكروا فى ذات الله (Berpkirlah tentang penciptaan  Allah dan jangan berpikir tentang zat-Nya),  dan firman Tuhan: يسىلوونك عن الروح قل الروح من امر ربي (Mereka bertanya tentang ruh, katakan (wahai Muhammad): Ruh adalah urusan Tuhanku), tak menjadi penghalang bagi para filosuf  maupun para mutakallimin untuk membicarakannya. Karena memang, perintah hadis ini bersifat tidak mengikat, artinya menyangkut soal metode, yaitu supaya manusia dalam mengenal Tuhan melalui fenomena alam dan ciptaan-Nya (induktif, fenomenologis), tidak langsung melalui zat-Nya, tetapi juga tidak menjadi soal, jika manusia sudah mampu memikirkan zat Tuhannya untuk mengagungkan Tuhan itu sendiri (deduktif), seperti para filosuf atau mereka yang terpelajar. Hal ini juga seperti firman Tuhan:

 واذا سالك عبادي عني فاني قريب Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka aku dekat…”

            Jika manusia telah sanggup membicarakan tentang Tuhan sebagai Sang Pencipta, maka tentu manusia lebih sanggup lagi untuk  membicarakan ciptaan-Nya, yaitu manusia dan alam. Kenapa Tuhan menciptakan alam? Persoalan Tuhan, manusia dan alam adalah menjadi bahan kajian filsafat.

            Menurut Mukti Ali (dalam Taufik Abdullah dan Rusli Karim, 1989:42), Tuhan (teologi), alam (kosmologi) dan manusia (antropologi), merupakan elemen pokok yang harus diketahui dalam Islam dan juga agama-agama lain. Tiga persoalan tersebut merupakan spikulasi metafisik. Relasi antara Tuhan dan manusia adalah sangat penting bagi hidup dan kehidupan (lihat juga Musa Asy’arie dalam Irma Fatimah, ed., 1992:16).

            Demikian juga relasi antara Tuhan dan alam  sangat penting  untuk dipahami karena salah satu sifat Tuhan adalah rab al-’alamin. Alam diciptakan Tuhan secara teleologis dirancang untuk tumbuh dan berkembang ke arah kesempurnaan, sebagaimana firman-Nya: “Tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya untuk bermain-main. Kami ciptakan keduanya untuk tujuan tertentu, tetapi (sayang) sebagian besar mereka tidak memahaminya”. Maksud “tertentu” dalam ayat ini adalah tumbuh menuju kondisi yang lebih baik dan menunju kesempurnaan (lihat Ashgar Ali, 1993:36).

            Sebagaimana keterangan Al-Kindi, ketika para filosuf membahas tentang Tuhan, sebetulnya mereka ingin menjelaskan tentang keesaan mutlak-Nya . Tuhan adalah unik, tidak mengandung makna juz’i (particular) dan tidak pula mengandung makna kulli (universal). Tuhan semata-mata satu dan selain-Nya mengandung makna banyak (Harun Nasution, 1979:21).

            Bagi para filosuf Muslim, Tuhan adalah Wujud Murni, sedangkan transendensi rantai wujud dan tatanan eksistensi kosmik dan dunia adalah tergantung (kontingen) (Hoessein Nasr, 1996:40). Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Bekker (1984), bahwa terdapat perbedaan persepsi antara para filosuf muslim (dalam hal ini Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd) mengenai konsep Tuhan alam dan manusia.

            Demikianlah, bahwa soal memikirkan Zat Allah dan Khalq Allah itu persoalan paradigma, antara deduktif dan induktif. Seperti halnya kita membaca ayat Allah, mau berangkat dari al-Qur’an atau dari fenomena alam sah-sah saja, asal ujungnya pensucian asma-Nya (tanzih). Inilah yang disebut dengan berpikir deduktif-induktif. Hanya bagi orang awam memang belum waktunya untuk berpikir tentang Zat Allah. Sementara itu para filosuf banyak berbincang dan menulis secara ekstensif tentang Zat Allah, karena mereka pasca memikirkan khalq Allah itu sendiri.***

BELAJAR IKHLAS KEPADA MBAH DEWI

Dukun bayi di desa-desa profesinya memijat bayi-bayi (balita) –kadangkala juga orang dewasa. Mereka tidak memasang tarif, berapa pun yang diberikan oleh pasiennya diterima. Dengan ketekunan dan ke-ikhlasan-nya, mereka terus meijat dan meijat. Pada umumnya profesi memijat ini diwariskan oleh orang tua atau mbah-mbah-nya dulu, alias turun-temurun. Saban hari memijat (kecuali hari-hari tertentu libur, biasanya hari Jum’at), dan tidak tentu berapa pasien yang mereka dapat, kadang sepi tetapi kadang ramai hingga sampai malam. Uang yang diterima pun tidak tentu –karena tidak pasang tarif. Kadang 2000, 5000 rupiah tetapi juga kadang sampai 10.000 rupiah.

Suatu saat ada orang tua kaya dan dermawan yang sedang memijatkan anak kesayangannya yang sakit-sakitan tidak sembuh-sembuh, dan sudah dibawa ke dokter umum hingga spesialis, namun tidak kunjung ada perubahan. Atas saran orang-orang kampung, anak kesayangannnya tersebut supaya dipijatkan ke Mbah Dewi yang dukun bayi itu. Karena saking pinginnya sembuh, maka saran itu dituruti (demi cinta dan syang anaknya, dukun tradisional pun didatangi, meski orang itu anti tradisi sebenarnya).

Pergilah si orang tua kaya dan modern itu ke dukun tadi. Begitu sampai di rumahnya, tanpa basa-basi, anak itu dipijat, sesekali di-sebul dan di-idoni, sambil dibacakan kalimah thayyibah yang tidak fasih. Bi ‘aunillah (dilalah kersane Allah) anak tersebut beberapa hari kemudian sembuh. Bahkan si dukun bayi itu pun tidak meminta anak itu untuk dibawa yang kedua kalinya. Tetapi karena keikhlasannya tadi, maka Allah memberikan kesembuhannya. Semula orang tua kaya itu hanya memberi 5000 rupiah layaknya orang-orang kampung pada umumnya, namun karena anaknya sembuh setelah dipijat, maka kemudian orang kaya itu pergi lagi yang ke dua kali-nya dan memberikan jasa kepada Mbah Dewi itu sebesar 500.000 rupiah plus bescuit-nya, sambil syukuran katanya. Mbah Dewi pun bersykur dan mengucapkan: alhamdulilah….. angsal rizki saking Pengeran.

Lo, Pengeran tidak lupa untuk disebut dan diingat oleh Mbah Dewi. Inilah cermin ke-iman-an dan ke-ikhlas-an seorang Mbah Dewi. Dan ini profesional betul. Maka, inilah –yang jika dilihat dari teori psikologi modern oleh Mac Clelland– disebut dengan Need of Achievement Motivation (N-Ach). Dalam doktrin Islam kita mengenal apa yang disebut dengan “niat”. Kata Nabi: “Segala pekerjaan mesti didasarkan pada niat (yang ikhlas, karena Allah)”… Soal imbalan –jika dilakukan dengan baik dan benar (professional)– maka pasti akan mendapatkan imbalan yang layak dan menyenangkan. Ternyata, Mbah Dewi –yang awam dan tradisional itu — lebih modern dari kita ya……? Tetapi kita pun saat ini khawatir, karena dukun-dukun pijat dan dukun bayi di desa-desa itu semakin punah, seiring dengan mambanjirnya akademi perawatan (AKPER) di mana-mana, sebab lulusannya pasti akan pasang tarif jika jadi bidan atau suster, alias transaksional.

Kisah Mbah Dewi ini sebenarnya jika direnung-renung juga mengandung aspek “subsidi silang” ala Tuhan, sebab yang miskin memberi jasa murah, sementara yang kaya memberi jasa mahal (kepada Mbah Dewi itu). Tetapi subsidi silang ini tidak terjadi, jika Mbah Dewi tidak ikhlas. Problemnya, kita kan sering bekerja atau beramal tidak ikhlas, sehingga kita tidak pernah mendapatkan kelebihan-kelebihan seperti itu, atau, kalau pun kita diberi, kita tidak menyadari pemberian Tuhan itu, alias kurang manyadari, dan merenungi keadilan Tuhan.

Segala pekerjaan jika dilakukan dengan ikhlas, maka pekerjaan itu tidak terasa memberatkan bagi kita, malah bisa menyenangkan. Pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Jika tidak melakukan (misalnya pada hari libur) kita justru merasa liwung, hampa. Ibarat kita shalat wajib lima waktu atau ibadah sunnah yang sudah biasa kita lakukan, tidak membebani kita sedikit pun, karena itu sudah menjadi bagian hidup kita, jika tidak kita lakukan justru menjadi ada yang kurang dari hidup kita ini. Tetapi bagi yang tidak ikhlas, dan tidak kuat imannya, tentu ini memberatkan. Dan hampir tidak ada orang mukmin yang lupa dengan shalatnya, ibarat tidak ada orang hidup yang lupa dengan kebutuhan makannya, walhasil, jika segala pekerjaan dilakukan dengan niat, ikhlas lillahi Ta’ala, maka akan nikmat rasanya. Wallaha nasalu al-rahmah wa al-hidayah.***


AGAMA POPULIS

Suatu hari penulis berkesempatan jalan-jalan ke suatu daerah, tepatnya di Madiun. Di sebuah warung sangat sederhana yang biasa dipakai mangkal orang-orang kecil, penulis ngopi dan minta dibuatkan supermi rebus kepada Ibu pemilik warung tersebut. Di warung itu sudah ada beberapa kerumunan orang yang sedang ngopi dan merokok. Layaknya orang kecil pada umumnya yang familier dan suka bagek (menanyakan keadaan kita, dari mana asalnya, dsb), mereka ngobrol ke sana ke mari. Dari obrolan tersebut ada yang sangat mengagumkan bagi penulis.

Pak Sadimin, demikian nama sebenarnya, dia orang asli Madiun, sosok yang sudah cukup umur, tetapi gaya bahasa dan semangatnya luar biasa. Tidak kalah dengan orang-orang muda sekarang yang terpelajar. Sebagai mantan seorang sopir –menurut pengakuanya– dia sudah pernah keliling ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa hingga luar Jawa. Dari pengalamannya itulah kemudian dia banyak tahu soal karakteristik orang dari berbagai etnis. Termasuk saya cepat kenal karena dia nyletuk berbahasa Madura dengan salah satu rekannya yang berada di luar warung itu. Saya kemudian bertanya: ”Kok bisa berbahasa Madura Pak?” Dia ketawa, dan mulai dari sinilah kemudian dia banyak bercerita soal keberadaan etnis Indonesia dan keunggulan orang Jawa, termasuk cerita tentang ’keberagamaan orang Jawa’. Selanjutnya dia menuturkan: ”Sebetulnya, orang Jawa itu orang yang memiliki kedudukan tinggi di mata bangsa-bangsa di dunia. Orang Jawa itu sebelum kedatangan agama-agama di dunia ini sudah memiliki kepribadian yang unggul”.

Seperti pada umumnya cerita orang kuno yang lain, dia juga menegaskan, bahwa para orang tua kita dulu adalah orang yang memiliki kekuatan luar biasa, mereka memiliki kekesaktian. Dia mencontohkan, orang tua kuno dulu ”ngunduh” kelapa saja tanpa dipanjat, tetapi cukup di-pandeng (dipandang kuat) saja sudah pada rontok. Cerita begini ternyata sudah memembudaya di kalangan para orang tua kuno di lingkungan kita. Sambil mempercayai tutur katanya, saya lalu bertanya: ”Oh ya Pak, kenapa sampai begitu ya, apa yang menyebabkan mereka seperti itu Pak (digdoyo)?”. Jawabnya tegas: ”Karena mereka orang jujur, semua ucapan dan tindakannya benar, dan hati mereka bersih”. Dengan jawaban seperti itu saya terus merenung, sambil berkata dalam hati: ”Betul juga orang ini”. Orang sekarang, menurutnya, tidak banyak yang jujur, badut semua, ”seperti yang di TV-TV itu lo Mas”, katanya. “Orang sekarang” –sambungnya– “apa yang diucapkan tidak sesuai dengan tindakannya, banyak yang suka ngapusi, korupsi”.

Lantas Pak Sadimin menyinggung soal agama. Menurutnya, semua agama itu baik, tidak Islam, Kristen, Hindu, Budha atau apa saja. Yang tidak baik itu oknumnya, mereka tidak menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang baik itu. Maka tidak benar, jika orang beragama itu saling cekcok dan bentrok. Apalagi jika kemudian yang bentrok itu antara Islam dan Kristen, karena dua agama itu serumpun dan dari asalnya yang sama, yaitu Nabi Ibrahim, Abraham. ”Terus terang Mas, saya ini orang Kristen, tetapi saya tidak membeda-bedakan antara agama ini dan itu. Keluarga saya campuran. Ada yang Islam, Kristen dan juga ada yang Hindu. Menantu saya juga ada yang keturunan Cina. Mase percaya, bapak saya itu orang pesantren, ibu saya Kristen. Tetapi semuanya rukun-rukun saja, tidak ada masalah dengan perbedaan antaragama. Bagi saya, yang penting orang beragama itu harus menghayati dan mengamalkan ajaran agama, membersihkan hati, soal masuk surga atau neraka itu urusan nanti, di akhirat. Jadi, saya ini ’nasionalis’ Mas.” Lanjut Pak Sadimin, ”seharusnya manusia itu seperti suku kata”, artinya, kata-kata itu tidak akan menjadi sebuah kata tanpa ada huruf. Oleh sebab itu huruf-huruf tersebut mesti disatukan, terangkai, sehingga menjadi sebuah suku kata, misalnya kata ”Madiun” tidak akan menjadi sebuah kata jika tidak ada kesatuan huruf-huruf tersebut. Demikanlah seharusnya manusia itu bermasyarakat, demikian tuturnya bersemangat.

Sebetulnya masih banyak tuturnya yang mengandung kebenaran dalam konteks ”pemahaman keberagamaannya”. Intinya, bahwa beragama itu yang diukur bukannya simbol-simbol yang bersifat lahiriah, namun keberagamaan seseorang itu harus mengejawantah dalam pribadi-pribadi yang saleh. ”Orang sekarang lebih menonjolkan pepaes-nya, hiasannya dari pada isi”. Itulah yang menipu kita, tegasnya. Lalu, Pak Anam, teman ngobrol di warung itu juga membenarkan penuturan Pak Sadimin yang panjang lebar itu. Dia kemudian juga menyontohkan keluarganya sendiri yang tidak akur satu sama lain. ”Iya Pak, dulu keluarga saya itu rukun dan sering berkunjung satu sama lain. Tetapi sejak mereka menganut aliran-aliran itu mereka menjadi jauh dan tidak akur satu sama lain. Keluarga saya itu ada yang NU, ada yang Muhammadiyah dan ada yang mengikuti aliran Islam garis keras”, tandasnya.

Saya sendiri dalam obrolan ini lebih banyak mendengarkan dan beberapa kali bertanya kepada mereka. Dalam konteks kehebatan orang Jawa kuno misalnya, penulis menanyakan kepada Pak Sadimin: ”Orang-orang tua dulu itu agamnya apa Pak? ”Jawabnya, ” Ya agama Jawa asli, wong dulu itu Islam dan Kristen belum berkembang.  Jadi mereka itu orang Jawa murni yang memegang teguh budaya jawa”.

Inti Keberagamaan

Tutur polos Pak Sadimin demikian itu mengingatkan penulis pada jajaran para filsuf zaman Yunani 600 SM silam, yaitu orang-orang yang hidup pada masa sebelum Nabi Isa dan Nabi Muhammad Saw. Mereka itu adalah orang-orang bijak pada zamannya yang memiliki pandangan mendalam (radikal) jauh ke depan. Sebut saja misalnya Thales, seorang filsuf pertama Yunani dalam jajaran filsuf kosmosentris. Dia mengatakan, bahwa asal muasal kejadian alam semesta ini adalah “air”. Ternyata pendapat Thales tersebut benar dalam perspektif ilmu pengetahuan modern. Bahkan dalam al-Qur’an pun ternyata disebutkan, bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu di alam ini berasal dari air (periksa Q.S. al-Anbiya’: 30).

Itulah kemudian, sebagian ahli ada yang mengatakan, bahwa para filsuf zaman Yunani kuno ini dianggap sebagai Nabi, karena pendapatnya yang banyak mengandung kebenaran. Ya, bisa saja Nabi dalam pengertian orang bijak yang membawa “kabar” kebenaran.

Nabi Muhammad sendiri diutus ke bumi ini untuk memperbaiki moralitas bangsa, sebagaimana yang ditegaskan sendiri dalam hadisnya. Jadi, agama itu harus bermuara pada moralitas, etika sosial yang memberikan nilai kemanfaatan pada orang lain. Para orang tua dulu yang dituturkan Pak Sadimin itu, dan juga para filsuf zaman Yunani kuno adalah orang-orang yang memiliki kepribadian dan wibawa yang tinggi di masyarakatnya. Mereka menjadi panutan (uswah dan qudwah) para pengikutnya. Inilah yang disebut “local-wisdom”. Apa yang mereka kerjakan sesuai dengan niat tulusnya. Perilaku seperti inilah yang jarang ditemukan pada tokoh-tokoh kita sekarang ini.

Pak Sadimin sendiri termasuk orang yang masih mengikuti jejak orang kuno atau paling tidak masih mewarisi tradisi ”local-wisdom”-nya. Dalam konteks pemahaman dan sikap keberagamaannya, dia bisa dikelompokkan dalam kategori pluralis. Ketika dia mengatakan, bahwa manusia itu seharusnya seperti ”suku kata” yang harus dihimpun dari huruf-huruf, mengingatkan penulis seperti yang di-dawuh-kan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw., bahwa posisi orang beriman di antara orang beriman yang lain itu ibarat sebuah bangunan yang satu sama lain saling megokohkan, atau seperti kumpulan gigi manusia yang jika salah satunya sakit, maka yang lain juga merasakan sakitnya.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus mampu memilah-milah, mana dimensi internal dan mana dimensi eksternalnya. Konflik antarumat beragama yang terjadi selama ini, disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam menempatkan sisi-sisi ajaran tersebut. Orang beragama lebih banyak menonjolkan identitas dari pada isi dan sisi kemanusiaan universalnya. Orang beragama sibuk meng-agama-kan orang lain secara kuantitas dari pada membangun moralitas, orang beragama bangga dengan banyaknya jumlah tempat ibadah, dan pada gilirannya umat beragama juga puas jika mereka sudah berhasil mendistkreditkan agama lain. Karena dominasinya alur keberagamaan yang formalistik tadi, maka tak pelak upaya memecahkan kemelut ini nyaris terperosok pada agama yang verbalistik. Perjuangan untuk menegakkan ajaran suci agama lebih banyak diwujudkan dengan membangun tempat ibadah yang mahal dan megah serta tempat-tempat dakwah yang eksklusif lengkap dengan simbol-simbol kebesaran agama masing-masing sebagai bagian dari gebyar agama. Wallāhu A’lam bi al-Šawāb.

 

MENGISI HUT KEMERDEKAAN RI DENGAN MENINGKATKAN AMAL KEBAJIKAN

 

 

Hari-hari ini kita tengah memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Di mana-mana: tidak hanya di kota, tetapi juga di desa-desa dan kampung-kampung, perayaan kemerdekaan marak dilaksanakan. Mulai dari memasang bendera merah putih, umbul-umbul, menghias halaman rumah, gapura, pos kamling sampai pada karnaval dengan berbagai variasinya. Walhasil, warga, bangsa Indonesia memiliki semangat untuk memperingati hari kemerdekaan, hari dan peristiwa bersejarah yang amat penting untuk tidak dilupakan.

Di tengah-tengah maraknya perayaan kemerdekaan ini, kita juga dihantui oleh situasi dan kondisi negara kita yang terus dilanda oleh  berbagai persoalan dan cobaan. Kerusuhan dan teror di beberapa daerah juga masih tampak seakan tidak mengindahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ternyata kita belum sepenuhnya bertekad bulat untuk menciptakan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara dengan aman, tenteram, penuh kekeluargaan dan jauh dari intrik-intrik dan konflik kepentingan dan politik. Kitapun belum  berangkat dari hati nurani yang jernih dan tulus, untuk bersama-sama  menciptakan suasana yang kondusif di negeri tercinta ini.

Makna Kemerdekaan

Apa sesungguhnya makna dan hikmah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ini? Apakah kita sudah merasa cukup hanya dengan merayakan kemerdekaan itu secara fisik atau simbolik, tanpa harus tetap menjaga dan memelihara kesadaran yang mendalam sebagai bangsa yang memiliki peradaban dan kepribadian?

Mengisi kemerdekaan Indonesia yang telah dibangun oleh para pendahulu kita (syuhada’, the founding fathers) bagi generasi kemudian adalah merupakan kewajiban kita semua. Jika kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita dengan rela berkorban jiwa dan raga ini tidak kita teruskan dan kita pertahankan, maka ini merupakan kezaliman besar. Oleh sebab itu mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negeri ini dengan baik, juga merupakan penghargaan dan penghormatan kepada para pejuang dan pendiri negeri ini.

Memang mengisi kemerdekaan itu banyak cara yang bisa ditempuh, dan setiap kita sesungguhnya adalah pejuang, dengan kapasitas dan tingkatan masing-masing, seperti halnya bahwa diantara kita juga adalah pemimpin. Bagi mereka yang tidak mampu berjuang secara fisik, maka cukup dengan menyampaikan secara lisan, kritik dan saran yang membangun dan menyampaikan ide-ide yang baik melalui menulis dsb, dan jika yang demikian ini tidak juga mampu, maka cukup melalui keprihatinan dan doa.

Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ini, ada hikmah yang perlu kita gali bersama:

Pertama, kita perlu bersyukur kepada Allah SWT. Karena, berkat rahmat dan inayah-Nya kita terbebas dari penjajahan dan penindasan dari bangsa yang tidak beradab. Seraya kita berterima kasih kepada para pejuang dan para syuhada’ yang telah berkorban dengan jiwa dan raganya. Semoga perjuangan mereka diterima di sisi Allah SWT, dicatat sebagai amal salih dan amal jariyah. Kedua, sebagai generasi yang datang kemudian, yang telah mewarisi negeri ini dari para pejuang dan para syuhada’ itu, kita harus mencintai negeri ini dengan menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan. Marilah kita terus berupaya untuk menegakkan keadilan dan ber-amar ma’ruf nahi munkar, supaya segala macam penjajahan dan kejahatan tidak pernah lagi muncul di bumi Indonesia tercinta ini. Karena penjajahan baru (new-imperialism) dengan bentuknya yang lain (budaya dan lain sebagainya) akan tetap ada, sepanjang kita tidak mampu membendung melalui kualitas kepribadian kita. Ketiga, hikmah yang perlu kita gali dalam peringatan HUT RI yang ke- 70 ini adalah, kita perlu membangun dan ningkatkan kualitas diri kita.***


 

 

 

 

 

 

 

 

UIN MALANG MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

Muaddimah

Berdasar road map (2005-2030), tahun 2011-2020 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memasuki tahap Regional Recognition and Reputation. Tahap ini dimulai dengan program-program akademik yang bereputasi dan memilki pengakuan di Negara-negara ASEAN.

Dua Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Indonesia, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah ditunjuk oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali untuk mempersiapkan diri menjadi PTAIN kelas dunia (world class university). Penunjukan Menteri kepada dua PTAIN ini tentu bukan tidak beralasan, namun didasarkan pada pertimbangan dan musyawarah dengan berbagai pihak dan pertimbangan prestasi yang diraih oleh kedua UIN selama ini.

Tentu, bagi kedua PTAIN yang mendapatkan kepercayaan Pemerintah ini juga tidak sekadar bangga dan senang, namun ini merupakan tantangan dan sekaligus ujian yang harus dihadapi secara serius. Sebab, menjadi Perguruan Tinggi yang masuk dalam kategori World Class University menuntut persyaratan yang maksimal dan komperehensif, mencakup berbagai aspek. Hal ini tentu membutuhkan kerja keras dan profesional dari sivitas akademikanya. Namun, jika PTAIN sudah dapat masuk dalam peta dunia, atau daftar World Class University, maka ini merupakan sejarah baru bagi bangkitnya dunia pendidikan Islam. Tentu, ini bukan harapan sekelompok umat Islam Indonesia saja, namun seluruh umat Islam di dunia.

Sebagaimana yang dirilis Reuters (www.huffingtonpost.com/2013/10/12/best-universities-in-the-world_n_4032309.html), bahwa saat ini universitas-universitas di Asia telah dapat bersaing dengan 50 universitas-universitas terkemuka di Barat, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Universitas di Jepang, Korea Selatan, China dan Singapura umumnya naik dalam indeks tahunan yang berpotensi menggeser prestasi Barat.

Selama ini peringkat Universitas Dunia masih didominasi oleh Amerika Serikat dan Inggris, yang bersama-sama memegang top ranking 13. Amerika Serikat memiliki 77 top ranking 200 dan California Institute of Technology (Caltech) mengambil posisi teratas untuk tahun kedua berturut-turut. Sementara itu banyak univervitas di Eropa mengalami penurunan. Tahun ini hanya universitas di Swedia, Denmark dan Norwegia yang mengalami peningkatkan.

Peringkat yang disusun menggunakan data dari Thomson Reuters  mempertimbangkan reputasi lembaga di kalangan akademisi, rasio staf, jumlah mahasiswa dan dana penelitian yang berasal dari industri. Proporsi terbesar dari ranking universitas ketiga berasal dari seberapa sering perguruan tinggi tersebut memiliki penelitian yang dikutip oleh akademisi luar.

Reasoning WCU

Ada pertanyaan yang muncul dalam konteks rencana UIN masuk dalam World Class University ini: apakah jika UIN masuk World Class University (WCU) tidak akan menghilangkan karakteristik dan nilai-nilai Islam-nya, alias sekuler? Pertanyaan ini lumrah dan bisa dimaklumi, sebab selama ini segala sesuatu yang berbau Barat selalu dipertanyakan atau dikonotasikan negatif, atau paling tidak harus dicurigai, begitu kira-kira. Ya, pertanyaan yang serupa juga terjadi di saat STAIN atau IAIN mau berubah menjadi UIN, ada semacam kekhawatiran dengan segala sesuatu yang berubah.

Pengakuan standar internasional bagi sebuah institusi diukur dengan menggunakan parameter kemajuan dan prestasi yang dimiliki oleh institusi itu sendiri. Bagi perguruan tinggi, parameter itu meliputi: SDM, (mahasiswa dan dosen), riset yang dikembangkan, lulusan yang dibutuhkan oleh pasar, karya ilmiah yang dipublikasikan dan bermanfaat untuk kepentingan umat, dan sejumlah prestasi akademik lain. Untuk mencapai ke arah itu diperlukan tradisi dan nilai-nilai yang perlu dikembangkan, seperti nilai disiplin, etos kerja yang tinggi, trampil, komitmen, objektif, mencintai ilmu dan seterusnya.

Jika kriteria dan nilai-nilai di atas yang digunakan, maka sesungguhnya peluang  untuk mencapai ke sana tidak terlalu sulit, sebab nilai-nilai di atas sudah inherent dalam doktrin ajaran Islam yang mesti diamalkan. Bahkan, budaya mutu itu sendiri sudah ditekankan sejak awal, bahwa orang Islam mesti melakukan pekerjaan yang terbaik, berkualitas (ahsanu ‘amala) dan bermanfaat untuk arang lain (anfa’uhum li al-nas).

Menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian kalangan akan kekhawatiran lunturnya nilai-nilai Islam setelah menjadi WCU, justru sebaliknya, bahwa nilai-nilai keislaman akan terlihat nyata di ruang publik jika dapat meraih kategori international class. Selain itu, ilmu yang dikembangkan di UIN Maliki Malang mengikuti paradigma teo-antroposentris yang memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan universal dan berbasis pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Prinsipnya, tetap memelihara tradisi (turas) masa lalu yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik (al-muhafadat ala ‘l-Qadim as-Salih wa ‘l-akhzu bi ‘l-Jadid al-Aslah).

Indonesia merupakan negara yang menempati posisi terbesar jumlah penduduk muslimnya. Tetapi potensi mayoritas muslim tersebut belum menjamin peran sosialnya. Hal ini tentu terkait dengan soal pendidikan. Apakah pendidikan yang dikembangkan oleh umat Islam sudah memenuhi fungsi dan sasarannya? Karena itu, seperti yang diungkap oleh Kuntowijoyo (l994:350), bahwa pendidikan tinggi Islam saat ini –sebagaimana pendidikan tinggi lainnya– secara empirik belum mempunyai kekuatan yang berarti karena pengaruhnya masih kalah dengan kekuatan-kekuatan bisnis maupun politik. Disinyalir, bahwa pusat-pusat kebudayaan sekarang ini bukan berada di dunia akademis, melainkan di dunia bisnis dan politik. Dalam setting seperti ini lembaga pendidikan tinggi Islam terancam oleh subordinasi. Karena, hingga saat ini masih ditengarai bahwa sistem pendidikan Islam belum mampu menghadapi perubahan dan menjadi counter ideas terhadap globalisasi kebudayaan.

Menjadi perguruan tinggi yang masuk kategori world class tentu akan menepis anggapan di atas dan merupakan jawaban kongkret terhadap pertanyaan itu. Secara konseptual sebetulnya bagi orang Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan hal yang baru –apalagi asing– melainkan merupakan bagian yang paling dasar dari kemaujudan dan pandangan dunianya (world-view). Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika ilmu memiliki arti yang sedemikian penting bagi kaum muslimin pada masa awalnya, sehingga tidak terhitung banyaknya pemikir Islam yang larut dalam upaya mengungkap konsep ini. Konseptualisasi ilmu yang mereka lakukan  nampak dalam upaya mendefinisikan ilmu yang tiada habis-habisnya, dengan kepercayaan bahwa ilmu tak lebih dari perwujudan “memahami tanda-tanda kekuasaan Tuhan”, seperti juga membangun sebuah peradaban yang membutuhkan suatu pencarian pengetahuan yang komperehensif.

Dunia pendidikan tinggi Islam saat ini harus mampu menjawab dua persoalan penting: golobalisasi dan kompetisi. Bahwa globalisasi merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, dan dalam kondisi seperti ini terjadi kehidupan yang sangat kompetitif, jika tidak mampu berkompetisi maka akan tertinggal dengan sendirinya. Oleh sebab itu penguasaan IPTEK mutlak diperlukan. Namun di sisi lain, kemajuan IPTEK itu sendiri jika tidak diimbangi oleh kekuatan iman dan moral, akan membawa madharat besar bagi kehidupan di muka bumi ini. Kehadiran pendidikan tinggi agama Islam dalam kancah World Class di sini kemudian menjadi penting dan berarti bagi membawa kemajuan dunia dengan tetap memperhatikan nilai-nilai etisnya, semoga.

POTRET RELASI ANTARUMAT BERAGA DI KOTA MALANG

Hari Rabu, 5 Agustus 2015 lalu, di Polinema telah diselenggarakan forum silaturrahim antartokoh se-Malang Raya. Dalam forum ini juga dikokohkan “Deklarasi Damai” anatartokoh agama (enam tokoh). Yang menarik, Korem 083/ Baladhika Jaya telah menyumbangkan kepada enam tempat ibadah senilai masing-masing 10 jt. Inilah sebuah apresiasi yang menarik dari Korem 083/ Baladhika Jaya. Berkat kerjasama antartokoh di Malang Raya selama ini, maka kondisi kerukunan antarumat beragama dapat diatasi, dan  hampir bisa dikatakan tidak ada konflik antarumat beragama di Malang Raya ini. Kalaupun ada masih sebatas wajar dan bisa segera diselesaikan.

Dalam konteks relasi antarumat beragama, hasil penelitian penulis menunjukkan, bahwa terdapat dua formasi sosial elit agama di Malang, yaitu fundamentalis dan moderat. Dari kedua formasi elit agama tersebut, maka melahirkan konstruksi tentang pluralisme dan dialog antarumat beragama yang bervariasi, yaitu:

Pertama, bagi kelompok elit Islam fundamentalis, konstruksi pluralisme agama berwajah deontic-diachronic/ non-reduksionis, artinya bahwa ditetapkannnya Muhammad saw. sebagai pembawa risalah Islam terakhir, memutuskan mata rantai penyempurnaan tradisi agama, sekaligus menuntut seluruh umat manusia untuk memeluk wahyu terakhir ini sebagai konsekuensi dari pengamalan dan pelaksanaan perintah Ilahi.

Sementara itu terdapat dua wajah pluralisme elit agama moderat. Bagi elit Islam moderat, pluralisme agama mereka berwajah normatif (normative-religious pluralism), artinya mereka tetap menyeru toleransi dan menjauhkan arogansi. Sedangkan bagi elit Kristen moderat (baik Protestan maupun Katolik) pluralisme agama yang mereka konstruk berwajah normatif-soteriologik (normative-soteriological-religious pluralism), artinya mereka menyeru toleransi dan menjauhkan arogansi, dan menurut mereka, penganut agama-agama besar di dunia memiliki kedudukan yang sama dalam konteks justifikasi keyakinan agama. Atau dengan kata lain, mereka memandang bahwa kebenaran agama bersifat nisbi; kebenaran setiap agama memiliki nilai yang sama dan tidak satupun berada di atas yang lainnya, dan setiap agama tidak bisa dipaksa bersatu dan meniadakan agama yang lain.

Kedua, bahwa sikap keberagamaan elit agama di Malang juga bervariasi. Bagi Islam fundamentalis sikap keberagamaan mereka bercorak eksklusif-Islamsentris dan bagi elit Islam moderat ada yang bercorak inklusif-Islamsentris di satu sisi, dan bercorak inklusif-teosentris di sisi lain. Sementara itu, bagi elit agama moderat dari kalangan Kristen bercorak plural.

Ketiga, bahwa pola relasi dan dialog antarumat beragama elit agama di Malang juga bervariasi. Bagi elit Islam fundamentalis, pola relasi mereka bercorak ko-eksistensi, artinya bahwa mereka bisa menerima kehadiran agama lain (toleran). Hanya saja toleransi mereka lebih menunjukkan pada tataran permukaan, belum menyentuh pada subsatansinya. Sementara bagi elit agama moderat (baik Islam maupun Kristen) bercorak pro-eksistensi, yaitu mereka beranggapan, bahwa agama-agama eksistensinya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan keberadaannya untuk kehidupan bersama. Agama-agama berjuang bersama untuk mengatasi masalah kemanusiaan bersama, misalnya kebodohan, kemiskinan, korupsi dan sebagainya. Semua agama bersama-sama berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan dan memberantas kebatilan dan kezaliman. Sementara itu orientasi dialog antarumat beragama yang dibangun oleh elit agama di Malang (baik elit Islam maupun Kristen) pada umumnya berorientasi kemasyarakatan (dialogue in community/ dialogue of life), kecuali dari elit Islam fundamentalis yang berorientasi teologis-islamisasi

Di kalangan elit Islam terdapat dua kecenderungan, yaitu fundamentalis di satu sisi, dan moderat pada sisi lain, atau inklusif dan teosentris di satu sisi, dan fundamentalis-ekslusif di sisi yang lain. Kenapa elit Kristen cenderung moderat dan plural tidak sebagaimana elit Islam? Demikian pula, kenapa elit Katolik tidak mengikuti kelompok evangelis yang ekslusif, namun mereka justru mengikuti pola pikir dan tindakan yang diambil oleh para tokoh pluralis yang Calvinis dan Lutherian? Hal ini, karena doktrin extra ecclesiam nulla salus (tidak ada keselamatan di luar gereja atau di luar agamanya) sudah diganti dengan “doktrin keselamatan umum” oleh Konsili Vatikan II pada tahun 1962.

Sebagaimana pengamatan penulis, bahwa pada umumnya hampir semua elit Kristen –khususnya di Malang– memiliki pandangan yang plural. Hal ini bisa dimaklumi, karena istilah pluralisme agama selama ini dipahami sebagai human response yang hanya bersifat sosiologis. Inilah yang memang membedakan antara Islam dan Kristen di satu sisi.

Hal yang senada juga dikemukakan oleh Legenhausen, bahwa pluralisme agama menurut Legenhausen merupakan kelanjutan dari Reformasi dan Liberalisme (Protestanisme Liberal) yang berusaha mencari landasan teologis menuju toleransi beragama. Tokoh pluralisme agama ini antara lain Frederick Schleirmacher (1768-1834), Rudolf Otto (1869-1987) dan kemudian dipopulerkan oleh John Hick di dunia modern sekarang. Legenhausen sendiri menganggap pluralisme agama ini memiliki kelemahan mendasar jika dikaitkan dengan pemikiran Islam, karena pemisahan agama dari tatanan sosial didasarkan pada asumsi bahwa pemisahan tersebut sesuai dengan semua sekte, padahal yang demikian itu secara langsung bertentangan dengan Islam.

Konstruksi sosial elit agama tentang pluralisme dan dialog antarumat beragama tidak terlepas dari teks-teks dan pola pikir yang digunakan oleh para tokoh pendahulunya. Mereka berargumentasi dengan dasar-dasar teks yang dapat menguatkan pendapatnya. Dalam konteks ini, elit agama di Malang memposisikan teks-teks tersebut sebagai posisi sentral dan sebagai instrumen pandangan hidup (world view) mereka. Mereka juga beradaptasi dengan tindakan dan interpretasi para pendahulunya yang diikuti. Sebagaimana kata Ibn Khaldun (tt: 29) bahwa manusia mengikuti pola tindakan pemimpinnya (al-Nas ‘ala Dini Mulukihim). Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh elit agama di Malang tidak dapat terlepas dari pendapat para pendahulunya. Dalam konteks ini maka, jika mereka dari anggota atau pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), maka mereka akan mengikuti fatwa dan pola pikir MUI, jika mereka dari pesantren atau NU, maka mereka akan mengikuti pola pikir pesantren atau NU. Jika mereka dari pesantren, NU dan MUI, maka mereka akan memilih di antara pilihan-pilihan yang ada. Dalam konteks penelitian ini, maka kelompok elit fundamentalis Islam lebih memilih dan mengikuti pola pikir MUI. Sementara itu, kelompok elit moderat Islam lebih memilih dan mengikuti para pendahulunya, para ulama Shafi’iyyah dan NU yang tasamuh, tawassut} dan tawazun. Demikian pula jika mereka dari Kristen atau Katolik, maka mereka akan mengikuti pola pikir Kristen atau Katolik. Maka, pola pikir (model for reality) dan juga pola tindakan tersebut (model of reality) –menggunakan istilah Tibbi– akan terkait dengan tokoh pendahulunya dan institusi di mana ia berada.

 

NU DAN MUHAMMADIYAH JANGAN KONFLIK

 

Dalam setiap ajang pemilihan pemimpin, yang harus kita antisipasi adalah masalah “konflik”, termasuk dalam Muktamar NU –dan juga Muhammadiyah– karena dari sini banyak kepentingan-kepentingan di luar kepentingan organisasi itu sendiri, meski yang sedang ber-muktamar ini adalah para kiai atau ulama’. Tetapi juga jangan lupa, pembisik dan pengganggunya juga selevel kiai juga.

Dalam menghadapi situasi dan kondisi semacam ini, marilah kita bertekad bulat untuk menciptakan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara dengan aman, tenteram, penuh kekeluargaan dan jauh dari intrik-intrik dan permusuhan. Marilah kita berangkat dari hati nurani yang jernih dan tulus untuk bersama-sama turut menciptakan suasana berdemokrasi di negara tercinta ini, melalui sebuah organisasi Islam yang memang harus menjadi panutan.

Sebagai warga Nahdhiyyin yang dengan tegas menjadikan kata “rahmah dan ramah” sebagai misi dakwah-nya, maka harus dapat dibuktikan ke publik melalui muktamar kali ini. Jika tidak, maka justru akan mencoreng nama baik NU itu sendiri, yang “mengatakan tetapi tidak melaksanakan”, an taqulu mala taf’alun….  dan mari kita selalu mengingat pesan Allah SWT dalam al-Qur’an:

Wahai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu  sekalian mati sebelum kamu dalam kondisi menjadi seorang muslim. Dan berpegang teguh lah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan dan janganlah kamu bercerai berai…

Pada kesempatan lain Allah juga berpesan sebagaimana dalam firman-Nya:

Hendaklah kamu sekalian taat kepada Allah dan kepada rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih (berbantah-bantahan) yang menyebabkan kamu sekalian gentar dan hilamng kekuatanmu. Dan sabarlah karena sesungguhnya Allah beserta (melindungi) orang-orang yang sabar (QS. al-Anfal: 46).

Ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan dalam firman Allah tadi: Pertama, kita harus bertakwa kepada Allah secara serius, dalam arti terus menegakkan kebaikan dan kebenaran serta menjauhkan dari perbuatan buruk dan zalim sampai akhir hayat kita; Kedua, kita harus bersatu dan berpegang teguh kepada agama Allah dan tidak boleh berselisih yang mengakibtakan kita bercerai berai, dan tidak solid dan tidak kuat. Jika NU –dan juga Muhammadiyah– dapat melaksanakan perintah ini, insya Allah akan membesarkan nama baik NU dan Muhammadiyah ke depan dan dapat memberikan berkah kepada jama’ahnya… Semoga.

Skip to toolbar