Monthly Archives: November 2013

RELASI ANTARA FILSAFAT, ILMU DAN AGAMA

NO           ASPEK          FILSAFAT         ILMU     AGAMA KETERANGAN 
01 Tujuan Mencari  kebenaran Mencari  kebenaran Menacri kebahagiaan hidup (dunia-akhirat). Agama adalah kebenaran

PARADIGMA KEILMUAN ISLAM

Wahyu (al-Qur’an dan al-sunnah al-mutawatirah) merupakan kebenaran mutlak, absolut dan tak terbantahkan. Ini harus diyakini oleh setiap muslim. Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah-tadwiniyyah yang bersifat deduktif memberikan informasi ilahiyah kepada manusia tentang fenomena alam semesta yang bersifat induktif (ayat-ayat kauniyah). Sementara itu, filsafat dan ilmu sebagai produk akal manusia harus mengungkap kebenaran wahyu tersebut secara terus menerus, sehingga kebenarannya terus terkuak dan disebarluaskan ke masyarakat.

ONTOLOGI

1.   Ontologi           Tiap-tiap pengetahuan memiliki tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen tersebut adalah: ontologi, epistemologi dan aksiologi (Jujun, 1986 : 2).           Ontologi menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk apa. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Sejak dini dalam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan ontologis, sebagaimana Thales ketika ia merenungkan dan mencari apa sesungguhnya hakikat ”yang ada” (being) itu, yang pada akhirnya ia berkesimpulan, bahwa asal usul dari segala sesuatu (yang ada) itu adalah air.

KRITIK TERHADAP ILMU PENGETAHUAN

Di antara persoalan manusia yang paling tua adalah persoalan pencarian kebenara. Persoalan kebenaran tersebut berkembang semakin komplek sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, lebih-lebih ketika pemikiran itu terkait dengan  keragaman dan kesatuan serta klaim manusia atas suatu kebenaran (truth claim).

Usaha manusia untuk menyusun kategori dan batasan mengenai kebenaran melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan berbagai konsep pendidikan. Setelah usaha demikian berlangsung dalam puluhan abad ternyata manusia tidak juga menemukan rumusan mengenai kebenaran secara benar, tuntas dan representatif. Daya dorong dari rumusan kebenaran tersebut menjadikan sebagian manusia bersikap bijak, sementara sebagian lain bersikap putus asa dan selebihnya bersikap masa bodoh dengan hanya memusatkan perhatian kepada segi praktis dan kemanfaatannya semata-mata (Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, 178).

Perkembangan pemikiran manusia yang cenderung bersifat ilmiah teknologis dan fungsional menempatkan kebenaran rasional sebagai pedoman dalam kehidupan. Sementara di luar kebenaran tersebut  dipandang  tidak berarti dan kurang bermakna. Dalam kondisi seperti ini hidup manusia menjadi tidak utuh akibat bias manusia terhadap apa yang disebut ilmiah, di luar itu  diabaikan sementara dalam praktiknya manusia tidak mungkin mengabaikan atau bahkan meninggalkan yang non ilmiah.

Wekskopf, seorang ahli nuklir memperingatkan, bahwa sains telah berhasil mempertajam pengetahuan kita mengenai peristiwa-peristiwa tertentu. Tetapi justru sains cenderung membuat pengetahuan kita mengenai yang lain semakin gelap. Sehingga kita harus bergerak meraba-raba dalam kegelapan sains. Sains sama sekali tidak memperjelas makna pengalaman-pengalaman manusiawi yang justru merupakan dasar dari eksistensi kita di alam ini  (Nataatmadja , Krisis Global Ilmu Pengetahuan.  hal.3).

Suatu pengetahuan dikatakan ilmiah ditentukan oleh prasyarat akademis, yaitu cara memperoleh pengetahuan dan isi dari pengetahuan tersebut. Sebagaimana yang telah dikatakana oleh Prof.Dr. Baiquni, ilmu pengetahuan atau sains adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses  pengkajian yang dapat diterima rasio atau dapat dinalar. Dengan kata lain ilmu pengetahuan adalah himpunan rasionalitas kolektif insani (Pelita, 26-6-1994).  Dalam hal ini Dawam Raharjo mengatakan bahwa  dalam ilmu pengetahuan terkandung etik, metodologi. Ilmu pengetahuan yang tidak mengandung suatu etik adalah contradictio interminis (Dawam Raharjo, Intelektual, Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa, Bandung Mizanm 1990).

Banyak kemudian orang yang terjebak dalam pasungan dan kungkungan pengetahuan ilmiah. Tetapi juga banyak yang terpasung oleh kesalahfahaman terhadap kebenaran ilahiyah yang bersumber pada wahyu. Kondisi seperti itu akibat terjadinya pengertian ilmiah dan ilahiyah tersebut. Kebenaran wahyu difahami manusia sebagai suatu konsep kebenaran yang begitu saja hadir dalam struktur pribadi dan pengetahuan pemeluk yang meyakininya.

Hai ini penting untuk dibahas, jika secara tidak disengaja atau bahkan tak sadar, kreteria pengetahuan ilmiah dan konsekuensinya dihadapkan pada problem religi. Ternyata kreteria ilmiah tidak dapat secara tuntas menjelaskan seluruh fakta dan kenyataan yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan berada dalam lingkup religi ataupun yang non ilmiah lainnya.

Gejala tersebut kemudian menimbulkan bias pemahaman terhadap berbagai aspek ajaran agama yang harus ditolak karena tidak ilmiah. Sebaliknya banyak karya kreatif manusia yang serta merta ditolak karena tidak diketemukan rujukan dalam kebenaran ilahiyah. Persoalan kebenaran ilmiah dan persoalan kebenaran ilahiyah yang bersumber wahyu menjadi persoalan unik dan telah menyita seluruh perhatian manusia.

Rasionalitas digunakan sebagai landasan berfikir oleh para ilmuwan dalam dunia ilmiah dan dijadikan kesadaran tertinggi yang bisa membimbing manusia memilih alternatif jalan kehidupannya menuju kesempurnaan. Itulah penipuan yang begitu banyak menelan korban. Sebenarnya intelegensi bukan dalam kesadaran rasional, bahwa kesadaran rasional hanyalah alat, manifestasi kemampuan komputasi, yang justru kalau dibiarkan menguasai kesadaran manusiawi akan membawa seseorang berfikir secara foto cofis dan komputeris.

Kita menyadari bahwa kesadaran rasional adalah hasil pengolahan fikiran yang diperoleh dari pengalaman empiris, pengalaman itulah sumber dari kesadaran rasional. Banyak orang menyangka bahwa rasio merupakan pedoman seperti kompas yang dapat menunjukkan arah. Padahal tidaklah begitu, rasio tidak bisa dijadikan pedoman hidup, yang bisa dijadikan pedoman hidup adalah kesadaran spritual. Bukan kesadaran spritual dalam ungkapan rasional melainkan spritual yang berakar dalam dunia pengalaman rasa.

Kemampuan rasional adalah sifat yang inheren dengan struktur objektif otak, otak sebagai alat penerima dan pengelola segala macam informasi dari dunia objektif alat yang diciptakan oleh Allah agar manusia dapat berhubungan dengan dunia objektif. Kita tidak bisa menggunakan jalur pendekatan rasional untuk mengenal ilmu subyektif. Karena kalbu mencerminkan mekanisme spritual yang menghubungkan ruh dengan Al-Khaliq dan mustahil hubungan itu berlangsung melalui jalur komunikasi rasional. Justru mekanisme kalbu akan lebih nyata kalau aktifitas otak bisa ditekan mendekati zero (nol) (Krisis Global Ilmu Pengetahuan. Hal. 27).

Rasionalitas tidak akan mampu menyentuh hakekat kebenaran, karena itu rasionalitas cenderung membawa fikiran manusia pada permukaan pengalaman yang paling dangkal, pengalaman praktis tanpa menghiraukan landasan kebenaran di kedalaman agamawi pengalaman spritual. Dengan sikap yang terungkap dalam pernyataan tersebut manusia justru terperangkap dalam relativisme dunia empiri. Tidak mampu menyelam mengalami hakekat yang ada.

Dengan uraian tersebut tidak heran jika Hediki Yukawa menghimbau agar manusia modern kembali ke pemikiran intuitif dan mengurangi pemikiran digital yang menurut Yukawa menghambat kreativitas. Tidak heran pula Einstin mengatakan bahwa lokus/ sumber kreativitas adalah titik pusat grafitasi kesadaran emosional, yang menurut orang Islam disebut qalbu. Einstin dan Yukawa melihat bahwa otak bukan lokus/ sumber intelegensi (Krisis Global Ilmu Pengetahuan. Hal. 27).

Senada dengan itu dalam Muqaddimah Kitab Sirr al- A’dham disebutkan:

“Janganlah kamu katakan bahwa ilmu itu berada di langit, siapa yang akan menurunkannya, atau di perut bumi siapa yang akan menaikkannya, atau di seberang laut siapa yang akan menyeberangkannya. Ilmu itu tercipta dalam hatimu, datanglah ke hadirat-Ku dengan sopan santun, niscaya Ku-lahirkan ilmu itu dalam hatimu, sehingga ia meliputi dan memenuhi dirimu.

Imam Ghazali membedakan tingkat kesadaran manusia menjadi tiga tingkatan yaitu: kesadaran Indrawi, kesadaran rasional dan kesadaran agamawi (spritual). Dengan berkembangnya kesadaran akal, manusia bisa menjangkau wilayah yang tidak bisa dijangkau dengan alat indra. Dengan akal manusia bisa mengenal atom dan menciptakan kapal terbang yang tidak ada sebelumnya. Dengan akal manusia bisa mengetahui pula bagaimana indra bisa menipu, sehingga hanya dengan akal manusia bisa membenarkan informasi yang diperoleh melalui indra.

Selanjutnya Imam Ghazali mengungkapkan wilayah kesadaran yang tidak terjangkau oleh akal. Akal tidak bisa mengerti mengapa mencuri itu dosa. Kalau mencuri itu dipergunakan untuk mencapai maksud yang baik misalnya membeli buku, akal bisa membenarkan pencurian itu. Dengan proses rasionalisai seperti itulah akal bisa menipu manusia. Dengan akal manusia bisa membenarkan prilakunya. Pernahkan kita mendengar pencuri yang menyalahkan perbuatannya sendiri? Atau koruptor yang merasa bersalah? Itulah perbuatan-perbuatan yang direstui oleh akal. Karena dalam hal itu akal bisa berdusta.

Dalam hal seperti itulah manusia memerlukan bimbingan dari kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran spritual. Kesadaran spritual langsung merasakan bahwa mencuri itu berdosa, kesalahan yang sifatnya mutlak. Kesadaran spritual tidak bisa menipu dan kesadaran spritual itulah yang mampu menyalahkan kesimpulan yang diambil oleh akal.

Perlu diketahui bahwa akal tidak mengenal nilai, kemutlakan dosa, ilmu pengetahuan sekarang benar-benar merupakan manifestasi materialis-rasionalisme yang hampir murni, sehingga ilmu pengetahuan tidak pernah mengakui kebenaran kesadaran spritual (=sekuler).

Kita juga melihat kesadaran agama cenderung diangkat ketingkat kesadaran rasional terlepas dari dunia rasa dan pengalaman. Bahkan dalam hal kesadaran agamawi proses rasionalisasi seperti berjalan hampir sempurna artinya benar-benar tanpa landasan kesadaran agama dalam dunia rasa dan pengalaman yang menjadi dasarnya. Karena itulah dengan alat ilmu pengetahuan manusia cenderung terasing dari hakekat rasa dan pengalaman spritual, agama hanya tergambar dalam kesadaran rasional, yang mengambang dalam relatifitas dunia empiris.sebagai mana disinyalir oleh Ibnu Athaillah yaitu lupa dalam berdzikir. Karena dzikirnya berhenti hanya sampai otak tidak menembus pada hati. Meski hal ini sudah baik dari pada yang tidak berdzikir sama sekali. (Ibnu Athaillah, Al-Hikam).

Begitu pula kebenaran empiris yang digunakan sebagai landasan berfikir (paradigma) dalam dunia ilmiah juga tidak akan sanggup mencapai hakekat kebenaran yang sifatnya mutlak dan empiris. Untuk menyingkap hakikat obyek empiris saja, atau mendapatkan sari yang berupa pengetahuan mengenai objek tersebut, metode-metode keilmuan mempunyai kekurangan dan kelemahan yang mendasar, ia hanya mampu mendekati salah satu demensi saja dari suatu objek alam yang pada dasarnya multi dimensional.

Hal ini karena ilmu pengetahuan kita yang paling ilmiahpun yang dihasilkan melalui metode-metode keilmuan-keilmuan yang teruji adalah produk dari olah jiwa, olah pikir dan olah indra serta daya penalaran yang kemampuannya terbatas dan tidak sempurna. “Sains adalah ciptaan manusia dengan alatnya yang paling canggih, yaitu rasio, atau logika, karena sains adalah ciptaan manusia. Dapatkah dengan ciptaannya itu manusia mengerti dirinya? Mungkinkah dengan rasio manusia bisa manjangkau segala kedalaman mengenai dirinya? Apakah yang rasional itu selalu benar, atau lebih benar dari yang non rasional? Apakah batu itu rasional? Apakah yang rasional itu empiris atau yang empiris itu rasional? Apakah karena Tuhan tidak empiris, maka batu lebih benar dari Tuhan, karena batu itu empiris? Bagaimana dengan rukun iman seandainya kita hanya percaya pada yang empiris melulu. Apakah ilmu pengetahuan itu empiris? Bisakah kita mencari ilmu pengetahuan seperti kita mencari batu?

Kebenaran adalah suatu yang multi demensi dengan berbagai manifestasinya. Karena itulah berkembang berbagai ilmu dimana tiap disiplin ilmu akan mendekati hanya terhadap wajah kebenaran. Di balik wajah kebenaran itulah terdapat inti hakekat kebenaran yang bersifat mutlak dan bersifat non empiris (ghaib). Dia-lah yang tersirat dari semua suratan wajah kebenaran. (Muhammad Thahir,  Kedudukan Ilmu dalam Islam: 18).

Karenanya jelas bahwa pengetahuan kebenaran yang dihasilkan melalui metode keilmuan bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Kita harus mencari dan menerima metode lain dan jalan lain yang bisa melengkapi serta bisa memberikan bimbingan yang utuh pada hakekat kebenaran. Kebenaran bukanlah monopoli perseorangan ataupun kelompok. Metode lain atau jalan lain itu haruslah bersumber hanya dari sang pemilik kebenaran, dan tidak bisa menggunakan pendekatan rasionalitas, tapi hanya dengan hati yang didalamnya bersemayam ruh sebagai penghubung.

Dalam kitab AlRisalah al-Qusyairiyah disebutkan, ada tiga unsur dalam tubuh manusia yang dipergunakan orang sufi dalam hubungan mereka dengan Tuhan, yaitu hati untuk mengenal sifat-sifat Tuhan, Ruh untuk mencintai Tuhan, dan sir untuk melihat Tuhan.

Sir lebih halus dari ruh dan ruh lebih halus dari hati. Qalb tidak sama dengan jantung, karena qalb selain dari alat untuk merasa adalah juga untuk berfikir. Perbedaan qalb dengan akal ialah bahwa akal tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan sedang qalb bisa mengetahui hakekat dari segala yang ada dan jika Tuhan melimpahkan cahaya kepada qalb ia bisa mengetahui segala apa yang diketahui Allah.

Disinilah diperlukan kejujuran manusia untuk mengakui kenyataan keterbatasan dirinya. Diperlukan kebeningan pikiran agar kompleksitas gejala alam kehidupan tertangkap dengan jelas dan proposional hingga menimbulkan kesadaran universal kesadaran universal adalah kesadaran manusia akan posisi dirinya di alam universal seutuhnya bukan sepotong-potong (parsial). Sadar akan kekuatan dan kelemahannya, sadar akan hak dan kewajibannya, sadar akan kemandirian dan ketergantungannya, sadar akan eksistensinya dan kenisbiannya, sadar akan fisik dan spritualnya, sadar akan kenyataan dan keghaibannya, sadar akan kehidupan dan terminalnya sadar  akan dari mana mau kemana.

Dari uraian di  atas kita melihat bahwa di satu sisi manusia dibatasi oleh kelemahan dan kekuranganya bahkan terhadap dirinya sendiri. Memang sudah banyak hal ihwal manusia yang tersingkap untuk manusia. Akan tetapi masih banyak lagi misteri-misteri microkosmos manusia yang tertutup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau manusia akan menjangkau macrokosmos angkasa luar. Semua itu masih misteri bagi ilmu pengetahuan manusia. Berapakah umur manusia yang tersedia dalam upaya untuk menyingkap misteri-misteri micro dan macro cosmos itu ?.

Misteri-misteri micro dan macro itupun masih dalam batasan sub sistem alam empiris. Bagaimana pula dengan misteri alam non empiris? Dengan cara bagaimana manusia hendak menyingkapnya? Mampukah dalil-dalil aqli serta metode-metode keilmuan sendiri menjawabnya? Dengan memiliki kesadaran universal yang mempunyai dua kutub yakni kekuatan dan kelemahannya, kemampuan akal dan keterbatasannya, kemandirian dan ketergantungannya, maka senang atau tidak senang manusia harus berpaling mencari metoda lain, manusia harus bersedia  selalu berdialog dengan dunia supyektifnya yang dianggapnya tidak memiliki potensi ilmiah dan sekaligus menangkap dan mengembangkan kebenaran. Manusia perlu selalu berdialog dengan Tuhan melalui firmannya, jika ia tidak ingin mengalami kegagalan dalam hidupnya@

 

 

PENDAHULUAN

A.J. Bahm dalam  Axiology: The Science of Values mengatakan, ilmu pengetahuan terkait dengan masalah. Masalah adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Jika tidak ada masalah, maka tidak akan muncul ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiah adalah hasil dari pemecahan masalah ilmiah. Jika tidak ada masalah, maka tidak ada pemecahan masalah, dus dengan demikian tidak ada pengetahuan ilmiah. Untuk menjadi ilmiah, maka seseorang harus memiliki kemauan untuk mencoba memecahkan masalah.

Menurut Bahm, ilmu pengetahuan setidaknya melibatkan enam  komponen penting: 1) masalah (problems);  2) sikap (attitude);  3) metode (method);  4) aktivitas (activity);  5) kesimpulan (conclusion); 6) pengaruh (effects).

 

1. Masalah (Problems)

Masalah mana yang dianggap mengandung sifat ilmiah? Menurut Bahm, suatu masalah bisa dianggap ilmiah, sedikitnya memiliki tiga ciri: 1) terkait dengan komunikasi; 2) sikap ilmiah dan 3) metode ilmiah. Tidak ada masalah yang disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa dikomunikasikan kepada orang lain. Jika belum atau tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain atau masyarakat maka belum dianggap ilmiah. Tidak ada masalah yang pantas disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa dihadapkan  pada sikap ilmiah. Demikian pula tidak ada masalah yang pantas disebut ilmiah kecuali harus terkait dengan metode ilmiah.

 

2. Sikap (attitude)

Sikap ilmiah (scientific attitude) menurut Bahm setidaknya harus memiliki enam ciri pokok, yaitu: 1) keingintahuan (curiosity); 2) spikulasi (speculativeness); 3) kemauan untuk berlaku objektif (willingness to be objective); 4) terbuka (open-maindedness); 5) kemauan untuk menangguhkan penilaian (willingness to suspend judgment) dan 6) bersifat sementara (tentativity).

1). Keingintahuan (curiosity). Keingintahuan harus dimiliki oleh seorang ilmuwan, seperti keinginan untuk menyelidiki, investigasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.

2). Spikulasi (spiculativeness). Hal ini penting dalam rangka menguji hipotesis. Spikulasi juga merupakan ciri penting dalam sikap ilmiah.

3). Kesadaran untuk berlaku objektif (willingness to be objective). Sikap ini  penting, sebab objektivitas merupakan  ciri ilmiah. Sikap demikian harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Menurut Bahm sikap objektif harus memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

  1. Memiliki sifat rasa ingin tahu terhadap apa yang diselidiki untuk memperoleh pemahaman sebaik mungkin;
  2. Melangkah dengan berdasarkan pada pengalaman dan alasan, artinya, pengalaman dan alasan saling mendukung, karena alasan yang logis dituntut oleh pengalaman;
  3. Dapat menerima data sebagaimana adanya (tidak ditambah dan dikurangi). Hal ini terkait dengan sikap objkektif seorang ilmuwan;
  4. Bisa menerima perubahan (fleksibel, terbuka), artinya jika objeknya berubah, maka seorang ilmuwan mau menerima perubahan tersebut;
  5. Berani menanggung resiko kekeliruan. Oleh sebab itu trial and error merupakan karakteristik dari seorang ilmuwan;
  6. Tidak mengenal putus asa, artinya gigih dalam mencari objek atau masalah, hingga mencapai pemahaman secara maksimal.

4). Terbuka (open mindedness), artinya selalu bersedia menerima kritik dan saran ilmuwan lain secara lapang dada.

5). Menangguhkan keputusan/penilaian (willingness to suspend judgment), artinya bersedia menangguhkan keputusan sampai semua bukti penting terkumpul.

6). Bersifat sementara, artinya harus menerima bahwa kesimpulan ilmiah bersifat sementara.

3. Metode (Method)

Menurut Bahm, bahwa esensi dari sebuah pengetahuan adalah metode. Setiap pengetahuan memiliki metodenya sendiri sesuai dengan permasalahannya. Meski diantara para ilmuwan terjadi perbedaan tentang metode ilmiah, tetapi mereka sepakat bahwa masalah tanpa observasi tidak akan menjadi ilmiah, sebaliknya observasi tanpa masalah juga tidak akan menjadi ilmiah. Menurutnya, bahwa ilmu pengetahuan adalah aktivitas menyelesaikan masalah dan melihat metode ilmiah sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik yang esensial bagi penyelesaian masalah. Ada lima langkah esensial dan ideal –menurut Bahm– dalam menerapkan metode ilmiah yang harus dipahami oleh seorang peneliti (ilmuwan), yaitu 1) memahami masalah; 2) menguji masalah; 3) menyiapkan solusi; 4) menguji hipotesis  dan 5) memecahkan masalah.

4. Aktivitas (Activity)

Aktivitas dimaksud adalah penelitian ilmiah, yang memiliki dua aspek: individual dan sosial. Aktivitas penelitian ilmiah meliputi:  1) observasi; 2) membuat hiopotesis, 3) menguji observasi dan hipotesis dengan cermat dan terkontrol.

5. Kesimpulan (Conclusion)

Kesimpulan merupakan penilaian akhir dari suatu sikap, metode dan aktivitas.  Kesimpulan ilmiah tidak pasti, tetapi bersifat sementara dan tidak dogmatis. Bahkan  jika kesimpulan dianggap dogmatis, maka akan mengurangi sifat dasar dari ilmu pengetahuan tersebut. Pada dasarnya ilmu pengetahuan itu bersifat tidak stabil, setiap generasi berhak untuk menginterpretasikan kembali tradisi ilmu pengetahuan itu.

6. Pengaruh (Effects)

            Ilmu pengetahuan memiliki dua pengaruh, yaitu: 1) pengaruh terhadap teknologi dan industri; 2) pengaruh pada peradaban manusia. Industrialisasi yang berkembang dengan pesat merupakan produk dari ilmu pengetahuan yang mempunyai dampak besar terhadap perkembangan ilmu, sehingga nampak seperti yang terjadi dalam perubahan sifat ilmu itu sendiri. Proses industrialisasi tidak akan dapat diputarulang yang akhirnya ilmu pengetahuan itu sendiri mengalami proses terindustrialisasi. Ilmu pengetahuan yang terindustrialisasi ini menjadi bagian utama dari penggerak ilmu pengetahuan dan  menjadi sebuah sumber bidang penelitian yang memiliki prestise tinggi.

Ilmu pengetahuan (dengan produk teknologinya), juga memiliki dampak negatif, misalnya dipergunakannya senjata nuklir sebagai alat pemusnah massal di Hiroshima pada perang Dunia II (termasuk pengeboman Iraq oleh Amerika dan Sekutunya sekarang ini). Berbagai reaksi timbul dari dampak negatif ini. Maka lahirlah perkumpulan-perkumpulan ilmuwan yang peduli terhadap masalah dampak negatif teknologi, seperti Federasi ilmuwan Atom, Badan Penelitian Teknologi US, Masyarakat Internasional untuk Penelitian Teknologi, Kongres Internasional.

Menurut Bahm, bahwa seseorang yang memiliki perhatian pada permasalahan ilmiah bisa disebut sebagai ilmuwan, kerena sikap ilmiah merupakan bagian dari seorang ilmuwan.  Seseorang yang berhasil mengungkap permasalahan dengan menggunakan metode  tertentu —meski tidak paham banyak mengenai  sifat ilmu—  bisa disebut sebagai ilmuwan. Demikian pula seseorang yang mengamati kesimpulan dari seorang ilmuwan dan memiliki concern dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan juga bisa dikatakan telah memiliki aspek ilmiah dalam dirinya.

Komponen Ilmu Pengetahuan Menurut A.J. Bahm:

Masalah Sikap Metode Aktivitas Kesimpulan Pengaruh
       (1)        (2)        (3)       (4)        (5)      (6)
  1. Komunikasi
  2. Sikap ilmiah:
  3. Metode ilmiah
1.keingintahuan

2. spikulatif

3. objektif  

4.terbuka  5.menangguh   kan penilaian  6.bersifat  sementara

 

  1. memahami masalah
  2. menguji masalah
  3. menyiapkan solusi
  4. menguji hipotesis
  5. memecahkan masalah.

 

  1. Observasi
  2. Membuat hiopotesis
  3. menguji observasi dan hipotesis

 

Bersifat sementara dan tidak pasti 1.pengaruh terhadap teknologi dan industri

2.pengaruh terhadap peradaban manusia

Menurut Peter R. Senn (dalam Jujun, 1991:111), bahwa ilmu pengetahuan memiliki empat komponen utama, yaitu: 1) perumusan masalah; 2) pengamatan dan deskripsi; 3) penjelasan; 4) ramalan dan kontrol. Seperti juga Bahm,  Senn berpendapat, bahwa penelitian keilmuan dimulai dengan masalah, misalnya dengan mempertanyakan sesuatu yang terkait dengan fenomena yang ada: Bagaimana kita harus mendidik anak-anak kita? Apakah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perang dunia III? Apakah penyebab pelacuran? dst.

Cara yang biasa dilakukan dalam menemukan masalah menurut Senn adalah melalui persepsi. Salah satu syarat utama dalam konteks hubungan antara ilmuwan dengan masalah adalah soal perhatian terhadap masalah tersebut. Kemudian Senn (lihat hal. 112-115) mesyaratkan empat ciri ideal dari masalah dalam ilmu, yaitu: 1) penting dan menarik: 2) dapat dijawab dengan jelas dan kongkret: 3) jawaban dapat diuji oleh orang lain; 4) dapat dirumuskan secara tepat.

Sementara menurut Jujun (1990: 142), ilmu pengetahuan memiliki tiga fungsi, yaitu: menjelaskan, meramalkan dan mengontrol. Mengutip Ernest Nagel, Jujun berpendapat, bahwa terdapat empat jenis penjelasan, yaitu: probabilistik, fungsional, teleologis dan genetik.

 

HAKEKAT MANUSIA DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses “memanusiakan manusia”, Abdurrahman Shalih (t.th;47) mengatakan “man is the core of the educational process”, bahwa manusia adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan. Sebab itu sejauh mana pendidikan itu diformulasikan dan diimplementasikan harus selalu disandarkan pada konsepsi tentang hakekat manusia. Merumuskan dan mengembangkan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan seterusnya harus selalu dikonsultasikan pada filsafat dan pemahaman tentang hakekat manusia itu sendiri.

Pembahasan ini berusaha memahami hakekat manusia sebagai sebuah kajian ontologi Pendidikan Islam. Ada beberapa hal yang dikaji dalam tulisan ini yaitu; pemahaman tentang hakekat manusia; poses kejadian manusia; potensi-potensi dasar manusia; tugas dan fungsi penciptaan manusia; serta implikasinya dalam pendidikan.

B.     Pemahaman tentang hakekat manusia

Para ahli mempunyai pemahaman yang beragam dalam memahami hakekat tentang manusia, hal ini dapat kita lihat dari berbagai pendapat berikut;

  1. Charles Robert darwin (1809-1882) menetapkan manusia sejajar dengan binatang, karena terjadinya manusia dari sebab-sebab mekanis, yaitu lewat teori descendensi (ilmu turunan) dan teori natural selection (teori pilihan alam)
  2. Ernest Haeckel (1834-1919) menyatakan manusia dalam segala hal menyerupai binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui
  3. Aristoteles (384-322) memeberikan devinisi manusia sebagai binatang yang berakal sehat yang mampu mengeluarkan pendapatnya, dan berbicara berdasarkan pikirannya (the animal than reasons). Disamping itu manusia juga binatang yang berpolitik (zoon politicon) dan binatang yang bersosial (social animal)
  4. Harold H. Titus menempatkan manusia sebagai organisme hewani yang mampu mempelajari dirinya sendiri dan mampu menginterpretasi terhadap bentuk-bentuk hidup serta dapat menyelidiki makna eksistensi insani (Endang Saifudin, dalam Muhaimin, 1993;31)
  5. Ahli mantiq mendevinisikan manusia sebagai “al-insan hayawanun nathiq” (manusia adalah hewan yang berbahasa)

Dalam Islam manusia dipandang sebagai manusia, bukan sebagai binatang, karena manusia memiliki derajat yang tinggi, bertanggung jawab atas segala yang diperbuat, serta makhluk pemikul amanah yang berat. Berikut pemahaman para pemikir Islam tentang manusia;

  1. Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwa hakekat manusia itu terdiri dari dua komponen penting, yaitu;

a)      Komponen jasad. Menurut Farabi, komponen ini berasal dari alam ciptaan yang mempunyai bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad dan terdiri atas organ. Al-Ghazali memberikan sifat jasad manusia yang ada dalam bumi ini yaiu, dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan ini tidak berbeda dengan benda-benda lain, sedangkan Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi. (Ahmad Daudy, 1989:58-59)

b)      Komponen jiwa. Menurut farabi, komponen jiwa berasal dari alam perintah (alam kholiq) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad manusia. Hal ini karena jiwa merupakan roh dari perintah Tuhan walaupun tidak menyamai Dzat-Nya. Menurut al-Ghazali, jiwa ini dapat berfikir, mengingat, mengetahui, dan sebagainya, sedangkan unsur jiwa merupakan unsur rohani sebagai penggerak jasad untuk melakukan kerjanya yang termasuk alam ghaib. Bagi Ibnu Rusyd jiwa adalah sebagai kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik (Ahmad Daudy, 1989; 59)

  1. Ibnu Miskawih, menambahkan satu unsur lagi disamping unsur jasad dan jiwa, yaiu unsur hayah (unsur hidup). Hal ini karena pada diri manusia ketika dalam bentuk embrio (perpaduan antara ovum dan sperma) sudah terdapat kehidupan walaupun roh belum ditiupkan, sedangkan hayah sendiri terdapat pada sperma dan ovum yang membuat embrio hidup dan berkembang. Jadi hayah bukan komponen jasmanai yang berasal dari tanah dan bukan pula komponen jiwa atau rohani yang ditiupkan oleh Allah.(Syahminan Zaini, 1984:23)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tiga kategori, yaitu;

  1. Manusia sebagai makhluk biologis (al-Basyar) pada hakekatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lainnya walaupun struktur organnya berbeda, karena struktur organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.
  2. Manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah, qolb, ‘aqal. Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya, yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tersebut tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina.
  3. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta, ini disebabkan karena manusia tidak hanya sebagai Abdullah tetapi juga sebagai khalifatullah untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akherat.

 

C.     Proses kejadian manusia dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang berbicara tentang proses kejadian manusia, ada yang menerangkan secara global, seperti pada ayat; Qs.al-Insan ayat 2, Qs. As-Sajdah ayat 8-9, Qs. An-Najm ayat 32, dan seterusnya. Kemudian ada yang menerangkan secara rinci seperti Qs. Al-Mu’minun ayat 12-14, dan Qs. Al-Hajj ayat ;5.

Diantara ayat-ayat tersebut banyak yang memakai redaksi  “khalaqa” dari pada “ja’ala”, hal ini mengandung makna tersendiri dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia. Kata “khalaqa” mengandung pengertian “ibda’ al-syai’ min ghairi ashl, wa la ihtida” (penciptaan sesuatu tanpa asal/pangkal dan tanpa contoh terlebih dahulu), sedangkan kata “ja’ala” yang biasa diartikan menjadikan, merupakan lafadz yang bersifat umum yang berkaitan dengan semua aktivitas dan perbuatan. M.Quraish Syihab, mengatakan lafadz “khalaqa” memberikan aksentuasi tentang kehebatan dan kebesaran atau keagungan Allah dalam ciptaan-Nya, sedangkan “ja’ala” mengandung aksentuasi terhadap manfaat yang harus atau dapat diperoleh dari sesuatu yang dijadikan itu. Seperti pada Qs. Ar-rum;21 dan Ali Imran ; 190-191.

Secara umum manusia berasal dari tanah (thin, turab atau al-ardl), ini dapat dipahami bahwa ternyata dalam tubuh manusia itu terdapat unsur kimiawi yang ada dalam tanah. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia dibentuk dari komponen-komponen yang dikandung dalam tanah, yaitu komponen atom yang membentuk molekul yang terdapat dalam tanah dan jasat manusia. Kata thin dan turab, memiliki makna yaitu tanah yang mengandung air, dari sinilah tumbuh segala tanaman yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai makanan. Intisari makanan tersebut sebagiannya akan membentuk spermatozoa, yakni sel mani (ma’in mahin/ air yang hina) yang apabila masuk ke dalam sel telor bisa menimbulkan pembuahan, inilah barangkali yang ditunjukkan oleh ayat “min sulalah min thin”.

Selanjutnya proses penciptaan manusia, seperti yang ditunjukkan dalam Qs.al-Mu’minun, dilakukan dalam dua fase, fase pertama, yaitu fase fisik/materi, melalui tahapan; (1)nuthfah; (2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting; (4)’idham (tulang); dan (5)lahm (daging). Dan fase kedua yaitu fase non-materi/immateri, seperti yang ditunjuk oleh ayat “tsumma ansya’nahu khalqan akhar”. Tahapan-tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;

Pertama, tahap nuthfah. Tahap atau periode ini biasa dinamakan “periode ovum” dimana pertemuan antara sel kelamin bapak (sperma) dan sel kelamin ibu (ovum) bersatu kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu (fii qaraarin makiin). Pertemuan antara kedua sel tersebut dalam al-Qur’an disebut “nuthfah amsaj”, yakni percampuran air mani laki-laki dan sel telor perempuan, melalui suatu proses sehingga memunculkan “ma’in da-fiq” atau air yang terpancar ketika berkumpul (bersenggama).

Kedua, tahap ‘alaqah. Para mufassir menerjemahkan ‘alaqah dengan segumpal darah atau darah yang membeku, seperti al-Lusi, al-Maraghi, Ath-Thabathaba’I  HAMKA, dan sebagainya. Tetapi sementara ahli kedokteran, antara lain Mauricce Bucaille menyatakan bahwa terjemahan yang tepat untuk ‘alaqah adalah “sesuatu yang melekat”, dan ini sesuai dengan penemuan sains moderen, bahwa setelah proses nuthfah atau periode ovum terjadilah zat baru yang kemudian membelah menjadi dua, empat, delapan dan seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat, berdempet serta masuk ke dinding rahim, inilah yang kemudian disebut ‘alaqah.

Ketiga, tahap mudlghah. Ibnu Katsir mengatakan mudlghah sebagai “qit’ah ka al-bidl’ah min al-lahm la syaki fiha wala takhthith”, yakni sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran, mudlghah inilah yang kemudian membentuk organ-organ penting dalam perkembangan selanjutnya. Proses selanjutnya, keempat, yaitu ‘idham (tulang) yang dibentuk dari elemen-elemen atau bahan-bahan yang terdapat dalam mudlghah, dan Kelima adalah lahm (daging) yang juga dibentuk dari elemen mudlghah.

Setelah itu Allah menjadikannya makhluk yang berbntuk lain (…tsumma ansya’naahu khalqan akhar”), yakni bukan sekedar fisik/materi/jasad, tetapi juga non-fisik/immateri. “al—insya’” disini mengandung arti “I-jad al-syai’ wa tarbiyatuh” (mewujudkan/mengadakan sesuatu dan memeliharanya). Redaksi ayat tersebut tidak memakai kata “al-khalq” yang berarti juga menciptakan, hal ini menurut ath-Thabathaba’I, karena pemakaian kata “al-insya’” menunjukkkan terjadinya sesuatu hal yang baru yang tidak dicakup dan tidak diiringi oleh materi sebelumnya. Pada tahap inilah, menurut Sayyid Qutub, merupakan tahap yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lainnya, pada tahap tersebut manusia memiliki ciri-ciri istimewa.

Dari uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan sebagai berikut;

  1. Bahwa salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an dalam menghantarkan manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah ialah dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya, dan seterusnya. Di sisi lain juga ditegaskan bahwa mengenal manusia merupakan media untuk mengenal Tuhan-Nya (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”).
  2. Bahwa proses kejadian manusia menurut al-Qur’an pada dasarnya melalui dua proses dengan enam tahap, yaitu proses fisik/jasad dan prodses non-fisik/immateri. Secara fisik manusia berproses dari nuthfah, kemudian ‘alaqah, mudlghah, ‘idham dan lahm yang membungkus ‘idham atau mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia. Sedangkan secara non-fisik, yaitu merupakan tahap penghembusan/peniupan roh pada diri manusia sehingga ia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada saat ini menusia memiliki berbagai potensi, fitrah dan hikmah yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin. Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan pada pengembangan jasmani dan rohani manusia secara harmonis, serta pengembangan fitrah manusia secara terpadu.
  3. Bahwa proses kejadian manusia yang tertuang dalam al-Qur’an tersebut ternyata semakin diperkuat oleh penemuan-penemuan ilmiah, sehingga lebih memperkuat keyakinan manusia akan kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Pendidikan dalam Islam antara lain juga diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayat-Nya

 

D.    Potensi-potensi dasar manusia

Dalam diri manusia terdapat alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar yang harus diperhatikan dalam pendidikan, Abdul fatah Jalal  (1977;103), mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan Allah kepada manusia sebagai berikut;

  1. Al-lams dan al-syum (alat peraba dab alat pembau), seperti dalam Qs. Al-An’am;7, dan Qs.Yusuf; 94
  2. Al-Sam’u (alat pendengaran), seperti; Qs. Al-Isra’;36, al-Mu,minun; 78
  3. Al-Abshar (penglihatan) seperti; Qs.al-A’raf; 185, Yunus; 101 dan As-Sajdah; 27)
  4. Al-Aql (akal atau daya fikir), seperti; Ali Imran; 191, al-An’am; 50, Ar-Ra’d; 19, dan Thaha; 53-54.
  5. Al-Qalb (kalbu), seperti Qs. Al-Hajj; 46, Qs.Muhammad; 24, Asy-Syu’ara; 192-194.

Dalam diskursus para filosof Islam, manusia mempunyai bermacam-macam alat potensial yang mempunyai kemampuan yang sangat unik, menurut mereka terdapat tiga macam jiwa dalam diri manusia yang didalamnya terdapat beberapa potensi/daya yaitu;

a)      Jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), mempunyai tiga daya yaitu; daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak.

b)      Jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), mempunyai dua daya, yaitu; daya penggerak (al-muharrikah) berbentuk nafsu (al-syahwah), amarah (al-ghadlab) dab berbentuk gerak tempat (al-harkah al-makaniyah), dan daya mencerap (al-mudrikah), berbentuk indera indera lahir (penglihatan, pendengaran, penciuman, dst.) dan indera bathin (indera penggambar, indera pengreka, indera pengingat, dst.)

c)      Jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah), yang hanya mempunyai daya pikir yang disebut dengan akal. Akal terbagi menjadi dua; akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi yang sifatnya particulars, dan akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, roh, malaikat, dst. Akal ini bersifat metafisis yang mencurahkan perhatian pada dunia immateri dan menangkap keumuman.

Selanjutnya, dalam diri manusia juga terdapat potensi-potensi dasar antara lain berupa fitrah. Fitrah mempunyai beberapa pengertian, dan para ahli di kalangan Islam pun telah memberikan berbagai macam formulasinya tentang fitrah, sehingga dapat disimpulkan bahwa fitrah adalah merupakan potensi-potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian untuk menerima rangsangan (pengaruh) dari luar menuju pada kesempurnaan dan kebenaran.

Disamping fitrah, terdapat juga potensi lainnya, yaitu nafsu yang mempunyai kecenderungan pada keburukan dan kejahatan (qs. 12:53), untuk itu fitrah harus tetap dikembangkan dan dilestarikan. Fitrah dapat tumbuh dan berkembang apabila disuplay oleh wahyu, sebab itu diperlukan pemahaman al-Islam secara kaffah (universal). Semakin tinggi tingkat interaksi seseorang kepada al-Islam, semakin baik pula perkembangan fitrahnya.

Dengan demikian komponen-komponen fitrah yang merupakan potensi-potensi dasar manusia adalah meliputi hal-hal sebagai berikut;

a)      Bakat dan kecerdasan, kemampuan pembawaan yang potensial mengacu pada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah), dan keahlian (profesional) dalam berbagai kehidupan

b)      Instink atau ghorizah, suatu kemampuan berbuat tanpa melalui proses belajar-mengajar, misalnya instink melarikan diri karena perasaan takut, ingin tahu (curiosity), merendahkan diri karena perasaan mengabdi, dst.

c)      Nafsu dan dorongan-dorongan (drives), misalnya nafsu lawwamah yang mendorong pada perbuatan tercela, nafsu amarah yang mendorong pada perbuatan merusak, membunuh, nafsu birahi (eros) mendorong pada pemuasan seksual, dan nafsu muthmainnah (religios) yang mendorong ke arah ketaatan pada Yang Maha Kuasa.

d)     Karakter atau tabiat, merupakan kemampuan psikologis manusia yang terbawa sejak lahir, yang berkaitan dengan tingkah laku moral, sosial serta etis seseorang, berhubungan dengan personalitas (kepribadian) seseorang.

e)      Heriditas atau keturunan, merupakan faktor menerima kemampuan dasar yang diwariskan oleh orang tua

f)       Intuisi, kemampuan psikologi manusia untuk menerima ilham Tuhan, biasanya hanya dirasakan oleh orang yang bersih atau ahli sufi.

Selanjutnya komponen-komponen dasar fitrah tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut;

 

 

 

 

 

 

Bakat dan kecerdasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar tersebut mempunyai arti bahwa fitrah adalah kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir dan berpusat pada potensi dasar untuk berkembang secara menyeluruh dan menggerakkan seluruh aspek yang secara mekanistis saling mempengaruhi, dan masing-masing komponen tersebut bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk lingkungan pendidikan. Sebab itulah untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi-potensi tersebut perlu dilakukan melalui proses pendidikan.

Semua potensi-potensi manusia baik potensi fisik, psikis maupun potensi rohani, pada akhirnya harus difungsikan untuk menjalankan fungsi-fungsi sebagai “abdullah”  (Qs.Adz-Dzariyat; 56, al-A’raf; 172) dan “khalifatullah fi al-ard” (Qs. Al-Fathir; 39, al-An’am; 165, al-Fathir; 39, ).

E. Implikasi Terhadap Pendidikan

Alat-alat ptensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi dasar tersebut. Namun dalam perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, atau hukum-hukum yang biasa disebut dengan taqdir (keharusan universal atau kepastian umum sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia).

Disamping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor heriditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio-cultural, sejarah dan faktor-faktor temporal. Sebab itu pendidikan yang dilakukan harus juga melihat faktor millieu (lingkungan) disamping faktor-faktor yang lain; faktor tujuan, pendidik, peserta didik, dan alat pendidikan. Semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor lainnya.

Dalam kaitannya dengan tugas dan tujuan penciptaan manusia, yakni sebagai ‘abdullah (Qs.Adz-Dzariyat; 56), dan juga sebagai khalifatullah (al-fathir; 39, al-An’am; 165), maka pendidikan dalam Islam antara lain adalah untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanat dari Allah yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya sebagai ‘abdullah (hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan kehendak-Nya serta mengabdi hanya kepada-Nya) dan juga sebagai khalifatullah.(berupa tugas terhadap diri sendiri, keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam dengan “mengkulturkan natur dan menaturkan kultur”), Wa Allah ‘A’lam.

 

JIKA SEKOLAH SUDAH TAK POPULIS LAGI

Lazimnya orang kampung yang bercirikan tradisional, dalam bertetangga kita masih biasa saling kunjung, atau bahasa apik-nya, slitaurrahim ke rumah tetangga untuk sekadar ngobrol, ngomong di sana-sini, mulai soal kesehatan, ekonomi (ma’isyah), sawah ladang, rojo koyo, pendidikan anak-anak, kadang juga politik, pemerintahan, dan nasib bangsa ini. Sambil merokok dan minum kopi kadangkala obrolan kita sampai larut dan berkepanjangan. Pak Jumadi, yang tiba-tiba mengeluh dan seakan mengadu jika ia sebenarnya sangat mengidam-idamkan anaknya melanjutkan ke sekolah unggulan SLTP, mengingat prestasinya di sekolah cukup baik. Menurut pengakuannya, sebetulnya anaknya tidak kalah prestasi jika dibandingkan dengan teman-temannya se kelas. ”Nanging despundi nggih Pak, kulo mboten gadah biaya, nopo melih ten sekolah ’savorit’ Islam, malah mboten kiat melih, wong ten sekolah ’savorit’ Islam niku biayanipun jut-jutan he” (Tetapi bagaimana ya Pak, saya tidak ada biaya, apalagi di sekolah unggulan (favorit) Islam, malah tidak mampu lagi, wong di sekolah unggulan Islam itu biayanya jut-jutan he). Itulah gambaran sekolah kita, sekaligus problem yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat bawah yang tidak diketahui atau diabaikan oleh elit pengambil kebijakan di atas

Setiap tahun kita juga menyaksikan para orang tua sibuk mengantarkan  putrera-puterinya memasuki sekolah, terutama sekolah yang berstatus negeri dan yang  favorit, mulai dari  taman kanak-kanak  hingga perguruan tinggi. Meski dengan biaya  yang amat mahal tak jadi soal. Para orang tua mendambakan kelak putera-puterinya menjadi orang yang terpelajar dan berpendidikan. Bahkan setiap tahunnya terjadi peningkatan arus masuk sekolah. Besarnya arus masuk sekolah tersebut mengindikasikan adanya persaingan berebut bangku, jatah dan daya tampung, sekolah dan perguruan tinggi kemudian menjadi elitis. Hal ini juga menjadi kekhawatiran kita tentang mutu, sebab hasil temuan penelitian C.E. Beeby (1981) –yang membenarkan teori Philip H. Coombs—menyebutkan, bahwa membanjirnya  jumlah peserta didik akan berdampak pada kemungkinan menurunnya mutu pendidikan (lihat laporan The World Educational Crisis: A System Analysis, 1986).

Di sisi lain kita juga menyaksikan para orang tua yang pasrah dengan nasib pendidikan putera-puterinya. Entah di mana mereka harus bersekolah dan sampai pada jenjang apa mereka mampu melanjutkan, karena persoalan biaya yang tak memungkinkan, seperti fenomena Pak Jumadi di atas, dan masih banyak fenomena Pak Jumadi lain yang lebih susah lagi.

Ada dua pemandangan yang kontras pada kondisi pendidikan kita. Di satu sisi masyarakat ingin berlomba mencari pendidikan yang bermutu, pada sisi lain mereka frustrasi karena soal mahalnya biaya pendidikan dimaksud. Akhirnya ada sebagian masyarakat yang harus pasrah menerima kenyataan seperti itu. Dalam konteks ini, maka ada gep antara konsep ideal pendidikan kita dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Padahal jika kita memperhatikan rumusan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) ditegaskan, bahwa warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan  yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar. Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakn dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan (lihat Bab III pasal 5, 6 dan 7 UUSPN).

Pertanyaannya kemudian, sudah meratakah pendidikan kita? Bagaimana dengan anak-anak miskin dan terlantar? Bagaimana dengan beaya sekolah yang semakin membumbung tinggi, sehingga tidak memberikan peluang bagi keluarga miskin, sementara anak-anak mereka memiliki kemauan keras dan mampu secara kualitas untuk bersaing, bahkan lebih cemerlang dari anak-anak orang kaya. Lantas masih perlukah pendidikan seperti sekolah? Bagaimana menghilangkan image, bahwa sekolah masih milik sekelompok tertentu dan jauh dari masyarakat bawah?

Di satu sisi kita ingin ada kompetisi dan seleksi masuk ke sekolah untuk mencari bibit-bibit unggul, di sisi lain bibit yang unggul tidak memiliki cukup dana untuk membayar biaya sekolah tersebut. Terpaksa mereka harus masuk sekolah yang di bawah standar. Bisa dibayangkan, bagaimana sekolah yang kondisinya tidak memenuhi syarat mampu mengangkat prestasi anak? Bisa dibayangkan, di negeri ini anak-anak berprestasi identik dengan anak-anak orang kaya, yang miskin tetap bodoh karena tidak ada peluang untuk ikut berkompetisi di sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas cukup (baca: unggulan). Penulis –sewaktu bekerjasama dengan Learning Assistant Program for Islamic School (LAPIS)– pernah melakukan mapping di sejumlah sekolah swasta di kabupaten Malang, ternyata masih ada beberapa guru yang digaji hanya pas-pasan, alias tidak layak. ”Jika saja bukan karena perjuangan Pak, kami sudah keluar sejak dulu.” Alhamdulillah, sambil ngelus dodo, penulis berkata dalam hati, ”betapa besarnya pengaruh perjuangan (jihad) dalam sebuah tindakan dan pendidikan bangsa kita ini. Andai saja tidak ada semangat jihad, lillahi Ta’ala, sudah habislah generasi kita ini. Kenapa seorang Tukul Arwana dengan Empat Mata-nya konon bisa mendapatkan honor hingga 30 juta dalam sekali tayang? Kenapa biaya iklan dari perusahaan-perusahaan itu tidak bisa diberikan juga ke sekolah? Tentu tanpa menghilangkan misi sponsornya pula.

Sejumlah persoalan di seputar pendidikkan kita akan selalu muncul dalam masyarakat, sepanjang pendidikan atau sekolah tersebut masih belum berpihak kepada masyarakat bawah (the lower class). Bahkan “penindasan” yang dilakukan oleh institusi yang bernama sekolah ini  mendorong Paulo Freire untuk mengusulkan perlunya perubahan yang fundamental bagi terwujudnya pemihakan (commitment) rakyat miskin. Sementara Ivan Illih dan Everett Reimer  dalam Deschooling Society lebih radikal lagi mengusulkan dihapuskannya segala bentuk lembaga sekolah. Meski Illih dan Reimer tersebut tidak realistis, tetapi setidaknya mampu menggugah para pengelola pendidikan untuk mengevaluasi konsep pendidikan yang berlangsung selama ini.

Berbeda dengan Illih maupun Reimer, Johanes Muller masih menganggap bahwa sekolah masih menjadi alternatif yang terbaik. Hanya menurutnya, masalah yang harus segera diselesaikan adalah, bagaimana membentuk suatu sistem pendidikan yang secara institusional bisa merata dan mampu “memberantas” kemiskinan? Untuk itu menurut Muller perlu reformasi sistem pendidikan yang menyangkut: pertama, perlunya diupayakan pemerataan pendidikan secara luas dan dalam jumlah yang memadai. Pemerataan dimaksud adalah memberi kesempatan kepada masayarakat lapis bawah, bahkan mereka harus mendapatkan preferensi  supaya tidak terjadi diskriminasi; kedua, seluruh proses belajar-mengajar baik isi maupun penyampaian dan evaluasinya harus berorientasi kepada pemihakan rakyat miskin.

Memang reformasi yang ditawarkan Muller ini masih terkesan teoretis, bgagaimana praksisnya, perlu ada rumusan kongkret menyangkut soal ini. Karena pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama: pemerintah, masyarakat dan keluarga (tri pusat pendidikan), maka dalam hal ini masyarakat  memiliki tanggung jawab yang sama untuk mewujudkan pendidikan yang populis dan berpihak kepada rakyat miskin.

Ada kesan kuat dalam masyarakat, bawa sekolah unggulan dan bermutu adalah sekolah orang kaya karena  mahalnya biaya. Dus dengan demikian yang memiliki sekolah tersebut adalah mereka yang mampu membayar mahal (orang kaya), karena yang miskin tidak cukup beralasan untuk menempati sekolah unggulan tersebut. Kondisi demikian ini mengancam eksistensi pendidikan kita. Ada budaya diskriminasi di berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari diskriminasi sosial-ekonomi sampai pada diskriminasi pendidikan. Sebetulnya tidak mengherankan kita jika sekolah mahal itu maju dan unggul, baru mengherankan jika ada sekolah murah (tetapi bukan murahan) namun maju dan unggul. Sekolah seperti ini dapat menampung anak-anak yang secara ekonomis tidak mampu (baca: miskin), namun secara akademis mereka berprestasi. Bagaimana caranya? Dengan menerapkan subsidi silang. Sehingga, anak-anak dari keluarga mampu (kaya) membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu (miskin). Di sinilah keluarga orang kaya dapat bersekolah sambil beramal dan berinfak, terpujilah mereka. Zakat pun sebetulnya bisa disalurkan melalui sekolah atau pendidikan semacam ini.

Sejak berkembangnya sistem sekolah sebagai lembaga yang dipercaya untuk mempersiapkan generasi yang lebih berkualitas, fungsi pokok sekolah mulai bergeser arah. Semula sekolah didirikan sebagai lembaga yang membantu orang tua dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan mendidik anak sesuai dengan harapan bersama. Namun seiring dengan perkembangan sistem sekolah tersebut kemudian ada jarak antara sekolah dengan orang tua (masyarakat).

Di pihak orang tua,  karena semakin kompleksnya tuntutan hidup yang dihadapi, lantas mereka cenderung mempercayakan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Sementara di pihak sekolah juga semakin sibuk dengan upaya memenuhi tuntutan sistem pendidikan yang semakin kompleks, yang menguras tenaga dan pikiran para pendidik untuk melaksanakan tuntutan kurikulum yang berlaku. Dari sini kemudian berdampak pada hubungan orang tua dengan sekolah yang semula bersifat fungsional berubah menjadi formal, pragmatis bahkan transaksional. Orang tua tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sekolah, yang penting  anaknya bisa lulus dan dengan ijazah/ STTB bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau bisa melamar pekerjaan.

Lantas bagaimana memecahkan problema diskriminasi pendidikan yang ada selama ini? Di sinilah diperlukan sekolah yang berwawasan populis. Di sini pula perlunya pengembangan pendidikan dalam upaya mendekatkan sekolah sebagai pusat pengembangan masyarakat (Center for Community Development). Karena pendidikan dan nasib generasi bangsa ini tanggung jawab kita bersama (pemerintah, masyarakat dan keluarga), maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: pertama, pemerintah hendaknya memiliki good will dan komitmen yang tinggi terhadap pemberdayaan kaum miskin melalui prioritas program pendidikan. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menambah subsidi bagi penyelenggaraan pendidikan; kedua, masyarakat melalui para pengusaha dan LSM hendaknya turut serta menyediakan sarana pendidikan yang bermutu dan lapangan kerja bagi kaum miskin. Dana sosial baik yang ada dalam pemerintah maupun perusahaan hendaknya diprioritaskan pada pengembangan pendidikan; ketiga, orientasi mata pelajaran dan kurikulum hendaknya ditekankan pada pendidikan yang berwawasan kemanusiaan (humanistik), penciptaan demokratisasi, egalitarianisme dan pluralisme. Sudah saatnya semua komponen (pemerintah, orang tua dan masyarakat dari berbagai lapisan) melibatkan diri untuk mewujudkan pendidikan yang terbaik bagi generasi bangsa ini. Semoga…

 

_____________

 

 

 

          * Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah UIN Malang

Skip to toolbar