PARADIGMA PENDIDIKAN TERPADU

 

Sebelum lebih lanjut memotret paradigma pendidikan terpadu, penulis kira beberapa pertanyaan Prof. Soetandyo[1] perla dikemukakan di sini. Pertanyaan tersebut hádala:  Apakah yang dimaksudkan dengan ‘mengintegrasikan’ di sini ialah upaya untuk menyatukan dalam arti mensenyawakan? Apakah itu mungkin (yang akan berkonsekuensi pada pemikiran untuk menggantikan paradigma epistemologiknya, dari apa yang disebut ‘metode dualisme’ ke ‘metode monisme’)? Ataukah ‘mengintegrasikan’ itu diartikan saja sebagai upaya untuk mempersatukan ilmu agama yang normatif-tekstual serta yang berkenaan dengan segala fenomena as what ought to be itu ke dalam suatu sistem keilmuan dengan ilmu pengetahuan yang saintifik-kontekstual serta yang hanya hendak berkenaan dengan segala fenomena empirik as what it is?  Tidakkah di sini masih juga menyisakan   pertanyaan, manakah dari keduanya yang harus diposisikan sebagai yang dominan? Di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya dan di Universitas Islam Malang (Unisma), atau mungkin juga Universitas Islam Bandung (UNISBA), sejauh ini tradisi universitas umum itulah yang diturut, dalam arti bahwa ilmu pengetahuan yang saintifik itulah yang dominan.  Bagaimana dengan UIN yang sesungguhnya bertradisi sebagai pusat kajian ilmu agama yang normatif? Ataukah ‘mengintegrasikan’ ini diartikan sebatas upaya menempatkan ilmu agama yang normatif dan ilmu pengetahuan yang bertradisi sains itu tetap dalam ranahnya masing-masing yang otonom, sebagai dua wujud yang ditempatkan dalam suatu garis progresi  secara terpisah, namun dalam hubungan antara keduanya yang fungsional dan komplementer?  Dapatkah dipikirkan, direncanakan dan diterima bentuk komplementer seperti ini, yang pada asasnya merupakan hubungan antara aktivitas keilmuan yang berada pada tahap eksperimentasi untuk  disusul dengan aktivitas kontemplasi untuk mempertimbangkan maslahat-mudaratnya hasil eksperimentasi saintifik itu ketika diputuskan untuk didayagunakan dalam usaha umat mencari keselamatan dunia?

Apapun bentuk integratif yang hendak dipilih, seyogyanyalah tetap diingat bahwa ranah normatif yang menjadi wilayah jelajahan ilmu agama dan ranah empirik yang merupakan wilayah jelajahan ilmu pengetahuan alam (IPA) ataupun sosial (IPS) yang konsentrasi kerjanya tertuju ke usaha penemuan hubungan sebab-akibat yang lugas (kausal atau korelasional-kondisional). Mengintegrasikan dalam artinya ‘sebagai menyatukan sehingga bersenyawa’–berdasarkan pertimbangan ontologik ataupun epistemologik yang menyadari perbedaan wilayaha jelajahan tersebut di muka– tentulah tidak mudah, dan bahkan tidak mungkin.  Itu akan merupakan usaha yang terlalu dipaksakan dan akan sia-sia saja.[2]

Dalam wacana metodologikpun bisa dikatakan lebih lanjut, bahwa ilmu agama itu mendasarkan diri pada suatu silogisma dengan awalan suatu premis mayor yang bersifat self-evident.  Sementara itu, ilmu pengetahuan –yang disebut science dalam Inggris –mendasarkan diri pada silogisma dengan awalan premis mayor yang kebenarannya masih harus diragukan dan karena itu harus diuji terlebih dahulu lewat proses-proses kuasi-eksperimentasi yang mengandalkan cara penalaran induktif.  Self-evidence yang bermakna ‘sudah benar dengan sendirinya’ itu tentu saja tidak memerlukan pembenaran apapun, juga tidak pembenaran dari temuan para ilmuwan sains.  Justru simpulan-simpulan yang diperoleh lewat metodologi sains itulah — apabila hendak didayagunakan dalam kehidupan ini– akan memerlukan pembenaran yang diperoleh lewat kajian-kajian ilmu agama.[3]

Kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) di beberapa kota yakni UIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta, UIN Malang di Malang dan UIN Syarif Qosim di Pekanbaru, Ria, salah satu misinya adalah untuk mengem­bangkan keilmuan yang integratif. Namun kenyataannya, di masing-­masing UIN tersebut selain mengembangkan fakultas agama juga mengembangkan fakultas-­fakultas umum. Akibatnya, ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum lagi-lagi masih terlihat dengan jelas terpisah, yakni masih melestarikan pandangan dan perlakuan dikotomi terhadap ilmu. Bagaimana masing-masing UIN tersebut mengkonstruk integrasi keilmuannya? Berikut dijelaskan paradigma dan konstruk keilmuan yang dibangun dari tiga  UIN (UIN Malang, UIN Yogyakarta dan UIN Jakarta).

 

I. Integrasi Ilmu dan Agama UIN Malang: Berangkat dari Pohon Keilmuan

 

 

Latar Belakang

Secara objketif-empirik, UIN Malang dalam melihat pentingnya integrasi ilmu dan sains berangkat dari perubahan bentuk STAIN Malang menjadi UIN Malang, yang pada awalnya, didorong oleh semangat untuk mencoba memadukan ilmu (sains) dan agama, yang selama itu terkesan dikotomik. STAIN Malang yang pada saat itu membuka Jurusan Tarbiyah, dengan program studi pendidikan agama dan Pendidikan Bahasa Arab, merasa memiliki ruang gerak dan kawasan yang sedemikian sempit. Semula, STAIN Malang diangankan untuk dikembangkan menjadi institut atau IAIN, namun, setelah melihat fakultas dan bidang studi yang dikembangkan oleh IAIN pada umumnya hanya terdiri atas 5 (lima) facultas, yaitu Ushuluddin, Syari’ah, Dakwah, Tarbiyah dan Adab. Lagi-lagi bentuk institut seperti itu dipandang belum mampu menggambarkan universalitas ajaran Islam. Fakultas dan bidang studi itu dipandang masih sangat terbatas dan jauh dari gambaran Islam yang universal itu.

Latar belakang berikutnya adalah ketika meli­hat kondisi objektif atau performance perguruan tinggi Islam pada umumnya di Indonesia dan mungkin juga di dunia. Islam yang mengajarkan semangat mengembangkan ilmu pengetahuan, bekerja keras, amal shalih dan ajaran mulia lainnya, ternyata belum berhasil mewarnai sebagian besar lembaga pendidikan tinggi itu. Tidak ayal, lembaga pendidikan tinggi Islam, dan juga lembaga pendidikan Islam pada umumnya masih menampilkan diri sebagai perguruan tinggi yang kolot, tertinggal dari peradaban modern, lamban dalam merespons kemajuan, kurang kompetitif, kurang dinamis, dan tidak mampu menarik perhatian kalangan yang lebih luas. Nilai Islam yang luhur dan agung, rahmatan lil alamin, ternyata masih dalam tataran cita-cita yang sulit diwujudkan. Atas dasar pandangan dan pikiran-pikiran seperti inilah, STAIN Malang berusaha keras untuk mengubah diri menjadi UIN Malang. Perubahan itu sekaligus dijadikan sebagai momentum untuk keluar dari problem besar yang dihadapi selama ini.

Disamping itu UIN Malang dalam melihat pentingnya integrasi ilmu dan sains berangkat dari problem yang dihadapi banyak mahasiswa perguruan tinggi Islam yang justru lebih mengagumi teori-teori Barat seperti, teori struktural, fungsional, strukturasi, teori konflik, dan sebagainya daripada teorinya sendiri (yang digagas oleh ilmuwan Islam). Mereka lebih bangga jika mampu mengenal lebih dekat tokoh-tokoh seperti Weber, Gramsci, Parson, Fredrick Hegel, Karl Marx, Anthony Giddens dan tidak terkecuali para penggagas teori postmodernisme seperti Foucault, Derrida, Nietsczhe dan sebagainya. Para amahasiswa merasa hebat jika sudah bisa merujuk tokoh-tokoh tersebut sebagai dasar argumentasi ilmiah. Mengapa hal ini terjadi?

Problem terkait di atas dapat dimajukan beberapa analisisnya: Pertama, bahwa pemikiran-pemikiran Islam yang berkembang selama ini dianggap ketinggalan zaman. Kajian-kajian keislaman yang dilakukan oleh para pemikir Islam selama ini dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman sehingga kurang menarik bagi mahasiswa di perguruan tinggi Islam. Analisis semacam ini telah banyak dilontarkan oleh para pemikir pembaharu dalam Islam seperti Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun dan sebagainya. Kedua, masih muncul ketakutan di kalangan para pemikir Islam untuk melakukan modernisasi dan reformulasi pemikiran keislaman. Munculnya perdebatan panjang antara kaum modernis dan kaum tradisionalis adalah fakta yang menunjukkan adanya ketakukan pada beberapa kalangan umat Islam untuk melakukan pembaharuan pemikiran. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika hingga saat ini umat Islam masih disibukkan pada perdebatan-perdebatan berkenaan dengan masalah ini, sehingga melupakan hal-hal lain yang lebih substansial dan besar.  Ketiga, --meminjam istilah dalam Psikologi Abnormal—umat Islam tampaknya sedang mengidap syndrom of inferiority complex.

Di kalangan   umat Islam saat ini banyak mengidap penyakit kurang percaya diri dan pesimistis, sebagai akibat adanya kemunduran dalam peradaban Islam dibandingkan dengan peradaban Barat yang lebih maju. Hal ini yang menyebabkan mereka merasa lebih bangga jika mereka mengambil semangat dan tradisi pemikiran Barat yang cenderung bersifat sekular, dan malah sebaliknya, mereka meninggalkan tradisi pemikiran dalam Islam.

Kajian keislaman atau yang dikenal dengan Ad-Dirasat Islamiyah atau Islamic Studies selama ini yang sering kita pahami dan mungkin dipahami oleh banyak orang adalah sebuah kajian yang berkenaan dengan ilmu-ilmu keagamaan Islam. Ketika kita menyebut kata-kata “studi Islam”, maka hal pokok yang terbayang di dalam benak kita adalah beberapa persoalan yang berkaitan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Dari kedua sumber inilah kemudian muncul berbagai ilmu keislaman seperti Ilmu Kalam, Aqidah Islam, Tafsir, Fiqh, Ushl Fiqh, Tasawuf,  dan yang sejenisnya.

Demikian juga tatkala orang menyebut pendidikan Islam,  yang muncul adalah pelajaran tauhid, fiqh, tafsir, hadits, masailul fiqh, tasawuf, akhlaq, tarikh  dan bahasa Arab. Mata pelajaran seperti ini diajarkan  mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan materi yang kurang lebih sama. Yang membeda-kan materi antar jenjang terletak pada kedalaman bahan kajiannya, sekalipun tidak jarang  terjadi pengulangan-pengulangan antara jenjang satu dengan jenjang berikutnya. Isi pelajaran agama sering kali juga tidak menarik, sehingga para siswa mengikuti pelajaran  agama bukan karena mereka ingin mengetahui, melainkan oleh karena menjadi kewajiban. Bahkan, lebih sederhana lagi, tujuannya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian dan akhirnya lulus dengan nilai yang diinginkan. Para siswa bukan merasa perlu belajar (need to study), melainkan harus belajar (have to study). Motivasi belajar mereka bukan motivasi kebutuhan, melainkan motivasi kewajiban. Meminjam istilah dalam ilmu pendidikan, dengan motivasi belajar yang hanya seperti itu, maka bagaimana mungkin suasana belajar akan berlangsung dengan baik?.

Apa yang dapat kita pahami dari realitas ini tidak lain adalah bahwa “Islam” seolah hanya dipahami sebatas konsep-konsep iman, ibadah dan  akhlaq dalam arti yang sangat sempit atau hanya berdimensi doktrinal dan transendental. Islam yang dikaji seolah hanya untuk memenuhi kebutuhan praktis ritual ibadah. Islam dalam konteks ini, dimaknai dengan sangat sederhana dan parsial.

Kalau kita cermati lebih jauh lagi, kita seolah tidak pernah menemui dalam perbincangan kajian Islam dengan persoalan-persoalan keilmuan-keilmuan seperti ilmu politik, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu kedokteran, antropologi, ilmu sejarah, dan sebagainya. Pendeknya, ilmu-ilmu yang kita klaim sebagai ilmu  “sekular” tersebut kita pandanga tidak absah jika dimasukkan ke dalam kajian Islam. Akibatnya, kajian-kajian keilmuan “sekuler” tersebut berdiri dan berkembang di luar jalur kajian keislaman.  Di bawah ini bisa dilihat bagaimana kajian keilmuan lama:

Skema Kajian Keilmuan Terdahulu

 

AYATULLAH

 

 

Kalau dicermati al-Qur’an secara mendalam, maka ada sesuatu yang menarik yang barangkali dapat dijadikan inspirasi di dalam upaya rekonstruksi kajian keislaman ke depan. Oleh sebab itu kajian keislaman ke depan haruslah merupakan kajian yang berorientasi antropologis, kosmologis, sosiologis, psikologis, etis, dan teologis sekaligus. Paradigma ini seiring dengan apa yang dapat kita cermati dari al-Qur’an al-Karim. Dari sisi kandungannya al-Qur’an mencakup berbagai bidang kajian, baik yang berkenaan dengan aqidah, ibadah, etika, penciptaan alam dan manusia, maupun persoalan eskatologis dan sebagainya.  Persoalan-persoalan tersebut tersebar secara acak dalam berbagai suratnya. Dikatakan acak karena memang dalam kenyataannya al-Qur’an, misalnya, tidak pernah berbicara secara khusus dan sistematik tentang penciptaan (creation, atau dalam bahasa Arabnya: al-khalq, at-tashwir, at-tadbir). Secara lebih detail barangkali dapat dikemukakan bahwa ketika al-Qur’an berbicara tentang manusia sebagaimana tercantum dalam QS. al-Nas (144) misalnya, dalam paparannya ternyata tidak hanya berbicara dalam konteks kemanusiaan an sich. Kandungan ayat itu berbicara juga tentang  aspek teologis, kosmologis metafisik, psikologis, fisiologis, dan sebagainya.  Berikut dapat kita cermati dari detail ayatnya:

  1. Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Tuhan manusia.
  2. Raja Manusia.
  3. Sembahan  manusia.
  4. Dari kejahatan Setan yang biasa bersembunyi
  5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia
  6. dari Jin dan Manusia.

Model pemaparan sebagaimana yang dapat kita cermati dari al-Qur’an tersebut, sangat tepat jika dijadikan model dalam kajian keislaman. Kajian keislaman yang selama ini ada dengan kecenderungannya yang bersifat parsial sudah saatnya direkonstruksi sebagaimana yang contohkan oleh al-Qur’an.

 

1. Alternatif Kajian Islam

Mencermati hal-hal yang telah dipaparpan di depan, maka alternatif yang dapat ditawarkan dalam upaya rekonstruksi kajian haruslah tetap memposisikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber pokok yang tidak boleh dilewatkan. Al-Qur’an dan hadits, setidak-tidaknya berisi ajaran yang sedemikian luas menyangkut beberapa persoalan, yaitu:

a) Ketuhanan,

b) Penciptaan,

c) Manusia dan perilakunya ,

d) Alam  dan sifat-sifatnya, dan

e) Keselamatan  manusia dan alam.

Tema-tema tersebut nampaknya lebih menarik dijadikan topik kajian. Hal ini tidak lain karena: Pertama, persoalan tersebut mempunyai dimensi yang bersifat holistik, baik menyangkut teologi, antropologi, kosmologi, maupun etika. Kedua,  persoalan tersebut selalu terkait dengan persoalan hidup nyata yang dialami oleh manusia.

Pertanyaannya adalah, bagaimanakah metode aplikasi kajian atas persoalan-persoalan tersebut? Dalam  hal ini topik-topik tersebut perlu dikaji secara bertahap dan harus  disesuaikan dengan jenjang pendidikan para siswa. Kajian yang diusulkan ini sekalipun  tidak menggunakan konsep-konsep lama seperti tauhid, fiqh dan seterusnya tetapi di dalamnya tetap merangkum dan menggunakan konsep-konsep itu. Artinya, secara aplikatif persoalan-persoalan tersebut di atas terintegrasi dengan aspek ketauhidan, ibadah dan akhlaq sebagaimana yang terumus dalam konsep lama.

Metode ini sebenarnya merupakan aplikasi langsung dari metode yang diterapkan al-Qur’an. Sebagaimana kita fahami bahwa  al-Qur'an menggunakan nama-nama surat yang beraneka ragam, misalnya surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa’, al-An’am, al-Hadid, sampai an-Nas. Tidak ditemukan dalam al-Qur’an, urut-urutan nama atau topik seperti tauhid, fiqh, tafsir dan seterusnya. Dengan kata lain, sebagaimana telah disinggung pada bagian terdahulu bahwa dalam surat-surat tersebut secara integral telah tercakup pembahasan yang berkenaan dengan tauhid, fiqh, akhlaq dan sebagainya. Konsep-konsep dan urutan tersebut harus dipahami sebagai hasil karya manusia, yang sangat memungkinkan untuk dikaji ulang dan disesuaikan dengan kebutuhan zamannya.

Secara metodologis tidak mungkin mengajarkan agama Islam dengan cara langsung mengkaji al-Qur’an dan hadits dari teks, berurutan sebagaimana isi al-Qur’an dan hadits itu sendiri. Kajian al-Qur’an dan hadits  seperti itu hanya tepat sebatas al-Qur’an dan hadits digunakan sebagai bacaan, tetapi tatkala al-Qur’an dan al-Hadits digunakan sebagai sumber kajian maka mau tidak mau harus dirumuskan tema-tema pokok yang merupakan garis besar, yang mencakup sebagian atau keseluruhan isi al-Qur’an itu sendiri. Namun, harus disadari bahwa usaha seperti ini tidak bisa dibenarkan mengklaim bahwa produk yang dihasilkan  mempunyai tingkat kualifikasi yang paling sempurna. Usaha ini sama saja dengan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh para ulama dan cendekiawan masa lalu yang sudah barang tentu menyandang kelemahan dan kekurangannya. Pandangan seperti ini sangat mudah dipahami atas dasar kenyataan bahwa al-Qur’an dan  al-Hadits  berbicara tentang Tuhan, jagad raya dan  kehidupan manusia dan alam yang sedemikian luasnya.

2. Overview Kandungan Kajian Islam

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa terdapat lima persoalan yang patut dijadikan “nuansa baru”  bidang-bidang kajian Islam. Berikut  ini dikemukakan isi kandungan kajian Islam secara garis besar yang selanjutnya  dapat dikembangkan sesuai dengan jenjang  pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sudah barang tentu isi maupun metodologi yang dikembangkan pada masing-masing jenjang harus disesuaikan, baik dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan intelektual, emosi  maupun aspek lainnya.

  1. a.    Ketuhanan

Bahwa pada hakikatnya manusia memiliki naluri untuk mempercayai adanya Tuhan. Bahkan seorang yang mengaku atheis pun sesungguhnya dalam pikirannya selalu dipenuhi teka-teki tentang adanya Tuhan. Manusia, sebagaimana telah ditegaskan dalam al-Qur’an, tidak diperbolehkan untuk memikirkan substansi atau hakikat Tuhan, “tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatihi”. Dalam konteks ini, kajian ini tidak diarahkan pada upaya memahami Tuhan  dari sisi dzat-Nya melainkan kajiannya difokuskan pada tanda-tanda-Nya yang tersimpul dalam sifat-sifat mulianya, nama-nama indah yang disandang-Nya, kekuasaan dan ciptaan-Nya. Kajian tentang hal ini diarahkan untuk mengenali Tuhan sedapat yang dilakukan dan selanjutnya agar mengagumi dan mencintai.

  1. b.   Penciptaan

Tuhan menciptakan jagad raya seisinya termasuk manusia, malaikat dan jin.  Teka-teki penciptaan ini telah melahirkan berbagai hipotesis dan perdebatan sepanjang masa. Kelahiran manusia menurut teori Darwin melalui proses evolusi. Teori ini banyak pendukungnya, sekalipun juga tidak sedikit yang menentangnya. al-Qur’an terkait dengan  masalah penciptaan manusia ini memberikan keterangan bukan melalui evolusi melainkan lewat penciptaan Adam dan Hawa. Jagad raya, oleh sebagian teoritikus terjadi melalui proses dentuman besar yang dikenal dengan Teori Big Bang (the Big Bang Theory). Sedangkan al-Qur’an menyebutnya dengan sebutan sittatu ayyam. Begitu pula al-Qur’an menjelaskan tentang bahan kejadian itu sendiri, manusia dijadikan dari bahan tanah, sedangkan malaikat dengan cahaya dan jin diciptakan dari api. Tentang penciptaan malaikat dan jin ini ilmu pengetahuan selama ini belum mampu memverifikasi, apalagi menjelaskan penciptaannya.

  1. c.    Manusia dan  perilakunya

Sebagian besar manusia ternyata bukan saja tidak mengenal Tuhannya, melainkan juga tidak mengenal dirinya sendiri (الذين نسوالله فأنساهم أنفسهم). Manusia terdiri atas bagian-bagian, yang meliputi:  ar-ruh, al-qolb,  al-‘aql, an-nafs, dan al-jism (jasmani). Pengetahuan ilmiah saat ini hanya menjamah aspek-aspek akal dan jasmani saja. Jiwa manusia dikaji, tetapi sebatas gejala-gejala jiwa saja, sebab pengetahuan hanya mampu mengkaji aspek-aspek yang dapat direkam oleh indera dan tidak akan menjamah aspek-aspek yang tidak dapat dikenali oleh indera dan akalnya. Al-Qur’an berbicara tentang manusia justru menyangkut hal yang terdalam, yaitu  al-qolb atau ar-ruh. Justru  al-qolb ini yang dipandang sebagai sumber perilaku manusia, terutama yang terkait dengan kebaikan dan keburukan. Al-Qur’an juga berbicara tentang manusia dalam kaitannya dengan harta (ekonomi), kekuasaan (politik), sosial-budaya, ilmu pengetahuan (sains), keluarga, keadilan  dan  kemanusiaan.

  1. d.   Alam dan Sifat-sifatnya

Tuhanlah yang menciptakan jagad raya ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Tuhan menciptakan  bumi, bulan, matahari dan bintang, yang masing-masing berputar pada porosnya. Matahari mengelilingi bumi, bulan dan bintang mengelilingi matahari. Semuanya berputar dan bergerak pada orbitnya. Di samping itu, al-Qur’an juga berbicara tentang air yang dinyatakan sebagai sumber kehidupan, berbicara tentang tanah, gunung, lautan, langit, api, binatang, tumbuh-tumbuhan dengan berbagai perilaku dan sifat-sifatnya. Sekalipun sudah banyak yang berhasil dikaji dan  diketahui oleh manusia lewat penelitian-penelitian ilmiahnya, akan tetapi rahasia yang dibuka oleh Tuhan  masih tetap sedikit, sebagaimana disebutkan “wama utitum minal ilmi illa qalila”. al-Qur’an, misalnya, menyebut bahwa langit sesungguhnya adalah berlapis tujuh. Bahwa gunung diciptakan untuk memperkukuh kehidupan manusia dan lain-lain. Dilihat dari segi sifat-sifatnya, bagian dari alam yakni binatang misalnya, al-Qur’an bicara tentang onta, laba-laba, lebah, khimar dan  lain-lain. Hal-hal tersebut dijelaskan al-Qur’an karena mengandung pelajaran dan makna yang mendalam bagi manusia.

  1. e.    Keselamatan Manusia dan Alam

Semua manusia menghendaki keselamatan, baik di dunia mapun di akhirat. al-Qur’an menunjukkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan hanya dapat dicapai dengan: (1) iman, Islam dan ihsan, (2)  beramal shaleh, dan (3) berakhlakul karimah. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang tidak dipisah-pisahkan. Atas dasar keyakinan  (iman, islam dan ihsan) maka lahir kejujuran atau kebenaran, serta selalu menghindar pada kebohongan dan kepalsuan. Sesuatu yang palsu dan bohong selalu tidak berumur panjang (tidak selamat) dan selalu pula membawa kerusakan. Ketiga hal tersebut juga melahirkan sikap kesabaran, ikhlas, tawakkal, istiqamah. Apa saja yang dilakukan  atas dasar keimanan, islam dan ihsan, amal sholeh dan akhlakul karimah hanya tertuju pada keridloan Allah semata.

3. Perangkat Metodologis

 

Dalam upaya reformulasi kajian keislaman ini terdapat beberapa perangkat metodologis yang diperlukan. Perangkat metodologi tersebut merupakan tawaran yang masih bisa diperdebatkan. Namun, dalam konteks ini bahwa perangkat metodologis ini bisa dijadikan fondasi dalam kajian keislaman yang digagas.

Pertama, filsafat. Mengapa filsafat? Hal ini tidak lain karena filsafat memberikan pola berpikir kepada manusia secara sistematis, radikal dan universal.  Melalui metode filsafat ini diharapkan dalam mengkaji Islam seseorang memiliki kedalaman dalam berefleksi. Dalam mengkaji masalah keselamatan manusia dan alam misalnya, seseorang tidak hanya dituntut untuk berpikir bagaimana aspek hukumnya saja atau orientasi fiqhiyah an sich, tetapi seseorang itu harus mampu mencakup dimensi teologisnya, akhlaqnya, maupun dasar-dasar qur’aninya. Hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukan kecuali jika seseorang memiliki kedalaman berpikir secara filosofis. Berkenaan dengan hal ini, adalah menarik apa yang dijelaskan oleh Fazlur  Rahman bahwa filsafat adalah hal yang sangat niscaya bagi umat Islam, jika menginginkan kembali meraih masa kejayaan di bidang ilmu pengetahuan.

Kedua, fenomenologi. Ada suatu keprihatinan yang sangat mendalam dari para pemikir muslim kontemporer berkenaan dengan fenomena kejumudan pemikiran Islam. Muhammad Arkoun, salah seorang pemikir muslim kontemporer, menjelaskan bahwa mandegnya pemikiran keislaman saat ini tidak lain adalah karena umat Islam hanya lebih menikmati perangkat metodologis yang telah dicetuskan oleh para pendahulunya. Umat Islam, dalam pandangan Arkoun, tidak berani untuk mengambil perangkat metodologis yang telah berkembang dengan sangat pesat di Barat. Berkenaan dengan hal tersebut inilah Arkoun menegaskan bahwa pada saat ini perlu ilmu-ilmu keislaman diperkaya dengan perangkat metodologis yang berkembang dalam wilayah lain seperti fenomenologi.

Dalam rekonstruksi kajian keislaman, metode ini menjadi hal yang tidak dapat dinafikan. Hal ini tidak lain karena  melalui jendela fenomenologi ini seseorang akan dapat memahami realitas sosial yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengkaji, mengadakan temuan-temuan baru, dan melakukan rekayasa sosial perihal perilaku manusia— yang menjadi salah satu tema pokok dalam kajian keislaman ini—jika tidak  menggunakan fenomenologi sebagai perspektifnya. Melalui jendela fenomenologi ini diharapkan akan dapat menjawab problem-problem kontemporer kemanusiaan yang memang sangat berbeda dengan permasalahan yang berkembang pada abad-abad klasik dan pertengahan Islam. Pun, diharapkan akan menjawab keprihatinan yang selama ini dilontarkan oleh para pemikir kontemporer selama ini.

Ketiga, hermeneutika. Mengingat bahwa kajian keislaman ini tidak dapat dilepaskan dari sinaran sumber pokoknya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits yang tidak lain adalah sekumpulan teks, maka diperlukan salah satu piranti metodologis ilmu tafsir yakni hermeneutika. Melalui perangkat hermeneutika ini seseorang dalam mengkaji Islam diharapkan akan mampu mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dan inspirasi dari al-Qur’an. Adalah telah masyhur diyakini oleh para pemikir besar Islam baik konvensional maupun kontemporer bahwa al-Qur’an adalah sangat kaya dengan sumber informasi dan inspirasi pengetahuan. Barangkali dapat diutarakan sekilas dalam hal ini, betapa al-Qur’an telah memberikan inspirasi yang sangat jelas perihal kemungkinan manusia diabadikan jasadnya (dimumikan) seperti isyarat al-Qur’an terhadap jasad Fir’aun. Dalam konteks kajian keislaman ke depan kita tidak mungkin hanya menjawabnya hanya melalui pendekatan imani semata, tetapi mesti melalui kerja atau penelitian ilmiah untuk menjawab problem tersebut. Bagaimana  mekanisme ilmiahnya sehingga Allah mengabadikan jasad Fir’aun tersebut? Masih banyak lagi persoalan yang dikemukan al-Qur’an seperti isyarat kemungkinan manusia untuk di-“tidur”-kan untuk jangka waktu yang lama seperti kisah Ashhabul Kahfi, dan sebagainya.

Melalui kinerja hermeneutika juga diharapkan dapat lebih menghidupkan kembali khazanah kajian-kanjian al-Qur’an sebagaimana yang pernah terjadi pada masa kejayaan Islam Klasik. Tidak seorangpun yang menyangkal bahwa dari hermeneutika al-Qur’an, umat Islam telah mampu menghasilkan berlaksa-laksa kitab tafsir yang masih dapat kita warisi hingga saat ini. Kalau para pendahulu kita mampu berbuat hal yang sedemikian, maka sudah sewajarnya jika pada masa kini kita mesti berbuat yang lebih banyak lagi terlebih dengan kemajuan teknologi segalanya menjadi mudah. Kelemahan metodologis dalam ilmu tafsir (hermeneutika) berimplikasi pada sempitnya pemahaman dalam menafsirkan al-Qur’an. Al-Qur’an haruslah dipandang bukan sebagai teks yang beku, melainkan teks suci yang dinamis yang di dalamnya mengandung berbagai ajaran bagi kemaslahatan umat manusia.

Terdapat satu perangkat metodologi yang barangkali bisa ditambahkan dalam hal ini yaitu metode positivistik. Metode ini perlu ditambahkan dalam rangka memahami hal-hal yang berkaitan dengan disiplin keilmuan alam. Al-Qur’an banyak berbicara persoalan proses penciptaan, baik penciptaan alam maupun penciptaan manusia. Melalui metode ini diharapkan akan mampu  digunakan untuk memahaminya dengan menyandingkannya bersama dengan berbagai penemuan ilmiah kontemporer. Dengan demikian, pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an menjadi lebih komprehensif, aktual dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

4. Relevansinya dengan Pendekatan Lama

Pendekatan lama dengan menggunakan konsep tauhid, fiqh, akhlak, tasawuf, tafsir, hadits, tarikh dan bahasa Arab dalam mengkaji Islam  tidak seluruhnya ditinggalkan. Tatkala berbicara tentang keselamatan manusia, maka aspek-aspek tauhid, fiqh, akhlak dan tasawwuf akan menjadi bahan kajian. Demikian pula tatkala mengkaji tentang Tuhan, penciptaan, manusia dan perilakunya, alam dan sifat-sifatnya maka diperlukan ilmu tafsir dan ilmu hadits dengan berbagai cabangnya.

Upaya melakukan reformulasi kajian Islam ini dimaksudkan agar diperoleh pemahaman yang lebih utuh terhadap ajaran Islam  itu sendiri. Kajian Islam, dengan demikian, menjadi tidak mandeg dan tidak pula menjadikan kajian keislaman bersifat teosentris secara berlebihan dan akibatnya aspek-aspek atroposentris tidak  memperoleh porsi yang memadai. Sebagaimana telah terbukti dalam sejarah perkembangan keilmuan, kajian yang cenderung bersifat teosentris telah banyak dikritik oleh para pemikir Muslim kontemporer dan hal tersebut dianggap telah mengakibatkan umat Islam tertinggal dari kelompok masyarakat yang lain. Kajian Islam dengan formulasi dan sistematika sebagaimana yang telah di sebutkan di atas diharapkan akan mampu menjadikannya  lebih hidup dan berkembang. Pada gilirannya pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an menjadi lebih menyeluruh dan lebih mendalam.

Sebagai evaluasi, dengan formulasi dan sistematika sebagaimana di atas maka perbincangan tentang perilaku manusia, alam dan sifat-sifatnya menjadi tidak terlewatkan sebagaimana yang sering terjadi pada kajian dengan model pendekatan lama (tauhid, fiqh, tasawuf, tafsir, hadits, dll). Kajian Islam dengan model lama tersebut hanya sebatas fiqh, tauhid dan akhlak yang cenderung parsial. Kajian-kajian tentang kealaman seperti kelautan, kedokeran, pertanian, peternakan dan lain-lain seolah tidak dipandang sebagai bagian dari isi al-Qur’an. Padahal, kenyataannya, al-Qur’an berbicara tentang persoalan itu, bahkan al-Qur’an berbicara tentang  penciptaan  langit, peredaran  benda-benda angkasa hingga  persoalan kecil tentang binatang laba-laba (al-Ankabut), lebah (an-Nahl), semut (an-Naml), nyamuk (al-ba’udhah), dan seterusnya.

Pendekatan baru dalam melakukan kajian Islam ini diharapkan memperesentasikan Islam yang universal, lebih menarik, dan berkembang. Islam tidak hanya dilihat pada posisi marginal dan sebagai suplemen. Islam harus dipahami sebagai sesuatu yang lebih luas dari yang lain. Kajian keislaman dengan sistematika seperti ini, bukan menjadi bagian dari ilmu pengetahuan, melainkan justru meliputi seluruh bagian. Islam mengajarkan bahwa terdapat dua sumber ilmiah di dalamnya, yaitu ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah sudah seharusnya dilihat secara berbarengan, terpadu, dan berimbang. Wahyu ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Yang sudah tertulis disebut qauliyah sedang yang tidak tertulis disebut kauniyah. Dengan cara pandang seperti ini maka gugurlah kategorisasi ilmu umum dan ilmu agama. Islam tidak membedakan hal itu. Kalaupun ada yang membedakannya sebagaimana yang selama ini kita lihat, sudah saatnya untuk kita kritisi dan pertanyakan ulang. Pemikiran yang dikotomis terhadap keilmuan inilah yang terbukti dalam sejarah telah menjadikan umat Islam terpuruk dalam konstruksi peradaban yang rendah.

Skema Tawaran Kajian Keilmuan Baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SKEMA KAJIAN KEISLAMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. Integrasi Ilmu dan agama

Dikototni ilmu agama dan ilmu umum bersumberkan dari kategoriisasi yang tidak tepat. Ilmu-ilmu ushuluddin, ilmu syariah, ilmu tarbiyah, ilmu dakwah dan ilmu adab dimasukkan pada kategori ilmu agama, sedangkan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humaniora masuk pada kategori ilmu umum. Ilmu agama dikembangkan bersumberkan pada al-Qur'an dan hadis nabi, sedangkan ilmu-ilmu umum dikembangkan berdasarkan hasil-hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis.

Pembidangan seperti ini barangkali memerlukan tinjauan ulang secara saksama dan hati-hati. Dikatakan memerlukan pengkajian yang saksama oleh karena beberapa ilmu agama seperti yang diuraikan tersebut sejak lama sudah disepakati dan dianggap baku. Orang menyebut sebagai "ilmu agama" maka perhatian mereka akan tertuju pada ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadits, akhlak/tasawuf, bahasa arab. Selain yang disebutkan itu akan disebut "bukan ilmu agama Islam”.

Secara lebih jelas gambaran tentang pembidangan ilmu tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:           

 

 

Ilmu pengetahuan yang dicari untuk ditemukan dan dikembangkan melalui research atau penalaran logis oleh para ilmuwan termasuk-perguruan tinggi sela.i.n climaksudkan untuk memenuhi dorongan rasa ingin tahu, juga dimaksudkan agar temuan-temuan itu dapat dimanfaatkan sebagai dasar unhzk membangun peradaban dan kepentingan kesejahteraan umat manusia. Selanjutnyu, jika dicermati secara saksama dari pemhagian jenis ilmu tersebut tampak sekali bahwa iceduanya-balk ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum-memberikan manfaat yang besar pada kehidupan. Akan tetapi jika diteliti secara saksama, dan dibandingkan dengan dampak dari kedua jenis ilmu tersebut terhadap dinamika perabahan peradaban, ternyata ilmu-ilmu umum, apalagi akhir-akhir ini, terbukti lebih memberikan sumbangan yang besar pada kemajuan 11mu clan peradaban umat nianusia daripada apa yang disebut “ilmu-ilmu agama Islam” yang dikonstruk oleh umat Islam selama MI. Contoh sederhana, perkembangan teknologi yang sedemikian cepat dan berpengaruh sedemikian luas terhadap kehidupan manusia bukan dihasilkan oleh ilmu agama Islam melainkan oleh teknologi. Komputer, Hand Phone, penjetajahan ruang angkasa, teknologi kedokteran, alat transportasi yang semakin canggih bukan dihasilkan oleh peneliti­peneliti “ilmu agama Islam” melainkan itu semua dihasilkan oleh peneliti-peneliti bidang ilmu umum. Ungkapan ini bisa jadi dipandang merendahkan sumbangan ilmu agama Islam terhadap peradaban umat manusia. Akan tetapi, itulah kenyataan yang dapat dilihat oleh semua or­ang. Ilmu agama Islam yang terlalu teosentris dan sebaliknya amat terbatas orientasinya ke arah antroposentris menjadikan sulit berkembang.

Posisi ilmu agama Islam yang tampak kurang berarti bagi pengembangan peradaban selama ini jika dibanding der~gan posisi ilmu-ilmu umum, perlu dikaji lebih mendalam. Jangan jangan apa yang telah dirumuskan selama ini bahwa ilmu agama Islam diposisikan pada tempat sejajar dengan rumpun ilmu lainnya, sehing,ga melahirkan pandangan dikotomi dalam melihat bangunan ilmu tersebut, sesungguhnya kurang tepat. Ilmu tentang Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan hadis semestinya tidak diposisikan pada ternpat tersendiri terpisah dari rumpun ilmu lainnya, sehingga lahir dikotomi itu, meiainkan seharusnya diletakkan sebagai sumber ilmu. Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam disebutkannya sendiri dalam kehidupan manusia sebagai petunjuk (alhuda), penjelas (at-tibyan), pembeda (al-furqan), dan bahkan juga penyembuh penyakit (as-syifa) semestinya diletakkan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Al-Qur’an dan hadis yang bersifat universal selalu menghindar dari hal-hal yang bersifat teknis. Hal ini karena apa saja yang berada pada kawasan teknis selalu bersifat temporal dan kondisional, kecuali hal-hal tertentu yang memang dapat berlaku secara konstan di mana pun dan pada masa kapan pun. Jika al-Qur’an dan hadis diletakan senada sLAjun           r i mu, ma        iaka n terjadi cara pandang ilmu yang dikotomi itu yang sesungguhnya justru merendahkan posisi kitab suci itu sendiri. Sudah barang tentu sebagai konsekuensi al-Qur’an yaiiig bersifat universal, maka masih diperlukan sumber pengetahuan lain yang bersifat teknis itu, yaitu ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui observa deksperimen dan p –nalaran logis.

Al-Qur’an dan hadis dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qawliyyah sedangkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis diposisikan sebagai sumber ayat-ayat kawniyyah. Dengan posisinya seperti ini maka berbagai cabang ilmu pengetahuan selalu dapat dicari sumbernya dari al-Qur’an dan hadis. Ilmu hukum misalnya, sebagai rumpun ilmu sosial maka dikembartgkan dengan mencari penjelasan itu pada al-Qur’an dan hadis sebagai ayat-ayat qawhyyah dan hasil-hasil ouservasi, eksperimen dan penalaran logis sebagai ayat-ayat kawrtiyyah. Ilmu hukum yang dikembangkan dari sumber al­Qur’an clan hadis serta hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis dalam pandangan ilmu yang dikotomi itu disebut ilmu syariah. Demikian juga, bidang ilmu lainnya, ilmu pendidikan yang dikembangkan atas dasar sumber al-Qur’an dan hadis serta hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis, dalam pandangan ilmu yang bersifat dikotomi tersebut disebut sebagai ilmu tarbiyah. Demikian seterusnya.

Sebagaimana wataknya yang universal itu, al­Qur’an dan hadis dapat dijadikan sebagai sumber segala ilmu pengetahuan dan tidak sebatas ilmu pendidikan yang sejenis dengan ilmu tarbiyah, ilmu hukum dengan ilmu syariah, ilmu filsafat dengan ilmu ushuluddin, ilmu bahasa dan sastra dengan ilmu adab, dan ilmu komunikasi dengan ilmu dakwah. Ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, ilmu pertanian dan semua ilmu lainnya dapat dicarikan informasi, sekalipun bersifat umum pada al-Qur’an. Sementara ini ajaran Is­’am dipahami sebatas menyangkut tentang tata cara beribadah, merawat anak yang baru lahir, persoalan pernikahan, kematian, zakat dan haji padahai al-Qur’an juga berbicara tentang konsep tentan,g Tuhan, penciptaan, persoalan manusia dan perilakunya, alam dan seisinya serta petunjuk tentang keselamatan manusia dan alam. Jika ilmu pengetahuan juga mer.yartgkut itu semua, maka tidak ada salahnya semua hal itu dapat ditelusuri dari kitab suci al-Qur’an dan hadis.

Agar lebih jelas bangunan ilmu yang bersifat integratif dengan memposisikan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama selain sumber lainnya dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Gambaran tentang ilmu dan berbagai cabang serta sumbernya itu-ayat-ayat qawhyyah dan ayat-ayat kawnlyyah-itu, kiranya dapat dijadika.n sebagai salah satu alternatif untuk membangun keilmuan yang bersifat integratif dalam arti tidak terjadi pemisahan antara ilmu agama dan ilm:­umum. Yang membedakan kemudian adalah terletak pada sumbernya dan bukan pada jenis ilmia yang ada. Ilmu tetap saja terdiri atas rumpun ilmu­ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Pada umumnya para ilmuwan dalam menggali ketiga rumpun ilmu tersebut bersumberkan pada ayat­ayat qawLyyah saja. Oleh karena itu, cara yang ditempuh untuk menggalinya dengan ebservasi, eksperimen dan penalaran logis. Sedangkar: perguruan tinggi Islam-semacam Universitas Is­lam Negeri Malang-selain menjadikan ayat-ayat kawniyyah, dan bahkan terlebih dahulu menjadikan al-Qur’an dan hadis-ayat-ayat qawliyyah, justru sebagai sumber yang utama. Sebagai contoh, ketika orang berkeinginan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya pendidikan seharusnya dilakukan maka dibukalah al-Qur’an dan hadits terlebih dahulu. Dari sumber al-Qur’an dan hadis tersebut akan diketahui bagaimana kitab suci tersebut berbicara tentang pendidikan. Maka, ditemukanlah misalnya bahwa sesungguhtiya pendidik utama dalam sejarah kehidupan umat manusia itu adalah para rasul dan para nabi. Lalu, apa sesungguhnya tugas para rasul itu dalam menunaikan tugas-tugas kerasulannya. Dalam al-Qur’an satu di antaranya diterangkan bahwa tugas rasul dalam beberapa ayat, banyak diulang-ulang dalam al-Qur’an, diterangkan: huwalladzf ba’atsa fll ummiyyina rasulan mlnhum yaflu aliyhim ayatihi, wayuzzakklhim wa yu’alhmuhumullvtab wal hilanah.

Memperhatikan ayat al-Qur’an tersebut ternyata ada penjelasan yang sangat menarik bagaimana sesungguhnya seharusnya pendidikan diselenggarakan. Pendidikan dalam pengertian yang sebenarnya menurut al-Qur’an bukan saja menjadikan murid-murid mengetahui sesuatu yang seharusnya diketahui, melainkan lebih dari itu. Kalimat dalam al-Qur’an sekaligus menggambarkan urutan yang seharusnya dilalui dalam mendidik, yaitu dimulai dari tilawah yaitu membaca, yakni membaca alam semesta. Selanjutnya, tilawah diteruskan dengan tazkiyah atau menyucikan diri, meliputi pensucian dari kotoran, baik kotoran lahir maupun kotoran batin. Dalam proses ini, murid agar menjadi manusia baik harus dijaga aspek lahirnya yaitu badannya. Mereka harus mengkonsumsi makanan yang sehat, bersih dan halal. Sehat dan bersih tidak cukup menurut pandangan Islam, melainkan harus diikuti dengan halal. Makanan halal artinya makanan yang memang dibolehkan untuk dimakan. Al-Qur’an dan hadits menjelaskan jenis makanan yang diharamkan untuk dimakan dan juga makanan yang dibolehkan atau dihalalkan untuk dimakan. Selain secara fisik harus bersih, juga harus diikuti dengan upaya membersihkan hati. Untuk membersihican hati ini banyak cara yang harus dilakukan, yaitu memperkokoh tauhid, memperbanyak zikir dan doa. Sebagai guru, selain berupaya keras agar para murid-muridnya belajar apa yang seharusnya dipelajari, maka guru harus memohon kepada Allah. Ilmu, dalam Islam, sesungguhnya milik Allah dan hanya akan diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki. Ilmu akan diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ilmu adalah bagian rahasia Allah, maka Allah sajalah yang akan membuka rahasia-Nya itu.

Selanjutnya dalam al-Qur’an dijelaskan setelah tazkl”yah (penyucian diri) adalah ta’lim (pembelajaran ilmiah) -seperti dalam teks kitab SUM: wa yu’allimuhumul kitab -(dan rnembelajarkan Kitab Suci kepada mereka). Ta’lim dilangsungkan se:elah proses tila wah dan tazkryah. Dan setelah taklim maka dilanjutnya dertgan tahap yang lebih tinggi, ialah menunjukkan atau mencapai hikmah (yakni berbagai makna mendalam dari Kitab Suci). Itu semua menunjukkan bahwa al-Qur’an juga berbicara tentang konsep pendidikan. Tentu saja, al-Qur’an bersifat universal, yang walaupun mencakup segala sesuatu, tidak mungkin meniamah aspek-aspek yang bersifat teknis operasional. Oleh karena itu, manusia harus melihat pula bagaimana kenyataan­ kenyataan pendidikan itu berjalan. Observasi, eksperimen dan penalaran logis sangat diper-ukan pada tataran teknis operasional pendidikan berlangsung. Apalagi, tatkala pendidikan sudah menjadi bagian kehidupan bersama, maka memerlukan model pengorganisasian, manajemen, kepemimpinan, proses belajar dan mengajar, evaluasi dan lain-lain yang lebih luas akan seharusnya dipelajari lebih mendetail. Proses inilah yang menjadi kawasan kajian ayat-ayat kawniyyah itu.

 

A. Integrasi Ilmu Dan Agama Dalam Tataran Operasional

Konsep keterpaduan agama dan ilmu yang akan dibangun oleh UIN Malang bukanlah semata-mata pada tataran kurikulum atau kerangka keilmuan semata, melainkan yang justru lebih diutamakan adalah pada tataran perilaku warga kampus. Integrasi ilmu dan agama yang dibangun ini seharusnya pula mampu memberi dampak pada terbentuknya integritas kepribadian warga kampus. Lebih jauh, civitas akademika UIN Malang diharapkan turut mengembangkan integritas ilmu dan agama dalam pengabdian dan pergaulannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Islam membimbing makhluk manusia ini mengembangkan seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh (kaffah), lahir dan batin, keselamatan dunia dan akhirat, meliputi pengembangan aspek: spiritual, aqidah, akhlak dan ketrampilan. Islam mengajarkan keberanian, kasih sayang, keindahan dan keber­sihan, hemat dan tidak boros, dapat dipercaya atau amanah dan i.rtiqamah.

Pada tataran pengembangan perilaku warga kampus-para dosen, karyawan dan mahasiswa­saya rumuskan ketentuan menyangkut orientasi

pengembangan, yaitu: (1) memperdalam spiritual, (2) memperhalus akhlakul karimah, (3) memper­luas ilmu pengetahuan, dan (4) memperkokoh profesionalismenya. Orientasi pengembangan dimaksud harus menjadi tekanan utama, sehingga pantas dibuatkan semacam prasasti, agar setiap orang selalu ingat dan menjadikannya sebagai pegangan oleh semua warga kampus UIN Malang. Prasasti yang terbuat dari batu besar, dan ditempat­kan di depan pintu Ma’had al-‘Aly Sunan Ampel, mengguratkan pesan-pesan moral-spiritual bagi warga kampus, yakni: (1) kirnfi ulil ilmi, (2) kun,4 ulin nuha, (3) kQnr? ulil abshar, (4) k4nfi ulul albrlb, dan (5) jc3hidu f’zllah haqqa jihr3dih. Sekalipun singkat, pesan-pesan seperti itu bermaksud mempengaruhi kesadaran semua warga kampus agar lebih mengerti, memahami dan menghayati ajaran Islam secara penuh. Al-Qur’an dan al-Hadis diharapkan menjadi lentera kehidupan mereka sehari-hari. Pada tataran fisik, kampus UIN Malang dibangun sedemikian rupa, sehingga menggam­barkan bahwa semua aspek yang dibutuhkan oleh dosen, karyawan dan mahasiswanya tercukupi secara baik.

Agar mudah mengingat dan mema­haminya, dirumuskan pilar-pilar pengembangan fisik kampus UIN Malang. Pilar-pilar itu disebut sebagai arkanul jdmi’ah (rukun perguruan tinggi) yang terdiri dari sembilan pilar, yaitu:

1. Tenaga dosen, yakni dosen yang mumpuni, baik dari sisi akhlak, spiritual, latar belakang pendidikan, jabatan akademik, dan kualitas serta kuntatitas produktivitasnya.

2. Masjid. Masjid dimaknai sebagai wahana pengembangan spiritual, tempat berupaya siapa saja warga kampus ini mendekatkan diri pada Allah secara berjama’ah. Masjid bukan semata-mata difungsikan sebagai simbul kekayaan spiritual umat Islam yang kering makna oleh karena tempat ibadah itu kurang maksimal dimanfaatkan, melainkan tampak subur dan kaya kegiatan, baik kegiatan spiritual maupun intelektual.

3. Ma’had difungsikan membangun kultur yang kokoh. Kultur yang dimaksudkan disini adalah kebiasaan dan adat istiadat yang bernuansa Islam. Bentuk konkritnya adalah kebiasaan melakukan.sholat berjama’ah, tadarrus al-Qur’an, shalat malam, menghargai waktu, disiplin, menghormat sesama kolega, menghargai ilmu sampai pada kharakter atau watak dalam melakukan pilihan-pilihan teknologi dan managemen modern sebagai produk ilmu pengetahuan.

4. Perpustakaan. UIN Malang berharap suatu ketika memiliki perpustakaan baik dari sisi koleksi maupun pelayanannya unggul dalam berbagai aspeknya.

5. Laboratorium. Sebagai perguruan tinggi Islam, menyadari betapa kitab suci menunjukkan betapa bahwa Al-Qur’an dan al-Hadis nabi mengutamakan dan menghargai posisi ilmu pengetahuan yang seharusnya dikcmbangkan secara sungguh sungguh melalui observasi, eksperitnen maupun olah akal cerdasnya:

6.Tempat-tempat pertemuan ilmiah, berupa ruang kuliah, ruang dosen tempat diskusi dan lain-lain.

7.Tempat pelayanan adminstrasi kampus. Betapapun kampus perguruan tinggi Islam harus mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan santun. Dalam pelayanan siapa saja, entah dosen, karyawan harus didasarkan pada prinsip-prinsip bangunan akhlakul karimah.

8. Pusat pengembangan seni dan olah raga. Kedua aspek ini perlu dikembangkan untuk mengembangkan dua watak strategis yang harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin, yaitu watak halus dan kasar tetapi sportif. Watak halus biasanya dikembangkan lewat aktifitas seiu sedangkan watak kasar tetapi sportif biasanya dikembangkan melalui olah rasa. UIN Malang yang bermaksud mengem­bangkan calon pemimpin masa depan yang tanguh memerlukan wahana pelatihan olar raga dan seni, dan Sumber pendanaan yang luas dan kuat. Kelemahan sebagian perguruan tinggi Islam adalah dalam hal pengembangan pendanaan ini. Sebagai akibatnya tidak mampu membangun performance kampus yang gagah dan bersih, memberikan imbalan para tenaga pengajar yang cukup, merumuskan program peningkatan kualitas serta inovasi sesuai dengan tuntutan masyarakatnya.

UIN Malang sebagai penyandang nama “Islam” maka kampusnya harus tampak gagah, bersih, tertib, disiplin, orang­ orangnya jujur, sabar, tawakkal dan i.rtiqamah dan semua pekerjaan dilakukan berdasarkan semangat kebersamaan dan dalam suasana kasih sayang, keikhlasan, tanggung jawab, senantiasa meng­harapkan bimbingan dan petunjuk Yang Maha Kuasa, serta memiliki kesadaran sejarah yang tinggi. Atas dasar semangat seperti itu, maka kampus ini menjadi produktif, yang menghasilkan karya-karya unggulan dalam berupa penulisan buku, laporan penelitian, dan pemikiran-

9.pemikiran yang diekspresikan pada berbagai media cetak yang telah disiapkan di dalam kampus maupun media di luar kampus. Keunggulan­keunggulan seperti ini secara langsung telah mendongkrak citra dan reputasi UIN Malang. UIN Malang terkesan berwibawa di tengah-tengah masyarakat perguruan tinggs pada umumnya. Selain itu, kampus ini dihuni oleh orang-orang yang berakhlak mulia, mencintai dan menghargai serta meng=bangkanAmupengetahuan,gutunYamencitai mahasiswanya, dan demikian sebaliknya, para mahasiswanya menghormatiguru-guru mereka karena kapasitas aklilak, cinta dan kedalaman ilmunya.

Performa £tsik kampus UIN Malang harus senantiasa tampak bersih, taman dan rumputnya ditata rapi, tidak boros, lingkungannya dijaga

baik, tenaga pengajar clan karyawannya selalu bahagia karena kebutuhan hidupnya tercukupi, dan karena itu mereka bangga akan statusnya sebagai warga UIN Malang. Kehidupan masyara­kat kampus seperti digambarkan seperti itulah yang dapat saya sebut sebagai perguruan tinggi Islam.

Terkait dengan persoalan dosen, pada saat ini mencari dosen yang menguasai agama clan disiplin ilmunya sekaligus sama sulitnya dengan mencari es di padang pasir. Akan tetapi, jika konsep ini benar-benar bisa dijalankan maka strategi-strategi pengembangan SDM yang kuat dan tangguh seharusnya ditempuh secara bertahap: Semuanya harus segera dimulai. Menunggu sampai tersedia tenaga dosen dalam kualitas ideal seperti itu sama artinya dengan berpuas-puas di dunia mimpi. Indah tetapi sesungguhnya tidak akan pernah terjadi.

UIN Malang dalam memenuhi tenaga dosen, ditempuh dengan cara mencari lulusan perguruan tinggi, yang pendidikan tingkat menengahnya berlatar belakang agama, madrasah, dan pondok pesantren. Lulusan semacam ini yang dicari, dan lebih diutamakan lagi adalah sarjana lulusan perguruan tinggi terkemuka, seperti ITIi, UI, UGM dan sejenisnya. Sedangkan bangunan kelembagaannya, UIN Malang mencoba memadukan antara tradisi universitas dan tradisi pesantren. Tradisi pesantren dipandang strategis diusung ke kampus dengan alasan bahwa pada kenyataannya tidak sedikit pesantren, seperti Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, Al-Amien Sumenep, IMIM Makasar, ternyata yang berhasil mengantarkan lulusannya dengan kualifikasi memiliki pisau analisis dan kemampuan ilmu alat-seperti Bahasa Arab dan Inggris-melebihi lulusan lembaga pendidikan sekolah pada umumnya: Atas dasar itu, apa salahnya kultur pesantren yang ternyata memiliki kelebihan itu dikembangkan di perguruan tinggi, sehingga terbentuk kultur alternatif, semisal “Pesantren Kampus.”

Pesantren kampus, selain difungsikan untuk menciptakan iklim atau suasana yang mendukung kemampuan berbahasa asing (Arab dan Inggris), juga dijadikan sebagai wahana untuk mendukung pengembangan aspek-aspek kultural seperti kebiasaan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, shalat malam, kajian pemikiran Islam dan lain­lain. Masih dalam wilayah perbincangan implementasi konsep integrasi agama dan sains ini, UIN Malang mempersyaratkan mahasiswanya menguasai dua bahasa asing (Arab dan Inggris).

Akan tetapi, dalam kenyataannya, penguasaan para input yang masuk di UIN Malang terhadap dua bahasa asing itu masih lemah. Oleh karena itu, kebijakan yang ditempuh ialah selain mewajibkan seluruh mahasiswa baru bertempat tinggal di Ma’had al-Aly Sunan Ampel agar memudahkan terbentuknya kultur kebahasaan mereka, juga dikembangkan pembelajaran Bahasa Asing-khususnya Bahasa Arab-secara intensif. Pembelajaran Bahasa Arab Intensif ini dilaksanakan setiap hari selama setahun penuh. Setelah mereka menguasai Bahasa Arab, pada fase berikutnya ditingkatkan pula kemampuan Bahasa Inggrisnya. Dalam kurikulum UIN Malang, sebagaimana tergambar pada “Pohon Ilmu”, bahasa asing-Bahasa Arab dan Bahasa Inggris–diposisikan sebagai alat atau instrumen untuk melakukan kajian sumber ajaran Islam dan juga disiplin ilmu pilihan masing-masing.

Iklim Budaya Kampus

Format baru universitas Islam yang dikembangkan oleh UIN Malang untuk mengimplementasikan konsep integrasi agama dan ilmu itu dilakukan secara menyeluruh, dan barangkali perubahan itu boleh dipandang radikal. Pendidikan tinggi tidaklah cukup dihuni oleh orang-orang yang bekerja setengah had, dikelola dan dipimpin secara asal-asalan, dan didukung oleh baik perangkat keras maupun perangkat lunak seadanya. Sekalipun dahulunya hal itu memang demikian keadaannya, maka untuk memperkuat usaha mengimplementasikan konsep baru itu seluruh aspeknya harus diubah.

Tenaga dosen yang pada awalnya berjumlah amat terbatas harus segera ditarnbah, kendatipun ditempuh secara bertahap. Mereka yang pada umumnya berlatar pendidikan S2 dan bahkan S1, semuanya secara bertahap pula ditingkatkan menjadi S3. UIN Malang bertekat pada tahun 2010 seluruh dosennya bergelar doktor atau berpendidikan S3. Target ini terkesan ambisius;namun, apa boleh buat, harus ditempuh sejak sekarang. Bagi saya, seorang dosen harus menempati rumah yang layak, agar pikiran dan perasaannya tidak terganggu. Untuk itu, sejak tahun 2004 ini dirintis kerjasama antara UIN Malang dengan pihak pengembang untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi seluruh dosen tetapnya dengan ukuran yang laya.k sebagaimana kehidupan dosen. Upaya-upaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dosen dirnaksudkan agar berdampak pisitif bagi peningkatan motivasi kerja mereka dan agar mereka tidak setengah hati lagi dalam menunaikan tugas-tugasnya, baik sebagai pendidik maupun sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Para dosen dan juga tenaga administrasi tidak selayaknya dituntut hanya menunaikan kewajiban; tetapi harus dumbangi dengan pemenuhan hak-hak kesejahteraan mereka. Dalam pengembangan perangkat keras, UIN Malang berpedoman pada apa yang disebut dengan `arkanul jdmi’ah” atau rukun universitas, sebagaimana telah disinggung di atas. Sembilan rukun universitas ini dikembangkan secara bertahap dan disesuaikan dengan hasil-hasil yang diperoleh dari pendanaan yang diusahakan dengan kerja keras dan tanpa henti.

Untuk membangun kebersamaan, integritas dan juga komitmen bersama maka budaya birokrasi yang berkembang selama ini diubah menjadi budaya juang atau dikembangkan rishul jihad untuk mewujudkan cita-cita luhur bersama. Budaya birokratis yang kaku, bersifat hirarkhis, informasi dibagi secara terbatas, bekerja hanya sekedar memenuhi tuntutan formalitas, diubah menjadi fleksibel, informasi terbagi untuk semua, kepemimpinan dilakukan secara kolegial dan bahkan pada aspek-aspek tertentu diperankan oleh semua, agar menghasilkan suasana kerja yang lebih dinamis, tanggung jawab menjadi dipikul bersama, dan mereka datang ke kampus bukan sekedar menenuhi tuntutan formal sebagai pegawai negeri atau birokrat. Yang terjadi kemudian adalah suasana kebersamaan, teduhdan saling menghargai dan mencintai untuk saling bahu membahu membangun kampus Islam yang besar dan akan menjadi kebanggaan bersama.

Sebagai wahana untuk mengembangkan suasana kebersamaan itu di UIN Malang juga dibangun kultur kebersamaan yang berasaskan ajaran dan nilai Islam. Misalnya, UIN Malang mengembangkan kultur menunaikan shalat berjamaah di masjid kampus yang diikuti oleh seluruh pimpinan, dosen, karyawan dan juga mahasiswa. Pada kesempatan setelah shalat berjamaah diselenggarakan kuliah 7-10 menit (Kultum) yang disampaikan oleh salah seorang pimpinan atau dosen atau bahkan oleh mahasiswa. Selain itu, pada minggu ketiga setiap bulan diselenggarakan kegiatan membaca Al­Qur’an bersama (khatmul Qur’an), dibiasakan untuk puasa sunnah Senin dan Kamis, membangun solidaritas dan silaturrahim terhadap keluarga yang terkena musibah, seperti kematian misalnya, lewat ta’ziyah atau setidak-tidaknya shalat ghaib di masjid kampus. Semua itu, jika dinilai dari sudut pandang kampus sebagai lembaga akademik yang bertugas mengem­bangkan ilmu pengetahuan dan penyelenggara kegiatan akademik dan intelektual, tampaknya memang sulit dipahami, mengapa mengurus hal­hal yang tidak relevan, sepele dan kecil seperti itu. Namun, jika hal itu dipahami secara mendalam dan dengan perspektif yang lain, misalnya bahwa manusia selalu terkait dengan kultur, kebiasaan dan budaya, maka kegiatan semacam itu justru dapat dipandang strategis dan relevan dengan pengembangan ilmu yang seharusnya ditunaikan oleh perguruan tinggi, apalagi perguruan tinggi yang menyandang nama “Islam”.

 

 

 


[1]Soetandyo

[2] Ibid.

[3] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *