TRANSFORMASI SOSIAL ALA MUHAMMAD SAW

Tanpa terasa hari kini kita telah memasuki tahun baru, tahun 1430 Hijriyah. Ini artinya bahwa agama Islam yang di bawa oleh Rasulullah saw telah berlangsung selama 14 abad lebih. Sambil memperingati tahun baru Hijriyah dan mengenang perjuangan Rasulullah saw. marilah kita introspeksi dan mawas diri. Ini juga berarti bahwa semakin hari dan semakin tahun, usia yang diberikan oleh Allah SWT  kepada kita semakin ke depan dan berkurang, sementara amal saleh, pengabdian dan  investasi kita untuk hari depan belum banyak kita kumpulkan. Oleh sebab itu  kita mesti ingat pesan Rasulullah saw.: Hasibu anfusakum qabla antuhasabu. Bersiap-siaplah kamu untuk berbuat kebajikan, menanam amal saleh sebelum Allah SWT menghitung amal kita di akhirat kelak.

 

Tahun Baru Hijriyah merupakan momentum penting bagi kita umat Islam untuk kembali mengenang perjuangan Rasulullah saw dalam menyiarkan agama Islam. Hijrah Rasul Muhammad saw. yang  dimulai pada tahun ke-5 setelah keutusannya merupakan peristiwa penting dalam sejarah umat Islam.

 

Dakwah Rasulullah saw pada mulanya tidak memiliki pengaruh di kalangan para pembesar kafir Quraisy saat itu, sebab mereka menganggap bahwa agama yang dibawa beliau  hanya dongeng belaka. Tetapi anggapan itu ternyata salah, dakwah Islam justru semakin meluas ke beberapa rumah tangga dan masyarakat umum, kerena itu mereka mulai mencurahkan tenaganya untuk berusaha menangkap Rasul dan membendung agama baru itu. Banyak pemeluk Islam yang kena sasaran kezaliman mereka. Kekhawatiran pembesar Quraisy semakin bertambah ketika terjadi perpindahan (hijrah) Rasul dan para pengikutnya ke Habsyi, karena mereka beranggapan bahwa dengan hijrahnya kaum muslimin akan terjadi perluasan Islam ke beberapa daerah, yang pada gilirannya akan menggeser kedudukan kafir Quraisy dari agamanya. Maka upaya bujuk rayu pun dilakukan kafir Quraisy terhadap Rasul. Mereka bersedia menebus dengan harta,  jabatan dan wanita jika Rasul mau menghentikan dakwahnya. Di sinilah maka terlontar semboyan Rasul yang mencerminkan kegigihan dan ketangguhan hatinya dalam menegakkan Islam: “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di atas tangan kananku dan bulan di atas tangan kiriku, aku tidak akan berhenti dari menyeru kepada agama Allah, hingga agama itu menang atau aku binasa karenanya”.

Di tengah-tengah pertentangan sengit kaum Quraisy inilah, Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar Ibn Khattab, dua orang yang memiliki pengaruh besar di kalangan suku Quaraisy, masuk Islam. Meski islamnya kedua tokoh tersebut menambah pengaruh dan semangat kaum Muslimin, namun bersamaan dengan itu pula menambah gencarnya serangan terhadap Rasul itu sendiri. Mereka berkali-kali mendesak Abu Thalib, paman Rasul agar beliau bersedia menghentikan dakwahnya. Bahkan mereka sempat mengajak tukar anak asuh, tetapi Abu Thalib pun tangguh menghadapi makar mereka itu.

Kegagalan kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasul dan upaya pendekatan terhadap pamanya yang sia-sia tersebut  menjadikan mereka lebih serius membuat permusuhan dan pertentangan. Karena itu kafir Quraisy bermaksud memusuhi seluruh keluarga Bani Hasyim dengan jalan boikot. Mereka berjajnji tidak akan mengadakan hubungan perkawinan, jual beli, tidak akan menjenguk keluarga Bani Hasyim yang sakit dan tidak akan bersedia mengantarkan ke kubur jika mereka meninggal. Pembaikotan ini berlangsung selama tiga tahun yang berimplikasi besar terhadap kehidupan Bani Hasyim.

Perjuangan yang dialami Rasul dalam menegakkan Islam sangat  berliku-liku jalannya. Di tengah-tengah permusuhan sengit melawan kafir Quraisy –sesudah sepuluh tahun terbilang– Rasul ditinggal untuk selamanya,  oleh kedua orang yang menjadi tulang punggung dalam melaksanankan dakwah Islam, yaitu Abu Thalib dan Khadijah, istri beliau. Inilah yang dalam sejarah Islam dikenal dengan ‘Amul-Huzn, tahun kesedihan.

Dengan meninggalnya kedua orang tersebut, maka persoalan yang dihadapi Rasul dan para pengikutnya semakin hebat. Beliau sering dilempari kotoran dan bahkan nyaris dibunuh, kalau saja Abu Bakar tidak cepat-cepat menghardiknya: “Akan kau bunuhkah orang yang karena mengatakan: Tuhanku adalah Allah?” (QS. Al-Mukmin : 28).

Melihat kondisi seperti ini lantas timbullah keinginan Rasul untuk menyiarkan agamanya di luar kota Makkah dan berhijrah yang kedua kalinya. Di saat-saat seperti inilah stahun sebelum hijrah ke Madinah beliau di-isra’ mi’raj-kan.

Meskipun ancaman kafir Quraisy selalu membuntuti Rasul dan pengikutnya, namun perjuangan tak pernah mengenal berhenti dan menyerah, bahkan pengikut baru pun semakin hari semakin bertambah. Untuk menghindari penganiayaan kafir Quraisy, Rasul bermaksud memerintahkan para sahabatnya hijrah ke Yasrib (Madinah, setelah dapat dikuasai kaum Muslimin) untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan saudara-saudaranya di sana. Tetapi rencana hijrah ke Madinah itu sempat tercium oleh mereka, maka segera saja Rasul mengambil tindakan untuk mengatasi persoalan tersebut, sebab mereka khawatir jika umat Islam bisa bergabung dengan penduduk Madinah dan menyusun kekuatan di sana. Bahkan bukan hanya persoalan itu saja yang membuat mereka gelisah, tapi lebih jauh mereka takut jika umat Islam yang minoritas itu bisa mendominasi perekonomian dan jalur perdagangan. Persoalan inilah yang sempat menguras tenaga kafir Quraisy. Peristiwa ini  direkam oleh Al-Qur’an dalam surat Al-Anfal , 30.

Ada tiga rencana kafir Quraisy untuk mengahadapi Rasul saat itu: pertama, menangkap atau menahannya; kedua, membunuhnya; dan ketiga, mengusirnya. Keputusan terakhir jatuh pada pembunuhan. Tetapi persoalannya, siapakah yang harus membunuh? Sebab jika Rasul dibunuh, maka pihak kerluarga akan menunut balas. Akhirnya Abu Jahal mengusulkan cara yang dianggap paling aman, yaitu masing-masing kabilah diwajibakan mengirimkan seorang pemuda yang kuat sebagai pembunuh. Dengan demikian maka resiko bisa ditanggung bersama, dan usul inilah yang disepakati oleh mereka. Akan tetapi rencana orang-orang zalim tersebut tidak lepas dari intaian Tuhan, sehingga Rasul pun terpanggil hatinya untuk segera hijrah ke Madinah.

Perjalanan hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Sebelum keberangkatannya, Abu Bakar telah mempersiapkan segalanya. Putranya, Abdullah dijadikan sebagai pengawas orang-orang kafir Quraisy selama kepergiannya dengan Rasul itu, sementara hamba sahayanya, Amir Ibn Fahirah diperintahkan menggembala biri-biri dekat persembunyiannya (Gua Tsur) dan putrinya, Asma disuruh mengantarkan makanan setiap sorenya, sementara Ali bertugas menjaga rumah kediaman Rasul. Tentang perjalanan hijrah Rasul ini Ibnu Hisyam menggambarkan sebagai berikut: “Rasulullah dengan sembunyi-sembunyi keluar menuju rumah Abu Bakar. Kemudian mereka berdua pergi menuju Gua Tsur sebelah selatan kota Makkah. Sebelum meninggalkan kota Makkah Rasul berseru: “Demi Allah, engkaulah bumi bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Kalaulah akau tidak diusir aku tidak akan meninggalkanmu”.

Dalam perjalanan hijrah ini Rasul membuat siasat dan strategi,  yaitu dengan mengambil jalan arah selatan. Beliau tidak langsung menuju Madinah, tetapi bersembunyi dulu ke Gua Tsur untuk beberapa lama. Jalan yang ditempuh Rasul itu adalah jalan pintas yang tak pernah dilalui oleh mereka. Peristiwa persembunyian di gua ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah : 40.

Sebelum Rasul memasuki kota Madinah beliau sempat singgah di Quba’ empat hari lamanya, sehingga beliau bersama para pengikutnya sempat membangun masjid Quba’ yang terkenal dalam sejarah peradaban Islam, dan peristiwa hijrah inilah yang menandai permulaan kelender Islam.

Ada empat langkah yang dibangun Rasul dalam peristiwa hijrah ini: Pertama, mendirikan masjid yang diberi nama dengan baitullah. Masjid inilah yang menjadi sentral kegiatan umat Islam,  mulai dari mengadili perkara, belajar, bahkan jual beli pernah dilakukan di kawasan masjid ini, tetapi mengingat kondisi yang tak mengizinkan, maka pada akhirnya dipindahkan. Di masjid inilah sebagai pusat pertemuan kaum Muslimin dari seluruh penjuru daerah; Kedua, mempersatukan kelompok Anshar dan Muhajirin. Rasul mempersatukan kedua kelompok tersebut.  Ali bin Abi Thalib dipilih sebagai saudara beliau sendiri, Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah ibnu Zuhair dan Ja’far bin Ai Thalib dipersaudarakan dengan Muaz bin Jabal. Demikian Rasul telah mempersatukan tali persaudaraan mereka. Dengan demikian, terciptalah persaudaraan yang berdasarkan agama, sebagai pengganti dari persaudaraan ras dan suku sebagaimana yang telah dipraktikkan orang-orang jahiliyah sebelum itu; Ketiga, perjanjian saling membantu antara kaum muslimin dan non muslim. Penduduk Madinah saat itu terdiri tiga golongan: kaum Muslimin, Yahudi (yang terdiri dari bani Nadhir dan Quraidhah) dan bangsa Arab yang masih pagan, jahiliyah. Karena itu Rasul hendak memprsatukan mereka dalam satu masyarakat yang terlindung, sebagaimana konstitusi/ piagam Madinah itu; Keempat, meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikianlah perjalanan hijrah Rasul. Diantara pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut adalah semangat perjuangan Rasul yang tak mengenal lelah, pantang mundur dan menyerah. Betapa besar jiwa kepahlawanannya dalam menegakkan kemerdekaan, baik kemerdekaan bangsa, agama dan negara, demikian pula jiwa kesetiaan para pengikutnya yang mengindahkan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi. Cermin kesetiakawanan dalam perjalanan hijrah ini bisa terlihat dalam diri Abu Bakar Shiddiq, seorang yang amat setia dan patuh kepada peimimpinya, sementara penyerahan nyawa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib dalam menjaga rumah kediaman Rasul adalah satu indikasi yang sangat menakjubkan dalam berkorban demi kepentingan bersama dan tegaknya nilai-nilai Islam. Inilah peristiwa yang membuka lembaran baru bagi sejarah gemilang umat Islam dan menandai permulaan tahun baru Hijriyah.

 

 

 

 

 

+++++++++++++++++

*Dosen UIN Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *