SYI’AH ISNA ‘ASYARIYAH DAN KONSEP IMAMAH

SYI’AH ISNA ‘ASYARIYAH DAN KONSEP IMAMAH

Pendahuluan

Ketika dalam kemimpinan Rasulullah saw, umat Islam adalahumat yang satu (ummatan wahidatan) danpeuh dengan semangat perjuangan. Demikian ini sesuai dengan missi beliau sebagi sosok pemimpin yanideal.

Ada tiga aspek keberhasilan Rasul saw. Dalam perjuangannya: 1) sebagai pemersatu umat dalamsatu kesatuan ke-Tuhanan (tauhid al-Ilahi), 2) sebagai pemersatu umat dalam satu kesatuan pemerintahan (tauhid al-hukumah), 3) sebagai pemersatu umat bagi bangsa yang terpecah-pecah dalam berbagai suku dan kabilah (tauhid al-ummah).[1]

Rasul saw, dipanggil Tuhan setelah tugas risalahnya lengkap dan dianggap telah sempurna  sebagi manayagn telah dijelaskandalam al-Qur’an dalam surat al-Maidah:3 “Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agamamu…”

Beliau wafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang sahabat pun untuk meneruskan kepemimpinannya (khilafah).[2] Islam sendiri (baca: ajaran) tidak menetapkansistem khusus mengenai kekhilafahan. Persoalan kekhilafahan diserahkan kepada orang yang dipandang memiliki otoritas  untuk memcahkanpersoalan yang dihadapi umat. Atau mereka  yang lebih populer dengan sebutan Ahlul Halli wal Aqdi.

Dari sinilah sepeninggal Rasul saw, awal mula timbulnya perselisihan antar umat Islam. Perselisihan tersebut bermjula dari perbedaan tentang “siapa yang behak mendudduki kursi khilafah sepeninggal beliau. Dari perdebatan sengit ini lalu memunculkan polarisasi umat Islam dalam 3 kelompok:

  1.  1.  kelompok Bani Hasyim (Ahlul Bait)
  2.  2.  kelompok Muhajirin (yang dipimpin oleh Abu Bakar  dan Umar)
  3.  3.  kelompok Anshar (yang dipimpin oleh Saad bin Ubadah).

Dalam perkembangan berikutnya ketiga kelompok tersebut lalu menadi partai yang lebih besar. Kelompok pertama berkembang menjadi Syi’ah, kelompok kedua menjadi Sunnah (sering disebut-sebut ahlussunnah waljamaah) dan kelompok ketiga berkembang menjadi Khawarij.[3]

Pengertian Syi’ah

Syi’ah menurut bahasa berarti “kelompok” atau pengikut.[4] Kata syi’ah sebetulnya sudah dikenal di kalangan umat Islam sejak zaman rasul saw. Al-Qur’an banyak menyebutkan kata-kata ini misalnya al-Qashash: 15, as-Shaffat: 83 dan Maryam: 69.

Pada ayat-ayat tersebut syi’ah berarti pengikut atau gologan (yang berlaku untuk umum) misalnya saja pada saat yang sama berosisi dengan Khawarij.[5]

Menurut al-Syahratani, Syi’ah adalah kelompok yang secara khusus menjadi pengikut Ali r.a. dan yang beranggapan bahw keimanan atau kekhilafahan ditentukan nash  dan wasiat baik secara tegas maupun samar. Serta mereka yang beranggapan bahwa keimanan tidak terlepas dari anak keturunan Ali r.a. dan menurut Syi’ah keimanan bukan persosalan kepentingan umum yang dihasilkan dari pemilihan umat, tetapi ia adalahpersoalan dasar dan rukun agama yang tidak boleh diabaiikanoleh para Rasul dan tidak boleh diserahkan oleh umat.[6]

Dalam sejarah, Syi’ah adalha kelompok dalam islamyang muncul paling dini dalam pergumulan politik. Sebagai kelompok kekuatan politik yang sarat dengan ideologi, ia lahir sejak kasus Siffin, tetapi gejala kenampakannya sudah dimulai sejak sepeninggal Rasul saw, yaitu ketika umat Islam dihadapkan pada “siapa yang berhak menduduki kursikekhilafahan sepeninggal Rasul saw.”[7]

Perselisihan umat Islam mengenai haklegitimasi Ah-lul Bait[E1] .[8] Sudah mereda ketika Ali r.a. telahbersedu membaiat Abu Bakar sampai dengan berakhirnya pemerintahan Umar bin Khattab. [9] Tetapi ketika kekhilafahan pindah ke tangan Usman, kelompok Ali r.a. bergejolak lagi akibat  hasutan Abdullah bin Saba’[10] yang memobilisai pendukngnya Ali untuk menuntut hak kekhalifahan. Bahkan Abdullah bin Saba’ secara ekstrim beranggapan bahw Ali r.a adalahTuhan.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Syi’ah terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok[11] danpokok perbedaannya terletakpada dua hal [12]:

  1. perbedaan dalm pokok-pokok ajaran:

Di antara merkea adalah kolopok ekstrim yang berpendirian bahwa iamm adalahornag yang suci (Ma’shum) dan mengangggap kafir kepada ornag yagnmengingkari serta menentang Ali r.a. dan pengikutnya. Ada jug ayagn berpendirian bahwa imam harus adil dan yang mengingkaridiangap salah saja, tidak sampai kafir.

  1. perbedandalam penentuan ismam.

Mereka saling berselisih mengenai imam dari keluarga Ali r.a. sebagian merek mengatakan bahwa imam setelah terbunuhnya al-Husain pindahkepada sudaranya dari ayah yaitu Muhammad  Bin Ali yang  lebih populer dengnasebutan Ibnu Al-Hanafiah. Sebagian lain mengatakan, bahwa imam setelah terbunuhnya al-Husain adalah anak Ali dari Fatimah meski ia belum dewasa,karenaia anak sulung.

Dari perselisihan pendapat tentang  “siapa pengganti imam setelah al-Husain” ini lantas melahirkan skisme dalam tubuh Syi’ah sendiri. Dari pendapat pertama melahirkan kelompok Kaisniyah  dan dari pendapat kedua melahirkan kelompok

Isna ‘Asyariyah.

 

Syi’ah Isna Asyariyah dan Konsep Imamahnya.

Syi’ah Isna Asyariyah. [13] adalah termasuk bagian  dari sekte Syi’ah Imamiyah,[14] disebut begitu karena sekteersebut beranggapan bahwa pemimpin(imam ) setelah wafatnya nabidiwarkankepada 12 orang: mulai dariAli bin Abi Thalib,kedua puearanya al-Hasan dan al-Husain hingga kepda Muhamad al-Mahdi yang telah mnglingna kuran glebih 260H. danakankembali ke dunia pada akhir zamanuntuk menegakkan keadilan [15] menurut ad_Dihlawi, Syi’ah Isna ‘Asyariyah ini mucul pad athun 225 H. [16]

Sampai kepada Muhammad, saw.  Al-Muntadzar (al-Mahdi), silsilah imam-imam itu terputus. Hal ini karen a imam yang teakhir tidak mempunyai keturunan. Muhammad, saw.  Sewaktu masih kecil hilang di dalam gua yang terdapat di Samarra (Irak). Syi’ah Isna ‘Asyariyah berkeyakina, bahwa imam ini menghilang  utnuk sementara waktu dan akan kembali sebagai al-mahdi yang lagnsung memimpin umat oleh sebab itu ia disebut imam ayagn bersembunyi (al-Imam al-Mustair) atau imam yang dinanti (al-Imam al-Muntadzar). Menurut mereka, selama imam itubersembunyi ia memimpin umat  melalui raja-raja yang memegang kekuasaan dan para ulama’ mujtahid Syi’ah.[17]

Selama masa 70 tahun terhitugn sejak menghilangnya imam (256/869-329/940) para mujtahid merke adalah Usaman bin Said, kemdian diantikan oleh puteranya Abu Ja’far. Abu Ja’far kemudian digantikan oleh Abu al-Qasim bin Ruh. Kemudian Abul Qasim bin Ruh melimpahkannya keapda al-Hasan as-Samiri. Sampai dengan Samiri, para mujtahid kemudian terputus dan as-Samiri menyerahkan urusan ini kepda Tuhan. Periode tujuh puluh tahun (periode yang diwakili oleh para mujtahid atau para ulama) ini disebut sebagai masa “ghaibah kecil”. Kemudain setelah masa ini, sejak tahun 329/940 hingga sekarang, imam berada dalam “ghaibah besar” yang pada akhir zaman nanti akan kembali lagi.[18]

Konsepsi Imamah

Dasar keyakinan Syi’ah adalah bahwa Ali r.a. dan keluarganya merupakan orang yang paling berhak untuk  menjadi khalifah dibanding Abu Bakar, Umar dan Usman, karena Rasulullah saw, telah mewariskan kekhalifahan kepadanya.menurut Syi’ah kecuali Syi’ah Zaidiyyah[19] Abu Bakar Umar dan Usman adalah merampas hak Ali r.a. demikian juga khalifah Amawiyah dan Abbasyiah dianggap menggazab kekhalifahan Ali r.a. kelompok sahabat yang  amat cinta kapada Ali r.a. adalah Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghifari, Miqdad bin Aswad. Mereka berpendapat bahwa Ali r.a. adalahlaeeibhberhak menjadi khalifah karena sifat-sifatnya.[20]

Sepeninggal Ali r.a. (41H./661 M), pergolakan politik antara Syi’ah dengan  pendukung Mu’awiyah terus bekelanjutan. Syi’ah terus menuntut hak agar keluarga Ali r.a. (ahl al-bait) tetap menjadi khalifah/imam. Oleh karena itu sepeninggal Ali r.a. mereka mengangkat al-Hasan, puteranya sebagai pengganti hak kekhalifahan. Peristiwa pengangkatan al-Hasan untuk menjadiimam inilah yang kemudian menjadi awal doktrin politik Syi’ah.[21]

Secara rinci, ide dasar keimaman Syi’ah itu meliputi[22]:

  1. Imamah istilah khassebbagai pengnti khakhilafahan adalah merupakanslahstu rukun diantara rukunj-rukun agama yang amat penting dalamislam;
  2. Karena begitu pentingnya (sebagai rukun), maka imam harus dipilh nabi lewat nash, dan seseorang tidak dianggap sebagai imam atas dsar pemilihat umat, sebab umat tidak memiliki otioritas pemilihan;
  3. Karena imam dipilih nabi, makaia mesti ma’shum, seorang suci yang terjaga daridosa (baik dosa besar maupun dosa kecil) seta tidak boleh melakukan kesalahan. Semua yang bersumber dari dirinya (baik ucapan maupn tindakannya) adalah benar;
  4. Bahwa Ali r.a. adalahimam yang telah ditunjuk dan ditetapkanoleh Nabi saw. Sebagai imam sepeninggalnya dengan ketetapan nash yang jelas;
  5. Syi’ah beranggapan, bahwa imamah adalah hak milik anak cucu Ali r.a.
  6. Imamah menduduki temapt kenabian, imam adalah hujjatullah  di bumi, ia menerima wahyu ia berhak menafsirkan nash-nash agam. Memberi petunjuk bagi orang-orang mukmin dan keputusan-keputusannya tidak bisa ditolak. Barangsiapa yang keluar dari keputusan imam, maka ia berhak dibunuh.

Ada empat dasar keonsepsi Syi’ah Isna Asyariah yang amat penting dan populer, yaitu: al-Ishmah, al-Mahdiyah, ar-Raj’ah dan at-Taqiyah. [23]

  1. 1.      Al-Ishmah

Yang dimaksud dengan al-Ishmah adalahkeyakinan terhadap adanya imamyagn terjaga dari perbuatan slah dan dosa (baik dosa besar maupun dosa kecil) selama hidupnya. Mereka seperti juga para nabi tidak pernah berbuata maksiat, tidak pernah salah dan lupa.

  1. 2.      Al-Mahdiyah[24]

Yang dimaksud dengan al-Mahdiyah adalah, keyakinan akan adanya imam yang ditunggu-tugngu, yang akan turun ke bumi pada akhir masa dengan membawa keadilan dan keamanan setelah bumi itu penuh dengan distruksi sosial.

  1. 3.      Ar-Raj’ah

Yang dimaksud dengan ar-Raj’ah adalah keyakinan akan kembalinya nabi Muhammad, saw.  Ke dunia dan semua para imam. Menurut keyakinan mereka Abu Bakar dan Umar pada saat itu juga akan kembali dan mereka akan diadili karena mereka dianggap musuh (perampas hak kekhalfahan Ali r.a.) Lalu setelah itu semuanya mati danakan hidup kembali di hari kiamat.

  1. 4.      Al-Taqiyah

Yang dimaksud dengan at-Taqiyah adalah sikap menyembunykanuntuk sementara. Ajaranini dianggap yang fundamental dan merupakan bagian agama yang harus disembunyikan dari manusia. Di saat mereka ada di dalam kekuasaanorang lain, berpura-pura menampakkan ketaatannya dan secara sembunuyi tetap mentaati imamnya. Kemudian setelahkuat, mereka megnadakan perlawanan, bahkan revolusi terhadp penguasa yang dianggap zalim (bughat). Ajaran tersebut lebih mengarah kepad asikap politis dan strategi untuk melawan pihak yang dianggap musuh.

Dotrin keimaman (imamah) Syi’ah hampir semuanya didasarkan atas dalil-dalil keabshan tujuan-tujuanya. Banyak ayat-ayat atau hadits-hadits yag diwa’wilkan untuk membenarkan kekuasaannya. Doktrin al-Mahdi misalnya, didasarkan atas hadis yang tidak dhabit sandnya, atau dha’if.[25] Demikian pula doktrin ar-Raj’ah dan at-Taqiyah didasrkan al-Qur’an yang dita’wilkan secara keliru. Misalnya kata dabbah dalam suratt Ali Imran: 26 dita’wilkan sebagai Ali r.a.  dan kata tuqat dalam surat an-Nisa: 14 dijadikan sebagai doktrin asasi.dan masih banyk lagi ayat-ayat yang dita’wilkan secara menyimpang.

Kejian kritis mengenai Syi’ah ini banyak dungkap oleh Ahmad Syalabi,, dan Ahmad Amin. [26] Salabi misalnya, merasa tidak pernah mampu untuk mendapat ajaran-ajran Syi’ah, khususnya ajran-ajaran Yhudi yang memang sengaja ingin memperdaya Islam. Bahkan menurutnya, hampir semuanya bukan dari ajaran Islam yang tidak bisa diterima. Dan Ali sendiri memang sebagaimana pengakuannya tidak pernah menerima amanat dari Rasul saw, mengenai pengganti kekhalifahan sepeninggalnya. Hal ini terbukti dengan ucapannya ketika ditanya oleh Abdullah bin al-Kawa’ mengenai amanat Rasul itu. Ali r.a. mengatakan:

“Sesungguhnay aku adalahorang pertama yang beriman kepada Rasul saw, aku bukan orang pertam kali yang mendustakannya, tidak ada amanat untukku dari Rasul saw, seandainya ada niscaya akan kutinggalkan saudara dari suku Tamim dan suku ‘Adi.[27]

Tentang kebenaran menganai masuknya penetrasi ideologi dari luar itu (yang kemudian mengaku sebagai Syi’ah) adalah terbukti adanya pengakuan Ja’far as-Shadiq (salah seorang imam besar Syi’ah Isna Asyariyah) terhadap kekhalifahan para sahabat Rasul saw, demikian pula Zaid binAli bin al-Hasan (Seorang tokoh Zaidiyah) yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Oleh sebab itu pendapat Imamiyah adalah pendapat yang diintrodusir dari orang yang mengklaim diri sebagai Syi’ah. Orang yang pertama kali memasukkan ide itu adalah Abdullah bin Saba’, seorang yang beranggapan bahwa keimanan Ali ditentukan oleh Nash. Lantas ide itu diartikulasikan oleh para pengikutnya dan menjadi doktrin yang populer.[28]

Dalam mensikapi ide imamiyah ini. Syalabi lebih melihat kepada perrpektif kesejarahan yang direkayasa oleh orang-orang yang sengaja memperdaya Islam saat itu. Menurutnya, ide-ide menganai keimanan Syi’ah (seperti: al-Ishmah, al-Mahdiyah, ar-Raj’ah dan at-Taqiyah) semuanya adlah palsu dan rekaan orang-orang yang mengklaim diri Syi’ah yang jauh dari ide-ide Islam. Penetrasi ideologis yang palng dominan adalah terdapat pada Syi’ah Ismailiyah kemudian Isna ‘Asyariyah, baru kemudian Zaidiyah.[29]

Ahmad Amin juga bependapat, bahwa doktrin kemaksuman para imam (Ishmatul aimmah) adalah aneh dan tidak sesai dengan Islam dan doktrin al-Qur’an, demikian pula tidak ocok dengan sifat-sifat dan naluri manusia. Ide ar-Raj’ah dihembuskan oleh Abudullah bin Saba’ yang beranggapan terhadap kembalinya Rasul saw, ke dunia. Kemudian Ja’far al-Ja’fi (yang disebut oleh Abu Hanifah sebagai pendusta) menganggap Ali r.a. akankembali ke dunia.[30]

Memang, sebagaimana yagndikatakanoleh Amad Amin, bahwa ide-ide keimanan Syi’ahj ituada simbiosisnya denganide orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dalam surat al-Baqarah: 80 misalnya, orang Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak akan tersentuh oeh api neraka kecuali hanya beberapa harisaja. Orang Syi’ah juga beranggapan bahwa nerakadiharamkan baginya kecuali sedikit saja. Kemudian orang-orang Nasrani mengatakan bahwa nisbah imam terhadap Allah seperti nisbah al-Masih terhadapnya. Mereka berkata bahwa Lahut menyatu dengan Nasut dalamimam dan bahaw risalah kenabian tidak pernah putus selamanya, maka barang siapa yang menyatu dengan Lahut ia adalah nabi. Demikian pula tenang penjisiman Tuhan dan hulul serta  ide mengenai reinkarnasi, [31]uga doktrin al-Masihsebagai al-Mahdi sudah dikenal dalam Kristen.

Seperti jug diakui oleh J. Wellhausen, bahwa akidah Syi’ah yang bersumber dari orang-orang Yahudi lebihdominan daripada yang bersumber dari orang-orang Persi sendiri.[32] Doktrin al-Ishmah juga terkait dengan doktrin infallibillity dalam dunia Kristen Katholik yang sudah dikenal sebelumnya.[33]

Pengaruh ideologiasing dalam Syi’ah ini memang bisa dipahamijika ditilik dari perspektif kesejarahannya. Mayoritas penganut Syi’ah berada di Irak dan Irandansangat panjang usianya, sementara kondisi masyarakat daerah tersebut sangat heterogen, berbagai agama mucnul di daerah tersebut, misalnya: Zoroaster (Mani, Mazdak dan Ibn Dishan) serta Yahudi dan Nasrani. [34]dengan warisan agama inilah terjadi saling mempengaruhi. Dan ternyata Yahudi dan Kristen lebih dominan.

Kesimpulan

Daribeberapa pembahasan yang telah dikemukaknitu dapat disimpulkan  antara lain sebagai berikut:

  1. Syi’ah, sebagai kelompok kekuatan politik yang sarat dengan ideologi, muncul sejak kasus Shiffin;
  2. Syi’ah terpecah dalam tiga kelompok besar : Imamiyah (yang terdiri dari 24 bagian), Zaidiyah (yang terdiri dari 6 bagian dan terkenal paling moderat), dan Ghulat (terdiri dari 15 bagian yang dikenal paling ekstrim);
  3. Syi’ah Isna Asyariah adalah bagian dari Syi’ah Imamiyah yang paling terkenal dan terbesar, danmenjadi mazhab resmi negara di Iran yang masih eksis hingga kini;
  4. Disebut Syi’ah Isna ‘Asyariyah karena keyakinannya terhadap 12 imam, mulai dari Ali r.a. hingga Muhammad, saw.  Al-Mahdi yang menghilang untuk sementara danmasih memimpin umat melalui para raja dan para ulama mujtahid Syi’ah
  5. Ide-ide Isna Asyariyah yang terpenting adalah ide imamah, yaitu al-Ishmah, al-Mahdiyah dan al-Taqiyah.
  6. Ide-ide tersebut dipengaruhi oleh ide-ide asing (Yahudi dan Nasrani) yang dijadikan sebagai legitimasi kekuasaannya (status quo).

DAFTARPUSTAKA

Ahmad Amin, Fajr al-Islam,  (Bairut: Dar al-Kutub al-Arabi) 1969

__________, Dhuha al-Islam, Juz III (Mesir: Maktabah an-Nahdhah, tt.)

Ahmad Syalabi, Mansu’at at-Tarikh al-Islami, Juz III (Mesir: Maktabah an-Nahdhah, 1978)

Asy’ari, al-Maqalat al-Islamiyin wakhtilaf al-Mushallin, Juz I, (Mesir: Maktabah an-Nahdhah, 1969)

Asqalan, al-Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Juz VIII, al-Maktabah as-Salafiyah.

Abu Bkar Aceh, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, (Solo: Ramadhani, 1980)

Departemen Agama R.I. Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: 1986/1987)

Dihlawi, ad. Mukhtashar at-Tuhfah al-Isna Asyariyah, (Turki: Isik Kitabevi, 1981)

Fazlurrahman, Islam, Terjemahan Ahsin Muhammad, saw.  (Bandung: Pustaka, 1981)

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya,  Jilid I (Jakarta: UI Press, 1984)

Ibrahim Madkur, Fi al-Falsafah al-Islamiyah, manhajun wa tathbiqun, Juz III (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt)

Julius Willhausen, The Religio Political Factions in Early Islam, MELPC, 1975

Khaldun, Ibn. Muqaddimah,  Bairut: Dar al-Fikry, tt)

Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wal a’lam, (Bairut: Dar al-Masyriq, 1975)

M. Zainuddin, Proses Terbentuknya Khilafah Khulafa’ ar-Rasyidin, (Surabaya: Majalah Aula, 1988)

Muhamad Fuad Abul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras lil alafdz al-Qur’an al-Karim (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tt)

Nourouzzaman, As-Shiddieqi, Syi’ah dan Khawarij dalam Perpektif Sejarah, (Yogyakarta: PLP2M, 1985)

Syahrastani, ar, Al-Milal wan Nihal, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.)

Yousoef Souyb, Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran Sekte Syi’ah, (Jakarta: al-Husna, 1982)

Zahabi, az, At-Tafsir wa al-Mufassirun, Juz II, Dar al-Haditsah, 1976


[1] M. Zainuddin , Proses Terbentuknya Khilafah Khulafaurrasyidin, dalam Majalah Aula, September 1988, hlm. 67

[2]  Diceritakan dalam hadits, bahwa ketika nabi hendakwafat,beliau hendak berwasiat kepada para shahabat, teteapi Umar segera menolaknya karena al-Qur’an dan al-Sunnah dianggap sudah cukup untuk menjadipeganganumat.penolakan Umar ini dianggap mengakibatkan perdebatan para sahabat di asisi nagi, hingga akhirnya nabi mengusirnya. Dan penolakan inilah yang lantas oleh Syi’ah dianggap sebagai wasiat akan pengukuhan Ali sebagai penggantinya. (Tentang wasiat ini lihat: Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Baari. Juz. VIII hal. 132).

[3] Nouruozzaman Shiddieqi,  Syi’ah dan Khawarif dalam Perspektif Sejarah, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), hal. 9

[4] Louis Ma’luf, Al-Munjid fi al-Lughah wa  al-A’lam,  Dar al-Masriq, 1975 hlm. 411)

[5] Lihat : J. Wllhausen, The Religio-Political Factins in Early Islam, NHPC, hal. 95. Pada saat itudinamai pula “Alawiyah” sebagai lawan dari “Usmaniyah’, tetapi segera dipauskan Abu Bakar Aceh, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, (Solo: Ramadhani, 1980), hal. 11.

[6] As-Syahrastani, Al-Milal wan – Nihal, (Beirut: Dar al-Fikri,tt) hal. 146.

[7]  Ad-Dilawi menyebutkan, bahwa laqab Syi’ah mucnul pada tahun  37 H. (Ad-Dihlawi, Muhtashar at-Tuhfah al-Isna ‘Asyariyah,  (Turki: Isik Kitabavi, 1981) hal. 5

[8] Pengertian Ahlul Bait padagilirannya berkembang lebihluas. Bukan hanya keturunan al-Hasan dan al-Husain dari perkawinan Ali r.a. dengan Fatimah. Tetapi juga dari istri lainnya seperti Ibnu Hanafiah dari keturunan Bani Hanifah. Bahkan ada yang memperluas lagidarisemua keturunan BaniHasyim. Oleh sebab itu mereka memasukkan keturunan Ja’far bin Abi Thalib dan al-Abbasseebagai orang-orang yang berhak menjadi imam (lihat: Nourouzzaman Sidieqi, op. Cit. Hal. 6: sebagaimana yang dikutip dariW. Montgomery Watt).

[9] Ali r.a. baru memberikan baiat Abu Bakar  6  bulan kemudian, setealah wafatnya Fatimah (lihat: M. Zainuddin, “proses terbentuknya khilafah khulafaurrasyidin dalam AULA., 1988, hal. 68)

[10] Asy-Syahrastani, op. Cit. Hal. 174. Doktrin politik Abdullah bin Saba’ kemudian berkembang menjadi kelompok resmi dengan sebutan Saba’iyah yang dinisbatkan dengan namanya. Dan kelompok Saba’iyah tersebut dalm klasifikasi Syi’ah Ghulat. Meski ada yang berpendapat bahwa Abdulah bin Saba’ sebetulnya tidak terdapat dalam sejarah,tetapi ia tidaklebih dari tokoh yang dibuat oleh penulis Barat (lihat misalnya Abu Bakar Aceh, op. Cit. Hal. 15-16)

[11] Al-Asy’ari merinci Syi’ah dalam 45 bagian dari tiga kelompok besar, yaitu Imamiyah (yang terdiir dari24 bagian), Zaidiyah, (yang terdiri dari 6 dan yang dikenal paling moderat) dan Syi’ah Ghulat yang terdiri dari 15 bagian dikenal paling ekstrim (lihat Al-Asy’ari, Magalatal-Islamiyyin wakhtilaf al-Mushallin, juz I, Mesir: Maktabah an-Nahdah. 1993)

[12] Ahmad Amin Dhuhal Islam,  Juz III, (Mesir Maktabah an-Nahdhah, tt). Hal. 210, danlihat : Az-Zahabi, at-Tafsir wl Mufassirun, Juz II, Daar al-Kutub al-Haditsah, 1976, hal. 4-5)

[13]  Al-Asy’ari menyebutkan “Al-Qathiyya”  Karena merekea memutuskan kematian Musa bin Ja’far bin Muhammad, saw.  Bin Yin bin Ali (Musa al-Kazim) (lihat:  al-Asy’ari, Maqalat Al-Islamiyyah Wakhtilaf al-Mursalin, Juz I hal. 90). Secara berurutan 12 iamam itu adalah (1) Ali bi Abi Thalib, (2) Al Hasan bin Ali, (3) Al Husain bin Ali (4) Ali Zainul Abidin, (5) Muhammad, al-Baqhir, (6) Ja’far as-Shiddiq, (7) Musa al-Kazim, (8) Ali ar-Ridho (9) Muhammad, saw.  Al-Jawad, (10) Ali al Hadi, (11) Hasan al-Anshari, (12) Muhammad, al-Mahdi (al-Muntadzar)

[14] Sekte Imamiyah dinisbatkandengankata imam, karna persoalanyagndibicarakan berkisar kepda keimaman (khilafah setelah nabi). Sekte ini berpendapat bahw Ali r.a. adalah seorang yang berhak menduduki khalifahsepenigngal nabi deganalasan nash, baik langsug maupun tidak langsung. Dan mereka beranggapan bahwa keimaman harus dipegang olehanak keturunan Ali r.a. dariFatimah dan bahwa persoalan keimaman (imamah) adalah persoalan dasar agama (ushul ad-diin). Abu Bakar dan Umar dianggap sebagai meng-ghasab secara zalim hak kekhilafahan Ali r.a. (Ahmad  Amin, Dhuhal Islam,  Juz. III, Maktabah an-Nahdhah, tt. Hal. 212).

[15] Syi’ah Isna ‘Asyariyah adlah Syiah yang paling terkenal dan terbesar di kalangan sekte-sekte dalam Syi’ah tersebut menadi mazhab resmi negara Iran demikian juga menjadi mazhab besar di Iran. Hingga kini sekte tersebut masih eksis (Syalabi, Mausu at-Tarikh al-Islami, Juz III, Maktabah an-Nahdhah, tt. Hal. 212).

[16]  Ad-Dihlawi, Mukhtashar at-Tuhfah al-Isna Asy’ariyah, (Turki: Isik Kitabevi, 1981) hal. 21

[17] Harun Nasution, Islam ditinjiau dari berbagai Aspeknya, Juz. I, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1980) hal. 99

[18] Nourouzzaman Shiddieqi, Syi’ah dan Khawarif, dalam Perpektif Sejarah, (Yogyakarta: PLP2M, 1985), hal. 71-72

[19] Syi’ah Zaidiyah megnakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, msekiAli dianggap yang lebih utama dari mereka. Mereka juga tidak mengkafirkan para sahabat rasul saw, (lihat: As-Syahrastani, Al-Milal wan-Nihal, hal. 155 dan Al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, hal. 182.

[20]  Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, hal. 208-209

[21]  Lihat: al-Asy’ari, Maqalat, hal. 89: as-Syahrastani al-Milal, hal. 146; Ibnu Khaldun, Muqaddimah,  Dar al-Fikry tt. Hal. 170-171; Ibrahim Madkur, Fil Falsafah al-Islamiyah, Manhajun wa Tathbiquhu, juz. III, (Mesir Dar al-Masarif), hal. 62.

[22] Fazlurrahman, Islam, Terj. Ahsin Muhammad, saw.  (Bandung : Pustaka, 1984), hal. 249.

[23] Az-Zahabi, Tafsir wl Mufashirun, hal. 8-9 dan lihat: Ahmad Amin, Dhuhal Islam, hal. 225-254, Syalabi Maushu’at, hal. 78.

[24] Disebutkan bahwa orang pertama yang memiliki keyakinan al-Mahdiyah tersebut adalah Kaisan, budak  Ali r.a. dan pendiri sekte Kaisaniyah.

[25] Hadits mengenai al-Mahdi diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Abu Daud dan Ibnu Majah, Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

[26] Lihat: Ahmad Amin, Dhuhal Islam, Jilid III, Pembahasan mengenai Syi’ah, dan Ahmad Syalabi, Mausu’at at Tarikh al-Islami, juz II, Mesir, Makabah an-Nahdhah, 1978, kemudian kajian lebih mendetail mengenai ajaran-ajarannya, baca juga ad-Dihlawi, Mukhashar at-Tuhfah al-Isna Asyariyah, Turki: Isik Kitabevi, 1981.

[27] Ahmad Syalabi, Mausu’at, hal. 150-151; 174-175

[28] Ibid, hal. 175

[29] Ahmad Syalabi, Mausu’at, hal. 179

[30] ibid

[31] Ahmad Amin, Fajrul Islam, hal. 276, 277

[32] Ibid

[33] Yoesoef Sou Yb, Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran Sekte Syi’ah, (Jakarta: 1982), hal. 47 Lihat juga Fazlurrahman, Islam, hal. 251

[34] Ahmad Amin, Fajrul Islam, Bairut Dar al-Kutub, al-Arabi, 1969, hal. 171.


 [E1]

One thought on “SYI’AH ISNA ‘ASYARIYAH DAN KONSEP IMAMAH”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *