REFORMULASI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM UNTUK MENYIAPKAN GENERASI MASA DEPAN

”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata yang benar (jujur)”.[1]

”Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.

 

  1. A.  Mukaddimah

 

Semua lapisan masyarakat, baik orang tua, pendidik, maupun agamawan kini tengah menghadapi masalah besar dalam pendidikan, yaitu tentang “bagaimana cara terbaik untuk mendidik generasi muda dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan global saat ini dan  mendatang”. Sebagian kalangan memberikan jawaban dengan kembali ke masa lalu, sementara yang lain hendak menoleh ke masa depan. Namun di atas semua itu sesungguhnya semua orang membutuhkan perbaikan dan rekonstruksi konsep pendidikan menuju masa depan generasi yang gemilang.

Persoalan bagaimana memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita sekarang memang membutuhkan penilaian yang jujur, dengan menjawab beberapa pertanyaan penting berikut ini: pertama, di mana posisi kita sekarang?; kedua, bagaimana seharusnya kita bertindak?; ketiga, apa yang harus kita persiapkan? Dengan kata lain, masa depan anak-anak sangat tergantung pada bagaimana kita mampu menjawab pertanyan-pertanyaan tersebut secara tepat dan sejauh mana kita mampu merumuskan visi dan misi kita bagi generasi mendatang.

Model pendidikan ini merupakan usaha menyikapi berbagai isu fundamental pendidikan kontemporer dan sekaligus mengajukan kerangka reformulasinya. Model ini menawarkan visi dan pendekatan terhadap pendidikan yang tetap memelihara karakter dan sesuai fitrah peserta didik serta memberikan kemampuan untuk melakukan penemuan jati diri (self discovery), dan juga kesadaran sosial yang berangkat dari tradisi dan modernisasi yang terseleksi (al-muhāfadah alā al-qadîm al-ŝālih wa al-akhzu bi ‘l-jadîd al-aŝlah).

 

  1. B.  Gap Antara Idealitas dan Realitas

Indonesia adalah negara yang menempati posisi terbesar jumlah penduduk muslimnya. Tetapi potensi mayoritas muslim tersebut belum menjamin peran sosialnya. Hal ini tentu terkait dengan soal pendidikan. Apakah pendidikan yang dikembangkan oleh umat Islam sudah memenuhi fungsi dan sasarannya?  Karena itu seperti yang dijawab oleh Kuntowijoyo,[2] bahwa  pendidikan Islam saat ini –sebagaimana pendidikan lainnya– secara empirik belum mempunyai kekuatan yang berarti karena pengaruhnya masih kalah dengan kekuatan-kekuatan bisnis maupun politik. Disinyalir, bahwa pusat-pusat kebudayaan sekarang ini  bukan berada di dunia akademis, melainkan di dunia bisnis dan politik. Dalam setting seperti ini lembaga pendidikan tinggi Islam terancam oleh subordinasi.

Mayoritas umat Islam juga kurang menghargai nilai-nilai Islam itu sendiri, misalnya menepati janji, waktu, kedisiplinan dan ketertiban, dan hal-hal lain yang mestinya harus diperhatikan oleh umat Islam itu sendiri. Kemudian, kenapa terjadi keterputusan antara nilai dan praktik dalam masyarakat muslim saat ini? Dan peran apa yang bisa diberikan oleh pendidikan dalam konteks ini? Hal inilah yang merupakan pertanyaan besar bagi masyarakat Islam saat ini. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat Islam saat ini tidak lepas dari faktor modernisasi dan globalisasi yang berdampak pada semua aspek kehidupan: ekonomi, sosial, politik, dan juga pendidikan. Pengaruh modernitas telah mempunyai andil besar dalam merubah gaya dan pola hidup pada hampir semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat muslim. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak kita belajar nilai kebanyakan dari budaya populer dan media massa. Pengaruh kolonialisme yang membawa budaya materialisme, sekularisme dan individualisme selama berabad-abad telah meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus pada pola pikir dan sistem nilai di dunia Islam saat ini. Problem-problem di atas juga memperlemah perkembangan karakter generasi Islam saat ini.

Pendidikan Islam, baik dalam konteks nasional Indonesia maupun sebagai bagian dari dunia Islam, kini tengah menghadapi tantangan yang lebih berat. Agenda besar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah, bagaimana menciptakan negara yang aman, adil dan makmur dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, yang didukung oleh warga negara yang berpengetahuan, beriman dan bertakwa. Dengan begitu maka pendidikan Islam dituntut untuk berperanserta mewujudkan tatanan Indonesia baru dimaksud, dengan merumuskan langkah-langkah pengembangannya.

Karena hingga saat ini masih ditengarai bahwa sistem pendidikan Islam belum mampu menghadapi perubahan dan menjadi counter ideas terhadap globalisasi kebudayaan. Oleh sebab itu pola pengajaran maintenance learning yang selama ini dipandang terlalu bersifat adaptif dan pasif harus segera ditinggalkan. Dengan begitu, maka lembaga pendidikan Islam setiap saat dituntut untuk selalu melakukan rekonstruksi pemikiran kependidikan dalam rangka mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi. Kegagalan pendidikan Islam kontemporer secara umum juga disebabkan oleh faktor perumusan visi dan misi yang tidak kompatibel dengan konsep ideal dan kondisi empiriknya. Setidaknya hal ini disebabkan oleh lima alasan berikut: Pertama, secara fundamental pengajaran kita tidak fokus pada pengembangan karakter dan kepribadian, tidak sejalan dengan apa yang menjadi perhatian Nabi Muhammad saw.[3] Kedua, kebanyakan yang diajarkan adalah sesuatu yang yang tidak relevan dengan kehidupan riil siswa seperti kebutuhan dan tantangan yang akan mereka hadapi. Ketiga, metode pengajarannya lebih cenderung terpusat pada pengajaran (teaching) bukan pada belajar (learning). Masih mengentalnya sistem pengajaran maintenance learning yang bercirikan lamban, pasif dan menganggap selalu benar terhadap warisan masa lalu. Keempat, Adanya pandangan dikotomis ilmu secara substansial (ilmu agama dan ilmu umum). Kelima, pengajaran kita tidak mempersiapkan anak-anak kita dengan keterampilan riil (real life skills) yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat modern saat ini. Selain itu, pendidikan Islam kontemporer (dan juga pendidikan pada umumnya) secara tipikal tidak memiliki pemahaman yang benar tentang perkembangan anak baik secara moral, sosial, psikologis maupun pedagogis. Subject matter pendidikan Islam masih bersifat normatif, verbalistik dan tekstual. Sementara itu pada sebagian besar masyarakat kita sekarang ini juga masih muncul anggapan, bahwa “agama” dan “ilmu” merupakan entitas yang berbeda dan tidak bisa ditemukan, keduanya dianggap memiliki wilayah sendiri-sendiri baik dari segi objek formal-material, metode, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan maupun status teori masing-masing.[4]

Sampai saat ini masih terdapat beberapa kesalahpahaman umum (salah kaprah) tentang pendidikan yang terus mempengaruhi pemikiran banyak pihak. Kesalahpahaman tersebut disebabkan oleh adanya pemahaman parsial dan mekanistik tentang anak dan proses pendidikan. Pada sebagian pendidik kita masih memiliki anggapan bahwa semua anak adalah sama dan dapat diinjeksi informasi secara berlebihan. Karena pemahaman seperti inilah, banyak anak-anak yang gagal dalam proses pendidikan tanpa adanya beban kesalahan yang mereka dilakukan. Para pendidik dan orang tua harus mengenal dan memahami bahwa setiap anak itu unik dan memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Praktik pendidikan yang dibutuhkan saat ini adalah perubahan terhadap pemahaman yang lebih natural, menyeluruh, dan ramah (humanis) tentang anak, pendidikan dan proses pembelajaran.

Berikut ini adalah beberapa kesalahpahaman umum tentang pendidikan dan sekaligus pandangan alternatifnya:[5]

 

Komponen

Senyatanya

Seharusnya

Visi

Pendidikan dianggap sebagai disiplin yang terpisah; partikularistik, masih memakai paradigma mekanistik (model perusahaan). Pendidikan dipandang secara holistik, menyeluruh dan berparadigma rekonstruktif.

Tujuan

Perolehan informasi ansich, pengetahuan dan keterampilan hanya untuk perolehan pekerjaan. Beyond schooling, bagaimana belajar (how to learn), pembelajaran seumur hidup (life long education), pengembangan manusia seutuhnya (ulǖ al-albǡb dan khaira ummah).

Isi

Pembelajaran bersifat konvensional, sekadar informatif, tidak relevan dengan kehidupan riil siswa, hanya terfokus pada instruksi/pengajaran textbook. Pembelajaran bersifat kontekstual, transformatif, realistik, kurikulum berbasis kehidupan nyata.

Struktur

Struktur tidak koheren atau disusun oleh disiplin akademik yang rigid. Gagasan bersifat powerful (powerful ideas), mampu memberi inspirasi dan transformasi, mampu membangun kepribadian dan jati diri anak.

Metode

Didaktik (ceramah, monolog); guru sebagai pusat, satu model untuk semua siswa, tidak inspiratif. Discovery learning, terpusat pada siswa, pengajaran bervariasi, dialogis, interaktif, guru sebagai penunjuk (guide), modellling dan mentoring, model pembelajaran terpadu/integrated learning model (ILM)

Program

Terfokus pada masa lampau, belajar tentang Islam dan kepemilikan Islam, ritual-seremonial. Life mastery, terpusat pada hal-hal kekinian, belajar menjadi Muslim”, Islam sebagai gaya hidup; Islam untuk pemahaman atau penguasaan hidup/ Islam for Life Mastery (ILM).

Penilaian

Tes formal bersifat textbook, benar- salah, lulus atau tidak lulus, tes standar. Authentic assessment, berhubungan dengan dunia riil, penilaian bersifat multi intelligensi.

 

Kini masalah pembaruan pendidikan lagi gencar-gencarnya digaungkan, sehingga muslim yang tercerahkan (enlightened muslim) diharapkan mampu menemukan solusi riil terhadap permasalahan-permasalahan dan tantangan-tantangan yang dihadapi komunitas muslim –termasuk “bagaimana” dan “apa” yang harus  diajarkan pada anak-anak kita. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pembaruan visi pendidikan sangat mendesak dilakukan, salah satunya adalah mencetak generasi yang mempunyai tingkat pemahaman, komitmen, dan tanggung jawab sosial yang mampu mengabdikan diri pada kemanusiaan dan sosial secara efektif. Adapun visi pendidikan di sini bukanlah visi yang baru, tetapi lebih merupakan visi pendidikan yang diperbarui (renewd).

Pada zaman Nabi, pendidikan merupakan sesuatu yang dinamis, praktis dan relevan sesuai dengan kebutuhan masyarakat riil. Sehingga pendidikan di kala itu mempunyai kekuatan dalam hal memberi inspirasi dan mentransformasikan kehidupan manusia secara menyeluruh. Untuk merealisasikan cita-cita tersebut, diperlukan adanya usaha terpadu dan tepat guna. Para pendidik dan orang tua harus meningkatkan usaha mereka dalam menemukan solusi-solusi alternatif yang bisa menjembatani adanya kesenjangan antara nilai dan praktik pada generasi yang akan datang. Tentu saja, lembaga pendiidkan mempunyai peranan yang krusial dalam hal ini, khususnya program yang sudah maju untuk mempercepat sosialisasi pemahaman pendidikan dan peran keluarga dalam proses pengembangan karakter. [6]

Bahwa sains dan teknologi tidak akan bisa menyerang jiwa manusia ketika jiwa tersebut sudah dipenuhi oleh tujuan hidup yang jelas. Visi pendidikan Islam telah membuat perbedaan yang jelas antara mengajarkan “hal-hal tentang Islam” (informatif) dan mengajarkan tentang “bagaimana menjadi Muslim sejati” (transformatif). Tujuan dari pendidikan Islam bukan hanya sekadar memberi informasi tentang Islam, melainkan lebih menekankan pada bagaimana “menjadi seorang muslim.” Adanya perubahan paradigma dari pendidikan yang berorientasi pada informasi ke pendidikan yang berorientasi pada transformasi adalah hal yang mesti dilakukan jika kita benar-benar berharap membangun paradigma baru pendidikan bagi pembangunan masyarakat muslim ideal.

Reformasi yang menyeluruh amatlah dibutuhkan dalam sistem pendidikan di dunia Islam. Adapun pendekatan ini berdasarkan pada empat komponen inti: Pertama, kerangka konseptual terpadu tentang pendidikan yang berdasarkan pada prinsip tauhȋd dan pendidikan holistik. Kedua, tinjauan ulang (review) terhadap tujuan pendidikan dan komponennya bagi pengembangan karakter (character development). Ketiga, merekonstruksi kurikulum atau gagasan-gagasan besar (powerful ideas) untuk mentransformasikan kepribadian. Keempat, reorientasi pengalaman mengajar dan belajar ke arah pembelajaran penemuan (discovery learning). Jika kita menginginkan posisi penting dalam percaturan dunia saat ini, maka reformasi pendidikan harus segera dilakukan. Reformasi membutuhkan restrukturisasi elemen-elemen kunci dari sebuah lembaga pendidikan, seperti kerangka konseptual, isi, struktur dan proses pendidikan.

  1. C.  Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam

Berbicara mengenai pendidikan Islam, maka harus dimulai dari cara pandang kita (world-view) tentang manusia.[7] Bagaimana filsafat kita memandang manusia? Berangkat dari sini, maka akan terjawab persoalan substansial pendidikan tersebut. Bahwa paradigma filsafat Islam adalah teo-antroposentris, artinya orientasi ketuhanan dan kemanusiaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk mukallaf yang dibebani kewajiban dan tanggung jawab. Manusia juga bagian dari realitas kosmos yang menurut sebagian ahli disebut sebagai al-kǡin al-nǡtiq, “makhluk yang berbicara” dan “makhluk yang memiliki nilai luhur”.[8]

Menurut al-‘Aqqād,[9] manusia lebih tepat dijuluki “makhluk yang berbicara” dari pada sebagai “malaikat yang turun ke bumi” atau “binatang yang berevolusi”, sebab manusia lebih mulia ketimbang semua itu. Alasan al-‘Aqqād ini tidaklah berlebihan, sebab menurutnya, “malaikat yang turun ke bumi“ tidak mempunyai kedudukan sebagai pembimbing ke jalan yang baik maupun yang buruk, demikian pula “binatang yang berevolusi”. Hanya manusialah yang mampu memikul beban dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah kepadanya. Oleh sebab itu, tidak heran pula jika ada yang mengatakan, bahwa manusia adalah “pencipta kedua” setelah Tuhan. Hal ini dapat kita pahami, betapa manusia yang dianugerahi rasio oleh Tuhan itu mampu menciptakan kreasi spektakuler berupa sains dan teknologi, sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu bersaing secara intelektual. Kelebihan intelektual inilah yang menjadikan manusia lebih unggul dari pada makhluk lainnya, tetapi ia pun akan menjadi dekaden, bahkan lebih rendah nilainya dari binatang jika melakukan tindakan yang destruktif, melepaskan imannya.[10]

Dalam al-Qur’an, istilah manusia disebut dengan ungkapan: al-Insān, al-Bashar dan Banî Adam. Sebagian ulama berpendapat, al-Insān diambil dari kata nasiya-yansā nisyǡn yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan. Manusia disebut al-Insān diambil dari kata nāsa-yanǔsu yang berarti bergoncang. al-Insān diambil dari kata ins yang berarti jinak. Kata al-Insān mengandung pengertian manusia sebagai makhluk sosial dan kultural. Sedangkan disebut al-Bashar berarti tampak baik, indah dan gembira. Kata al-Bashar disebut dalam al-Qur’an sebanyak 123 kali, dan pada umumnya bermakna gembira, 37 kali bermakna manusia dan 2 kali berkaitan dengan hubungan seks. al-Bashar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi.[11] Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang memiliki unsur tidak saja jasmani, tetapi juga rǔhāni dan nafsāni.[12] Aspek terakhir inilah yang kurang menjadi concern, atau sering dilupakan oleh perancang (designer) pendidikan selama ini. Sementara itu, manusia memiliki peran sebagai ‘ābid (makhluk yang menyembah Tuhan, Allah Swt), dan khalîfah fi al-ard (pemimpin di muka bumi). Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang pendidikan Islam, maka aspek ini tidak boleh dilupakan.

Sebagaimana umumnya para filsuf beranggapan –termasuk Ibn Sȓnǡ, al-Fārabi dan juga al-Ghazāli– bahwa jiwa itu tersusun dari tiga jenis: jiwa nabātiyyah, jiwa hayawāniyyah dan jiwa insāniyyah. Jiwa nabātiyyah adalah jiwa yang berfungsi untuk makan, tumbuh dan melahirkan, jiwa hayawāniyyah adalah jiwa yang berfungsi mengetahui hal-hal kecil dan bergerak sesuai irǡdah-nya dan jiwa insāniyyah adalah jiwa yang melakukan perbuatan dan mengatahui hal-hal yang bersifat umum.[13] Sementara itu menurut Muhammad Iqbāl, manusia paripurna (insǡn kǡmil) adalah puncak dari perkembangan ego manusia, yang memiliki kekuatan. Dari kekuatan ego tersebut menyebabkan manusia terangkat menjadi khalifah Tuhan. Insǡn kǡmil adalah manusia yang mampu menyerap kebaikan-kebaikan Tuhan dalam dirinya. Tuhan dan manusia adalah dua entitas yang berbeda. Relasi Tuhan dengan manusia menurut Iqbāl bersifat bottom up, artinya bergerak dari manusia menuju Tuhan (Min al-tafkîr fî khalq Allāhi Ilā al-tafkîr fî Zat Allāh).[14] Ini diambil dari hadis: Tafakkarǔ fî Khalq Allah wa lā Tafakkarǔ fî Dhatihi dan Man ‘Arafa Nafsah Faqad ‘Arafa Rabbah.[15] Bagaimana manusia mampu berhubungan dengan Tuhan-nya, dengan sesama manusia dan alam semesta? Di sini sebetulnya al-Qur’an surat al-Qaŝaŝ (28): 77 juga sudah memberikan penjelasan yang gamblang. Empat belas abad yang silam, Islam sudah mengatur regulasi etika antarmakhluk. Bahwa secara empirik agama Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhnnya (vertikal/hablun min Allah) saja, melainkan juga terkait dengan hubungan antarmanusia dan hubungan dengan alam semesta (horizontal/hablun min al-nās dan hablun min al-‘ǡlam). Kesempurnaan seorang muslim dinilai berdasarkan penggabungan prinsip ide (iman) dan tindakan (amal) secara bersama-sama. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan seseorang harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial (amal).

 

  1. D.  Pendidikan Ulǔ al-Albāb

Dalam perspektif Islam istilah pendidikan digunakan dengan kata tarbiyah. Kata ini merupakan salah satu term dalam bahasa Arab yang mempunyai banyak arti. Menurut Raghib al-Așfahāni, kata tarbiyah berarti “menyebabkan sesuatu berkembang dari satu fase ke fase selanjutnya sampai mencapai titik puncak potensi”. Hal ini mengindikasikan bahwa fitrah manusia memang telah ada dalam diri anak, dan pendidikan merupakan proses mengembangkan fitrah tersebut, yang lebih dari sekadar menyampaikan informasi (transfer of knowledge). Kalau dipahami secara luas, maka arti tarbiyah adalah suatu disiplin ilmu bagi pembentukan dan pengembangan fitrah manusia.[16] Menurut al-Așfahǡni, kata rabb secara linguistik juga berhubungan dengan kata tarbiyah, yang mengandung pengertian bahwa Tuhan atau Rabb memelihara dan mengembangkan manusia dalam setiap fase kehidupan sampai mencapai potensi puncak. Oleh karena itu, konsep peningkatan, pengembangan, dan pengasuhan adalah merupakan aspek tarbiyah.

Secara etimologis, ulǔ al-albāb berarti orang-orang yang memiliki akal, yaitu daya ruhani yang dapat memahami kebenaran, baik yang fisik maupun yang metafisik. Sedangkan secara terminologis, ulǔ al-albāb adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri antara lain: beriman, berpengetahuan luas, berakhlak mulia, tekun beribadah, berjiwa sosial dan bertakwa. Sosok ulǖ al-albāb dalam mencari ilmu pengetahuan melalui sumbernya yang khas islami, yaitu wahyu (al-Qur’an dan al-Sunnah), alam semesta (al-afāq), diri sendiri (al-anfus) dan sejarah. Sedangkan metode yang ditempuh melalui pengetahuan inderawi, pengetahuan akal dan pengetahuan intuisi (ilham).[17]

Kata ulu alalbāb disebut dalam al-Qur’an mencapai 16 kali yang tersebar dalam 10 surat dalam konteksnya yang berbeda-beda, yaitu dalam surat al-Baqarah (2):179, 197; dan 269; Ali Imran (3): 7, 190; al-Maidah (5):100; Yusuf (12): 111; al-Ra’d (13):19; Ibrahim (14): 52; Shad (38): 29, 43; al-Zumar (39): 9, 18, 21; al-Mu’min (40): 54; al-Talaq (65):10. Jika dikaji dalam berbagai surat dan ayat dalam al-Qur’an tersebut, maka ulǔ al-albāb adalah sosok yang memiliki kualifikasi spiritual, moral dan intelektual.[18]

Dalam perspektif Islam, kata ilmu mengandung makna yang luas dan umum (generik) yang mencakup spektrum arti yang telah digunakan dalam sunnah Nabi, bahwa seorang Muslim tidak akan pernah keluar dari tanggung jawabnya untuk mencari ilmu. Tidak ada lapangan pengetahuan atau sains yang tercela atau jelek dalam dirinya sendiri, karena ilmu laksana cahaya (al-‘lm nǖrun) yang selalu dibutuhkan. Ilmu dianggap tercela karena akibat-akibat tercela yang dihasilkan.[19]

Bahwa ilmu yang wajib dicari oleh setiap Muslim adalah ilmu yang bermanfaat dan yang dituntut oleh agama dan dunianya. Persoalan apakah jenis ilmunya adalah hal baru yang tidak mengandung makna substansialnya. Bahwa konsep ilmu secara mutlak muncul dalam maknanya yang generik telah di sebutkan dalam firman Allah Swt dalam berbagai surah dan ayatnya.[20] Kelengkapan dan kesempurnaan Islam sebagai suatu agama menuntut agar setiap lapangan ilmu yang berguna bagi masyarakat dianggap sebagai bagian dari kelompok “ilmu agama”. Dalam Islam, batasan untuk mencari ilmu adalah bahwa orang-orang Islam harus menuntut ilmu yang berguna dan melarang mencari ilmu yang bahayanya lebih besar daripada manfaatnya (ilmu sihir, forkas dan sebagainya).

Adapun prinsip tauhȋd adalah prinsip dasar dari pendekatan tarbiyah. Selain itu, terdapat sejumlah prinsip lainnya yang mendukung terbentuknya kerangka teoretis dari pendekatan tersebut. Beberapa prinsip ini berasal dari adanya perenungan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan alam. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memperhatikan dengan teliti (menyelidiki, mengamati, dan menemukan) “ayat-ayat” Tuhan di alam ini dalam rangka mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang jati diri kita sebagai manusia. Dengan berdialog dengan alam kita bisa memahami adanya hukum alam yang tak terelakkan, yakni tentang pertumbuhan dan perkembangan. Siang, malam, langit, bumi, bulan dan matahari, dan kejadian konsmik lainnya, kesemua ini berkembang sesuai dengan pola terpadu. Memahami pola pertumbuhan dan perkembangan kosmik ini sangatlah penting bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pengajaran dan pendidikan. Dengan kekuatan dan kebijaksanaan-Nya, Allah telah menciptakan makhluk secara gradual, dan proses perkembangan yang lebih dari sekadar satu babak. Hal ini membutuhkan adanya waktu yang tidak singkat, perlu komitmen dan konsistensi. Proses ini tidak hanya terjadi pada makhluk manusia saja, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Inilah sunnah Allǡh yang sangat mengangumkan.

Untuk meraih kesempurnaan dalam pendidikan ini, maka para pendidik haruslah memahami hukum pertumbuhan dan perkembangan, karena hal ini juga terjadi pada anak didik secara langsung. Lebih dari itu, seorang pendidik harus menggabungkan hukum ini secara filofofis-pedagogis dan praksisnya. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik akan melawan arus hukum alam dan akan bertentangan dengan perkembangan anak didik. Dengan cara memperhatikan faktor-faktor tersebut, para pendidik mesti mengerti keinginan anak didik dan cara mendidiknya. Fenomena alam semesta ini haruslah kita pahami sebagai tanda-tanda (ayǡt) kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan, dan harus kita kaitkan dengan dunia pendidikan kita. Pohon misalnya, merupakan metafor sempurna dalam proses “perkembangan“ yang dikenal dengan tarbiyah. Misalnya dalam al-Qur’an surah Ibrahim (14): 24, Allah menggunakan metafor pohon untuk menjelaskan superioritas kebaikan atas kejahatan. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”? Adapun pohon dan poroses pertumbuhannya merupakan tanda atau titik renungan yang sangat menakjubkan bagi mereka yang membesarkan anak. Para orang tua mapun pendidik harus merenunginya secara mendalam untuk menemukan hubungan yang bervariasi sehubungan dengan cara mengasuh dan membesarkan anak secara benar dan tepat. Penggunakan metafor pohon ini sebagai cara untuk menjelaskan sifat tarbiyah dan tahapan pertumbuhan anak.

Dewasa ini pandangan-pandangan penting tentang bagaimana mendidik anak dengan baik telah dicetuskan. Khususnya pandangan modern yang mengakaji tentang otak dan pendekatan ke arah psikologi holistik dan pembelajaran terpadu. Berikut ini adalah deskripsi tentang prinsip-prinsip kunci yang membentuk dasar-dasar model pendidikan Islam. Beberapa prinsip ini memang berasal dari wawasan atau pandangan modern, tetapi terdapat sejumlah prinsip yang relevan dengan pemikiran Islam klasik:

  1. Fitrah. Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah. Seperti halnya biji pohon, biji itu sudah terisi bahan dasar yang penting untuk pertumbuhannya. Fitrah ini akan terbuka dan berkembang secara alami ketika ada pada lingkungan yang tepat. Di sinilah maka Nabi menyatakan, “bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanya yang akan membentuk mereka menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.[21]
  2. Unik. Setiap anak adalah unik, yang memiliki kepribadian, temperamen, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Hal ini merupakan bagian dari fitrahnya. Pendidikan harus memelihara keunikan setiap anak (dengan mengingat bahwa anak bukanlah objek yang bisa dididik secara seragam).
  3. Bertahap. Tahap perkembangan antaranak sangat bervariasi. Anak berkembang melalui tahapan yang sesuai genetik dan lingkungannya. Oleh karena itu pola pendidikan anak harus mengacu pada makna tarbiyah yang berarti mengembangkan dari tahapan satu ke tahapan berikutnya sampai meraih potensi optimalnya.[22]
  4. Mempertimbangkan Emosi. Emosi menyebabkan adanya perhatian, motivasi, makna, dan memori. Pengalaman-pengalaman emosional membuat pembelajaran menjadi sangat penting. Untuk alasan inilah (sebagaimana yang juga disarankan al-Qu’ran), bahwa kekaguman, keingintahuan, dan penemuan adalah titik awal proses pembelajaran.
  5. Pengayaan. Siswa harus ditantang untuk berpikir tentang apa yang sedang mereka pelajari, untuk berpartisipasi secara aktif dan berdiskusi secara kelompok, berkarya secara produktif dalam kegiatan pembelajaran, termasuk mendiskusikan isu-isu kontroversial.
  6. Terampil. Setiap anak harus dibuat terampil dalam rangka memperoleh pengetahuan dan pemahaman. Pembelajaran dan pengajaran yang efektif harus menekankan pada aktivitas yang melibatkan gerak tubuh dan otak sehingga anak didik dapat berinteraksi dengan apa yang sedang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari secara bermakna. Guru harus benar-benar mempersiapkan pembelajaran yang kontekstual. Karena hal ini juga menjadi anjuran al-Qur’an agar umat Islam memadukan teori dengan praktiknya (iman dan amal).
  7. Realistik dan Relevan. Anak didik harus merasa bahwa materi yang sedang mereka pelajari memang berguna dan relevan dengan kehidupan mereka secara langsung. Anak didik harus diperlihatkan tentang manfaat pengetahuan yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-harinya. Hubungan dengan dunia secara riil termasuk membuat koneksi antara pengetahuan yang mereka peroleh lewat partisipasi siswa dengan komunitas yang ada di luar sekolah.
  8. Berorientasi pada Nilai. Dengan menfokuskan pada nilai dan menekankan pada dimensi etika dalam setiap topik, maka pendidikan akan menjadi roda yang kokoh untuk pengembangan moral dan karakter. Para pendidik perlu menyadari bahwa setiap aspek pengalaman belajar harus membawa nilai guna bagi orang lain (populis-humanistik).
  9. Pembelajaran dengan Model (Modelling). Pembelajaran yang riil bukanlah dipaksakan akan tetapi diorkestrakan. Hal ini menekankan akan pentingnya asosiasi,  model peran (hikmah), dan ketedanan (qudwah dan uswah).
  10. Holistik. pendidikan bermula dari prinsip tauhid (keutuhan dan keterpusatan pada Tuhan). Hal inilah yang menjadi dasar pijakan dalam pandangan terhadap pendidikan. Prinsip tauhid mencakup konsep filosofis maupun metodologis yang terstruktur dan koheren terhadap pemahaman kita tentang dunia dan seluruh aspek kehidupan. Tauhid mengajarkan kita untuk menghimpun pandangan yang holistik, terpadu, dan komprehensif terhadap pendidikan.
  11. Integratif. Pembelajaran efektif haruslah terpadu; mendidik anak secara spiritual, moral, intelektual, fisik, emosi, dan sosial. Integrasi haruslah mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu, pembelajaran juga harus memadukan antara pikiran dan fisik: gizi, perhatian, dan seterusnya.[23]  
  12. E.  Kerangka Pendidikan Holistik

Wilayah pertama yang perlu direformasi adalah visi atau kerangka konseptual terhadap pendidikan secara menyeluruh. Pendidikan bermula dari prinsip tauhȋd. Hal inilah yang menjadi dasar pijakan dalam pandangan terhadap pendidikan. Prinsip tauhȋd mencakup konsep filosofis maupun metodologis yang terstruktur dan koheren terhadap pandangan dunia (world view) dan seluruh aspek kehidupan. Tauhȋd mengajarkan kita untuk menghimpun pandangan yang holistik, terpadu, dan komprehensif terhadap pendidikan. Pendidikan modern (Barat) secara umum berdasarkan pendangan pendidikan yang tidak koheren dan parsial. Sehingga, siswa dan guru jarang sekali mempunyai pandangan yang sama tentang proses pendidikan secara menyeluruh.

Lebih dari itu, prinsip tauhȋd menuntut para pendidik mempunyai pandangan yang menyeluruh dan tujuan sejati terhadap pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, konsep tauhȋd harus menjadi landasan pendidikan anak, termasuk: apa yang diajarkan (isi),  bagaimana kita mengorganisir dan apa yang harus diajarkan (struktur), bagaimana kita mengajarkannya (proses), yang menyangkut aspek ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Akhirnya, tauhȋd haruslah membentuk fondasi pemikiran, metodologi, dan praktik pendidikan kita. Oleh karena itu, konsep pendidikan Islam mesti dirancang sebagai pendidikan yang benar-benar holistik dan terpadu. Holistik dalam hal visi, isi, struktur, dan proses dan terpadu dalam pendekatannya baik terhadap kurikulum (bagaimana dan apa yang harus diajarkan), pengetahuan yang terintegrasi dengan praktik, aplikasi dan pelayanan. Konsep ini menegaskan bahwa aspek-aspek integratif secara signifikan akan meningkatkan kekuatan, relevansi, dan efektivitas pengalaman belajar dan mengajar.

Aspek Holistik Pendidikan

Aspek holistik

Contoh

Tujuan Pembelajaran seumur hidup, bersifat komprehensif, menjadikan anak didik sebagai ulǖ al-albǡb dan khaira ummah.
Pandangan terhadap anak Pemahaman anak secara utuh; pikiran, tubuh, jiwa, multi intelegensi.
Apa yang harus diajarkan Gagasan yang powerful dan pertanyaan-pertanyaan cerdas tentang dunia secara utuh.
Bagaimana mengorganisir Kurikulum terpadu; pembelajaran integrated.
Bagaimana mengajarkannya Sesuai dengan kemampuan anak didik (bi qadri uqǖlihim), bervariasi, transformatif dan kontekstual.
  1. F.   Konten Pendidikan Karakter

Wilayah kedua yang perlu direformasi adalah isi kurikulum, atau “apa yang diajarkan”. Secara umum tujuan pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan. Namun demikian, tujuan sejati dari pendidikan itu sendiri adalah lebih dari sekadar memberi informasi, melainkan untuk pengembangan manusia seutuhnya. Di dunia Barat sendiri saat ini juga disadari betapa pentingnya pendidikan karakter, misalnya di Amerika, para pendidik, politisi dan orang tua sekarang mulai sadar bahwa pendidikan karakter sangat urgen dan dibutuhkan sebagai komponen kunci dalam kurikulum sekolah, karena tanpa itu masyarakat tidak mempunyai jaminan untuk merasakan keamanan dan kedamaian seiring dengan banyaknya kemajuan teknologi yang ciptakan dan dimiliki.

Hal yang serupa juga dialami oleh masyarakat Muslim di abad ke 21 ini. Pertanyaan seruapa yang selalu muncul adalah apa peran pendidikan bagi peradaban bangsa? Apakah tujuan pendidikan hanya sekadar transformasi? Para perancang pendidikan harus bisa menjawab pertanyaan fundamental tersebut. Melihat pengalaman kita selama bertahun-tahun yang lalu, bahwa pendidikan tanpa karakter akan mencetak orang-orang yang melakukan eksploitasi, baik pada pada manusia maupun lingkungannya (ekologis). Empat belas abad yang lalu, Nabi besar Muhaammad saw. mengingatkan kita akan hal ini: “Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baik pula tubuh itu, tetapi jika ia rusak, maka rusak pulalah tubuh itu, segumpal darah itu adalah hati. Oleh karena itu, krisis yang dialami masyarakat Islam saat ini adalah hasil dari gagalnya mendidik hati/nurani sehingga implikasi pendidikan yang ada kurang berhasil secara optimal.

Konsep al-akhlāq al-Karîmah atau akhlaq karimah –bukan akhlaqul karimah— sering dipahami secara simplistik, artinya bahwa akhlak itu hanya dipahami sebatas sopan santun saja. Padahal al-akhlaq al-karimah itu mencakup berbuat kebajikan kepada semua, termasuk menjaga keseimbangan alam semesta ini (mencakup persoalan ekologi, HAM, keadilan, demokratisasi, ketimpangan sosial dsb.). Jika ini yang dipahami, maka kurikulum akhlak karimah menjadi wajib di semua lembaga pendidikan (apapun jenis dan jenjangnya). Sebagaimana kata adab, atau al-adab sering dipahami secara sederhana, tata karma atau sopan santun murid dengan guru atau anak dengan orang tua. Padahal al-adab itu memiliki ekstensi makna ta’dib yang berarti mengembangkan peradaban. Maka tidak mungkin seorang Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak, kalau akhlak ini hanya bermakna sopan santun. Apa mungkin itu? Bukankah menyederhanakan makna nubuwwah dan risalah-nya? Inilah akhlaq karimah yang sepadan dengan Ihsān, yang merupakan kelanjutan dari Islam dan Iman.

G. Catatan Akhir

Adanya anggapan, bahwa pendidikan Islam masih merupakan subsistem dari sistem pendidikan secara umum haruslah dilihat dalam kapasitas rancang bangun bagi para pakar pendidikan Islam untuk melakukan rekonstruksi pendidikan Islam tersebut.

Adapun konsep pendidikan Islam adalah berlandaskan kepercayaan bahwa pengembangan dan transformasi manusia, khususnya pengembangan karakter adalah tujuan sentral pendidikan. Oleh karena itu konsep pendidikan Islam harus mengembangkan program pendidikan yang yang menfokuskan pada karakter dan pengajaran nilai, yang menekankan pada isu identitas dan jati diri manusia, di samping juga mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam berkomukasi dan hubungan interpersonal, pelatihan pelayanan masyarakat dan kepemimpinan, melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan Islam haruslah disusun dan distrukturkan untuk memenuhi keseluruhan tujuan-tujuan tersebut di atas.

Kurikulum sebetulnya juga tidak saja yang verbal, yang tertulis mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, tetapi lebih dari itu ada kurikulum non-verbal (hidden curriculum) yang berupa uswah dan qudwah para pendidik, guru (termasuk pemimpin bangsa). Maka hakikat guru, pendidik dan pemimpin itu seharusnya semua ucapan, perbuatan dan ketetapannya menjadi panutan orang lain (murid, siswa dan yang dipimpinnya). Para ilmuwan Islam dan pengelola lembaga pendidikan di dunia Islam memiliki tanggung jawab dalam mengatasi masalah keterputusan antara nilai dan praktik yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Selama berabad-abad dunia pendidikan selalu dipahami sebagai proses transmisi dari pada sebagai proses transformasi. Pengajaran hanya difokuskan pada mentransfer informasi dan harus dihafal dari pada dilaksanakan atau diinternalisasi. Dalam era informasi dan meluasnya dunia multi media sekarang ini di mana internet dan komunikasi global menjadi trend, maka epistemologi Islami harus tetap dijadikan sebagai sistem nilai baik secara individual maupun sosial, khususnya dalam menghadapi masyarakat modern dan sekuler dewasa ini.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abud, Abdul Ghani dan Hasan Ibrǡhim Abd al-‘Al, al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Tahaddiyǡt al-‘Asr, (Dar al-Fikr al-‘Araby, 1990).

 

Abdul Bǡqi, Muhammad Fuǡd., tt. al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’ān al-Karim, (Beirut: Dār Ihyā al-Turath al-‘Araby, tt.).

 

Al-‘Aqqǡd, Abbǡs Mahmud . al-Insān fi al-Qur’ān, (Mesir: Dǡr al-Islǡm, 1973I).

 

Banabilah, Ibn Khaldǖn: Turǡsuhu al-Tarbawi, (Dǡr al-Kitab al-‘Araby, 1984).

 

Departemen Agama, al-Qur’ān dan Terjemahannya, (Jakarta: Departemen RI, 1998).

 

Hasan Sulaiman, Fatchiyyah al-Mazhab al-Tarbawi ’Inda Ibn Khaldun, (Maktabah Nahdah, tt).

 

Husaini, Ahmad Waqar, Islamic Environmental System Engineering (London: Macmillan Press, 1980).

 

Iqbal, Muhammad, The Reconstruction of Religion Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavana,1981).

 

Jurnal Komunikasi Perguruan Tinggi, Perta, 2002.

 

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, l994),

 

Muhammad Tolchah Hasan, Dinamikia Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Lantabora, 2006).

 

M. Zainuddin, Konsep Pendidikan Menurut Ibn Khaldun, (Malang, UIN Malang Press, 2009).

 

M. Zainuddin, Filsafat ilmu: Perspektif Pemikiran Islam, (Jakarta, Lintas Pustaka, 2006).

 

M. Zainuddin, Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab (Malang, UIN Press, 2007).

 

Najati, Usman, Jiwa dalam Pandangan Para Filsuf Muslim, terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah).

 

Saeed, Syeikh, Studies in Muslim Philosophy, (Delhi: Adam Publisher and Distributors, 1994).

 

Sulaiman, Fatchyyah Hasan, al-Mazhab al-Tarbawi ’Inda Ibn Khaldǖn, (Maktabah Nahdah, tt).

 

Tauhidi, Tarbiyah Project, (Makalah dalam International Conference on Islamic Education, 2003).

Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, (Yogyakarta: LKiS, 1994).


* Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

[1] Q.S. al-Nisǡ’ (4): 9 lihat juga al-Tahrȋm  (66): 6.

[2] Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, l994), 350.

[3] Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah (2):151 dan al-Jumu’ah (62):2, bahwa pendidikan dimulai dari tilǡwah, tazkiyah dan ta’lȋm  (al-hikmah).

[4] Bandingkan Mouleman, “Studi Islam di Indonesia” dalam Jurnal Komunikasi Perguruan Tinggi, Perta, 2002.

[5] Tauhidi, “Tarbiyah Project”, (Makalah dalam International Conference on Islamic Education, USA, 2003), 3-13.

[6] Di dunia Barat sendiri saat ini juga disadari betapa pentingnya pendidikan karakter, misalnya di Amerika, para pendidik, politisi dan orang tua sekarang mulai sadar bahwa pendidikan karakter sangat urgen dan dibutuhkan sebagai komponen kunci dalam kurikulum sekolah, karena tanpa itu masyarakat tidak mempunyai jaminan untuk merasakan keamanan dan kedamaian seiring dengan banyaknya kemajuan teknologi yang ciptakan dan dimiliki. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih dari itu adalah oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung oleh kemampuan soft skill daripada hard skill-nya. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

[7]Karena subjek pendidikan adalah manusia dengan segala dimensinya yang menjadi core dari nilai kemanusiaan (Pembahasan lebih detail tentang ini bisa dilihat, Abdul Ghani Abud dan Hasan Ibrahim Abd al-‘Al, al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Tahaddiyǡt al-‘Asr, Dar al-Fikr al-‘Araby, 1990), 42-43.

[8] Lihat Q.S. al-Tin (95): 4-6

[9] al-‘Aqqād, al-Insān fi al-Qur’ān, (Mesir: Dǡr al-Islǡm, 1973I), 21

[10] Lihat Q.S al-Tin 5-6 dan al-A’raf (7): 179.

[11] Lihat misalnya klasifikasi Abdul Baqi dalam al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Araby, tt.)

[12] Abdul Ghani Abud dan Hasan Ibrahim Abd al-‘Al, al-Tarbiyah al-Islamiyyah…. 46-47.

[13] Syeikh Saeed, Studies in Muslim Philosiphy, (Delhi: Adam Publisher and Distributors, 1994), 93, Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, (Yogyakarta: LKiS, 1994), 99-100. Lihat pula Usman Najati, Jiwa dalam Pandangan Para Filsuf Muslim, terj. Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah), 144-145.

[14] Bandingkan dengan konsep hulǖl Abu Yazid al-Bustǡmi, dan konsep Ittihǡd al-Hallǡj.

[15] Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religion Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavana,1981), 127.

[16]  M. Zainuddin, Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab (Malang, UIN Press, 2007), 97.

[17]Ahmad Waqar Husaini, Islamic Invironmental System Enginering (London: Macmillan Press, 1980), 9. Lihat pula QS al-An’ām (6): 11, al-Naml (27): 60, al-‘Ankabǔt (2): 20, al-Rum (30): 42.; Yǔsuf (120, 111, Sād (38): 43;  al-Mu’min (40): 53-54.

[18] Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li alfaz al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dār Ihyā al-Turāth al-‘Araby, tt.).

[19] M. Zainuddin, Filsafat ilmu: Perspektif Pemikiran Islam, (Jakarta, Lintas Pustaka, 2006),

[20] Dalam al-Qur’an, kata ‘ilm dan kata jadiannya disebutkan kurang lebih mencapai 800 kali. Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim (lihat Fuad Abdul Baqi, tt.:469-481) melaporkan, bahwa kata ‘ilm (ilmu) dalam al-Qur’an baik dalam bentuknya yang definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata yang berkait dengan itu seperti kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka menegetahui), ‘alim (sangat tahu) dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali. Kata ‘aql (akal) tidak terdapat dalam bentuk nomina, kata benda (mashdar), tetapi yang ada adalah kata al-albab sebanyak 16 kali. Dan kata al-nuha sebanyak 2 kali. Adapun kata yang berasal dari kata ‘aql itu sendiri berjumlah 49. Kata fiqh (paham) muncul sebanyak 2 kali, kata hikmah (ilmu, filsafat) 20 kali, dan kata burhan (argumentasi) sebanyak 20 kali. Belum termasuk kata-kata yang berkaitan dengan ‘ilm atau fikr seperti kata unzuru (perhatikan, amatilah, lihatlah), yanzhurun (mereka memperhatikan, mereka mengamati dan seterusnya) Selain itu, jika kita telaah kitab-kitab hadis, semuanya penuh dengan kata-kata ‘ilm tersebut. Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih karya Al-Bukhari kita dapati 102 hadis. Dalam Shahhih Muslim dan yang lain seperti al-Muwatha’, Sunan al-Tirmizi, Sunan Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah terdapat pula bab ilmu. Belum lagi kitab-kitab yang lain, misalnya Al-Faturrabbani yang memuat sebanyak 81 hadis tentang ilmu, Majma’ az-Zawaid memuat 84 halaman, al-Mustadrak karya An-Naisaburi memuat 44 halaman, al-Targhib wa ‘l-Tarhib karya Al-Wundziri memuat 130 hadis sedangkan kitab Jam’ al Fawaid Min Jami’ al-Ushul wa Majma’ alZawaid karya Sulaiman memuat 154 hadis tentang ilmu tersebut (Al-Qardawi, al-Rasul wa al-‘Ilm, terj. Kamaluddin A. Marzuki, (Bandung: Rasda, 1986),1-2. Lihat juga Weinsink, al-Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Hadits al-Nabawi, (Leiden, 1962), 312-339).

[21] Hanya saja konsep fitrah dalam perspektif Islam tidak identik dengan konsep tabolarasa-nya John Locke, yang menganggap anak ibarat kertas kosong, namun dalam konsep fitrah, manusia lahir sudah memiliki potensi baik yang perlu mendapat bimbingan dan pengembangannya. Di samping itu, manusia juga dianugerahi potensi oleh Tuhan berupa pendengaran (al-sam’u), penglihatan (al-bashar) dan mata hati (al-fuād) yang berguna bagi pengembangan keilmuan (lihat QS. Al-Nahl (16):78, al-Isra’ (17):36, al-Mu’minǖn (23):78, al-Sajdah (32):9, al-Insan (76):2, al-Mulk (67):23. Al-Sam’u mempunyai arti menangkap dan melestarikan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah digali dan ditemukan oleh orang lain, al-Bashar, memiliki arti mengamati dan mengkaji ulang untuk mengembangkan ilmu-ilmu tersebut sebagai proses pengayaan dan pengembangan, sedangkan al-Fuad berarti identifikasi dan klasifikasi untuk menarik kongklusi yang valid dan akurat (Tolchah Hasan, Dinamika Pendidikan….32-33).

[22] Kajian khusus tentang ini lihat M. Zainuddin, Konsep Pendidikan Menurut Ibn Khaldun, (Malang, UIN Press Malang, 2009), Banabilah, Ibn Khaldǖn: Turasuhǖ al-Tarbawi, (Dar al-Kitab al-‘Araby, 1984), 139-140, Fatchiyyah Hasan Sulaiman, al-Mazhab al-Tarbawi ’Inda Ibn Khaldun, (Maktabah Nahdah, tt).

[23] Diadaptasi dari tulisan Tauhidi, “Tarbiyah Project”, (Makalah dalam International Conference on Islamic Education, 2003), 3-13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *