PERADABAN MENURUT KONSEP ISLAM DAN BARAT

 

Para sarjana, negarawan, penulis dan jurnalistik menggunakan kata peradaban apa adanya. Akan tetapi tampaknya tak ada seorang pun yang yakin tentang arti peradaban yang sesungguhnya. Peradaban telah menjadi sebuah kata yang universal.

Kebanyakan orang yang memakai kata ini, tidak begitu memperhatikan implikasinya. Ini merupakan hal klise yang diulang oleh beberapa orang dalam kehidupan masyarakat.

Pada kenyataannya, peradaban memiliki arti yang sangat berbeda bagi setiap orang. Penggunaan (atau penyalahgunaan) kata peradaban memunculkan beberapa pertanyaan seperti: Apa itu peradaban? Apa unsur-unsur peradaban? Dan bagi kaum Muslim khususnya, peradaban menimbulkan sebuah pertanyaan penting, apakah relevansi peradaban terhadap Islam?

Para sejarawan, Orientalis, sarjana Arab dan Islam telah menghasilkan beberapa literatur tentang peradaban Islam pada pertengahan abad kedua puluh, tetapi tak seorang pun di antara mereka memberikan pengertian yang jelas tentang peradaban ditinjau dari segi istilah. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk meragukan beberapa hal dan berpura-pura mengerti tentang beberapa subjek, walaupun mereka sesungguhnya kurang memahami. Sebagian besar kaum intelektual juga berpura-pura mengerti tentang peradaban, tetapi mereka mungkin tidak mampu menjelaskannya kepada teman-teman dan kolega mereka. Pikiran manusia selalu mengelak; suka merasa puas dengan dugaan-dugaan yang samar daripada berpegang pada konsep-konsep yang sulit.

Misteri selalu membangkitkan minat manusia untuk mengetahuinya. Kata peradaban, tampaknya menggugah minat kita semua. Bagaimanapun, ini menjadi tugas para sarjana untuk menjelaskan konsep-konsep yang sulit tersebut bagi para pemula.

 

Pengertian Peradaban

 

Para penulis Arab memberikan istilah yang berbeda-beda untuk kata peradaban. Sejarawan Islam pertama yang menulis tentang peradaban adalah Ibn Khaldun yang menggunakan kata umran untuk menggambarkan konsep peradaban. Pengagum Ibn Khalid dan penerjemah al-Muqaddimah li Kitab al-Ibrar ke dalam bahasa Inggris, Prof. Franz Rosenthal menerjemahkan umran sebagai urbanization dan civilization.[i] Apa yang disebut dengan umran pada abad keempat belas memiliki arti yang sama dengan pengertian civilization (peradaban) pada abad kedua puluh. Ibn Khaldun adalah seorang penggagas studi tentang peradaban di dunia. Tulisannya diilhami oleh visi sejarah yang unik. Ketika Ibn Khaldun menggunakan kata umran, kata civilization belum ada dalam bahasa Inggris. Baru pada tahun 1772 M. istilah civilization muncul, tetapi Dr. Samuel Johnson (1709-84 M.) seorang penulis kamus bahasa Inggris, menolak memasukkan kata civilization[ii] dalam kamusnya. Dia lebih suka menggunakan kata civilizaty untuk arti yang sama. “Sejak saat itulah kata civilizaty menjadi sebuah kata yang lazim digunakan dalam seluruh bahasa modern yang berarti jenis tertentu atau tahap budaya yang telah ada selama masa tertentu.” Kata civilization pertama kali digunakan dalam buku-buku berbahasa Inggris[iii] pada abad kesembilan belas Masehi. Oleh sebab itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata dan konsep peradaban lahir di Eropa pada abad kesembilan belas Masehi.

Secara etimologi, kata civilization berhubungan erat dengan kata urbanization. Kata civilization (peradaban) berasal dari bahasa Latin, civitas, yang berarti city (kota). Alasan yang menegaskan asal kata ini adalah, bahwa setiap peradaban besar memiliki kota-kota besar dan karakteristik dasar peradaban yang paling mudah untuk diamati, ada di dalam kota.[iv] Beberapa antropolog juga menegaskan adanya fakta bahwa tiap-tiap peradaban meluas dari pusat kota, mempengaruhi daerah sekeliling, baik dalam bidang ekonomi, politik, mauopun budaya (misalnya peradaban Mesir, Aztec, dan Yunani).[v]

Dalam literatur Arab, kata umran  (berasal dari kata kerja amara) yang berarti “wilayah atau rumah yang didiami, berpenduduk, padat penduduknya dan sejenisnya dalam sebuah daerah yang maju atau makmur, bukan di daerah terpencil atau padang pasir atau daerah tandus. Kata umran  juga bisa berarti daerah koloni, daerah pertanian, daerah subur, gedung dalam suatu wilayah yang pembangunannya baik. Kata umran  merupakan padanan kata dari bunyan, yang berati bangunan, struktur, gedung pencakar langit, atau bisa berarti kegiatan membangun.[vi] Dengan kata lain, umran  mempunyai implikasi kehidupan menetap yang menjadi dasar bagi semua peradaban. Ibn Khaldun menggunakan kata umran  berulang kali dalam hubungannya dengan studinya tentang perkotaan yang dibangun oleh para penguasa Islam atau dinasti kuno.

Ibn Khaldun juga menggunakan kata hadharah [vii]di samping kata umran . Tetapi hadharah di sini hanya memiliki arti secentary life (kehidupan yang menetap).  Kata hadharah pada masa Ibn Khaldun sendiri tidak berarti civilization (peradaban). Penerjemah buku al-Muqaddimah menerjemahkan kata hadharah dari tulisan Ibn Khaldun sebagai sedentary (menetap). Perubahan semantik kata hadharah terjadi dalam bahasa Arab modern. Penulis Arab modern menggunakan kata hadharah sebagai sinonim untuk civilization (peradaban). Prof. G.E. Von Grunebaum[viii] menerjemahkan kata hadharah sebagai civilization. Secara literer, kata hadharah berarti daerah, distrik, atau wilayah dari suatu kota atau desa, dan kawasan pertanian.[ix] (Lawan kata badw).

Penulis Arab terkenal, Kurd Ali, mengefektifkan penggunaan kata hadharah dalam bukunya tentang peradaban, yang berjudul al-Islam wa al-Hadharah al-Arabiyyah, yaitu Peradaban Arab dan Islam. Dr. Muhammad Abdul Hadi, penerjemah buku Adam Metz, Die Renaissance des Islam (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Khuda Bukhsh, dengan judul The Renaissance of Islam, Patna, 1937) dengan judul bahasa Arab al-Hadharah al-Islamiyyah fi al-Qarn al-Rabi al-Hijri (Cairo, 1957). Penerjemahan kata renaissance dalam buku Adam Metz yang berjudul Die Renaissance des Islam ke dalam bahasa Arab oleh Dr. Muhammad Abdul Hadi sebagai hadharah secara literal tidaklah tepat. Kata renaissance dalam bahasa Arab adalah nahdhah. Oleh sebab itu, penggunaan kata hadharah oleh Dr. Muhammad Abdul Hadi lebih tepat diartikan sebagai renaissance. Penggunaan kata hadharah yang sembarangan oleh para penulis Arab modern semacam ini, mungkin mendiskreditkan kata hadharah tersebut dan menimbulkan keraguan yang serius tentang kesesuaian kata hadharah sebagai pengganti kata civilization (peradaban) dalam bahasa Arab. Demikian pula V.V. Bortold dalam bukunya (terjemahan Inggris) berjudul Mussulman Culture yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul al-Hadharah al-Islamiyyah. Dalam hal tertentu, hadharah memang berarti culture.

Tampaknya hadharah merupakan kata yang memiliki banyak arti dan luwes. Dari sudut pandang semantik, umran  dan hadharah mungkin berasal dari satu rumpun.  Penggunaan kata umran  pada abad keempat belas dan kata hadharah pada abad kedua puluh mungkin saja sama, tetapi keduanya tidaklah identik. Hadharah mengandung makna budaya kota maupun desa. Oleh karena itu hadharah dan civilization (peradaban) tidak sama dalam arti dan hubungannya. Inilah sebabnya mengapa kemudian para penulis Arab lebih suka menggunakan kata lain untuk menggambarkan peradaban daripada menggunakan kata hadharah.

Abad kesembilan belas berakhir, dan abad kedua puluh dimulai dengan munculnya kata madaniyyah   dalam tulisan beberapa sarjana Islam. Dua tokoh terpenting yaitu Muhammad Farid Wajdi dan Syekh Muhammad Abduh sama-sama menggunakan istilah madaniyyah  sebagai sinonim untuk kata civilization (peradaban). Wajdi memperkenalkan buku al-Madaniyyah  wa al-Islam (Peradaban dan Islam) tahun 1899 M. di mana buku ini merupakan sebuah buku yang bersifat apologis.


[i] Ibn Khaldun, The Muqaddimah, (terjemahan dalam bahasa Inggris oleh F. Rosenthal), Priceton, 1967, 1, lxxvii (Introduction).

[ii] Glyn Daniel, The First Civilization: the Archeology of Their Origin, London, 1968, hlm. 18

[iii] Buku pertama tentang peradaban adalah The Origins of civilization oleh John Labbock, diterbitkan pada tahun 1870; dan buku Anthropology, and Introduction to the Study of Man and civilization oleh Edward Taylor, diterbitkan pada tahun 1870.

[iv] J.R. Staryer, The Mainstream of Civilization Process, U.S.A., 1974,  xxviii.

[v] Darcy Riberio, The Civilization Process, Washington, 1968, hlm. 19

[vi] E.W. Lane, Arabic English Lexicon, 1, 2155-56

[vii] Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, Kairo, 1960, hlm. 211

[viii] G.E. Von Grunebaum, Islam: Essays in the Nature and Growth of a Cultural Tradition, London, 1969, hlm. 209

[ix] Lane, Op. Cit., 589

2 thoughts on “PERADABAN MENURUT KONSEP ISLAM DAN BARAT”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *