MTQ: PERGUMULAN ANTARA SYI’AR DAN GEBYAR

Tanpa mengingkari sedikitpun nilai positif dari MTQ, perlu diajukan pertanyaan di awal tulisan ini: apakah MTQ selama ini sudah berjalan sebagaimana mestinya? Yakni telah mencapai atau paling tidak mendekati tujuan idealnya dalam rangka terciptanya rasa cinta umat Islam terhadap al-Qur’an? Sudah barang pasti, penunjukan dari rasa cinta itu tidak semata-mata dilihat pada pelaksanaannya atau tumbuh-kembangnya institusi-institusi Qur’an seperti LPTQ, PIQ, PTIQ dan IIQ, atau membesarnya cabang-cabang yang juga mensyarah, menafsir, menghapal dan menulis khat indahnya. Namun juga –dan ini yang terpenting– adalah sejauh mana isi kandungan al-Qur’an itu dipikirkan dan diamalkan umat Islam secara benar, murni dan konsekuen?

Kami kuatir MTQ akan terjebak pada budaya pesta rutin setiap tahun  yang usai acara usai pula keberlangsungannya, hilang tak berkesan dan tak bermakna dalam kehidupan. Atau barangkali seperti yang disinyalir Emha Ainun Najib, terjebak pada ideologi seni untuk seni (art for art) yang terpenting dapat membuai dimensi estetik pembaca dan pendengarnya tidak perduli apakah ia sudah menyentuh  hati, pikiran dan perasaan. Atau agak baik, terjebak pada formalitas bahwa mendengar dan membaca al-Qur’an itu berpahala. Cuma sayangnya, keyakinan memperoleh pahala terlampau membabi buta seolah-seolah setiap mendengar dan membaca al-Qur’an mutlak menerima pahala. Padahal perkara menerima pahala tidaknya seesorang adalah urusan Tuhan. Boleh jadi lantaran keangkuhannya tersebut jusru membuat ia berdosa. apalagi persoalan berpahala tidaknya seseorang sesungguhnya bisa ditangkap dari prilakunya sehari-sehari. jika seseorang sehabis mendengar dan membaca al-Qur’an semakin baik berarti ia berpahala tapi kalau tidak dan bahkan bertentangan dengan kebaikan berarti ia justru  memperoleh dosa. Dan kebaikan prilaku seseorang  itu ukurannya tidak saja secara ritual individual tapi juga sosial.

Sebab kalau hanya sebatas itu pemahaman kita terhadap MTQ, betapa selama ini kita telah melakukan kemubadziran tak terhitung; banyak wktu, tenaga dan biaya terbuang sia-sia sementara hasil yang diperoleh hanya sekadar rekreasi rohaniah sesat belaka. Padahal al-Qur’an merupakan kalam Tuhan yang berisi ajaran-ajaran dahsyat yang mempunyai daya guna dan merubah jalannya sejarah. Menjadi berperadaban maju dalam wktu hanya 25 tahun bahkan pada giliran berikutnya kebudayaan bangsa Arab pernah menjadi kibalat kebudayaan dunia ketika zaman keemasan Daulat Umayyah  di Andalusia (Spanyol) dan zaman keemasan Daulat Abbasiyah di Bagdad (Irak yang lagi dihancurkan si jahanam Amerika dan Syekh-syekh Arab tak tahu malu).

Mungkin MTQ selama ini belum pernah smpai ke arah sana, tapi paling tidak sudah pernah mendekati keapda tergugahnya perasaan keagamaan umat Islam Indonesia ketika pertama kali dilaksanakan. Tapi kemudian semakin ke depan semakin mengalami penurunan penghayatan meskipun justru semakin semarak pelaksanaannya. Nampaknya kekhawatiran kami cukup beralasan, bahwa MTQ mungkin terjebak apda budaya pesta, seni untuk seni dan formalitas semata. Indikatornya jelas, bahwa hanya segelintir umat Islam yang mampu membaca, memahami dan mengamalkan al-Qur’an sedang selainnya lemah sekali bahkan justru banyak anak-anak dan remaja Islam kata Dr. Amin Aziz yang buta huruf al-Qur’an ; mereka lebih suka menghapal dan melagukan lagu-lagu barat, pop, dangdut dan sebagainya, juga lebih senang memabaca komik, novel, cerpen dan sebagainya daripada membaca dan menghapal dan melagukan ayat-ayat al-Qur’an, apalagi sampai memahami dan mengamalkan. Padahal hadits nabi saw, menyatakan : “Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an ibarat buah utrujah (semacam jeruk), rasanya manis dan baunya pun harum, sedang orang mumin yang tidak membaca al-Qur’an ibarat buah kurma manis rasanya, tapi tak berbau apa-apa. dan pelacur yang membaca al-Qur’an bagaikan bunga roihan (sejenis mawar), harum baunya tapi pahit rasanya, sedang pelacur yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan handlolah  (semacam brata wali, Jw.) rasanya pahit dan tidak berbau apa-apa. (HR. Bukhari). Dan lagi sabda Nabi SAW: “Yang sebaik-baik kamu ialah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”. Juga sabdaya yang lain: “Sesungguhnya seseorang yang berpagi-pagi pergi mempelajari ayat-ayat dalam kitabullah lebih baik daripada mengerjakan sembahyang sunnat seratus rakaat”. Selanjutnya sabda beliau lagi: “Siapa-siapa yang mempelajari kitabullah, kemudian diamalkannya isi yang terkandung di dalamnya, Allah akan menunjukinya dari kesesatan dan akan dipeliharanya pada hari kiamat dari siksa yang berat.”

Jadi hendaknya MTQ mampu mendorong umat Islam untuk memelajari dan mengajarkan al-Qur’an  sejak dini dalam rumah tangga keluarga dan masyarakat secara luas. Pencapaian ke arah sini dalam agama disebut sebagai syi’ar yakni berkembangnya rasa keagaman secara menyeluruh baik lahir maupn batin, dikira ukurannya pada kemewahan dan kesemarakannya seperti kalau MTQ itu mewah dan semarak pelaksanaannya, itu sering dikatakan telah mencapai shi’ar Islam. Padahal yang namanya syi’ar Islam lebih berorientasi pada kualitas ketimbang penampilan dan kulit semata-mata. Atau ringkasnya syi’ar itu lebih hening ketimbang gebyar. Tapi memang lazimnya perlombaan –meskipun itu perlombaan yang disakralkan– selalu terjadi tarik menarik antara kekuatan syi’ar dengan kekuatan gebyar. Persoalannya bukan lalu menghilangkan gebyarnya sehingga yang tinggal hanya syi’arnya , itu tidak mungkin karena perlombaan sudah sunnahnya membutuhkan gebyar, melainkan bagaimana gebyar ini jangan menjadi satu-satunya bahkan kalau mungkin ditekan sedemikian rupa shingga yang menonjol ke permukaan adalah syi’arnya.

Agar MTQ lebih mempu menghasilkan syi’ar, maka bagi para qori-qori’ah kata Imam Ghazalai membaca al-Qur’an harus dengan memahami kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati sampai ke tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian kandungan al-Qur’an yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bertemu dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebesaran Allah yang  mempuyai kalimat-kalimat itu. Dia harus yakin dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tapi adalah kalam Allah. (Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin). Sedang bagi pendengar (baca: hadirin)-nya diperintahkan Allah: “Apabila dibacakan al-Qur’an maka dingarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dnegan tena, agar kamu mendapat rahmat”, (Al-A’raf: 204) yakni dapat menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah, melunakkan hati yang keras, dan mendatangkan petunjuk. Sementara bagi pelaksanaanya  agar berusaha menciptakan dan menyediakan tempat yang mampu memunculkan suasana kekhusyu’an dan rasa khidmat sehingga setiap orang yang  ada di sama langsung memasuki suasana yang hening  penuh ketakjuban, kegaiban dan keajaiban keagamaan.

Kami berharap MTQ XVI di Yogyakarta ini mampu lebih menampilkan syi’ar ketimbang gebyar mengingat kota Yogya  terkenal sebagai kota budaya dan kota perjuangan bahkan kata Dr. Damardjati Supandjar sebagai kota jantung hati Indonesia yang lebih memihaki makna dan sisi ketimbang penampilan dan kulit. Apalagi MTQ XVI ini didahului oleh Muktamar NU 1989 dan Muktamar Muhammadiyah 1990 sehingga suasana keagamaan sudah jauh-jauh  hari telah tercipta. Selamat ber-MTQ pada biduan Tuhan dari berbagai propinsi di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *