MASA DEPAN DIALOG ANTARAGAMA

Paus Benekditus XVI dalam kunjungannya ke Jordan beberapa hari lalu berpesan, agar pemimpin Kristen, Muslim dan Yahudi memainkan peran lebih banyak untuk mencapai perdamaian.

Ada pemandangan menarik dalam konteks dialog antaragama yang dilakukan oleh Paus Benekditus XVI di masjid Raja Hussein bin Tala di Jordan beberapa hari lalu, yaitu Paus masuk masjid tanpa melepaskan sepatunya. Menurut juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, sebetulnya Paus hendak  melepas sepatunya, namun Imam Masjid melarangnya, karena jalan itu sudah disiapkan khusus untuk Paus (JP.10/5/2009). Peristiwa tersebut disaksikan oleh umat beragama seluruh dunia, dan ini artinya di Timur Tengah telah terjadi dialog antaragama yang begitu baik dan terbuka bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama. Ini merupakan dialogue of life atau dialogue in community yang patut diberikan apresiasi.

Sebetulnya dialog antaragama seperti ini tidaklah hal yang baru. Di dunia internasional, dialog antar agama telah terjalin dalam bentuk bilateral maupun multilateral, misalnya pada tahun 1958 di Tokyo diadakan kongres oleh The International Association for The History of Religion, demikian juga dialog Islam-Kristen di Swiss, Konferensi Vatikan antara pemimpin Katolik dan pemimpin Islam pada tahun 1970. Dalam beberapa tahun terakhir ini   (2004, 2006, 2008) PB NU telah tiga kali menyelenggarakan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) dengan tema Up Holding Islam as Rahmatan Lil-’Alamin, Peace Building and Conflict Prevention the Muslim World.

Sejumlah pemikir agama-agama yang membahas relasi antar agama di Brimingham pada April, 1970 berkesimpulan, bahwa dialog antaragama merupakan sesuatu yang urgen yang berada dalam kerangka relasi dan pencarian makna kebenaran yang hendak dicapai. Dialog harus mengarah pada kebenaran yang mengantarkan pada situasi di mana isi dan ajaran yang dipertentangkan satu sama lain dapat terlampaui. Tujuan dialog menurut mereka adalah memecahkan permasalahan kongkret yang terjadi dalam kehidupan keagamaan dan hidup sehari-hari dalam masyarakat.

Pada tahun 1964 Vatikan telah mendirikan sekretariat bagi agama non-Kristen (Pasific Council for Interreligious Dialogue-PCID) yang mempunyai misi mempromosikan kajian tradisi-tradisi agama lain dan mensponsori dialog antariman (interfaith dialogue). Vatikan II  juga telah mengeluarkan dokumen yang berisi tentang penghormatan terhadap orang-orang muslim, karena menurut konsili Vatikan II, orang-orang Islam juga menyembah Satu Tuhan Yang Maha Hidup, Abadi, Pengasih dan Perkasa. Mereka juga tunduk sepenuh hatinya kepada takdir Tuhan, sebagaimana yang dilakukan Ibrahim yang merupakan sandaran keimanan Islam. Walaupun mereka tidak mengakui bahwa Yesus sebagai Tuhan tetapi mereka mengakuinya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maryam, Ibu Yesus yang suci, menantikan Hari Perhitungan. Inilah awal inklusivisme Kristen, yang  meninggalkan semboyan lamanya: Extra Ecclesiam Nulla Salus  (Tidak ada keselamatan di luar gereja atau di luar agamanya) menuju pengakuan keberadaan agama lain.

 

Kendala Dialog Antaragama

Memang pada sementara orang-orang Islam masih ada keraguan menanggapi dialog agama ini. Gerakan dialog tersebut dianggap sebagai murni inisiatif Kristen Barat dan orang-orang Islam merasa diri mereka sebagai tamu yang diundang. Keyakinan mereka bahwa misi Kristen merupakan agenda tersembunyi (hidden agenda) dari Evangelism membuat mereka semakin tidak percaya dengan dialog antaragama. Ketidakpercayaan ini ditambah dengan ketidakadilan global Barat, khususnya dalam konflik Israel-Palestina dan beberapa kasus hegemoni Barat terhadap dunia Islam.

Berbagai dialog dan upaya kerukunan antarumat beragama telah dibangun oleh para elit agama di dunia, namun konflik  antarumat beragama masih terus berlangsung. Apa penyebab semua ini? Tidak menutup kemungkinan, bahwa belum tampaknya hasil yang signifikan dari pendekatan dialog dalam menyelesaikan konflik antarumat beragama selama ini karena pendekatan yang dilakukan masih bersifat top down, belum menggunakan model dialog yang bersifat buttom up sehingga bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan dan evaluasi penyelenggaraan dialog kerukunan di masa mendatang.

Dialog agama yang ada selama ini masih bersifat elitis dan belum menyentuh pada wilayah praksis dan populis, seperti perlunya mendialogkan isu-isu kemanusiaan universal: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, HAM, demokratisasi, keadilan, etika kehidupan berbangsa dan bernegara dan seterusnya. Dialog seperti ini bisa dilakukan karena setiap agama memiliki doktrin etika universal, misalnya doktrin lima prinsip (pancasila) oleh agama Hindu: tidak boleh berbohong, tidak boleh berzina, tidak boleh mencuri, tidak boleh mabuk-mabukan dan tidak boleh membunuh.  Doktrin ini sepadan dengan doktrin larangan Mo limo (Mo 5) agama Jawa: main, minum, madat, madon, dan maling. Demikian juga agama Islam dan agama Semitik lain juga memiliki sepuluh doktrin fundamental (The Ten Commandments) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam menjalin hubungan yang harmonis antarumat beragama perlu media atau ruang budaya (cultural-space), misalnya perlunya live in di komunitas berbeda agama (Pesantren-Islam, Gereja-Kristen, Pure-Hindu, Vihara-Budha, Biara-Katolik, Klenteng-Kong Hu Cu, dan seterusnya). Tempat-tempat di atas merupakan ruang budaya yang dapat mempertemukan di antara para pemeluk agama yang berbeda, dan dapat menimbulkan perasaan empati di antara mereka. Di sini para elit agama juga dapat berkumpul dan duduk bersama untuk memecahkan problem-problem kemanusiaan universal. Dialog agama bukan mendialogkan perbedaan-perbedaan doktrin yang ada pada setiap agama, namun dialog agama adalah dialog tentang problem kemiskinan, ketimpangan sosial, pengangguran, dan sebagainya.  Oleh karena itu, untuk mewujudkan dialog agama di masa depan perlu menjadikan agama sebagai media pemersatu umat. Melalui elit agama dan dialog antarumat beragama diharapkan muncul kesadaran bersama untuk menciptakan persaudaraan sejati berdasarkan spirit kebenaran universal agama. Terdapat banyak celah untuk menjalin kerjasama yang baik anatarumat beragama, karena ada ajaran yang bersifat universal yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan bersama, yaitu bahwa “berbuat kebajikan di muka bumi adalah hal yang imperatif dan terpuji”.

 

_________________

*Dr. M. Zainuddin, MA. adalah pengamat Hubungan Antaragama, penulis disertasi: Relasi Islam-Kristen (Konstruksi Sosial Elit Agama tentang pluralisme dan Dialog Antarumat Beragama di Malang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *