MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT

Manusia adalah makhluk mukallaf, yang dibebani kewajiban dan tanggung jawab. Dengan akal pikirannya ia mampu menciptakan kreasi spektakuler berupa sains dan teknologi. Manusia juga bagian dari realitas kosmos yang menurut para ahli pikir disebut sebagai  al-kain an-natiq,  “makhluk yang berbicara” dan “makhluk yang memiliki nilai luhur”.

Menurut Al-‘Aqqad (1973:21), manusia lebih tepat dijuluki “makhluk yang berbicara” dari pada sebagai “malaikat yang turun ke bumi” atau “binatang yang berevolusi”, sebab manusia lebih mulia ketimbang semua itu. Alasan ‘Aqqad ini tidaklah berlebihan, sebab menurutnya, “malaikat yang turun ke bumi“ tidak mempunyai kedudukan sebagai pembimbing ke jalan yang baik maupun yang buruk, demikian pula “binatang yang berevolusi”. Hanya manusialah yang mampu memikul beban dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah kepadanya. Oleh sebab itu, tidak heran pula jika ada yang mengatakan, bahwa manusia adalah “pencipta kedua” setelah Tuhan. Hal ini dapat kita pahami, betapa manusia yang dianugerahi rasio oleh Tuhan itu mampu menciptakan kreasi canggih berupa sains dan teknologi, sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu bersaing secara intelektual. Kelebihan intelektual inilah yang menjadikan manusia lebih unggul dari pada makhluk lainya, tetapi ia pun akan menjadi dekaden, bahkan lebih rendah nilainya dari binatang jika melakukan tindakan yang destruktif, melepaskan imannya (Lihat Q.S At-Tin 5-6 dan Al-A’raf: 179).

Dalam al-Qur’an istilah manusia disebut dengan kata-kata: al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam.

  1. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan.
  2. Al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang.
  3. Al-Insan diambil dari kata ins yang berarti jinak.

 

 

Al-Basayar berarti tampak baik dan indah, gembira, menguliti. Sebanyak 123 x kata al-Basyar disebut dalam al-Al-Qur’an pada umumnya bermakna gembira, 37 x bermakna manusia dan 2 x berkaitan dengan hubungan seks.

Kata al-Insan mengandung pengertian manusia sebagai makhluk sosial dan kultural/keilmuan. Al-Basyar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi (A. Mu’in, 1994:81).

Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Dia adalah unik. Tidak ada makhluk seunik dan seajaib seperti manusia. Manusialah yang mampu menguasai alam semesta ini. Binatang sebuas apapun dengan kreativitas akalnya bisa ditaklukkan. Dialah manusia ajaib.

 

Tentang Jiwa

Sebagaimana umumnya para filosuf beranggapan-termasuk Ibn Sina, al-Farabi dan juga al-Ghazali- bahwa jiwa itu tersusun   dari tiga jenis: jiwa nabatiyah, jiwa hayawaniyah dan jiwa insaniyah.

Jiwa nabatiyah adalah jiwa yang berfungsi untuk makan, tumbuh dan melahirkan, jiwa hayawaniyah adalah jiwa yang berfungsi mengetahui hal-hal kecil dan bergerak sesuai iradah dan jiwa insaniyah adalah jiwa yang melakukan perbuatan dan mengatahui hal-hal yang bersifat umum.

 

Insan Kamil Menurut Muhammad Iqbal

Menurut Iqbal, insan kamil adalah puncak dari perkembangan ego manusia, yang memiliki kekuatan berhadapan dengan Tuhan. Dari kekuatan ego tersebut juga menyebabkan manusia terangkat menjadi khalifah Tuhan. Menurut Iqbal, insan kamil adalah manusia yang mampu menyerap kebaikan-kebaikan Tuhan dalam dirinya. Tuhan dan manusia menurut Iqbal adalah dua entitas yang berbeda.

Relasi Tuhan dengan manusia menurut Iqbal bersifat bottom up, artinya bergerak dari manusia menuju Tuhan (At-Tafkir fi Khalqil-Llahi Ilat-Tafkir fi-llah) . Ini diambil dari hadis: Tafakkaru fi Khalqi-llahi wa La Tafakkaru fi Zatihi dan Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Nafsahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *