Kenapa Kita Menjadi Bangsa Yang Tertinggal?

Hingga saat ini bangsa Indonesia masih dilanda oleh pelbagai problem: sosial, politik, ekonomi, termasuk problem pendidikan. Pelbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah, tetapi masih belum memiliki perubahan yang berarti. Sebab upaya perubahan untuk menuju kepada kebajikan memerlukan komitmen yang tinggi, bukan sekadar basa-basi. Di bidang pendidikan, kita juga termasuk menempati tingkat pendidikan yang terpuruk jika dibanding dengan negara-negara lain, seperti Malaysia misalnya. Apa yang menyebabkan itu semua?
Konvensi Pendidikan Nasional Indonesia (Konaspi) ke-V menyimpulkan, bahwa salah satu penyebab terpuruknya pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kesejahteraan para pendidik. Profesi guru misalnya, tidak lagi menjadi profesi yang menarik, sebab menjadi guru tidak menjanjikan kehidupan yang memadai. Akibatnya, orang-orang yang memilih profesi guru bukanlah orang-orang pilihan. Kualitasnya cenderung pas-pasan. Lain halnya dengan profesi dokter, misalnya. Jadi, bisa dibayangkan lebarnya jurang kualitas mahasiswa yang masuk Fakultas Kedokteran dengan mahasiswa yang masuk Fakultas Ilmu Pendidikan. “Saat ini cukup sulit menemukan generasi muda yang bercita-cita menjadi guru. Ada anggapan menjadi guru itu pekerjaan sulit tapi gajinya kecil,” Demikian ujar Ketua Konaspi V Prof Dr Haris Supratna (Detik Com. Jumat, 08 Okt.2004).
Di Indonesia, gaji guru PNS golongan 3A, lulusan S-1 hanya sekitar Rp 700 ribu per bulan. Belum lagi guru bantu yang hanya mendapat Rp 460 ribu. Di samping itu, banyak guru honorer maupun guru tidak tetap yang gajinya jauh lebih kecil. Seperti hasil mapping yang penulis lakukan di madrasah se Malang Raya, penulis menjumpai di sebuah  Madrasah ada guru yang menerima gaji setiap bulannya hanya kurang dari 100 ribu rupiah. Di perguruan tinggi kondisinya tidak jauh beda, gaji guru besar yang senior haya sekitar Rp 2,8 juta. “Take home pay seorang rektor di Indonesia yang sudah guru besar paling-paling tidak lebih dari Rp 7 juta.” Demikian ujar Haris.
Apa dampak dari semua itu? Sepanjang waktu, guru dan dosen hanya mengajar dan mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, guru maupun dosen harus mengajar di banyak tempat, harus ngobyek, ilmu para pendidik kita tidak berkembang. Tidak ada waktu untuk melakukan penelitian atau kegiatan ilmiah lainnya.

Apakah kita harus segera merealisasikan anggaran pendidikan 20 persen APBN kita? Memang, jika dibanding dengan negara jiran kita, Malaysia, kita menjadi iri. Di sana anggaran pendidikan mencapai 26 persen. Di negara tersebut gaji guru yang baru mengajar minimal Rp 5,5 juta. Tidak jauh berbeda dengan dosen, sekitar Rp 7,5 juta. “Seorang guru besar di Malaysia mendapat gaji pokok 15 ribu ringgit atau skitar Rp 37,5 juta (kurs 1 ringgit = Rp 2.500),” terang Haris. Kenyataan ini memang penulis buktikan sendiri ketika memperoleh kesempatan Program Sendwich selama 10 hari di sana.
Seperti yang diusulkan Prof Mohammad Fakry Gaffar, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, hendaknya untuk guru yang baru mengajar minimal digaji  Rp 4 juta. Dosen baru layak digaji Rp 6-7 juta. Dan guru besar berkisar Rp 10-15 juta. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, apakah ada jaminan jika kesejahteraan meningkat akan berbanding lurus dengan kualitas pendidikan?

Penulis sependapat dengan Haris, setidaknya dengan standar gaji yang memadai, generasi yang berkualitas akan tertarik menjadi guru. Kualitas calon dokter dan calon guru bisa sejajar nantinya. Mungkin kita bisa menyoal: “Bukankah gaji anggota DPRD cukup tinggi, tapi kualitasnya justru jeblok?” Menurut Haris, profesi guru tidak bisa disamakan dengan anggota DPRD, karena input anggota DPRD rendah akibat pendidikan di parpol lemah. Ini hal yang berbeda dengan profesi guru.

Belajar dari Renessans Islam

Pada abad ini  7 M, terdapat dua pusat ilmu pengetahuan: di Haran dan Jundishapur. Tsabit bin Qurra’ dan anaknya, Sinan bin Tsabit, serta kedua cucunya, Tsabit dan Ibrahim adalah produk-produk pendidikan lembaga Aleksandria (Haran) ini, yang ahli dalam bidang matematika dan astronomi. Sementara di Jundishapur, Khosru Anusirwan (521-579) mendirikan lembaga studi filsafat dan kedokteran. Karena letaknya yang dekat dengan Baghdad, maka dengan mudah lembaga tersebut berpengaruh terhadap umat Islam di sana (C.A Qadir, 1989: 36, Watt, 1987: 56).

Saat itu posisi Jundhisapur  berdekatan dengan Baghdad, maka hubungan politis orang-orang Persia dengan khalifah Abbasiyah sangat erat, yang memiliki dampak positif bagi umat Islam di sana. Sejak awal Jundishapur telah menyumbangkan tabib-tabib istana, seperti halnya sejumlah keluarga Nestorian, Bakhtisyu yang mengabdi kepada khalifah dengan penuh hormat. Mereka juga banyak membantu pembangunan: rumah sakit dan observatorium di Baghdad dengan mengikuti pola Jundishapur selama pemerinyahan Harun Al-Rasyid (789-809) dan penerusnya Al-Makmun (813-833) (Majid Fakhry, 1983: 4, Watt: 56).

Satu hal yang perlu dicatat, bahwa ketika bangsa Arab menaklukkan negeri-negeri di Asia Barat dan Timur dekat, mereka tidak mengganggu urusan bahasa dan kebudayaan bangsa yang mereka taklukkan tersebut. Itulah sebabnya, di bagian awal sejarah Islam, sebelum dinasti Mu’awiyyah memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi, bahasa Persi dan Yunani tetap dipergunakan pada waktu itu, hingga secara resmi diganti dengan bahasa Arab. Oleh sebab itu karya Yunani yang masih ada sebagian berbahasa Persi dan sebagian lain tetap berbahasa Yunani (lihat C.A Qadir, 1989: 37).

Ilmu pengetahuan yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa dinasti Umayyah di bawah pemerintahan Marwan bin Hakam (684-685) adalah ilmu kedokteran. Ketika itu seorang dokter bernama Masarjaweh menerjemahkan buku yang ditulis oleh seorang pendeta bernama Ahran bin A’yun dari bahasa asli Suryani ke dalam bahasa Arab. Buku tersebut masih tersimpan baik di pertustakaan hingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (718-720). Kemudian buku itu dipindahkannya ke mushalla dengan maksud agar dapat dimanfaatkan oleh umum. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa orang yang pertama kali menterjemahkan itu adalah Khalid bin Yazid Al-Umawi (w. 678) dan buku yang diterjemah adalah ilmu kimia (Shun’ah) yang tekenal saat itu (Al-Ahwani, 1962: 31).

Segera setelah penobatan khalifah Abbasiyah, dilakukanlah penerjemahan karya-karya ilmiah dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab secara serius. Dimasa kekuasaan Harun Al-Rasyid telah banyak diterjemahkan karya mengenai astronomi, satu diantaranya adalah Siddhanta —sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibrahim Al-Fazari (w. 806). Sebuah karya astronomi lainnya adalah Quadripartitus karya Ptolemy dan karya-karya lain mengenai astrologi. Selain bernilai ilmiah, karya-karya terjemahan itu mempunyai nilai praktis. Yahya bin Bitriq misalnya telah menterjemahkan Timaeus, karya Plato dan De Anima, Analytica Priori dan Secret of Secret-nya Aristoteles.

Saat itu tidak hanya khalifah dan wazir-wazir saja yang menaruh perhatian terhadap para filosof dan ilmuwan, melainkan juga masyarakat biasa. Misalnya keluarga Banu Musa, seorang hartawan terpandang telah menyumbangkan banyak uangnya untuk keperluan terjemahan tersebut. Ia mengutus orang-orang pergi ke Byzantium untuk membeli naskah-naskah Yunani dan mengupah para penterjemah dengan harga tinggi. Beberapa karya selain astrologi dan matematika yang diusahakan adalah karya mengenai atom (the Treatise on the Atom) dan karya mengenai kekekalan dunia ( Treatise on the Eternity of the World), dua risalah yang bernilai filosofis (C.A Qadir, 1989:39).

Di Baghdad juga dibangun Lembaga Ilmu Pengetahuan (Bait al-Hikmah) tahun 830 oleh Al-Ma’mun (813-833) sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan filsafat yang sarat dengan fasilitasnya: ada perpustakaan,  laboratorium penterjemahan dan observatorium bintang. Penterjemah penting di Bait al-Hikmah ini adalah Hunayn bin Ishaq (w. 873) seorang Kristen Haran dan murid Hasawaih, seorang yang berjasa besar dalam menterjemah karya-karya medis klasik, ia sendiri juga sebagai dokter pribadi Harun Al-Rasyid. Di samping Hunayn, terdapat penterjemah lain, seperti Qusta bin Laqa (seorang Kristen juga) dan Tsabit bin Qurra’ (w. 901) dari kalangan penyembah bintang-bintang (Sabi’ah) yang bersama murid-muridnya menterjemahkan karya astronomi (lihat pula C.A Qadir, 1989:40).

Kemudian pada abad ke-10 muncul dua penterjemah terkemuka: Yahya bin ‘Adi dan gurunya, Abu Bisyr Matta yang memiliki kontribusi besar dalam menterjemahkan karya-karya Aristoteles, khususnya mengenai logika. Matta misalnya dianggap berjasa atas terjemahan karya logika Aristoteles:

Categories, Hermeunetica, Analytica Priora, Analytica Posteriora dan sebuah komentar tentang Isagoge Porphyry, pengantar pengantar Analytica dan a Treatise on Conditional Syllogism (Majid Fakhry, 1983:16).

Hampir semua sejarawan (baik Timur maupun Barat) sepakat, bahwa umat Islam memiliki peran besar dalam memberikan kontribusinya terhadap dunia Barat/Eropa pada abad pertengahan, baik di bidang sosial-budaya maupun ilmu pengetahuan. Berkembangnya ilmu pengetahuan Barat sekarang yang dapat melahirkan teknologi yang sangat canggih (sophisticated), tak lain adalah berkat ilmu pengetahuan yang telah berkembang selama kurang lebih tiga belas abad silam di tangan pekar-pakar Muslim kenamaan.

Jika orang Yunani adalah “bapak metode ilmiah”, simpul H.G Wells, maka, orang Muslim adalah “bapak angkat”-nya. Dalam perspektif sejarah, dunia modern sekarang ini mendapatkan sinarnya lewat orang Muslim, bukan lewat orang latin (Jujun, 1990:13). Baik Roger Bacon  –yang dianggap sebagai pencetus metode eksperimen di Barat –tak lain adalah hanya seorang yang telah mentransfer karya-karya kaum Muslimin, Seperti Ibn Sina dan Ibn Haitsam (lihat juga Madkur, 1986: 114).

Seperti yang telah kita lihat, bahwa kebudayaan dan peradaban Muslim masuk ke wilayah Eropa malalui dua cara: studi orang Barat ke Andalusia, dan melalui kontak perdagangan dan penterjemahan. Sebagaimana pengakuan Phillip K. Hitti (1970: 170), bahwa ilmu pengetahuan Islam dalam banyak hal merembes ke alam pikiran orang-orang Barat. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah Spanyol Islam yang menunjukkan salah satu perkembangan yang terbaik di Eropa pada abad pertengahan. Antara pertengahan abad ke-8 dan permulaan abad ke-13 bangsa Arab merupakan pendukung utama suluh kebudayaan dan peradaban di seluruh dunia, serta pengantar munculnya renaissace di Eropa Barat. Hitti lantas menunjuk para penulis kenamaan Islam, misalnya: Ibn Hazm (994-1064) seorang penulis produkltif (kurang lebih 400 buah karyanya) mengenai: sejarah, teologi, hadits, ilmu mantiq dan puisi, Ibn Zaidun (1003-1071) seorang penyair utama bangsa Arab, Ibn al-Khatib (w. 1371) dan Ibn Khaldun (1332-1406) seorang pakar sejarah (ilmu sosial), Ibn al-Awwan penulis risalah mengenai biologi yang sangat bagus, Ibn al-Baitar ahli media dan Ibn Thufail (w. 1185) dengan karya populernya Hay bin Yaqqdhan, yang oleh banyak penulis dianggap mengilhami Danile Defol dengan karyanya Robinson Crusoe (lihat Hitti,1970:170-185).

Saat itu banyak para mahasiswa Eropa yang belajar di Universitas-universitas di sana, Cordova, Sevilla, Malaga dan Granada. Paus Sylvester II adalah orang nomor satu gereja yang datang ke Cordova untuk belajar matematika dan astronomi. Dia pulalah yang mengintrodusir angka Arab (ghubar) yang digunakan di Spanyol ke dunia Barat. Pada saat itu umat Islam juga tampil sebagai pedagang-pedagang besar dalam lalu lintas perdagangan internasional, sehingga peradaban dan kebudayaannya mengelaborasi dari Asia hingga Eropa (lihat Nouruzzaman, 1986: 96).

Transmisi ilmu pengetahuan Eropa melalui penterjemahan dilakukan dengan gencar sekali. Penterjemahan buku-buku bahasa Arab ke bahasa latin telah ditemui sejak abad ke-9. Di perpustakaan Tripoli diketemukan dua buah manuskrip yang tercatat dalam sejarah pada abad-10  berbahasa Latin yang berasal dari bahasa Arab. Usaha besar-besaran untuk menterjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin terjadi pada abad 12-13, yang berpusat di Cordova. Meski setelah kota tersebut jatuh ke tangan umat Kristiani (1085) dan tidak pernah lepas dari cengkeramannya, situasinya tetap tidak berubah, peradaban dan kebudayaan Muslim tetap bersinar. Hingga dua abad kemudian penduduk Toledo masih menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan juga bahasa resmi (Nouruzzaman, 1986: 99, Madkur, 1986:126).

Gerakan penterjemahan ini disemangati oleh Alfonso yang mendapat julukan “Si Bijak” raja Castilla (1252-1284). Ia juga seorang pakar berbagai disiplin ilmu, termasuk yang menulis karya Cronica General yang salah satu babnya berisi sejarah hidup Rasulullah, begitu juga dengan penterjemahan buku Kalilah wa Dimnah. Toledo memiliki para penterjemah terkemuka dan profesional. Penterjemahan mula-mula dilakukan dari bahasa Arab ke bahasa Ibrani, atau ke bahasa Castilla, baru kemudian ke bahasa Latin. Ini berbeda dengan orang-orang yang menterjemahkan pertama-tama dari bahasa Yunani ke bahasa Syiria. Meski begitu ada juga orang-orang yang Latin yang mampu menterjemahkan langsung dari bahasa Arab ke bahasa Latin, sebagaimana juga ada orang Arab yang mampu menterjemahkan langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Arab (lihat Nouruzzaman, 1986:102 dan Ibrahim Madkur, 1986:129).

Di antara para pakar luar Spanyol yang pernah bekerja sebagai penterjemah di Toledo tercatat nama-nama seperti: Gerard dari cremona (Itali) meninggal tahun 1187, Michael Scott, Inggris (m. 1236) dan Robert dari Chester (Inggris).

Tidak diragukan lagi bahwa filsafat Kristen telah dipengaruhi oleh filsafat Islam sejak abad ke-12, ketika orang-orang Latin mengadakan kontak dengan orang-orang Arab melalui Sicilia dan Andalusia dan terjemahan buku-buku. Pengaruh tersebut begitu kuat dan bergema selama dua abad sesudahnya hingga era renaissace. Kita hampir tidak menemukan tokoh terkemuka abad 13 yang tidak mempunyai hubungan dengan Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Jika Siger dari Brabant (m. 1282) adalah seorang pendukung bersemangat Ibn Rusyd, maka Roger Bacon lebih mendukung Ibn Sina, sementara filsafat St. Thomas Aquinas telah menggabungkan filsafat Ibn Sina dan Ibn Rusyd (Madkur, 1986:139,140). Demikianlah karya-karya Muslim telah banyak diterjemahkan, mulai dari Ibnu Thufail, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Khawarizmi dan seterusnya.  Toledo memang jembatan bagi dunia Barat dalam mencerdaskan bangsa dan perasaan seni. Sementara menurut Abdus Salam (1983:9), Toledo dan Salerno merupakan awal penciptaan sains di dunia Barat. Di sana sebuah pelita dinyalakan cemerlang. Di sinilah maka ketika George Sarton – seorang pakar sejarah sains – membagi daur era penciptaan sains, Islam tampil progresif. George Sarton membagi prestasi sains ke dalam beberapa era, dimana setiap era berjangka waktu sekitar setengah abad, dengan separoh abad diasosiasikan seorang tokoh utama:

Pertama, tahun 450 sampai 400 S.M adalah era Plato, yang lantas diikuti oleh oleh Aristoteles, Euklides dan Archimedes;

Kedua, dari tahun 600 sampai tahun 700 M adalah era China dengan tokoh utamanya Hsiian Tsang dan I Ching;

Ketiga, dari tahun 750-1100 M, 350 tahun secara kesinambungan adalah Jabir, Khawarizmi, Razi, Mas’udi, Wafa’, Biruni, Ibn Sina, Ibn Haitsam dan Umar Khayam, mereka adalah bangsa Arab, Turki, Afghan dan Persia dari persemakmuran Islam. Baru sesudah tahun 1100 ini  muncul nama-nama Barat untuk pertama kalinya: Gerardo dari Cremona dan Roger Bacon, tetapi kehormatan ini masih harus dibagi selama 250 tahun berikutnya dengan nama-nama Ibn Rusyd, Nasiruddin, Thusi, Ibn Nafis, para ahli yang mendahului Harvey dalam pengembangan ‘teori perkembangan darah’. Ya, kalaulah tidak karena persinggungan dengan dunia Islam niscaya bangsa Barat tak akan semaju seperti sekarang.

Filsafat Islam, meskipun mengalami gerhana pada abad ke-5 H/11 M di Persia dan negeri-negeri Islam timur lainnya akibat serangan Syahrastani, Al-Ghazali, dan Fakhruddin Al-Razi, tidaklah sekadar hijrah ke Spanyol dan menikmati  musim semi yang singkat di tangan Ibn Bajah, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd dan akhirnya mati mengering di ujung Barat dunia Islam. Filsafat Ibn Sina dihidupkan kembali oleh Nashiruddin Thusi dan kelompoknya di abad ke-7 H/13 M,  sementara dua generasi sebelumnya suatu perspektif intelektual yang baru mulai diperkenalkan oleh Syuhrawardi yang menamainya mazhab Pencerahan (isyraq). Lebih lanjut, “sains mistisisme” atau ‘irfan (gnosis) terumuskan kira-kira pada waktu yang bersamaan oleh Ibn ‘Arabi dan segera mulai berinteraksi dengan cara yang sangat kreatif dengan tradisi filsafat Islam maupun dengan teologi atau kalam yang saat itu telah menjadi semakin “filosofis” (S.H Nashr dalam Yazdi,1994: 8).

Hasil dari semua perkawinan-silang ini adalah beberapa kegiatan filsafat yang ekstensif di Persia yang ditandai oleh tokoh-tokoh seperti Quthbuddin Syirasi, Dabiran Katibi, Atsiruddin Abhari, Ibn Turkah Isfahani, keluarga Dasytaki serta tokoh-tokoh lain yang sedikit sekali dikenal di dunia Barat. Masa pendekatan dan pencampuran ini, yang berlangsung selama kira-kira tiga abad, mencapai kulminasinya dengan Mazhab Isfahan yang di bangun oleh Mir Damad pada abad ke10 H/16 M dan mencapai titik puncaknya pada Mulla Sadra, muridnya.

Meskipun terjadi pasang surut pada masa akhir periode Safawi dan pengrusakan sebagian besar kota Isfahan akibat sebuan bangsa Afghan pada abad ke-12 H/18 M, namun obor filsafat Islam yang menyala kembali di tangan Mulla Sadra terus berlanjut hingga masa dinasti Qajar ketika sekali lagi Isfahan, di bawah Mullah ‘Ali Nuri menjadi pusat besar filsafat ini, sementara Teheran juga mulai muncul sebagai pusat kegiatan filsafat sejak abad ke-13 H/19 M hingga seterusnya. Selama masa ini sejumlah filosof penting seperti Hajji Mullah Hadi Sabziwari dan Mullah ‘Ali Zunuri muncul di atas gelanggang dan menulis makalah-makalah penting yang dibaca kalangan-kalangan tradisional Persia hingga sekarang. Mereka juga melatih banyak siswa yang mengemban tradisi yang hidup dari mazhab ini dengan menekankan pengajaran secara lisan dan tulisan hingg amasa dinasti Pahlevi dan dunia semasanya (Nashr, dalam Yazdi, 1984:8).

Demikianlah kemajuan sebuah bangsa terukir oleh etos dan elan dinamika keilmuan yang dibangun bersama antara warga masyarakat dan penguasanya. Keduanya gayung bersambut untuk memajukan sebuah negara. Jika pada zaman pertengahan, umat Islam mampu menjadi pioner dunia, mengapa sekarang tidak? Jika dulu kita menjadi guru Malaysia, kenapa sekarang kita tertinggal jauh dengan mereka? Dapatkah kita memimpin dunia di bidang sains? Dengan optimis Abdussalam (1983:19-20) menjawab, bisa! Asalkan, katanya, masyarakat secara keseluruhan –terutama kaum mudanya– bersedia menerima kenyataan sebagai tujuan yang diidam-idamkan. Generasi muda sekarang harus didorong untuk berfikir ilmiah, mengejar sains dan teknologi dengan menggunakan Pendapatan Nasional Bruto untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, paling sedikit sepersepuluhnya. Hal demikian telah dilakukan oleh Jepang ketika revolusi Maiji. Kaisar Jepang bersumpah akan mencari ilmu pengetahuan dari manapun datangnya meski dari sudut-sudut bumi ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh Uni Soviet enam puluh tahun lalu, ketika Akademi Ilmu Pengetahuan berambisi untuk unggul dalam sains. Dan langkah ini pulalah yang sekarang sedang ditiru secara berencana oleh RRC yang hendak bersaing dengan Inggris Raya.

Penguasaan sains dan teknologi begitu pentingnya, hingga Sutan Takdir Ali Syahbana (1992) menghimbau  –dalam konteks Indonesia– untuk menghadapi masa depan umat manusia, maka bangsa Indonesia harus meningkatkan kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan jalan menyediakan dana sebanyak mungkin untuk pengiriman generasi muda ke luar negeri, ke pusat-pusat ilmu pengetahuan. Dan cara lain menurut Takdir adalah menterjemahkan karya-karya sains dan teknologi tersebut. Dia mencontohkan, ketika Jepang belum maju seperti sekarang mereka berusaha menterjemahkan buku-buku berbahasa asing. Sejak 150 tahun yang lalu orang Jepang sudah melakukan penterjemahan sekitar 2000 hingga 2500 buku setiap tahunnya. Dan tahun 1990-an Malaysia sudah mampu mengirimkan mahasiswanya ke luar negeri sekitar 7000 setiap tahunnya. Tapi Indonesia, katanya, 3000 saja (waktu itu) tidak mampu, sementara upaya penterjemahan buku-buku sains maksimal hanya 100 buku saja. Jalan lain untuk menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menjadikan kampus sebagai pusat riset dan pengembangan ilmiah@

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *