KEBEBASAN BER-AGAMA DAN KONTEKS CIVIL SOCIETY

Kebebasan Beragama

Wacana kebebasan ber-agama telah banyak dikaji oleh hampir semua lapisan masyarakat dan telah berlangsung cukup lama dalam perjalanan sejarah keberagamaan di indonesia. Disatu pihak kebebasan agama dipandang sebagai sesuatu yang absah baik secara sosial maupun teologis sedang dipihak lain dianggap sebagai pengingkaran dan pelanggaran terhadap agama yang diyakininya. Pemahaman terhadap makna kebebasan agama juga sangat beragam, baina tasyaddud wa tasyayyub. Sebahagian kelompok lebih memilih sikap tawassud.

Sebagaian mengartikan kebebasan agama sebagai kebebasan memilih agama yang diyakininya seraya menyakini semua agama benar dan menjanjikan kesalamatan ukhrawi, dan karennya tidak mengapa keluar masuk (murtad) kedalam satu agama. Sebagian mengartikannnya, memang setiap umat manusia bebas memilih keyakinannya, tetapi kebenaran hanyalah satu, yaitu agama yang dipeluknya. Sementara agama diluar keyakinannya adalah tidak benar. Toleransi merupakan wujud dari pengakuan kebebasan memilih keyakinan. Sebagian lagi mengatakan tidak ada kebebasan agama. Hanya ada satu agama yang benar. Tugas umat manusia adalah berdakwah, mengajak kedalam agama yang benar sekalipun dengan pemaksaan, sekalipun dengan menghunus pedang dalam peperangan. Keluar masuk dalam satu agama adalah pelanggaran akidah dan karenaya halal darah tertumpah.

Tidak cukup disitu, untuk mengokohkan pandangannya, masing-masing menghadirkan teks-teks keagamaan pilihan “hati nuraninya” (karena saya yakin mereka menggunakan nurani) dan melakukan interpretasi sepihak, seraya menolak teks-teks pihak lain yang anehnya berasal dari  sumber yang sama. Sehingga tampak dipermukaan adalah pertarungan ayat melawan  ayat atau hadist melawan hadist. Kalaupun ahirnya ada yang terkalahkan maka salah satu ayat itulah yang terkalahkan. Dan merekalah yang mengadunya.

Kelompok pertama seringgunakan ayat-ayat La ikraha fiddin qad tabayyana ar-rusydu min al-ghayyi (al-baqarah [2]:256) ,  faman sya’a falyukmin wa man sya’a falyakfur (al-kahfi [18]: 29), lakum dinukum waliyadin,(al-kafirun [109]:6) , walau sya’allah laamana man fil ardhi kulluhum jam’an afa anta tukrihu an-nasa hatta yakunuu mukminin?(yunus [10]:99), likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja walau sya’allahu laja’alakum ummatan wahidah(an-nahl[16]:93). Walau sya’a rabbuka laja’ala an-nasa ummatan wahidah wala yazaluna mukhtalifin illa man rahima rabbuka wa lidzalika khalaqahum.(hud [11]:118)

Sedangkan kelompok anti kebebesan beragama menggunakan ayat dan hadist : walan tardha anka al-yahudu wala an-nashara hatta tattabi’a millahum(al-baqarah [2]:120), inna ad-dina indallai al-islam(ali imran [3]:19), waman yabtaghi ghairal islama dina falan yuqbala min wahuwa fi al-akhirati laminan khasirin (ali imran [3]:85), qatilu al-ladzina la yu’minuna billahi wala bi al-yaumi akhiri (at-taubah [9]: 29), man baddala dinahu faqtulu.  Sementara kelompok yang memilih jalan tawassud lebih suka menggunakan ayat-ayat : la yanhakumullahu anilladzina lam yuqatilunakum fi addin walam yuhrijukum min diyarikum an tabarruhum wa tuqsithu ilahim innallahu yuhibbul muqsithin (al-mumtahanah [60] :8), wala tajidanna aqrabahum mawaddatan lilladzina amanu alladzina qalu inna nashara dzalika bi anna minhum qissisina wa ruhbana wa annahum la yastakbirun (al-maidah[5] : 82) , innalladzina amanu wa alladzina haadu wa an-nashara wa ash-shabi’ina man amana billahi wal yaumil akhiri wa amila shalihan falahum ajruhum inda rabbihim wa la khaufun alaihim walahum yahzanun (al-baqarah[2]: 62).

 

Pluralitas dan Pluralisme Adalah Sunnatullah

Keragaman agama merupakan fenomena sosial sekaligus teologis di tengah-tengah kehidupan umat manusia.  Keragaman agama seakan menjadi karya besar allah untuk menguji umat manusia mana diantara mereka yang mampu memamfaatkan karunia tuhan dan mana diantara mereka yang mampu memenangkan perlombaan meraih kebaikan. Agaknya allah dengan kasih sayang dan kemaha bijaksanaannya tidak menginginkan hambanya berada dalam komonitas keberagamaan yang tunggal. Keragamaan agama telah terjadi bersamaan dengan lahirnya sejarah kemanusiaan itu sendiri. Hampir seluruh nabi-nabi mengalami keragaman keyakinan pada masanya.

Tapi, mengapa isu pluralisme (pluralitas) seakan menjadi fenomena baru yang keberadaannya dianggap mengancam kesatuan umat. Fatwa dan pandangan keharaman pluralisme oleh beberapa organisasi dan lembaga keagamaan membuktikan masih adanya kehendak lain untuk melawan kehendak  allah. Keberagaman keyakinan adalah sunnatullah  wa lan tajidu lisunnatillahi tabdila. Ada beberap ayat dalam al-qur’an yang secara dhahir menegaskan hal itu.

 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99) وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (100)

 

Jikalau allah yang mengatur alam ini  berkehendak niscaya seluruh yang berada dibumi  telah beriman kepadanya, maka apakah engkau akan memaksa umat manusia agar mereka semua  beriman ( padahal allah tidak menghendakinya). Tidak ada seorangpun yang mampu beriman kecuali dengan izin allah. Dan allah akan menimpakan kemurkaan kepada orang yang tidak menggunakan akalnya. (QS yunus, 99-100)

 

Ayat ini menegaskan bahwa allah  sendiri tidak menghendaki imana man fil ardhi jami’an, seraya menegur kanjeng nabi muhammad yang dengan semangat menjalankan perintah allah dan kasih sanyang kepada umat manusia, memaksa mereka agar beriman. (al-biqa’i juz 4, hlm 117). Kanjeng nabi menginginkan semua umat manusia  dalam satu imam. Keinginan itu didorong oleh kasih sanyang nabi yang begitu besar kepada  umatnya sebagai nabi pembawa rahmat kepada seluruh alam. Semangat kebaikan itulah yang memotivasi nabi untuk mengajak bahkan memaksa  umatnya dalam satu imam. Tetapi, Allah menegurnya, bahwa keberimanan adalah kehendak allah semata. Tidak ada seorangpun yang boleh memaksa agar semua manusia dalam satu iman sekalipun hal itu dilandasi dengan niat  baik dan tulus.

Dalam ayat lain allah berfirman : (al-ma’idah, 48.

 

 وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ( 48)

Ayat ini menegaskan bahwa, Untuk tiap-tiap umat, umat nabi muhammat umat nabi-nabi sebelumnya, allah menjadikan cara bersyari’at dan jalan yang terang. At-tabari  menafsirkan penggalan ayat “likullin” dengan likulli millatin, yang berarti untuk tiap-tiap keayakinan. Kata syir’atan merupakan masdar nau’  yang dalam gramatika arab mengikuti wazan fi’lah yang berarti cara bersyari’at. Ini berarti masing-masing umat memiliki cara bersyari’at yang berbeda-beda namun tetap dalam bingkai agama yang satu yaitu tauhidillah dan al-ihlash lillahi, suatu agama yang dibawa oleh semua utusan allah. . Penggunakan redaksi nakirah juga bisa menunjukkan makna “al-kastrah” yang berarti ada banyak  cara beragama yang telah diciptakan allah. Pengingkaran terhadap keragaman ummat dan keragaman beragama adalah melawan masyi’ah allah. Keberagaman itu seharusnya justru melecut masing-masing pemeluk agama untuk berlomba mengejar kebaikan-kebaikan. Penggunaan kata al-kairat dengan redaksi jama’ yang dibubuhi ” al ” mengandung makna bahwa kebaikan yang diperebutkan bukanlah kebaikan tunggal. Maka bisa jadi masing-masing umat mendapatkan kebaikan sebagaiman kebaikan yang didapatkan pemeluk agama lain. Allah tidak menginginkan masing-masing umat mengklaim dirinya sebagi pemenang peraih kebenaran. Sebab itulah allah mengakhiri ayat ini dengan ” hanya kepada allah tempat kembali kalian semua, lalu allah akan mengkabarkan kepadamu tentang  apa kalian perselisihkan”.  Bagaimana jika misalnya allah mengkabarkan bahwa semua umat sebagai pemenang peraih kebenaran? Sementara kita sudah kadung memplokamirkan diri sebagai pemenangnya? Biarlah allah nanti yang memutuskan apa yang kita perselisihkan dan kita perebutkan. Menghukumi pemeluk agama sebagai kelompok yang sesat sama halnya meyerobot hak allah.

Dalam ayat lain, al-qur’an semakin ingin menegaskan bahwa keberagaman adalah sunnah allah. Dan karena alasan itu pula allah menciptakan uamat manusia.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119(

Kalaulah allah berkehendak niscaya allah menjadikan manusia uamat yang satu. Dan mereka selalu saja berselisih. Kecuali orang-orang yang dikasihi allah. Padahal karena itulah mereka diciptakan. Telah sempurna kalimat tuhanmu , sungguh kami akan penuhi jahannan dengan dengan jin dan manusia.

Ayat ini menandaskan bahwa untuk tujuan ikhtilaf itulah allah menciptakan manusia. Kalaulah bukan karena tujuan itu mungkin allah tidak akan menciptakan alam dan isinya. Jadi keperbedaan keyakinan mengandung hikmah yang besar. Dengan berbeda maka manusia tertangtang untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Itulah makna fastabiqul khairat.

 

Ayat di atas senada dengan ayat :

 

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (8)

 

Para mufassir  berbeda pendapat tentang makna” ummatan wahidah“.sebagian mereka menafsirkan dengan “al-muslimina kullahum”. Sebagian lagi menafsirkan dengan ” ahla millati wahidatin wajama’atin wahidah ala dinin wahidin “. (at-Tabari, 21 hlm 505) Terlepas dari berbagai penafsiran itu, Sepertinya Allah memang tidak menghendaki umat manusia berada dalam satu model keberagamaan. Prularitas keberagamaan adalah sunnatullah walan tajidu lisunnatillahi tabdila. Menginginkan keberadaan umat manusia berada dalam satu keimanan sama halnya dengan melampaui kehendak Allah. Manusia tidak akan mampu mengubah sunnatullah itu, yang bisa dilakukan adalah saling amar ma’ruf dan nahi mungkar seraya memahami dan menghargai keperbedaan.

Akan tetapi, pluralisme bukanlah paham yang meyakini semua agama adalah sama. Pluralisme merupakan paham yang secara eksplisit mendorong agar keragaman dijadikan sebagai potensi untuk mebangun toleransi. Bahkan lebih dari itu, toleransi yang dikehendaki oleh pluralisme adalah toleransi yang berdasarkan pemahaman yang menyeluruh, baik, dan tepat terhadap orang lain (Zuhairi, al-qur’an  kitab toleransi, 208)

 

Toleransi Sebagai Wujud Pengakuan Keragaman Beragama

Toleransi merupakan keniscayaan dari keberbedaan keyakinan. Artinya karena berbeda maka ada toleransi. Toleransi tidak diperlukan jika umat manusia berada dalam satu keyakinan, satu keimanan yang sama. Toleransi adalah wujud dari pengakuan adanya  pluralitas keyakinan. Toleransi adalah kesedian individu atau kelompok untuk menerima beragam perbedaan pandangan dan seakaligus memiliki sikap saling menghormati dan menghargainya. Toleransi tidak diperlukan jika kita mengatakan bahwa semua agama benar. Menyatakan semua agama benar bukanlah wilayah toleransi, melainkan justifikasi. Justifikasi akan melahirkan tasykik pada pemeluk agama tertentu. Memang saat ini berkembang pemahaman yang membenarkan semuan agama yang justru bertolak dengan spirit toleransi. Ayat yang menyatakan ” faman sya’a fal yu’min waman sya’a falyakfur” bukanlah pengakuan atas kebenaran semua agama, melainkan pengakuan atas tiadanya pemaksaan dalam agama sebagai wujud dari toleransi..

 

Toleransi bukan hanya sebagai keharusan sosial, melainkan secara teologis diperintahkan. Sikap toleran bukan hanya disabdakan oleh kanjeng nabi Muhammad  melainkan dipraktekkan dalam masyarakat majmu’ kala itu. Dikisahkan, pada suatu hari  delegasi dari Kristen Najran   datang menemui Rasulullah. Rasulullah menerima mereka di dalam masjid. Saat itu itu nabi sedang menunaikan shalat ashar. Kemudian delegasi itu meminta kepada rasulullah untuk mengadakan kebaktian didalam masjid. Rasulullah menjawab, ” biarkan mereka menjalankan kebaktian dimasjid ini”.  Mereka pun lalu menjalankan ibadah didalam masjid dengan menghadap ketimur.

Dalam suatu kesempatan nabi bersabda ” aku diutus dengan membawa agama yang hanisf dan toleran”.  Intoleransi  yang melahirkan kekerasan  atas nama agama dan ketegangan-ketegangan antar umat beragama -sebagai lawan toleransi- bertentangan dengan misi kenabian itu sendiri dan bahkan berlawanan dengan ruh tasamuh yang dibangun al-qur’an. Ada banyak ayat-ayat al-qur’an yang mengajarkan sikap toleran kepada kelompok yang berbeda keyakinan dan berbeda kepentingan ekonomi dan politiknya.

Allah berfirman :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan  dalam beragama, karena telah menjadi terang benderang perbedaan antara petunjuk dan kesesatan. Maka barang siapa yang kufur terhadap kesesatan dan beriman kepada allah maka berarti ia telah berpegang teguh  terhadap tali yang sangat kokoh yang tidak akan pernah putus. Dan allah maha mendengar lagi maha mengetahui. ( al-baqarah [2]: 256).

Teks ayat ini menggunakan redaksi nakirah fi siyaqi an-nafyi yang dalam kaidah usul fiqih, lafad yang demikian disebut lafad “am”. Dengan demikian makna ayat tersebut adalah ” tidak ada paksaan dalam bentuk apapun, dimanapun, kapanpun ”  dalam agama. Dalam tafsir at-tabari di kemukakan beberapa asbabun nuzul ayat ini. Hal ini menunjjukkan bahwa ayat ini di firmankan dalam berbagai kasus yang mengindikasikan adanya pemaksaan dalam agama. Salah satu sebab yang melatari lahirnya ayat ini adalah berkaitan dengan salah satu sahabat  anshar  ketika islam datang ingin memaksakan anak-anak mereka memeluk islam. Kemudian allah melarang mereka melakukan hal itu. Biarlah anak-anak mereka memilih sendiri masuk dalam islam. (at-thabari, juz 5, hlm 407)  

قال بعضهم: نزلت هذه الآية في قوم من الأنصار- أو في رجل منهم – كان لهم أولاد قد هودوهم أو نصروهم، فلما جاء الله بالإسلام أرادوا إكراههم عليه، فنهاهم الله عن ذلك، حتى يكونوا هم يختارون الدخول في الإسلام

Dalam teks yang lain dikatakan :

 

حدثني ابن حميد، قال: حدثنا سلمة، عن أبي إسحاق، عن محمد بن أبي محمد الحرشي مولى زيد بن ثابت عن عكرمة، أو عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قوله:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي”، قال: نزلت في رجل من الأنصار من بني سالم بن عوف يقال له الحصين، كان له ابنان نصرانيان، وكان هو رجلا مسلما، فقال للنبي صلى الله عليه وسلم: ألا أستكرههما فإنهما قد أبيا إلا النصرانية؟ فأنزل الله فيه ذلك

Dua kasus diatas merupakan fakta historis yang melatari turunnya ayat itu. Jelas sekali bahwa kepemelukan seseorang atas keyakinan tertentu didasarkan atas asas kebebasan kehendak dan keterbukaan. Tugas umat manusia  adalah sebagai kepanjangan tangan tuhan untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan, bukan menghukumi suatu keyakinan sebagai keyakinan yang benar atau salah. Apalagi melakukan pemaksaan dengan intimidasi dan kekerasan untuk memeluk agama yang diyakininya. Menghukumi dan melakukan pemaksaan adalah hak allah. Karena dialah yang lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalannya.

Dalam ayat lain,  al-qur’an bukan hanya menganjurkan toleransi pasif, melainkann toleransi aktif. Jika dalam toleransi pasif  yang menonjol adalah sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat faktual dan sunnatullah, maka toleransi aktif  melahirkan keberanian untuk melibatkan diri pada kelompok lain ditengah perebedaan dan keragaman itu. Toleransi aktif  meniscayakan adanya partisipasi aktif antar pemeluk agama  berkaitan dengan kepentingan umum dan hajat yang bersentuhan dengan sisi kemanusiaan seperti menciptakan kesejahteraan, kerukunan dan keadilan bersama. Dalam al-qur’an allah meyatakan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)

Artinya: Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berbagi  rizqi terhadap orang-orang yang tidak memerangi dan mengusir kalian dari daerah dimana kalian tinggal. Sungguh allah mencintai orang-orang yang mau berbagi. (al-mumtahanah [60] :8

 

Ajaran toleransi baik pasif (seperti memberikan kebebasan  ) maupun aktif (berbuat baik dan adil dalam batas-batas kemanusiaan, seperti tolong-menolong, saling memberi)  merupakan cerminan dari ajaran islam  sebagai rahmatan lil alamin, akan tetapi dalam batas-batas yang tidak mengorban prinsip-prinsip ajaran islam dan bukan dalam bentuk juztifikasi (pembenaran) terhadap ajaran agama yang diyakinini tidak benar.

 

Namun sayang, ada saja kelompok yang selalu mencoba menganulir  (me nasakh) makna ayat mengandung pesan agung ini dengan ayat lain yang memerintahkan untuk menghunus pedang (ayatu as-saif) (at-tabari, juz 5, hlm 407). Sesungguhnya bukan hanya ayat ini yang di anulir, ada belasan ayat-ayat yang mengandung makna pluralis yang menurut tafsir jalalain di nasakh oleh ayat saif. Ini artinya ayat pluralis telah dihapuskan kandungan hukumnya digantikan dengan perintah untuk memerangi seluruh orang kafir. Jika kita mengikuti metode ini maka saat ini yang ada adalah perintah berperang melawan orang kafir. Surat An-nisa’ [4]: 90, al-ma’idah [5]: 13, al-an’am [6]: 159, al-anfal [8]: 61, ali imran [3]:20, al-an’am [6]: 70, an-nahl [16] :125,  al-isra’ [17]: 54, al-mu’minun [23]: 96, an-naml [27]:92, yunus [10] :41, al-mumtahanah[60]:8, yang mengandung nilai-nilai universal berupa penghormatan terhadap keyakinan, menciptakan kedamaian bersama, berdakwah dengan hikmah dan mauidhah hasanah dianulir dengan satu ayat partikular surat at-Taubah ayat 5 :

 

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5)

Artinya :

Bilamana bulan-bulan haram telah berakhir maka bunuhlah seluruh orang-orang musyrik dimanapun kalian temukan, tangkaplah mereka dan kepunglah dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka kembali seraya menunaikan shalat dan membayarkan zakatnya maka lepaskanlah mereka. Sungguh allah maha pemaaf dan peyayang.

 

Ayat inilah yang disebut dengan ayat saif yang dalam pembacaan tafsir jalalain dan beberapa tafsir lain telah menganulir hampir seluruh ayat-ayat pluralis dalam al-qur’an. Jika kita mengikuti teori nasakh yang mengatakan bahawa ayat yang telah dinasakh tidak bisa lagi diamalkan karena telah digantikan dengan ayat yang menganulirnya, maka yang tersisa saat ini adalah perintah jihad qitali melawan orang-orang musyrik. Tidak ada  lagi toleransi terhadap mereka.

 

Rekontruksi pemaham makna “islam”

Salah satu penyebab eksklusivisme keberagamaan adalah kesalahan mendefinisikan makna islam. Islam dipahami sebagai agama khas umat kanjeng Nabi Muhammad. Hal ini bisa terlihat dalam kitab-kitab ajar madrasah ibtidaiyaah misalnya yang mendefinisikan islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi muhammad SAW. Kata  ” yang dibawa oleh kanjeng nabi Muhammad” mengandung arti bahwa agama-agama sebelum nabi muhammad yang  wahyukan pada para nabi-nabi  sebelumnya bukanlah agama islam. Padahal al-qur’an dengan tegas meyebut para nabi-nabi sebelum nabi muhammad membawa agama yang sama yaitu islam. Allah berfirman :

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Nabi ibrahim dan nabi ya’qub telah berwashiyat pada putranya ” wahai anakku allah telah memilihkan agama (islam) untuk kalian, maka janganlah kalian mati keculai kalian menjadi seorang muslim. (al-baqarah [2]:132)

 

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (52)

Ketika nabi isa merasakan benih kekufiran pada umatnya, ia berkata ” siapa penolong-penolongku bersama allah? Al-hawariyyun menjawab kamilah penolong-penolong allah, kami beriman dan saksikannlah bahwa kami adalah seorang muslim (ali imran [3]:52)

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)

Tidakkah kalian menjadi saksi ketika kematian akan menjemput nabi ya’kub, ketika ia berkata pada putranya ” apa yang akan kalian sembah sepeninggaku?” mereka menjawab kami akan tetap meyembah tuhanmu, tuhan nenek moyangmu, ibrahim, isma’il dan ishaq, yaitu tuhan yang satu. Dan kami adalah orang-orang yang muslim padanya (al-baqarah [2]: 133).

 

Pemahaman makna islam sebagaimana dalam tiga ayat itu seharusnya juga muncul ketika memahami ayat  19 dan ayat 85 surah ali imran:

 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآَيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)

Tawaran Metode Tafsir Pluralis

Untuk melakukan tafsir terhadap al-qur’an dan as-sunnah harus menggunakan langkah-langkah sebagai berikut; 1. memperhatikan qawa’id lughawiyah (kaidah-kaidah kebahasaan), 2. asbabun nuzul dan asbul wurud, 3. rabtun nushus ba’diha bi ba’din, 4. rabtul ahkam bi al- maqhashidu as-syari’ah.

Upaya menafsirkan teks hanya dengan memahami aspek kebahasaan (qawa’id lughawiyyah) adalah suatu kepicikan tektualis .Sedangkan upanya menafsirkan al-qur’an hanya dengan memperhatikan maqhashidu asy-syariah (substansi teks) dan menafikan teks itu sendiri  adalah suatu kecerobohan (syathatun) liberalis.  Kedua cara penafsiran ini adalah keliru, salah. Yang pertama karena mengabaikan ruh dan spirit teks sedangkan kedua mengabaikan wadah dari nilai-nilai universal itu. Menurut as-syatibi :

فمن أخذ بنص مثلا في جزئي معرضا عن كليه؛ فقد أخطأ.

وكما أن من أخذ بالجزئي معرضا عن كليه؛ فهو مخطئ، كذلك من أخذ بالكلي معرضا عن جزئي. )الموافقات – (ج 3 / ص 174(

Qawa’id Lughawiyah

Al-qur’an diturunkan dengan menggunakan media bahasa arab. Sebab itulah untuk melakukan interpretasi yang tepat diperlukan pengetahuan mendalam terhadap bahasa arab, yaitu pemahaman terhadap arti kata-kata, susunan dan bentuk kalimat, serta hubungan antar kata dan tanda-tanda sejarah teks. Ilmu usul fiqih dan ilmu tafsir telah meyediakan dengan sangat sempurna perangkat ini. mulai dari lafad khas (al-amr, an-nahy, al-mutlaq, al-muqayyad), lafad am, haqiqah, majaz, as-sharih, kinayah, an-nash, ad-dhahir, al-mufassar, al-muhkam, al-khafiy, al-musykil, al-mujmal, al-mutasyabih,  ibaratu an-nash, isyaratu an-nash, dalalatu an-nash, iqtidha,u an-nash, al-manthuq, al-mafhum, samapai pada konsep qhat’iy dan dhanniy.

Asbabun Nusul / tarikhiyatu an-nushsus

Mengetahui asbabun an-nuzul bukan hanya penting melaikan sangat diperlukan untuk memberikan konteks ayat yang sesungguhnya. Ketidakmengertian terhadap asabubun nusul akan mengantarkan pada pemahaman yang keliru terhadap pesan dasar teks. Tidak satupun ayat al-qur’an yang diturunkan diruang hampa. Seluruh ayat-ayat al-qur’an memiliki asbabun nushul baik asbabun nusul khas maupun asbabun nusul am. As-syatibi mengatakan :

معرفة اسباب التنزيل لازمة لمن اراد علم القرآن. والدليل على ذلك امران (احدهما) أن علم المعانى والبيان الذى يعرف به إعجاز نظم القرآن فضلا عن معرفة مقاصد كلام العرب , انما مداره على معرفة مقتضيات الاحوال : حال الخطاب من جهة نفس الخطاب او المخاطِب اوالمخاطَب او الجميع : اذ الكلام الواحد يختلف فهمه بحسب حالين وبحسب مخاطبين و بحسب غير ذلك. كالاستفهام لفظه واحد ويدخله معان أخر من تقرير وتوبيخ وغير ذلك. وكالامر يدخله معنى الاباحة والتهديد والتعجيز واشباهها. ولا يدل على معناها المراد الاالامور الخارجية. وعمدتها مقتضيات الاحوال : وليس كل حال ينقل ولا كل قرينة تقترن بنفس الكلام المنقول, وإذا فات نقل بعض القرائن الدالة فات فهم الكلام جملة أو فهم شيئ منه ومعرفة الاسباب رافعة لكل مشكل فى هذاالنمط. فهى من المهمات فى فهم الكتاب بلا بد, ومعنى معرفة السبب هو معنى معرفة مقتضى الحال.(الوجه الثانى) وهو ان الجهل باسباب التنزيل مُوقع فى الشبه والاشكالات ومورد للنصوص الظاهرة مُورد الاجمال حتى يقع الاختلاف وذلك مظنة وقوع النزاع

 

Berkaitan dengan asbabun nusul am asy-syatibi menulis:

ومن ذلك معرفة عادات العرب في أقوالها وأفعالها ومجاري أحوالها حالة التنزيل، وإن لم يكن ثم سبب خاص لا بد لمن أراد الخوض في علم القرآن منه، وإلا وقع في الشبه والإشكالات التي يتعذر الخروج منها إلا بهذه المعرفة )   الموافقات – (ج 4 / ص 154(

Rabtul an-nushus ba’diha bi baba’dhin.

Rabtun nuzuz  ba’dhiha bi ba’dhin adalah sebagai upaya memahami al-qur’an secara konprehensif. Salah satu ciri al-qur’an adalah ketidaksistimatisan tema pembahasannya. Satu cerita nabi misalnya dapat dapat ditemukan dalam berbagai surat al-qur’an, tidak utuh dalam satu surat tertentu. Hal ini mengharuskan mufassir untuk mengkaitkan satu ayat dengan ayat lain jika ingin mendapatkan informasi yang lengkap dan tuntas.

Demikian pula tema relasi muslim dan non muslim tersebar dalam berbagai surat-surat al-qur’an. Membaca hanya satu ayat kemudian menyimpulkan pesan yang dikandungnya belumlah cukup untuk mendapatkan informasi menyeluruh relasi muslim dan non muslim. Intoleransi, intimidasi, kekerasan yang mengatasnamakan agama yang terjadi sampai saat ini disebabkan antara lain oleh pemahaman yang tidak utuh. Masing-masing kelompok memilih ayat-ayat dan hadist-hadist nabi  sesuai dengan selera dan latar belakang idiologi mereka. Akibatnya benturan antar ayat dan hadist-hadist Nabi tidak dapat dihindarkan.

Metode rabtu an-nushus ba’diha bi ba’dhin dimaksudkan untuk pertama: menadapatkan pesan al-qur’an yang utuh dan meyeluruh. kedua memberikan konteks masing-masing ayat dan hadist dalam posisinya yang tepat dan ketiga menemukan maqhasidu as-syari’ah dan nilai-nilai universal al-qur’an  untuk kemudian dilakukan rekontekstualisasi yaitu mengajaknya berdialog  dalam konteks kekinian, konteks dibelahan bumi lain yang jauh dari konteks dimana al-qur’an di turunkan.

 

Rabtul an-nushus bi al-maqhasid, i’tibarul al-maqhashid wa al-mashalih duna ilgha’in li qawa’idil lughah.

Tujuan seluruh ajaran agama termasuk  syari’ah islam tidak lain kecuali untuk menggelar dan menebarkan kemaslahatan bagi pemeluknya. Jelasnya kebahagian duniawi dan ukhrawiSyari’ah islam datang untuk melayani kebutuhan manusia baik yang bersifat dharuriyat, hajiyat maupun tahsiniyat. Bukan agar dilayani. Asy-syatibi mengatakan :

 

فقد اتفقت1 الأمة -بل سائر الملل- على أن الشريعة وضعت للمحافظة على الضروريات الخمس -وهي: الدين، والنفس, والنسل، والمال، والعقل- وعلمها عند الأمة كالضروري، ولم يثبت لنا ذلك بدليل معين, ولا شهد لنا أصل معين يمتاز برجوعها إليه، بل عُلمت ملاءمتها للشريعة بمجموع أدلة لا تنحصر في باب واحد، ولو استندت إلى شيء معين لوجب عادة تعيينه، وأن يرجع أهل الإجماع إليه، وليس كذلك2؛ لأن كل واحد منها بانفراده ظني، ولأنه كما لا يتعين في التواتر المعنوي أو غيره أن يكون المفيد للعلم خبر واحد دون سائر الأخبار، كذلك لا يتعين3 هنا لاستواء جميع الأدلة في إفادة الظن على فرض الانفراد، وإن كان الظن يختلف باختلاف أحوال الناقلين، وأحوال دلالات المنقولات، وأحوال الناظرين في قوة الإدراك وضعفه، وكثرة البحث وقلته، إلى غير ذلك.) الموافقات – (ج 1 / ص 31)

Senada dengan asy-syatibi, ibnul qayyim al-jausi dn kitab monumentalnya a’lamul muwaqqi’in. ia mengatakan :

 

فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسُهَا عَلَى الْحِكَمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا ، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا ، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا ، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا ؛ فَكُلُّ مَسْأَلَةٍ خَرَجَتْ عَنْ الْعَدْلِ إلَى الْجَوْرِ ، وَعَنْ الرَّحْمَةِ إلَى ضِدِّهَا ، وَعَنْ الْمَصْلَحَةِ إلَى الْمَفْسَدَةِ ، وَعَنْ الْحِكْمَةِ إلَى الْبَعْثِ ؛ فَلَيْسَتْ مِنْ الشَّرِيعَةِ وَإِنْ أُدْخِلَتْ فِيهَا بِالتَّأْوِيلِ ؛ فَالشَّرِيعَةُ عَدْلُ اللَّهِ بَيْنَ عِبَادِهِ ، وَرَحْمَتُهُ بَيْنَ خَلْقِهِ ، وَظِلُّهُ فِي أَرْضِهِ ، وَحِكْمَتُهُ الدَّالَّةُ عَلَيْهِ وَعَلَى صِدْقِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَمَّ دَلَالَةً وَأَصْدَقُهَا ، وَهِيَ نُورُهُ الَّذِي بِهِ أَبْصَرَ الْمُبْصِرُونَ ، وَهُدَاهُ الَّذِي بِهِ اهْتَدَى الْمُهْتَدُونَ ، وَشِفَاؤُهُ التَّامُّ الَّذِي بِهِ دَوَاءُ كُلِّ عَلِيلٍ ، وَطَرِيقُهُ الْمُسْتَقِيمُ الَّذِي مَنْ اسْتَقَامَ عَلَيْهِ فَقَدْ اسْتَقَامَ عَلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ .) إعلام الموقعين عن رب العالمين – (ج 3 / ص 149)

 

Ikhtitam

Masyarakat madani yang berkeadaban tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan proses yang cukup panjang untuk membangun unsur-unsur sosial sebagai prasarat terwujudnya masyarakat madani.  Unsur pokok yang harus diwujudkan dalam masyarakat madani adalah terbentuknya wilayah publik yang bebas (free public sphere), demokrasi, toleransi, keragaman (pluralism) dan keadailan sosial.

Untuk menuju kearah itu, diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap hasanah tafsir. Kedalaman pemahaman terhadap wacana tafsir akan menjadi bekal bagi seorang untuk memilih alternanif pandangan keagamaan  yang memungkinkan lahirnya visi misi keagaman yang toleran dan humanis. Reinterpretasi ayat-ayat yang kerapkali dijadikan alasan melakukan tindakan intoleransi dengan menggunakan paradigma, pendekatan dan metode yang tepat menjadi seuatu keniscayaan dan salah satu  upaya akademis yang sangat mulia. Wallahu a’lam.

 

Al-maraji’

تفسير الألوسي – (ج 8 / ص 127)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99)

 

{ وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِى الارض } تحقيق لدوران إيمان جميع المكلفين وجوداً وعدماً على قطب مشيئته سبحانه مطلقاً بعد بيان تبعية كفر الكفرة لكلمته ، ومفعول المشيئة هنا محذوف حسب المعهود في نظائره أي لو شاء سبحانه إيمان من في الأرض من الثقلين لآمن { كُلُّهُمْ } بحيث لا يشذ منهم أحد { جَمِيعاً } أي مجتمعين على الإيمان لا يختلفون فيه لكنه لم يشأ ذلك لأنه سبحانه لا يشاء إلا ما يعلم ولا يعلم إلا ما له ثبوت في نفسه فيما لا ثبوت له أصلاً لا يعلم وما لا يعلم لا يشاء ، وإلى هذا التعليل ذهب الكوراني عليه الرحمة وأطال الكلام في تحريره والذب عنه في غير ما رسالة ، والجمهور على أنه سبحانه لا يشاؤه لكونه مخالفاً للحكمة التي عليها بناء أساس التكوين والتشريع . والآية حجة على المعتزلة الزاعمين أن الله تعالى شاء الإيمان من جميع الخلق فلم يؤمن إلا بعضهم ، والمشيئة عندهم قسمان تفويضية يجوز تخلف الشيء عنها وقسرية لا يجوز التخلف عنها وحملوا ما في الآية على هذا الأخير ، فالمعنى عندهم لو شاء ربك مشيئة الجاء وقسر إيمان الثقلين لآمنوا لكنه سبحانه لم يشأ كذلك بل أمرهم بالإيمان وخلق لهم اختياراً له ولضده وفوض الأمر إليهم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر وهذا ديدنهم في كل ما ورد عليهم من الآيات الظاهرة في إبطال ما هم عليه ، وفيه أنه لا قرينة على التقييد مع أن قوله سبحانه : { أَفَأَنتَ تُكْرِهُ الناس } يأباه فيماق يل ، فإن الهمزة للإنكار وهي لصدارتها مقدمة من تأخير على ما عليه الجمهور والفاء للتفريع والمقصود تفرع الإنكار على ما قبل ولا فائدة بل لا وجه لاعتبار مشيئة القسر والإلجاء خاصة في تفرع الإنكار ، وقيل : إن الهمزة في موضعها والعطف على مقدر ينسحب عليه الكلام كأنه قيل : أربك لا يشاء ذلك فأنت تكرهه { حتى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ } والإنكار متوجه إلى ترتيب الإكراه المذكور على عدم مشيئته تعالى والإباء هو الإباء فلا بد من حمل المشيئة على إطلاقها ، والمراد بالناس من طبع عليهم أو الجميع مبالغة ، وجوز في { أَنتَ } أن يكون فاعلاً بمقدر يفسره ما بعده وأن يكون مبتدأ خبره الجملة بعده ويعدونه فاعلاً معنوياً ، وتقديمه لتقوية حكم الإنكار كما ذهب إليه الشريف قدس سره في «شرح المفتاح»وذكر فيه أن المقصود إنكار صدور الفعل من المخاطب لا إنكار كونه هو الفاعل مع تقرر أصل الفعل ، وقيل : إن التقديم للتخصيص ففيه إيذان بأن الإكراه أمر ممكن لكن الشأن في المكره من هو وما هو إلا سبحانه وحده لا يشارك فيه لأنه جل شأنه القادر على أن يفعل في قلوبهم ما يضطرهم إلى الإيمان وذلك غير مستطاع للبشر .

 

تفسير الطبري – (ج 10 / ص 385)

 

 

ثم اختلف أهل التأويل في المعنيِّ بقوله:”لكل جعلنا منكم”.

فقال بعضهم: عنى بذلك أهلَ الملل المختلفة، أي: أن الله جعل لكل مِلّةٍ شريعة ومنهاجًا.

ذكر من قال ذلك:

12126 – حدثنا بشر بن معاذ قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد، عن قتادة قوله:”لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا” يقول: سبيلا وسُنّة. والسنن مختلفة: للتوراة شريعة، وللإنجيل شريعة، وللقرآن شريعة، يحلُّ الله فيها ما يشاء، ويحرِّم ما يشاء بلاءً، ليعلم من يطيعه ممن يعصيه. ولكن الدين الواحد الذي لا يقبل غيره: التوحيدُ والإخلاصُ لله، الذي جاءت به الرسل.

12127 – حدثنا الحسن بن يحيى قال، أخبرنا عبد الرزاق قال، أخبرنا معمر، عن قتادة قوله:”لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا”، قال: الدينُ واحد، والشريعةُ مختلفة.

12128 – حدثنا المثنى قال، حدثنا إسحاق قال، حدثنا عبد الله بن هاشم قال أخبرنا سيف بن عمر، عن أبي روق، عن أبي أيوب، عن علي قال: الإيمان منذُ بَعث الله تعالى ذكره آدم صلى الله عليه وسلم: شهادةُ أن لا إله إلا الله، والإقرار بما جاء من عند الله، لكلّ قوم ما جاءَهم من شرعة أو منهاج، فلا يكون المقرُّ تاركًا، ولكنه مُطِيع. (1)

  • ·       * *

 

 

تفسير الطبري – (ج 15 / ص 535)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119)

 

ذلك قوله:(وتمت كلمة ربك لأملأن جهنم من الجِنة والناس أجمعين) ، ففي ذلك دليلٌ واضح أن الذي قبله من ذكر خبره عن اختلاف الناس، إنما هو خبرٌ عن اختلاف مذموم يوجب لهم النار، ولو كان خبرًا عن اختلافهم في الرزق ، لم يعقّب ذلك بالخبر عن عقابهم وعَذابهم.

* * *

وأما قوله:(ولذلك خلقهم)، فإن أهل التأويل اختلفوا في تأويله:

فقال بعضهم: معناه: وللاختلاف خلقهم.

*ذكر من قال ذلك :

18720- حدثنا أبو كريب قال ، حدثنا وكيع، وحدثنا ابن وكيع قال ، حدثنا أبي، عن مبارك بن فضالة، عن الحسن:(ولذلك خلقهم) ، قال: للاختلاف.

18721- حدثني يعقوب قال ، حدثنا ابن علية قال ، حدثنا منصور بن عبد الرحمن، قال: قلت للحسن:(ولذلك خلقهم)؟ فقال: خلق هؤلاء لجنته وخلق هؤلاء لناره، وخلق هؤلاء لرحمته ، وخلق هؤلاء لعذابه.

18722- حدثنا ابن وكيع قال ، حدثنا ابن عليه، عن منصور، عن الحسن، مثله.

18723- حدثني المثني قال ، حدثنا المعلى بن أسد قال ، حدثنا عبد العزيز، عن منصور بن عبد الرحمن، عن الحسن. بنحوه.

18724-. . . . قال، حدثنا الحجاج بن المنهال قال ، حدثنا حماد، عن خالد الحذاء، أن الحسن قال في هذه الآية:(ولذلك خلقهم) ، قال: خلق هؤلاء لهذه، وخلق هؤلاء لهذه.

وقال آخرون: بل عنى بذلك أمَّةَ محمد صلى الله عليه وسلم. وقالوا: إنما معنى الكلام: قد جعلنا الكتاب الذي أنزلناه إلى نبينا محمدٍ صلى الله عليه وسلم،

 

تفسير الطبري – (ج 23 / ص 321)

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)

 

منهم، فصاروا لهم أولياء وأحزابًا.

وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.

* ذكر من قال ذلك:

حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال، قال ابن زيد، في قوله:( عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً ) قال: هؤلاء المشركون قد فعل، قد أدخلهم في السلم وجعل بينهم مودّة حين كان الإسلام حين الفتح.

وقوله:( وَاللَّهُ قَدِيرٌ ) يقول: والله ذو قدرة على أن يجعل بينكم وبين الذين عاديتم من المشركين مودّة( وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) يقول: والله غفور لخطيئة من ألقى إلى المشركين بالمودّة إذا تاب منها، رحيم بهم أن يعذّبهم بعد توبتهم منها.

وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.

* ذكر من قال ذلك:

حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة قوله:( عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ ) على ذلك( وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) يغفر الذنوب الكثيرة، رحيم بعباده.

القول في تأويل قوله تعالى : { لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) }

يقول تعالى ذكره:( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ ) من أهل مكة( وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ) يقول: وتعدلوا فيهم بإحسانكم إليهم، وبرّكم بهم.

 

تفسير الطبري – (ج 23 / ص 324)

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

 

تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9) }

يقول تعالى ذكره:( إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ ) أيها المؤمنون( عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ ) من كفار أهل مكة( وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ) يقول: وعاونوا من أخرجكم من دياركم على إخراجكم أن تولوهم، فتكونوا لهم أولياء ونصراء:( وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ ) يقول: ومن يجعلهم منكم أو من غيركم أولياء( فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ) يقول: فأولئك هم الذين تولوا غير الذي يجوز لهم أن يتولوهم، ووضعوا ولايتهم في غير موضعها، وخالفوا أمر الله في ذلك.

وبنحو الذي قلنا في معنى قوله:( الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ ) قال أهل التأويل.

* ذكر من قال ذلك:

حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى؛ وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء، جميعًا، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد( إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ ) قال كفار أهل مكة.

القول في تأويل قوله تعالى : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ }

يقول تعالى ذكره للمؤمنين من أصحاب رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

 

تفسير الطبري – (ج 5 / ص 407)

القول في تأويل قوله : { لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ }

قال أبو جعفر: اختلف أهل التأويل في معنى ذلك.

فقال بعضهم: نزلت هذه الآية في قوم من الأنصار- أو في رجل منهم – كان لهم أولاد قد هودوهم أو نصروهم، فلما جاء الله بالإسلام أرادوا إكراههم عليه، فنهاهم الله عن ذلك، حتى يكونوا هم يختارون الدخول في الإسلام.

– حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا ابن أبي عدي، عن شعبة عن أبي بشر، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قال: كانت المرأة تكون مقلاتا، فتجعل على نفسها إن عاش لها ولد أن تهوده. فلما أجليت بنو النضير كان فيهم من أبناء الأنصار، فقالوا: لا ندع أبناءنا! فأنزل الله تعالى ذكره:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي”.

5813 – حدثنا ابن بشار، قال: حدثنا محمد بن جعفر، قال: حدثنا سعيد، عن أبي بشر، عن سعيد بن جبير، قال: كانت المرأة تكون مقلى ولا يعيش لها ولد = قال شعبة. وإنما هو مقلات = فتجعل عليها إن بقي لها ولد لتهودنه. قال: فلما أجليت بنو النضير كان فيهم منهم، فقالت الأنصار: كيف نصنع بأبنائنا؟ فنزلت هذه الآية:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي”. قال: من شاء أن يقيم أقام، ومن شاء أن يذهب ذهب (1) .

5814 – حدثنا حميد بن مسعدة، قال: حدثنا بشر بن المفضل، قال: حدثنا داود= وحدثني يعقوب قال: حدثنا ابن علية، عن داود= عن عامر، قال: كانت المرأة من الأنصار تكون مقلاتا لا يعيش لها ولد، فتنذر إن عاش ولدها أن تجعله مع أهل الكتاب على دينهم، فجاء الإسلام وطوائف من أبناء الأنصار على دينهم، فقالوا: إنما جعلناهم على دينهم، ونحن نرى أن دينهم أفضل من ديننا! وإذ جاء الله بالإسلام فلنكرهنهم! فنزلت:”لا إكراه في الدين”، فكان فصل ما بين من اختار اليهودية والإسلام، فمن لحق بهم اختار اليهودية، ومن أقام اختار الإسلام= ولفظ الحديث لحميد.

5815 – حدثنا محمد بن عبد الأعلى، قال: حدثنا معتمر بن سليمان، قال: سمعت داود، عن عامر، بنحو معناه= إلا أنه قال: فكان فصل ما بينهم، إجلاء رسول الله صلى الله عليه وسلم بني النضير، فلحق بهم من كان يهوديا ولم يسلم منهم، وبقي من أسلم.

5816 – حدثنا ابن المثنى، قال: حدثنا عبد الأعلى، قال: حدثنا داود، عن عامر بنحوه= إلا أنه قال: إجلاء النضير إلى خيبر، فمن اختار الإسلام أقام، ومن كره لحق بخيبر (1) .

5817 – حدثني ابن حميد، قال: حدثنا سلمة، عن أبي إسحاق، عن محمد بن أبي محمد الحرشي مولى زيد بن ثابت عن عكرمة، أو عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس قوله:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي”، قال: نزلت في رجل من الأنصار من بني سالم بن عوف يقال له الحصين، كان له ابنان نصرانيان، وكان هو رجلا مسلما، فقال للنبي صلى الله عليه وسلم: ألا أستكرههما فإنهما قد أبيا إلا النصرانية؟ فأنزل الله فيه ذلك (2) .

5818 – حدثني المثنى قال: حدثنا حجاج بن المنهال، قال: حدثنا أبو عوانة، عن أبي بشر، قال: سألت سعيد بن جبير عن قوله:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي” قال: نزلت هذه في الأنصار، قال: قلت خاصة! قال: خاصة! قال: كانت المرأة في الجاهلية تنذر إن ولدت ولدا أن تجعله في اليهود تلتمس بذلك طول بقائه. قال: فجاء الإسلام وفيهم منهم، فلما أجليت النضير قالوا: يا رسول الله، أبناؤنا وإخواننا فيهم، قال: فسكت عنهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأنزل الله تعالى ذكره:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي” قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”قد خير أصحابكم، فإن اختاروكم فهم منكم، وإن اختاروهم فهم منهم” قال: فأجلوهم معهم (1) .

5819 – حدثني موسى بن هارون، قال: حدثنا عمرو، قال: حدثنا أسباط، عن السدي قوله:”لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي” إلى:”لا انفصام لها” قال: نزلت في رجل من الأنصار يقال له أبو الحصين: كان له ابنان، فقدم تجار من الشام إلى المدينة يحملون الزيت. فلما باعوا وأرادوا أن يرجعوا أتاهم ابنا أبي الحصين، فدعوهما إلى النصرانية، فتنصرا فرجعا إلى الشام معهم. فأتى أبوهما إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال (2) إن ابني تنصرا وخرجا، فأطلبهما؟ فقال:”لا إكراه في الدين” (3) .

ولم يؤمر يومئذ بقتال أهل الكتاب، وقال: أبعدهما الله! هما أول من كفر! فوجد أبو الحصين في نفسه على النبي صلى الله عليه وسلم حين لم يبعث في طلبهما، فنزلت:( فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ) [ سورة النساء: 65] ثم إنه نسخ:”لا إكراه في الدين” فأمر بقتال أهل الكتاب في” سورة براءة” (4) .

 

 

 

تفسير الألوسي – (ج 2 / ص 191)

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (213)

 

تفسير الألوسي – (ج 5 / ص 11)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (48)

قوله  تعالي:

{ وَلَوْ شَاء الله لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً واحدة } أي جماعة متفقة على دين واحد في جميع الأعصار ، أو ذي ملة واحدة من غير اختلاف بينكم في وقت من الأوقات في شيء من الأحكام الدينية ولا نسخ ولا تحويل قاله ابن عباس رضي الله تعالى عنهما ومفعول { شَاء } محذوف تعويلاً على دلالة الجزاء عليه ، أي لو شاء الله تعالى أن يجعلكم أمة واحدة لجعلكم الخ ، وقيل : المعنى ولو شاء الله تعالى اجتماعكم على الإسلام لأجبركم عليه ، وروي عن الحسن نحو ذلك ، وقال الحسين بن علي المغربي : المعنى لو شاء الله تعالى لم يبعث إليكم نبياً فتكونون متعبدين بما في العقل وتكونون أمة واحدة { ولكن لّيَبْلُوَكُمْ } متعلق بمحذوف يستدعيه النظام أي ولكن لم يشأ ذلك الجعل بل شاء غيره ليعاملكم سبحانه معاملة من يبتليكم . { فِى } من الشرائع المختلفة لحكم إلهية يقتضيها كل عصر هل تعملون بها مذعنين لها معتقدين أن في اختلافها مايعود نفعه لكم في معاشكم ومعادكم ، أو تزيغون عنها . وتبتغون الهوى . وتشترون الضلالة بالهدى ، وبهذا كما قال شيخ الإسلام اتضح أن مدار عدم المشيئة المذكورة ليس مجرد الابتلاء ، بل العمدة في ذلك ما أشير إليه من انطواء الاختلاف على ما فيه مصلحتهم معاشاً ومعاداً كما ينبىء عنه قوله عز وجل : { فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ } أي إذا كان الأمر كما ذكر فسارعوا إلى ما هو خير لكم في الدارين من العقائد الحقة والأعمال الصالحة المندرجة في القرآن الكريم وابتدروها انتهازاً للفرصة وإحرازاً لفضل السبق والتقدم ، فالسابقون السابقون أولئك المقربون .

 

تفسير الألوسي – (ج 7 / ص 463)

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (19)

 

{ وَمَا كَانَ الناس إِلاَّ أُمَّةً وَاحِدَةً } أي وما كان الناس كافة من أول الأمر إلا متفقين على الحق والتوحيد من غير اختلاف ، وروي هذا عن ابن عباس . والسدي . ومجاهد . والجبائي . وأبي مسلم ، ويؤيده قراءة ابن مسعود رضي الله تعالى عنه { وَمَا كَانَ الناس إِلاَّ أُمَّةً وَاحِدَةً * على هُدًى } وذلك من عهد آدم عليه الصلاة والسلام إلى أن قتل قابيل هابيل ، وقييل : إلى زمن إدريس عليه الصلاة والسلام ، وقيل : إلى زمن نوح عليه الصلاة والسلام ، وكانوا عشرة قرون ، وقيل : كانوا كذلك في زمنه عليه الصلاة والسلام بعد أن لم يبق على الأرض من الكافرين ديار إلى أن ظهر بينهم الكفر ، وقيل : من لدن إبراهيم عليه الصلاة والسلام إلى أن أظهر عمرو بن لحى عبادة الأصنام وهو المروي عن عطاء ، وعليه فالمراد من { الناس } العرب خاصة وهو الأنسب بإيراد الآية الكريمة إثر حكاية ما حكى منهم من الهنات وتنزيه ساحة الكبرياء عن ذلك .

/ { فاختلفوا } بأن كفر بعضهم وثبت الآخرون على ما هم عليه فخالف كل من الفريقين الآخر ، والفاء للتعقيب وهي لا تنافي امتداد زمان الاتفاق إذ المراد بيان وقوع الاختلاف عقيب انصرام مدة الاتفاق لا عقيب حدوثه { وَلَوْلاَ كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبّكَ } بتأخير القضاء بينهم أو العذاب الفاصل بينهم إلى يوم القيامة فإنه يوم الفصل والجزء { لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ } عاجلاً { فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ } بأن ينزل عليهم آيات ملجئة إلى اتباع الحق ورفع الاختلاف أو بأن يهلك المبطل ويبقى المحق ، وصيغة الاستقبال لحكاية الحال الماضية والدلالة على الاستمرار ، ووجه ارتباط الآية بما قبلها أنها كالتأكيد لما أشار إليه من أن التوحيد هو الدين الحق حيث أفادت أنه ملة قديمة اجتمعت عليها الأمم قاطبة وأن الشرك وفروعه جهالات ابتدعها الغواة خلافاً للجمهور وشقاً لعصا الجماعة ، وقيل : وجه ذلك أنه سبحانه بين فيما قبل فساد القوم بعبادة الأصنام وبين في هذه أن هذا المذهب ليس مذهباً للعرب من أول الأمر بل كانوا على الدين الحق الخالي عن عبادة الأصنام وإنما حدثت فيهم عبادتها بتسويل الشياطين .

قيل : والغرض من ذلك أن العرب إذا علموا أن ما هم عليه اليوم لم يكن من قبل فيهم وإنما حدث بعد أن لم يكن لم يتعصبوا لنصرته ولم يتأذوا من تزييفه وإبطاله . وعن الكلبي أن معنى كونهم أمة واحدة اتفاقهم على الكفر وذلك في زمن إبراهيم عليه الصلاة والسلام ، وروى مثله عن الحسن إلا أنه قال : كانوا كذلك من لدن وفاة آدم إلى زمن نوح عليهما السلام ثم آمن من آمن وبقي من بقي على الكفر .

 

بحر العلوم للسمرقندي – (ج 2 / ص 315)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99) وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (100) قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ (101) فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (102) ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا كَذَلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِينَ (103)

 

قوله تعالى : { وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِى الارض كُلُّهُمْ جَمِيعًا } يعني : وفَّقهم لذلك وهداهم . ويقال : في الآية مضمر . ومعناه : ولو شاء ربك أن يؤمنوا ، لآمنوا كلهم جميعاً . { أَفَأَنتَ تُكْرِهُ الناس } يعني : الكفار { حتى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ } ويقال : هو عمه أبو طالب . ولها وجه آخر : ولو شاء ربك ، لأراهم علامة لأضطروا إلى الإيمان ، كما فعل بقوم يونس ، ولكن لم يفعل ذلك لأن الدنيا دار ابتلاء ومحنة .

ثم قال تعالى : { وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله } يعني : بإرادة الله تعالى ، وتوفيقه { وَيَجْعَلُ الرجس } يعني : الكفر { عَلَى الذين لاَ يَعْقِلُونَ } يعني : يترك حلاوة الكفر في قلوب الذين لا يرغبون في الإيمان . ويقال : ويجعل الرجس ، يعني : الإثم . ويقال : الرجس يعني : العذاب . قرأ عاصم ، في رواية أبي بكر : { وَنَجْعَلُ *** الرجس } بالنون ، وقرأ الباقون : { وَيَجْعَلَ } بالياء . ثمّ أخبر أنه لا عذر لمن تخلّف عن الإيمان؛ لأنه قد بيّن العلامات ، وهو قوله : { قُلِ انظروا مَاذَا فِى *** السموات } من الدلائل ، من الشمس ، والقمر ، والنجوم ، { ***وَ } ما في { وَفِى الارض } ، من الجبال ، والبحار ، والأشجار ، والثمار ، فاعتبروا به .

 

ثم قال حين لم يعتبروا به : { وَمَا تُغْنِى الآيات } ما تنفع العلامات ، التي في السموات والأرض { والنذر } يعني : الرسل { عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ } يعني : لا يرغبون في الإيمان ، ولا يطلبون الحق . وقال أبو العالية : لا تنفع الآيات والرسل عن قوم قد قُدِّر عليهم أنهم لا يؤمنون . ويقال : عَنْ هاهنا صلة ، ومعناه : وما تغني الآيات والنذر قوماً لا يؤمنون ، يعني : علم الله في الأزل أنهم لا يؤمنون .

 

تفسير الطبري – (ج 12 / ص 217)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (151)  وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ

أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (152

 

تفسير الجلالين – (ج 2 / ص 82)

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا (90)

 

{ إِلاَّ الذين يَصِلُونَ } يلجئوون { إلى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ ميثاق } عهد بالأمان لهم ولمن وصل إليهم كما عاهد النبي صلى الله عليه وسلم هلال بن عويمر الأسلمي { أَوْ } الذين { جَاءُوكُمْ } وقد { حَصِرَتْ } ضاقت { صُدُورُهُمْ } عن { أَن يقاتلوكم } مع قومهم { أَوْ يقاتلوا قَوْمَهُمْ } معكم أي ممسكين عن قتالكم وقتالهم فلا تتعرّضوا إليهم بأخذ ولا قتل وهذا وما بعده منسوخ بآية السيف [ 5 : 9 ] { وَلَوْ شَاء الله } تسليطهم عليكم { لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ } بأن يقوّي قلوبهم { فلقاتلوكم } ولكنه لم يشأ فألقى في قلوبهم الرعب { فَإِنِ اعتزلوكم فَلَمْ يقاتلوكم وَأَلْقَوْاْ إِلَيْكُمُ السلم } الصلح أي انقادوا { فَمَا جَعَلَ الله لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً } طريقاً بالأخذ والقتل .

 

تفسير الجلالين – (ج 2 / ص 181)

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (13)

 

قال تعالى { فَبِمَا نَقْضِهِم } «ما» زائدة { ميثاقهم لعناهم } أبعدناهم عن رحمتنا { وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً } لا تلين لقبول الإِيمان { يُحَرّفُونَ الكلم } الذي في التوراة من نعت محمد صلى الله عليه وسلم وغيره { عَن مواضعه } التي وضعه الله عليها أي يبدّلونه { وَنَسُواْ } تركوا { حَظّاً } نصيباً { مِّمَّا ذُكِّرُواْ } أمروا { بِهِ } في التوراة من اتباع محمد { وَلاَ تَزَالُ } خطاب للنبي صلى الله عليه وسلم { تَطَّلِعُ } تظهر { على خَائِنَةٍ } أي خيانة { مِنْهُمْ } بنقض العهد وغيره { إِلاَّ قَلِيلاً مّنْهُمُ } ممن أسلم { فاعف عَنْهُمْ واصفح إِنَّ الله يُحِبُّ المحسنين } وهذا منسوخ بآية السيف [ 5 : 9 ] .

تفسير الجلالين – (ج 2 / ص 447)

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (159)

 

{ إِنَّ الذين فَرَّقُواْ دِينَهُمْ } باختلافهم فيه فأخذوا بعضه وتركوا بعضه { وَكَانُواْ شِيَعاً } فرقاً في ذلك . وفي قراءة «فارقوا» أي تركوا دينهم الذي أمروا به وهم اليهود والنصارى { لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ } أي فلا تتعرّض لهم { إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى الله } يتولاه { ثُمَّ يُنَبِّئُهُم } في الآخرة { بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ } فيجازيهم به ، وهذا منسوخ بآية السيف [ 5 : 9 ] .

 

تفسير الجلالين – (ج 3 / ص 220)

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (61)

 

{ وَإِن جَنَحُواْ } مالوا { لِلسَّلْمِ } بكسر السين وفتحها : الصلح { فاجنح لَهَا } وعاهدهم . قال ابن عباس : هذا منسوخ بآية السيف [ 5 : 9 ] وقال مجاهد : مخصوص بأهل الكتاب إذ نزلت في بني قريظة { وَتَوَكَّلْ عَلَى الله } ثق به { إِنَّهُ هُوَ السميع } للقول { العليم } بالفعل .

 

تفسير الجلالين – (ج 1 / ص 312)

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (20)

 

{ فَإنْ حَاجُّوكَ } خاصمك الكفار يا محمد في الدين { فَقُلْ } لهم : { أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ للَّهِ } انقدت له أنا { وَمَنِ اتبعن } وخص الوجه بالذكر لشرفه فغيره أولى { وَقُلْ لّلَّذِينَ أُوتُواْ الكتاب } اليهود والنصارى { والأميين } مشركي العرب { ءأَسْلَمْتُمْ } أي أسلموا { فَإِنْ أَسْلَمُواْ فَقَدِ اهتدوا } من الضلال { وَإِن تَوَلَّوْاْ } عن الإسلام { فَإِنَّمَا عَلَيْكَ البلاغ } التبليغ للرسالة { والله بَصِيرٌ بالعباد } فيجازيهم بأعمالهم وهذا قبل الأمر بالقتال .

 

تفسير الجلالين – (ج 2 / ص 358)

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (70)

 

{ وَذَرِ } اترك { الَّذِينَ اتخذوا دِينَهُمْ } الذي كلفوه { لَعِباً وَلَهْواً } باستهزائهم به { وَغَرَّتْهُمُ الحياة الدنيا } فلا تتعرض لهم ، وهذا قبل الأمر بالقتال { وَذَكِّرْ } عِظْ { به } بالقرآن الناس ل { أن } لا { تُبْسَلَ نَفْسٌ } تُسْلَم إلى الهلاك { بِمَا كَسَبَتْ } عملت { لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ الله } أي غيره { وَلِيُّ } ناصر { وَلاَ شَفِيعٍ } يمنع عنها العذاب { وَإِن تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ } تفدِ كُلَّ فِدَاءٍ { لاَّ يُؤْخَذْ مِنْهَا } ما تفدي به { أولئك الذين أُبْسِلُواْ بِمَا كَسَبُواْ لَهُمْ شَرَابٌ مّنْ حَمِيمٍ } ماء بالغ نهاية الحرارة { وَعَذَابٌ أَلِيمٌ } مؤلم { بِمَا كَانُواْ يَكْفُرُونَ } بكفرهم .

 

تفسير الجلالين – (ج 5 / ص 25)

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)

 

{ ادع } الناس يا محمد صلى الله عليه وسلم { إلى سَبِيلِ رَبّكَ } دينه { بالحكمة } بالقرآن { والموعظة الحسنة } مواعظة أو القول الرقيق { وجادلهم بالتى } أي المجادلة التي { هِىَ أَحْسَنُ } كالدعاء إلى الله بآياته والدعاء إلى حججه { إِنَّ رَّبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ } أي عالم { بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بالمهتدين } فيجازيهم ، وهذا قبل الأمر بالقتال . ونزل لما قتل حمزة ومثل به فقال صلى الله عليه وسلم وقد رآه : «لأمثلنّ بسبعين منهم مكانك2 .

تفسير الجلالين – (ج 5 / ص 82)

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا (54)

 

{ رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ إِن يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ } بالتوبة والإِيمان { أَوْ إِن يَشَأْ } تعذيبكم { يُعَذِّبُكُم } بالموت على الكفر { وَمَا أرسلناك عَلَيْهِمْ وَكِيلاً } فتجبرهم على الإِيمان وهذا قبل الأمر بالقتال .

 

تفسير الجلالين – (ج 6 / ص 268)

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ (96)

 

{ ادفع بالتى هِىَ أَحْسَنُ } أي الخلة من الصفح والإِعراض عنهم { السيئة } أذاهم إياك ، وهذا قبل الأمر بالقتال [ 5 : 9 ] { نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ } أي يكذبون ويقولون فنجازيهم عليه .

تفسير الجلالين – (ج 7 / ص 250)

وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآَنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ (92)

 

{ وَأَنْ أَتْلُوَ القرءان } عليكم تلاوة الدعوى إلى الإِيمان { فَمَنِ اهتدى } له { فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِ } أي لأجلها فإن ثواب اهتدائه له { وَمَن ضَلَّ } عن الإِيمان وأخطأ طريق الهدى { فَقُلْ } له { إِنَّمَآ أَنَاْ مِنَ المنذرين } المخوِّفين فليس عليَّ إلا التبليغ ، وهذا قبل الأمر بالقتال .

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – (ج 18 / ص 133)

( وَإِنْ ) ( وَقَفَ ) مُسْلِمٌ أَوْ ذِمِّيٌّ ( عَلَى جِهَةِ مَعْصِيَةٍ كَعِمَارَةِ ) نَحْوِ ( الْكَنَائِسِ ) الْمَقْصُودَةِ ، لِلتَّعَبُّدِ وَتَرْمِيمِهَا وَإِنْ مَكَّنَّاهُمْ مِنْهُ كَمَا قَالَهُ السُّبْكِيُّ وَالْأَذْرَعِيُّ وَغَيْرُهُمَا أَوْ قَنَادِيلِهَا أَوْ كِتَابَةِ نَحْوِ التَّوْرَاةِ ( فَبَاطِلٌ ) لِكَوْنِهِ إعَانَةً عَلَى مَعْصِيَةٍ .

نَعَمْ مَا فَعَلَهُ ذِمِّيٌّ لَا نُبْطِلُهُ إلَّا إنْ تَرَافَعُوا إلَيْنَا وَإِنْ قَضَى بِهِ حَاكِمُهُمْ لَا مَا وَقَفُوهُ قَبْلَ الْمَبْعَثِ عَلَى كَنَائِسِهِمْ الْقَدِيمَةِ فَلَا نُبْطِلُهُ بَلْ نُقِرُّهُ حَيْثُ نُقِرُّهَا ، أَمَّا نَحْوُ كَنِيسَةٍ لِنُزُولِ الْمَارَّةِ أَوْ لِسُكْنَى قَوْمٍ مِنْهُمْ دُونَ غَيْرِهِمْ فِيمَا يَظْهَرُ فَيَصِحُّ الْوَقْفُ عَلَيْهَا وَعَلَى نَحْوِ قَنَادِيلِهَا وَإِسْرَاجِهَا وَإِطْعَامِ مَنْ يَأْتِي إلَيْهَا مِنْهُمْ لِانْتِقَاءِ الْمَعْصِيَةِ لِأَنَّهَا حِينَئِذٍ رِبَاطٌ لَا كَنِيسَةٌ كَمَا فِي الْوَصِيَّةِ ، وَمِنْ ثَمَّ جَرَى هُنَا جَمِيعُ مَا يَأْتِي ثُمَّ ، وَمِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى أَنَّهُ يَقِفُ مَا لَهُ عَلَى ذُكُورِ أَوْلَادِهِ وَأَوْلَادِ أَوْلَادِهِ حَالَ صِحَّتِهِ قَاصِدًا بِذَلِكَ حِرْمَانَ إنَاثِهِمْ ، وَالْأَوْجَهُ الصِّحَّةُ وَإِنْ نُقِلَ عَنْ بَعْضِهِمْ الْقَوْلُ بِبُطْلَانِهِ

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج – (ج 27 / ص 55)

( وَنَمْنَعُهُمْ ) حَتْمًا ( إحْدَاثَ كَنِيسَةٍ ) وَبِيعَةٍ وَصَوْمَعَةٍ لِلتَّعَبُّدِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهِ كَنُزُولِ الْمَارَّةِ ( فِي بَلَدٍ أَحْدَثْنَاهُ ) كَالْقَاهِرَةِ وَالْبَصْرَةِ ( أَوْ أَسْلَمَ أَهْلُهُ عَلَيْهِ ) كَالْيَمَنِ ، وَقَوْلُ بَعْضِ الشُّرَّاحِ كَالْمَدِينَةِ مَحَلُّ وَقْفَةٍ لِأَنَّهَا مِنْ الْحِجَازِ وَهُمْ مَمْنُوعُونَ مِنْ سُكْنَاهُ مُطْلَقًا كَمَا مَرَّ ، وَيُهْدَمُ وُجُوبًا مَا أَحْدَثُوهُ ، وَلَوْ لَمْ يُشْتَرَطْ عَلَيْهِمْ هَدْمُهُ وَالصُّلْحُ عَلَى تَمْكِينِهِمْ مِنْهُ بَاطِلٌ ، وَمَا وُجِدَ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يُعْلَمْ إحْدَاثُهُ بَعْدَ الْإِحْدَاثِ أَوْ الْإِسْلَامِ أَوْ الْفَتْحِ يَبْقَى لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ كَانَ بِبَرِّيَّةٍ أَوْ قَرْيَةٍ وَاتَّصَلَ بِهَا الْعُمْرَانُ ، وَكَذَا يُقَالُ فِيمَا يَأْتِي فِي الصُّلْحِ ، أَمَّا مَا بُنِيَ مِنْ ذَلِكَ لِنُزُولِ الْمَارَّةِ وَلَوْ مِنْهُمْ فَيَجُوزُ كَمَا جَزَمَ بِهِ صَاحِبُ الشَّامِلِ وَغَيْرُهُ ( وَمَا فُتِحَ عَنْوَةً ) كَمِصْرِ عَلَى مَا مَرَّ وَبِلَادِ الْمَغْرِبِ ( لَا يُحْدِثُونَهَا فِيهِ ) أَيْ لَا يَجُوزُ تَمْكِينُهُمْ مِنْ ذَلِكَ فَيَجِبُ هَدْمُ مَا أَحْدَثُوهُ فِيهِ لِمِلْكِ الْمُسْلِمِينَ لَهَا بِالِاسْتِيلَاءِ ( وَلَا يُقَرُّونَ عَلَى كَنِيسَةٍ كَانَتْ فِيهِ ) حَالَ الْفَتْحِ يَقِينًا ( فِي الْأَصَحِّ ) لِذَلِكَ .

وَالثَّانِي يُقَرُّونَ بِالْمَصْلَحَةِ ( أَوْ ) فُتِحَ ( صُلْحًا بِشَرْطِ الْأَرْضِ لَنَا وَشَرْطِ إسْكَانِهِمْ ) بِخَرَاجٍ ( وَإِبْقَاءِ الْكَنَائِسِ ) وَنَحْوِهَا ( لَهُمْ جَازَ ) لِأَنَّ الصُّلْحَ إذَا جَازَ بِشَرْطِ كَوْنِ جَمِيعِ الْبَلَدِ لَهُمْ فَبَعْضُهَا بِالْأَوْلَى ، وَقَضِيَّةُ قَوْلِهِ وَإِبْقَاءُ مَنْعِ الْإِحْدَاثِ وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَلَيْسَ مِنْهُ إعَادَتُهَا وَتَرْمِيمُهَا بِآلَتِهَا أَوْ بِآلَةٍ جَدِيدَةٍ مَعَ تَعَذُّرِ فِعْلِ ذَلِكَ بِالْقَدِيمَةِ وَحْدَهَا وَنَحْوِ تَطْيِينِهَا وَتَنْوِيرِهَا مِنْ دَاخِلٍ وَخَارِجٍ أَيْضًا ، وَقَضِيَّتُهُ أَيْضًا مَنْعُ شَرْطِ الْإِحْدَاثِ وَهُوَ كَذَلِكَ إنْ لَمْ تَدْعُ لَهُ ضَرُورَةٌ وَإِلَّا جَازَ .

المجموع – (ج 19 / ص 412)

(فصل) ويمنعون من احداث الكنائس والبيع والصوامع في بلاد المسلمين لما روى عن ابن عباس رضى الله عنه أنه قال (أيما مصر مصرته العرب فليس

للعجم أن يبنوا فيه كنيسة) وروى عبد الرحمن بن غنم في كتاب عمر على نصارى الشام (انكم لما قدمتم عليا شرطنا لكم على أنفسنا أن لا نحدث في مدائننا ولا فيما حولها دبرا ولا قلاية ولا كنيسة ولا صومعة راهب، وهل يجوز اقرارهم على ما كان منها قبل الفتح ينظر فيه فإن كان في بلد فتح صلحا واستثنى فيه الكنائس والبيع جاز اقرارهما لانه إذا جاز أن يصالحوا على أن لنا النصف ولهم النصف جاز أن يصالحوا على أن لنا البلد الا الكنائس والبيع.

وان كان في بلد فتح عنوة أو فتح صلحا ولم تستثن الكنائس والبيع ففيه وجهان (أحدهما) أنه لا يجوز كما لا يجوز اقرار ما أحدثوا بعد الفتح (والثانى) أنه يجوز لانه لما جاز اقرارهم على ما كانوا عليه من الكفر جاز اقرارهم على ما يبنى للكفر، وما جاز تركه من ذلك في دار الاسلام إذا انهدم فهل يجوز إعادته ؟ فيه وجهان (أحدهما) وهو قول ابى سعيد الاصطخرى وأبى على بن أبى هريرة أنه لا يجوز لما روى كثير بن مرة قال: سمعت عمر بن الخطاب رضى الله عنه يقول، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تبنى الكنيسة في دار الاسلام ولا يجدد ما خرب منها.

وروى عبد الرحمن بن غنم في كتاب عمر بن الخطاب على نصارى الشام: ولا يجدد ما خرب منها، ولانه بناء كنيسة في دار الاسلام فمنع منه كما لو بناها في موضع آخر.

(والثانى) أنه يجوز لانه لا جاز تشييد ما تشعب منها جاز إعادة ما انهدم وإن عقدت الذمة في بلد لهم ينفردون به لم يمنعوا من إحداث الكنائس والبيع والصوامع ولا من إعادة ما خرب منها، ولا يمنعون من إظهار الخمر والخنزير

والصليب وضرب الناقوس والجهر بالتوراة والانجيل وإظهار مالهم من الاعياد ولا يؤخذون بلبس الغيار وشد الزنانير لانهم في دار لهم فلم يمنعوا من إظهار دينهم فيه.

One thought on “KEBEBASAN BER-AGAMA DAN KONTEKS CIVIL SOCIETY”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *