FENOMENOLOGI AGAMA

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti, ilmu tentang gejala-gejala. Istilah ini dipakai pertama kali oleh J.H. Lambert (1728-1797) ahli matematika dan filsafat.

Kemudian yang memakai istilah fenomenologi untuk ilmu agama adalah Piere David Chantepia de la Saussaye. Menurut de la Saussaye, fenomenologi agama bertugas menyusun, mensistematisasikan gejala-gejala keagamaan seobjektif mungkin. Fenomenologi merupakan  reaksi dari ilmu perbandingan agama yang  terpengaruh oleh ide evolusionisme Darwin.

Tokoh lain fenoemologi yang menonjol adalah Rudolf  Louis Karl Otto dan Gerardus Van der Leeuw. Kedua tokoh ini memakai fenomenologi untuk menepis aliran reduksionisme yang menganggap agama sebagai penyakit.

Menurut Otto, setiap ide rasional tentang  Tuhan tidak bisa menyatakan esensi ketuhanan secara jelas dan lengkap. Inti pengalaman keagamaan dan kesadaran keagamaan tidak terdapat dalam rasionalisasi dan penjelasan-penjelasan. Tetapi inti kesadaran keagamaan ada pada Yang Suci ( numinous).

Tujuan tertinggi fenomenologi agama adalah menemukan intisari atau esensi agama. Ini sekaligus kelemahan menurut H.L. Beck (1990), dimana penerimaan pengalaman keagamaan sebagai prinsip metodologi tidak sesuai dengan syarat yang dapat dipahami dengan cara yang intersubjektif dan interkomunikabel. Pengalaman keagamaan juga tidak memenuhi sayarat tahkik maupun  pemalsuan (falsifikasi).

            Kalau kita menganggap fenomenologi agama sebagai ilmu yang mesti dilaksanakan untuk ilmu, maka tujuan tertinggi itu harus ditolak (Herman L. Beck, “Fenomenologi Agma”  Makalah tidak diterbitkan, Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga, 1990).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *