BAB III KAROMAH DALAM ISLAM

A. Pengertian Karomah, Mu’jizah, istidraj, sihir dan Perbedaanya.

أ‌.                     Pengertian Karomah     

ب‌.                 Perbedaan Karomah dan Istidraj

ت‌.                 Perbedaan Karomah dan Sihir

Perbedaan karomah dan sihir, apabila kejadian luar biasa yang tidak dibarengi dengan Pengakuan kenabian pada diri orang yang shaleh, hamba yang melaksanakan hak-hak Allah  dan manusia, maka itu adalah karomah. Apabila keluarbiasaan itu terjadi pada diri  selain itu maka disebut istidraj.

Imam Haramain mengatakan perbedaan tersebut bukanlah perbedaan akal belaka tetapi sudah menjadi kesepakatan sebagian ‘ulama. Perbedaan antara yang shaleh dengan yang tidak sangatlah jelas, tidak ada “Pertanda” seperti pertanda, tidak ada “Budi pekerti” seperti budi pekerti. Orang yang tidak shaleh bila berbaur dengan orang yang shaleh dapat dibedakan dengan kejelekan perbuatan dan perkataanya. Atas perbedaan itu terjadilah tantangan antara orang shufi dan kaum Barahim, kaum Barahim adalah suatu kaum yang tampak padanya keluar biasaan karena tirakat nya. Maka terbanglah seorang kaum Barahim di udara, naik pula sandal seorang Syekh menuju orang itu dengan memukulinya terus menerus hingga ie terjatuh ke bumi dengan kepala dibawah dihadapan Syekh, kejadian itu dilihat oleh banyak orang.

Ibnu Hajar berkata kejadian seperti ini pernah terjadi pada guru saya yaitu Ibnu Abi Hama’il, ketika berada di Paris kota Kuwiri sebuah kota dekat Dimyath. Datanglah seseorang yang menyerupai shufi kenegara Paris memeperlihatkan keluarbiasaanya kepada penduduk, sampai penduduk menjadikannya sebagai panutan. Pada akhirnya tampaklah key’ban-key’aban pada dirinya yang tidak sesui dengan jalan istiqamah yang banyak menyesatkan para penduduk. Dia mempunyai majlis dzikir di masjid jami’yang di masjid itu juga guru saya mempunyai majlis dzikir. Pada suatu malam setelah guru saya selesai dari majlisnya dan mereka belum selesai beliu diam sejenak dan berkata pada terompah yang ada di masjid “ Hai terompah pergilah kamu key syekh (sufi palsu), jika syekh itu pembohong maka pukullah sampai ai keluar dari masjid”. Jama’ah guru saya mendengar pukulan dari syekh sufi yang palsu, larilah ia beserta jama’ahnya keluar dari masjid dan keluar dari negara Paris dan tidak diketahui kemana perginya.

Pernah terjadi pula pada diri Al-‘Arif Al-Baha’I As-Sanadi Shahibul Imam Syurahwardi, bahwa kaum Barhami datang key masjidnya lalu terbang di udara, bersamaan dengan itu terbang pula syekh berputar-putar di arah majlis, melihat itu kaum Barhami masuk Islam, karena mereka tidak bisa terbang sambil berputar-putar tapi hanya berdiri tegak di udara.

Abdullah bin Hanif telah berdebat dengan kaum Barahim tentang hakekat Islam. Abdullah bin Hanif bersama kaum Barahim mengosongkan perutnya (tidak makan apa-apa) selama empat puluh hari. Kaum Barahim tidak kuat sampai empat puluh hari. Sedangkan Abdullah bin Hanif dapat menyempurnakannya sampai empat puluh hari dengan santai.

Pernah terjadi juga, Abdullah bin Hanif menantang kaum Barahim berdiam di bawah air untuk beberapa saat lamanya. Kaum Barahim mati dan bangkainya muncul dipermukaan, belum sampai batas waktunya, sedang Abdullah bin Hanif dapat menyempurnakan dan muncul di permukaan dengan selamat.

 

ث‌.                 Macam-Macam Karomah

Macam-macam Karomah itu banyak, tetapi karomah yang paling besar yang dimiliki seorang wali adalah mendapat pertolongan untuk taat dan terjaga dari kemaksiatan dan pertentangan.

Diriwayatkan dari Sahal bin Abdullah bahwa dia berkata:

“ Barang siapa zuhud di dunia ini selama empat puluh lima hari dengan betul-betul tulus keluar dari hatinya dan ikhlas. Maka ia akan mempeoleh karomah. Barang siapa yang tidak memperoleh, maka zuhudnya tidak benar”.

Sahal pernah ditanya “Bagaimana karomah itu diperoleh” Dia menjawab “Dia harus mengambil apa yang dia kehendaki seperti dia kehendaki dan dari tempat yang di kehendaki.

Dalam Iqaadhul Himami sarah dari al-Hikam disebutkan karomah itu ada dua macam, karomah hissyah seperti terbang di udara, berjalan di atas air, dan karomah ma’nawiyah seperti terbukanya hijab kelalaian, sucinya hati/kasyaf, nyatanya ‘irfan dan naik pada maqam ihsan.Seseorang mendapatkan karomah hissiyah karena dirinya telah keluar dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh manusia, banyak makan, minum, tidur, berpakain indah, campur dengan manusia, banyak bicara, permusuhan dan tengelam dalam ibadah dhahir dan ilmu-ilmu dhahir.Sedangkan karomah ma’nawiyah diperoleh karena dia telah meninggalkan kebiasaan ma’nawiyah seperti cinta pada kedudukan dan kemulyaan, mencari keistimewaan, cinta dunia dan pujian, dengki, ujub, sombong, riya’, tama’ takut miskin dll.

Jadi barang siapa yang meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hissiyah (jasad) dengan riadhah maka dirinya akan mendapatkan karomah hissiyah seperti terbang di udara, berjalan di atas air dan lain sebagainya. Dan barang siapa yang meninggalkan kebiasaan-kebiasaan ma’nawi maka akan mendapat karomah ma’nawiyah, seperti kasyaf………………………………………

Artinya:

Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tidak merubah dirimu dari kebiasaanya”.

Imam Taajus Subhi menyebutkan dalam Tabaqaatul Qubra Karomah itu bermacam-macam.

  1. Menghidupkan mayit…………….sampai halaman 25. Tidak dapat terkena

 

 

Kemudian Imam Taajus Subhi mengatakan “ Dugaan saya mengatakan bahwa karomahnya para wali itu lebih dari seratus, saya telah meninggalkan dan mendatangkan sesuatu yang cukup dan sampai bagi orang-orang yang hilang sifat kelalaianya. Macam-macam karomah dari setiap macam karomah sangat banyak dijumpai dalam kisah-kisah yang sangat masyhur dan juga dalam hadits, maka di kemudian hari tidaklah kebenaran tetapi kesesatan setelah datangnya kebenaran dan tidak ada sesuatu setelah penjelasan petunjuk kecuali kemustahilan dan bagi orang-orang yang mendapat pertolongan menerimanya, semoga Allah SWT menjumpakan orang-orang shaleh seperti itu, karena mereka dijalan yang lurus. Seandainya saya menukil tentang perkara yang ada pada orang shaleh maka akan menyesakkan nafas dan kertas.

Dalam Muqaddimah Thabaqotus Shughra Imam Abdur Ra’uf menjelaskan tentang model-model karomah dalam bentuk lain. Beliau tidak menisbatkan Thabaqatnya dari Sayyid Muhyiddin bin Al-Arabi dalam kitabnya Mawaqiun Nujum tetapi Abdur Ra’uf Munadi meringkas, memilih dan menyuguhkan sekira kitab itu jelas baginya.

Imam Abdur Ra’uf Al-munadi mengatakan: “ Ketahuilah sesungguhnya yang dimaksud dengan kejadian karomah adalah: Bahwa Allah menampakkan keajaibannya kepada kekasihnya (wali). Dan Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanya untuk menambah rasa cintaanya dalam tingkatan maqamnya dan menguatkan terhadap apa yang menjadi tujuan seorang wali sebagaimana firman Allah dalam surat Bani Isra’il ayat 1

Artinya:…………………..

Maka Allah Menyebutkan argumentasinya. Apabila waris itu sah bagi seorang wali dalam segala tingkah lakunya, kebagusanya dalam mengikuti Rasulullah SAW dan menetapi Allah maka tidak mustahil Allah akan melayaninya dengan beberapa karomah. Seperti penglihatan seorang wali terhadap orang yang akan datang dari jarak jauh, melihat ka’bah dari jarak jauh, melihat alam malakut rahmani dan thurabi(debu) dan lain sebagainya kejadian luar biasa yang terdapat pada nabi, untuk memulyakan orang yang mengikuti dan mencintainya. Alam ruhani malakut seperti malaikat, alam ruhani jabarut seperti jin, alam ruhani tanah/debu seperti wali abdal dan wali autad. Tentang para malaikat sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya…………..Al-Anbiya’ 30.

      Bagaimana pendapatmu terhadap mereka yang terjaga dari malas, lalai dalam beribadat. Keberadaan seorang wali itu selalu berdzikir pada Allah dunia di pandang kecil karena selalu melaksanakan berbagai macam ibadah., ketika seorang wali melihat dengan nyata tingginya maqam dan penyaksian  keagungan dan kemulyaan Allah.Dan majlisnya orang yang berbahagia aadalah kebahagian.

Adapun Alam ruhani thin (tanah) yaitu setiap hamba yang memiliki sifat-sifat malaikat yang selalu menghadap Allah dalam kesungguhan perjuangan dan memiliki sifat-sifat yang sempurna seperti Nabi Khidhir, dan hamba sepertinya.

Tidakkah kamu melihat Ibrahim Al-Khawas ketika berkumpul dengan Nabi Khidhir, bagaimana berkumpulnya Ibrahim dengannya dijadikan karomah. Maka Ibrahim berkata kepada Nabi Khidhir “Dengan apa aku dapat melihatmu?” Nabi Khidhir menjawab “ Dengan kebaikanmu terhadap ibumu”. Maka berkumpul dengan para sayyit menjadikan wali berbahagia, dan nyatalah bahwa Allah SWT menemani para wali, yaitu Allah mengumpulkan para wali dengan hamba yang ta’at dan hamba yang istimewa dan Allah melimpahkan rasa cinta di antara mereka. Mereka adalah kaum yang majlisnya tidak membawa celaka, mereka yang pindah dari permulaan yang bersifat tanah dan keluar dari kebiasaan manusia matahari pertolongan telah mematangkan mereka dengan bumi yang bagus yang diberkahi yang sedang campurannya yang lembut……Matahari pertolongan mengeluarkannya  dari pusat mereka dan menyampakkan mereka pada alam ‘ulwi (tinggi). Maka tampaklah keluar biasaan padanya dan matahari pertolongan mengembalikannya pada alam ajsam. Apabila manusia menjumpai mereka yaitu malaikat yang tidak menghasilkan suatu sifat yang tidak ada pada manusia, maka keluarlah manusia itu dari kebiasaan yang berlaku pada manusia, maka tampaklah keluar biasan padanya yang mengherankan yang membersihkan hati yang bersifat alam malakut, menjinakkan hasil dari penyaksian-penyaksian itu sampai pada hilangnya manusia dari pandangan mata.. Penyebab dari terhalangnya orang yang melihat adalah adanya penghalang, maka bersuaralah suara tanpa rupa kepadamu dan kamu tidak mengetahuinya, berjalan diatas air, terbang diatas udara. Dan manusia itu tidak dapat dilihat, maka manusia itu menjadi bahan yang pertama yang menerima dibuat bentuk dan bentuk seperti alam ruhani. Oleh karena itu Nabi khidhir bisa berubah bentuk sesui dengan yang diingininya.

Ibnu Hajar ditanya “Apakah mungkin bisa melihat nabi dalam keadaan sadar (tidak tidur)” Ibnu Hajar menjawab “Ada sebagian golongan yang mengingkari dan ada sebagian golongan yang membolehkan (bisa) qaul inilah yang benar. Dari orang shaleh yang tidah salah cipta telah membuat khabar bahkan membuat dalil dengan hadits Bukhari:

Artinya:

“Barang siapa yang melihat saya dalam tidur maka akan melihat saya dalam keadaan sadar”

yaitu dengan mata kepala, sebagian yang lain mengatakan dengan mata hati. Melihatnabi pada hari qiyamat adalah jauh dari makna “yaqdhah” (sadar), karena tidak ada faedah dalam pengetahuan. Selain itu nanti pada hari qiyamat seluruh umat melihat nabi baik orang yang pernah melihat dalam keadan tidur maupun tidak

Dalam syarah Ibnu Abi Jamrah dalam mensyarahi kitab Bukhari, kitab Bukhari menjadi pilihannya karerna ketetapan kuatnya hadits atas hadits lainya, untuk orang yang ahli mengikuti sunahnya. Ibnu Abi Jamrah  berkata “ Barang siapa yang mengaku istimewa tanpa pengistimawaan dari  Nabi Muhammad SAW maka hal itu menyimpang dari jalan” Abi Jamrah mengingkari dalam masalah melihat nabi dalam keadaan tidur. Karena Abi Jamrah tidak membenarkan perkataan nabi yang benar dia juga tidak mengetahui kekuasan yang berkuasa, juga mengingkari adanya karomah para wali yang nyata dalam hadits yang jelas.Yang dimaksud Abi Jamrah dengan umumnya hadits adalah adanya melihat nabi pada waktu sadar adalah dijanjikan atas orang yang pernah melihatnya pada waktu tidur walaupun hanya sekali, untuk membuktikan janji nabi yang mulya. Kejadian melihat nabi pada waktu sadar banyak terjadi pada orang-orang umum ketika sakratul maut. Karena ruh tidak keluar dari orang tersebut sebelum melihat kesetian janji Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar sebelum sakratul maut baik sering maupun jarang tergantung, cintanya, rindunya dalam mengikuti sunnah. Karena perbuatan menyalahi sunnah merupakan penghalang yang besar.

Dalam Sahih Muslim dari ’Imran bin Hashin sesungguhnya memberikan salam kepada ‘Imran untuk memulyakan kesabarannya ketika sakit ambient, ketika imran membakarnya (ngecos = jawa) maka para malaikat tidak lagi memberikan salam, ketika ‘Imran tidak ,lagi membakarnya (mengobati) maka salam para malaikat kembali kepadanya, karena membakar bertentangan dengan sunnah, mencegah salam para malaikat padanya. Membakarnya termasuk kategori menyalahi dalam tawakkal, pasrah dan sabar. Dalam riwayat Baihaqi malaikat menyalami ‘Imran, maka tatkala membakarnya (mengobati)  malikat pergi darinya.

Dalam Al-Munqidz min Adlalal, setelah Imam Ghazali memuji para shufi dan menerangkan bahwa mereka sebaik-baik ciptaan sehingga sampai pada keadaan jaga mereka dapat menyaksikan para malaikat, arwah para nabi, mendengar suara para malaikat dan memintanya beberapa faedah dan naik dari keadaan penyaksian bentuk sampai pada beberapa kedudukan (derajat) yang tidak bisa dibicarakan oleh orang yang bicara.

Murid Al-Ghazali yaitu Abu Bakar bin Arabi Al-Maliki berkata” Melihat para nabi, malaikat dan mendengarkan percakapannya itu mungkin terjadi bagi orang mukmin sebagai karomah dan siksaan bagi orang kafir. Dalam madkhalnya Ibnu Haj Al-Maliky disebutkan “Kemungkinan kecil melihat Rasulullah SAW dalam keadan jaga, hal ini sedikit terjadi kecuali atas orang yang mempunyai sifat mulya pada zaman ini. Tetapi kami tidak mengingkari kemungkinan ini atas orang-orang besar yang Allah menjaga lahir dan bathin mereka”. Abu Bakar bin Arabi mengatakan “Sebagian ‘Ulama dhahir mengingkari adanya kejadian ini dengan argumentasi, mata yang fana (rusak) tidak bisa melihat mata yang baqa’ sedangkan Rasulullah berada ditempat kelanggengan sedangkan orang yang melihat berada ditempat yang fana. Pendapat ini ditolak, sesungguhnya jika seorang mukmin itu mati maka ia akan melihat Allah dan Allah tidaklah mati. Satu dari orang yang besar mati tujuh puluh kali dalam satu hari. Atas penolakan ini Al-Baihaqi memberikan isyarat, sesungguhnya Rasulullah SAW melihat jama’ah para nabi pada malam mi’raj. Jama’ah para wali pada zaman ini dan seblumnya mereka melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadan hidup diwaktu jaga setelah wafatnya beliau.

Ibnu Hajar ditanya “Apakah sekarang mungkin bisa berkumpul denagn Rasulullah SAW dalam keadaan jaga dan bertemu dengannya” ia menjawab “Yaa itu mungkin karena berkumpul dan bertemu dengan Rasulullah merupakan karomahnya para wali, telah dijelaskan oleh Iman Ghazali, Imam Barizi, Imam Tajus Subhi, Imam Afif Yafie dari madzhab Syafi’I, Imam Qurthubi, dan Abi Jamrah dari madzhab Maliki.Diceritakan dari sebagian para wali bahwa mereka hadir pada majlis Faqieh, yang meriwayatkan suatu hadits, maka wali itu berkata padanya “Hadits ini bathil” Faqieh bertanya “Dari mana perkataan ini” Wali menjawab “Ini Rasulullah SAW berdiri di kepalamu dan berkata saya tidak mengatakan hadits ini” maka dibukakan untuk Faqieh sehingga bisa melihat Rasulullah.

 

ج‌.                  Hubungan Karomah Dengan Anggauta Tubuh

Syekh Muhyiddin Ibnul ‘Arabi…………….lansung halaman 41

I.   Bagaimana Karomah dalam Islam

Al-Yafie dalam kitabnya Raudhur Riyahin berkata: “Sangat mengherankan terhadap orang yang mengingkari adanya karomah para wali, padahal banyak disebutkan dalam beberapa ayat yang mulya, hadits-hadist yang shahih dan perkataan para sahabat yang terkenal dan dalam hikayat-hikayat yang berserakan……..”. Kemudian beliau berkata “Manusia dalam mengingkari adanya karomah ada beberapa bagian” yaitu:

  1. Mengingkari muthlaq adanya karomah yaitu golongan Mujassimah……..
    1. Golongan yang mempercayai adanya karomah pada orang yang terdahulu dan tidak mempercayai adanya karomah pada zamannya. Abu Hasan Asyadzili mengibaratkan seperti Bani Israil yang membenarkan Nabi Musa ketika ketika mereka tidak melihatnya dan Mengingkari Nabi Muhammad SAW ketika melihatnya. Padahal Nabi Muhamad SAW lebih agung dari Nabi Musa AS  hal itu karena mereka dengki……..
    2. Golongan yang mempercayai adanya karomah pada zamannya, tetapi tidak percaya adanya itu pada orang tertentu….

Apabila dikatakan sesungguhnya karomah menyerupai sihir, maka sesungguhnya pendengaran manusia pada suara tanpa rupa diudara, pendengaran orang yang mengundang dalam perutnya, dilipatkan bumi padanya dan bukanya mata hati dan lain sebagainya Memang betul semua itu tidak dijanjikan dalam kategori kebaikan karena itu berasal dari. Para ‘Ulama hakekat memberikan jawaban tentang perbedaan antara karomah dan sihir yaitu: Sihir terjadi pada orang yang fasik, zindik dan kafir, mereka adalah orang-orang yang menyalahi syariat.Sedangkan para wali sampai memperoleh keluar biasaan dengan kesungguhan mereka (jihad) dan mengikuti sunnah sehingga mereka sampai pada kedudukan yang luhur.

Al-Yafie berkata: Kebanyakan orang yang mengingkari karomah ketika mereka melihat salah seorang dari wali dan orang sholeh yang bisa terbang keudara, maka mereka mengatakan ini adalah sihir dan khadam dari jin dan syaitan. Jelaslah bahwa orang yang mengharamkan pertolongan Allah adalah mendustai kebenaran dengan nyata.Bagaimana kepercayaan mereka terehadap barang yang ghaib: sebagaimana yang Allah perintahkan…………Karena sesunghuhnya orang yang mengingkari sesuatu yang dapat dirasa maka dapat dipastikan juga mengingkari sesuatu yang ghaib. Imam Syafi’I mengatakan “ mengingkari adalah cabang dari kemunafikan”

Ibnu jauzi menentang habis-habisan terhadap para shufi dan karomah yang ada pada mereka dalam kitabnya talbisul iblis, ia menuduh bahwa prilaku shufi, begitu juga adanya karomah termasuk bid’ah, khurafat. Tetapi oleh Asfahani dijawab dengan menceritakan keanehan-keanehan seratus wali mulai dari masa Rasulullah dalam kitabnya hilyatul auliya’.

Jika tampak keluarbiasaan pada diri seseorang maka itu ada kalanya disertai pengankuan atau tidak disertai pengakuan.

أ‌.        Yang disertai pengakuan, adakalanya pengakuan yang bersifat ketuhanan, kenabian,kewalian atau pengakuan sihir dan syetan.

  1. Keluarbiasaan disertai pengakuan

–         Pengakuan bersifat ketuhanan.

Sahabat saya (Imam Syafi’i) membolehkan tampaknya keluarbiasaan pada diri orang yang mengaku mempnyai sifat ketuhanan dengan tidak ada yang melawan (membantah). Seperti dinukil dari keterangan: sesungguhnya Fir’aun mengaku menjadi tuhan, dalam kisahnya fir’aun memiliki keluarbiasaan, dan dinukil dari keterangan tentang dajjal yang memiliki keluarbiasaan. Imam Syafi’I berkata boleh kejadian luar biasa pada diri Dajjal karena bentuk dan penciptaanya menunjukkan atas kebohongannya, maka adanya keluarbiasaan padanya tidak mendatangkan percampuran (….)

  1. Pengakuan bersifat kenabian

Pengakuan ini ada dua macam: adakalanya pengakuan itu benar, adakalanya pengakuan itu bohong. Apabila pengakuannya itu benar maka ia wajib menampakkan keluarbiasaannya. Pendapat ini disepakati oleh orang yang mengakui sahnya sifat kenabian para nabi. Apabila pengakuannya itu bohong maka tidak boleh menampakkan keluarbiasaan yang ada pada dirinya, apabila ditampakkan maka harus ada yang melawannya.

  1. Pengakuan bersifat kewalian

Orang yang mengatakan dengan kekeramatan para wali berbeda pendapat, apakah boleh mengaku mempunyai atau tidak, baik kekeramatannya menghasilkan sesuatu yang sesui dengan pengakuannya atau tidak

  1. Pengakuan sihir dan menganut syetan

Menurut Imam Syafi’I menampakkan keluarbiasaan pada dirinya diperbolehkan dan menurut golongan mu’tazilah tidak diperbolehkan.

ب‌.    Keluarbiasaan tanpa pengakuan.

Keluarbiasaan tanpa pengakuan adakalanya terjadi pada orang shaleh yang diridhai oleh Allah, adakalanya terjadi pada orang yang tidak shaleh yang melakukan perbuatan dosa. Untuk yang pertama (yang terrjadi pada orang shaleh) dinamakan “karomah auliya’” dan telah sepakat Imam Syafi’i atas kebolehannya dan golongan mu’tazilah mengingkari kecuali Hasan Bishri dan temannya yaitu Mahmud Al-Khawarazmi.

ت‌.    Keluabiasaan yang terjadi pada diri orang yang tidak ta’at pada Allah SWT, dan ini dinamakan istidraj.

 

Dalil Al-qur’an tentang adanya karomah para wali

Adapun dalil Al-Qur’an tentang adanya karomah para wali adalah:

  1. Kisah Maryam yang mengandung tanpa ada lelaki, serta mendapatkan kurma basah dari pohon yang kering. Mendapatkan rezki yang tidak ada pada masanya serta tanpa adanya sebab musabab. Padahal Maryam bukan nabi seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Imran 37-38)…………………………………
  2. Kisah Ashabul Kahfi yang tidur selama tiga ratus sembilan tahun dalam keadaan hidup dan selamat dari marabahaya. Karena Allah menjaganya dari panas matahari. Seperi disebutkan firman Allah (Al-Kahfi ayat 18) Sebagian orang dalam menghadapi masalah ini berpegang pada firman Allah …………(An-Naml 40)

Orang yang menggunakan dalil bahwa ahli kitab itu adalah Nabi Sulaiman, itu tidak bisa diterima (gugur) maka Al-Qadhi menjawab tentang orang yang berpegangan dengan ayat itu dengan perkataanya.”Wajib adanya Nabi pada masa Ashabul Kahfi karena kejadian itu dijadikan ilmu oleh para Nabi, disamping peristiwa itu kejadian luarbiasa seperti mu’jizah. Al-Qadhi mengatakan mustahil kejadian itu mu’jizah bagi salah satu nabi, karena datangnya Ashabul Kahfi untuk tidur bukanlah perkara keluarbiasaan sehingga dijadikan mu’jizah. Karena pada peristiwa ini manusia tidak membenarkan salah satu dari nabi, mereka juga tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang mereka kecuali bila masih belangsung masa Ashabul Kahfi..Manusia mengetahui bahwa mereka yang datang pada masa ini, yaitu mereka yang tidur sebelum tiga ratus sembilan tahun. Seluruh syarat ini tidak dijumpai, maka kejadian ini terhalang untuk dijadikan mu’jizat  untuk salah satu dari Nabi. Kecuali dijadikan karomahnya wali dan kebagusan untuk wali.

 

Hadits tentang adanya karomah para wali

Adapun hadits tentang karomahnya para wali banyak sekali, diantaranya:

Hadits pertama:

Dikeluarkan dari Shahih Muslim dari Abi Hurairah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda………………………Keramat para wali hal 28

Hadits kedua:

Cerita ini terkenal dalam hadits shahih………….Kisah keramat Para wali hal 25

Hadits ketiga:

Rasulullah SAW bersabda:

“Beberapa orang berewok mempunyai baju yang lusuh dan robek jika dia bersumpah maka Allah akan mengabulkan sumpahnya” Dia tidak membedakan antara sesuatu dengan sesuatu dalam sumpahnya atas Allah.

Hadits keempat:

Sa’id bin Musayyab meriwayatkan dari Abi Hurairah dari Nabi SAW. Pada suatu hari ada seorang lelaki yang menggiring sapi yang diatasnya ada muatan, maka sapi itu menoleh dan berkata” saya tidak diciptakan untuk ini tetapi saya diciptakan untuk membajak” maka penduduk berkata “Subhanallah sapi ini bisa bicara, maka nabi SAW berkata “Saya, Abu Bakar dan Umar mempercayai hal ini.

Hadits kelima:

Dari Abi Hurairah RA dari Nabi SAW “Suatu hari seorang lelaki mendengar suara petir diawan, seperti akan menyirami kebun fulan. Lelaki itu berkata “Maka pada waktu masih pagi  saya pergi kekebun itu tiba-tiba seorang laki-laki berdiri telah berada dikebun itu, maka saya berkata kepadanya “siapa namamu” dia menjawab “fulan bin fulan ibnu fulan” saya berkata “apa yang kamu kerjakan atas kebunmu jika berbuah” lelaki itu berkata “Mengapa kamu bertanya tentang itu” saya menjawab “saya telah mendengar petir di langit dengan harapan agar menyirami fulan pada kebun fulan. Lelaki itu berkata “ketahuilah sesungguhnya saya telah membagi tiga kebun itu, saya jadikan sepertiga untukku dan keluargaku, sepertiga untuk orang miskin dan ibnu sabil dan sepertiga saya nafkahkan.

 

Cerita sahabat tentang adanya karomah

 

Dalil Akal yang membolehkan adanya karomah

  1. Sesungguhnya hamba itu kekasih Allah (wali) seperti dalam firman Allah………artinya. Dan Allah berfirman…….. Artinya. Dan Allah berfirman artinya. Maka dapat dikuatkan sesungguhnya Tuhan adalah dzat yang menolong hambanya, karena hamba adalah kekasih Tuhan, dan Tuhan adalah dzat yang dicintai hamba, dan hamba adalah dicintai Tuhan. Allah berfirman……………..artinya, dan firman Allah, dan firman Allah. Apabila semua itu telah dikuatkan. Maka bisa kita katakana. “Apabila seorang hamba telah mentaati perintah Allah, menjauhi segala yang dilarangnya serta diridhai-Nya, bagaimana mustahil Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Mulya berbuat (mengabulkan) dalam satu kali, apa yang menjadi kehendak hambanya bahkan itu lebih utama, karena sesungguhnya seorang hamba beserta kejelekan dan kelemahan dirinya ketika berbuat segala sesuatu yang dikehendaki Allah. Maka karena Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Mulya berbuat sekali terhadap sesuatu yang dikehendaki seorang hamba itu lebih utama. Oleh karena itu Allah berfirman………………….
  2. Seandainya saja tampaknya karomah itu tercegah, hal itu adakalanya dikarenakan: Pertama, Sesungguhnya AllahSWT bukanlah ahli melakukan perbuatan seperti ini. Kedua, Sesungguhnya seorang mukmin bukanlah ahlinya untuk diberi oleh Allah atas pemberian ini. Yang pertama adalah menyalahi kekuasaan Allah dan itu adalah kufur, dan yang kedua adalah bathal. Karena ma’rifat atas dzat Allah, sifat-sifat-Nya, af’al-Nya, asma-Nya, hukum-Nya, mencintai-Nya, mentaati-Nya dan selalu kontinyu untuk mensucikan, me-Maha Agungkan serta mentauhidkan-Nya adalah lebih mulya daripada memberi sepotong roti di belantara, atau menjinakkan ular dan singa, Maka ketika Allah SWT memberi seorang mukmin ma’rifat, mahabbah, dzikir dan syukur, tanpa diminta, mengapa mustahil Allah memberi seorang mukmin sepotong roti di belantara adalah lebih mulya?.
  3. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsy……………………………..

Hadits ini menunjukkan: bahwa tidak ada pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggauta hamba tanpa Allah. Karena jikalau semua itu tanpa Allah maka Allah tidak mengatakan  “Saya adalah dzat yang menjaga pendengaran dan penglihatan hamba. Apabila hal ini dapat dikuatkan, maka dapat dikatakan: tidak diragukan sesungguhnya maqam ini lebih mulya daripada menjinakkan ular, binatang buas, memberikan roti, segerombol anggur dan minuman air. Maka ketika Allah memberikan rahmat kepada hambanya derajat yang luhur ini, mengapa mustahil jika Allah memberikan satu roti atau satu minuman dalam hutan belantara.

  1. Allah SWT bersabda dalam hadits qudsy:………………………….Maka Allah menjadikan menyakiti para wali pada maqam, sama dengan menyakiti Allah, hal ini berdekatan dengan ma’na firman Allah…………………….dan firman Allah……maka Allah menjadikan janji pada Nabi Muhammad SAW sama dengan berjanji pada Allah SWT, dan ridhanya Nabi Muhammad SAW pada ridha Allah dan menyakiti Rasulullah SAW sama dengan menyakiti Allah. Maka tentulah derajad Rasulullah SAW setinggi-tinggi derajad.Begitu pula halnya dengan firman Allah dalam hadits qudsy…………………….Ini menunjukkkan bahwa Allah menjadikan menyakiti wali pada maqam sama dengan menyakiti dzat Allah, ini dikuatkan dengan sebuah hadits yang terkenal. Sesungguhnya pada hari qiyamat Allah SWT bekata “saya sakit maka kamu tidak menjenguk, saya minta kamu meminumiku, tetapi tidak kamu beri minum, saya minta makan, tetapi tidak kamu berimakan”. Maka seorang hamba berkata “Yaa tuhan bagaimana saya berbuat itu sementara engkau adalah Tuhan seru sekalian alam” maka Allah SWT berkata “Sesungguhnya hambaku fulan telah sakit, tetapi kamu tidak menjengguknya, apakah kamu tidak mengetahui jikalau kamu menjengguknya maka kamu akan menemukan ganjaran disisiku” begitu pula pahala memberi makan dam minum. Maka hadits ini menunjukkan bahwa sesungguhnya seorang wali sampai pada derajat ini, maka mengapa mustahil jika Allah SWT memberi sepotong roti atau seteguk air atau menjinakkan binatang seperti anjing yang liar kepada wali.
  2. Kita semua telah melihat kebiasaan, sesungguhnya jika seorang raja mengistimewakan seseorang dengan pelayanan istimewa, diberikan kepadanya untuk menyenangi raja, maka sunguh raja itu akan memberikan keistimewaan merupa kemampuan yang orang lain tidak mampu. Bahkan akal sehat menyaksikan, kapan pendekatan pada raja itu berhasil maka seseorang itu akan diikuti (mendapatkan)beberapa derajad, maka jadilah pendekatan itu “pokok” dan derajat yang mengikuti.

Dan sebesar-besar raja adalah Tuhan seru sekalian alam, maka ketika Allah memulyakan pada seorang hamba dengan menyampaikannya pada tingkatan pelayanan, derajad karomahnya dan memperlihatkan pada rahasia-rahasia ma’rifat-Nya dan mengangkat hijab yang menjauhkan dirinya dengan Allah. Dan Allah mendudukkanya pada tempat qurbah (pendekatan) pada-Nya. Maka mengapa mustahil bila Allah SWT menampakkan karomah-karomah itu  di dunia ini, padahal dunia bagaikan semut dibandingkan dengan kebahagian-kebahagian yang bersifat keruhanian dan ma’rifat yang bersifat ketuhanan.

  1. Tidak diragukan (jelaslah) bahwa sesuatu yang menggerakkan untuk beraktifitas adalah ruh bukan jasade. Jelaslah sesungguhnya ma’rifatullah itu itu dengan ruh, seperti pengetahuannya ruh untuk badan. Ini didasarkan atas penafsiran firman Allah………….dan sabda Nabi Muhammad SAW………………………..

“Saya mencegah disisi Tuhanku, memberi makanan dan minuman oleh Tuhan padaku” Sesui dengan pengertian. Kita semua telah melihat barang siapa yang lebih banyak ilmu tentang ilmu ghaibnya maka hatinya lebih kuat dan sedikit lemahnya. Oleh karena itu sayyidina Ali R.A. berkata “Demi Allah saya tidak membuka pintu negara Khaibar dengan kekuatan jasad tapi dengan kekuatan yang bersifat ketuhanan” semua itu karena Ali Karamallahu wajhah pada waktu itu memutus pandangannya dari alam jasad dan malaikat meneranginya dengan beberapa cahaya kebesaran maka ruhnya menjadi kuat yang menyerupai jauhar arwah yang bersifat  malaikat dan runya dipenuhi dengan terangnya alam qudsy dan keagungan. Maka Ali Karamallhu Wajhah mendapat kemampuan yang orang lain tidak mampu. Begitu pula dengan hamba apabila ia kontinyu untuk taat maka ia akan sampai pada maqam yang Allah katakan…………. “cahayaku menjadi  pendengaran dan penglihatan-Nya. Apabila cahaya keagungan Allah Menjadi pendengaran baginya maka ia akan mendengar sesuatu yang dekat dan jauh, apabila cahaya keagungan Allah menjadi penglihatannya maka ia akan melihat sesuatu yang dekat dan jauh. Apabila cahaya keagunnganya menjadi tangan baginya maka ia akan mampu untuk melaksanakan sesuatu yang sulit, mudah , jauh dan dekat.

  1. Adapun argumentasi yang ketujuh dibentuk atas faedah-faedah rasionalitas yang bersifat kebijaksanaan, yaitu sebagaimana yang telah dijelaskan  bahwasanya bahan ruh bukanlah daru jenis jisim yang menetap dan rusak…………..untuk pisah-pisah dan sobek tetapi berasal dari bahan malaikat dan sesuatu yang berada di alam langit dan beberapa orang yang disucikan tetapi ketika ruh dihubungkan dengan badan dan tenggelam dam mengurusi badan, maka ruh menjadi lupa terhadap tempat awalnya yaitu akherat, kekuatannya menjadi lemah dan tidak mampu melaksanakan suatu pekerjaan, adakalanya ruh minta bersenang dengan ma’rifat dan mencintai Allah dan sedikit tenggelamnya dalam menagtur badan ini hingga dirinya menggeluarkan cahaya ruh yang bersifat langit dan arasy dan cahaya itu memenuhi ruh maka menjadi kuat untuk memalingkan jisim alam ini, seperti kekuatan ruh yang bersifat cakrawala atas beberapa amal ini, semua itu merukan karomah.

Dan di dalam ruh terdapat rahasia lain yang halus, yaitu sesungguhnya ruh yang bersifat manusia itu berbeda-beda keadaanya, maka dalam ruh ada yang kuat juga ada yang lemah, ada yang terang ada yang kabur, ada yang panas ada yang tidak. Begitu pula dengan ruh yang bersifat cakrawala juga berbeda-beda. Apakah kamu tidak mengetahui pada jibril,tentang sifat Jibril Allah berfirman:……………Dan Allah berfirman tentang keadaan malaikat yang lain………………………. Maka perbedaan sifat malaikat, begitu pula ruh yang bersifat manusia, telah disepakati tentang adanya jiwa dari beberapa jiwa kekuatan-kekuatan yang bersifat kesucian bercahaya bahannya dan kuat untuk memalingkan bahan alam kebendaan   yang rusak dengan pertolongan ma’rifat pada sisi Allah Yang Maha Agung dan Mulya. Masalah ini penuh dengan rahasia yang halus dan dalam, barang siapa yang tidak sampai pada rahasia itu maka tidak akan membenarkannya. Kita memohon Allah agar diberi pertolongan untuk menemukan kebagusan.

 

Argumentasi Orang yang Mengingkari Terhadap Adanya Karomah                     

Argumentasi pertama:

Dengan argumentasi ini seseorang berpegangan dan dengan argumentasi ini mereka kesasar. Sesungguhnya Allah menjadikan menjadikan kejadian luar biasa sebagai petunjuk atas sifat kenabian, maka petunjuk ini tidak batal (berguna) atas orang selain nabi, karena sesungguhnya adanya petunjuk disertai tidak adanya sesuatu yang ditunjuki, maka keberadaan adanya petunjuk dan itu adalah batil.

 

Argumentasi kedua:

Orang yang mengingkari adanya karomah berpegang pada sabda Rasulullah SAW, diceritakan dalam sebuah hadits qudsy……………….Orang yang mengingkari karomah mengatakan “ini menunjukkan bahwa ibadah mendekatkan diri pada Allah dengan melaksanakan yang fardhu itu lebih besar daripada beribadah mendekatkan pada Allah dengan melaksanakan yang sunah, kemudia orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan yang fardlu itu tidak membuahkan apa-apa dari karomah, maka orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan yang sunah itu lebih tidak menghasilkan apa-apa dari karomah.

Argumentasi Tiga:

Orang yang mengingkari adanya karomah  berpegangan pada ayat………………..

Dan perkataan bahwa seorang wali pindah dari satu negara kenegara lain tidaklah menggunakan cara ini, hal ini menyalahi ayat  dan juga Nabi Muhammad SAW tidak sampai dari Makkah ke Madinah kecuali ditempuh dalam waktu beberapa hari dengan sangat payah. Bagaimana masuk akal dengan perkataan bahwa wali pindah dari satu negara ke negara lain ditempuh dalam satu hari.

Argumentasi empat:

Orang yang mengingkari adanya karomah berkata “Seorang wali yang tampak padanya beberapa karomah ketika mengaku kepada manusia mempunyai beberapa dirham, apakah kita kita menuntut wali dengan saksi atau tidak, karena tampaknya karomah pada wali menunjukkan bahwa ia tidak berbohong padahal menggunakan hadits yang terputus, bagaimana dalil dhonni itu dituntut kalau tidak dengan saksi, maka kita telah meninggalkan sabda Nabi …………………..”adanya saksi wajib bagi orang yang mengaku”

Argumentasi lima:

Jika tampaknya karomah itu boleh atas sebagian wali maka boleh pula atas lainnya. Apabila karomah itu banyak sehingga sesuatu yang diluar kebiasaan menarik sesuatu yang biasa maka hal ini menyalahi dalam mu’jizat dan karomah.

 

Jawaban atas orang yang mengingkari karomah

Jawaban argumentasi pertama

Ulama berbeda pendapat apakah boleh seorang wali mengaku atas kewaliannya. Ulama dari golongan hakekat menjawab “hal ini tidak diperbolehkan konsep inilah yang membedakan antara karomah dan mu’jizat. Kalau mu’jizat didahului dengan pengakuan kenabian sedangkan karomah tidak. Perbedaan ini disebabkan karena para nabi hanya diutus pada makhluk agar mengajak mereka dari kufur menjadi beriman dari maksiat menjadi that kalau saja pengakuan kenabian tidak tampak  maka mereka tidak mau beriman padanya dan jika tidak mengimaninya maka mereka tetap kufur, jika mengaku menjadi nabi dan menampakkan mu’jizat maka mereka akan beriman padanya. Para nabi memberikan pengakuan atas kenabiannya bukanlah bertujuan membanggakan diri tetapi bertujuan untuk menampakkan rasa kasih sayang sehingga berubah dari kufur menjadi beriman. Ketidaktahuan atas kedudukan wali atas diri seorang wali bukanlah kekufuran dan mengatahui kedudukan wali atas diri seorang wali bukanlah keimanan. Maka pengakuan kewalian adalah mencari kesenangan jiwa. Maka jelaslah seorang nabi wajib menampakkankenabianya sedangkan wai tidak boleh menampakkan pengakuan ini.

Ada sebagian Ulama yang membolehkan atas diri wali untuk menampakkan menampakkan pengakuan kewalian, mereka menyebutkan perbedaan karomah dengan mu’jizat dari beberapa segi:

  1. Menampakkan perbuatan yang berada diluarkebiasaan itu menunjukkan bahwa orang itu terbebas dari perbuatan maksiat. Jika perbuatan itu disertai pengakuan kenabian menunjukkan bahwa, pengakuan kenabian itu benar. Apabila disertai dengan pengakuan kewalian, itu menunjukkan bahwa pengakuan kewaliannya itu benar, maka dengan jalan ini tampaknya karomah pada diri wali tidak menyalahi pada mu’jizat para nabi.
  2. Sesungguhnya Nabi SAW mendakwakan atas kemu’jizatannya dan mu’jizat itu mesti adanya. Seorang wali ketika mendakwakan karomah maka karomah itu tidak mesti adanya. Karena mu’jizah wajib menampakkan sedang karomah tidak.
  3. Wajib menafikan sesuatu yang menentang terhadap mu’jizah dan tidak wajib menentang terhadap sesuatu yang menentang karomah.
  4. Kami tidak membolehkan atas diri wali  menampakkan karomah dalam mendakwakan kewalian kecuali jika seorang wali telah menetapkan bahwa dirinya sesui dengan  agama nabi.Apabila seperti itu maka karomah merupakan mu’jizat bagi seorang nabi untuk menguatkan risalahnya. Dengan ukuran ini tampaknya karomah tidaklah menyalahi dalam sifat kenabian bahkan akan menguatkan.

 

Jawaban argumentasi kedua:

Yaitu hanya menjalankan yang fardlu saja lebih sempurna daripada menjalankan yang sunnah. Adapun seorang wali hanya akan menjadi wali bila ia melaksanakan yang fardlu dan yang sunnah. Jelaslah keadan seorang wali itu lebih sempurna dari keadaan seseorang yang hanya melaksanakan yang fardlu saja.

 

Jawaban argumentasi ketiga:

Firman Allah dalam surat……….Mengandung pengertian atas perkara yang diketahui dan biasa. Sedangkan karomah para wali perkara yang langka.Dalam artian pengecualian atas perkara umum.

 

Jawaban argumentasi keempat

Yaitu berpegangan atas hadits nabi,……………..”Harus ada saksi atas orang yang mengaku”.

 

Jawaban argumentasi kelima:

Orang yang thaat itu sedikit sekali sebagaimana firman Allah…………..”Sedikit dari hambaku yang bersyukur” dan ……………”Kamu tidak menemukan kebanyakan dari mereka yang bersyukur”. Apabila sedikit yang thaat, Maka menampakkan karomah dalam waktu-waktu yang langka tidaklah meyalahi atas kejadian-kejadian yang umum.

 

Mengapa karomah banyak terjadi setelah masa sahabat.

Ibnu Hajar Al-Haitami ditanya: Mengapa karomah banyak terjadi setelah masa sahabat? Karomah itu lebih banyak terjadi setelah zamannya. Ahmad Ibnu Hanbal berkata” Karena iman para sahabat kuat dan tidak membutuhkan tambahan untuk menguatkan. Berbeda dengan zaman setelah sahabat, untuk menguatkan imannya dengan tambahan karomah. Imam Shihab Syurahwardi berkata “ yang perkataanya seperti menjelaskan perkara sebelumya “Sesungguhnya para sahabat dengan barakah melihat Rasulullah SAW dan menyaksikannya beserta turunnya wahyu maka dengan semua itu hati mereka menjadi terang, bersih jiwanya dan bersih kata hatinya sehingga mereka merasa cukup dengan apa-apa yang telah diberikan dari melihat karomah  dan kilauan sifat kekuasaan Allah.Imam Shihab Syuhrawardi mendasari dengan perkataan sebelum ini. Dibukanya keuarbiasaan bagi seseorang yang keyakinannya lemah menjadi rahmat dan pahala yang besar untuk sebagian hamba dan orang-orang yang mempunyai keluarbiasaan, kaum yang dihilangkan hijab dari hatinya sehingga menemukan ruh keyakinan dan murninya ma’rifat mereka tidak membutuhkan tampaknya keluarbiasaan. Al-Yafie memberikan jawaban “Bahwasanya Karomah merupakan cahaya dan perhiasan, bagusnya kemilauan cahaya hanya tampak pada kegelapan dan sempurnanya perhiasan akan tampak karena adanya kecacatan. Kegelapan dan kecacatan hanya ditemukan setelah sahabat. “Apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya jika matahari tenggelam maka kegelapan dan bintang tidak akan tampak, kecuali jika matahari menjauh dari ufuk. Dan sesungguhnya shahabat adalah ahli kebenaran, sunnah dan adil dan manusia setelah sahabat adalah bertolak belakang. Dan Allah mengutus kepada lelaki diseluruh negara dengan mengalunginya dengan pedang untuk memerangi pokok kerusakan, bid’ah dan pertentangan sehingga manusia takut dan mengikuti mereka. Hal ini dijadikan kinayah dan pedang itu tidak hilang sebagai mu’jizah bagi Rasulullah SAW.

Selesailah kedua jawaban Al-Yafie. Dan dua dari dua jawaban adalah kembali hasilnya pada dua jawaban yang pertama, dan yang kedua tidak patut dijadikan jawaban karena banyaknya permasalahan darinya. Bahkan tampaknya keagungan kedudukan karomah dalam hati, setelah zamannya sahabat itu lebih banyak dari keagungan kedudukan karomah pada zaman sahabat. Ini adalah permasalahan lain dan disalahgunakan dari tamsilnya Al-Yafie tentang matahari dan bintang. Didalam zaman akhir merupakan bintangnya orang ‘arifin dan bintangnya orang yang mendapat petunjuk yang tidak ada pada zaman awal. Semua itu ditemukan sendiri-sendiri kecuali dinisbathkan pada selain sahabat, maka benarlah orang-orang setelah sahabat karena jika telah sempurna sesuatu yang senpurna maka ia tidak sampai pada sempurnanya sahabat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW……………………………….

“Jikalau kamu semua menafkahkan emas sebesar gunung uhud maka seumur tidak akan sampai, walaupun separonya”. Adapun perkataan Ibnu Abdul Barri “Sungguh ditemukan dalam makhluk orang yang lebih utama dari sahabat karena adanya sebuah hadits “Umatku seperti hujan tidak diketahui apakah awalnya itu atau akhirnya yang lebih baik, dan hadits lain yang semakna dengan ini. Maka perkataan Ibnu Abdul Barri adalah nyeleneh yang tidak dijumpai dalam hadits-hadits sesuatu dilalah. Karena sebagian orang-orang mutaakhir itu mempunyai kelebihan yang tidak ditemukan dalam sebagian sahabat. Sebagian perkara yang ditetapkan adalah orang yang diunggulkan menjadi beda dengan kelebihan-kelebihannya itu dikuatkan, Ibnu Mubarrak menyukupinya dengan menjadi imam, ilmu dan ma’rifat, ia ditanya manakah yang lebih utama apakah Mu’awyyah atau Umar Abdul Aziz maka Ibnu Mubarrak menjawab demi Allah debu yang masuk hidung kudanya Mu’awyyah dan Rasulullah SAW itu lebih baik dari seratus Ibnu Abdul Aziz.

One thought on “BAB III KAROMAH DALAM ISLAM”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *