ANTARA HP DAN BUDAYA

Handphone, atau telefon genggam kini di masyarakat kita sudah begitu menjamur. Jika dulu –kira-kira tahun 1990-an– HP masih merupakan barang mewah dan hanya kalangan tertentu yang memakai, maka kini sudah menjadi barang murah, dan hampir semua kalangan memiliki. Tidak hanya kaum pebisnis, tetapi pengangguran pun sudah memakai barang yang sudah seperti “mainan” ini. Apalagi di kalangan mahasiswa, HP sudah menjadi semacam asesoris, hampir tidak ada di antara mereka yang tidak ber-HP. Seakan-akan jika tidak ber-HP dianggap kawula muda yang ketinggalan zaman –bukan kampungan– karena orang kampung sekarang juga sudah ber-HP ria. Disamping karena harganya yang memang terjangkau oleh kalangan bawah, seiring dengan kemajuan teknologi dan persaingan bisnis telekomunikasi, HP kini juga sudah menjadi alat komunikasi yang seringkali misused.

Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat pemakai HP nomor wahid di dunia. Coba kita perhatikan, di berbagai tempat: tidak di pasar, tidak di kampus, tidak di desa dan tidak pula di kota, kita menyaksikan semua orang hampir memakai barang yang satu ini, HP. Kenapa “barang” ini menjadi konsumsi paling laris di masyarakat kita? Apakah karena “kebutuhan”, “gengsi” ataukah karena praktis-ekonomis, atau karena yang lain? Kalau memang karena “kebutuhan”, apakah jika tidak memakai HP lantas mereka para pengangguran itu juga kehilangan pekerjaan mereka? Apakah semua remaja juga harus memakainya? Lantas, apakah HP negatif?

Setiap teknologi –termasuk HP– sebetulnya dalam dirinya mengandung dua  unsur: positif dan negatif. Teknologi bisa menjadi positif jika digunakan untuk kepentingan positif dan kebaikan manusia. Sebaliknya, ia menjadi negatif jika digunakan untuk kepentingan yang salah dan menghancurkan manusia. Di sinilah berlaku hukum “aksiologi”. Nah, siapakah di balik teknologi itu? Who is behind the gun? Manusia yang mampu memanfaatkan untuk kesejahteraan orang lain (beriman), atau sebaliknya (ingkar)?

Budaya Latah

Memang, para pebisnis, para ilmuwan dan sebagainya boleh berdalih: “Ini kebutuhan”. Tetapi bagaimana dengan para pangangguran dan mahasiswa? Apakah ya karena “kebutuhan”? Saya benar-benar prihatin sekarang ini, seringkali melihat mahasiswa bergerombol semuanya menenteng HP dan ber-SMS ria. Mereka duduk, berdiri, dan terlentang terus ber-HP ria, boro-boro ber-zikir dan ber-tafakkur sebagaimana yang menjadi jargon kita, UIN ini. Sampai saya harus goda mereka: “Dijual ta mbak, berapa kalau dijual”? Mereka hanya nyengir saja.

Kini saya tidak lagi melihat mahasiswa yang memiliki tradisi belajar bersama, berdiskusi, menenteng dan membaca buku di mana-mana: tidak di kampus, tidak di microlet atau di mana saja. Tradisi qira’ah dan berdiskusi (muza>karah dan muha>warah)  sudah tidak lagi kelihatan di kampus-kampus kita. Padahal seharusnya tradisi ini menjadi ruh dan “kebutuhan hidup” kita sebagai mahasiswa dan kelompok terdidik. Jika petani mempunyai alat cangkul, sabit dan sebagainya untuk menggarap sawah-ladangnya, jika tentara dan polisi memiliki senjata api, mahasiswa dan kaum terdidik seharusnya buku menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Ada ungkapan hikmah Arab yang sangat bagus berbunyi: Khairu jali>sin fi al-zam>ani kita>b” (sebaik-baik teman duduk di sembarang tempat adalah buku, kitab). Kenapa tradisi qira’ah sudah dilupakan oleh para mahasiswa kita? Untuk siapa surat al-‘Alaq yang pertama turun kepada Nabi kita, Muhammad saw. ini diteruskan? Bukankah untuk kita, mahasiswa muslim? Kenapa justru yang memiliki tradisi qira’ah dan tafakkur adalah mereka yang nota bene masyarakat non-Muslim, seperti Jepang atau negara sekuler lainnya? Jangan menyalahkan Tuhan jika kemudian mereka lebih unggul di bidang intelektual dan SDM selama ini, karena memang informasi pengetahuan (baca: hidayah) dalam al-Qur’an tidak hanya diberikan kepada orang Islam saja, tetapi juga orang lain. Karena memang, ketika al-Qur’an menyebut hudan atau hidayah itu tidak dikhususkan kepada orang Islam saja, tetapi seluruh manusia (baca: hudan li al-na>s). Namun, ketika al-Qur’an menyebut syifa’ dan rahmat, itu memang hanya dikhususkan pada orang beriman. Oleh karena itu jangan heran pula, jika mereka yang tidak beriman itu berpengetahuan tinggi, namun tidak memiliki syifa‘ atau ketenangan dan pertolongan di hari kiamat nanti, demikian pula mereka tidak memperoleh rahmat Allah swt. (lihat QS. al-Baqarah: 2,185; al-Furqan:1; Shad:87; al-Takwir:27; al-Isra’: 82). Seharusnya kita lebih unggul dibanding mereka, karena kita mempunyai tradisi qira’ah ini.

Penggunaan HP memang dekat dengan tradisi dan budaya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal ramah, supel, suka ngobrol dan basa-basi. Pada sisi yang lain, mereka juga suka wah dan ingin pamer. Saking supelnya kadang terbuai oleh bujuk-rayu dan tipu muslihat budaya lain. Di satu sisi, budaya bangsa yang sedemikian itu memang sangat menyenangkan orang lain, namun pada sisi yang lain kemudian berdampak pada produk teknologi itu sendiri, misalnya HP yang semestinya untuk kebutuhan seperlunya, kemudian menjadi untuk kepentingan yang tidak seperlunya, alias untuk ngobrol dan ngerumpi. Berbeda dengan masyarakat Barat yang dikenal individual dan tidak suka basa-basi, maka HP pun di kalangan mereka juga tidak begitu berpengaruh dan begitu penting –disamping budaya mereka yang sudah tidak lagi ingin gengsi-gengsian. Jika budaya suka ngobrol tidak berlaku di sana, maka HP untuk kepentingan ngobrol pun juga tidak berlaku. Nah, HP di Indonesia memang sesuatu yang tepat dan sesuai dengan masyarakatnya yang suka ngobrol tersebut.

“Berbicara seperlunya”, itulah tradisi orang Barat. Di satu sisi ini memang dianggap tidak familier, kurang bersahabat. Tetapi dalam konteks ini adalah positif. Bukankah kita sendiri mempunyai ajaran yang mengatakan, bahwa: “Sebaik-baik pembicaraan adalah sedikit tetapi cukup memuaskan”? (Khair al-kala>m ma> qalla wa dalla).

“Berbicaralah sepuasnya”, inilah tradisi kita, wong Timur. Di satu sisi memang dianggap ramah, supel dan menyenangkan tamu. Tetapi pada konteks penggunaan HP tidak menguntungkan dan menghapus tradisi baik lainnnya. Jika dulu masyarakat kita suka silaturrahim, bertandang ke tetangga, kerabat dan handaitolan, kini menjadi berkurang –untuk tidak mengatakan hilang sama sekali– tradisi positif yang dianjurkan  ajaran agama itu.

Adalah tepat apa yang diprediksikan oleh seorang futurolog kenamaan, Alvin Toffler. Dia mengatakan, bahwa pada zaman modern nanti hubungan antarmanusia bersifat impersonal, artinya hubungan antarmanusia sudah tidak lagi secara fece-to face, tetapi cukup melalui media telekominkasi (HP, internet, dan sebagainya). Pada saat inilah kemudian manusia sudah semakin mekanistik dan impersonal. Fenomena demikian ini sudah mulai terlihat di sebagian masyarakat kita. Bagaimana orang melakukan jual-beli dan bertransaksi yang sudah tidak lagi ketemu antar dua belah pihak, melainkan sudah melalui internet dan media telekomunikasi lainnya. Di kalangan masyarakat muslim, ber-halal-bihalal, ucapan belasungkawa, ucapan selamat dan tahni’ah lainnya juga sudah cukup dengan SMS, tanpa harus datang ke rumahnya, meski kadang juga dekat jaraknya. Fenomena semacam ini tentu mengikis tradisi positif silaturrahmi dan juga iya>dat al-mari>dh atau itba>‘ al-jana>iz dalam tradisi Islam kita.

Ketika pulang kampung pada hari raya fitri yang lalu, saya melihat bagaimana pemuda-pemudi kampung sudah terbawa oleh arus budaya konsumeristik seperti itu. Mereka sudah pada saling menenteng HP, dan bisa dibayangkan berapa setiap bulannya mereka harus mengeluarkan duit untuk membeli pulsa. Mereka sudah tidak lagi memperhatikan tradisi halal-bihalal seperti zaman kecil kita dulu, di mana kita diajari oleh orang tua kita untuk beramai-ramai bertandang ke para sesepuh untuk meminta doa dan nasihatnya. Demikian pula kita diajak berziarah kubur kepada para kerabat kita yang sudah meninggal (kakek, nenek, paman, bibi dan sebagainya).

Anjangsana atau bertandang ke rumah para sesepuh yang dicontohkan oleh para orang tua kita dulu sebenarnya tidak hanya bermakna tradisi rutinitas lebaran –karena jika hanya permintaan maaf sudah barang tentu mereka yang masih belum baligh itu tidak punya dosa atau salah– melainkan ada pelajaran yang sangat berharga, yaitu salam ta’zim dan menyambung silaturrahim baik antarkerabat maupun tetangga. Demikian pula ziarah kubur yang mengingatkan kita semua kepada Sang Pencipta, Allah SWT.  Luar biasa, ada pendidikan yang tidak bisa dilupakan oleh siapa pun yang waktu masih remaja terlibat dalam tradisi positif seperti ini. Itulah orang tua kita dulu, mereka lebih dari sekadar orang tua, tetapi juga uswah dan guru yang sangat bijaksana. Mereka secara tidak langsung memberikan kurikulum tersembunyi kepada kita (hiden curriculum).

Jika orang Barat atau Jepang, sebagai pemroduk media telekomunikasi tidak maniak dengan media yang mereka buat sendiri, kenapa kita begitu? Kita memang bangsa yang konsumeristik, tidak pandai mencipta tetapi pandai mengkonsumsi. Maka saatnya kita iqra’ dan iqra’ supaya menjadi bangsa yang maju dan berperadaban tinggi. Semoga!

_______________

            *Penulis adalah Pembantu Dekan I Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah UIN Malang yang lahir dari sebuah desa terpencil bertradisi santri.

One thought on “ANTARA HP DAN BUDAYA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *