AL-QU’AN DAN SAINS MODERN*

Respon Ulama Terhadao Sains:

1. Kelompok yang menganggap bahwa sains modern bersifat universal dan netral dan semua sains tersebut dapat diketemukan dalam al-Qur’an. Kelompok ini disebut kelompok Bucaillian, pengikut Maurice Bucaille, seorang ahli bedah Perancis dengan bukunya yang sangat populer, The Bible, the Quran and Science;

2. Kelompok yang berusaha untuk memunculkan persemakmuran sains di negara-negara Islam, karena kelompok ini berpendapat, bahwa ketika sains berada dalam masyarakat Islam, maka fungsinya akan termodifikasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan cita-cita Islam (lihat Sardar, 1988:167-171). Tokop-tokoh seperti Ismail Raji Al-Farauqi, Naquib Al-Attas, Abdussalam dan kawan-kawan bisa diklasifikasikan dalam kelompok ini, dengan konsep Islamisasi-nya.

3. Kelompok yang ingin membangun paradigma baru (epistemologi) Islam, yaitu paradigma pengetahuan dan paradigma perilaku. Paradigma pengetahuan memusatkan perhatian pada prinsip, konsep dan nilai utama Islam yang menyangkut pencarian bidang tertentu; dan paradigma perilaku menentukan batasan-batasan etika di mana para ilmuwan dapat dengan bebas bekerja (Sardar, 1988:102). Paradigma ini berangkat dari al-Qur’an, bukan berakhir dengan al-Qur’an sebagaiman yang diterapkan oleh Bucaillisme (lihat, Sardar:169). Kelompok ini diwakili oleh Fazlurrahman, Ziauddin Sardar dan kawan-kawan.

Persoalan ini bermula dari perspektif mereka mengenai ”apakah al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan atau hanya sebagai petunjuk agama saja?” Dari sini lantas muncul dua kelompok.

1. Kelompok Al-Ghazali. Beliau mengatakan, bahwa seluruh ilmu tercakup dalam karya- karya dan sifat-sifat Allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi-esensi, sifat–sifat dan perbuatan-Nya. al-Qur’an itu laksana lautan yang tak bertepi, dan jika sekiranya lautan itu menjadi tinta untuk menjelaskan kata-kata Tuhanku, niscaya lautan itu akan habis sebelum kata-kata Tuhan itu berakhir (lihat Al-Ghazali, 11329 H: 9, 32). As-Suyuti memiliki pandangan yang sama dengan mengatakan, bahwa al-Qur’an itu mengandung seluruh ilmu-ilmu klasik dan modern. Kitab Allah itu mencakup segala sesuatunya. Tidak ada bagian atau problem dasar suatu ilmu pun yang tidak ditunjukkan di dalam al-Qur’an (As-Suyuthi, 1979, I: 1).

2. Kelompok As-Syatibi yang mengatakan, bahwa orang-orang salih zaman dulu (para sahabat) tidak berbicara tentang bentuk-bentuk ilmu, padahal mereka lebih memahami al-Qur’an (lihat Az-Zahabi, 1987: 485, 489, Quraish Shihab, 1992: 41).

Mushthafa Al-Maraghi yang  berpendapat, bahwa al-Qur’an mengandung prinsip-prinsip umum, artinya seseorang dapat menurunkan seluruh pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia yang ingin diketahuinya dengan bantuan prinsip-prinsip tersebut. Dan kewajiban ilmuwan adalah menjelaskan rincian-rincian yang diketahui pada masanya kepada masyarakat. Adalah penting menafsirkan makna ayat dalam sorotan sains. Tetapi juga tidak boleh berlebih-lebihan menafsirkan fakta-fakta ilmiah dengan mencocok-cocokkan al-Qur’an. Bagaimana pun jika makna lahiriah ayat itu konsisten dengan sebuah fakta ilmiah yang telah mantap, kita menafsirkan dengan bantuan fakta itu. (Ghulsyani, 1991: 143).

Meski demikian, sebagaimana yang dijelaskan Ghulsani (1991:144), bahwa walaupun al-Qur’an bukanlah merupakan ensiklopedi sains, namun yang perlu diperhatikan ada pesan penting di dalam ayat-ayat yang melibatkan fenomena, dan para ilmuwan Muslim harus memusatkan perhatiannya pada pesan atau misi tersebut dari pada melibatkan diri pada aspek-aspek keajaiban al-Qur’an dalam bidang sains.

Menurut Quraish Shihab (1992:41), membahas hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran-kebenaran teori ilmiah, melainkan pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an dan sesuai dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.  Menurut Shihab, mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting dari pada menemukan teori ilmiah, karena tanpa mewujudkan iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori tersebut akan mengalami nasib seperti  Galileo yang menjadi korban hasil penemuannya (Shihab, 1992: 44).

Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12 tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh sinar al-Qur’an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua, karena pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan atau filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulturasi budaya antar mereka (Bandingkan dengan Ghallab: 121). Mengenai pergumulan dan akulturasi budaya tersebut memang ditunjang oleh ajaran Islam itu sendiri yang inklusif, terbuka.

Dalam sejarahnya belum pernah ada agama yang  menaruh perhatian  sangat besar dan lebih mulia terhadap ilmu kecuali Islam. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama yang lain adalah perhatiannya kepada ilmu dan ilmuwan. Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur (untuk ini lihat Abdul Halim Mahmud, 1979: 61-62).

            Dalam al-Qur’an, kata ‘ilm dan kata jadiannya disebutkan kurang lebih mencapai 800 kali. Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim (lihat Fuad Abdul Baqi, tt.:469-481) melaporkan, bahwa kata ‘ilm (ilmu) dalam al-Qur’an baik dalam bentuknya yang definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata yang berkait dengan itu seperti kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka menegetahui), ‘alim (sangat tahu) dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali. Kata ‘aql (akal) tidak terdapat dalam bentuk nomina, kata benda (mashdar), tetapi yang ada adalah kata al-albab sebanyak 16 kali. Dan kata al-nuha sebanyak 2 kali. Adapun kata yang berasal dari kata ‘aql itu sendiri berjumlah 49. Kata fiqh (paham) muncul sebanyak 2 kali, kata hikmah (ilmu, filsafat) 20 kali, dan kata burhan (argumentasi) sebanyak 20 kali. Belum termasuk kata-kata yang berkaitan dengan ‘ilm atau fikr seperti kata unzuru (perhatikan, amatilah, lihatlah), yanzhurun (mereka memperhatikan, mereka mengamati dan seterusnya) (Al-Qardhawi, 1986:1-2).

Selain itu, jika kita telaah kitab-kitab hadis, semuanya penuh dengan kata-kata ‘ilm tersebut. Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih karya Al-Bukhari kita dapati 102 hadis. Dalam Shahhih Muslim dan yang lain seperti al-Muwatha’, Sunan al-Tirmizi, Sunan Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah terdapat pula bab ilmu. Belum lagi kitab-kitab yang lain, misalnya Al-Faturrabbani yang memuat sebanyak 81 hadis tentang ilmu, Majma’ az-Zawaid memuat 84 halaman, al-Mustadrak karya An-Naisaburi memuat 44 halaman, al-Targhib wa ‘l-Tarhib karya Al-Wundziri memuat 130 hadis sedangkan kitab Jam’ al Fawaid Min Jami’ al-Ushul wa Majma’ alZawaid karya Sulaiman memuat 154 hadis tentang ilmu tersebut (Al-Qardhawi, 1986, lihat juga Weinsink, al-Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Hadits al-Nabawi, Leiden, 1962: 312-339).

Pemikir Islam abad 20 khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu dalam dua katageri:

  1. Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam al-Qur’an dan al-Hadis serta segala yang dapat diambil dari keduanya;
  2. Ilmu yang dicari (inquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya (teknologi) yang dapat berkembang secara kualitatif (Quraish Shihab, 1992: 62-63).

Fungsi al-Qur’an:

 

hidayah, Al-Baqarah: 2 dan185.

peringatan, surat Al-Furqan:1, Shad:87, Takwir:27

syifa’, surat al-Isra’: 82.

Al-Qur’an dapat berfungsi sebagai hidayah bagi manusia setidaknya dengan tiga syarat:

Pertama, selagi al-Qur’an itu di baca. Al-Qur’an sendiri artinya bacaan, kitab yang dibaca; kedua, selagi al-Qur’an itu dikaji, direnungkan dan dihayati maknanya;

ketiga, selagi al-Qur’an itu diamalkan isinya dan diikuti petunjukknya.

            Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, baik yang menyangkut informasi ilmu pengetahuan maupun yang terkait dengan norma-norma hukum dan akhlak. Terkait dengan informasi ilmu pengetatahuan, tidak sedikit dari para akademisi, baik akademisi Timur maupun Barat yang mengakui akan kemukjizatan al-Qur’an. Dan tidak sedikit dari kalangan mereka yang kemudian tunduk, khudhu’  wal- inqiyad,  alias menjadi muslim. Bahkan yang tidak muslim pun bisa mendapatkan informasi ilmiah dari al-Qur’an, sebagaimana yang dialami oleh para orientalis itu.

            Jika para orientalis yang tidak beriman dengan al-Qur’an mereka mau mempelajari secara serius untuk memperoleh informasi ilmiah, kenapa kita tidak? Kenapa selama ini kita banyak mengetahui informasi ilmiah justru lewat orang Barat yang sekuler, bukan dari al-Qur’an yang milik kita sendiri yang nyata-nyata di dekat kita, di telinga kita. Suatu contoh, kita tahu bahwa matahari berputar pada porosnya, bahwa asal muasal alam ini air,  adalah dari ilmuwan Barat dan Filosof Yunani (Thales). Kenapa tidak dari al-Qur’an yang kita baca setiap hari? Misalnya dalam surat Yasin dan al-Anbiya’ itu Allah berfirman:

 “Dan matahari berputar pada porosnya. Itulah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yasin:38).

“Dan telah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ini  berasal dari air” (QS. Al-Anbiya’: 36).

Seorang filosof Perancis yang bernama Al-Kiss Luazon menegaskan: “al-Qur’an adalah kitab suci, tidak ada satu pun masalah ilmiah yang terkuak di zaman modern ini yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam”. Dr. Reney Ginon –setelah masuk Islam kemudian berganti nama, Abdul Wahid Yahya– juga bercerita:

 “Setelah saya mempelajari secara serius ayat-ayat al-Qur’an dari kecil  yang terkait dengan ilmu pengetahuan alam dan medis, saya menemukan ayat-ayat al-Qur’an yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. Saya masuk Islam karena saya yakin bahwa Muhammad saw. datang ke dunia ini dengan membawa kebenaran yang nyata, seribu tahun jauh sebelum ada guru umat manusia ini”. Selanjutnya ia menegaskan: “Seandainya para pakar dan ilmuwan dunia itu mau membandingkan ayat-ayat al-Qur’an secara serius yang terkait dengan apa yang mereka pelajari, seperti yang saya lakukan, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu –jika memang mereka berpikir objektif –katanya” (Abdul Muta’al, La Nuskha fi al-Qur’an, Kairo, Maktabah al-Wahbiyyah, 1980 h. 8).

            Itulah kehebatan al-Qur’an, memang benar ia adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar. Al-Qur’an tidak hanya sekadar informasi ilmiah, tetapi ia memiliki fungsi petunjuk, rahmat dan obat bagi kita. Mari kita baca al-Qur’an karena ia bisa memberikan syafaat di hari kiamat, Mari kita baca al-Qur’an karena ia bisa menjadi penerang di rumah kita di tengah-tengah keluarga kita. Janganlah kita termasuk orang yang jauh dari al-Qur’an sehingga ibarat rumah kosong, tanpa penghuni, sebagaimana yang ditegaskan Nabi:

____________

            *Makalah disampaikan dalam Bedah Film Membuka Tabir Keajaiban al-Qur’an dalam Penemuan Ilmiah Modern HMJ PAI DEMA FT IKAHA Tebuireng, Jombang, 9 Juni 2004.

            ** Dosen UIN Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *