PENDIDIKAN ISLAM DAN MAKNA AKHLAK KARIMAH

Berbicara mengenai pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyyah), maka harus dimulai dari cara pandang kita (world-view) tentang manusia. Bagaimana filsafat kita memandang manusia? Bahwa paradigm filsafat kita adalah teo-antroposentris, artinya dalam memandang manusia, kita harus memandangnya secara utuh tentang sosok dan fungsi manusia itu sendiri. Lantas bagaimana Islam memandang manusia?

Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk mukallaf, yang dibebani kewajiban dan tanggung jawab. Dengan akal pikirannya ia mampu menciptakan kreasi spektakuler berupa sains dan teknologi. Manusia juga bagian dari realitas kosmos yang menurut para ahli pikir disebut sebagai  al-kain an-natiq,  “makhluk yang berbicara” dan “makhluk yang memiliki nilai luhur”.

Menurut Al-‘Aqqad (1973:21), manusia lebih tepat dijuluki “makhluk yang berbicara” dari pada sebagai “malaikat yang turun ke bumi” atau “binatang yang berevolusi”, sebab manusia lebih mulia ketimbang semua itu. Alasan ‘Aqqad ini tidaklah berlebihan, sebab menurutnya, “malaikat yang turun ke bumi“ tidak mempunyai kedudukan sebagai pembimbing ke jalan yang baik maupun yang buruk, demikian pula “binatang yang berevolusi”. Hanya manusialah yang mampu memikul beban dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah kepadanya. Oleh sebab itu, tidak heran pula jika ada yang mengatakan, bahwa manusia adalah “pencipta kedua” setelah Tuhan. Hal ini dapat kita pahami, betapa manusia yang dianugerahi rasio oleh Tuhan itu mampu menciptakan kreasi canggih berupa sains dan teknologi, sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu bersaing secara intelektual. Kelebihan intelektual inilah yang menjadikan manusia lebih unggul dari pada makhluk lainya, tetapi ia pun akan menjadi dekaden, bahkan lebih rendah nilainya dari binatang jika melakukan tindakan yang destruktif, melepaskan imannya (Lihat Q.S At-Tin 5-6 dan Al-A’raf: 179).

Dalam al-Qur’an istilah manusia disebut dengan kata-kata: al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan. Manusia disebut al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang. Al-Insan diambil dari kata ins yang berarti jinak. Sedangkan disebut al-Basyar berarti tampak baik dan indah, gembira. Kata al-Basyar disebut dalam al-Qur’an Sebanyak 123 kali, dan pada umumnya bermakna gembira, 37 kali bermakna manusia dan 2 kali berkaitan dengan hubungan seks. Kata al-Insan mengandung pengertian manusia sebagai makhluk sosial dan kultural/ keilmuan. Al-Basyar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi (A. Mu’in, 1994:81).

Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Dia adalah unik, tidak ada makhluk seunik dan seajaib manusia. Manusialah yang mampu menguasai alam semesta ini. Binatang sebuas apapun dengan kreativitas akalnya bisa ditaklukkan. Dialah maakhluk spektakuler di jagad raya ini. Dalam pandangan kita (baca: Islam), bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki unsur tidak saja jasmani, tetapi juga ruhani dan nafsani. Aspek terakhir inilah yang kurang menjadi concern, atau sering dilupakan oleh pengelola (designer) pendidikan. Di samping itu, manusia juga memiliki kedudukan sebagai ‘abid (makhluk yang menyembah Tuhan, Allah), juga berkedudukan sebagai khalifah (pemimpin dan manajer di muka bumi ini). Ini yang harus kita pahami. Jika kita berbicara pendidikan Islam, maka aspek ini tidak boleh dilupakan.

Sebagaimana umumnya para filsuf beranggapan –termasuk Ibn Sina, al-Farabi dan juga al-Ghazali– bahwa jiwa itu tersusun dari tiga jenis: jiwa nabatiyah, jiwa hayawaniyah dan jiwa insaniyah. Jiwa nabatiyah adalah jiwa yang berfungsi untuk makan, tumbuh dan melahirkan, jiwa hayawaniyah adalah jiwa yang berfungsi mengetahui hal-hal kecil dan bergerak sesuai iradah dan jiwa insaniyah adalah jiwa yang melakukan perbuatan dan mengatahui hal-hal yang bersifat umum.

Menurut Iqbal, insan kamil adalah puncak dari perkembangan ego manusia, yang memiliki kekuatan berhadapan dengan Tuhan. Dari kekuatan ego tersebut juga menyebabkan manusia terangkat menjadi khalifah Tuhan. Menurut Iqbal, insan kamil adalah manusia yang mampu menyerap kebaikan-kebaikan Tuhan dalam dirinya. Tuhan dan manusia menurut Iqbal adalah dua entitas yang berbeda.

Relasi Tuhan dengan manusia menurut Iqbal bersifat bottom up, artinya bergerak dari manusia menuju Tuhan (At-Tafkir fi Khalqil-Llahi Ilat-Tafkir fi-llah) . Ini diambil dari hadis: Tafakkaru fi Khalqi-llahi wa La Tafakkaru fi Zatihi dan Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu.

Bagaimana manusia mampu berhubungan dengan Tuhan-nya, juga mampu berhubungan dengan sesama manusia dan alam semesta? Di sini sebetulnya al-Qur’an surat al-Qashash 77 sudah memberikan penjelasan yang gambalng. 14 abad yang silam Islam sudah berbicara mengenai etika, regulasi relasi antarmakhluk. Inilah sebetulnya etika Islam (al-akhlaq al-karimah) itu.

 

Ekstensi makna Al-akhlaq al-Karimah

Konsep Al-akhlaq al-Karimah atau akhlaq karimah –bukan akhlaqul karimah— sering dipahami secara simplistik, artinya bahwa akhlak itu hanya dipahami sebatas sopan santun saja. Padahal al-akhlaq al-karimah itu mencakup berbuat kebajikan kepada semua, termasuk menjaga keseimbangan alam semesta ini (mencakup persoalan ekologi, HAM, keadilan, demokratisasi, ketimpangan sosial dsb.). Jika ini yang dipahami, maka kurikulum akhlak karimah menjadi wajib di semua lembaga pendidikan (apapun jenis dan jenjangnya). Sebagaimana kata adab, atau al-adab sering dipahami secara sederhana, tata karma atau sopan santun murid dengan guru atau anak dengan orang tua. Padahal al-adab itu memiliki ekstensi makna ta’dib yang berarti mengembangkan peradaban. Maka tidak mungkin seorang Nabi Muhammad Saw. diutus oleh Allah Swt. ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak, kalau akhlak ini hanya bermakna sopan santun. Apa mungkin itu? Bukankah menyederhanakan makna nubuwwah dan risalah-nya? Inilah akhlaq karimah yang sepadan dengan Ihsan, yang merupakan kelanjutan dari Islam dan Iman.

Kurikulum sebetulnya juga tidak saja yang verbal, yang tertulis mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, tetapi lebih dari itu ada kurikulum non-verbal (hidden curriculum) yang berupa uswah dan qudwah para pendidik, guru (termasuk pemimpin bangsa). Maka hakikat guru, pendidik dan pemimpin itu seharusnya semua ucapan, perbuatan dan ketetapannya menjadi panutan orang lain (murid, siswa dan yang dipimpinnya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *