ANALISIS PENGEMBANGAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah pendidikan yang terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, manghayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. Bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) meliputi: Akidah-Akhlaq, Qur’an-Hadis, Fiqh, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Materi Aqidah adalah bagian dari mata pelajaran PAI yang memberikan penekanan pada pembinaan keyakinan bahwa Tuhan adalah asal-usul dan tujuan hidup manusia. Materi Aqidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam nama-nama Allah Swt. (al-asma’ al-husna).

Pada materi Aqidah, mempelajari sifat 20 Tuhan (Aqidat al-Awwam) atau mengenalkan sifat-sifat Tuhan yang 99 sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an yang dikenal dengan al-asma’ al-husna perlu diarahkan pada dimensi empirik — dengan misalnya– kita menjelaskan kepada mereka bahwa Tuhan itu memiliki sifat Rahman (Maha pengasih), jadi manusia harus optimis dalam menjalani hidup di dunia ini. Sifat Rahman atau kasih sayang Tuhan itu diberikan kepada semua hamba-Nya, tanpa pandang bulu, tanpa diskriminiatif, baik hamba yang mukmin maupun yang tidak, namun Allah Swt. hanya memberikan kasih sayang (Rahim-Nya) di akhirat kelak khusus kepada yang Mukmin saja. Oleh sebab itu, jika di dunia ini orang non-Mukmin belajar kedokteran, maka mereka akan menjadi Dokter. Namun jika orang Mukmin sendiri tidak belajar kedokteran, tetapi belajar ilmu klenik, maka mereka akan menjadi Dukun. Demikian pula, jika orang non-Mukmin bekerja keras mengikuti hukum ekonomi, maka mereka akan menjadi kaya, ini hukum yang berlaku di dunia. Begitu pun sebaliknya, jika orang Mukmin malas-malasan bekerja, maka mereka menjadi miskin.

Contoh lain misalnya, Tuhan itu memiliki sifat Ghafur, Maha Pengampun, karena itu kita tidak perlu putus asa, walau sudah berbuat dosa kita bisa minta ampun kepada-Nya, meski begitu kita tidak boleh terus menerus berbuat dosa kemudian minta ampun. Tuhan itu memiliki sifat Wadud (santun), karena itu Dia tidak bakal menerlantarkan kita. Demikian pula dengan sifat Tuhan yang seram-seram, seperti Tuhan itu Maha Perkasa (Jabbar) dan Pendendam (Dzun Tiqam), hal ini agar manusia tidak memperlakukan kewajiban-kewajiban Tuhan semaunya atau seenaknya saja.

Sifat-sifat Tuhan yang terkandung dalam al-asma’ al-husna itulah yang seharusnya memberikan dampak psikologis bagi anak-anak kita. Ketika menjelaskan sifat mahamengetahuinya Tuhan (al-‘alim) dan kemahabijaksanaan-Nya (al-hakim) bisa dijelaskan melalui fenomena empirik di sekeliling kita. Misalnya diungkapkan sebuah kisah seorang Musafir yang sedang berteduh di bawah pohon beringin besar lagi rindang yang buahnya kecil-kecil, sementatara itu di hadapannya tumbuh buah semangka besar yang batangnya kecil merambat di tanah. Ketika seorang Musafir itu terbersit di hatinya untuk menganggap kenyataan ini janggal, maka serta merta ia kejatuhan buah beringin itu. Seketika itu juga ia sadar, bahwa apa yang diciptakan Tuhan itu benar adanya (Rabbana ma Khalaqta Hadzha Bathila…).  Karena itu, kita perlu memperkaya mata pelajaran Aqidah dengan pengembangan-pengembangan seperti ini, bahwa untuk menunjukkan kemahakuasaan Allah Swt. cukup ditunjukkan pada penciptaan (makhluk)-Nya yang terhampar di jagat raya ini (tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatihi). Masih banyak contoh lain yang bisa dikembangkan terkait dengan ini, sehingga aspek afektif dan psikomotor dapat dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Sementara itu materi Qur’an-Hadis menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang kebenarannya bersifat absolut. Jika dilihat dari aspek psikologis –dalam konteks mempelajari al-Qur’an– belajar membaca dengan benar dan baik, serta menghafal ayat-ayat al-Qur’an –terutama surat-surat pendek–  akan lebih melekat dan bertahan lama jika dimulai pada usia SD/MI (6 – 12 tahun). Belajar membaca dan menulis serta menghafal al-Qur’an tersebut perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dari waktu ke waktu atau hari ke hari (sustainable). Jika dilakukan pada hari tertentu (hari senin jam pertama dan kedua misalnya, karena PAI hanya 2 jam pelajaran) kemudian disusul pada hari senin berikutnya dan seterusnya sampai beberapa semester, maka kecil kemungkinannya untuk dapat melekat dan tahan lama dalam ingatannya, terutama jika tidak didukung oleh pendidikan agama dalam keluarga dan masyarakat (seperti pendidikan agama pada TPQ/TPA/TKA dan sebagainya).

Dilihat dari aspek psikologi agama, bahwa siswa MI/SD yang sudah aqil baligh, berkewajiban untuk menjalankan ibadah shalat (mukallaf). Pada periode ini mereka membutuhkan pemahaman al-Qur’an baik dari segi arti lafdhiyah (tekstual) maupun kandungan makna dan mengaitkannya dengan fenomena alam, sosial, budaya, politik, ekonomi dan lain-lainnya (kontekstual), sehingga dapat menambah ke-khusyu’an dalam beribadah dan mampu membangun kesadaran beragama (religious conciousness) anak. Al-Quran dengan demikian benar-benar menjadi hudan (petunjuk dalam kehidupan), furqan (pembeda antara yang haq dan bathil, antara yang benar dan salah, dan antara yang baik dan buruk), obat psikologis bagi manusia beriman (syifa’ ma fi al-shudur). Tujuan pengembangan materi ini adalah sebagai upaya mencari alternatif untuk meningkatkan hasil belajar dan transfer belajar, memberi dan meningkatkan wawasan guru terhadap materi pembelajaran agar dicapai hasil belajar yang maksimal.

Al-Qur’an-Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dan juga merupakan sumber Aqidah-Akhlak, Syari’ah/Fiqh (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Aqidah (ushuluddin) atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Syariah/Fiqh (ibadah, muamalah) dan Akhlak bertitik tolak dari Aqidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari Aqidah (keimanan dan keyakinan hidup). Syari’ah/Fiqh merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh Aqidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah) Kebudayaan Islam merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidu­pannya yang juga dilandasi oleh Aqidah.

Sementara itu materi Akhlak adalah bagian dari mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki moral dan etika Islam sebagai keseluruan pribadi Muslim dan dimalkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi Akhlaq menekankan pada pembiasaan untuk menerapkan akhlak terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) dan menjauhi akhlak tercela (al-akhlaq al-mazmumah) dalam kehidupan sehari-hari. Akhlaq mempelajari relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta (Ihsan). Relasi atau hubungan ketiganya ini harus harmonis sebagaimana yang ditunjukkan dalam al-Qur’an surat al-Qashash: 77. Bahwa manusia harus mentaati perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, berbuat baik kepada sesama manusia dan juga makhluk lain, termasuk mampu menjaga dan merawat kelestraian alam sebagai anugerah Allah Swt. ini.

Materi Fiqh adalah bagian mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar dapat mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta pengalaman. Materi Fiqh menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik, bersifat fleksibel dan kontekstual. Oleh sebab itu, hal-hal yang terkait dengan ibadah mahdhah sedapat mungkin dijelaskan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, misalnya soal makna wudhu’ dan shalat ditinjau dari aspek kesehatan, psikologis dan sosial. Demikian pula tentang najis dan haram yang harus dijauhi oleh umat Islam. Semua itu perlu dijelaskan dalam konteks kehidupan kontemporer.

Sedangkan materi Tarikh atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah bagian dari mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap apa yang telah diperbuat oleh Islam dan kaum Muslimin sebagai katalisator proses perubahan sesuai dengan tahapan kehidupan mereka pada masing-masing waktu, tempat dan masa, untuk dijadikan sebagai pedoman hidup ke depan bagi umat Islam. Materi SKI juga menekankan pada kemampuan mengambil hikmah dan pelajaran (’ibrah) dari peristiwa-peristiwa bersejarah pada masa lalu yang menyangkut berbagai aspek: sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seterusnya, serta meneladani sifat dan sikap para tokoh berprestasi, dari Nabi Muhammad Saw., para sahabat hingga para tokoh sesudahnya bagi pengembangan kebudayaan dan peradaban Islam masa kini. Prinsip yang digunakan dalam melihat sejarah masa lalu adalah: ”Meneladani hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk serta mengambil hikmah dan ’ibrah dari peristiwa masa lalu tersebut untuk pelajaran masa kini dan mendatang”, History is mirror of past and lesson for present. Pelajaran SKI juga harus berwawasan transformatif-inovatif dan dinamis.

Kompetensi Dasar dan Indikator

Kompetensi Dasar adalah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu (sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi). Sedangkan Indikator Kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indikator dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang dapat diukur dan dapat diobservasi, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun alat penilaian.

Pendekatan dalam Materi PAI

Paling tidak dalam pembelajaran kita harus memahami dua pendekatan: pertama, pendekatan Content Treatment Interactions (CTI) yang berasumsi bahwa suatu pembelajaran tidak akan selalu cocok untuk setiap jenis isi materi pembelajaran yang diajarkan. Kedua, pendekatan Attitude Treatment Interaction (ATI) yang berasumsi bahwa suatu perlakuan pembelajaran tidak akan selalu cocok untuk setiap keunikan karakteristik individu peserta didik (siswa). Dalam pembelajaran PAI idealnya kita dapat memberikan secara terpadu dan menyeluruh. Lihat bagan berikut:

 

Aspek Holistik Pendidikan Agama Islam[1]

 

Aspek Holistik

Contoh

Tujuan

Pembelajaran seumur hidup, bersifat komprehensif, menjadikan peserta didik sebagai khaira ummah.

Pandangan Terhadap Peserta Didik

Pemahaman anak secara utuh; pikiran, tubuh, jiwa, multi intelegensi, dan juga gaya belajar.

Apa Yang Harus Diajarkan

Gagasan yang powerful dan pertanyaan-pertanyaan brillian terhadap dunia secara utuh (multikultural).

Bagaimana Mengorganisir

Kurikulum terpadu, pembelajaran integrated.

Bagaimana Mengajarkannya

Sesuai dengan kemampuan peserta didik, pengajaran yang bervariasi, pemanfaatan lingkungan.

 

 

 

Tujuan Mata Pelajaran PAI di Sekolah/ Madrasah :

1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pengetahuan,
penghayatan,  pengamalan, pembiasaan, serta pengala-
man peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia Muslim yang terus berkembang keimanan dan
ketakwaannya kepada Allah SWT;

2. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama  dan
berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin
beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, berdisiplin,
bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan hidup secara
personal dan sosial serta mengembangkan budaya religius
dalam komunitas sekolah/ madrasah.

 

Memahami Karakteristik Materi dan Peserta Didik

Memahami karakteristik materi dan kompetensi yang hendak dicapai meliputi tiga aspek: kognitif, afektif, dan psikomotor. Sementara kita juga harus memperhatikan kondisi sosial masyarakat, dan kondisi peserta didik. Dalam psikologi perkembangan anak, dikenal perkembangan sebagai berikut:

Usia 0 – 3 tahun: periode perkembangan fisik, yaitu perlu gizi, imunisasi, kesehatan lingkungan, serta perlu perhatian dan kasih sayang.

Usia 3 – 6 tahun: masa perkembangan bahasa, masa peka untuk mengajari bahasa yang baik, santun dan benar. Periode 1 dan 2 tersebut memerlukan perhatian orang tua karena waktu di rumah lebih banyak.

Usia 6 – 9 tahun: masa social imitation, diperlukan figur yang dapat memberi contoh dan teladan yang baik dari orang-orang sekitarnya: keluarga, guru dan teman-teman sepermainan.

Usia 9 – 12 tahun: disebut sebagai star of individualization, ingin mendapat perhatian, bersikap selalu ingin dimanja dan diperhatikan oleh lingkungannya, dan mulai menunjukkan sikap memberontak.

Usia 12 – 15 tahun: masa social adjustment, mulai masuk proses pematangan, mulai menyadari adanya lawan jenis, muncul sikap humanistik, perlu bimbingan dan internalisasi (penanaman) nilai-nilai islami dan nilai-nilai yang luhur.

Usia 15 – 18 tahun: mulai dewasa, menginginkan otonomi, tidak suka selalu diatur dan dikendalikan, mereka sudah ingin terlibat dalam realitas kehidupan.

Dengan memahami perkembangan psikologi anak di atas, maka diharapkan apa yang hendak disampaikan oleh guru kepada peserta didik akan tercapai sesuai dengan kondisi usia anak tersebut dan relevan dengan materi yang diberikan. Sehingga dengan demikian, antara teknik penyampaian dan materi yang diberikan akan selalu relevan dan kontekstual. Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

 

 

 

 


[1]Lebih detail baca, M. Zainuddin, Paradigma Pendidikan  Terpadu: Menuju Pembentukan Generasi Ulul Albab Malang, UIN Press, 2008.

 

One thought on “ANALISIS PENGEMBANGAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)”

  1. Assalamu’alaikum.
    saya tertarik dengan pembahasan ini. boleh tau sumber2nya tidak?
    saya ingin membaca buku2 terkait dengan lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *