MEMBANGUN KEMBALI PERADABAN YANG PRESTISIUS

Bagaimana membangun pradaban dan pendidikan agama yang memiliki gengsi besar di mata dunia? Kita mesti menoleh kembali sejarah keilmuan Islam masa lalu. Bagaimana the founding fathers membangun kekuatan Islam melalui budaya dan tradisi membaca dan menulis, yang pada saat itu belum ada teknologi modern  atau information technology (IT) seperti saat ini, tetapi mereka cukup disegani dan menjadi bangsa yang prestisius di dunia.

Tradisi Intelektualisme Islam

           Wahyu pertama yang turun (Q.S. Al-’Alaq :1-5)  –dan sejumlah hadis Nabi– memiliki implikasi besar terhadap perkembangan keilmuan pada masa-masa berikutnya. Sebagaimana yang dicatat oleh Ahmad Amin (1969:141), bahwa pada masa awal datangnya Islam, baru tujuh belas orang suku Quraisy yang pandai baca-tulis.

Nabi memerintahkan para pengikutnya untuk belajar membaca dan menulis. Aisyah, isterinya pun belajar membaca. Anak angkatnya, Zaid bin Haritsah disuruh pula belajar bahasa Ibrani dan Suryani. Para tawanan perang dibebaskan setelah mereka dapat mengajar sepuluh orang muslim untuk membaca dan menulis (Meski Nabi sendiri ummi, tetapi ke-ummi-an beliau sangat beralasan untuk menolak anggapan, bahwa al-Qur’an itu ciptaan-Nya). Beberapa wahyu (nash) penting mengenai ilmu telah menjadikan alasan bagi dukungan dan respon Islam terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban. Oleh sebab itu, tak heran jika tradisi keilmuan dalam Islam lantas begitu subur dan semarak pada masa-masa berikutnya.

            Demikianlah, gerakan melek huruf untuk pertama kalinya dilakukan Islam dalam rangka pengamalan ilmu pengetahuan. Jika pada mulanya kajian keislaman hanya terpusat pada al-Qur’an, al-Hadits, Kalam, Fiqh serta ilmu gramatika bahasa (nahwu, sharaf, balaghah), maka pada periode berikutnya, setelah kemenangan Islam ke berbagai wilayah, kajian itu berkembang dalam berbagai disiplin ilmu: filsafat, kedokteran, astronomi, fisika dan ilmu-ilmu sosial. Kenyataan ini bisa dibuktikan pada masa kegemilangannya, antara abad 8-15 Masehi, dari dinasti Abbasiyah (750-1258) hingga jatuhnya Granada (1492).

            Perluasan wilayah Islam dimulai sejak khalifah Abu Bakar As-Shiddiq hingga dinasti ‘Abbasiyah. Berturut-turut jatuh ke tangan Islam adalah, wilayah: Damsyik (629), seluruh Syam dan Irak (673), Mesir hingga Maroko (645), Persi (646), Samarkand (680) dan seluruh Andalusia (719). Satu abad kemudian (setelah hijrah), negara Islam telah membentang dari teluk Biskaya di sebelah barat hingga Turkestan (Tiongkok) dan India yang melebihi imperium Romawi pada puncak kejayaannya (Poeradisastro, 1986: 8).

            Bahwa jauh sebelum umat Islam menaklukkan wilayah Timur Dekat, Syria merupakan tempat bertemunya dua negara “super power” waktu itu, Roma dan Persia. Bangsa Syria memang memiliki peran penting dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan peradaban Yunani ke Timur dan Barat, terutama kaum Monofisit dan Nestorian. Hanya saja saat itu ilmu pengetahuan (seperti kedokteran) tetap merupakan pengetahuan sekuler dan dengan demikian kedudukannya lebih rendah daripada pengobatan spiritual yang merupakan hak istimewa para pendeta ((lihat C.A. Qadir, 1989:34-35). Sebagaimana kata De Boer (1961:13), bahwa berdasarkan peraturan mazhab Nisibi, mulai tahun 590, kitab-kitab suci dilarang dibaca dalam satu ruangan dengan buku-buku mengenai profesi keduniaan (sekuler).

            Di pusat-pusat ilmu pengetahuan, seperti di Antokiah, Ephesus dan Iskandariah, penterjemahan buku-buku Yunani ke dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Suryani (Syria) tetap dilakukan dan tetap memiliki pengaruh yang besar, bahkan setelah pusat-pusat kota itu ditaklukkan oleh umat Islam.

            Ketika pemikiran-pemikiran Yunani itu merasuk pada umat Kristiani dan mewarnai pemikiran tokoh gereja Nestorius, maka serta merta mendapat tantangan keras dari kaum konservatif dan ortodoks, sehingga pada tahun 481, ajaran-ajarannya dilarang oleh gereja. Tetapi meski begitu, Nestorius dan sebagian pengikutnya tetap tidak mau tunduk dan malah melarikan diri ke Syria. Di sinilah ia mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani tersebut dan bahkan mendirikan sekolah-sekolah serta tetap aktif menterjemah. Karya-karya Yunani yang diterjemahkan antara lain mnengenai filsafat dan logika (C.A Qadir, 1989:35).

            Perluasan wilayah Islam ke berbagai penjuru telah membawa konsekuensi bahwa Islam harus berhadapan dengan berbagai pluralitas bangsa dan “globalisasi“ dunia saat itu: ras, bahasa, budaya, agama dan bangsa itu sendiri. Islam mesti berhadapan dengan ragam agama: Yahudi, Kristen, Zoroaster, Manes, Hindu dan seterusnya, dengan aneka budayanya: Yunani, Romawi, Mesir (Qibti dan Nubia) dan Persi. Heteroginitas dan globalisasi itu menuntut umat Islam untuk senantiasa mampu menampilkan ajaran-ajarannya dalam bentuk yang kosmopolit dan egaliter. Di sinilah kemudian umat Islam juga mulai mempelajari karya-karya Yunani untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, suatu bahasa yang masih serumpun dengan bahasa Arab. Upaya ini terus berlanjut hingga masa kegemilangannya pada masa dinasti Abbasiyah.

            Pada abad ini (abad 7), terdapat dua pusat ilmu pengetahuan: di Haran dan Jundishapur. Tsabit bin Qurra’ dan anaknya, Sinan bin Tsabit, serta kedua cucunya, Tsabit dan Ibrahim adalah produk-produk pendidikan lembaga Aleksandria (Haran) ini, yang ahli dalam bidang matematika dan astronomi. Sementara di Jundishapur, Khosru Anusirwan (521-579) mendirikan lembaga studi filsafat dan kedokteran. Karena letaknya yang dekat dengan Baghdad, maka dengan mudah lembaga tersebut berpengaruh terhadap umat Islam di sana (C.A Qadir, 1989: 36, Watt, 1987: 56).

            Oleh karena Jundhisapur  berdekatan dengan Baghdad, maka hubungan politis orang-orang Persia dengan khalifah Abbasiyah sangat erat, yang memiliki dampak positif bagi umat Islam di sana. Sejak awal Jundishapur telah menyumbangkan tabib-tabib istana, seperti halnya sejumlah keluarga Nestorian, Bakhtisyu yang mengabdi kepada khalifah dengan penuh hormat. Mereka juga banyak membantu pembangunan: rumah sakit dan observatorium di Baghdad dengan mengikuti pola Jundishapur selama pemerinyahan Harun Al-Rasyid (789-809) dan penerusnya Al-Makmun (813-833) (lihat Majid Fakhry, 1983: 4, Watt: 56).

            Satu hal yang perlu dicatat, bahwa ketika bangsa Arab menaklukkan negeri-negeri di Asia Barat dan Timur dekat, mereka tidak mengganggu urusan bahasa dan kebudayaan bangsa yang mereka taklukkan tersebut. Itulah sebabnya, di bagian awal sejarah Islam, sebelum dinasti Mu’awiyyah memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi, bahasa Persi dan Yunani tetap dipergunakan pada waktu itu, hingga secara resmi diganti dengan bahasa Arab. Oleh sebab itu karya Yunani yang masih ada sebagian berbahasa Persi dan sebagian lain tetap berbahasa Yunani (lihat C.A Qadir, 1989: 37).

            Ilmu pengetahuan yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa dinasti Umayyah di bawah pemerintahan Marwan bin Hakam (684-685) adalah ilmu kedokteran. Ketika itu seorang dokter bernama Masarjaweh menerjemahkan buku yang ditulis oleh seorang pendeta bernama Ahran bin A’yun dari bahasa asli Suryani ke dalam bahasa Arab. Buku tersebut masih tersimpan baik di pertustakaan hingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (718-720). Kemudian buku itu dipindahkannya ke mushalla dengan maksud agar dapat dimanfaatkan oleh umum. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa orang yang pertama kali menterjemahkan itu adalah Khalid bin Yazid Al-Umawi (w. 678) dan buku yang diterjemah adalah ilmu kimia (Shun’ah) yang tekenal saat itu (Al-Ahwani, 1962: 31).

            Segera setelah penobatan khalifah Abbasiyah, dilakukanlah penerjemahan karya-karya ilmiah dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab secara serius. Pada masa kekuasaan Harun Al-Rasyid telah banyak diterjemahkan karya mengenai astronomi, satu diantaranya adalah Siddhanta —sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibrahim Al-Fazari (w. 806). Sebuah karya astronomi lainnya adalah Quadripartitus karya Ptolemy dan karya-karya lain mengenai astrologi. Selain bernilai ilmiah, karya-karya terjemahan itu mempunyai nilai praktis. Yahya bin Bitriq misalnya telah menterjemahkan Timaeus, karya Plato dan De Anima, Analytica Priori dan Secret of Secret-nyaAristoteles.

            Saat itu tidak hanya khalifah dan wazir-wazir saja yang menaruh perhatian terhadap para filosof dan ilmuwan, melainkan juga masyarakat biasa. Misalnya keluarga Banu Musa, seorang hartawan terpandang telah menyumbangkan banyak uangnya untuk keperluan terjemahan tersebut. Ia mengutus orang-orangnya pergi ke Byzantium untuk membeli naskah-naskah Yunani dan mengupah para penterjemah dengan harga tinggi. Beberapa karya selain astrologi dan matematika yang diusahakan adalah karya mengenai atom (The Treatise on the Atom) dan karya mengenai kekekalan dunia (The Treatise on the Eternity of the World), dua risalah yang bernilai filosofis (C.A Qadir, 1989:39).

            Nampaknya Baghdad tidak ingin ketinggalan dengan tradisi Aleksandria dan Jundishapur, maka dibangunlah Lembaga Ilmu Pengetahuan (Bait al-Hikmah) tahun 830 oleh Al-Ma’mun (813-833) sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan filsafat yang sarat dengan fasilitasnya: ada perpustakaan,  laboratorium penterjemahan dan observatorium bintang. Penterjemah penting di Bait al-Hikmah ini adalah Hunayn bin Ishaq (w. 873) seorang Kristen Haran dan murid Hasawaih, seorang yang berjasa besar dalam menterjemah karya-karya medis klasik, ia sendiri juga sebagai dokter pribadi Harun Al-Rasyid. Di samping Hunayn, terdapat penterjemah lain, seperti Qusta bin Laqa (seorang Kristen juga) dan Tsabit bin Qurra’ (w. 901) dari kalangan penyembah bintang-bintang (Sabi’ah) yang bersama murid-muridnya menterjemahkan karya astronomi (lihat pula C.A Qadir, 1989:40).

Karya-karya Plato dan Aristoteles yang diterjemahkan itu adalah: Theatetus, Cratylus, Sophistes, Permanides. Keempat karya tersebut diterjemahkan oleh Ishaq bin Hunayn dan semuanya tercatat dalam buku Al-Fihris karya Ibnu Nadim dan Tarikh al-Hukama’ karya Al-Qafti; Timaeus, buku mengenai fisika yang diterjemahkan oleh Hunayn bin Ishaq dengan ulasan Plutarchus. (Yahya bin Bitrik juga menterjemahkan karya tersebut); Phado, karya tentang jiwa dan keabadian sesudah mati dan Phaedrus karya tentang cinta, keduanya merupakan disiplin psikologi; Politicus, karya tentang ilmu politik yang diterjemahkan oleh Hunayn bin Ishaq dan Law (undang-undang) yang diterjemahkan oleh Yahya bin ‘Adi; Sedangkan karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti: Categorie (Al-Maqalat) berisi tentang sepuluh macam ke yang diterjemahkan oleh Ibn al-Muqaffa’, lantas diterjemahkan lagi oleh Ishaq bin Hunayn dan selanjutnya diterjemahkan oleh Yahya bin ‘Adi dengan ulasannya dari Iskandar Aphrodisis; Interpretation yang dunia Arab Islam dikenal dengan nama Pori-Armenias, berisi keterangan mengenai bahasa: proposisi dan bagian-bagiannya. Karya tersebut semula diterjemahkan oleh Ibn al-Muqaffa’ (ke dalam bahasa Persi kuno) kemudian disalin ke dalam bahasa Arab oleh Ishaq bin Hunain; Analytica Priaora (uraian pertama) ysng membahas tentang metode keilmuan. Diterjemahkan oleh Mattius bin Yunus ke dalam bahasa Suryani. Kemudian diterjemahkan lagi oleh Ishaq bin Hunayn; Analytica Posteriora (uraian kedua) diterjemahkan oleh Yahya bin ‘Adi dan Abu Utsman al-Damsyiqi; Sophistic Elenchi (kesalahan-kesalahan Sofistik) disalin ke dalam bahasa Arab oleh Ishaq bin Hunayn dengan judul Al-Hikmah al-Muwawwahah (filsafat yang menipu); De Caelo (langit) diterjemahkan oleh Petrick, kemudian diringkas oleh Naicholas Damascus; Anima (jiwa) diterjemahkan oleh Ishaq bin Hunayn (semula diterjemahkan oleh Yahya bin Bitrik, pen.); Ethica Nicomachaes yang berisi tentang pembagian ilmu etika menurut Aristoteles (Lihat Ahmad Hanafi, 1982:66-73).

            Kemudian pada abad ke-10 muncul dua penterjemah terkemuka: Yahya bin ‘Adi dan gurunya, Abu Bisyr Matta yang memiliki kontribusi besar dalam menterjemahkan karya-karya Aristoteles, khususnya mengenai logika. Matta misalnya dianggap berjasa atas terjemahan karya logika Aristoteles: Categories, Hermeunetica, Analytica Priora, Analytica Posteriora dan sebuah komentar tentang Isagoge Porphyry, pengantar pengantar Analytica dan a Treatise on Conditional Syllogism (Majid Fakhry, 1983:16).

            Hampir semua sejarawan (baik Timur maupun Barat) sepakat, bahwa umat Islam memiliki peran besar dalam memberikan kontribusinya terhadap dunia Barat/ Eropa pada abad ini, baik di bidang sosial-budaya maupun ilmu pengetahuan. Berkembangnya ilmu pengetahuan Barat sekarang yang dapat melahirkan teknologi yang sangat canggih (sophisticated), tak lain adalah berkat ilmu pengetahuan yang telah berkembang selama kurang lebih tiga belas abad silam di tangan pekar-pakar Muslim kenamaan.

            Jika orang Yunani adalah “bapak metode ilmiah”, simpul H.G Wells, maka, orang Muslim adalah “bapak angkat”-nya. Dalam perspektif sejarah, dunia modern sekarang ini mendapatkan sinarnya lewat orang Muslim, bukan lewat orang latin (Jujun, 1990:13). Roger Bacon  –yang dianggap sebagai pencetus metode eksperimen di Barat– tak lain adalah seorang yang telah mentransfer karya-karya kaum Muslimin, seperti Ibn Sina dan Ibn Haitsam (lihat juga Madkur, 1986: 114).

Kebudayaan Muslim masuk ke wilayah Eropa malalui dua cara: studi orang Barat ke Andalusia, dan melalui kontak perdagangan dan penterjemahan. Sebagaimana pengakuan Phillip K. Hitti (1970: 170), bahwa ilmu pengetahuan Islam dalam banyak hal merembes ke alam pikiran orang-orang Barat. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah Spanyol Islam yang menunjukkan salah satu perkembangan yang terbaik di Eropa pada abad pertengahan. Antara pertengahan abad ke-8 dan permulaan abad ke-13 bangsa Arab merupakan pendukung utama suluh kebudayaan dan peradaban di seluruh dunia, serta pengantar munculnya renaissace di Eropa Barat. Hitti lantas menunjuk para penulis kenamaan Islam, misalnya: Ibn Hazm (994-1064) seorang penulis produktif (kurang lebih 400 buah karyanya) mengenai: sejarah, teologi, hadits, ilmu mantiq dan puisi, Ibn Zaidun (1003-1071) seorang penyair utama bangsa Arab, Ibn al-Khatib (w. 1371) dan Ibn Khaldun (1332-1406) seorang pakar sejarah (ilmu sosial), Ibn al-Awwan penulis risalah mengenai biologi yang sangat bagus, Ibn al-Baitar ahli media dan Ibn Thufail (w. 1185) dengan karya populernya Hay bin Yaqqdhan, yang oleh banyak penulis dianggap mengilhami Danile Defol dengan karyanya Robinson Crusoe (lihat Hitti,1970:170-185).

            Spanyol memang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan peradaban saat itu, dimana banyak para mahasiswa Eropa yang belajar di Universitas-universitas di sana, Cordova, Sevilla, Malaga dan Granada. Paus Sylvester II adalah orang nomor satu gereja yang datang ke Cordova untuk belajar matematika dan astronomi. Dia pulalah yang mengintrodusir angka Arab (ghubar) yang digunakan di Spanyol ke dunia Barat. Pada saat itu umat Islam juga tampil sebagai pedagang-pedagang besar dalam lalu lintas perdagangan internasional, sehingga peradaban dan kebudayaannya mengelaborasi dari Asia hingga Eropa (lihat Nouruzzaman, 1986: 96).

            Transmisi ilmu pengetahuan Eropa melalui penterjemahan dilakukan dengan gencar sekali. Penterjemahan buku-buku bahasa Arab ke bahasa latin telah ditemui sejak abad ke-9. Di perpustakaan Tripoli diketemukan dua buah manuskrip yang tercatat dalam sejarah pada abad-10  berbahasa Latin yang berasal dari bahasa Arab. Usaha besar-besaran untuk menterjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin terjadi pada abad 12-13, yang berpusat di Cordova. Meski setelah kota tersebut jatuh ke tangan umat Kristiani (1085) dan tidak pernah lepas dari cengkeramannya, situasinya tetap tidak berubah, peradaban dan kebudayaan Muslim tetap bersinar. Hingga dua abad kemudian penduduk Toledo masih menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan juga bahasa resmi (Nouruzzaman, 1986: 99, Madkur, 1986:126).

            Gerakan penterjemahan ini disemangati oleh Alfonso yang mendapat julukan “Si Bijak” raja Castilla (1252-1284). Ia juga seorang pakar berbagai disiplin ilmu, termasuk yang menulis karya Cronica General yang salah satu babnya berisi sejarah hidup Rasulullah, begitu juga dengan penterjemahan buku Kalilah wa Dimnah. Toledo memiliki para penterjemah terkemuka dan profesional. penterjemahan mula-mula dilakukan dari bahasa Arab ke bahasa Ibrani, atau ke bahasa Castilla, baru kemudian ke bahasa Latin. Ini berbeda dengan orang-orang yang menterjemahkan pertama-tama dari bahasa Yunani ke bahasa Syiria. Meski begitu ada juga orang-orang yang Latin yang mampu menterjemahkan langsung dari bahasa Arab ke bahasa Latin, sebagaimana juga ada orang Arab yang mampu menterjemahkan langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Arab (lihat Nouruzzaman, 1986:102 dan Ibrahim Madkur, 1986:129). Di antara para pakar luar Spanyol yang pernah bekerja sebagai penterjemah di Toledo tercatat nama-nama seperti: Gerard dari Cremona (Itali) meninggal tahun 1187, Michael Scott, Inggris (m. 1236) dan Robert dari Chester (Inggris). Tidak diragukan lagi bahwa filsafat Kristen telah dipengaruhi oleh filsafat Islam sejak abad ke-12, ketika orang-orang Latin mengadakan kontak dengan orang-orang Arab melalui Sicilia dan Andalusia dan melalui terjemahan buku-buku.

            Pengaruh tersebut begitu kuat pada abad ke-13 dan bergema selama dua abad sesudahnya hingga era renaissance. Kita hampir tidak menemukan tokoh terkemuka abad 13 yang tidak mempunyai hubungan dengan Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Jika Siger dari Brabant (m. 1282) adalah seorang pendukung bersemangat Ibn Rusyd, maka Roger Bacon lebih mendukung Ibn Sina, sementara filsafat St. Thomas Aquinas telah menggabungkan filsafat Ibn Sina dan Ibn Rusyd (Madkur, 1986:139,140). Demikianlah karya-karya Muslim telah banyak diterjemahkan, mulai dari Ibnu Thufail, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Khawarizmi dan seterusnya.  Toledo memang jembatan bagi dunia Barat dalam mencerdaskan bangsa dan perasaan seni. Sementara menurut Abdus Salam (1983:9), Toledo dan Salerno merupakan awal penciptaan sains di dunia Barat. Di sana sebuah pelita dinyalakan cemerlang. Di sinilah maka ketika George Sarton –seorang pakar sejarah sains– membagi daur era penciptaan sains, Islam tampil progresif. George Sarton membagi prestasi sains ke dalam beberapa era, dimana setiap era berjangka waktu sekitar setengah abad, dengan separoh abad diasosiasikan seorang tokoh utama: Pertama, tahun 450 sampai 400 S.M adalah era Plato, yang lantas diikuti oleh oleh Aristoteles, Euklides dan Archimedes; kedua, dari tahun 600 sampai tahun 700 M adalah era China dengan tokoh utamanya Hsiian Tsang dan I Ching; ketiga, dari tahun 750-1100 M, 350 tahun secara kesinambungan adalah Jabir, Khawarizmi, Razi, Mas’udi, Wafa’, Biruni, Ibn Sina, Ibn Haitsam dan Umar Khayam, mereka adalah bangsa Arab, Turki, Afghan dan Persia dari persemakmuran Islam. Baru sesudah tahun 1100 ini  muncul nama-nama Barat untuk pertama kalinya: Gerardo dari Cremona dan Roger Bacon, tetapi kehormatan ini masih harus dibagi selama 250 tahun berikutnya dengan nama-nama Ibn Rusyd, Nasiruddin, Thusi, Ibn Nafis, para ahli yang mendahului Harvey dalam pengembangan ‘teori perkembangan darah’. Ya, kalaulah tidak karena persinggungan dengan dunia Islam niscaya bangsa Barat tak akan semaju seperti sekarang.

Filsafat Islam, meskipun mengalami gerhana pada abad ke-5 H/11 M di Persia dan negeri-negeri Islam timur lainnya akibat serangan Syahrastani, Al-Ghazali, dan Fakhruddin Al-Razi, tidaklah sekadar hijrah ke Spanyol dan menikmati  musim semi yang singkat di tangan Ibn Bajah, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd dan akhirnya mati mengering di ujung Barat dunia Islam. Filsafat Ibn Sina dihidupkan kembali oleh Nashiruddin Thusi dan kelompoknya di abad ke-7 H/13 M,  sementara dua generasi sebelumnya suatu perspektif intelektual yang baru mulai diperkenalkan oleh Syuhrawardi yang menamainya mazhab Pencerahan (isyraq). Lebih lanjut, “sains mistisisme” atau ‘irfan (gnosis) terumuskan kira-kira pada waktu yang bersamaan oleh Ibn ‘Arabi dan segera mulai berinteraksi dengan cara yang sangat kreatif dengan tradisi filsafat Islam maupun dengan teologi atau kalam yang saat itu telah menjadi semakin “filosofis” (S.H Nashr dalam Yazdi,1994: 8).

            Hasil dari semua perkawinan-silang ini adalah beberapa kegiatan filsafat yang ekstensif di Persia yang ditandai oleh tokoh-tokoh seperti Quthbuddin Syirasi, Dabiran Katibi, Atsiruddin Abhari, Ibn Turkah Isfahani, keluarga Dasytaki serta tokoh-tokoh lain yang sedikit sekali dikenal di dunia Barat. Masa pendekatan dan pencampuran ini, yang berlangsung selama kira-kira tiga abad, mencapai kulminasinya dengan Mazhab Isfahan yang di bangun oleh Mir Damad pada abad ke10 H/16 M dan mencapai titik puncaknya pada Mulla Sadra, muridnya.

            Meskipun terjadi pasang surut pada masa akhir periode Safawi dan pengrusakan sebagian besar kota Isfahan akibat sebuan bangsa Afghan pada abad ke-12 H/18 M, namun obor filsafat Islam yang menyala kembali di tangan Mulla Sadra terus berlanjut hingga masa dinasti Qajar ketika sekali lagi Isfahan, di bawah Mullah ‘Ali Nuri menjadi pusat besar filsafat ini, sementara Teheran juga mulai muncul sebagai pusat kegiatan filsafat sejak abad ke-13 H/19 M hingga seterusnya. Selama masa ini sejumlah filosof penting seperti Hajji Mullah Hadi Sabziwari dan Mullah ‘Ali Zunuri muncul di atas gelanggang dan menulis makalah-makalah penting yang dibaca kalangan-kalangan tradisional Persia hingga sekarang. Mereka juga melatih banyak siswa yang mengemban tradisi yang hidup dari mazhab ini dengan menekankan pengajaran secara lisan dan tulisan hingg masa dinasti Pahlevi dan dunia semasanya (Nashr, dalam Yazdi, 1984:8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *