HAPPY ENDING RAMADHAN

Baru saja, kita selesai menunaikan ritual besar selama satu bulan penuh, yaitu shiyam ramadhan, plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lainnya, seperti shalat-shalat sunnah, tadarrus al-Qur’an, shadaqah, dan lain sebagainya. Maka hari ini atau bulan ini, Syawal ini, kita digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula, ja’alana Allah wa iyyakum min al-‘adin wal-faizin, wa adkhalana waiyyakum fi zumrati ibad al-shalihin…….

Idul fitri ada karena adanya shiyam ramadhan, maka tidak ada nilai dan identitas fitri kalau tidak ada pelaksanaan shiyam ramadhan. Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Mari kita kaji, dan flash back:

Selama bulan ramadhan hingga syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah kepada kita. Paling tidak ada tujuh macam karunia itu:

  1. Rahmat (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh pertama (al-‘asyr al awwal);
  2. Maghfirah (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-‘asyr al-ausath);
  3. Pembebasan (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-‘asyr al-awakhir);
  4. Lailatul Qadar yang diturunkan pada malam-malam ganjil (yang nilainya lebih baik dari1000 bulan setara dengan 83 usia manusia);
  5. Zakat fitrah, (yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia);
  6. Pahala puasa 6 hari syawal, (yang nilai pahalanya setara dengan puasa 1 tahun);
  7. Halal bi Halal (saling memaafkan di antara kita, yang dapat menghapus dosa antarsesama).

Oleh sebab itu, tidak ada yang lebih berbahagia pada hari dan detik ini, selain umat Islam. Bagi umat Islam, sekarang ini sedang memasuki babak baru, babak kembali ke fitrah yang suci. Karena bagi umat Islam, muara ibadah berpuasa ramadhan adalah terbentuknya muslim yang bertakwa. Dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran, ayat 133 Allah Swt. berfirman bahwa di antara ciri-ciri orang bertakwa itu diantaranya ada empat: Pertama, yaitu orang-orang yang bersedia menginfakkan sebagian hartanya baik dalam kondisi lapang maupun sempit; Kedua, yaitu orang-orang yang mampu menahan hawa nafsunya; Ketiga, yaitu orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain (lapang dada); dan Keempat, yaitu orang-orang yang mau bertaubat atas segala dosanya dengan benar-benar taubat (taubatan nashuha).

Pertama, menginfakkan sebagian harta, baik dalam kondisi lapang maupun sempit artinya adalah, orang yang selalu rajin dan ajek beramal serta ikhlas lillahi Ta’ala. Kebiasaan bersedekah seperti ini juga dicontohkan oleh ‘Aisyah ra., istri Rasulullah saw. Beliau ajek bersedekah meski hanya dengan sebiji kurma sekalipun.  Bahkan di dalam riwayat lain Nabi menyebutkan, bahwa harta yang dikeluarkan untuk kepentingan sedekah itu tidak akan mengurangi sedikitpun kekayaan seseorang, melainkan justru menjadi investasi akhirat yang akan dinikmati hasilnya. Ini tentu sangat bebrbeda dengan kondisi di dunia ini. Jika seseorang menginvestasikan uangnya di Bank-Bank yang ada di dunia ini, pada suatu saat jika Bank-Bank tersebut harus gulung tikar atau dilikuidasi, maka para investor itu akan ikut merugi. Dalam surat al-Baqarah: 261 Allah menjelaskan, bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi infak  untuk kepentingan jihad fi sabilillah, pembangunan tempat-tempat ibadah: masjid, mushalla, madrasah, rumah sakit, lembaga-lembaga sosial lainnya yang diridhai oleh Allah swt.

Kedua, ciri-ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, yaitu orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah Swt. tetap sabar dan tidak emosi. Orang-orang inilah yang oleh Rasulullah saw. disebut sebagai orang kuat. Pada bulan ramadhan kemarin, umat Islam telah menjadi orang kuat selama sebulan, karena mereka mampu mengendalikan diri dan menguasai hawa nafsunya. Dalam kesempatan lain Nabi juga pernah bersabda: ”Barang siapa mampu menahan diri maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman”.

Ketiga, berkaitan dengan sifat sabar dan mampu mengendalikan diri ini adalah sifat dan sikap lapang dada sebagai ciri ketiga dari orang yang bertakwa. Orang-orang tersebut oleh Nabi dikategorikan sebagai kelompok orang-orang terhormat yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.dan di hari kiamat mereka segera dipanggil oleh Allah untuk menempati surga-Nya.

Keempat, ciri orang yang bertakwa adalah, orang-orang yang sanggup bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Dalam suatu riwayat diceritakan, dari Anas ra. bahwa ketika ayat ini turun, Iblis menangis seketika, sebab ia merasa tak mampu untuk terus menggoda karena ampunan Allah Swt. yang terus-menerus diberikan kepada hamba-Nya  yang mau bertaubat. Nabi sendiri pernah bersabda: ”Setiap anak adam itu (pernah) bersalah (berdosa) dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang mau bertaubat”. Maka di sinilah Allah menjanjikan kekuatan bagi orang yang selalu membaca kalimat thayyibah: tahlil, tahmid, tasbih dan istighfar, karena Iblis tidak akan pernah mampu menggodanya. Memang Iblis pernah bersumpah akan senantiasa menggoda anak Adam sepanjang hidup manusia. Tetapi Allah pun menjamin  akan senantiasa mengampuni dosa-dosa anak Adam selagi mereka masih mau meminta ampunan kepada-Nya. Maka bulan Syawal ini merupakan momentum yang paling tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan di antara mereka, ber-halal-bihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal.

Terutama kepada kedua orang tua, umat Islam diwajibkan berbakti dan selalu berdoa untuk keselamatannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya orang tua juga harus memaafkan kesalahan-kesalahan anaknya, sebesar apa pun kesalahan yang dilakukannya, mendidik dengan baik sesuai dengan akhlak yang mulia dan ajaran agama, memberi contoh dan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, menjauhkan dari kebiasaan buruk, seperti: mengumpat, berlaku kasar, apalagi mau mengkonsumsi Narkoba (narkotika dan obat-batat berbahaya). Dalam Idul Fitri umat Islam memulai lembaran baru ini dengan mengisi amal-amal shalih. Tradisi silaturahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu adalah perilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam berlatih untuk tetap menjalankan kesabaran dalam berbagai hal. Karena orang sabar adalah kekasih Allah Swt.

Suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabat: Atadruna man al-Muflis? Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut orang yang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes”. Kemudian Nabi bersabda: “Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah besok dengan membawa pahala  shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu tetangga, merampas hak orang lain) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka…..”

Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu, sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang mau berhubungan dan berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.  Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi. Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh sebab itu di sini peran Islam sangat dibutuhkan. Kita masih memiliki tradisi yang baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur.an, tahlil dan yasin berjamaah, mungkin juga berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim,  baik di tingkat RT maupun RW. Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk  ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran  kita. Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: “Jika orang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka supaya menjalin silaturahim”. Semoga ibadah puasa kita selama ramadhan berdampak pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan, buah takwa dan ihsan dapat menghiasi kepribadian kita. Amin…wallahu a’lam bis-Shawab.

 

 

 

HAPPY ENDING RAMADHAN

 

Baru saja, kita selesai menunaikan ritual besar selama satu bulan penuh, yaitu shiyam ramadhan, plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lainnya, seperti shalat-shalat sunnah, tadarrus al-Qur’an, shadaqah, dan lain sebagainya. Maka hari ini atau bulan ini, Syawal ini, kita digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula, ja’alana Allah wa iyyakum min al-‘adin wal-faizin, wa adkhalana waiyyakum fi zumrati ibad al-shalibin…….

Idul fitri ada karena adanya shiyam ramadhan, maka tidak ada nilai dan identitas fitri kalau tidak ada pelaksanaan shiyam ramadhan. Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Mari kita kaji, dan flash back:

Selama bulan ramadhan hingga syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah kepada kita. Paling tidak ada tujuh macam karunia itu:

  1. Rahmat (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh pertama (al-‘asyr al awwal);
  2. Maghfirah (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-‘asyr al-ausath);
  3. Pembebasan (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-‘asyr al-awakhir);
  4. Lailatul Qadar yang diturunkan pada malam-malam ganjil (yang nilainya lebih baik dari1000 bulan setara dengan 83 usia manusia);
  5. Zakat fitrah, (yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia);
  6. Pahala puasa 6 hari syawal, (yang nilai pahalanya setara dengan puasa 1 tahun);
  7. Halal bi Halal (saling memaafkan di antara kita, yang dapat menghapus dosa antarsesama).

Oleh sebab itu, tidak ada yang lebih berbahagia pada hari dan detik ini, selain umat Islam. Bagi umat Islam, sekarang ini sedang memasuki babak baru, babak kembali ke fitrah yang suci. Karena bagi umat Islam, muara ibadah berpuasa ramadhan adalah terbentuknya muslim yang bertakwa. Dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran, ayat 133 Allah Swt. berfirman bahwa di antara ciri-ciri orang bertakwa itu diantaranya ada empat: Pertama, yaitu orang-orang yang bersedia menginfakkan sebagian hartanya baik dalam kondisi lapang maupun sempit; Kedua, yaitu orang-orang yang mampu menahan hawa nafsunya; Ketiga, yaitu orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain (lapang dada); dan Keempat, yaitu orang-orang yang mau bertaubat atas segala dosanya dengan benar-benar taubat (taubatan nashuha).

Pertama, menginfakkan sebagian harta, baik dalam kondisi lapang maupun sempit artinya adalah, orang yang selalu rajin dan ajek beramal serta ikhlas lillahi Ta’ala. Kebiasaan bersedekah seperti ini juga dicontohkan oleh ‘Aisyah ra., istri Rasulullah saw. Beliau ajek bersedekah meski hanya dengan sebiji kurma sekalipun.  Bahkan di dalam riwayat lain Nabi menyebutkan, bahwa harta yang dikeluarkan untuk kepentingan sedekah itu tidak akan mengurangi sedikitpun kekayaan seseorang, melainkan justru menjadi investasi akhirat yang akan dinikmati hasilnya. Ini tentu sangat bebrbeda dengan kondisi di dunia ini. Jika seseorang menginvestasikan uangnya di Bank-Bank yang ada di dunia ini, pada suatu saat jika Bank-Bank tersebut harus gulung tikar atau dilikuidasi, maka para investor itu akan ikut merugi. Dalam surat al-Baqarah: 261 Allah menjelaskan, bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi infak  untuk kepentingan jihad fi sabilillah, pembangunan tempat-tempat ibadah: masjid, mushalla, madrasah, rumah sakit, lembaga-lembaga sosial lainnya yang diridhai oleh Allah swt.

Kedua, ciri-ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, yaitu orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah Swt. tetap sabar dan tidak emosi. Orang-orang inilah yang oleh Rasulullah saw. disebut sebagai orang kuat. Pada bulan ramadhan kemarin, umat Islam telah menjadi orang kuat selama sebulan, karena mereka mampu mengendalikan diri dan menguasai hawa nafsunya. Dalam kesempatan lain Nabi juga pernah bersabda: ”Barang siapa mampu menahan diri maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman”.

Ketiga, berkaitan dengan sifat sabar dan mampu mengendalikan diri ini adalah sifat dan sikap lapang dada sebagai ciri ketiga dari orang yang bertakwa. Orang-orang tersebut oleh Nabi dikategorikan sebagai kelompok orang-orang terhormat yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.dan di hari kiamat mereka segera dipanggil oleh Allah untuk menempati surga-Nya.

Keempat, ciri orang yang bertakwa adalah, orang-orang yang sanggup bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Dalam suatu riwayat diceritakan, dari Anas ra. bahwa ketika ayat ini turun, Iblis menangis seketika, sebab ia merasa tak mampu untuk terus menggoda karena ampunan Allah Swt. yang terus-menerus diberikan kepada hamba-Nya  yang mau bertaubat. Nabi sendiri pernah bersabda: ”Setiap anak adam itu (pernah) bersalah (berdosa) dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang mau bertaubat”. Maka di sinilah Allah menjanjikan kekuatan bagi orang yang selalu membaca kalimat thayyibah: tahlil, tahmid, tasbih dan istighfar, karena Iblis tidak akan pernah mampu menggodanya. Memang Iblis pernah bersumpah akan senantiasa menggoda anak Adam sepanjang hidup manusia. Tetapi Allah pun menjamin  akan senantiasa mengampuni dosa-dosa anak Adam selagi mereka masih mau meminta ampunan kepada-Nya. Maka bulan Syawal ini merupakan momentum yang paling tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan di antara mereka, ber-halal-bihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal.

Terutama kepada kedua orang tua, umat Islam diwajibkan berbakti dan selalu berdoa untuk keselamatannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya orang tua juga harus memaafkan kesalahan-kesalahan anaknya, sebesar apa pun kesalahan yang dilakukannya, mendidik dengan baik sesuai dengan akhlak yang mulia dan ajaran agama, memberi contoh dan teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, menjauhkan dari kebiasaan buruk, seperti: mengumpat, berlaku kasar, apalagi mau mengkonsumsi Narkoba (narkotika dan obat-batat berbahaya). Dalam Idul Fitri umat Islam memulai lembaran baru ini dengan mengisi amal-amal shalih. Tradisi silaturahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu adalah perilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam berlatih untuk tetap menjalankan kesabaran dalam berbagai hal. Karena orang sabar adalah kekasih Allah Swt.

Suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabat: Atadruna man al-Muflis? Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut orang yang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes”. Kemudian Nabi bersabda: “Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah besok dengan membawa pahala  shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu tetangga, merampas hak orang lain) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka…..”

Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu, sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang mau berhubungan dan berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.  Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi. Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh sebab itu di sini peran Islam sangat dibutuhkan. Kita masih memiliki tradisi yang baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur.an, tahlil dan yasin berjamaah, mungkin juga berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim,  baik di tingkat RT maupun RW. Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk  ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran  kita. Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: “Jika orang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka supaya menjalin silaturahim”. Semoga ibadah puasa kita selama ramadhan berdampak pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan, buah takwa dan ihsan dapat menghiasi kepribadian kita. Amin…wallahu a’lam bis-Shawab.

 

 

 

AGAMA: ANTARA FUNDAMENTALIS DAN MODERAT

Secara general, para ahli sosiologi agama membagi kategori agama menjadi dua kutub, yaitu: fundamentalis dan moderat. Fundamentalisme merupakan gejala keagamaan yang bisa muncul dari semua agama, dimana pun dan kapan saja. Oleh karena itu dikenal istilah: fundamentalisme Islam, fundamentalisme Hindu, fundamentalisme Kristen dan seterusnya. Istilah fundamentalis di sini dimaksudkan adalah pemikiran sekelompok orang yang cenderung menentang pembaruan agama dan politik.

Fundamentalisme adalah paham  yang berjuang untuk menegakkan kembali norma-norma dan keyakinan agama tradisional untuk menghadapi sekularisme. Dalam agama Kristen, fundamentalisme muncul karena ingin membendung bahaya modernisme yang dianggap telah mengotori kesucian agama dan ingin kembali kepada teks kitab Suci (Bibel). Sementara itu dalam Islam, fundamentalisme  juga diartikan sebagai paham yang bermaksud mempertahankan ajaran dasar Islam, menjauhkan dari segala bentuk tahayyul, bid’ah dan khurafat seperti  yang dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibn Taimiyah. Tetapi perkembangan lebih lanjut kelompok fundamentalisme di atas memiliki konotasi minor dan sangat pejoratif, bahkan dianggap sebagai kelompok garis keras yang sering bertindak irrasional dan selalu dikaitkan  dengan gerakan-gerakan dan revolusi, seperti gerakan Wahabi di Saudi Arabia, Khumaini di Iran, Hasan al-Banna, Sayid Qutub di Mesir dan seterusnya. Sebagian orang juga menilai, bahwa fundamentalisme adalah kelompok yang melawan tatanan  politik yang ada. Oleh sebab itu kelompok oposisi Islam sering dianggap sebagai fundamentalis. Di lain pihak kelompok ini juga dianggap sebagai gerakan subversif (1992: 1).

Fundamentalisme Islam populer di kalangan Barat setelah terjadinya revolusi Iran tahun 1979. Menurut E. Marty (1991), ada dua prinsip fundamentalisme: pertama, memiliki prinsip perlawanan (opposition), yaitu perlawanan terhadap segala bentuk yang dianggap membahayakan eksistensi agama, apakah dalam bentuk modernisme, sekularisme maupun westernisme; kedua, adalah penolakannya terhadap heurmenetika. Kelompok fundamentalis menolak sikap kritis terhadap teks dan interpretasinya. Menurut kelompok ini, teks harus dipahami sebagaimana adanya karena nalar dianggap tak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Oleh sebab itu kelompok ini juga disebut tekstualis-skripturalis.

Senada dengan penjelasan di atas, Riaz Hassan (2006:115) juga mengemukakan, bahwa fundamentalisme Islam merujuk pada kelompok ‘puritan’ Islam, yang berusaha menegakkan kembali identitas agama dan tatanan sosial. Mereka menganggap bahwa identitas mereka berada dalam bahaya dan terkikis oleh hibriditas budaya dan agama. Mereka mempertahankan penafsiran, doktrin, keyakinan, dan praktik masa lalu yang suci.

Menurut Montgomery Watt (Ibid), bahwa fundamentalisme tercermin dalam kesadaran kaum Muslim yang menerima pandangan dunia tradisional dan terus mempertahankannya. Kondisi modernitas dan globalisasi yang menjadi ciri dunia merupakan ancaman yang serius bagi pandangan dunia tradisional. Menurut Watt, alasan utama munculnya fundamentalisme Islam adalah adanya perasaan kaum Muslim, termasuk orang yang berpendidikan tinggi, bahwa mereka berada dalam bahaya yakni hilangnya identitas Islam mereka, karena dikikis oleh sikap intelektual Barat. Kaum Muslim juga merasakan bahwa dengan kebangkitan sosial yang diakibatkan oleh pengaruh Barat, masyarakat Islam akan menjadi lebih buruk dibandingkan masyarakat lain. Fundamentalisme Islam modern merupakan respon kolektif terhadap krisis emosi dan intelektual, karena janjinya adalah kembali kepada ‘Islam yang benar’, yang dapat memecahkan semua problem.

Penjelasan Watt tentang fundamentalisme Islam tersebut terepresentasikan dalam kelompok intelektual Muslim seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutub, Sayyid Abul A’la al-Maududi serta gerakan politik Islam seperti Ikhwan al-Muslimin dan Jamaat al-Islami. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Maududi, bahwa di bawah pengaruh peradaban Barat dan orientasinya yang materialistis dan ateistis, kaum Muslim telah kehilangan ciri dan moral Islam, ide dan ideologi, ‘semangat Islam’ dan identitas mereka.

Terkait dengan teologi keselamatan (salvation) dan relasi Muslim dengan non-Muslim sebagaimana penjelasan Abou al-Fadl (2005:244-263), bahwa menurut kelompok fundamentalis –ia menyebutnya puritan– hanya orang Muslimlah yang selamat di Hari Akhir. Orang-orang puritan menegaskan, bahwa di sebuah negara Muslim, kaum non-Muslim mesti diturunkan tingkatannya sehingga statusnya lebih rendah di hadapan kaum Muslim. Misalnya, kaum non-Muslim harus mengenakan lencana khusus agar mereka mudah dikenali identitasnya. Lebih jauh lagi, kaum non-Muslim tidak diperbolehkan mendirikan bangunan gereja atau sinagog yang lebih tinggi dari pada masjid, dan mereka harus dinomorduakan dari orang Muslim dalam semua kegiatan sosial sehari-hari. Termasuk, orang Muslim dilarang untuk mengawali salam damai kepada non-Muslim.

Premis yang memotivasi orang-orang puritan adalah bahwa Islam harus menguasai dan mendominasi. Konsekuensinya, kaum non-Muslim yang hidup di wilayah Muslim harus dibuat merasa inferior agar mereka tidak tahan dengan status mereka. Kondisi ini akan menjadi titik masuk bagi mereka untuk melihat kebenaran dan beralih ke Islam. Dengan cara ini mereka bisa meninggalkan status rendah mereka.

Bersandar beberapa karya ahli hukum klasik, kalangan puritan getol memperjuangkan teologi yang dikenal dengan sebutan al-wala’ wa al-bara’ (doktrin loyalitas dan pemisahan). Doktrin ini menyatakan, bahwa kaum Muslim hanya wajib peduli, berinteraksi, dan berteman hanya dengan umat Islam. Kaum Muslim dibolehkan meminta bantuan non-Muslim hanya jika mereka lemah dan membutuhkan, tetapi selagi umat Islam mampu memperoleh kekuatannya, mereka harus merebut status superiornya. Umat Islam tidak boleh bersahabat dengan kaum non-Muslim atau membiarkan diri mereka peduli atau mencintai kaum non-Muslim (Ibid).

Sementara itu kelompok moderat berangkat dari premis-premis yang sangat berbeda. Jika kalangan puritan meyakini bahwa eksistensi kaum non-Muslim adalah situasi temporer, dan umat Islam harus berjuang keras untuk memperbaikinya, dan bahwa dunia pada akhirnya harus diislamkan, maka kalangan moderat justru menolak logika ini sebagai sesuatu yang secara fundamental bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kalangan moderat berpendapat bahwa al-Qur’an tidak hanya menerima, melainkan mengharapkan realitas perbedaan dan keragaman dalam masyarakan, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an surah al-Hujurat:13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulai di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Di sisi lain, al-Qur’an surah Hud: 119 juga menegaskan, bahwa keragaman adalah bagian dari kehendak dan tujuan Tuhan dalam mencipta. Sebagaimana al-Qur’an  menegaskan: “Jika Tuhanmu menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Kaum moderat berpendapat bahwa al-Qur’an tidak hanya mendukung prinsip keragaman, tetapi juga menyodorkan tantangan hebat kepada manusia, dan itu ditujukan agar mereka “saling mengenal.” Dalam kerangka al-Qur’an, keragaman bukanlah penyakit atau kejahatan. Keragaman adalah bagian dari tujuan penciptaan, dan hal ini meneguhkan kekayaan Tuhan. Tujuan yang dipancangkan Tuhan tadi, yaitu untuk saling mengenal, membebankan kewajiban bagi umat Islam untuk bekerja sama dan bekerja ke arah tujuan-tujuan khusus dengan kaum Muslim dan juga non-Muslim.

Dalam beberapa kesempatan al-Qur’an menekankan, bahwa jika Tuhan berkehendak, Dia bisa membuat manusia itu sama, dan semua manusia akan beriman juga (al-Qur’an,Yunus: 99). Dalam sejarahnya, dengan menekankan keniscayaan perbedaan, al-Qur’an menyampaikan kepada Nabi bahwa kalau saja Nabi menunjukkan bukti yang paling meyakinkan sekalipun kepada sebagian manusia, mereka tidak akan mengikutinya, dan bahwa Tuhan telah menghendaki manusia tetap dalam kondisi berbeda. Kalangan moderat mengilustrasikan penghargaan Tuhan kepada kehendak bebas manusia dan juga memerintahkan agar manusia mengakui indahnya toleransi. Dikarenakan keragaman adalah bagian dari kehendak Tuhan, maka orang-orang moderat berpendapat bahwa manusia seharusnya tidak berusaha menghilangkan apa yang telah dilakukan Tuhan dengan sepenuh kehendak-Nya (Abou al-Fadl, Selamatkan Islam …..)

Melengkapi kewajiban toleransi, al-Qur’an mewajibkan manusia untuk bekerja sama dalam meraih kebaikan. Dalam beberapa ayat, misalnya al-Qur’an surah al-Maidah: 49 menyatakan:

“Untuk tiap-tiap kamu Kami berikan aturan dan jalan. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah [di Hari Akhir] kamu semua akan kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.

Dengan menekankan semangat yang sama, yakni membawa pesan rekonsiliasi yang ditujukan kepada umat Islam sendiri, al-Qur’an surah al-Ankabut: 46.menyatakan:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahlulkitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ‘Kami telah beriman kepada [kitab-kitab] yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri’.

Di lain tempat al-Qur’an surah al-Nahl: 125 menegaskan:

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan saran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik dan penuh kesabaran. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

“Hai Ahlulkitab, marilah kita capai satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah” (QS Ali Imran: 64).

Bagian pertama dari ayat tersebut mengingatkan umat Islam, Kristen, dan Yahudi bahwa mereka semua menyembah Tuhan yang sama. Bagian kedua menyatakan sebuah prinsip yang bisa diterapkan untuk hidup bersama di muka bumi ini –menerima kebenaran Tuhan berarti bahwa satu golongan tidak selayaknya berusaha mendominasi yang lainnya.

Tema serupa ditekankan dalam apa yang bisa disebut sebagai ayat-ayat salam. Salam adalah kosakata yang seakar dengan kata Islam, yang berarti kedamaian, kesentosaan, ketenangan, atau ketentraman. Ayat-ayat salam adalah ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan kebutuhan tidak saja akan toleransi antaragama, melainkan untuk bekerja sama secara moral yang berusaha menegakkan kebajikan di muka bumi. Dalam ayat-ayat salam, al-Qur’an  menandaskan bahwa dalam berhubungan dengan kelompok musuh, umat Islam seharusnya mencoba mengingatkan mereka akan kewajiban moral mereka kepada Tuhan, tetapi jika musuh itu dengan angkuh menolak kebenaran, umat Islam seharusnya meninggalkan sembari memberikan salam kepada mereka. Dalam dinamika ini, umat Islam seyogyanya menunjukkan sikap yang dapat meyakinkan musuh mereka bahwa perbedaan pendapat di antara mereka tidaklah bersifat personal, dan bahwa umat Islam tidak menampakkan dendam atau kebencian terhadap musuh mereka. Sampai-sampai ketika musuh menolak ajaran dan berpaling, al-Qur’an memandu umat Islam bahwa satu-satunya respons yang tepat terhadap penolakan ini adalah mendoakan agar musuh mereka mendapat anugerah kedamaian (Abou al-Fadl, 252).

Memang, makna yang terkandung dalam teks-teks agama sangat tergantung dan dipengaruhi oleh kecenderungan serta komitmen moral dan etis para pembaca teks tersebut. Namun, makna tersebut juga dipengaruhi oleh perangkat teknis yang dipakai orang dalam memahami teks. Dalam konteks ini, orang-orang fundamentalis dan moderat dalam membaca dan menafsirkan sumber-sumber agama selalu bertentangan. Hal ini disebabkan oleh kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan kedua kelompok tersebut secara diametrik tidak sejalan, karena perbedaan penafsiran. Bisa saja, teks yang digunakan sebagai alasan (hujjah) sama, namun metode dan pendekatan yang mereka pakai berbeda sehingga melahirkan penafsiran dan hasil kesimpulan yang berbeda pula.

 

 

 

 

MAKNA PAHLAWAN 

 

Persoalan gelar pahlawan akhir-akhir ini menjadi isu yang marak dan menarik. Banyak gagasan yang muncul terkait dengan gelar pahlawan ini. Demikian pula sebagian kelompok mengusulkan kepada salah seorang tokoh nasional untuk diberi gelar “pahlawan”, sementara kelompok lain menolaknya, karena dianggap belum memenuhi kriteria sebagai sosok pahlawan. Di negeri kita ini sudah banyak pahlwan yang berjuang untuk menegakkan kemerdekaan bangsa dan negara. Mereka memiliki jasa besar terhadap generasi penerus bangsa. Tanpa perjuangan mereka, maka negeri ini tidak ada. Jasa besar inilah yang mesti dihargai dan dihormati, termasuk para sahabat dan keluarga mereka.

Siapa Sesungguhnya Pahlawan Itu?

Kata pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Secara etimologis ada juga yang memaknai pahlawan berasal dari akar kata pahala, dan berakhiran wan, pahalawan. Artinya, mereka pantas memperoleh pahala karena jasa-jasanya bagi perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita merujuk kata pahlawan dalam KBBI, maka menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi seseorang, bahkan siapa pun yang berjuang dalam membela kebenaran bisa menempati posisi sebagai seorang pahlawan. Pahlawan adalah gelar untuk orang yang dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya (Hubb al-wathan min al-iman).

Dalam perspektif Islam, pahlawan dapat dimaknai sebagai orang Islam yang berjuang menegakkan kebenaran (al-haq) demi memperoleh ridha Allah semata. Kredo dan doktrinnya adalah: limardhatillah wa li i’lai kalimatillah hiya l-‘ulya. Kata kuncinya adalah kebenaran (al-haq) dan ridha Allah swt. Di sini maknanya, kebenaran adalah segala sesuatu (baik yang berupa perintah maupun larangan) yang datang dari Allah Swt melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. (Wama atakum al-Rasulu fakhuzuhu wama nahakum ‘anhu fantahu). Dengan demikian, pahlawan dalam perspektif Islam harus memiliki koridor dan konteks ini (memperjuangkan kebenaran dan untuk menjunjung nilai luhur Islam sebagai agama yang benar). Dalam konteks makro, pahlawan Islam adalah orang Islam yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara dari penindasan dan penjajahan.

Dalam perspektif Islam, yang disebut pahlawan pasti memiliki kontribusi atau jasa besar bagi orang lain, karena semua ajaran dalam Islam memiliki implikasi positif bagi orang lain, bahkan untuk semesta alam ini (semua makhluk hidup), sebagaimana sabda Nabi: Khair al-Nas anfa’uhum li al-nas dan firman Allah: Wama arsalnaka illa rahmatan li al-‘alamin. Mengenai berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan ini banyak disebut dalam al-Quran, di antaranya adalah:

“Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah (QS, 2:193) seluruhnya dan dimana saja (QS, 8:39). Dan kenapa kamu tidak berperang di jalan Allah. dan untuk mereka yang lemah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata “Tuhan, keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya zalim; dan berilah kami dari pihak-Mu orang yang dapat menjadi pelindung, dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS, 4:75).

Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak. Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah mati, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati melainkan mereka hidup tetapi kita tidak merasakan”. QS al-Baqarah: 154. Pahlawan dalam Islam adalah orang yang berani memperjuangkan Islam sampai ia menang atau mati. Oang-orang yang berjuang itu pun tidak memperdulikan apakah ia bakal mendapat penghargaan atau tidak dari institusi manapun, yang mereka harapkan adalah keridhaan dari Allah Swt.

Dalam Islam kategori berjuang (jihad) itu ada beberapa macam, di antaranya adalah jihad memerangi hawa nafsu (jihad al-nafs), termasuk jihad memerangi syetan, jihad memerangi orang kafir (jihad al-kuffar), jihad memerangi orang munafik (jihad al-nifaq). Dan menurut Rasulullah, justru jihad yang paling besar adalah jihad memerangi hawa nafsu. Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw saat usai perang Badar. Beliau berkata kepada para sahabatnya: “Kita masih akan menghadapi perang yang lebih dahsyat lagi.” Kata sebagian sahabat: “Perang apalagi ya Rasul? Bukankah ini perang yang dahsyat”? Jawab Nabi: “Perang melawan hawa nafsu”.

Pahlawan yang tanpa tanda jasa pun juga banyak, misalnya para guru dan para generasi tua yang berjasa kepada generasi penerusnya. Ada sebuah cerita menarik terkait dengan kisah kepahlawanan ini. Alkisah, seorang raja Persia yang bernama Kisrâ Anû Syirwân melakukan turba ke rumah-rumah para penduduk. Ketika ia tiba di satu rumah, di sana ia menemukan seorang kakek yang menanam pohon di halaman rumahnya. Sang raja tertawa dan bertanya, “Wahai kakek, kenapa engkau menanam sebuah pohon yang akan berbuah 10-20 tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan, sedangkan engkau mungkin tahun depan sudah mati dan tentu engkau tidak dapat menikmati buah-buahan yang telah engkau tanam itu”. Dengan senyum dan penuh optimisme sang kakek menjawab, “Wahai raja, laqad gharas-a man qabla-nâ fa akal-nâ wa naghris-u nahn-u li-ya’kul-a man ba‘da-nâ, orang-orang sebelum kita telah menanam pohon dan buah dari pohon tersebut kita nikmati sekarang, maka kita menanam kembali pohon yang buah-buahnya akan dinikmati oleh orang-orang setelah kita” (Didaat: 2008).

Banyak pahlawan yang tercatat dalam sejarah Islam baik pada zaman Nabi maupun pada masa-masa sesudahnya yang tak terhingga jumlahnya. Ada juga pahlawan besar Islam yang coba mengobarkan semangat jihad Nabi dengan menggaungkan Sirah Nabawiyah-nya, misalnya saja Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi telah terukir namanya dalam sejarah perjuangan umat Islam karena ia mampu menumpas tentara multinasional Salib dari seluruh benua Eropa. Guna membangkitkan kembali ruh jihad di kalangan umat Islam yang saat itu telah terlena dengan perjuangan yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw., maka Shalahuddin inilah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad Saw. (maulid al-Rasul). Melalui media peringatan itu diungkaplah sikap kesatria dan kepahlawanan Nabi Muhammad Saw.. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi di kalangan masyarakat Islam, tak terkecuali di Indonesia. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan di kalangan umat Islam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan dan kemampuannya ia dan pasukannya dapat memukul mundur bala tentara yang dipimpin oleh Richard The Lionheart (Richard Si Hati Singa) dari Inggris. Inilah salah satu contoh pahlawan besar Islam yang bisa disebut di sini, dari sekian pahlawan-pahlawan Islam yang lain. Di setiap penghujung abad selalu muncul pahlawan-pahlawan yang tegak memperjuangkan kebenaran di muka bumi ini.

Hanya yang perlu dipahami, bahwa perjuangan yang ditegakkan atas nama Islam tidak dimonopoli oleh sekelompok Islam itu sendiri. Karena ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam ketika memperjuangkan Islam justru malah merugikan orang lain dan memerangi orang-orang yang tidak bersalah, maka yang demikian itu tidak dibenarkan adanya. Perjuangan Islam mesti tidak akan merugikan siapa pun. Ketika Nabi Muhammad Saw. berjuang menegakkan Islam, yang ditegakkan Nabi adalah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, kesamaan, toleransi dan hak-hak orang lain tetap diperhitungkan. Sikap Nabi yang toleran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang memang lahir dari ajaran Islam inilah yang kemudian memposisikan Islam sebagai agama rahmat. Nabi sendiri menegaskan: Ahabb al-adyan ila Allah al-hanifiyyat al-samhah. ***

TRADISI “SURO” DALAM MASYARAKAT JAWA

 

Istilah suro yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa, berasal dari ‘asyura (bahasa Arab) yang berarti  kesepuluh (maksudnya tanggal 10 bulan suro). Istilah itu kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim jawa. Sementara itu dalam Islam, istilah suro sebagaimana yang telah dipahami oleh mayoritas masyarakat Islam, adalah bulan Muharam. Muharam adalah bulan yang telah lama dikenal sejak pra Islam. Kemudian di zaman Nabi hingga Umar Ibnu Khattab di resmikan sebagai penanggalan tetap Islam.

Secara etimologis Muharam berarti bulan yang diutamakan dan dimuliakan. Makna bahasa ini memang tidak terlepas dari realitas empirik dan simbolik yang melekat pada bulan itu, karena Muharam sarat dengan berbagai peristiwa sejarah baik kenabian maupun kerasulan. Muharam dengan demikian merupakan momentum sejarah yang sarat makna. Disebut demikian karena berbagai peristiwa penting dalam proses sejarah terakumulasi dalam bulan itu.

Beberapa peristiwa penting terkait dengan suro itu misalnya peristiwa para Nabi dan Rasul Allah. Nabi Adam as. diterima taubatnya ketika masih berada di surga dan ketika itu pula Adam dan Hawa sedang beribadah kepada-Nya. Nabi Idris memperoleh derajat luhur atas sikap kasih sayangnya terhadap sesamanya. Nabi Isa memperoleh anugerah kitab Taurat ketika berada di bukit Tursina (Sinai). Nabi Nuh terlindungi dari bahaya banjir bersama umatnya yang patuh. Nabi Ibrahim terhindar dari bahaya api dan fitnah raja Namrud. Nabi Yusuf bebas dari tahanan raja Mesir akibat tuduhan zina dengan Dewi Zulaichah. Nabi Ya’qub sembuh dari penyakit mata karena menangisi anaknya Yusuf yang telah lama menghilang. Nabi Yunus bisa keluar dari perut ikan Hiu, sebagai tempat persembunyiannya ketika ia dikejar-kejar umatnya. Nabi Sulaiman memperoleh istana indah. Nabi Daud disucikan dari segala dosanya. Nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun dan kaumnya (bani Israil). Nabi Muhammad SAW memperoleh Al-Quran sebagai pegangan hidup sepanjang masa bagi umatnya.

Setiap menyambut bulan Muharram, umat Islam sedunia menyadari pentingnya makna bulan. Sejak itu pula Muharam yang menjadi permulaan bulan diperingati sebagai awal kebangkitan. Di bulan ini, sambil memperingati tahun baru hijriah, umat Islam menyelenggarakan berbagai kegiatan Islami yang bermanfaat. Imbasnya pun  ke Indonesia, berbagai seminar dalam satu dasawarsa ini diadakan di mana-mana untuk menyambut abad kebangkitan.

Tetapi seringkali kita menyaksikan ada keganjilan dalam setiap peringatan bulan itu. Banyak kepercayaan bersifat dongeng, mitos dan irrasional. Pada malam 1 suro misalnya orang beramai-ramai mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sakral dan keramat. Ada yang datang ke makam lalu membakar kemenyan, minta kekayaan, minta banyak rizqi, minta laris dagangannya, minta cepat naik kariernya, minta segera mendapatkan jodoh. Ada yang datang ke laut dengan melemparkan makanan atau kepala kurban (kerbau) yang dianggap sebagai sedekah laut. Demikian juga di Seduda (nama tempat rekreasi di daerah Nganjuk) misalnya, setiap tanggal 15 Muharam banyak kalangan muda dan mudi yang berdatangan di tempat itu. Mereka berkeyakinan bahwa siapa yang mandi pada tanggal itu  bisa awet muda, panjang umur. Selain itu tradisi mencuci keris banyak juga dilakukan pada bulan itu. Bahkan di gunung Kemukus di Sragen, jawa Tengah ada semacam legenda, barangsiapa yang menginginkan jodoh maka mereka harus berbuat mesum di tempat itu.

Terasa aneh memang. Lalu apa sejatinya makna di balik tahun baru hijriah yang penuh anugerah dan kemuliaan itu? Tahun baru hijriah atau Muharam sering kita jadikan sebagai momentum untuk menempatkan kita sebagai lakon dalam sejarah kemanusiaan. Setiap kali ingat Muharam kita menjadi optimis, karena pada momen itu Islam pernah membawa bendera peradaban dunia. Pertanyaannya adalah bisakah Islam bangkit kembali, sebagaimana yang pernah ditulis oleh ilmuwan Barat, bahwa Islam ketika itu adalah jaya? Yang terpenting dari belajar sejarah di atas adalah bahwa kebangkitan atau kejayaan bukanlah terkait dengan periode, kurun atau momen tertentu yang pernah mengalami kejayaan, melainkan pada apa yang bisa kita lakukan untuk mewariskan nilai-nilai sejarah itu. Allah akan merubah nasib kita, peradaban kita, jika kita mau merubah peradaban kita sendiri, tanpa terikat oleh momen, dan kurun waktu tertentu.

Pada bulan Muharam itu pula Tuhan membuka luas rahmat-Nya, sehingga manusia dianjurkan untuk berlomba-lomba memperoleh rahmat itu. Tetapi sayang, kebanyakan orang tidak paham dengan peristiwa itu. Mereka justru banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan pada bulan itu. Mereka juga tidak bisa menangkap kata-kata bijak dari moyang kita dulu. Ungkapan mandi dalam 1 suro itu saja juga disalahmengertikan. Lalu apa arti mandi itu?

Mandi berarti membersihkan dan mensucikan kotoran atau najis. Ini berarti isyarat bahwa pada malam 1 suro itu orang harus mensucikan dirinya dari segala dosa dan perbuatan munkarat-nya dengan memohon magfirah Allah Sang Maha pengampun. Kemudian meniti hidup baru dengan langkah yang lebih positif serta semangat baru pula. Allahumma thawwil a’marana wa shahhih ajsadana wa hassin a’malana wa ausi’ arzaqana wa yassir umurana, amin…..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYAKIT HATI (3)

 

Lalai dan Lupa

Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya antara lain adalah:

  1. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.
  2. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur.[i]
  3. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi.[ii]

Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat (rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin kemampuan ingatan seseorang, sebab secara  internal terdapat faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk  mengingat sesuatu, seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan seterusnya.[iii]

Banyaknya informasi dan kegiatan yang menumpuk sebelumnya membuat seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif lebih baik jika informasi dan kegiatan  lebih sedikit. Hal ini terbukti pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa pada masa lalu daripada orang dewasa.[iv]

Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam menggoda Adam as.[v]

Was-was

Para ulama memandang bahwa penyakit was-was merupakan akibat dari bisikan hati dan adanya angan-angan keduniaan yang didasarkan pada hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Penyakit was-was juga merupakan penyakit yang muncul akibat gangguan setan. Setan mengobarkan hawa nafsu dan membuat seseorang  meragukan agamanya. Lupa daratan, cenderung melakukan perbuatan keji.[vi]

Dalam menanggulangi penyakit di atas, nampaknya metode yang ditempuh oleh “psikologi Islam” berbeda dengan yang  ditempuh oleh psikologi modern. Islam memandang bahwa sumber utama dari penyakit was-was adalah setan. Oleh sebab itu jalan keluarnya adalah terapi berzikir kepada Allah.

As-Samarqandi, seperti yang dikutip oleh As-Syarqawi[vii] menyebutkan bahwa setan senantiasa berusaha menggoda dang memperdaya manusia. Jalan yang  ditempuhnya adalah antara lain: melalui sifat su’uzzan baik kepada Allah maupun kepada manusia, melalui  kemewahan hidup, melalui sikap menghina orang lain, hasut, dengki, bakhil, riya’, kikir, tamak, dan sebagainya. Menurut as-Samarqandi cara mengatasi penyakit ini adalah dengan cara memperkuat keyakinan (iman) kepada Allah dan berpuasa diri (qana’ah) akan karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya.

Frustrasi

Frustrasi (al-ya’s) menurut  as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini biasanya  ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.[viii]

Sebagaimana dijelaskan [ix]dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87).

Dalam mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan[x] dan bandingkan dengan Zakiat Darajat.[xi]

Rakus (Tamak)

Tamak atau rakus adalah keinginan yang berlebih-lebihan yang didasari oleh kemauan hawa nafsu yang tidak terkendali.jika  seseorang mengikuti hasa nafsunya secara belebihan, maka selama ia bersikap tamak dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang  ia terima, selama itu pulaia terperangkap oleh angan-angan dunia yang tidak pernah terwujudkan. Menurut as-Syarqawi, cara membendung sifat tamak ini ad lah dengan membiasakan diri dengan zuhud dan qana’ah sehingga dengan demikian ia akan bebas dari perbuatan hawa nafsu.[xii]

Terpedaya

Terpedaya (al-ghurur) merupakan suatu jenis penyakit mental yang diakibatkan oleh salah persepsi tentang kehiduppan duniawi dan juga lupa tentang penciptanya.menurut as-Asyarqawi keterpedayaan dan salah persepsi berkisar kepda dua hal:

  1. Tentang kehidupan duniawi

Pemahaman yang tidak benar terhdap kehidupan duniawi dimaksudkan salah, bahwa dunia dianggap segala-galanya, dunia merupakan tujuan akhir, harapan dan cita-citanya. penderita penyakit ini selalu meragukan kehidupan akhrat, akhirat dianggap ilusi, tidak kekal, sementara kehiudupan dunia dianggapnya segala-galanya.[xiii] Persepsi yang demikian ini dikenal dalam filsafat sebagai penganut hedonisme.

Menurut Islam, untuk menggulangi penyakit di atas adalah dengan terapi iman, sebab dengan iman seseorang akan menyadari bahwa kehidupan dunia sesungguhnya bersifat sementara (Ibid). Sebagaimana Allah  berfirman dalam beberapa ayat-Nya, bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau saja (lihat: Q.S. Al-An’am: 32, Al-Ankabut: 64, Al-Hadid: 20, Muhammad: 36).

  1. Tentang kepercayaan kepada Allah termasuk dalam kategori terpedaya adalah, kesalahan persepsi terhdap Allah (jika memang benar-benar ada) maka ia akan memberikan kenikmatan di akhirat, mereka menganalogikan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Persepsi di atas jelas tidak benar, sebab adanya kedudukan, kenikmatan, harta dan kedudukan yang diperoleh seseorang tidak selamanya merupakan indikasi keridaan Tuhan, melainkan sebaliknya sebagai ujian dan cobaan.[xiv]

Dari sisi lain sifat terpedaya juga sering merasuk ke dalam jiwa orang yang berkeyakinan, bahwa dengan sifat rahman rahim-Nya Allah akan mentolerir perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang sengaja melalaikan perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, penderita penyakit ini cenderung selalu mengabaikan perintah-perintah Allah dengan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia terjebak dalam persepsi yang keliru.***

[i]   As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 83.

[ii]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 29.

[iii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 84.

[iv]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 229.

[v]  Usman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, p. 232.

[vi]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 95.

[vii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 98-102.

[viii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 103.

[x] Kartini Kartono, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Bandung, Mandar Maju, 1989, p. 50.

[xi]  Zakiah Darajat, Kesehatan  Mental,1990, p. 24.

[xii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 103.

[xiii]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 111.

[xiv]  As-Syarqawi, Nahwa Ilm an-Nafsi al-Islami, p. 112-113.

PENYAKIT HATI YANG PALING BERBAHAYA (2)

 

Pada tulisan yang lalu penulis telah menjelaskan beberapa penyakit hati yang harus dijauhi, yaitu: ghadhab (marah), riya (pamer), ujub (membanggakan diri) dan hasad (iri hati). Pada tulisan ini penulis ingin mengetengahkan tiga penyakit hati yang tidak kalah berbahayanya, yaitu: ananiyah (egois), ghibah (ngrasani) dan namimah (adu domba).  Hati merupakan unsur yang sangat berarti bagi diri manusia, tidak hanya yang bersifat materi, lebih-lebih yang immateri. Dalam hal ini Nabi memperingatkan kepada kita:

اَلاَ وَاِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخارى)

“ Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik,baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (hati)” (H.R. Bukhari).

Hati di sini bisa bersifat materi, tetapi juga yang immateri. Segumpal darah yang bersifat materi ini merupakan organ penting yang memiliki peran dalam kesehatan manusia. Jika hati ini sakit, maka akan berdampak pada organ tubuh yang lain, misalnya mata kuning, kaki dan perut membengkak, dan penyakit inilah yang disebut dengan penyakit liver atau hepatitis.

Dalam pandangan medis, hepatitis dapat merusak fungsi organ hati dan kerja hati sebagai penetral racun dan sistem pencernaan makanan dalam tubuh yang mengurai sari-sari makanan untuk kemudian disebarkan ke seluruh organ tubuh yang sangat penting bagi manusia. Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati karena berbagai sebab. Penyebab tersebut adalah beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan dan kerusakan pada sel-sel dan fungsi organ hati. Hepatitis memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit gangguan fungsi hati. Hepatitis banyak digunakan sebagai penyakit yang masuk ke semua jenis penyakit peradangan pada hati (liver). Penyebab hepatitis juga dapat berasal dari jenis obat-obatan tertentu, jenis makanan tertentu atau bahkan pada hubungan seksual yang salah satu dari pasangan memiliki penyakit hepatitis (https://id.search.yahoo.com/yhs/search?hspart=iba&hsimp=yhs-1&type=mmds_5199_CRW_ID&p).

Berbeda dengan hati pada unsur materi di atas, maka hati dalam unsur immateri bersifat psikologis dan akan tampak dalam perilaku sehari-hari manuisia. Inilah yang tidak kalah pentingnya untuk dijaga. Seperti dijelaskan oleh Zakiah Darajat (Zakiah Darajat, Kesehatan  Mental,1990, p. 56), bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah  berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit yang disebabkan oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan sebagainya. Dengan kata lain ada penyakit organik dan unorganik.

Ananiah (egois)

Ananiah adalah sikap seseorang yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Sifat ini sangat tercela, dan membahayakan di dalam pergaulan di masyarakat. Ananiah termasuk penyakit hati, dan akan berkembang menjadi penyakit sombong, takabur, iri dan dengki. Penyakit ini akan menghinggapi siapa saja tidak pandang itu orang awam, terdidik, atau berpangkat. Penyakit ananiah akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri, antara lain: tidak dipedulikan orang lain, bahkan dibenci. Cara menghindari penyakit tesrsebut adalah dengan menyadari bahwa manusia mempunyai hak dan martabat yang sama, dan menyadari bahwa perbuatan ananiah termasuk perbuatan dosa.

Ghibah (Menggunjing)

Ghibah ialah membicarakan aib orang lain, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya :

“Tahukah kamu, apakah menggunjing itu? “Sahabat berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Nabi bersabda : “Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu mengenai hal-hal yang dibencinya. Kemudian sahabat bertanya lagi: “Bagaimana, jika yang saya katakan itu sebetulnya terdapat pada saudara tersebut ? Nabi menjawab: “Jika yang kamu katakan itu ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika tidak seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh kamu telah berbuat dusta tentang dirinya (kamu telah memfitnah). (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Nasa’i).

Dalam Al Qur’an Q.S. Al Hujurat [49] : 12 dijelaskan:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hujurat [49] : 12)

Di dalam ayat tersebut diibaratkan, bahwa orang yang gibah itu seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadis Nabi :

عَنْ جَابِرٍ وَاَبِى سَعِيْدٍ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِيَاكُمْ وَالْغِيْبَةَ فَاِنَّ الْغِيْبَةَ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا قِيْلَ لَهُ كَيْفَ قَالَ اِنَّ الرَّجُلَ يَزْنِى وَيَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِ وَاِنَّ صَاحِبَ الغِيْبَةِ لاَيَغْفِرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبَهُ (اخرجه البيهقى والطبرنى وابوالشيخ وابن ابى الدنيا)

“Dari Jabir dan Abu Sa’id mereka berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: Jauhilah olehmu sifat ghibah karena ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina. Ditanyakan kepada Rasul “bagaimana bisa?” Rasulullah menjawab: seorang laki-laki berzina kemudian bertaubat Allah akan mengampuni kepadanya dan orang yang mempunyai sifat ghibah Allah tidak akan mengampuninya sehingga temannya mau mengampuninya.

Jadi dosa ghibah tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang lain (yang digunjing) mau mengampuninya. Dosa kepada Allah mudah untuk minta ampun, sedangkan dosa terhadap orang lain Allah belum mau mengampuni jika belum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Bahaya sifat ghibah antara lain, menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain, memutuskan persaudaraan di kalangan manusia  dan menimbulkan perbuatan fitnah(https://id.search.yahoo.com/yhs/)..

Namimah (adu domba) 

Namimah artinya adu domba yaitu  usaha untuk membuat orang lain saling bermusuhan. Sikap namimah sangat dibenci Islam, karena dapat membuat persaudaraan menjadi pecah sehingga dapat melumpuhkan (melemahkan)  kekuatan persaudaraan (ukhuwwah). Orang yang mempunyai sifat namimah tidak akan masuk surga seperti dadijelaskan dalam hadis Nabi Saw :

عَنْ حُذَ يْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَامٌ (اخرجه الشيخان)

Diriwayatkan dari Hudzaifah dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “tidak akan masuk surga orang yang suka adu domba”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, yang artinya:

“Yang amat dicintai Allah Swt. ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat dibenci di sisi Allah ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan”. (H.R. Ahmad).

Dalam kehidupan bermasyarakat sifat namimah  akan menimbulkan terjadinya konflik. Oleh karena itu sifat namimah harus selalu dijauhi oleh semua orang, terutama bagi orang-orang terdidik, supaya ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi dapat terjaga. Allahumma jannibna ‘an al-akhlaq al-mazmumah…

Skip to toolbar